SAYA BERUSIA 65 TAHUN DAN SUDAH LIMA TAHUN BERCERAI. SAAT PERCERAIAN, MANTAN SUAMI MENINGGALKAN SEBUAH KARTU BANK YANG KATANYA BERISI 3 JUTA RUPIAH.

Air mata saya jatuh tepat di atas kertas rekening koran itu.

Saya buru-buru mengusapnya dengan ujung jilbab, takut tinta di kertas menjadi luntur. Namun semakin saya mencoba menenangkan diri, semakin sulit tangan saya berhenti gemetar.

Saldo yang tercetak di sana bukan tiga juta rupiah.

Bukan pula sepuluh juta.

Angka yang saya lihat adalah Rp186.742.518.

Saya sampai menghitung jumlah digitnya tiga kali.

“Seratus… delapan puluh enam juta?” suara saya nyaris tidak terdengar.

Petugas perempuan di depan saya mengangguk pelan.

“Iya, Bu. Saldo efektifnya segitu.”

Saya menatapnya seperti orang linglung.

“Tidak mungkin.”

“Itu yang tercatat di sistem.”

“Tapi lima tahun lalu mantan suami saya bilang cuma ada tiga juta.”

Petugas itu tidak menjawab. Ia menunjuk bagian bawah rekening koran.

“Coba Ibu lihat transaksi masuknya.”

Saya menunduk lagi.

Ada deretan angka yang awalnya tidak saya pahami.

Setelah diperhatikan lebih dekat, saya baru menyadari bahwa hampir setiap bulan ada transfer masuk ke rekening tersebut.

Jumlahnya berbeda-beda.

Rp2.500.000.

Rp3.000.000.

Kadang Rp4.000.000.

Pada beberapa bulan tertentu bahkan mencapai Rp5.000.000.

Semua transfer berasal dari rekening yang sama.

Nama pengirimnya membuat dada saya serasa dipukul.

Budi Santoso.

Saya tidak sadar sejak kapan saya mulai menangis terisak-isak.

Petugas bank itu memberikan saya tisu.

“Bu, Ibu tidak apa-apa?”

Saya menutup mulut dengan tangan.

Selama lima tahun, laki-laki yang saya benci itu ternyata terus memasukkan uang ke rekening ini.

Setiap bulan.

Tanpa pernah sekali pun memberi tahu saya.

Saya mencoba membaca lebih jauh.

Ternyata transaksi terakhir masuk hanya tiga minggu sebelumnya.

Rp3.500.000.

Saya mendongak cepat.

“Berarti rekening ini masih aktif?”

“Masih, Bu.”

“Dan dia… masih mengirim uang?”

Petugas itu mengangguk.

Saya merasa ruangan bank tiba-tiba menjadi terlalu sempit.

Suara orang berbicara, mesin nomor antrean, bunyi ketikan komputer, semuanya terdengar seperti berasal dari tempat yang sangat jauh.

Di kepala saya hanya ada satu pertanyaan.

Kenapa?

Kalau Pak Budi memang ingin membantu saya, kenapa dia tidak pernah mengatakan apa pun?

Kenapa saat perceraian ia menyebut rekening itu hanya berisi tiga juta?

Kenapa dia membiarkan saya membencinya selama bertahun-tahun?

Saya melihat petugas di depan saya.

“Nak, boleh saya tahu alamat pengirim uang ini?”

Petugas itu tampak serba salah.

“Maaf, Bu. Kami tidak boleh memberikan data nasabah lain.”

Saya mengangguk.

Saya tahu itu bukan salahnya.

“Kalau begitu saya mau tarik lima juta saja.”

Petugas itu terkejut.

“Tadi Ibu bilang mau menarik semuanya.”

Saya menatap saldo di kertas.

Entah kenapa sekarang saya justru takut menyentuh uang itu.

“Tidak. Lima juta cukup.”

Saya hanya mengambil uang untuk biaya pemeriksaan dan kebutuhan makan beberapa minggu.

Sisanya saya biarkan.

Dalam perjalanan pulang, rekening koran itu terus saya genggam.

Malamnya saya sama sekali tidak bisa tidur.

Saya mengeluarkan sebuah kotak plastik kecil dari bawah ranjang.

Di dalamnya terdapat dokumen lama, foto keluarga, surat kelahiran anak-anak, dan beberapa benda yang saya bawa dari rumah setelah perceraian.

Saya menemukan foto pernikahan kami.

Pak Budi berdiri di samping saya mengenakan jas hitam yang kebesaran. Saya masih sangat muda waktu itu.

Kami menikah ketika saya berumur 23 tahun.

Dia 26.

Kami bukan pasangan kaya.

Bertahun-tahun kami hidup dari gaji Pak Budi sebagai teknisi di sebuah pabrik makanan. Saya sendiri membuat kue dan menitipkannya di warung sekitar rumah.

Kami melewati banyak hal.

Anak pertama kami pernah sakit keras.

Rumah kami pernah hampir disita karena cicilan.

Pak Budi pernah kehilangan pekerjaan selama delapan bulan.

Saya pernah menjual gelang pemberian ibu saya supaya kami bisa membayar uang sekolah anak-anak.

Tetapi kami bertahan.

Setidaknya saya pikir begitu.

Sampai beberapa tahun sebelum perceraian, Pak Budi berubah.

Ia menjadi lebih pendiam.

Sering pulang terlambat.

Teleponnya selalu dikunci.

Jika saya bertanya, ia menjawab pendek.

“Urusan kerja.”

Lalu suatu malam dia mengatakan kalimat yang menghancurkan hidup saya.

“Saya ingin berpisah.”

Saya masih ingat bagaimana saya berdiri sambil memegang piring yang baru selesai dicuci.

Saya mengira dia sedang marah.

Ternyata tidak.

Dia benar-benar ingin bercerai.

Saya bertanya apakah ada perempuan lain.

Pak Budi tidak menjawab.

Diamnya saya anggap sebagai pengakuan.

Sejak saat itu, kebencian tumbuh dalam diri saya.

Anak-anak juga marah kepadanya.

Mereka menyalahkan ayah mereka atas perceraian kami.

Setelah sidang selesai, Pak Budi pindah ke luar kota.

Hubungan mereka pun semakin renggang.

Saya hanya mendengar kabar sesekali bahwa dia masih hidup dan bekerja di Surabaya.

Pagi berikutnya, setelah hampir semalaman berpikir, saya menelepon anak sulung saya, Rina.

“Rina, Ibu mau tanya.”

“Ada apa, Bu?”

“Kamu masih punya nomor Ayah?”

Di ujung telepon, Rina diam beberapa detik.

“Kenapa tiba-tiba tanya Ayah?”

Saya menceritakan tentang rekening itu.

Awalnya Rina mengira saya salah membaca.

Namun setelah saya kirim foto rekening koran lewat WhatsApp, dia langsung menelepon.

“Bu, tunggu di kos. Aku ke sana sekarang.”

Satu jam kemudian Rina datang bersama adiknya, Dimas.

Mereka duduk di lantai kamar saya sambil memeriksa rekening koran.

Dimas mengernyit.

“Ini benar dari Ayah.”

“Kenapa dia kirim terus?” tanya Rina.

Saya hanya menggeleng.

Dimas mengambil ponselnya.

“Aku telepon.”

Nomor Pak Budi masih aktif.

Dimas menekan tombol panggil dan menyalakan pengeras suara.

Nada sambung terdengar.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Lalu seseorang mengangkat.

“Halo?”

Bukan suara Pak Budi.

Suara perempuan.

Dimas menatap kami.

“Selamat siang. Ini nomor Bapak Budi Santoso?”

Perempuan itu terdiam.

“Benar. Anda siapa?”

“Saya anaknya.”

Suasana langsung berubah.

Perempuan itu menarik napas panjang.

“Oh… Mas Dimas?”

Dimas membeku.

“Kok Ibu tahu nama saya?”

Perempuan itu tidak langsung menjawab.

Kemudian terdengar suaranya bergetar.

“Saya Ratih. Adik kandung Bapak Budi.”

Saya mengenal nama itu.

Ratih adalah adik Pak Budi yang sudah hampir dua puluh tahun tidak pernah saya temui karena tinggal di Kalimantan.

“Pak Budi di mana?” tanya saya cepat.

Ratih terdiam lama sekali.

Lalu terdengar suara tangis tertahan.

“Mbak…”

Dada saya mendadak tidak enak.

“Kenapa?”

“Mbak belum tahu?”

“Tahu apa?”

Ratih menangis.

“Mas Budi meninggal dua minggu lalu.”

Saya merasa seolah darah berhenti mengalir dalam tubuh.

Tidak ada seorang pun yang bicara.

Rina memegang tangan saya.

Saya menatap kosong ke depan.

“Meninggal?”

“Iya.”

“Kenapa tidak ada yang memberi tahu kami?”

“Saya sudah minta izin Mas Budi sebelum beliau meninggal. Dia melarang saya menghubungi Mbak atau anak-anak.”

“Kenapa?”

Ratih tidak menjawab lewat telepon.

Ia meminta alamat saya.

Dua hari kemudian, Ratih datang.

Ia membawa sebuah tas hitam milik Pak Budi.

Tubuh Ratih tampak lebih kurus daripada yang saya ingat. Rambutnya sudah banyak beruban.

Begitu masuk kamar kos, ia langsung memeluk saya.

“Maafkan saya, Mbak.”

Kami duduk bersama.

Dari tas itu Ratih mengeluarkan sebuah amplop cokelat besar.

“Mas Budi titip ini.”

Saya menerimanya dengan tangan gemetar.

Di bagian depan tertulis nama saya.

Sri Wahyuni.

Tulisan tangan itu tidak berubah.

Saya membukanya.

Di dalamnya ada beberapa dokumen dan sebuah surat.

Surat tersebut bertanggal empat bulan sebelumnya.

Sri,

Kalau kamu membaca surat ini, mungkin saya sudah tidak ada.

Saya tidak tahu apakah kamu masih membenci saya. Kalau iya, saya mengerti.

Saya memang pantas dibenci karena memilih pergi tanpa menjelaskan apa pun.

Lima tahun lalu saya mengatakan rekening itu hanya berisi tiga juta.

Itu benar pada hari tersebut.

Tetapi sejak bulan pertama setelah perceraian, saya mulai memasukkan sebagian penghasilan saya ke sana.

Saya tahu kamu mungkin tidak akan memakai uang pemberian saya kalau saya mengirimkannya langsung.

Karena itu saya memilih rekening tersebut.

Saya kira suatu hari, ketika kamu benar-benar membutuhkannya, kamu akan membuka rekening itu.

Saya berhenti membaca.

Air mata sudah memenuhi mata saya.

Di sebelah saya, anak-anak juga menangis.

Saya melanjutkan.

Ada satu hal yang tidak pernah saya ceritakan.

Saya meminta cerai bukan karena perempuan lain.

Tiga bulan sebelum saya meminta berpisah, dokter menemukan tumor di pankreas saya.

Saat itu dokter mengatakan kemungkinan pengobatannya panjang dan mahal.

Saya ketakutan.

Bukan karena mati.

Saya takut menghabiskan seluruh tabungan keluarga untuk pengobatan saya dan meninggalkan kamu tanpa apa-apa.

Saya juga tahu bagaimana sifat kamu.

Kalau saya mengatakan saya sakit, kamu pasti akan menjual rumah, tabungan, bahkan apa pun yang kamu punya untuk mengobati saya.

Kamu sudah melakukan itu sepanjang hidup kita.

Saya tidak ingin untuk terakhir kalinya kamu kembali mengorbankan semuanya demi saya.

Tangan saya mulai gemetar lebih hebat.

Saya menoleh ke arah Ratih.

“Tumor?”

Ratih mengangguk sambil menangis.

“Awalnya kanker pankreas, Mbak. Setelah operasi sempat membaik. Tapi kemudian menyebar.”

Saya kembali membaca.

Saya sengaja membuat kamu marah kepada saya.

Saya membiarkan kamu berpikir ada perempuan lain.

Itu keputusan paling pengecut dalam hidup saya.

Saya pikir kalau kamu membenci saya, kamu akan lebih mudah menjalani hidup tanpa saya.

Ternyata saya salah.

Saya mendengar dari anak-anak bahwa kamu hidup susah, meskipun mereka tidak pernah tahu saya masih menghubungi Ratih untuk bertanya tentang kalian.

Beberapa kali saya ingin datang.

Tetapi saya malu.

Semakin lama waktu berlalu, semakin sulit rasanya menjelaskan semuanya.

Jadi saya hanya bisa memasukkan uang ke rekening itu.

Itu bukan sedekah.

Bukan uang kasihan.

Itu bagian kamu.

Selama 37 tahun, hampir semua hal yang saya punya ada karena kamu.

Kamu yang menjaga rumah saat saya bekerja.

Kamu yang membesarkan anak-anak.

Kamu yang berdiri di samping saya ketika saya tidak punya pekerjaan.

Saya tidak pernah cukup sering mengatakan terima kasih.

Saya berhenti lagi.

Saya sudah tidak mampu menahan tangis.

Selama lima tahun saya menganggap tiga juta rupiah itu sebagai harga yang diberikan Pak Budi atas 37 tahun pernikahan kami.

Ternyata saya salah.

Tiga juta itu hanyalah awal dari sesuatu yang tidak pernah ia mampu ucapkan secara langsung.

Saya melanjutkan bagian terakhir.

Ada satu dokumen di dalam amplop.

Saya sudah menjual rumah kecil yang saya beli setelah perceraian.

Sebagian uangnya dipakai untuk biaya pengobatan.

Sisanya saya masukkan ke deposito atas nama kamu.

Ratih akan membantu mengurusnya.

Jumlahnya tidak banyak.

Tapi cukup supaya kamu tidak perlu bekerja terlalu keras lagi.

Kalau ada satu permintaan terakhir saya, jangan gunakan sisa hidup kamu untuk membenci saya.

Belilah makanan yang kamu suka.

Periksa kesehatan.

Pergilah mengunjungi anak-anak lebih sering.

Kalau suatu hari kamu teringat saya, ingatlah bukan sebagai laki-laki yang meninggalkanmu di ruang sidang.

Ingatlah saya sebagai Budi yang pernah pulang membawa dua bungkus nasi goreng karena gaji pertama kita hanya cukup untuk makan sederhana.

Saya minta maaf.

Dan terima kasih sudah menjadi rumah bagi saya selama 37 tahun.

Budi.

Saya menutup surat itu.

Untuk beberapa menit tidak ada suara di kamar.

Kemudian saya bertanya kepada Ratih tentang deposito tersebut.

Jumlahnya Rp420 juta.

Saya hampir tidak percaya.

Pak Budi ternyata meninggalkan hampir seluruh sisa hartanya untuk saya.

Namun anehnya, uang ratusan juta itu bukan bagian yang paling membuat hati saya hancur.

Ratih kemudian mengeluarkan sebuah ponsel lama dari tas.

“Ada satu lagi.”

Ia membuka folder rekaman suara.

“Mas Budi sering merekam sesuatu ketika sakitnya sudah parah. Katanya dia tidak yakin punya keberanian mengirimkannya.”

Ratih menekan salah satu rekaman.

Suara Pak Budi terdengar pelan dan serak.

“Sri… hari ini saya makan bubur ayam. Rasanya tidak seenak buatan kamu.”

Saya langsung menangis.

Rekaman berikutnya berbunyi,

“Sri, saya dengar Dimas sudah punya anak. Berarti sekarang kamu jadi nenek yang sibuk.”

Rekaman lainnya,

“Hari ini hujan. Saya jadi ingat waktu atap rumah kita bocor dan kamu marah karena saya malah tidur.”

Ada puluhan rekaman.

Tidak ada satu pun yang pernah dikirim.

Lima tahun.

Selama itu ternyata kami sama-sama hidup dengan rasa sakit yang kami sembunyikan.

Saya mengira dia sudah melupakan saya.

Dia mengira kebencian saya akan membuat hidup saya lebih mudah.

Kami berdua salah.

Beberapa minggu setelah itu, saya kembali ke bank.

Petugas perempuan yang dulu melayani saya mengenali saya.

“Ibu mau tarik uang?”

Saya tersenyum.

“Kali ini tidak semuanya.”

Saya mengambil sebagian uang untuk pemeriksaan kesehatan dan menyewa rumah kecil yang lebih layak.

Sebagian lain saya simpan.

Saya juga melakukan sesuatu yang mungkin tidak pernah dibayangkan Pak Budi.

Saya menggunakan sebagian deposito peninggalannya untuk membuka warung makan sederhana bersama Rina.

Nama warung itu saya beri “Warung Budi Sri”.

Dimas tertawa ketika pertama kali melihat papan namanya.

“Ibu benar-benar pakai nama Ayah?”

Saya mengangguk.

“Supaya orang tahu dia pernah ada.”

Setahun kemudian, hidup saya jauh berbeda.

Tubuh saya mulai membaik.

Saya tidak lagi mengumpulkan barang bekas.

Saya punya kamar yang tidak bocor ketika hujan.

Anak-anak lebih sering datang.

Namun setiap tanggal yang sama dengan hari masuknya transfer Pak Budi dulu, saya masih membuka rekening lama itu.

Transfer tentu sudah tidak pernah masuk lagi.

Tetapi saya tidak menutup rekeningnya.

Saya biarkan tiga juta rupiah tetap tersimpan di sana.

Jumlah persis yang pernah disebut Pak Budi lima tahun lalu.

Anak saya pernah bertanya,

“Kenapa tidak diambil saja, Bu?”

Saya tersenyum.

“Karena dulu Ibu mengira tiga juta itu adalah harga pernikahan kami.”

Saya menatap kartu ATM lama yang sekarang saya simpan di dalam kotak foto.

“Ternyata uang itu bukan harga sebuah perpisahan.”

“Itu apa?”

Saya menatap foto Pak Budi yang terselip di antara foto anak-anak.

“Itu cara seorang laki-laki bodoh mencintai istrinya setelah dia terlalu takut untuk mengatakan yang sebenarnya.”

Kadang-kadang cinta memang tidak berakhir karena perasaan sudah hilang.

Kadang cinta berakhir karena seseorang mengambil keputusan yang salah dengan niat yang menurutnya benar.

Dan saya belajar sesuatu pada usia 65 tahun.

Kita sering menghabiskan terlalu banyak waktu menebak isi hati seseorang hanya dari tindakan terakhirnya.

Padahal di balik sebuah pintu yang tertutup, mungkin ada penjelasan yang tidak pernah sempat disampaikan.

Saya kehilangan lima tahun karena kebencian.

Pak Budi kehilangan lima tahun karena rasa bersalah.

Kami tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk memperbaikinya.

Tetapi setidaknya pada akhirnya saya tahu satu hal.

Saat ia berjalan meninggalkan saya di ruang sidang lima tahun lalu, saya mengira saya sedang melihat punggung seorang laki-laki yang sudah tidak mencintai saya.

Sekarang saya tahu, mungkin saat itu dia berjalan menjauh justru karena masih terlalu mencintai saya dengan caranya sendiri.

Dan setiap kali hujan turun, saya duduk di depan warung sambil menyiapkan dua piring nasi goreng.

Satu untuk saya.

Satu lagi saya letakkan di kursi kosong di seberang meja.

Bukan karena saya percaya Pak Budi akan kembali.

Tetapi karena setelah 37 tahun hidup bersama dan lima tahun salah memahami perpisahan kami, akhirnya saya bisa mengingatnya tanpa marah.

Suatu sore, ketika saya hendak membereskan piring di kursi kosong itu, ponsel saya berbunyi.

Ada notifikasi dari bank.

Saya membukanya sambil tersenyum, mengira itu hanya pemberitahuan biasa.

Namun senyum saya perlahan menghilang.

Rekening lama yang sudah lebih dari setahun tidak menerima transfer tiba-tiba mendapatkan uang masuk.

Rp3.000.000.

Saya berdiri terpaku.

Pengirimnya bukan Pak Budi.

Melainkan sebuah rekening perusahaan asuransi.

Keterangan transaksi hanya terdiri dari satu kalimat.

Pembayaran manfaat tahunan polis atas nama Budi Santoso kepada penerima manfaat Sri Wahyuni.

Saya langsung menelepon Ratih.

Setelah memeriksa dokumen yang tertinggal, barulah kami mengetahui sesuatu yang bahkan Ratih tidak pernah tahu.

Dua belas tahun sebelum perceraian, Pak Budi diam-diam membeli polis asuransi kecil.

Premi dibayar dari uang lembur yang selalu ia katakan habis untuk kebutuhan kantor.

Penerima manfaatnya hanya satu.

Saya.

Dan polis itu akan membayar manfaat tahunan selama sepuluh tahun setelah kematiannya.

Jumlah setiap pembayaran?

Tepat tiga juta rupiah.

Saya duduk kembali di kursi.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, saya tertawa sambil menangis.

Pak Budi ternyata benar ketika mengatakan ada tiga juta rupiah untuk saya.

Hanya saja saya membutuhkan waktu enam tahun untuk memahami bahwa kalimat itu belum selesai.

Tiga juta rupiah itu bukan sekadar uang yang ia tinggalkan pada hari perceraian.

Itu adalah janji kecil yang diam-diam telah ia siapkan bertahun-tahun sebelumnya.

Seolah-olah bahkan setelah kepergiannya, laki-laki keras kepala itu masih ingin memastikan satu hal.

Bahwa saya tidak pernah benar-benar ditinggalkan sendirian.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang