Arman masih menatap Nadia dengan wajah kaku ketika perempuan itu berdiri dari kursinya.
Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, Nadia melihat ada keraguan di mata suaminya.
Bukan penyesalan.
Belum.
Lebih seperti rasa tidak nyaman karena sesuatu yang seharusnya berjalan sesuai rencananya tiba-tiba keluar dari kendali.
“Apa maksudmu?” tanya Arman.
Nadia tidak langsung menjawab. Dia mengambil segelas air, meneguknya perlahan, kemudian menatap anaknya yang sejak tadi kebingungan melihat kedua orang tuanya.
“Nak, masuk kamar sebentar. Ambil tas yang sudah Mama siapkan di lemari.”
Anaknya memandang Arman, lalu Nadia.
“Mama ikut?”
“Iya. Kita pergi bersama.”
Setelah anak mereka meninggalkan ruang makan, Arman tertawa kecil.
“Kamu sudah menyiapkan tas?”
Nadia mengangguk.
“Sebenarnya aku berharap tidak perlu memakainya malam ini.”
Wajah Arman berubah.
“Kamu tahu?”
“Aku tahu banyak hal, Man.”
Nadia berjalan menuju kamar tanpa tergesa-gesa.
Di sana, dua koper berukuran sedang sudah tersimpan di bagian bawah lemari. Beberapa pakaian, dokumen penting, buku sekolah anak mereka, obat-obatan, dan barang pribadi sudah dikemas sejak beberapa minggu sebelumnya.
Nadia tidak pernah tahu kapan Arman akan benar-benar mengambil keputusan.
Namun dia tahu hari seperti ini akan datang.
Ketika Nadia keluar dengan koper, Arman masih berdiri di ruang tengah.
“Kamu mau ke mana?”
Pertanyaan itu justru membuat Nadia hampir tertawa.
Beberapa menit sebelumnya, Arman menyuruhnya pergi. Sekarang laki-laki itu justru ingin tahu tujuannya.
“Bukankah tadi kamu menyuruh kami keluar?”
“Iya, tapi kamu mau tinggal di mana?”
Nadia menatapnya.
“Bukan urusanmu lagi.”
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi entah mengapa membuat dada Arman sesak.
Selama bertahun-tahun dia terbiasa menjadi pusat kehidupan Nadia.
Dia tahu Nadia jarang pergi tanpa memberi kabar. Dia tahu istrinya selalu bertanya sebelum membeli sesuatu yang mahal. Bahkan ketika ingin mengunjungi ibunya, Nadia selalu menyesuaikan waktu dengan jadwal Arman.
Sekarang perempuan itu berdiri di depannya dengan koper di tangan, seolah keberadaan Arman sama sekali tidak penting.
“Aku akan mengirimkan surat gugatan cerai melalui pengacara,” kata Nadia.
Arman terperanjat.
“Pengacara?”
“Iya.”
“Kamu sudah punya pengacara?”
“Sudah.”
Arman kehilangan kata-kata.
Nadia lalu mengambil sebuah amplop dari dalam tasnya dan meletakkannya di meja.
“Apa ini?”
“Salinan beberapa bukti yang mungkin akan berguna kalau nanti kamu tiba-tiba lupa alasan kita berpisah.”
Arman membuka amplop tersebut.
Wajahnya langsung pucat.
Ada foto dirinya memasuki sebuah apartemen bersama perempuan selingkuhannya.
Ada tangkapan layar percakapan.
Ada bukti transfer.
Ada catatan pembayaran hotel.
Bahkan ada salinan kuitansi gelang emas yang pernah dia belikan untuk perempuan itu dengan alasan kepada Nadia bahwa uangnya digunakan untuk keperluan kantor.
“Kamu menyelidikiku?”
Nadia menggeleng.
“Aku hanya berhenti menjadi perempuan yang mudah dibohongi.”
“Nadia, kita bisa bicara baik-baik.”
Nadia tersenyum tipis.
“Tadi kamu tidak ingin bicara. Kamu hanya menyuruh aku dan anakmu keluar.”
“Itu karena aku sedang emosi.”
“Tidak. Kamu sudah merencanakannya.”
Arman diam.
Nadia tahu dari perubahan wajahnya bahwa dugaannya benar.
Dia bahkan tahu perempuan selingkuhan Arman sudah beberapa kali mendesak agar dirinya disingkirkan.
Seorang teman lama Nadia bekerja di perusahaan yang sama dengan Arman. Dari sanalah Nadia pertama kali mengetahui hubungan itu. Namun Nadia tidak pernah meminta temannya untuk terus memata-matai.
Dia hanya membutuhkan satu kepastian.
Setelah mendapatkannya, dia memilih mempersiapkan hidup baru.
Bukan mempersiapkan balas dendam.
Nadia menggandeng tangan anaknya.
“Ayo.”
“Mama, kita ke rumah Nenek?”
Nadia tersenyum.
“Bukan. Kita ke rumah kita.”
Arman mengernyit.
“Rumah kita?”
Nadia sudah sampai di depan pintu ketika dia berhenti.
“Aku membeli rumah empat bulan lalu.”
Arman seperti kehilangan kemampuan bernapas.
“Kamu beli rumah?”
“Di Bekasi.”
“Pakai uang apa?”
Pertanyaan itu membuat Nadia menoleh.
Kali ini tatapannya berubah.
Selama bertahun-tahun, Nadia yang mengatur hampir seluruh keuangan keluarga. Arman memberikan uang rumah tangga dalam jumlah besar setiap bulan, terutama setelah kariernya berkembang. Namun karena gaya hidup mereka relatif sederhana, Nadia berhasil menyimpan banyak.
Selain itu, Nadia tidak pernah berhenti bekerja.
Setelah anak mereka mulai sekolah, dia kembali menjalankan bisnis pemasaran digital bersama dua temannya. Arman hanya tahu istrinya menerima beberapa proyek dari rumah.
Dia tidak pernah bertanya berapa pendapatannya.
Mungkin karena menganggap pekerjaan Nadia tidak seberapa.

“Pakai uangku.”
“Kamu punya uang sebanyak itu?”
Nadia tidak menjawab.
Dia membuka pintu.
Sebelum pergi, dia berkata pelan, “Selama ini kamu terlalu sibuk mencari perempuan lain sampai lupa mengenal istrimu sendiri.”
Pintu tertutup.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya Arman merasakan rumah besar itu begitu kosong.
Dua hari kemudian, perempuan yang selama ini menjadi selingkuhannya, Karin, datang membawa dua koper besar.
Arman berusaha melupakan ucapan Nadia.
Dia meyakinkan dirinya bahwa semuanya justru akan lebih baik.
Tidak ada lagi istri yang dianggap membosankan.
Tidak ada lagi kewajiban berpura-pura sebagai suami setia.
Karin datang dengan pakaian cantik dan senyum lebar.
“Akhirnya kita bisa hidup bersama.”
Pada minggu pertama, semuanya terasa menyenangkan.
Karin memasak beberapa kali.
Mereka pergi ke restoran.
Mereka menonton film sampai larut malam.
Namun memasuki minggu ketiga, kehidupan nyata mulai terlihat.
Karin tidak suka bangun pagi.
Dia tidak suka membersihkan rumah.
Dia mengeluh ketika Arman pulang terlambat.
Dia juga terbiasa membeli barang bermerek, makan di restoran mahal, dan bepergian bersama teman-temannya.
Suatu malam, Arman melihat tagihan kartu kredit dan langsung mengerutkan kening.
“Kenapa bulan ini besar sekali?”
Karin yang sedang memainkan ponsel tidak melihatnya.
“Aku beli beberapa barang.”
“Hampir tiga puluh juta?”
Karin mengangkat bahu.
“Dulu kamu tidak pernah mempermasalahkan uang.”
“Dulu kita belum tinggal bersama.”
Karin menatapnya tajam.
“Maksudmu sekarang aku harus hidup seperti mantan istrimu?”
Kalimat itu membuat Arman tersentak.
Tanpa sadar, dia mulai membandingkan.
Nadia selalu membuat catatan pengeluaran.
Nadia membayar tagihan tepat waktu.
Nadia bahkan sering menyisihkan sebagian uang untuk investasi.
Dulu Arman menganggap semua itu hal biasa.
Sekarang baru dia memahami betapa banyak hal kecil yang diam-diam ditangani istrinya.
Namun masalah terbesar muncul satu bulan kemudian.
Perusahaan tempat Arman bekerja mengalami restrukturisasi.
Posisinya sebagai kepala divisi dipangkas.
Dia tidak dipecat, tetapi diturunkan menjadi manajer senior dengan penghasilan jauh lebih rendah.
Ketika mengetahui hal itu, Karin panik.
“Terus cicilan mobilku bagaimana?”
Arman menatapnya.
“Mobilmu?”
“Kamu yang bilang mau bantu bayar.”
“Aku baru saja kehilangan hampir setengah penghasilanku.”
“Ya cari pekerjaan lain.”
Nada bicara Karin membuat Arman tersinggung.
“Kamu pikir semudah itu?”
Karin tidak menjawab.
Sejak hari itu, hubungan mereka berubah.
Pertengkaran semakin sering.
Dan enam bulan setelah Nadia pergi, Karin akhirnya meninggalkan rumah.
Tidak ada drama besar.
Tidak ada tangisan.
Dia hanya mengemas barang-barangnya suatu pagi.
“Aku capek,” katanya.
“Capek apa?”
“Menjalani hidup seperti ini.”
Arman tertawa getir.
“Bukankah dulu kamu bilang akan tetap bersamaku apa pun yang terjadi?”
Karin menghindari tatapannya.
“Aku mengatakannya saat situasinya berbeda.”
Kalimat itu menghantam Arman lebih keras daripada yang dia bayangkan.
Saat pintu tertutup, tiba-tiba dia teringat Nadia.
Perempuan yang pernah menemaninya ketika gajinya masih enam juta rupiah sebulan.
Perempuan yang tinggal bersamanya di kontrakan kecil tanpa pendingin udara.
Perempuan yang menjual gelang pemberian ibunya ketika Arman membutuhkan uang untuk mengikuti pelatihan kerja.
Dan perempuan itu pernah dia usir dari rumah demi seseorang yang pergi begitu keadaan berubah.
Malam itu, Arman mencari nomor Nadia.
Dia menekan tombol panggil.
Tidak dijawab.
Dia mencoba lagi.
Tetap tidak dijawab.
Akhirnya dia mengirim pesan.
Nad, aku ingin bicara.
Balasan baru datang keesokan paginya.
Tentang anak, silakan hubungi pengacaraku atau kirim pesan. Selain itu tidak ada yang perlu dibicarakan.
Arman membaca kalimat itu berulang kali.
Dia kemudian mengetahui sesuatu yang semakin membuatnya terpukul.
Bisnis Nadia berkembang pesat.
Perempuan itu sekarang mengelola sebuah agensi digital bersama dua rekannya. Mereka menangani beberapa merek lokal dan memiliki belasan karyawan.
Tabungannya yang dulu sekitar Rp1,3 miliar juga bukan satu-satunya aset yang Nadia miliki.
Selama pernikahan, Nadia diam-diam belajar investasi.
Dia memiliki deposito, reksa dana, dan sebagian saham yang semuanya berasal dari penghasilan pribadinya.
Rumah kecil di Bekasi yang dahulu dibelinya bahkan sudah direnovasi.
Sederhana, tetapi nyaman.
Anak mereka bersekolah tidak jauh dari rumah.
Beberapa bulan setelah perceraian resmi diputuskan, Arman akhirnya bertemu Nadia di sebuah kafe untuk membicarakan jadwal pertemuan dengan anak mereka.
Ketika Nadia datang, Arman sempat terdiam.
Tidak ada perubahan dramatis pada penampilannya.
Nadia masih sederhana.
Namun ada sesuatu yang berbeda.
Wajahnya terlihat lebih ringan.
Dia tidak lagi memiliki ekspresi seperti seseorang yang selalu berhati-hati agar tidak membuat orang lain kecewa.
“Apa kabar?” tanya Arman.
“Baik.”
Mereka membicarakan anak hampir dua puluh menit.
Setelah semuanya selesai, Nadia berdiri.
“Tunggu.”
Arman memanggilnya.
Nadia kembali duduk.
“Aku mau minta maaf.”
Nadia terdiam.
“Aku tahu mungkin sudah terlambat,” lanjut Arman. “Aku salah.”
Nadia mengangguk.
“Memang.”
Arman tersenyum pahit.
“Aku kehilangan semuanya.”
Nadia menatapnya.
“Kamu tidak kehilangan semuanya.”
“Aku kehilangan kamu. Kehilangan keluarga.”
“Tidak, Man.”
Suara Nadia tetap tenang.
“Kamu memilih melepaskannya.”
Arman menundukkan kepala.
Beberapa detik kemudian dia berkata, “Kalau waktu bisa diulang, aku tidak akan melakukan semua itu.”
Nadia tidak menjawab.
Arman memberanikan diri bertanya, “Apa benar-benar tidak ada kemungkinan kita kembali?”
Nadia menarik napas.
“Dulu aku pernah menanyakan pertanyaan itu kepada diriku sendiri.”
Arman menatapnya penuh harap.
“Lalu?”
Nadia tersenyum kecil.
“Aku sadar sesuatu.”
“Apa?”
“Aku terlalu lama menganggap mempertahankan pernikahan adalah bentuk cinta. Padahal kalau hanya satu orang yang terus mempertahankan, itu bukan rumah tangga. Itu penjara.”
Arman terdiam.
Nadia lalu berdiri.
“Aku sudah memaafkanmu.”
Wajah Arman sedikit berubah.
“Tapi memaafkan bukan berarti kembali.”
Nadia berjalan beberapa langkah sebelum berhenti.
“Dan satu hal lagi.”
Arman menatapnya.
“Jangan mengira hidupku membaik karena aku punya banyak uang.”
Nadia tersenyum.
“Uang hanya memberiku pilihan. Yang menyelamatkanku sebenarnya adalah keberanian untuk mengambil pilihan itu.”
Setelah Nadia pergi, Arman tetap duduk sendirian cukup lama.
Dia akhirnya memahami kalimat yang diucapkan Nadia pada malam ketika dia mengusir perempuan itu.
Kalau seorang perempuan sudah punya uang dan anak, untuk apa lagi bergantung pada suami?
Dulu Arman mengira Nadia sedang menyombongkan hartanya.
Sekarang dia mengerti.
Nadia tidak sedang mengatakan bahwa perempuan tidak membutuhkan pasangan.
Dia sedang mengatakan bahwa seseorang tidak seharusnya mempertahankan pasangan hanya karena takut kehilangan tempat tinggal, uang, atau status.
Sementara Arman tenggelam dalam penyesalan, kehidupan Nadia terus berjalan.
Dua tahun kemudian, dia membeli sebuah ruko kecil sebagai kantor agensinya.
Pada hari pembukaan, ibunya datang bersama anak Nadia.
Di tengah kesibukan, sang ibu menghampirinya.
“Kamu bahagia sekarang?”
Nadia menatap anaknya yang sedang tertawa bersama beberapa karyawan.
Dia tersenyum.
“Bahagia, Bu.”
Ibunya menggenggam tangannya.
“Kamu tidak kesepian?”
Nadia sempat diam.
Lalu dia menjawab, “Dulu waktu masih menikah, aku justru jauh lebih kesepian.”
Ibunya tersenyum pelan.
Sore itu, sebuah buket bunga dikirim ke kantor.
Tidak ada nama pengirim.
Hanya sebuah kartu kecil.
Selamat atas kantor barunya. Aku bangga pernah mengenal perempuan sehebat kamu. Maaf karena aku baru menyadarinya setelah kehilanganmu.
Nadia mengenali tulisan tangan itu.
Arman.
Dia membaca kartu tersebut sekali.
Kemudian melipatnya dan memasukkannya kembali ke dalam amplop.
Tidak dibuang.
Tidak pula disimpan sebagai sesuatu yang istimewa.
Nadia hanya meletakkannya di dalam laci.
Karena baginya, masa lalu tidak harus dibenci agar bisa ditinggalkan.
Beberapa luka cukup diterima sebagai pelajaran.
Beberapa orang cukup dimaafkan tanpa harus diberi kesempatan kedua.
Dan terkadang, kehilangan seseorang bukan akhir dari kehidupan.
Justru ketika pintu yang salah akhirnya tertutup, seseorang baru menyadari betapa luas dunia yang selama ini menunggunya di luar.
