Pada tahun 2006, adik laki-lakiku menghilang tanpa jejak. Selama 19 tahun, Ayah dan Ibu tak pernah berhenti mencarinya. Sampai suatu malam di Surabaya, seorang pelayan muda berdiri di depan mejaku dan membuat seluruh masa lalu yang selama ini berusaha kukubur tiba-tiba hidup kembali.
“Rian…?”
Pemuda itu tidak langsung menjawab.
Tangannya yang memegang buku catatan pesanan perlahan turun. Wajahnya menegang. Matanya menatapku lama, bukan seperti seseorang yang mengenali orang lain, melainkan seperti orang yang sedang berusaha membuka pintu ingatan yang sudah terkunci bertahun-tahun.
“Mas… mengenal saya?”
Suara itu membuat lututku lemas.
Aku ingin langsung memeluknya. Ingin mengatakan bahwa aku kakaknya, bahwa Ayah dan Ibu masih hidup, bahwa rumah kami di Klaten masih menunggu. Namun aku takut.
Takut jika aku salah.
Takut jika semua kemiripan ini hanya kebetulan yang terlalu kejam.
Aku menarik kursi di dekatku.
“Boleh kita bicara sebentar?”
Dia menoleh ke arah kasir.
Seorang perempuan paruh baya yang tampaknya pemilik warung memperhatikan kami dari kejauhan.
“Ada apa, Dik?” tanyanya.
Pemuda itu menggeleng pelan.
“Tidak apa-apa, Bu.”
Aku menunjukkan kartu identitasku kepadanya.
“Nama saya Dimas. Saya dari Klaten.”
Begitu mendengar kata Klaten, ekspresinya berubah.
Hanya sebentar, tetapi aku melihatnya.
Matanya berkedip cepat.
“Klaten?” ulangnya.
“Iya.”
Dia menelan ludah.
“Ada apa dengan Klaten?”
Dadaku berdegup semakin keras.
“Kamu pernah ke sana?”
Pemuda itu menggeleng.
“Tidak tahu.”
“Tidak tahu?”
“Saya tidak ingat banyak tentang masa kecil saya.”
Teman-teman kerjaku yang sejak tadi terdiam mulai memahami bahwa sesuatu yang serius sedang terjadi. Salah satu dari mereka, Arif, berdiri dan meminta kepada pemilik warung agar kami diberi waktu untuk berbicara.
Pemuda itu akhirnya duduk di hadapanku.
Namanya, menurut orang-orang di warung, adalah Andi.
“Sejak kapan kamu tinggal di Surabaya?” tanyaku.
“Seingat saya, dari kecil.”
“Orang tuamu?”
Dia terdiam.
“Saya dibesarkan oleh seorang perempuan bernama Bu Ratna. Beliau meninggal tiga tahun lalu.”
“Dia ibu kandungmu?”
Andi menggeleng pelan.
“Katanya bukan.”
Aku hampir berhenti bernapas.
“Lalu siapa orang tua kandungmu?”
“Tidak tahu.”
Aku merasakan jemariku semakin dingin.
Andi kemudian bercerita bahwa sepanjang hidupnya, Bu Ratna selalu mengatakan ia ditemukan ketika masih kecil di sebuah terminal di Jawa Timur. Saat itu usianya diperkirakan sekitar lima atau enam tahun. Dia menangis, kebingungan, dan hanya terus menyebut kata yang terdengar seperti “Ibu”.
Tidak ada dokumen.
Tidak ada keluarga.
Tidak ada siapa pun yang mencarinya, setidaknya begitulah yang selama ini diceritakan kepadanya.
“Kenapa tidak diserahkan ke polisi?” tanyaku.
Wajahnya terlihat ragu.
“Saya pernah tanya. Bu Ratna bilang dia sempat melapor, tapi tidak ada hasil.”
Ada sesuatu dalam cerita itu yang terasa janggal.
Namun aku menahannya.
Aku mengeluarkan ponsel dan membuka foto lama yang sudah kusimpan sejak bertahun-tahun lalu.
Foto keluarga kami pada Idulfitri tahun 2005.
Ayah berdiri di belakang. Ibu duduk di kursi. Aku berdiri di samping Rian yang tersenyum sambil memegang mobil-mobilan merah.
Aku meletakkan ponsel itu di depan Andi.
“Coba lihat.”
Andi memandang foto tersebut.
Awalnya wajahnya datar.
Kemudian perlahan, napasnya berubah.
Tangannya mendekat ke layar.
Dia memperbesar foto Rian.
“Ini siapa?”
“Adik saya.”
“Namanya?”
Aku menatap lurus ke matanya.
“Rian.”
Andi membeku.
Beberapa detik kemudian dia mengusap keningnya.
“Aneh.”
“Apa?”
“Saya merasa… pernah mendengar nama itu.”
Air mataku hampir jatuh lagi.
Aku menunjukkan foto lain.
Rian di atas sepeda kecil berwarna biru.
Rian makan semangka di teras rumah.
Rian tidur sambil memeluk bantal berbentuk ikan.
Tiba-tiba Andi berhenti pada foto terakhir.
Dia menunjuk latar belakangnya.
Sebuah rumah sederhana dengan dinding hijau pucat dan pohon jambu di halaman.
“Pohon ini…”
“Ada apa?”
Dia memejamkan mata.
“Saya tidak tahu.”
Wajahnya terlihat pucat.
“Tapi saya seperti pernah berdiri di bawah pohon seperti ini.”
Aku tidak bisa menahannya lagi.
“Rian, coba lihat saya.”
Dia menatapku.
“Waktu kecil kamu pernah jatuh dari sepeda. Alis kananmu sobek. Ibu menangis karena darahnya banyak sekali. Kamu malah bilang tidak sakit karena takut sepedanya diambil Ayah.”
Andi langsung menyentuh bekas luka di alisnya.
Tangannya gemetar.
“Mas…”
“Aku kakakmu.”
Kalimat itu akhirnya keluar.
“Aku Dimas. Kakakmu.”
Wajah Andi berubah total.
“Apa?”
“Kamu hilang di Pasar Wedi, Klaten, tahun 2006. Umurmu lima tahun.”
Dia berdiri tiba-tiba hingga kursinya hampir jatuh.
“Jangan bercanda.”
“Saya tidak bercanda.”
“Jangan!”
Suaranya meninggi hingga beberapa pelanggan menoleh.
“Apa maksud Mas datang tiba-tiba dan bilang begitu? Hidup saya sudah cukup kacau.”

Aku ikut berdiri.
“Aku tidak akan memaksamu percaya. Tapi izinkan kita tes DNA.”
Dia menggeleng berulang kali.
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena kalau Mas salah, saya akan kehilangan sesuatu yang bahkan belum pernah saya punya.”
Kalimat itu menghantamku.
Aku baru menyadari bahwa bukan hanya kami yang hidup dalam kehilangan.
Pemuda di depanku mungkin juga menjalani seluruh hidup tanpa mengetahui dari mana asalnya.
Malam itu aku tidak memaksanya.
Aku memberikan nomor teleponku sebelum meninggalkan warung.
Namun saat sudah berada di luar, Andi tiba-tiba mengejarku.
“Mas Dimas!”
Aku berbalik.
Dia berdiri beberapa meter dariku.
“Ada satu hal.”
“Apa?”
Dia mengusap wajahnya.
“Bu Ratna pernah bilang saya ditemukan sambil membawa sesuatu.”
“Apa?”
“Gelang benang.”
Tubuhku langsung kaku.
“Warnanya?”
“Merah dan hitam.”
Air mataku jatuh saat itu juga.
Gelang itu dibuat olehku.
Beberapa hari sebelum Rian hilang, sekolahku mengadakan kegiatan keterampilan. Aku membuat gelang sederhana dari benang merah dan hitam, lalu memberikannya kepada Rian.
Dia sangat menyukainya dan tidak mau melepasnya.
“Gelang itu masih ada?”
Andi mengangguk.
Keesokan harinya, aku membatalkan kepulangan.
Kami pergi ke sebuah klinik untuk melakukan tes DNA.
Selama menunggu hasil, aku menghubungi Ayah.
Aku tidak langsung memberi tahu semuanya.
“Ayah, masih simpan foto luka di alis Rian?”
Lama sekali tidak ada jawaban.
“Kenapa tiba-tiba tanya begitu?”
“Ada seseorang yang kutemui.”
Suara Ayah berubah.
“Dimas.”
“Iya.”
“Jangan beri Ibumu harapan kalau kamu belum yakin.”
“Aku tahu.”
“Ayah sudah terlalu sering melihat Ibumu hancur karena kabar palsu.”
Suara beliau bergetar.
“Ayah tidak mau melihatnya sekali lagi.”
Aku menutup telepon sambil menahan tangis.
Tiga hari kemudian, hasil tes keluar.
Kemungkinan hubungan saudara kandung sangat tinggi.
Aku membaca hasil itu berkali-kali.
Tanganku gemetar begitu hebat sampai Arif harus memegang bahuku.
Andi duduk di sebelahku tanpa bersuara.
Aku menyerahkan kertas itu kepadanya.
Dia membacanya.
Lalu membacanya lagi.
“Jadi…”
Aku mengangguk.
“Kamu Rian.”
Untuk pertama kalinya sejak bertemu, dia menangis.
Bukan tangisan keras.
Dia hanya menunduk, menutup wajah dengan kedua tangan, lalu bahunya bergetar perlahan.
“Ayah sama Ibu… masih ada?”
Pertanyaan itu membuat dadaku terasa hancur.
“Masih.”
“Mereka… mencari saya?”
Aku tidak sanggup menjawab dengan kata-kata.
Aku hanya mengangguk.
Rian menangis lebih keras.
Sore itu aku menelepon Ayah melalui video call.
Ketika wajah Ayah muncul di layar, aku tidak mengatakan apa-apa.
Aku hanya mengarahkan kamera kepada Rian.
Ayah terdiam.
Benar-benar terdiam.
Tangannya terlihat menutup mulut.
“Yah…” ucapku pelan.
Rian menatap layar dengan mata merah.
Ayah mendekatkan wajah ke kamera.
“Coba… dekat sedikit.”
Rian maju.
Ayah memandang alisnya.
Lalu hidungnya.
Lalu matanya.
Tiba-tiba laki-laki yang sepanjang hidupku hampir tidak pernah menangis itu tersedu-sedu.
“Rian…”
Rian menutup mulutnya.
“Ayah?”
Satu kata itu menghancurkan semua pertahanan kami.
Dari kejauhan terdengar suara Ibu.
“Pak, dengan siapa?”
Ayah tidak menjawab.
Beberapa detik kemudian wajah Ibu muncul.
Ketika melihat Rian, Ibu seperti kehilangan tenaga.
Beliau jatuh terduduk.
“Anakku…”
“Ibu?”
“Ya Allah… Rian.”
Ibu menangis sampai suara beliau hampir tidak keluar.
“Akhirnya kamu pulang.”
Tiga hari kemudian kami berangkat ke Klaten.
Sepanjang perjalanan, Rian terlihat gelisah.
“Aku takut,” katanya.
“Takut apa?”
“Takut mereka kecewa.”
“Kenapa?”
“Karena saya tidak ingat mereka.”
Aku menatapnya.
“Kamu tidak harus mengingat semuanya dalam sehari.”
Dia memandang ke luar jendela.
“Aku bahkan tidak merasa seperti orang yang mereka kenal.”
“Kamu memang sudah bukan bocah lima tahun itu.”
Aku tersenyum tipis.
“Tapi kamu tetap anak mereka.”
Ketika mobil kami masuk ke jalan desa, Rian tiba-tiba meminta berhenti.
Dia memandang ke arah sebuah tikungan.
“Di sana ada jembatan kecil?”
Aku tercengang.
“Iya.”
“Kemudian setelah jembatan ada warung, lalu jalan belok kiri?”
Aku menatapnya.
“Benar.”
Rian mulai menangis.
“Aku pernah lewat sini.”
Ingatan kecil mulai muncul.
Potongan-potongan pendek.
Bau tanah setelah hujan.
Suara ayam dari belakang rumah.
Pohon jambu.
Dan sebuah suara perempuan memanggilnya makan.
Ketika kami sampai, pintu rumah terbuka lebar.
Seperti yang selalu dilakukan Ibu selama 19 tahun.
Ibu berdiri di teras.
Ayah di sampingnya.
Rian turun dari mobil tetapi tidak langsung berjalan.
Ibu juga tidak bergerak.
Mereka saling menatap dari kejauhan.
Sembilan belas tahun seolah hilang dalam beberapa detik.
Kemudian Ibu berlari.
Beliau memeluk Rian begitu erat sampai keduanya hampir jatuh.
“Maafkan Ibu.”
Kalimat pertama Ibu bukan sambutan.
Bukan pertanyaan.
Melainkan permintaan maaf.
“Maafkan Ibu… karena waktu itu melepaskan tanganmu.”
Rian terdiam.
Lalu perlahan memeluk Ibu.
“Bu…”
Ibu menangis keras di bahunya.
Ayah berdiri beberapa langkah di belakang.
Rian menatapnya.
“Ayah.”
Ayah mengangguk.
Wajahnya basah.
“Pulanglah.”
Hanya itu.
Dua kata.
Namun kami semua tahu Ayah sudah menunggu 19 tahun untuk mengatakannya.
Malam itu, setelah suasana sedikit tenang, Ayah membawa Rian ke gudang belakang.
Beliau mengeluarkan sepeda kecil yang selama bertahun-tahun disimpan.
Catnya sudah kusam.
Rantainya berkarat.
Namun masih utuh.
Rian memandangnya lama.
“Ayah masih simpan?”
Ayah mengangguk.
“Entah kenapa tidak pernah sanggup membuangnya.”
Rian menyentuh setangnya.
Lalu tiba-tiba dia tertawa sambil menangis.
“Saya ingat.”
Kami semua terdiam.
“Saya pernah jatuh dari ini.”
Ayah tersenyum.
“Dan setelah jatuh kamu malah memukul sepedanya.”
Untuk pertama kalinya malam itu, kami tertawa bersama.
Namun kebahagiaan kami belum selesai dengan jawaban tentang siapa Rian.
Masih ada satu pertanyaan besar.
Bagaimana dia bisa berada di Surabaya?
Beberapa minggu kemudian, dengan bantuan pihak berwenang dan dokumen lama yang masih tersimpan, kami mulai menyelidiki.
Ternyata cerita bahwa Bu Ratna menemukan Rian di terminal tidak sepenuhnya benar.
Sebelum meninggal, Bu Ratna pernah meninggalkan sebuah kotak berisi surat dan dokumen kepada seorang tetangganya. Kotak itu diberikan kepada Rian setelah kami datang.
Di dalamnya ada sebuah surat.
Tulisan tangan Bu Ratna.
Rian membacanya dengan tangan gemetar.
Ternyata pada tahun 2006, suami Bu Ratna bekerja sebagai sopir angkutan antarkota.
Di Pasar Wedi, dia menemukan seorang anak kecil yang menangis sendirian.
Alih-alih langsung membawanya ke polisi, dia membawa Rian ke dalam mobil dengan alasan ingin membantu mencari keluarganya.
Namun hari itu juga, dia harus mengantar barang menuju Jawa Timur.
Dia berencana menyerahkan Rian kepada polisi di perjalanan.
Tetapi di tengah perjalanan, terjadi kecelakaan kecil.
Rian mengalami benturan di kepala.
Selama beberapa hari setelahnya, dia demam tinggi dan ingatannya menjadi kacau.
Suami Bu Ratna panik.
Dia takut dituduh menculik.
Akhirnya dia membawa Rian pulang.
Bu Ratna marah besar ketika mengetahui kejadian itu dan berkali-kali meminta suaminya melapor.
Namun suaminya menolak.
Beberapa bulan kemudian laki-laki itu meninggal karena kecelakaan lalu lintas.
Bu Ratna akhirnya membesarkan Rian sendirian.
Dalam suratnya, ia mengakui bahwa dirinya pengecut.
Semakin lama waktu berlalu, semakin takut ia mengembalikan Rian.
Ia khawatir dipenjara.
Ia juga terlanjur menyayangi anak itu.
Pada bagian terakhir surat tertulis:
“Jika suatu hari kamu menemukan keluarga kandungmu, jangan membenci mereka karena mengira mereka membuangmu. Mereka mungkin sedang mencarimu saat aku justru terlalu takut mengembalikanmu.”
Rian menutup surat itu.
Tidak ada yang berbicara cukup lama.
Aku mengira dia akan marah.
Namun yang keluar dari mulutnya justru sesuatu yang tidak kuduga.
“Kalau Bu Ratna tidak merawat saya, mungkin saya tidak akan hidup sampai hari ini.”
Aku menatapnya.
“Jadi kamu memaafkannya?”
Rian memandang surat di tangannya.
“Saya tidak tahu apakah semua hal bisa dimaafkan.”
Dia menarik napas.
“Tapi saya tidak mau menghabiskan sisa hidup dengan membenci orang yang sudah meninggal.”
Beberapa bulan telah berlalu sejak hari itu.
Rian belum sepenuhnya kembali tinggal di Klaten.
Dia masih bekerja di Surabaya sambil perlahan mengurus dokumen-dokumennya.
Namun hampir setiap akhir pekan, dia pulang.
Aneh melihat seorang laki-laki dewasa duduk di ruang keluarga, sementara Ibu masih sering menatapnya seperti takut ia akan menghilang lagi.
Kadang Ibu memasak terlalu banyak hanya karena ingin memastikan Rian makan.
Kadang Ayah diam-diam memperbaiki sepeda tua itu meskipun tentu saja sudah terlalu kecil untuk digunakan.
Dan aku?
Aku masih sering terbangun di malam hari dan bertanya-tanya apakah semua ini benar-benar terjadi.
Suatu sore, aku melihat Rian berdiri di depan pintu rumah.
Pintu yang selama 19 tahun hampir tidak pernah dikunci rapat.
Dia memandangnya cukup lama.
“Mas.”
“Hmm?”
“Kenapa pintu ini selalu terbuka?”
Aku tersenyum.
“Ibu menunggumu.”
Rian terdiam.
Kemudian dia memanggil Ibu.
“Bu.”
Ibu keluar dari dapur.
“Ada apa?”
Rian menunjuk pintu.
“Mulai malam ini dikunci saja.”
Ibu terlihat kaget.
“Kenapa?”
Rian tersenyum.
Senyum yang entah bagaimana membuatku kembali melihat bocah lima tahun yang dulu berdiri di halaman rumah sambil memegang mobil-mobilan merah.
“Karena sekarang saya sudah pulang.”
Ibu menangis lagi.
Namun kali ini tangisannya berbeda.
Bukan tangisan seseorang yang kehilangan.
Melainkan tangisan seseorang yang akhirnya bisa berhenti menunggu.
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah 19 tahun, Ayah mengunci pintu rumah kami.
Dan anehnya, suara kunci yang berputar itu justru terdengar seperti suara sebuah rumah yang akhirnya kembali terbuka.
