DI TENGAH PESTA PERNIKAHANKU, IBU MERTUAKU TIBA-TIBA BERDIRI DAN DENGAN SUARA KERAS MENYURUH SEMUA TAMU SEGERA PULANG
Pernikahanku dengan Ardi digelar di salah satu gedung pernikahan mewah di Jakarta Selatan, tempat yang biasa menjadi pilihan keluarga-keluarga terpandang untuk mengadakan pesta besar.
Deretan mawar putih menghiasi lorong panjang berkarpet merah. Cahaya hangat dari lampu kristal memantul pada gelas-gelas di meja tamu, sementara musik mengalun lembut memenuhi aula.
Semuanya tampak sempurna.
Mewah, elegan, dan nyaris tanpa cela.
Persis seperti yang diinginkan Bu Ratna, ibu mertuaku.
Bu Ratna dikenal sebagai perempuan tegas dan berwibawa. Setelah suaminya meninggal bertahun-tahun lalu, ia membesarkan Ardi seorang diri sekaligus menyelamatkan perusahaan keluarga yang hampir bangkrut. Kini perusahaan ekspor-impor hasil laut miliknya menjadi salah satu yang cukup besar di Jakarta.
Sementara aku, Laras, berasal dari keluarga sederhana.
Ayah dan ibuku hanyalah pegawai biasa. Tidak ada perusahaan besar, rumah mewah, atau koneksi dengan orang-orang penting.
Selama tiga tahun berpacaran dengan Ardi, aku selalu merasa Bu Ratna tidak benar-benar menerimaku. Ia tidak pernah menghina keluargaku secara terang-terangan, tetapi tatapannya sering membuatku merasa sedang diuji.
Namun malam itu aku memilih melupakan semuanya.
Hampir lima ratus tamu memenuhi aula.
Aku menggandeng lengan Ayah ketika memasuki ruangan. Di ujung karpet merah, Ardi berdiri dengan setelan jas hitam dan senyum yang selama bertahun-tahun selalu berhasil menenangkanku.
Prosesi berlangsung lancar.
Kami mengikuti seluruh rangkaian acara sampai tiba waktunya memotong kue pernikahan.
Tepuk tangan memenuhi aula.
Aku menoleh kepada Ardi.
Ia tersenyum.
Aku membalas senyumannya.
Lalu Bu Ratna tiba-tiba berdiri.
Awalnya kukira ia hendak memberikan sambutan.
Namun langkahnya terlihat berat. Wajahnya pucat. Tangannya gemetar ketika menerima mikrofon.
“Hadirin yang saya hormati…”
Ruangan perlahan sunyi.
“Hari ini seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi putra saya.”
Ia berhenti dan menarik napas panjang.
“Tapi…”
Mikrofon mendadak terlepas dari tangannya.
DUK!
Suara itu menggema.
Kemudian Bu Ratna berteriak tanpa mikrofon.
“SEMUA PULANG SEKARANG!”
Aku membeku.
“Apa-apaan ini, Bu?” Ardi berseru.
Bu Ratna tidak memedulikannya.
“PESTA INI SELESAI!”
Para tamu saling berpandangan.
Kemudian Bu Ratna menoleh kepadaku.
“TIDAK ADA PERNIKAHAN LAGI!”
Dadaku seperti dihantam sesuatu.
“Bu Ratna…” suaraku hampir tidak keluar.
Ardi naik ke panggung dengan wajah merah.
“Ibu sudah gila? Kita baru saja menikah!”
“Diam, Ardi.”
“Apa sebenarnya yang Ibu lakukan?”
Bu Ratna menatap putranya lama sekali.
“Aku sedang menyelamatkan istrimu.”
Kalimat itu membuat seluruh aula kembali sunyi.
Ardi terdiam.
Aku bahkan sempat mengira salah mendengar.
“Menyelamatkan aku dari apa?”
Bu Ratna tidak langsung menjawab. Ia justru melihat ke arah pintu utama.
“Pak Surya.”
Seorang lelaki berusia sekitar lima puluh tahun yang sejak tadi duduk di meja dekat panggung berdiri. Aku mengenalnya sebagai pengacara keluarga Ardi.
Pak Surya membawa sebuah map hitam.
Ketika ia naik ke panggung, wajah Ardi berubah.
Perubahan itu sangat kecil, tetapi aku melihatnya.
Untuk pertama kalinya malam itu, ketakutan muncul di matanya.
Bu Ratna juga melihatnya.
“Kamu tahu apa yang ada di dalam map ini, kan?”
“Aku tidak tahu Ibu bicara apa.”
“Jangan berbohong lagi.”
Pak Surya menyerahkan map tersebut kepadaku.
Tanganku gemetar saat membukanya.
Di dalamnya terdapat salinan dokumen perusahaan, rekening bank, beberapa percakapan yang dicetak, serta satu polis asuransi.
Aku membaca nama pada halaman pertama.
Namaku.
Laras Prameswari.
Nilai pertanggungannya dua puluh lima miliar rupiah.
Aku mengangkat kepala.
“Ini apa?”
Ardi segera mendekat.
“Laras, dengarkan aku dulu.”
Aku mundur.
“Kenapa ada asuransi jiwa atas namaku?”
“Bisa dijelaskan.”
“Dua puluh lima miliar, Ardi!”

Para tamu mulai berbisik.
Bu Ratna mengambil mikrofon yang tadi jatuh.
“Tiga minggu lalu saya mengetahui bahwa perusahaan keluarga kami sedang menghadapi masalah keuangan besar.”
Beberapa rekan bisnis langsung menatap satu sama lain.
“Masalah itu bukan karena bisnis sedang buruk,” lanjutnya. “Melainkan karena seseorang diam-diam menggunakan aset perusahaan sebagai jaminan untuk investasi spekulatif.”
Ia memandang Ardi.
Putranya memucat.
“Ardi mengambil pinjaman tanpa sepengetahuan saya.”
“Itu investasi!” bentak Ardi. “Kalau berhasil, perusahaan kita bisa berkembang dua kali lipat!”
“Dan gagal.”
Bu Ratna mengucapkannya dengan dingin.
“Utangmu hampir tiga puluh miliar.”
Aku merasa lantai di bawah kakiku bergoyang.
Namun belum selesai.
Bu Ratna menunjuk dokumen di tanganku.
“Laras, dua bulan lalu Ardi memintamu menandatangani beberapa dokumen sebelum menikah, bukan?”
Aku mengingatnya.
Ardi memang pernah datang membawa setumpuk berkas. Katanya dokumen itu diperlukan untuk mengurus rekening bersama dan administrasi setelah pernikahan.
Aku menandatanganinya tanpa membaca semuanya.
Karena aku percaya kepadanya.
Tubuhku mendadak dingin.
“Ya.”
“Di antara dokumen itu ada surat persetujuan asuransi.”
Aku menatap Ardi.
“Tidak mungkin.”
“Laras…”
“Jadi kamu sengaja membuatku menandatanganinya?”
“Aku bisa jelaskan.”
“JELASKAN!”
Suara teriakanku membuat beberapa tamu tersentak.
Ardi menatap sekeliling. Wajahnya berubah dari takut menjadi marah.
“Memangnya apa salahnya punya asuransi? Banyak pasangan melakukan itu!”
Pak Surya akhirnya bicara.
“Masalahnya bukan hanya polis tersebut.”
Ia mengeluarkan beberapa lembar kertas.
“Penerima manfaat utama polis adalah Saudara Ardi.”
Aku menelan ludah.
Bu Ratna kemudian mengatakan sesuatu yang membuat darahku seperti berhenti mengalir.
“Dan pagi tadi saya mengetahui Ardi telah memesan perjalanan bulan madu ke sebuah vila terpencil di Labuan Bajo. Bukan hotel yang kalian sepakati sebelumnya.”
Aku menoleh cepat.
Ardi pernah memberitahuku bahwa hotel kami berubah karena masalah reservasi.
Bu Ratna melanjutkan.
“Yang membuat saya curiga adalah percakapannya dengan seseorang bernama Dimas.”
Pak Surya menyerahkan cetakan pesan kepadaku.
Aku membacanya.
Kalimat-kalimat itu tidak secara terang-terangan mengatakan bahwa Ardi hendak membunuhku.
Namun ada satu pesan yang membuat lututku hampir kehilangan tenaga.
Setelah perjalanan selesai, semua masalah kita beres. Polisnya sudah aktif. Pastikan tidak ada yang menghubungkan apa pun denganku.
Aku mengangkat wajah.
Ardi menatapku.
“Bukan seperti yang kamu pikirkan.”
Air mataku akhirnya jatuh.
“Lalu aku harus memikirkan apa?”
“Itu bukan tentang kamu!”
“Polisnya atas namaku!”
Ardi berusaha meraih tanganku, tetapi Bu Ratna berdiri di depanku.
“Jangan sentuh dia.”
“Ibu memilih perempuan ini daripada anak Ibu sendiri?”
Bu Ratna terdiam.
Wajahnya seketika berubah.
Bukan marah.
Melainkan hancur.
“Aku memilih menghentikanmu sebelum kamu menjadi seseorang yang tidak bisa lagi kusebut anak.”
Ardi mengepalkan tangan.
“Semua ini karena Ibu tidak pernah percaya padaku!”
“Aku memberimu kepercayaan terlalu banyak.”
“Aku cuma berusaha menyelamatkan perusahaan!”
“Dengan mempertaruhkan nyawa istrimu?”
“Aku tidak pernah berniat membunuh Laras!”
“Lalu apa maksud pesanmu?”
Ardi terdiam.
Pak Surya kemudian mengeluarkan telepon genggamnya.
“Ada satu hal lagi.”
Ia memutar sebuah rekaman suara.
Suara Ardi terdengar jelas.
“Kalau terjadi kecelakaan saat perjalanan, tidak akan ada yang curiga. Setelah klaim cair, utang selesai.”
Beberapa perempuan di antara tamu spontan menutup mulut.
Aku tidak sanggup berdiri.
Ayah segera naik ke panggung dan memeluk bahuku.
Ardi memandangku panik.
“Laras, sumpah, aku tidak akan melakukannya. Aku cuma bicara karena sedang stres.”
“Cukup.”
Aku tidak mengenali suaraku sendiri.
“Kamu sudah cukup menjelaskan.”
Ardi mencoba mendekat.
Ayah berdiri di depanku.
“Jangan dekati anak saya.”
Situasi semakin kacau ketika dua polisi berpakaian sipil masuk melalui pintu aula.
Rupanya Bu Ratna telah menghubungi pihak berwenang sebelum acara dimulai.
Ardi langsung menatap ibunya.
“Ibu melaporkan aku?”
Air mata Bu Ratna jatuh.
“Ya.”
“Ibu kandungku sendiri?”
“Justru karena aku ibumu.”
Ardi tertawa pahit.
“Hebat.”
Ia mengulurkan tangan kepada petugas tanpa melawan.
Namun sebelum dibawa pergi, ia menoleh kepadaku.
“Laras.”
Aku tidak menjawab.
“Aku benar-benar mencintaimu.”
Aku memandang lelaki yang beberapa jam sebelumnya kupikir akan menemaniku sampai tua.
“Orang yang mencintai seseorang tidak menghitung berapa harga kematiannya.”
Wajah Ardi runtuh.
Ia dibawa keluar.
Aula yang beberapa menit sebelumnya dipenuhi musik kini berubah menjadi tempat paling sunyi yang pernah kukenal.
Satu per satu tamu akhirnya meninggalkan gedung.
Aku duduk di kursi dekat panggung sambil masih mengenakan gaun pengantin.
Bu Ratna berdiri beberapa meter dariku.
Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, ia tampak seperti perempuan tua yang kelelahan, bukan pengusaha besar yang ditakuti banyak orang.
“Aku minta maaf, Laras.”
Aku tidak menjawab.
Ia mendekat perlahan.
“Aku mengetahui semuanya baru sore tadi.”
Aku menatapnya.
“Kenapa Ibu tetap membiarkan acara dimulai?”
Pertanyaan itu sudah sejak tadi memenuhi kepalaku.
Bu Ratna menunduk.
“Karena aku membutuhkan waktu memastikan buktinya cukup. Pak Surya baru mendapatkan rekaman itu ketika acara sudah berlangsung.”
Ia menarik napas.
“Begitu aku mendengarnya, aku tidak peduli lagi pada nama keluarga, perusahaan, tamu, atau uang yang sudah dikeluarkan. Aku hanya tahu satu hal.”
“Apa?”
“Aku tidak akan membiarkanmu pergi dari gedung ini sebagai istri yang percaya kepada lelaki yang mungkin sedang merencanakan kematiannya.”
Aku menangis lagi.
Namun kali ini bukan hanya karena Ardi.
Aku menangis karena perempuan yang selama ini kukira paling membenciku ternyata menjadi orang yang menghancurkan pesta pernikahan putranya sendiri untuk melindungiku.
Enam bulan kemudian, penyelidikan selesai.
Ardi terbukti melakukan penipuan dokumen, penyalahgunaan aset perusahaan, dan perencanaan tindak kriminal bersama Dimas. Polisi menemukan bahwa perjalanan ke Labuan Bajo memang telah dipersiapkan dengan skenario yang sangat mencurigakan.
Pernikahan kami dibatalkan secara hukum.
Aku mengira hubunganku dengan keluarga Ardi akan berakhir di sana.
Ternyata tidak.
Suatu pagi Bu Ratna datang ke rumah orang tuaku.
Tidak membawa sopir.
Tidak mengenakan pakaian mahal.
Ia datang seorang diri dengan sebuah kotak kecil.
“Aku ingin memberikan ini kepadamu.”
Di dalamnya terdapat gelang sederhana milik almarhum ibunya.
Aku segera menutup kotak itu.
“Saya tidak bisa menerimanya.”
“Dengarkan dulu.”
Bu Ratna tersenyum tipis.
“Dulu aku memang tidak menyukaimu.”
Aku tertawa kecil di tengah rasa haru.
“Setidaknya Ibu jujur.”
“Aku menganggapmu terlalu sederhana untuk Ardi.”
Ia menatapku.
“Ternyata aku salah menilai kalian berdua.”
Matanya berkaca-kaca.
“Kamu bukan perempuan yang tidak cukup baik untuk anakku. Anakkulah yang tidak cukup baik untukmu.”
Aku tidak tahu harus berkata apa.
Bu Ratna kemudian mendorong kotak itu perlahan ke arahku.
“Ini bukan hadiah dari ibu mertua.”
Ia berhenti.
“Anggap saja hadiah dari seorang ibu yang terlambat menyadari bahwa keluarga tidak selalu ditentukan oleh darah.”
Aku akhirnya menerima gelang tersebut.
Bertahun-tahun kemudian, ketika orang bertanya mengapa aku masih menyimpan foto pernikahan yang gagal itu, aku selalu memberikan jawaban yang sama.
Karena malam tersebut memang menghancurkan sebuah pernikahan.
Namun malam itu juga menyelamatkan hidupku.
Aku masih mengingat Bu Ratna berdiri sendirian di atas panggung, di bawah cahaya lampu kristal, ketika semua orang menganggapnya telah kehilangan akal karena menyuruh lima ratus tamu pulang.
Saat itu aku mengira ia sedang merampas kebahagiaanku.
Aku tidak tahu bahwa ia sedang mengorbankan nama baik keluarganya, perusahaannya, bahkan putra satu-satunya demi menyelamatkanku.
Dan sejak malam itu aku memahami satu hal.
Kadang-kadang orang yang berani menghancurkan pesta kita bukanlah orang yang ingin menghancurkan hidup kita.
Justru dialah satu-satunya orang di ruangan itu yang tahu bahwa jika pesta tersebut dibiarkan berlanjut, hidup kita mungkin benar-benar akan berakhir.
