SUAMIKU MEMBAWA SELINGKUHANNYA YANG SEDANG HAMIL KE RUMAH, LALU DENGAN SANTAINYA MENYURUHKU MELAYANINYA.

“Ini tidak mungkin.”

Suara Ardi terdengar begitu pelan sampai nyaris seperti bisikan.

Aku menyandarkan punggung ke sofa.

“Kenapa tidak mungkin?”

Ardi mengangkat lembaran kertas itu dengan tangan gemetar. Matanya menatapku tajam, tetapi kali ini bukan lagi tatapan seorang laki-laki yang merasa berkuasa.

Tatapan itu penuh ketakutan.

“Kenapa kamu punya hasil pemeriksaan ini?”

Citra langsung menoleh kepadanya.

“Hasil pemeriksaan apa, Mas?”

Ardi tidak menjawab.

Aku yang akhirnya menjawab.

“Itu hasil analisis sperma Ardi dari sebuah klinik fertilitas.”

Wajah Citra perlahan berubah.

Aku melanjutkan dengan suara setenang mungkin.

“Tiga minggu lalu, aku mengambil salinan hasil pemeriksaan lengkap kami.”

Aku masih ingat hari itu dengan sangat jelas.

Enam tahun menikah tanpa anak membuatku berkali-kali menjadi sasaran pertanyaan keluarga Ardi.

Kapan punya momongan?

Sudah periksa belum?

Jangan terlalu sibuk bekerja.

Perempuan itu kalau terlalu stres memang susah hamil.

Awalnya aku masih bisa tersenyum.

Namun lama-lama semua pertanyaan itu berubah menjadi tuduhan.

Terutama dari ibu Ardi.

Setiap kali kami berkunjung, selalu ada kalimat yang sengaja dilemparkan kepadaku.

“Perempuan itu tugasnya bukan cuma jadi istri, tapi juga memberi keturunan.”

Atau,

“Ardi anak satu-satunya. Kalau sampai garis keluarga berhenti di dia, kasihan sekali.”

Yang lebih menyakitkan, Ardi tidak pernah membelaku.

Dia hanya diam.

Kadang bahkan tersenyum kecil seolah semua ucapan itu wajar.

Karena itulah beberapa bulan lalu aku mengajaknya memeriksakan diri bersama.

Awalnya dia menolak.

“Aku sehat.”

“Sehat belum tentu berarti tidak ada masalah kesuburan,” jawabku waktu itu.

Ardi kesal.

Namun akhirnya dia bersedia setelah aku mengatakan tidak adil kalau hanya aku yang diperiksa.

Kami menjalani serangkaian tes.

Hasil pemeriksaanku normal.

Dokter bahkan mengatakan tidak menemukan masalah berarti yang membuatku sulit hamil.

Sedangkan hasil pemeriksaan Ardi berbeda.

Jumlah spermanya sangat rendah.

Pergerakannya juga buruk.

Dokter menyebut kemungkinan terjadinya kehamilan alami sangat kecil.

Bukan mustahil.

Namun kecil sekali.

Saat itu Ardi terlihat terpukul.

Dokter menyarankan pemeriksaan lanjutan.

Tetapi Ardi tidak pernah datang lagi.

Setelah pulang, dia bahkan memintaku merahasiakan hasil itu dari keluarganya.

“Aku tidak mau Ibu tahu.”

Aku mengangguk.

Aku menjaga harga dirinya.

Aku bahkan menolak mengatakan apa pun ketika ibunya kembali menyindirku.

Aku menerima seluruh penghinaan itu sendirian.

Sampai beberapa minggu kemudian, sesuatu terjadi.

Aku sedang membersihkan ruang kerja Ardi ketika menemukan struk pembayaran dari sebuah klinik kandungan.

Namanya tidak tercantum.

Hanya tanggal dan nominal pembayaran.

Tanggalnya bertepatan dengan hari ketika Ardi bilang sedang lembur.

Sejak saat itu aku mulai memperhatikan semuanya.

Perubahan jadwal.

Panggilan yang dijawab di luar rumah.

Pesan yang langsung dihapus.

Perjalanan dinas yang mendadak semakin sering.

Dan akhirnya aku mengetahui tentang Citra.

Namun aku tidak langsung mengonfrontasi Ardi.

Aku ingin tahu seberapa jauh kebohongannya.

Karena itulah aku kembali ke klinik fertilitas tempat kami diperiksa.

Aku mengambil salinan hasil tes.

Aku juga berkonsultasi lagi dengan dokter.

Dan satu kalimat dokter terus terngiang di kepalaku sampai malam ini.

“Dengan kondisi seperti ini, kemungkinan tetap ada. Tetapi sangat kecil. Kalau ada kehamilan, pemeriksaan DNA setelah bayi lahir akan menjadi cara paling pasti.”

Aku menatap Citra.

Wajahnya sudah tidak lagi penuh kemenangan.

“Jadi,” kataku perlahan, “sebelum kalian memintaku merawat anak Ardi, mungkin kalian sebaiknya memastikan dulu apakah anak itu benar-benar anak Ardi.”

Citra mendadak berdiri.

“Jangan sembarangan ngomong!”

Aku tersenyum tipis.

“Aku tidak menuduh.”

“Kamu jelas menuduh aku!”

Suaranya meninggi.

“Aku cuma bersama Mas Ardi!”

Aku mengangguk pelan.

“Kalau memang begitu, seharusnya kamu tidak perlu takut.”

Citra membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar.

Ardi bangkit dari sofa.

Dia menatap Citra.

“Citra.”

Nada suaranya berubah.

“Anak itu benar anakku, kan?”

Citra terlihat tersinggung.

“Mas kok tanya begitu?”

“Aku cuma tanya.”

“Mas percaya sama dia sekarang?”

“Jawab saja!”

Bentakan Ardi membuat Citra tersentak.

Aku tetap duduk.

Pemandangan itu terasa ironis.

Lima menit lalu mereka berdiri di pihak yang sama, memperlakukanku seolah aku orang asing di rumahku sendiri.

Kini sebuah lembar kertas sudah cukup membuat mereka saling mencurigai.

Citra menatap Ardi dengan mata berkaca-kaca.

“Aku hamil setelah kita bersama. Masa Mas lupa?”

“Aku tidak lupa.”

“Terus kenapa sekarang meragukan aku?”

Ardi mengusap wajahnya kasar.

“Karena dokter bilang kemungkinan aku punya anak sangat kecil!”

Citra mendadak diam.

Dan diamnya terlalu lama.

Ardi menangkap perubahan itu.

“Kamu tahu soal ini?”

Citra menggeleng cepat.

“Mana mungkin aku tahu?”

“Terus kenapa kamu diam?”

“Aku kaget!”

Aku berdiri dan mengambil tas.

“Aku rasa kalian perlu bicara berdua.”

Ardi langsung menoleh kepadaku.

“Maya, tunggu.”

Aku berhenti.

Untuk pertama kalinya malam itu, nada suaranya kehilangan semua kesombongan.

“Rumah ini rumah kita. Kamu tidak perlu pergi.”

Aku hampir tertawa.

“Barusan kamu yang menyuruhku keluar.”

“Aku sedang emosi.”

“Tidak.”

Aku menatapnya.

“Kamu tidak sedang emosi. Kamu merasa punya kekuasaan. Itu berbeda.”

Wajah Ardi menegang.

Aku mengambil satu dokumen lain dari map.

Kali ini aku menyerahkannya langsung kepadanya.

“Ada satu hal lagi yang perlu kamu baca.”

Ardi memandangku curiga.

“Apa?”

“Dokumen kepemilikan rumah.”

Dia menunduk.

Aku melihat jelas detik ketika dia menyadari kesalahan terbesar kedua yang dibuatnya malam itu.

Rumah itu memang kami tempati sejak menikah.

Namun rumah itu bukan milik Ardi.

Rumah itu milikku.

Ayahku membelinya beberapa bulan sebelum aku menikah dan mencatatkan seluruh kepemilikannya atas namaku.

Ardi tahu hal itu.

Hanya saja selama bertahun-tahun dia terbiasa menyebut rumah itu sebagai rumahnya sendiri sampai mungkin dia benar-benar lupa siapa pemilik sahnya.

Aku menunjuk ke arah pintu.

“Jadi soal siapa yang harus keluar dari rumah ini, aku rasa sekarang sudah jelas.”

“Maya…”

“Kamu punya waktu sampai besok siang untuk mengambil barangmu.”

Ardi terlihat tidak percaya.

“Kamu mau mengusirku?”

“Aku hanya mengikuti saranmu.”

Aku menatap Citra.

“Kalian ingin hidup sebagai keluarga, kan?”

Aku mengangguk kecil.

“Silakan. Tapi bukan di rumahku.”

Citra tiba-tiba maju satu langkah.

“Mbak Maya, jangan begini. Mas Ardi sekarang sedang bertanggung jawab atas aku.”

Aku memandangnya.

“Aku tidak menghalangi.”

“Kalau Mas Ardi keluar dari sini, kami tinggal di mana?”

Pertanyaan itu membuatku hampir kehilangan simpati terakhir yang masih tersisa.

“Bukankah itu sesuatu yang seharusnya kalian pikirkan sebelum berselingkuh?”

Citra memerah.

Aku berjalan menuju tangga.

Namun sebelum naik, suara Ardi menghentikanku.

“Kamu memang sudah merencanakan semua ini?”

Aku menoleh.

“Apa maksudmu?”

“Kamu tahu tentang Citra sejak lama.”

“Ya.”

“Kenapa kamu diam?”

Aku menghela napas.

“Karena aku ingin melihat sampai sejauh mana kamu akan merendahkanku.”

Ardi membeku.

“Aku masih berharap,” lanjutku, “kamu akan datang dan mengaku. Aku pikir mungkin masih ada sedikit rasa bersalah.”

Aku tersenyum pahit.

“Ternyata aku salah.”

Malam itu aku tidur di kamar tamu.

Dari lantai bawah, aku mendengar suara pertengkaran mereka sampai hampir pukul dua pagi.

Kadang suara Ardi terdengar keras.

Kadang Citra menangis.

Aku tidak turun.

Masalah mereka bukan lagi masalahku.

Keesokan paginya, sesuatu yang tidak kuduga terjadi.

Saat aku turun sekitar pukul tujuh, Citra sudah tidak ada.

Ardi duduk sendirian di ruang makan.

Wajahnya kusut.

“Aku perlu bicara sama kamu,” katanya.

“Aku tidak tertarik.”

“Citra pergi.”

Aku mengambil kopi.

“Itu urusanmu.”

“Tadi malam aku minta dia menunjukkan hasil pemeriksaan kehamilannya.”

Aku tidak menjawab.

Ardi melanjutkan.

“Aku lihat tanggal perkiraan usia kandungannya.”

Tangannya mengepal.

“Ada yang tidak cocok.”

Aku akhirnya menoleh.

“Apa maksudmu?”

“Kami pertama kali tidur bersama sekitar empat bulan lalu.”

Aku menatapnya.

“Dan?”

“Dokternya mencatat usia kandungannya hampir lima setengah bulan.”

Aku tidak mengatakan apa-apa.

Wajah Ardi semakin pucat ketika mengucapkan kalimat berikutnya.

“Dia sudah hamil sebelum kami mulai berhubungan.”

Untuk beberapa detik, dapur kami benar-benar sunyi.

Ardi menatap meja.

“Aku telepon dia pagi tadi. Aku tanya baik-baik.”

“Lalu?”

“Dia tidak menjawab.”

Aku menyesap kopi.

Tidak ada rasa puas dalam diriku.

Hanya lelah.

Ardi menutup wajahnya.

“Aku bodoh.”

Aku tetap diam.

“Maya…”

Dia menatapku.

“Aku melakukan semua ini karena aku pikir akhirnya aku bisa punya anak.”

Aku tertawa kecil.

Bukan karena lucu.

Namun karena alasan itu terasa begitu menyedihkan.

“Jadi kalau anak itu benar anakmu, apa yang kamu lakukan padaku semalam menjadi benar?”

Ardi terdiam.

“Bukan begitu maksudku.”

“Lalu apa?”

“Aku hanya…”

Dia tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.

Aku menatap laki-laki yang pernah sangat kucintai itu.

Dulu, mungkin aku akan merasa kasihan.

Tapi sekarang aku hanya melihat seseorang yang baru menyesal setelah kebohongannya menghancurkan dirinya sendiri.

“Ardi, kesalahanmu bukan karena Citra mungkin berbohong.”

Aku meletakkan cangkir.

“Kesalahanmu adalah memilih mengkhianatiku.”

Dia menunduk.

“Kamu menghina aku karena tidak punya anak, padahal kamu tahu hasil pemeriksaanmu sendiri.”

Aku menahan napas.

“Kamu membiarkan ibumu menyalahkanku bertahun-tahun. Kamu menyimpan hasil tesmu, lalu ketika perempuan lain hamil, kamu datang kepadaku seolah kamu akhirnya membuktikan bahwa aku yang bermasalah.”

Mata Ardi mulai merah.

Aku tidak pernah melihatnya serapuh itu.

Namun anehnya, aku tidak merasa ingin memeluknya.

Aku hanya merasa perjalanan kami memang sudah selesai.

Dua hari kemudian, aku mengajukan gugatan cerai.

Ardi sempat memohon.

Dia datang ke kantorku.

Mengirim pesan puluhan kali.

Bahkan ibunya meneleponku.

Namun bukan untuk meminta maaf.

“Maya, rumah tangga itu pasti ada masalah. Jangan langsung cerai cuma karena satu kesalahan.”

Aku menjawab tenang.

“Bu, perselingkuhan bukan satu kesalahan. Itu serangkaian keputusan.”

Telepon langsung sunyi.

Beberapa minggu kemudian aku mendengar kabar dari salah satu teman Ardi.

Citra akhirnya mengaku.

Anak yang dikandungnya memang bukan anak Ardi.

Ayah biologisnya adalah mantan kekasihnya yang sudah menikah.

Setelah mengetahui pria itu tidak akan meninggalkan keluarganya, Citra mendekati Ardi.

Ardi mapan.

Punya pekerjaan bagus.

Dan karena sering bercerita tentang keinginannya punya anak, Citra melihat kesempatan.

Aku tidak tahu apakah harus tertawa atau merasa iba ketika mendengarnya.

Namun ternyata cerita belum selesai.

Sekitar tiga bulan setelah gugatan cerai diajukan, aku kembali ke klinik.

Bukan karena Ardi.

Aku ingin memastikan kondisi tubuhku sebelum benar-benar menutup bab itu.

Dokter yang dulu memeriksa kami menyarankan beberapa tes tambahan.

Hasilnya membuatku terdiam cukup lama.

Tidak ada masalah pada kesuburanku.

Bahkan dokter berkata kemungkinan aku hamil secara alami cukup baik.

Aku pulang sambil membawa hasil pemeriksaan tersebut.

Di perjalanan, aku teringat enam tahun hidup bersama seseorang yang membuatku perlahan percaya bahwa ada sesuatu yang salah dalam diriku.

Padahal selama ini, tidak pernah ada yang salah.

Setahun setelah perceraian resmi, aku bertemu seseorang bernama Damar melalui proyek kantor.

Hubungan kami tidak langsung menjadi romantis.

Kami berteman hampir delapan bulan.

Dia tahu seluruh masa laluku.

Dia juga tahu betapa takutnya aku menikah lagi.

Suatu malam dia berkata,

“Aku tidak butuh kamu membuktikan apa pun untuk menjadi perempuan yang layak dicintai.”

Kalimat sederhana itu justru membuatku menangis.

Dua tahun kemudian kami menikah dalam acara kecil.

Aku tidak pernah terburu-buru memikirkan anak.

Aku sudah belajar bahwa nilai seorang perempuan tidak ditentukan oleh kemampuan rahimnya.

Namun hidup terkadang memiliki cara aneh untuk menutup luka lama.

Enam bulan setelah menikah dengan Damar, aku terlambat datang bulan.

Dua garis merah muncul di alat tes kehamilan.

Aku duduk di lantai kamar mandi hampir sepuluh menit sambil menangis.

Ketika Damar mengetahui kabar itu, dia ikut menangis sambil memelukku.

Bukan karena akhirnya aku “berhasil memberinya keturunan”.

Namun karena kami memang menginginkan anak itu bersama.

Beberapa bulan setelahnya, saat perutku mulai membesar, sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.

Aku hampir menghapusnya.

Namun nama pengirimnya membuatku berhenti.

Ardi.

Pesannya singkat.

“Aku dengar kamu hamil. Selamat. Sekarang aku akhirnya benar-benar sadar bahwa selama ini orang yang bermasalah bukan kamu.”

Aku menatap layar beberapa detik.

Kemudian membalas satu kalimat.

“Yang paling bermasalah dalam pernikahan kita bukan kesuburan siapa pun, Ardi. Tapi cara kamu memperlakukan orang yang pernah mencintaimu.”

Aku mengirim pesan itu.

Lalu memblokir nomornya.

Damar memanggilku dari ruang makan.

Aku meletakkan ponsel.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ketika menatap hidupku sendiri, aku tidak lagi merasa seperti perempuan yang pernah dibuang karena dianggap tidak mampu memberikan keturunan.

Aku hanya melihat diriku sendiri.

Seorang perempuan yang pernah dihancurkan oleh pengkhianatan, tetapi memilih pergi sebelum kehilangan harga dirinya.

Dan ternyata, lembar kertas A4 yang membuat wajah Ardi pucat malam itu bukanlah hal yang paling penting.

Hal paling penting adalah keberanianku akhirnya memahami bahwa rumah, pernikahan, dan cinta tidak pernah layak dipertahankan jika untuk tinggal di dalamnya aku harus terus menerus merendahkan diriku sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang