ISTRINYA MENINGGAL SAAT MELAHIRKAN AKIBAT PERDARAHAN HEBAT. SEJAK SAAT ITU, SETIAP MALAM SANG SUAMI SELALU…

Hujan turun begitu deras malam itu, seolah langit sedang menumpahkan sesuatu yang selama bertahun-tahun tertahan.

Aku duduk di ruang keluarga sambil memangku Nara, putriku yang sebentar lagi berusia empat tahun. Di luar, angin menggoyangkan pohon mangga di halaman rumah kami di pinggiran Yogyakarta. Sesekali cahaya kilat membelah langit, disusul suara petir yang membuat kaca jendela bergetar.

Namun perhatian Nara tidak tertuju pada hujan.

Ia sedang memandangi sebuah foto yang tergantung di dinding.

Foto Maya.

Ibunya.

Istriku yang meninggal hampir empat tahun lalu, tepat pada hari Nara dilahirkan.

“Ayah, Mama suka hujan?”

Pertanyaan itu membuatku tersenyum tipis.

“Suka sekali.”

“Kenapa?”

Aku menatap wajah Maya di dalam foto.

“Katanya suara hujan bikin orang tidur lebih nyenyak.”

Nara mengangguk seolah baru menerima informasi yang sangat penting.

Kemudian ia memainkan liontin bunga kecil yang tergantung pada kalung perak di tangannya.

Kalung itu milik Maya.

Entah bagaimana Nara menemukannya di dalam laci kamar sore tadi.

Aku sebenarnya ingin menyimpannya kembali, tetapi Nara memohon agar diizinkan memegangnya malam itu.

“Ayah.”

“Iya?”

“Nanti kalau Nara besar, boleh pakai kalung Mama?”

“Tentu.”

Wajahnya langsung cerah.

Aku mengusap rambutnya, tetapi sebelum mengatakan apa pun lagi, tubuh kecil Nara tiba-tiba menegang.

Tatapannya berpindah dari foto Maya menuju jendela.

“Ayah…”

“Ada apa?”

Jari telunjuknya perlahan terangkat.

“Itu Mama.”

Aku terdiam.

“Apa?”

Nara menunjuk ke luar jendela.

“Itu Mama, Ayah.”

Jantungku seperti berhenti sesaat.

Aku mengikuti arah telunjuknya.

Di balik kaca yang dipenuhi air hujan, samar-samar terlihat seseorang berdiri di halaman.

Seorang perempuan.

Berpakaian putih.

Diam.

Menghadap rumah kami.

Tanganku spontan memeluk Nara lebih erat.

“Nara, jangan bergerak.”

Namun putriku justru tersenyum.

“Mama datang.”

Kilatan petir tiba-tiba menerangi halaman.

Hanya satu atau dua detik.

Tetapi cukup bagiku untuk melihat wajah perempuan itu.

Rambut panjang.

Wajah oval.

Tubuh ramping.

Dan kebiasaannya memiringkan kepala sedikit ke kanan.

Napas tercekat di tenggorokanku.

“Maya…?”

Lampu rumah yang sejak tadi redup tiba-tiba menyala terang.

Aku refleks memejamkan mata.

Ketika kubuka kembali…

Perempuan itu sudah tidak ada.

Aku segera menurunkan Nara ke sofa dan berlari keluar.

Hujan langsung membasahi tubuhku.

“Maya!”

Tidak ada jawaban.

Aku menyalakan senter ponsel dan memeriksa halaman.

Kosong.

Gerbang masih terkunci dari dalam.

Tanah di bawah jendela berlumpur, tetapi tidak ada satu pun jejak kaki.

Aku berdiri di tengah hujan dengan dada naik turun.

Mungkin aku salah lihat.

Mungkin itu hanya bayangan pohon.

Mungkin pikiranku sedang mempermainkanku.

Namun ketika kembali ke ruang keluarga, Nara memandangku dengan wajah polos.

“Mama tadi bilang sesuatu.”

Langkahku berhenti.

“Apa katanya?”

Nara menatap foto Maya, lalu menjawab pelan.

“Mama bilang Ayah jangan sedih lagi.”

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah hampir empat tahun, aku menangis di depan putriku.

Tetapi aku belum tahu bahwa perempuan di luar jendela itu bukanlah akhir dari kisah Maya.

Justru dari sanalah sebuah rahasia yang disembunyikan selama hampir empat tahun mulai terbuka.

Maya meninggal ketika melahirkan Nara akibat perdarahan hebat.

Aku masih mengingat malam itu seperti kejadian kemarin.

Lorong rumah sakit.

Bau antiseptik.

Langkah tergesa para perawat.

Seorang dokter keluar dari ruang operasi dengan wajah yang sudah memberitahuku semuanya bahkan sebelum ia berbicara.

“Pak Ardi, kami sudah berusaha semaksimal mungkin.”

Aku tidak langsung memahami kalimat itu.

“Maksud Dokter?”

Dokter terdiam sesaat.

“Istri Bapak mengalami perdarahan yang sangat berat. Kami turut berduka.”

Dunia seperti berhenti.

Beberapa menit kemudian, seorang perawat menyerahkan bayi perempuan kepadaku.

Bayi itu kecil sekali.

Matanya terpejam.

Tangannya bergerak mencari sesuatu.

Untuk satu detik yang sampai sekarang masih membuatku malu, muncul pikiran mengerikan di kepalaku.

Kalau bayi ini tidak lahir, mungkin Maya masih hidup.

Namun tiba-tiba jari mungilnya menggenggam telunjukku.

Aku langsung tersadar.

Bayi ini juga kehilangan ibunya.

Bahkan sebelum sempat mengenalnya.

Aku mencium keningnya.

“Ayah akan menjagamu.”

Aku memberinya nama Nara, nama yang Maya pilih dua bulan sebelum persalinan.

Sejak saat itu, hidupku hanya berputar antara pekerjaan dan Nara.

Ibuku beberapa kali menyarankan agar aku menikah lagi.

Aku selalu menolak.

“Aku belum bisa, Bu.”

“Kamu masih muda, Ardi.”

“Aku tahu.”

“Nara juga butuh sosok ibu.”

Kalimat terakhir itulah yang paling sulit kudengar.

Sebab aku tahu ibu benar.

Tetapi setiap kali membayangkan perempuan lain berada di tempat Maya, ada rasa bersalah yang tidak bisa kujelaskan.

Aku merasa seolah membuka hati untuk orang lain berarti mengkhianatinya.

Karena itulah setiap malam aku membawa Nara duduk di depan foto Maya.

Aku menceritakan kehidupan kami.

“Maya, hari ini anakmu menumpahkan susu ke laptop Ayah.”

Nara biasanya tertawa.

Atau aku berkata, “Tadi dia ngambek karena Ayah tidak mengizinkannya makan es krim sebelum makan nasi.”

Kadang Nara ikut berbicara.

“Mama, Ayah bohong. Nara cuma minta sedikit.”

Rumah yang dulu terasa seperti makam perlahan kembali memiliki suara.

Sampai malam ketika Nara melihat perempuan berpakaian putih itu.

Setelah kejadian tersebut, aku hampir tidak tidur.

Keesokan paginya, aku memeriksa rekaman CCTV yang dipasang di teras.

Pukul 20.17, ketika Nara menunjuk jendela, kamera tiba-tiba mengalami gangguan.

Gambar berubah menjadi garis-garis.

Tiga puluh delapan detik kemudian, rekaman kembali normal.

Tidak ada perempuan.

Aku memutar rekaman itu berulang kali.

Hasilnya sama.

Saat itulah ponselku berbunyi.

Nomor tidak dikenal.

Aku mengangkatnya.

“Halo?”

Beberapa detik tidak ada suara.

Kemudian terdengar suara perempuan.

“Apakah ini Pak Ardi Pratama?”

“Iya. Siapa?”

Perempuan itu terdiam.

“Saya ingin bicara tentang Maya.”

Tubuhku menegang.

“Siapa Anda?”

“Nama saya Laras.”

Aku tidak mengenal nama itu.

“Ada apa dengan istri saya?”

“Saya tidak bisa menjelaskannya lewat telepon.”

Nada suaranya terdengar gugup.

“Besok pukul sepuluh pagi. Bisa bertemu di kafe dekat Rumah Sakit Sardjito?”

Aku langsung curiga.

“Dari mana Anda tahu Maya?”

Hening.

Kemudian perempuan itu menjawab sesuatu yang membuat tanganku dingin.

“Saya kakak kembarnya.”

Telepon terputus.

Aku berdiri membeku.

Maya tidak pernah mengatakan bahwa dia mempunyai saudara kembar.

Keesokan harinya aku datang lebih awal.

Seorang perempuan sudah duduk di sudut kafe.

Ketika ia menoleh, langkahku berhenti.

Wajah itu.

Maya.

Bukan sekadar mirip.

Hampir sama.

Perempuan itu berdiri.

Matanya langsung berkaca-kaca.

“Mas Ardi?”

Aku tidak menjawab.

Aku hanya menatapnya.

“Aku Laras.”

“Tidak mungkin.”

“Aku tahu.”

“Maya anak tunggal.”

Laras tersenyum pahit.

“Itu yang dia katakan kepadamu.”

Ia mengeluarkan sebuah foto lama.

Dua gadis remaja berdiri berdampingan.

Wajah mereka identik.

Salah satunya jelas Maya.

“Kenapa?”

Hanya itu yang mampu kutanyakan.

Laras menunduk.

“Kami bertengkar besar ketika berusia dua puluh dua tahun. Aku pergi ke Surabaya. Maya tetap bersama orang tua kami. Setelah Papa meninggal, hubungan kami semakin buruk.”

“Kenapa dia tidak pernah cerita?”

“Karena aku melakukan sesuatu yang membuatnya membenciku.”

Aku menatap Laras.

“Apa?”

Laras menarik napas panjang.

“Aku pernah mencoba merebut tunangannya.”

Aku terdiam.

“Bukan kamu,” lanjutnya cepat. “Sebelum mengenalmu, Maya hampir menikah dengan seseorang. Aku iri kepadanya sejak kecil. Maya selalu dianggap lebih baik. Lebih pintar, lebih sabar, lebih disayang. Aku melakukan hal bodoh. Hubungan mereka akhirnya hancur dan Maya memutuskan hubungan denganku.”

“Lalu kenapa sekarang datang?”

Air mata Laras jatuh.

“Karena aku baru tahu Maya meninggal.”

Aku mengernyit.

“Empat tahun baru tahu?”

“Aku tinggal di luar negeri selama beberapa tahun. Nomor kami berubah. Tidak ada komunikasi dengan keluarga.”

Kemudian Laras mengeluarkan amplop.

“Minggu lalu aku pulang dan membereskan rumah lama Mama. Aku menemukan ini.”

Namaku tertulis di amplop.

Tulisan tangan Maya.

Tanganku langsung gemetar.

Aku membuka amplop itu.

Di dalamnya ada surat.

Ardi, kalau suatu hari kamu membaca surat ini, mungkin aku sudah berani menceritakan sesuatu yang selama ini kusimpan.

Aku punya saudara kembar bernama Laras.

Kami pernah saling menyakiti.

Aku bilang aku membencinya, tetapi sebenarnya aku hanya tidak tahu bagaimana caranya memaafkan.

Kalau suatu hari sesuatu terjadi padaku sebelum aku sempat memperbaiki semuanya, jangan biarkan Nara tumbuh dengan kebencian yang diwariskan dari ibunya.

Aku menutup mulut.

Maya menulis surat itu dua minggu sebelum melahirkan.

“Mengapa surat ini tidak pernah dikirim?”

Laras menggeleng.

“Mungkin Maya berniat memberikannya setelah melahirkan.”

Aku menatap perempuan di depanku.

Kemudian tiba-tiba teringat malam hujan itu.

“Kamu pernah datang ke rumahku?”

Laras tampak bingung.

“Kapan?”

“Dua malam lalu.”

Wajahnya berubah.

“Tidak.”

“Jangan bohong.”

“Aku bahkan baru mendapatkan alamatmu kemarin dari teman lama Maya.”

Aku menunjukkan foto rumahku.

“Pernah berdiri di depan jendela ini?”

Laras menatap layar.

Kemudian perlahan wajahnya pucat.

“Mas Ardi…”

“Apa?”

Ia menunjuk sesuatu.

Aku memperbesar foto.

Di samping jendela terdapat pot bunga melati.

Laras menatapnya lama.

“Maya suka melati.”

“Aku tahu.”

“Bukan itu.”

Laras membuka galeri ponselnya dan menunjukkan sebuah foto lama.

Maya dan Laras berdiri di depan rumah masa kecil mereka.

Di leher Maya tergantung kalung perak dengan liontin bunga.

Kalung yang sama dengan yang ditemukan Nara malam itu.

“Kalung ini sebenarnya milikku,” kata Laras.

Aku menatapnya.

“Apa?”

“Aku memberikannya kepada Maya sebelum kami bertengkar.”

Dadaku berdebar.

“Malam ketika kamu melihat perempuan itu… apakah Nara memegang kalung ini?”

Aku mengangguk.

Laras menangis.

“Mungkin kebetulan.”

Aku tidak menjawab.

Beberapa hari kemudian, aku mengajak Laras bertemu Nara.

Aku takut putriku akan bingung melihat perempuan yang begitu mirip dengan ibunya.

Dugaanku benar.

Begitu Laras masuk ke rumah, Nara langsung berlari dari kamarnya.

Kemudian berhenti.

Wajahnya berubah.

Ia menatap Laras cukup lama.

Aku berjongkok di sampingnya.

“Nara, ini Tante Laras. Saudara Mama.”

Namun Nara menggeleng.

“Bukan Mama.”

Laras tersenyum dengan mata berkaca-kaca.

“Iya, Sayang. Tante bukan Mama.”

Nara mendekatinya.

Kemudian melakukan sesuatu yang membuat kami berdua terdiam.

Ia menyentuh pipi Laras.

“Tante mirip Mama yang di jendela.”

Laras langsung menatapku.

“Nara,” tanyaku pelan, “Mama yang kamu lihat waktu itu sama seperti Tante?”

Nara menggeleng.

“Mirip.”

“Bedanya apa?”

Nara berpikir sebentar.

“Mama rambutnya lebih panjang.”

Aku dan Laras saling berpandangan.

Dalam foto terakhir sebelum meninggal, rambut Maya memang panjang sampai melewati bahunya.

Sedangkan Laras berambut pendek.

Nara kemudian mengambil kalung dari meja.

Ia menyerahkannya kepada Laras.

“Tante.”

Laras menerima kalung itu dengan tangan gemetar.

“Mama bilang ini punya Tante.”

Aku membeku.

Laras bahkan tidak mampu berbicara.

Ia hanya menangis sambil memeluk kalung tersebut.

Aku tidak pernah mengajarkan Nara bahwa kalung itu berasal dari Laras.

Aku sendiri baru mengetahuinya dua hari sebelumnya.

Malam itu Laras menginap di rumah kami.

Setelah Nara tidur, kami duduk di depan foto Maya.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Laras berbicara kepada adiknya.

“Maaf, May.”

Tangannya menyentuh bingkai foto.

“Aku terlalu gengsi untuk pulang.”

Aku duduk diam di sampingnya.

“Aku selalu berpikir masih punya waktu,” lanjutnya. “Ternyata tidak.”

Aku memahami perasaan itu lebih dari siapa pun.

“Kita sering berpikir orang yang kita sayangi akan selalu ada besok.”

Laras mengangguk.

“Tapi kadang besok tidak datang.”

Sejak hari itu, Laras perlahan menjadi bagian dari kehidupan Nara.

Bukan menggantikan Maya.

Tidak akan pernah.

Tetapi Nara akhirnya memiliki seseorang yang bisa menceritakan sisi lain ibunya.

Tentang Maya kecil yang takut cicak.

Tentang kebiasaannya mencuri mangga tetangga.

Tentang bagaimana Maya pernah memotong rambutnya sendiri dan menyalahkan Laras.

Rumah kami kembali dipenuhi tawa.

Beberapa bulan kemudian, aku melakukan sesuatu yang selama empat tahun tidak pernah berani kulakukan.

Aku memindahkan foto Maya.

Bukan membuangnya.

Aku memindahkannya dari tengah ruang keluarga ke sebuah sudut khusus bersama foto keluarga dan kenangan lainnya.

Ibuku yang melihat perubahan itu bertanya,

“Kamu sudah siap melanjutkan hidup?”

Aku tersenyum.

“Sepertinya.”

Aku akhirnya mengerti.

Melanjutkan hidup bukan berarti meninggalkan Maya.

Mencintai seseorang yang sudah pergi tidak berarti aku harus ikut berhenti hidup.

Pada ulang tahun Nara yang keempat, kami pergi ke pantai di Gunungkidul.

Nara berlari di pasir bersama Laras.

Aku duduk tidak jauh dari mereka.

Angin laut terasa hangat.

Tiba-tiba Nara berlari menghampiriku.

“Ayah!”

“Iya?”

“Mama ikut?”

Aku tersenyum.

“Mungkin.”

Nara menunjuk langit.

“Kalau Mama lihat Nara, Mama senang?”

Aku mengangkatnya ke pangkuanku.

“Pasti.”

“Karena Nara tidak sedih?”

Aku terdiam.

Kemudian memeluknya.

“Iya. Karena Nara bahagia.”

Nara tersenyum lalu berlari kembali menuju Laras.

Aku memandang laut.

Untuk sesaat, entah karena cahaya matahari atau pikiranku sendiri, aku seperti melihat seorang perempuan berdiri jauh di tepi pantai.

Gaun putihnya bergerak tertiup angin.

Rambut panjangnya tergerai.

Ia berdiri sambil sedikit memiringkan kepala.

Aku tidak mengejarnya.

Tidak memanggil namanya.

Aku hanya tersenyum.

Ketika berkedip, sosok itu sudah menghilang.

Malamnya, setelah kami pulang, Nara tertidur sambil memeluk bonekanya.

Aku hendak mematikan lampu ketika ia tiba-tiba membuka mata.

“Ayah.”

“Iya?”

“Mama tadi datang.”

Aku berhenti.

“Di pantai?”

Nara mengangguk.

“Apa Mama bilang sesuatu?”

Nara tersenyum mengantuk.

“Mama bilang sekarang Ayah sudah bisa melihat ke depan.”

Aku membeku.

Beberapa detik kemudian Nara sudah tertidur lagi.

Aku berjalan ke ruang keluarga.

Foto Maya berada di sudut ruangan.

Aku berdiri di depannya.

Dulu, setiap melihat foto itu, aku selalu memikirkan hari ketika Maya pergi.

Malam itu berbeda.

Aku justru mengingat hari pertama kami bertemu.

Hari pernikahan kami.

Tawanya.

Kebiasaannya mengomel.

Caranya memegang tanganku.

Dan untuk pertama kalinya aku memahami sesuatu yang sederhana.

Aku tidak perlu terus terluka untuk membuktikan bahwa aku mencintainya.

Aku tidak harus hidup dalam kesedihan agar Maya tetap menjadi bagian dari keluarga kami.

Aku menyentuh bingkai foto itu.

“Terima kasih, May.”

Aku tersenyum.

“Sekarang aku mengerti.”

Saat hendak pergi, mataku menangkap sesuatu di bawah bingkai.

Sebuah kelopak bunga melati putih tergeletak di sana.

Aku terdiam.

Tidak ada bunga melati di dalam rumah.

Jendela tertutup.

Pintu terkunci.

Aku mengambil kelopak itu perlahan.

Aromanya masih segar.

Dari kamar terdengar suara Nara mengigau.

“Mama…”

Aku menoleh.

Kemudian kembali melihat foto Maya.

Aku tidak mencari penjelasan lagi.

Aku meletakkan kelopak melati itu di samping fotonya dan mematikan lampu.

“Selamat malam, Maya.”

Malam itu tidak ada sosok putih di jendela.

Tidak ada petir.

Tidak ada kejadian aneh.

Hanya sebuah rumah kecil yang akhirnya kembali terasa seperti rumah.

Dan mungkin itulah alasan Maya datang.

Bukan untuk kembali menjadi bagian dari dunia kami.

Bukan pula untuk membuat kami takut.

Ia datang untuk mempertemukan dua saudara yang terpisah oleh luka, mempertemukan putrinya dengan keluarga yang tidak pernah diketahuinya, dan membebaskan seorang suami yang terlalu lama mengira bahwa kesedihan adalah bentuk kesetiaan.

Sebab orang yang benar-benar mencintai kita tidak akan meminta kita tinggal selamanya di tempat mereka meninggalkan kita.

Mereka ingin kita berjalan.

Mereka ingin kita tertawa lagi.

Mereka ingin kita hidup.

Dan jika suatu hari kerinduan membuat kita menoleh ke belakang, mungkin kita tidak akan menemukan mereka berdiri di sana.

Namun kita akan menyadari bahwa sebagian dari mereka sebenarnya tidak pernah tertinggal.

Mereka ikut berjalan bersama kita.

Di dalam kenangan.

Di dalam cinta.

Dan di dalam keberanian untuk akhirnya melanjutkan kehidupan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang