AKU TIDUR BERSAMA SEORANG PRIA ASING DI USIA 63 TAHUN. NAMUN, KEESOKAN PAGINYA, KEBENARAN YANG KUTEMUKAN MEMBUATKU TERPAKU…

“Aku sebenarnya adalah seseorang yang mengenal suamimu.”

Aku membaca kalimat itu berkali-kali.

Tanganku mendadak dingin.

Di bawahnya masih ada satu kalimat lagi.

“Namanya Hendra Wibowo, bukan? Jika kau ingin mengetahui mengapa aku mendekatimu tadi malam, datanglah ke kafe di lobi pukul sembilan. Aku akan menunggumu.”

Aku hampir menjatuhkan foto itu.

Nama Hendra tidak pernah kusebutkan kepada Adrian.

Semalam aku memang bercerita tentang mendiang suamiku, tetapi aku hanya menyebutnya “suamiku”. Tidak sekali pun nama lengkapnya keluar dari mulutku.

Aku segera mengambil ponsel.

Pukul 08.17.

Ada tiga panggilan tak terjawab dari putriku, Maya, dan dua pesan dari putraku, Dimas.

Ternyata mereka tidak melupakan ulang tahunku. Maya menulis bahwa ia sengaja menunggu malam untuk menelepon bersama suaminya, sementara Dimas mengirim pesan tepat setelah tengah malam ketika aku sudah berada di lounge dan tidak memperhatikan ponsel.

Seharusnya aku merasa lega.

Namun saat itu pikiranku hanya tertuju pada Adrian.

Siapa sebenarnya pria itu?

Dan bagaimana dia mengenal Hendra?

Aku mandi, berpakaian, lalu turun ke lobi dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Sebagian diriku ingin langsung meninggalkan Jakarta. Tetapi bagian lain yang selama puluhan tahun selalu kubungkam justru memaksaku mencari jawaban.

Adrian sudah duduk di sudut kafe.

Kali ini ia tampak berbeda.

Tidak ada senyum santai seperti malam sebelumnya. Di depannya hanya ada secangkir kopi yang nyaris tidak disentuh.

Ketika melihatku, ia berdiri.

“Sari.”

“Jangan panggil namaku seolah kita sudah lama saling mengenal.”

Wajahnya menegang.

Aku duduk di hadapannya dan meletakkan foto itu di atas meja.

“Jelaskan.”

Adrian menarik napas panjang.

“Aku memang fotografer. Bagian itu tidak bohong.”

“Bagian mana yang bohong?”

“Aku tidak bertemu denganmu secara kebetulan.”

Dadaku terasa sesak.

“Jadi kau mengikutiku?”

“Bukan seperti itu.”

“Lalu bagaimana?”

Ia terdiam beberapa detik sebelum mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari tas kameranya.

Di dalamnya terdapat beberapa foto lama.

Salah satunya langsung membuatku mengenali wajah Hendra.

Foto itu diambil bertahun-tahun lalu. Hendra tampak jauh lebih muda, mungkin berusia awal empat puluhan. Ia berdiri di sebuah pelabuhan bersama beberapa orang.

Di sebelahnya ada seorang pria yang sangat mirip Adrian.

Aku mengangkat kepala.

“Siapa dia?”

“Ayahku.”

Aku kembali memandang foto itu.

“Ayahmu mengenal Hendra?”

“Mereka sahabat.”

Aku menggeleng perlahan.

“Tidak mungkin. Aku mengenal hampir semua teman dekat suamiku.”

“Tidak yang satu ini.”

Adrian mengeluarkan foto berikutnya.

Hendra dan ayah Adrian berdiri di depan sebuah kapal kecil di Flores. Di belakang foto tertulis tanggal dua puluh tiga tahun lalu.

Tiba-tiba aku teringat sesuatu.

Pada masa itu Hendra memang sering bepergian keluar kota. Ia bekerja di perusahaan logistik dan beberapa kali mengatakan harus mengurus proyek di Nusa Tenggara.

“Ayahku bernama Daniel Prasetyo,” kata Adrian. “Dia fotografer dokumenter. Hendra bertemu dengannya saat membantu distribusi bantuan setelah banjir besar di Flores.”

Aku masih belum memahami alasan semua ini.

“Kalau begitu, kenapa kau mencariku?”

Adrian menunduk.

“Karena ayahku meninggal enam bulan lalu.”

Aku terdiam.

“Sebelum meninggal, dia memberiku sebuah kotak berisi arsip lama. Foto, surat, negatif film. Di dalamnya ada banyak foto Hendra.”

Ia mengeluarkan sebuah buku catatan kecil.

“Tapi ada satu benda yang membuatku mencari keluarganya.”

Dari sela buku itu, Adrian mengambil sebuah amplop kusam.

Di depannya tertulis dengan tulisan tangan yang sangat kukenal.

Untuk Sari.

Dunia seolah berhenti.

Aku mengambil amplop itu.

Tulisan itu milik Hendra.

Tidak mungkin aku salah.

Selama tiga puluh empat tahun pernikahan kami, aku melihat tulisan tangannya hampir setiap hari.

“Dari mana kau mendapatkan ini?”

“Dari ayahku.”

“Kenapa surat untukku ada padanya?”

“Karena Hendra menitipkannya.”

Aku menatap Adrian tajam.

“Suamiku meninggal sembilan tahun lalu.”

“Aku tahu.”

“Dan ayahmu menyimpannya selama sembilan tahun?”

Adrian mengangguk dengan wajah penuh penyesalan.

“Ayahku tidak pernah mengirimkannya.”

Aku merasa marah.

“Kenapa?”

“Karena dia takut.”

“Takut apa?”

Adrian menatapku.

“Takut surat itu menghancurkan keluargamu.”

Aku ingin segera membuka amplop tersebut.

Namun tanganku berhenti.

Selama sembilan tahun aku telah belajar menerima kematian Hendra. Aku menyimpan kenangan tentangnya sebagai seorang suami yang baik, ayah yang bertanggung jawab, lelaki yang mungkin tidak sempurna tetapi selalu pulang ke rumah.

Bagaimana jika surat itu mengubah semuanya?

“Apa isi surat ini?”

“Aku tidak pernah membacanya.”

“Jangan bohong lagi.”

“Aku bersumpah.”

Aku menatap wajahnya cukup lama.

“Lalu kenapa kau tahu namaku?”

“Ada foto keluarga kalian di dalam kotak ayahku. Nama kalian tertulis di belakangnya.”

“Kenapa mendekatiku seperti tadi malam? Kenapa tidak datang dan menyerahkan surat ini?”

Pertanyaan itu membuat Adrian terdiam.

Akhirnya ia berkata pelan, “Awalnya memang itu rencanaku.”

“Awalnya?”

“Aku mencari alamatmu di Yogyakarta. Dari beberapa informasi publik, aku menemukan bahwa kau masih tinggal di sana. Kemarin aku melihat unggahan foto dari sebuah tempat di Jakarta yang kebetulan memperlihatkanmu di latar belakang. Aku mengenalimu dari foto lama.”

Aku merasa tidak nyaman.

“Jadi kau datang ke lounge karena aku ada di sana?”

“Ya.”

“Dan semua percakapan kita?”

“Pada awalnya aku hanya ingin memastikan bahwa kau memang Sari.”

“Lalu?”

Adrian memalingkan wajah.

“Lalu aku menikmati percakapan itu lebih dari yang seharusnya.”

Aku berdiri.

“Cukup.”

“Sari.”

“Tidak. Kau seharusnya mengatakan semuanya sejak awal.”

“Aku tahu.”

“Semalam aku percaya kepadamu.”

“Aku tahu.”

“Dan kau membiarkanku percaya bahwa pertemuan kita kebetulan.”

Adrian tidak membela diri.

“Aku salah.”

Aku mengambil surat Hendra.

“Jangan cari aku lagi.”

Aku meninggalkannya di kafe.

Di kamar, aku duduk hampir setengah jam sambil memegang amplop itu.

Akhirnya kubuka.

Surat tersebut hanya terdiri dari dua halaman.

Sari,

Jika surat ini sampai kepadamu, mungkin aku sudah tidak memiliki keberanian untuk mengatakan semuanya secara langsung.

Ada sesuatu yang selama bertahun-tahun kusimpan darimu.

Aku membaca perlahan.

Ternyata rahasia Hendra bukan perselingkuhan seperti yang pertama kali kutakutkan.

Justru jauh berbeda.

Dua puluh tiga tahun lalu, ketika bekerja di Flores, Hendra mengalami kecelakaan kapal bersama beberapa pekerja dan relawan. Daniel, ayah Adrian, menyelamatkan nyawanya.

Namun dalam kecelakaan itu, seorang rekan mereka meninggal.

Pria tersebut meninggalkan seorang anak laki-laki yang masih kecil.

Hendra merasa bersalah karena dialah yang meminta pria itu ikut dalam perjalanan tersebut.

Sejak saat itu, diam-diam Hendra membantu biaya pendidikan anak itu.

Selama bertahun-tahun.

Aku terus membaca hingga sebuah kalimat membuatku terdiam.

Anak itu bernama Adrian.

Aku menutup mulut dengan tangan.

Jadi Adrian bukan sekadar anak sahabat Hendra.

Hendra telah membiayai sekolahnya.

Di bagian akhir surat, suamiku menulis:

Aku tidak pernah menceritakan ini karena aku takut kau mengira aku mengambil sesuatu dari keluarga kita. Padahal setiap rupiah yang kukirim berasal dari pekerjaan tambahan yang kulakukan tanpa sepengetahuanmu.

Jika suatu hari Adrian berhasil menjadi seseorang yang baik, anggaplah itu salah satu hal terbaik yang pernah kulakukan.

Air mataku jatuh.

Selama bertahun-tahun aku pernah kesal karena Hendra sering pulang terlambat. Aku pernah mengira ia terlalu mencintai pekerjaannya.

Ternyata sebagian malam itu ia gunakan untuk mengambil proyek tambahan demi membiayai pendidikan seorang anak yang bahkan tidak kukenal.

Namun masih ada satu pertanyaan.

Mengapa Daniel tidak pernah memberikan surat ini?

Aku turun kembali ke kafe.

Adrian sudah tidak ada.

Aku menelepon nomor yang semalam diberikannya.

Tidak diangkat.

Aku mencoba sekali lagi.

Baru pada panggilan ketiga ia menjawab.

“Halo?”

“Di mana kau?”

Hening.

“Adrian?”

“Aku sedang menuju stasiun.”

“Tunggu.”

Dua puluh menit kemudian kami bertemu di depan hotel.

Aku menunjukkan surat itu.

“Kau adalah anak yang dimaksud Hendra?”

Adrian mengangguk.

Matanya memerah.

“Ya.”

“Kenapa tidak bilang?”

“Karena aku malu.”

“Untuk apa?”

“Ayahmu membiayai hidupku bertahun-tahun, sementara keluarganya bahkan tidak tahu aku ada.”

“Dia memilih melakukannya.”

“Aku tahu.”

Adrian menelan ludah.

“Aku kuliah karena dia. Kamera pertamaku juga pemberian Hendra.”

Aku memandang kamera yang tergantung di bahunya.

“Yang itu?”

Ia tersenyum tipis.

“Bukan. Kamera itu sudah rusak. Tapi masih kusimpan.”

Aku kemudian menanyakan hal yang paling menggangguku.

“Kenapa ayahmu menyimpan surat ini?”

Adrian menatap jalan.

“Karena Hendra berubah pikiran.”

“Apa?”

“Beberapa hari setelah menitipkannya, Hendra menelepon ayahku. Dia bilang jangan kirim surat itu.”

“Kenapa?”

“Dia ingin menceritakannya sendiri kepadamu.”

Aku terdiam.

“Tapi dia tidak pernah melakukannya.”

“Mungkin tidak sempat.”

Hendra meninggal mendadak akibat serangan jantung beberapa bulan setelah perjalanan terakhirnya ke Jakarta.

Dadaku seperti ditusuk sesuatu.

Selama sembilan tahun aku mengira aku mengetahui hampir semua hal tentang lelaki yang hidup bersamaku selama puluhan tahun.

Ternyata manusia selalu memiliki ruang yang tidak pernah sepenuhnya bisa dimasuki orang lain.

Bahkan oleh orang yang paling mencintainya.

Aku menatap Adrian.

“Ada satu hal lagi.”

“Apa?”

“Foto semalam.”

Wajahnya langsung berubah.

“Aku minta maaf.”

“Kenapa kau memotretku ketika tidur?”

Ia tampak sangat malu.

“Itu kebiasaan buruk seorang fotografer. Cahaya pagi jatuh tepat di wajahmu dan kau terlihat sangat damai. Aku mengambil satu foto. Seharusnya aku meminta izin.”

“Ya. Seharusnya.”

“Aku sudah menghapus file aslinya.”

Aku mengangguk.

Lalu untuk pertama kalinya aku tersenyum.

“Foto itu bagus.”

Adrian tertawa kecil karena gugup.

Kami berdiri dalam keheningan.

Kemudian ia berkata, “Aku tidak berharap kau memaafkanku karena cara aku mendekatimu.”

“Aku belum memaafkanmu.”

Ia mengangguk.

“Tapi aku berterima kasih karena kau membawa surat Hendra.”

Aku menatapnya beberapa detik.

“Dan satu hal lagi.”

“Apa?”

“Kau berutang perjalanan kepadaku.”

Adrian mengernyit.

“Perjalanan?”

“Semalam kau bilang Labuan Bajo paling indah dilihat saat matahari mulai turun.”

Ia tersenyum.

“Aku memang bilang begitu.”

“Aku ingin membuktikannya sendiri.”

Tiga bulan kemudian, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku berdiri di atas sebuah kapal di perairan Labuan Bajo.

Aku pergi sendiri.

Bukan bersama Adrian.

Setelah kembali ke Yogyakarta, aku menyadari sesuatu yang jauh lebih penting daripada rahasia Hendra.

Selama bertahun-tahun aku selalu menunggu seseorang mengajakku hidup.

Dulu Hendra.

Kemudian anak-anakku.

Lalu, tanpa kusadari, Adrian.

Kali ini aku ingin menjadi orang yang mengajak diriku sendiri.

Aku mulai bepergian.

Tidak jauh-jauh pada awalnya.

Solo.

Malang.

Banyuwangi.

Kemudian Lombok.

Anak-anakku sempat khawatir.

“Ibu sekarang susah ditebak,” kata Dimas sambil tertawa saat menelepon.

Aku menjawab, “Bagus. Berarti Ibu masih hidup.”

Hubunganku dengan Adrian tidak berubah menjadi kisah cinta seperti dalam film.

Kami tetap berhubungan.

Kadang ia mengirimkan foto dari tempat-tempat yang dikunjunginya.

Kadang aku membalas dengan foto perjalananku sendiri.

Setahun kemudian, sebuah paket tiba di rumahku.

Isinya buku fotografi karya Adrian.

Judulnya sederhana.

Orang-Orang yang Berani Memulai Lagi.

Aku membuka halaman pertama.

Ada foto seorang perempuan berusia 63 tahun sedang duduk di dekat jendela kamar hotel, memandang cahaya pagi.

Bukan foto ketika aku tidur.

Foto itu diambil keesokan harinya, setelah semua rahasia terbuka dan setelah aku mengizinkannya mengangkat kamera.

Di bawah foto tersebut tertulis satu kalimat.

“Untuk Sari, yang mengajarkanku bahwa beberapa kehidupan tidak terlambat dimulai. Mereka hanya menunggu pemiliknya berhenti takut.”

Aku tersenyum.

Namun ketika hendak menutup buku itu, sebuah foto lama terjatuh dari halaman terakhir.

Foto Hendra dan Daniel.

Kali ini aku belum pernah melihatnya.

Di belakangnya terdapat tulisan tangan Hendra.

Aku membacanya perlahan.

“Kalau suatu hari aku pergi lebih dulu, semoga Sari akhirnya melakukan semua hal yang selalu ia tunda demi aku dan anak-anak.”

Aku terpaku cukup lama.

Lalu tertawa sambil menangis.

Ternyata kejutan terbesar di usia 63 tahun bukanlah tidur di samping seorang pria asing.

Bukan pula mengetahui bahwa pria itu memiliki hubungan dengan masa lalu suamiku.

Kejutan terbesar adalah menyadari bahwa selama ini aku mengira hidupku telah selesai hanya karena peranku sebagai istri dan ibu telah berubah.

Padahal hidup tidak pernah meminta izin kepada usia untuk memulai bab berikutnya.

Kadang kita hanya perlu berhenti menunggu seseorang mengetuk pintu.

Lalu membukanya sendiri.

Beberapa minggu kemudian, aku membeli tiket pesawat lagi.

Kali ini menuju tempat yang bahkan belum pernah kubicarakan dengan siapa pun.

Sebelum berangkat, aku berdiri di depan foto Hendra yang tersimpan di ruang tamu.

“Aku pergi dulu,” kataku.

Aku hampir berjalan meninggalkan ruangan ketika ponselku berbunyi.

Pesan dari Adrian.

Satu foto matahari terbit dari sebuah pulau kecil.

Di bawahnya hanya ada satu kalimat.

“Ke mana kali ini, Bu Sari?”

Aku tersenyum dan membalas.

“Rahasia.”

Kemudian aku mengambil koper dan menutup pintu rumah.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, rumah itu kutinggalkan tanpa perasaan bahwa aku sedang meninggalkan kesepian di dalamnya.

Sebab akhirnya aku mengerti.

Kesepian bukan selalu tentang tidak memiliki seseorang di samping kita.

Kadang kesepian muncul ketika kita terlalu lama meninggalkan diri kita sendiri.

Dan di usia 64 tahun, aku akhirnya pulang kepada diriku sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang