Selingkuhan Suamiku Datang Menuntut Harta untuk Bayinya, tetapi Satu Berkas Lama Membuat Suamiku Pucat

“Kalau begitu, selama sepuluh tahun ini saya dianggap apa, Bu?”

Bu Ratna terdiam.

Hanya sesaat, tetapi cukup bagiku untuk melihat sesuatu melintas di wajahnya. Bukan rasa bersalah. Bukan pula malu. Melainkan ketidaksabaran, seperti pertanyaanku hanya membuang-buang waktunya.

“Kamu tetap menantu Ibu,” katanya akhirnya. “Tapi keadaan sudah berubah. Kita harus realistis.”

Realistis.

Aku mengulang kata itu di dalam hati.

Sepuluh tahun pernikahan, malam-malam tanpa tidur, uang tabunganku yang habis untuk membangun perusahaan, dua kali keguguran yang kulewati hampir sendirian karena Dimas terlalu sibuk bekerja, semuanya ternyata bisa disapu dengan satu kata.

Realistis.

Aku kembali menatap Maya.

Perempuan itu bekerja sebagai staf administrasi di perusahaan kami sekitar dua tahun lalu. Awalnya aku bahkan menyukainya. Dia rajin, sopan, dan selalu memanggilku Mbak Citra dengan senyum manis.

Ketika ayahnya masuk rumah sakit, aku pernah meminjamkan uang kepadanya tanpa bunga.

Ketika dia meminta cuti tambahan karena harus menjaga ibunya, aku yang menyetujui.

Sekarang dia berdiri di rumahku membawa anak suamiku.

Lucunya, hidup memang punya cara sendiri untuk mempermalukan kebaikan seseorang.

“Maya,” panggilku.

Dia tersentak kecil.

“Iya, Mbak.”

“Kamu tahu isi dokumen ini?”

Matanya bergerak ke arah Dimas sebelum kembali kepadaku.

“Saya cuma ingin anak saya punya kepastian.”

“Bukan itu pertanyaanku.”

Aku menunjuk dokumen tersebut.

“Kamu tahu apa saja yang akan dialihkan kepadamu?”

Maya menggigit bibir.

“Apartemen dan beberapa aset.”

“Termasuk saham perusahaan.”

Wajahnya berubah sedikit.

Dimas segera berdiri.

“Citra, tidak perlu membahas semuanya seperti ini.”

“Kenapa tidak?”

Aku menatapnya.

“Bukankah kalian datang ke rumahku untuk meminta tanda tanganku?”

“Ini rumah kita.”

Aku tersenyum.

“Benarkah?”

Entah kenapa, pertanyaan sederhana itu membuat wajah Dimas menegang.

Aku mengambil pulpen yang tadi diletakkan pengacara keluarga mereka di meja.

Bu Ratna langsung menarik napas lega.

“Nah, begitu. Jangan dipersulit.”

Aku membuka halaman terakhir.

Dimas menatap tanganku.

Maya tampak menahan senyum.

Lalu, tepat ketika ujung pulpen hampir menyentuh kertas, aku bertanya, “Siapa yang menyiapkan dokumen ini?”

Pengacara bernama Pak Hendra yang sejak tadi duduk diam menjawab, “Saya, Bu Citra. Berdasarkan kesepakatan Pak Dimas dan keluarga.”

“Sudah memeriksa status kepemilikan seluruh aset?”

“Tentu.”

Aku mengangguk.

“Termasuk asal modal perusahaan?”

Pak Hendra terdiam.

Hanya sepersekian detik.

Tetapi aku melihatnya.

“Secara umum sudah,” katanya.

Aku menutup pulpen.

“Kalau begitu, seharusnya Bapak tahu bahwa saya tidak bisa menyerahkan saham itu.”

Dimas mengernyit.

“Kenapa tidak bisa?”

Aku menatapnya.

“Karena sebagian besar saham yang kamu tulis di sini bukan milikmu.”

Ruangan mendadak sunyi.

Dimas tertawa kecil, tetapi terdengar dipaksakan.

“Citra, jangan mulai membuat masalah baru. Perusahaan itu milik kita berdua.”

“Perusahaan operasionalnya, iya.”

Aku bangkit dari sofa.

“Tapi perusahaan induknya?”

Wajah Dimas perlahan berubah.

Aku berjalan menuju lemari kayu di sudut ruang keluarga. Dari laci paling bawah, aku mengambil sebuah map cokelat yang sudah terlihat tua.

Saat kembali ke meja, langkahku terasa ringan.

Aneh.

Selama beberapa minggu terakhir, sejak mengetahui perselingkuhan Dimas, aku hampir tidak bisa tidur. Aku menangis diam-diam di kamar mandi. Aku bahkan sempat bertanya pada diriku sendiri apa yang kurang dariku.

Hari ini, untuk pertama kalinya, aku tidak merasa ingin menangis.

Aku meletakkan map itu di hadapan mereka.

Dimas menatapnya.

Sekejap kemudian wajahnya kehilangan warna.

Aku tahu dia mengenali map tersebut.

“Ini apa?” Bu Ratna bertanya.

Aku membuka pengikatnya.

“Dokumen yang dibuat dua belas tahun lalu.”

Dimas berdiri begitu cepat sampai lututnya menghantam meja.

“Citra.”

Nada suaranya berubah.

Tidak lagi tenang.

Tidak lagi seolah dia laki-laki rasional yang hanya sedang meminta istrinya berkorban sedikit.

Sekarang ada kepanikan di sana.

“Kenapa kamu masih menyimpan itu?”

Aku hampir tersenyum.

“Kenapa tidak?”

Bu Ratna semakin bingung.

“Memangnya dokumen apa?”

Aku mengeluarkan akta pendirian perusahaan pertama yang didirikan sebelum aku menikah dengan Dimas.

Namanya PT Arunika Cipta Investama.

Tidak banyak orang mengenalnya karena perusahaan itu hanya berfungsi sebagai holding company.

Dulu, ketika ayahku meninggal, beliau meninggalkan sejumlah investasi dan sebuah ruko kecil kepadaku. Aku menjual sebagian aset tersebut untuk mendirikan perusahaan investasi bersama seorang sahabat keluarga.

Dua tahun kemudian, setelah menikah dengan Dimas, perusahaan holding itu memberikan modal awal untuk mendirikan bisnis yang sekarang dipimpin Dimas.

Karena saat itu aku percaya sepenuhnya kepadanya, aku tidak pernah mempermasalahkan siapa yang tampil di depan publik.

Dimas menjadi direktur utama.

Aku mengurus keuangan, strategi, dan jaringan investor dari belakang.

Semua orang menganggap perusahaan itu milik Dimas.

Termasuk keluarganya.

Yang tidak pernah mereka ketahui adalah perusahaan induk masih memegang enam puluh satu persen saham.

Dan perusahaan induk itu hampir sepenuhnya milikku.

Aku mendorong dokumen ke tengah meja.

“Enam puluh satu persen saham PT Adikara Digital dimiliki PT Arunika Cipta Investama.”

Aku mengeluarkan dokumen berikutnya.

“Dan delapan puluh tujuh persen saham Arunika dimiliki saya.”

Pak Hendra langsung mengambil berkas itu.

Semakin lama dia membaca, semakin serius wajahnya.

Bu Ratna menoleh kepada putranya.

“Dimas?”

Dimas tidak menjawab.

Aku melanjutkan.

“Bukan cuma itu.”

Aku mengeluarkan satu dokumen lagi.

“Ruko pertama, modal awal perusahaan, bahkan dana talangan ketika perusahaan hampir bangkrut tujuh tahun lalu, semuanya berasal dari Arunika.”

Maya mulai gelisah.

“Mas Dimas bilang perusahaan itu milik dia.”

Aku menoleh kepadanya.

“Dia tidak sepenuhnya berbohong.”

Maya tampak lega.

Aku melanjutkan, “Dia punya sembilan belas persen.”

Wajah Maya membeku.

Bu Ratna menatap Dimas dengan tidak percaya.

“Cuma sembilan belas persen?”

Dimas mengepalkan tangannya.

“Ini tidak sesederhana yang Citra bilang.”

“Memang tidak.”

Aku kembali duduk.

“Karena ada satu hal lagi.”

Aku membuka halaman terakhir.

Dokumen itu dibuat tujuh tahun lalu ketika perusahaan kami nyaris bangkrut akibat keputusan investasi Dimas yang buruk.

Saat itu bank menolak memberikan tambahan kredit.

Beberapa investor menarik diri.

Dimas datang kepadaku tengah malam dengan mata merah dan berkata bahwa semua yang kami bangun akan habis jika kami tidak mendapat dana dalam tiga hari.

Aku yang menyelamatkannya.

Arunika memberikan pinjaman besar kepada perusahaan dengan jaminan saham pribadi Dimas.

Aku masih ingat ketika menyodorkan dokumen itu kepadanya.

Dia menandatangani tanpa membaca sampai selesai.

Mungkin karena terlalu panik.

Mungkin karena terlalu percaya kepadaku.

Atau mungkin karena dia sudah terbiasa menganggap aku akan selalu membereskan kekacauannya.

“Dalam perjanjian ini,” kataku, “kalau terjadi tindakan yang secara material merugikan perusahaan atau kepentingan pemegang saham utama, hak suara saham yang dijadikan jaminan bisa dibekukan sampai kewajiban diselesaikan.”

Dimas membentak, “Perselingkuhan bukan urusan perusahaan!”

“Benar.”

Aku menatapnya tenang.

“Tapi mengalihkan saham yang sedang dijaminkan kepada pihak ketiga tanpa persetujuan kreditur adalah urusan perusahaan.”

Pak Hendra mengangkat kepala.

Kali ini dia langsung memandang Dimas.

“Pak Dimas, apakah Bapak memberi tahu saya mengenai perjanjian ini?”

Dimas tidak menjawab.

“Pak Dimas?”

“Tidak.”

Maya mundur satu langkah.

Tangannya masih berada di atas perut.

“Jadi apartemen bagaimana?”

Pertanyaan itu keluar begitu cepat hingga hampir membuatku tertawa.

Bukan tentang Dimas.

Bukan tentang perusahaan.

Bukan tentang apakah semua rencana mereka baru saja runtuh.

Apartemen.

Aku memandang Maya cukup lama sampai wajahnya memerah.

“Apartemen Jakarta Selatan dibeli tiga bulan sebelum pernikahan kami.”

Bu Ratna langsung berkata, “Tapi Dimas yang membayar cicilannya!”

“Sebagian.”

Aku mengangguk.

“Namun sertifikatnya atas nama saya, dan pembayaran awalnya berasal dari rekening pribadi saya sebelum menikah.”

Pak Hendra tampak mulai tidak nyaman.

“Untuk menentukan status hukumnya tetap harus dilihat lebih rinci.”

“Saya tahu.”

Aku menatapnya.

“Karena itu saya sudah meminta pengacara saya mengurusnya.”

Semua kepala menoleh kepadaku.

Dimas menatapku tajam.

“Pengacaramu?”

“Iya.”

“Kapan?”

“Tiga minggu lalu.”

Wajahnya semakin pucat.

Tiga minggu lalu adalah hari ketika aku menemukan percakapan WhatsApp antara Dimas dan Maya.

Mereka membicarakan rumah.

Sekolah anak.

Bahkan membicarakan bagaimana cara membujukku agar pembagian aset berjalan tanpa konflik.

Dimas memanggilku keras kepala.

Maya membalas dengan emoji tertawa.

Malam itu aku menangis sampai subuh.

Pagi harinya aku pergi menemui pengacara.

“Jadi selama ini kamu pura-pura tidak tahu?” Dimas bertanya.

“Tidak.”

Aku menggeleng.

“Aku tahu kamu selingkuh. Yang tidak kutahu cuma seberapa jauh kamu berencana menghancurkan hidupku.”

Bu Ratna mendadak berdiri.

“Kamu jangan membesar-besarkan! Dimas memang salah, tetapi cucu saya tetap harus dipikirkan.”

Aku memandangnya.

“Silakan.”

“Apa?”

“Pikirkan cucu Ibu. Dimas ayahnya. Dia punya kewajiban.”

Aku mendorong dokumen pengalihan aset kembali ke arah mereka.

“Tapi jangan meminta saya membayar harga dari kesalahan putra Ibu.”

Maya mulai menangis.

Kali ini tangisannya tidak lagi terlihat anggun.

“Kalau begitu saya harus bagaimana?”

Aku menatapnya.

“Pertanyaan itu seharusnya kamu tanyakan sebelum tidur dengan suami orang.”

Dimas langsung membentak.

“Citra!”

Aku menoleh kepadanya.

“Apa?”

“Jangan menghina Maya.”

Aku terdiam.

Lalu tertawa kecil.

Benar-benar lucu.

Laki-laki yang meminta istrinya menyerahkan harta kepada perempuan selingkuhannya masih merasa berhak mengajariku sopan santun.

Aku mengambil ponsel.

“Ada satu hal lagi yang perlu kalian tahu.”

Dimas mendadak waspada.

Aku membuka sebuah surel dan meletakkan layar ponsel di meja.

“Besok pagi akan ada rapat pemegang saham luar biasa.”

Mata Dimas membesar.

“Untuk apa?”

“Pergantian direktur utama.”

Kali ini dia benar-benar pucat.

Bu Ratna sampai memegang sandaran kursi.

“Kamu mau memecat suamimu sendiri?”

“Bukan.”

Aku menatap Dimas.

“Saya mau memberhentikan direktur utama yang menggunakan uang perusahaan untuk membayar apartemen sewa kekasihnya.”

Maya menoleh tajam ke arah Dimas.

“Apa?”

Dimas membeku.

Aku membuka laporan transaksi.

Selama beberapa bulan, biaya sewa apartemen Maya dibayarkan menggunakan kartu korporat dan dicatat sebagai biaya representasi klien.

Ada juga perjalanan ke Bali yang mereka sebut sebagai business development.

Hotel.

Restoran.

Tiket pesawat.

Semua dibayar perusahaan.

“Jumlahnya belum cukup besar untuk menghancurkan perusahaan,” kataku, “tapi cukup untuk membuktikan penyalahgunaan fasilitas perusahaan.”

“Citra, kita bisa bicara berdua,” kata Dimas.

Untuk pertama kalinya hari itu, suaranya terdengar memohon.

Aku memandang laki-laki yang pernah sangat kucintai.

Dulu, kalau dia memandangku seperti itu, aku pasti luluh.

Hari ini tidak.

“Sepuluh tahun aku bicara denganmu, Dimas.”

Aku menarik napas.

“Ternyata kamu cuma mendengar ketika aku punya sesuatu yang bisa kamu kehilangan.”

Tidak seorang pun menjawab.

Maya akhirnya mengambil tasnya.

“Aku pulang.”

Dimas menahan lengannya.

“Maya.”

Dia menepis tangan Dimas.

“Kamu bilang apartemen itu nanti buat aku. Kamu bilang perusahaan itu punya kamu. Kamu bilang setelah semuanya selesai hidup kita aman.”

Bu Ratna menatapnya marah.

“Jangan sekarang membuat keributan!”

Maya tertawa getir.

“Jadi saya disuruh diam setelah kalian menjanjikan macam-macam?”

Tiba-tiba ruangan berubah menjadi sesuatu yang hampir absurd.

Perempuan yang tadi datang sebagai sekutu Bu Ratna kini bertengkar dengannya.

Dimas mencoba menenangkan keduanya.

Aku hanya duduk melihat mereka.

Akhirnya aku memahami sesuatu.

Aku tidak pernah benar-benar berada di tengah keluarga yang sedang memperebutkan cinta.

Mereka sedang memperebutkan rasa aman.

Dan selama bertahun-tahun, tanpa kusadari, aku adalah sumber rasa aman itu.

Keesokan paginya Dimas diberhentikan dari posisi direktur utama.

Aku tidak mengambil alih posisinya.

Aku menunjuk seorang profesional yang sudah tujuh tahun bekerja bersama kami.

Dimas masih memiliki sahamnya. Aku tidak merampas apa yang memang menjadi haknya.

Namun aksesnya terhadap rekening perusahaan dicabut.

Kartu korporat diblokir.

Semua transaksi besar harus melalui persetujuan dewan.

Dua minggu kemudian aku mengajukan gugatan cerai.

Bu Ratna beberapa kali datang menemuiku.

Pertama dengan kemarahan.

Kedua dengan ancaman.

Ketiga dengan air mata.

Pada kedatangan keempat, dia membawa makanan kesukaanku dan berbicara seolah kami masih keluarga.

Aku tidak membukakan pintu.

Sementara itu hubungan Dimas dan Maya mulai retak bahkan sebelum perceraian kami selesai.

Aku tahu bukan karena mencarinya, melainkan karena Maya datang sendiri ke kantorku sekitar tiga bulan kemudian.

Perutnya sudah jauh lebih besar.

Dia tampak lelah.

“Saya cuma mau minta satu hal,” katanya.

Aku tidak mempersilahkannya duduk, tapi dia tetap berdiri.

“Saya ingin tahu apakah Dimas memang sudah tidak punya apa-apa.”

Aku hampir kasihan kepadanya.

Hampir.

“Dia punya.”

Mata Maya langsung hidup.

“Berapa?”

Aku tersenyum tipis.

“Cukup untuk bertanggung jawab atas anaknya.”

Wajahnya kembali suram.

Aku lalu bertanya, “Kamu mencintainya?”

Dia menunduk.

Lama sekali.

“Saya pikir iya.”

“Sekarang?”

Maya tidak menjawab.

Aku sudah mendapat jawabannya.

Sebelum pergi, dia berhenti di pintu.

“Mbak Citra.”

Aku menatapnya.

“Maaf.”

Hanya satu kata.

Aku tidak mengatakan bahwa aku memaafkannya.

Aku juga tidak mengatakan bahwa aku membencinya.

Aku hanya menjawab, “Jaga anakmu baik-baik.”

Enam bulan setelah perceraian resmi, aku menjual sebagian kecil sahamku kepada investor strategis.

Nilainya jauh lebih besar daripada yang pernah dibayangkan Bu Ratna.

Dengan uang itu aku tidak membeli rumah baru.

Tidak juga mobil mewah.

Aku mendirikan sebuah yayasan kecil atas nama ayahku untuk membantu perempuan yang ingin kembali bekerja setelah perceraian atau masalah keluarga.

Mungkin terdengar ironis.

Tetapi setelah semua yang terjadi, aku sadar kehilangan terbesar seorang perempuan bukan selalu suami.

Kadang-kadang yang paling berbahaya adalah kehilangan keyakinan bahwa dirinya mampu hidup tanpa suami.

Suatu sore, hampir setahun kemudian, aku sedang keluar dari kantor ketika seseorang memanggil namaku.

“Citra.”

Dimas berdiri di dekat trotoar.

Dia terlihat berbeda.

Lebih kurus.

Tidak ada lagi mobil dengan sopir.

Tidak ada setelan mahal.

Hanya kemeja sederhana dan wajah yang terlihat jauh lebih tua dibanding setahun sebelumnya.

“Kamu sehat?” tanyanya.

“Sehat.”

Dia mengangguk.

Kami terdiam.

“Maya sudah melahirkan.”

“Aku dengar.”

“Anak laki-laki.”

“Semoga sehat.”

Dimas menatapku.

“Maya pergi.”

Aku tidak bereaksi.

“Dia membawa anaknya ke rumah orang tuanya di Semarang.”

Aku tetap diam.

Dimas tersenyum pahit.

“Mungkin ini memang balasan buat aku.”

“Bukan.”

Dia memandangku.

“Apa?”

“Aku tidak percaya hidup bekerja seperti itu.”

Aku berkata pelan, “Yang terjadi padamu bukan balasan. Itu akibat dari keputusanmu sendiri.”

Matanya memerah.

“Aku menyesal.”

Aku mengangguk.

“Aku percaya.”

Dia tampak terkejut.

“Mungkin kalau waktu bisa diulang…”

“Jangan.”

Aku memotongnya.

“Jangan merusak penyesalanmu dengan kalimat seperti itu.”

Dia terdiam.

“Waktu tidak akan diulang.”

Aku menatapnya untuk terakhir kali.

“Yang bisa kamu lakukan cuma menjadi ayah yang lebih baik daripada kamu menjadi suami.”

Lalu aku berjalan pergi.

Beberapa langkah kemudian Dimas memanggilku lagi.

“Citra.”

Aku berhenti, tetapi tidak berbalik.

“Berkas lama itu…”

Aku menunggu.

“Kenapa dulu kamu tidak pernah bilang bahwa perusahaan sebenarnya hampir semuanya milikmu?”

Pertanyaan itu membuatku tersenyum.

Aku akhirnya menoleh.

“Karena dulu aku tidak merasa perlu membuktikan siapa yang lebih berkuasa dalam pernikahan kita.”

Dia menunduk.

Aku melanjutkan, “Aku kira kita sedang membangun sesuatu bersama.”

Angin sore Jakarta bergerak pelan di antara gedung-gedung.

Untuk beberapa detik, aku melihat laki-laki yang dulu pernah menemaniku makan mi instan di lantai ruko karena kami tidak punya uang membeli meja.

Aku tidak membencinya.

Mungkin itulah tanda bahwa semuanya benar-benar telah selesai.

Aku berjalan menuju mobil.

Di dalam tas kerjaku ada salinan map cokelat yang hari itu membuat wajah Dimas pucat.

Namun dokumen itu tidak pernah menjadi penyelamat terbesarku.

Yang menyelamatkanku adalah keputusan yang kuambil sebelum membuka map tersebut.

Keputusan untuk berhenti memohon kepada orang lain agar menghargai sesuatu yang sejak awal seharusnya kuhargai sendiri.

Diriku.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang