Aku tersenyum tipis kepada Bu Ratna.
“Selamat, Bu.”
Hanya dua kata itu.
Bu Ratna terlihat sedikit terkejut. Mungkin dia berharap aku akan menunjukkan wajah terluka, cemburu, atau setidaknya bertanya siapa ayah dari bayi yang dikandung Melisa.
Sayangnya, aku sudah terlalu lelah untuk memainkan peran dalam drama keluarga mereka.
Aku mengangguk kepada Melisa, lalu berjalan melewati mereka.
“Nadia.”
Bu Ratna memanggilku dari belakang.
Aku berhenti, tetapi tidak menoleh.
“Kalau kamu datang ke sini karena masih berharap bisa kembali kepada Arga, sebaiknya buang jauh-jauh pikiran itu. Arga sudah punya kehidupan baru.”
Aku menarik napas pelan.
Kemudian aku menoleh.
“Tenang saja, Bu. Saya juga sudah punya kehidupan baru.”
Tatapan Bu Ratna menyipit.
Aku tersenyum sekali lagi dan pergi.
Di dalam lift, setelah pintu tertutup rapat, barulah telapak tanganku terasa dingin.
Aku membuka tas dan mengeluarkan hasil USG.
Gambar kecil hitam putih itu masih terlihat tidak nyata.
Aku menyentuhnya dengan ujung jari.
“Sepertinya kita harus merahasiakan keberadaanmu dulu.”
Entah kenapa, setelah mengucapkan kalimat itu, dadaku terasa jauh lebih ringan.
Malamnya, aku menceritakan semuanya kepada Rani.
Dia hampir menjatuhkan mangkuk baksonya.
“Jadi kamu hamil anak Arga?”
Aku mengangguk.
“Dan tadi kamu ketemu calon mertu… eh, mantan mertua kamu sama perempuan hamil?”
Aku kembali mengangguk.
Rani menatapku seperti sedang mencoba memahami alur sinetron yang terlalu rumit.
“Nadia, tunggu. Katanya perempuan itu baru bertunangan?”
“Begitu kata Bu Ratna.”
“Dengan Arga?”
Aku mengangkat bahu.
“Aku tidak tanya.”
Rani meletakkan sendoknya.
“Kamu benar-benar tidak penasaran?”
“Sedikit.”
“Sedikit apanya? Aku saja yang bukan mantan istrinya penasaran setengah mati.”
Aku tertawa.
Lalu tawaku perlahan menghilang ketika pandanganku jatuh kepada hasil USG yang tergeletak di meja.
Rani ikut diam.
Beberapa detik kemudian dia bertanya lebih pelan.
“Kamu mau mempertahankannya?”
Aku menatapnya.
Untuk pertama kalinya sejak keluar dari rumah sakit, aku menjawab tanpa ragu.
“Mau.”
Rani mengulurkan tangannya dan menggenggam jemariku.
“Kalau begitu, kita besarkan dia.”
Aku menahan senyum.
“Kenapa kita?”
“Karena kalau nanti kamu mual jam dua pagi, aku pasti yang disuruh belikan mangga muda.”
Aku tertawa sampai mataku berair.
Malam itu menjadi malam pertama aku benar-benar menerima bahwa hidupku akan berubah lagi.
Namun kali ini, perubahan itu terjadi karena pilihanku sendiri.
Aku tidak menghubungi Arga.
Bukan karena ingin menghukumnya.
Bukan pula karena ingin merebut anaknya.
Aku hanya takut.
Takut kalau keluarga Wijaya akan kembali masuk ke hidupku.
Takut Bu Ratna akan menjadikan bayi ini sebagai alasan untuk mengatur hidupku sekali lagi.
Dan yang paling membuatku takut adalah kemungkinan Arga tetap menjadi Arga yang dulu.
Diam ketika aku membutuhkan seseorang berdiri di sisiku.
Aku tidak mau anakku tumbuh melihat ibunya diperlakukan seperti itu.
Beberapa minggu kemudian aku pindah ke Bandung.
Perusahaan tempatku bekerja membuka cabang baru dan menawarkan posisi kepala pemasaran.
Aku menerimanya tanpa berpikir panjang.
Jarak terasa seperti perlindungan.
Kehamilanku berjalan cukup lancar, meski tidak mudah.
Ada malam-malam ketika kakiku bengkak dan punggungku sakit sampai aku tidak bisa tidur.
Ada hari ketika aku berdiri sendirian di depan ruang USG, melihat pasangan lain datang bersama suami mereka.
Kadang aku bertanya-tanya seperti apa rasanya kalau Arga berdiri di sampingku.
Apakah dia akan tersenyum ketika mendengar detak jantung bayi kami?
Apakah dia akan membeli terlalu banyak pakaian bayi?
Apakah dia akan bersikeras memilih nama?
Namun setiap kali pikiran itu muncul, aku selalu mengingat hari di Pengadilan Agama.
Wajah Arga yang diam.
Mulutnya yang tidak pernah terbuka ketika ibunya merendahkanku.
Lalu aku berhenti berandai-andai.
Delapan bulan kemudian, putraku lahir.
Aku memberinya nama Raka.
Saat perawat pertama kali meletakkannya di dadaku, aku menangis.
Bukan karena sakit.
Bukan juga karena takut.
Aku menangis karena dia menatapku dengan mata bulat yang begitu familiar.
“Ya ampun,” gumam Rani yang berdiri di samping tempat tidur. “Ini benar-benar fotokopi.”
Aku tertawa sambil menangis.
Raka memiliki alis tebal, hidung kecil yang mulai terlihat mancung, dan garis mata yang sangat mirip Arga.
Aku menyentuh pipinya.
“Untung gen bagusnya diwariskan.”
Rani memukul lenganku pelan.
“Kamu ini habis melahirkan masih sempat ngomong begitu.”
Sejak hari itu, hidupku benar-benar berputar di sekitar Raka.
Aku bekerja.
Mengurus rumah.
Belajar mengganti popok sambil setengah tidur.
Belajar mengenali tangis lapar, tangis mengantuk, dan tangis hanya karena ingin dipeluk.
Aku juga belajar bahwa cinta bisa terasa sangat berbeda ketika tidak disertai rasa takut kehilangan diri sendiri.
Tiga tahun berlalu.
Aku hampir tidak pernah mendengar kabar tentang Arga.
Rani sesekali membawa gosip dari media sosial.
Katanya perusahaan keluarga Wijaya berkembang pesat.
Katanya Bu Ratna masih sering menghadiri acara sosial.
Tentang Melisa, kabarnya jauh lebih samar.
Aku tidak pernah bertanya.
Aku tidak ingin tahu.
Sampai suatu sore, semuanya berubah hanya karena satu batang lolipop.
Aku membawa Raka ke supermarket dekat apartemen setelah pulang kerja.
Dia berlari kecil di samping troli dengan sepatu putih yang lampunya menyala setiap kali menginjak lantai.
“Mama, aku mau permen lolipop!”
“Boleh satu.”
“Dua?”
“Satu.”
“Tiga?”
Aku menatapnya.
Raka langsung tersenyum lebar.
“Satu saja.”
Aku mengulurkan tangan ke rak.
Namun tangan lain mengambil lolipop yang sama lebih dulu.
Aku mengenali tangan itu bahkan sebelum melihat wajah pemiliknya.
Jemari panjang.
Jam tangan hitam yang dulu selalu dipakai.
Aku membeku.
Pria itu membungkuk sedikit dan menyerahkan lolipop kepada Raka.
“Nih.”
“Terima kasih, Om!”
Arga tersenyum.
Kemudian matanya bertemu dengan mataku.
Senyum itu hilang.
“Nadia?”
Aku tidak bisa bergerak.
Wajahnya nyaris tidak berubah.
Masih tampan menyebalkan.
Hanya terlihat sedikit lebih dewasa dan lebih lelah.
Kemudian pandangannya turun ke Raka.
Aku melihat perubahan kecil di ekspresinya.

Kebingungan.
Keterkejutan.
Lalu sesuatu yang lebih dalam.
Raka sedang sibuk membuka bungkus permen.
Arga menatapnya begitu lama sampai aku merasa tengkukku mulai dingin.
“Umurnya berapa?”
Aku segera menarik Raka mendekat.
“Tiga tahun.”
Suara Arga terdengar serak.
“Tiga tahun berapa bulan?”
Aku diam.
“Nadia.”
“Kenapa?”
Arga menatap wajah Raka sekali lagi.
“Karena dia mirip sekali denganku.”
Aku ingin menyangkal.
Sungguh.
Tapi bahkan orang asing sering mengatakan hal yang sama hanya dengan melihat foto lama Arga yang tanpa sengaja masih tersimpan di laptopku.
Aku memegang bahu Raka.
“Kita pulang.”
Raka mengangguk.
Namun baru beberapa langkah, Arga memegang gagang troli.
“Nadia, tunggu.”
Aku menatap tangannya.
Dia segera melepaskan.
“Aku cuma mau tanya satu hal.”
“Aku sedang tidak ingin bicara.”
“Apakah dia anakku?”
Suasana di sekitarku terasa mendadak senyap.
Raka menoleh polos.
“Mama, Om ini siapa?”
Aku menelan ludah.
Sebelum aku sempat menjawab, Arga berjongkok di depan Raka.
Dia tidak menyentuhnya.
Hanya memandang wajahnya.
“Aku Arga.”
Raka berkedip.
“Om Arga.”
Arga tersenyum, tetapi matanya terlihat merah.
Aku merasakan sesuatu di dadaku bergetar.
“Jangan,” kataku.
Arga berdiri.
“Jangan apa?”
“Jangan melakukan ini di depan dia.”
Arga menarik napas.
“Baik. Beri aku waktu lima menit.”
Aku seharusnya pergi.
Namun mungkin aku sudah terlalu lama membawa rahasia ini sendirian.
Akhirnya kami duduk di sebuah kedai kopi kecil di dalam pusat perbelanjaan.
Raka duduk di sampingku sambil makan roti.
Arga tidak menyentuh kopinya.
“Dia anakku?”
Aku menatapnya.
“Iya.”
Wajah Arga benar-benar kehilangan warna.
Tangannya mengepal di atas meja.
“Sejak kapan kamu tahu?”
“Sebulan setelah kita bercerai.”
Dia memejamkan mata.
Terdengar napas panjang keluar dari mulutnya.
“Tiga tahun.”
Aku tidak menjawab.
“Tiga tahun, Nadia.”
“Aku tahu.”
“Kamu membiarkan aku tidak tahu kalau aku punya anak selama tiga tahun?”
Nada suaranya meninggi sedikit.
Aku langsung menatap tajam.
“Jangan bicara seolah aku melakukan semuanya tanpa alasan.”
Arga diam.
Aku melanjutkan.
“Hari aku mengetahui kehamilan ini, aku bertemu ibumu di rumah sakit. Dia datang bersama Melisa yang katanya sedang hamil dan baru bertunangan. Ibumu bilang kamu sudah punya kehidupan baru. Aku pikir itu cukup jelas.”
Arga menatapku seperti tidak mengerti.
“Melisa?”
“Ya.”
Kemudian sesuatu yang aneh terjadi.
Arga tertawa pendek.
Bukan karena lucu.
Lebih seperti orang yang baru mendengar sesuatu yang sangat absurd.
“Nadia, Melisa itu tunangan sepupuku, Bintang.”
Aku membeku.
“Apa?”
“Dia tidak pernah punya hubungan denganku.”
Aku terdiam.
Arga mengusap wajah.
“Anaknya sekarang hampir empat tahun. Bintang dan Melisa menikah dua bulan setelah kita bercerai.”
Kepalaku terasa ringan.
Berarti selama ini aku salah paham.
Namun hanya sebagian.
Karena alasan utama aku pergi tetap tidak berubah.
Aku mengangkat dagu.
“Itu tidak mengubah semuanya.”
“Aku tahu.”
Jawaban Arga membuatku terkejut.
Dia tidak membela diri.
Tidak menyalahkan ibunya.
Tidak memintaku memaklumi masa lalu.
Dia hanya berkata pelan,
“Aku tahu aku gagal sebagai suami.”
Aku terdiam.
Arga menatap Raka.
“Aku tidak akan memaksamu kembali padaku.”
Kemudian pandangannya beralih kepadaku.
“Tapi tolong jangan ambil hakku untuk mengenal anakku.”
Ada ketulusan yang membuatku sulit langsung menolak.
Namun aku tetap berhati-hati.
“Kalau ibumu tahu?”
Wajah Arga berubah.
“Ibu tidak akan mengatur hidup kalian.”
Aku hampir tertawa.
“Dulu kamu juga tidak bisa menghentikannya.”
“Aku tahu.”
Lagi-lagi jawaban itu.
Arga menurunkan suara.
“Setelah kita bercerai, aku pindah dari rumah.”
Aku mengerutkan kening.
Dia melanjutkan.
“Aku baru sadar betapa banyak hal yang selama ini kubiarkan terjadi hanya karena aku terlalu pengecut menghadapi Ibu.”
Aku tidak mengatakan apa-apa.
“Uang satu miliar itu bukan kompensasi karena aku ingin menyingkirkanmu.”
“Lalu?”
“Itu setengah tabungan pribadi yang kukumpulkan selama kita menikah. Aku tahu kamu meninggalkan rumah tanpa membawa hampir apa pun.”
Aku menatap wajahnya.
Untuk pertama kalinya, aku merasa ada bagian dari pernikahan kami yang ternyata tidak pernah kupahami.
Namun penyesalan tidak bisa menghapus masa lalu.
Aku berdiri.
“Untuk sekarang, aku perlu berpikir.”
Arga mengangguk.
Dia tidak menahan kami.
Selama dua minggu berikutnya, Arga tidak datang tiba-tiba.
Dia juga tidak meminta alamat.
Dia hanya mengirim satu pesan.
Aku tidak ingin merebut Raka darimu. Aku hanya ingin diberi kesempatan menjadi ayah, kalau kamu siap.
Aku membaca pesan itu berkali-kali.
Akhirnya aku memberi izin.
Pertemuan pertama mereka berlangsung di taman umum.
Arga datang membawa satu kantong besar mainan.
Aku langsung menyuruhnya membawa kembali setengahnya.
“Dia anak kecil, bukan pemenang undian.”
Arga terlihat sedikit malu.
“Aku tidak tahu anak umur tiga tahun sukanya apa.”
Raka malah mengambil sebuah mobil-mobilan kecil.
“Aku suka ini.”
Sejak itu, perlahan mereka mulai dekat.
Arga ternyata sangat canggung sebagai ayah.
Dia tidak tahu cara menyisir rambut Raka.
Tidak tahu kenapa anak kecil bisa marah hanya karena sedotan minumannya berwarna salah.
Dan pernah menghabiskan hampir tiga puluh menit membujuk Raka memakai sandal karena anak itu bersikeras kaki kirinya ingin memakai sepatu sementara kaki kanannya ingin memakai sandal.
Aku melihat semua itu dari kejauhan.
Tanpa sadar, sesuatu dalam diriku mulai melunak.
Sampai Bu Ratna datang.
Suatu sore, bel apartemenku berbunyi.
Ketika kubuka, perempuan itu berdiri di depan pintu.
Wajahnya pucat.
Di tangannya ada beberapa lembar foto Raka.
Aku langsung tahu Arga pasti tidak memberikannya.
Mungkin Bu Ratna melihatnya dari ponsel anggota keluarga lain.
“Jadi benar,” katanya.
Aku tidak mengundangnya masuk.
“Benar apa?”
“Itu cucuku.”
Aku menatapnya dingin.
“Dia anak saya.”
Bu Ratna terdiam.
Beberapa detik kemudian matanya memerah.
“Aku ingin bertemu dengannya.”
“Tidak.”
“Nadia.”
“Tidak.”
Wajah Bu Ratna berubah.
“Aku neneknya.”
“Dan dulu saya menantu Ibu. Itu tidak pernah membuat Ibu memperlakukan saya seperti keluarga.”
Dia terlihat terpukul.
Namun aku tidak merasa bersalah.
“Aku salah.”
Kalimat itu membuatku terdiam.
Selama mengenalnya, aku tidak pernah mendengar Bu Ratna mengucapkan dua kata itu.
“Aku terlalu terobsesi dengan cucu. Aku pikir aku sedang menjaga keluarga.”
Aku tertawa hambar.
“Ibu menghancurkan keluarga.”
Air mata jatuh di pipinya.
Aku masih tidak membuka pintu lebih lebar.
“Kalau Ibu ingin bertemu Raka, itu tidak akan terjadi hari ini.”
Dia mengangguk pelan.
“Aku mengerti.”
Lalu dia mengeluarkan sebuah map kecil dari tasnya.
“Aku hanya ingin kamu tahu sesuatu.”
Dia menyerahkannya kepadaku.
Setelah Bu Ratna pergi, aku membuka map itu.
Di dalamnya ada hasil pemeriksaan kesuburan lama.
Atas nama Arga Wijaya.
Tanganku membeku.
Kesimpulan dokter tertulis jelas bahwa pada masa itu Arga memiliki kondisi yang membuat peluang kehamilan alami jauh lebih rendah dari rata-rata.
Di bawahnya ada catatan tanggal.
Dua bulan sebelum Bu Ratna melemparkan hasil pemeriksaanku ke wajahku.
Aku langsung menelepon Arga.
Dia datang empat puluh menit kemudian.
Aku melemparkan berkas itu ke meja.
“Kamu tahu?”
Wajahnya berubah.
“Nadia…”
“Kamu tahu?”
Dia diam terlalu lama.
Itu sudah menjadi jawaban.
Aku merasa seluruh tubuhku dingin.
“Jadi selama ini ibumu menyalahkanku padahal masalahnya mungkin juga ada padamu?”
Arga mengusap wajah.
“Ibu mengetahui hasilku. Tapi dia tidak bisa menerima.”
“Dan kamu diam.”
“Aku malu.”
Aku tertawa kecil.
Suara itu terdengar asing bahkan di telingaku sendiri.
“Kamu malu, jadi kamu membiarkan aku dipermalukan selama tiga tahun?”
“Nadia, aku salah.”
“Bukan salah, Arga. Kamu pengecut.”
Dia menunduk.
Untuk beberapa saat, tidak ada suara selain dengung AC.
Kemudian aku berkata,
“Pergi.”
Arga tidak membantah.
Dia berdiri.
Sebelum keluar, dia menatap pintu kamar Raka.
“Aku masih boleh menemuinya?”
Aku menatapnya lama.
“Kesalahanmu sebagai suami tidak otomatis membuatmu kehilangan kesempatan menjadi ayah.”
Arga menutup mata sesaat.
“Terima kasih.”
Setelah pintu tertutup, aku menangis.
Bukan karena masih mencintainya.
Melainkan karena akhirnya aku memahami satu hal yang selama bertahun-tahun tidak bisa kujelaskan.
Aku bukan gagal menjadi istri.
Tubuhku bukan masalah yang harus diperbaiki.
Aku hanya hidup terlalu lama bersama orang-orang yang memilih diam daripada menghadapi kebenaran.
Enam bulan berlalu.
Hubunganku dengan Arga tidak kembali seperti dulu.
Kami tidak rujuk.
Tidak ada adegan dramatis berpelukan di bawah hujan.
Tidak ada janji bahwa cinta akan menyelesaikan semua masalah.
Kami hanya belajar menjadi dua orang dewasa yang sama-sama mencintai seorang anak.
Arga rutin datang menemui Raka.
Dia belajar menjadi ayah.
Bu Ratna baru kuizinkan bertemu Raka setelah berbulan-bulan dan hanya ketika aku yakin dia memahami batasannya.
Anehnya, perempuan yang dulu selalu memerintah kini bahkan bertanya sebelum memberikan Raka cokelat.
Suatu sore, kami bertiga berada di taman.
Raka bermain gelembung sabun.
Arga duduk di bangku sebelahku.
“Dia mirip aku, kan?”
Aku meliriknya.
“Sayangnya, iya.”
Arga tertawa.
“Sayangnya?”
“Kalau wajahnya mirip aku, mungkin lebih bagus.”
Arga menoleh.
“Kalau sifatnya?”
Aku melihat Raka yang sedang membantu seorang anak kecil mengambil mainan yang jatuh.
Aku tersenyum.
“Mudah-mudahan tidak terlalu mirip kita berdua.”
Arga tertawa lebih keras.
Kemudian hening sejenak.
“Nadia.”
“Hm?”
“Kalau suatu hari nanti aku meminta kesempatan kedua…”
Aku langsung mengangkat tangan.
“Jangan.”
Dia terdiam.
Aku menatapnya.
“Jangan minta sekarang.”
Arga berkedip.
Aku melanjutkan,
“Kalau kamu benar-benar berubah, aku akan melihatnya sendiri. Aku tidak butuh janji.”
Untuk beberapa detik dia hanya menatapku.
Kemudian dia tersenyum kecil.
“Baik.”
Raka berlari menghampiri kami.
“Mama! Papa! Lihat!”
Itu pertama kalinya dia memanggil Arga dengan sebutan itu.
Arga membeku.
Aku melihat matanya langsung memerah.
Raka tidak menyadarinya.
Dia sibuk menunjukkan gelembung sabun besar yang berhasil dibuatnya.
Aku menatap keduanya.
Dulu aku mempertahankan kehamilan ini dengan alasan yang sangat konyol.
Karena kupikir gen wajah Arga terlalu bagus untuk tidak diwariskan.
Ternyata tiga tahun kemudian, aku baru sadar sesuatu.
Wajah tampan memang bisa diwariskan.
Namun keberanian, tanggung jawab, dan kemampuan mencintai dengan benar tidak pernah datang dari gen.
Semua itu harus dipilih.
Harus dipelajari.
Dan kadang, seseorang baru mulai belajar setelah kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya.
Aku tidak tahu apakah suatu hari nanti aku dan Arga akan kembali bersama.
Aku juga tidak lagi merasa harus mengetahui jawabannya sekarang.
Karena untuk pertama kalinya, masa depanku tidak lagi dibangun dari rasa takut, tekanan keluarga, atau kewajiban menjadi istri yang sempurna.
Aku memilihnya sendiri.
Dan kali ini, siapa pun yang ingin berjalan di sampingku harus belajar melakukan hal yang sama.
