Aku menatap Arman yang masih memeluk Maya di depan pintu ruang perawatanku.
Pemandangan itu seharusnya terasa menyakitkan.
Dulu, mungkin aku akan langsung membuang muka sambil menahan air mata. Atau aku akan bertanya dengan suara bergetar mengapa dia selalu begitu cepat menyambut Maya setiap kali perempuan itu terjatuh, menangis, atau sekadar mengeluh sakit.
Namun kali ini aku hanya menarik selimut sampai ke dada.
“Kalau memang dia masih sakit, antar saja kembali ke kamarnya.”
Arman menoleh kepadaku.
Tatapannya berubah seolah sedang mencoba mencari sesuatu di wajahku.
Kemarahan.
Kecemburuan.
Kekecewaan.
Apa pun yang bisa membuktikan bahwa aku masih peduli.
Sayangnya, dia tidak menemukan apa-apa.
Maya yang berada dalam pelukannya tampak semakin canggung.
“Kak Arman, turunkan aku. Aku cuma khawatir sama Kak Laras.”
Arman tidak langsung menurunkannya.
Aku hampir ingin tertawa.
Bahkan setelah semua yang terjadi, mereka masih tidak menyadari betapa ironisnya situasi itu.
Perempuan yang kelalaiannya menjadi awal kematian anakku datang untuk menunjukkan rasa khawatir kepadaku, sementara suamiku berdiri di sampingnya seolah masih menjadi pelindung pertama yang harus menjaganya.
Aku memejamkan mata.
“Aku capek. Aku mau istirahat.”
Beberapa detik berlalu dalam keheningan.
Akhirnya Arman membawa Maya keluar.
Sebelum pintu tertutup, aku mendengar Maya berkata pelan,
“Kak, aku sebenarnya nggak bermaksud mengganggu kalian.”
Lalu suara Arman menjawab,
“Sudah. Jangan dipikirkan.”
Nada itu begitu lembut.
Nada yang sudah lama tidak pernah dia gunakan kepadaku.
Aku tersenyum tanpa sadar.
Besok pagi, aku menyerahkan formulir pengajuan pengunduran diri sementara dari kesatuanku.
Tiga bulan sebelumnya, aku sebenarnya sudah menerima tawaran bergabung dalam sebuah misi kemanusiaan internasional yang dikoordinasikan oleh lembaga pertahanan dan organisasi bantuan lintas negara.
Misinya panjang.
Sepuluh tahun.
Para personel akan ditempatkan secara bergilir di wilayah bencana dan konflik, sebagian besar di luar Indonesia. Sistem komunikasinya sangat terbatas karena alasan keamanan.
Bahkan keluarga inti hanya akan mendapatkan laporan kondisi melalui saluran resmi dalam periode tertentu.
Dulu aku menolak.
Reno masih hidup waktu tawaran itu pertama kali datang.
Aku masih ingin pulang setiap sore hanya untuk membantunya menyusun puzzle atau mendengarkan cerita tentang teman-temannya di sekolah.
Setelah Reno meninggal, komandan lamaku menghubungiku lagi.
Dia hanya mengatakan satu kalimat.
“Kalau suatu hari kamu merasa tidak punya alasan untuk tinggal, mungkin kamu masih bisa menemukan alasan untuk berguna.”
Aku menyimpan surat penawaran itu selama berbulan-bulan.
Dan malam sebelum latihan gabungan, aku akhirnya menandatanganinya.
Tidak ada yang tahu.
Termasuk Arman.
Tiga hari setelah keluar dari rumah sakit, aku kembali ke rumah.
Arman belum pulang.
Di atas meja makan ada pesan singkat darinya.
Ada rapat mendadak. Jangan menunggu.
Aku menatap tulisan itu cukup lama.
Dulu, satu pesan seperti itu bisa membuatku gelisah sampai tengah malam.
Sekarang aku melipatnya dan memasukkannya ke tempat sampah.
Lalu aku naik ke kamar dan membuka lemari.
Aku tidak membawa banyak barang.
Beberapa pakaian.
Dokumen.
Foto Reno.
Satu kotak kecil berisi mobil-mobilan kesayangannya.
Sebelum tidur, aku menulis surat cerai.
Tidak panjang.
Aku hanya mengatakan bahwa semua aset yang menjadi hakku bisa diproses melalui pengacara.
Aku tidak menuntut kompensasi apa pun.
Aku juga tidak ingin memperpanjang perdebatan.
Aku hanya ingin berpisah.
Pukul satu malam, pintu kamar terbuka.
Arman masuk.
Begitu melihat koper di lantai, ekspresinya langsung berubah.
“Kamu mau ke mana?”
Aku duduk di tepi ranjang.
“Tugas.”
“Berapa lama?”
“Lama.”
Dia melepas jam tangannya dengan gerakan sedikit kasar.
“Kenapa aku tidak tahu?”
Aku tidak menjawab.
Tatapannya kemudian jatuh pada amplop putih di meja.
Arman mengambilnya.
Aku melihat wajahnya berubah saat membaca isi surat itu.
Dahinya berkerut.
Kemudian dia menatapku tajam.
“Ini apa?”
“Surat gugatan cerai.”
“Aku tahu ini surat gugatan cerai.”
Suaranya mulai meninggi.
“Aku tanya, maksudnya apa?”
Aku hampir merasa lucu mendengarnya.
Namun aku tidak tersenyum.
“Aku ingin bercerai.”
Arman menatapku beberapa detik seolah aku baru saja mengucapkan sesuatu yang sama sekali tidak masuk akal.

“Laras, jangan membuat keputusan waktu emosimu belum stabil.”
“Aku sangat stabil.”
“Karena Reno?”
Aku terdiam.
Arman menghela napas panjang lalu duduk di hadapanku.
“Aku juga kehilangan anak.”
Untuk pertama kalinya aku mengangkat kepala.
“Benarkah?”
Wajahnya membeku.
Aku melanjutkan pelan,
“Kalau kamu benar-benar kehilangan Reno, kenapa setiap kali aku membicarakan kematiannya kamu selalu menyuruhku berhenti menyalahkan Maya?”
“Aku cuma nggak mau kamu hidup dalam kebencian.”
“Dan kamu pikir menyuruhku punya anak lagi akan menyembuhkan semuanya?”
Arman mengusap wajahnya.
“Laras, aku salah bicara waktu itu.”
“Kamu mengulanginya lagi di rumah sakit.”
Dia terdiam.
Aku menatapnya lurus.
“Aku tidak membenci Maya lagi.”
Kalimat itu membuat Arman mengernyit.
“Aku juga tidak marah padamu.”
“Lalu kenapa mau cerai?”
“Karena aku sudah tidak punya alasan untuk tetap menjadi istrimu.”
Wajah Arman seketika pucat.
Mungkin untuk pertama kalinya dia menyadari bahwa lawan dari cinta bukanlah kebencian.
Melainkan ketidakpedulian.
Dia bangkit.
“Kamu tidak bisa pergi begitu saja.”
“Aku bisa.”
“Aku tidak akan tanda tangan.”
“Proses hukum tidak membutuhkan persetujuanmu selamanya.”
Arman mengepalkan tangan.
“Kamu mau ke mana?”
Aku menatapnya cukup lama.
“Tempat yang jauh.”
Paginya, aku pergi sebelum matahari terbit.
Arman tidak mengantarku.
Mungkin dia masih berpikir aku hanya sedang marah.
Mungkin dia yakin setelah beberapa hari aku akan pulang.
Aku meninggalkan nomor pengacaraku dan mematikan telepon pribadi.
Dua minggu kemudian, misi dimulai.
Aku terbang dari Jakarta bersama dua puluh personel lainnya.
Pesawat itu membawaku keluar dari Indonesia.
Dan untuk pertama kalinya sejak Reno meninggal, aku tidak menangis saat meninggalkan rumah.
Aku justru merasa seperti akhirnya bisa bernapas.
Tiga bulan kemudian, proses perceraian resmi dimulai.
Aku tidak hadir langsung.
Semua diwakili pengacaraku.
Arman menolak.
Dia berulang kali meminta alamat penugasanku.
Pengacara tidak memberikannya.
Enam bulan kemudian, dia akhirnya setuju menandatangani setelah semua upaya mediasi gagal.
Di salah satu surat yang diteruskan kepadaku, dia menulis,
Aku akan menunggumu pulang.
Aku membacanya sekali.
Lalu menyimpannya bersama dokumen lain.
Tidak pernah kubalas.
Tahun pertama, aku ditempatkan di wilayah yang baru saja dilanda gempa besar.
Setiap hari aku melihat orang kehilangan rumah, keluarga, bahkan seluruh kehidupan dalam hitungan detik.
Anehnya, berada di antara orang-orang yang terluka justru perlahan membuatku kembali menjadi manusia.
Aku bertemu seorang ibu yang kehilangan tiga anaknya sekaligus.
Dia memegang tanganku sambil berkata,
“Kita yang masih hidup tidak boleh ikut dikubur bersama mereka.”
Aku tidak pernah melupakan kalimat itu.
Tahun kedua, aku mulai tersenyum lagi.
Tahun ketiga, aku bisa melihat anak kecil tanpa langsung teringat tubuh Reno di ruang identifikasi.
Tahun kelima, aku mendapat kabar dari Indonesia bahwa ibuku sakit.
Aku hampir pulang.
Namun beliau sendiri menolak.
Dalam suratnya, Ibu menulis,
Jangan pulang hanya karena merasa bersalah. Pulanglah ketika kamu sudah benar-benar siap menjalani hidupmu lagi.
Aku menangis malam itu.
Tahun ketujuh, aku menerima kabar bahwa Arman dipindahkan dari jabatan operasional.
Aku tidak bertanya alasannya.
Namun seorang rekan lama yang kebetulan bergabung dalam rotasi misiku akhirnya menceritakan bahwa nama Maya pernah terseret dalam pemeriksaan internal.
Bukan karena kasus Reno.
Melainkan karena penyalahgunaan akses dan pemalsuan laporan tugas.
Aku mendengarkan tanpa berkomentar.
“Katanya Komandan Arman sendiri yang membongkar semuanya,” ujar rekanku.
Aku tetap diam.
Dia melanjutkan,
“Maya akhirnya diberhentikan.”
Aku hanya menjawab,
“Oh.”
Malam itu aku memandangi foto Reno.
Aku tidak merasa lega.
Tidak merasa puas.
Hanya sedih karena keadilan selalu datang terlalu terlambat.
Sepuluh tahun berlalu.
Aku kembali ke Indonesia pada usia empat puluh dua tahun.
Bandara Soekarno-Hatta terasa jauh lebih ramai daripada yang kuingat.
Aku menarik koper sambil berjalan melewati pintu kedatangan.
Ibuku sudah menunggu.
Rambutnya memutih.
Tubuhnya terlihat lebih kecil.
Namun pelukannya masih sama.
Aku menangis untuk pertama kalinya sejak kembali.
Kami tidak langsung pulang ke rumah lama.
Ibu sudah pindah ke Bogor.
Aku juga tidak bertanya tentang Arman.
Selama seminggu pertama, aku hanya tidur, makan masakan Ibu, dan berjalan pagi.
Sampai suatu sore sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah.
Aku sedang menyiram tanaman ketika pintunya terbuka.
Seorang pria turun.
Rambutnya sudah mulai beruban.
Tubuhnya masih tegap.
Namun wajahnya terlihat jauh lebih tua dibanding sepuluh tahun lalu.
Arman.
Kami saling menatap.
Tidak ada musik dramatis.
Tidak ada langkah berlari.
Tidak ada pelukan.
Hanya dua orang yang pernah hidup bersama dan sekarang seperti sedang melihat seseorang dari kehidupan sebelumnya.
“Kamu akhirnya pulang.”
Aku meletakkan selang.
“Kamu tahu alamat ini dari mana?”
“Ibumu.”
Aku mengangguk.
Arman tidak langsung mendekat.
Dia hanya berdiri di dekat pagar.
“Aku nunggu sepuluh tahun.”
Aku menatapnya tenang.
“Aku tidak pernah minta kamu menunggu.”
Dia tersenyum pahit.
“Aku tahu.”
Kami duduk di teras.
Untuk beberapa saat, tidak ada yang bicara.
Akhirnya Arman mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tas.
Di dalamnya ada mobil-mobilan merah milik Reno.
Aku membeku.
“Aku kira barang itu ikut kubawa.”
“Ada satu yang tertinggal di bawah sofa.”
Arman menatap benda itu lama.
“Aku menemukannya beberapa minggu setelah kamu pergi.”
Suaranya mulai serak.
“Aku baru sadar ternyata selama ini aku nggak pernah benar-benar melihat rumah kita setelah Reno meninggal.”
Aku menunduk.
Arman melanjutkan,
“Aku sibuk meyakinkanmu bahwa semuanya kecelakaan karena sebenarnya aku sedang meyakinkan diriku sendiri.”
Aku tidak berkata apa-apa.
“Aku takut kalau aku mengakui Maya bersalah, berarti aku juga harus mengakui aku bersalah.”
Aku mengangkat mata.
Arman menarik napas.
“Hari Reno meninggal, sebelumnya Maya minta izin membawanya keluar area.”
Dadaku menegang.
“Apa?”
Arman menutup mata.
“Dia meneleponku.”
Untuk sesaat aku merasa seluruh dunia di sekitarku berhenti.
“Dan kamu mengizinkannya?”
Air mata menggenang di mata Arman.
“Aku bilang boleh. Aku pikir cuma sebentar.”
Tanganku mulai dingin.
Selama sepuluh tahun, aku percaya Maya membawa Reno pergi tanpa memberi tahu siapa pun.
Ternyata bukan begitu.
Arman tahu.
Bahkan mengizinkannya.
“Kenapa kamu tidak pernah bilang?”
“Aku pengecut.”
Suaranya pecah.
“Aku takut kamu akan meninggalkanku.”
Aku tertawa kecil.
Bukan karena lucu.
Karena rasanya terlalu absurd.
“Kamu menyembunyikan itu karena takut aku pergi, tapi akhirnya aku tetap pergi.”
Arman menunduk.
“Aku tahu.”
Aku berdiri.
Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, air mataku jatuh bukan karena merindukan Reno, melainkan karena akhirnya mengetahui kebenaran yang seharusnya sudah kuketahui sejak awal.
Arman tidak mencoba menahanku.
Sebelum masuk rumah, aku berhenti.
“Aku pernah menghabiskan bertahun-tahun berpikir bahwa kalau hari itu Maya tidak membawa Reno keluar, anakku masih hidup.”
Aku menatapnya.
“Sekarang aku tahu kamu juga punya bagian dalam keputusan itu.”
Arman mengangguk pelan.
“Aku minta maaf.”
Aku menatap wajahnya lama.
Dulu aku membayangkan suatu hari dia akan berlutut dan meminta maaf, lalu aku akan merasa menang.
Ternyata tidak.
Tidak ada kemenangan dalam kehilangan seorang anak.
Yang ada hanya pilihan apakah kita ingin terus hidup di dalam hari ketika semuanya hancur, atau akhirnya melangkah keluar.
“Aku memaafkanmu.”
Arman menatapku kaget.
Namun aku melanjutkan,
“Tapi itu bukan berarti aku ingin kembali.”
Matanya kembali redup.
Aku mengambil mobil-mobilan Reno dari kotak.
“Sepuluh tahun lalu aku pergi karena aku ingin lari dari semuanya.”
Aku menggenggam benda kecil itu erat.
“Sekarang aku pulang bukan untuk mengulang hidup yang lama.”
Arman menunduk.
“Aku mengerti.”
Aku masuk ke rumah.
Dua bulan kemudian, aku mendirikan sebuah yayasan kecil yang bekerja sama dengan beberapa lembaga kemanusiaan dan rumah aman anak.
Namanya Yayasan Reno.
Bukan untuk mengabadikan kematiannya.
Melainkan untuk memastikan bahwa kehilangan satu anak bisa membantu melindungi anak-anak lain.
Pada hari pembukaan, Ibu berdiri di sampingku.
Beberapa mantan rekan satuanku hadir.
Di antara tamu, aku melihat Arman berdiri paling belakang.
Dia tidak mendekat.
Tidak meminta kesempatan kedua.
Dia hanya meletakkan satu buket bunga di meja penerima tamu lalu pergi.
Di dalamnya ada sebuah kartu.
Aku membukanya setelah acara selesai.
Untuk Reno.
Dan untuk ibunya yang akhirnya memilih hidup.
Aku membaca tulisan itu dua kali.
Lalu melipat kartu tersebut dan menyimpannya.
Bukan karena masih mencintai Arman.
Bukan pula karena ingin kembali ke masa lalu.
Aku menyimpannya karena akhirnya aku memahami sesuatu yang selama bertahun-tahun gagal kupahami.
Memaafkan bukan berarti melupakan.
Memaafkan juga bukan berarti memberikan kembali tempat kepada seseorang yang pernah menghancurkan hidup kita.
Kadang, memaafkan hanya berarti berhenti membawa mereka ke mana pun kita pergi.
Malam itu, aku pulang sendirian.
Namun untuk pertama kalinya, kesendirian tidak terasa seperti kehilangan.
Di meja kecil dekat jendela, aku meletakkan mobil-mobilan merah milik Reno.
Aku menyentuhnya perlahan.
“Ibu sudah pulang, Nak.”
Angin malam bergerak pelan melalui tirai.
Aku tersenyum.
Dan kali ini, ketika mengenang putraku, yang muncul bukan lagi hari kematiannya.
Melainkan tawanya.
