Karena di atas tumpukan selimut milik Ibu itu, ada sebuah amplop cokelat tua dengan namaku tertulis di bagian depan.
Untuk Laras, anak Ibu.
Tulisan tangan itu membuat lututku langsung kehilangan tenaga.
Aku mengenal setiap lekuk hurufnya.
Huruf L yang sedikit miring ke kanan. Huruf r yang selalu terlalu kecil. Cara Ibu menuliskan namaku persis seperti ketika beliau memberi label pada buku-buku sekolahku dulu.
Tanganku gemetar saat mengambil amplop itu.
Di bawahnya ada ponsel sederhana milik Ibu.
Ponsel yang selama tiga bulan terakhir berkali-kali kutelepon.
Layarnya mati.
Aku menekan tombol daya, tetapi tidak ada respons.
Dadaku semakin sesak.
Aku membuka amplop itu dengan jari yang hampir tak bisa dikendalikan.
Di dalamnya ada tiga lembar kertas yang dilipat rapi.
Laras, kalau kamu membaca surat ini, berarti kamu akhirnya pulang.
Ibu minta maaf karena membuatmu khawatir.
Air mataku langsung jatuh ke atas kertas.
Aku melanjutkan membaca.
Ibu tahu kamu sering menelepon. Beberapa kali Ibu dengar telepon berdering, tetapi Ibu tidak selalu mampu bangun untuk mengangkatnya. Kadang baterainya habis dan Ibu lupa mengisi daya.
Jangan marah dulu.
Ibu tidak ingin kamu pulang hanya karena merasa kasihan.
Kamu pernah bilang kehidupanmu di Jakarta sedang sulit. Dari suara kamu saja Ibu tahu kamu sedang banyak pikiran, meskipun setiap kali ditanya kamu selalu bilang baik-baik saja.
Karena itu Ibu memilih diam.
Aku menutup mulut dengan kedua tangan.
Seketika aku teringat percakapan terakhir kami beberapa bulan lalu.
Saat itu Ibu sempat bertanya apakah usaha Ardi berjalan lancar.
Aku tertawa dan menjawab semuanya baik-baik saja.
Padahal malam sebelumnya aku dan Ardi baru saja menjual gelang pernikahanku untuk membayar cicilan.
Ternyata Ibu tahu.
Entah bagaimana, seorang ibu selalu tahu ketika anaknya berbohong.
Aku kembali membaca.
Beberapa bulan terakhir tubuh Ibu sering tidak kuat. Kadang kepala berputar. Kadang kaki terasa kebas. Tetangga sudah menyuruh periksa ke rumah sakit, tapi Ibu pikir hanya karena usia.
Kalau suatu hari Ibu tidak ada di rumah saat kamu datang, jangan takut.
Cari Bu Sari di rumah sebelah.
Beliau tahu semuanya.
Aku tidak sanggup membaca baris berikutnya.
Aku berdiri begitu cepat sampai lututku membentur sisi tempat tidur.
Kertas surat jatuh ke lantai.
Aku berlari keluar rumah.
“Bu Sari!”
Suaraku pecah.
“Bu Sari!”
Pintu rumah di sebelah terbuka.
Seorang perempuan berusia sekitar enam puluh tahun keluar dengan wajah terkejut.
Dia menatapku beberapa detik.
“Laras?”
Aku langsung menghampirinya.
“Bu, Ibu saya di mana?”
Bu Sari tidak menjawab.
Wajahnya berubah.
Matanya berkaca-kaca.
Jantungku seperti berhenti berdetak.
“Bu…”
Aku menggenggam lengannya.
“Tolong bilang Ibu saya masih hidup.”
Bu Sari cepat-cepat memegang kedua bahuku.
“Masih, Nak.”
Aku hampir jatuh karena lega.
“Masih hidup.”
“Tapi di mana?”
Bu Sari menarik napas panjang.
“Di rumah sakit di Tarutung.”
Aku menatapnya tanpa berkedip.
“Rumah sakit?”
“Tiga minggu lalu ibumu jatuh di pasar.”
Dunia di sekelilingku seperti mendadak mengecil.
Bu Sari melanjutkan dengan suara pelan.
“Beliau pingsan ketika sedang mengangkat keranjang sayur. Orang pasar membawanya ke puskesmas, lalu dirujuk ke rumah sakit. Dokter bilang ada masalah di pembuluh darah otaknya. Untung cepat ditolong.”
“Kenapa tidak ada yang menghubungi saya?”
Bu Sari menunduk.
“Kami mau menghubungimu.”
“Lalu?”
“Ibumu melarang.”
Aku tidak tahu apakah aku ingin menangis atau marah.
“Kenapa beliau melakukan itu?”
“Karena beliau tahu keadaanmu.”
Aku membeku.
Bu Sari kemudian masuk ke rumahnya dan kembali membawa sebuah kantong plastik bening.
Di dalamnya ada beberapa lembar bukti transfer bank.
Aku mengenali nama penerimanya.
Namaku sendiri.
“Ini apa?”
Bu Sari menatapku dengan mata merah.
“Setiap bulan ibumu mengirim uang kepadamu, kan?”
Aku mengangguk pelan.
Memang benar.
Meskipun sudah tua dan penghasilannya tidak banyak, Ibu masih sering mengirim lima ratus ribu atau satu juta rupiah.
Aku selalu memarahinya.
Aku bilang uang itu lebih baik dipakai untuk kebutuhan sehari-harinya.
Tapi Ibu selalu menjawab ringan.
“Kalau ada lebih sedikit, buat anak Ibu saja.”
Bu Sari berkata, “Uang itu bukan dari hasil jualan sayur.”
Aku menatapnya.
“Maksud Ibu?”
“Setahun terakhir, penghasilan pasar ibumu hampir tidak cukup untuk dirinya sendiri.”
“Jadi uangnya dari mana?”
Bu Sari menghela napas.
“Beliau menyewakan sebagian sawah peninggalan ayahmu.”
Aku merasa tenggorokanku mengering.
Sawah itu tidak luas, tetapi merupakan satu-satunya harta yang dulu selalu Ibu pertahankan.
Ayah pernah berpesan agar sawah itu jangan dijual karena suatu hari bisa menjadi pegangan untukku.

“Kenapa Ibu menyewakannya?”
“Untuk membantumu.”
Air mataku kembali mengalir.
Bu Sari belum selesai.
“Dan beberapa bulan lalu, ibumu menjual satu petak kecil di bagian belakang.”
Aku menatapnya tak percaya.
“Menjual?”
“Katanya untuk melunasi utang seseorang.”
“Utang siapa?”
Bu Sari tidak menjawab.
Namun dari ekspresinya aku langsung tahu.
Utangku.
Aku teringat sekitar enam bulan lalu.
Salah satu pinjaman konsumtif yang kami miliki tiba-tiba lunas.
Ketika itu Ardi mengatakan mungkin ada kesalahan sistem.
Kami bahkan mendatangi bank.
Petugas hanya mengatakan pembayaran sudah dilakukan secara tunai oleh seseorang dengan mencantumkan nomor kontrakku.
Kami tidak pernah tahu siapa yang membayarnya.
Sampai hari itu.
Kakiku benar-benar lemas.
“Ibu tahu dari mana tentang utang saya?”
“Entahlah. Mungkin waktu kamu cerita kepada saudaramu di Medan. Beritanya sampai ke sini.”
Aku menunduk.
Selama ini aku merasa berhasil menyembunyikan kesulitanku.
Ternyata penderitaan yang berusaha kututupi justru sampai ke telinga orang yang paling tidak ingin kubebani.
“Antar saya ke rumah sakit sekarang.”
Bu Sari mengangguk.
Perjalanan menuju rumah sakit terasa lebih panjang daripada seluruh perjalanan Jakarta ke Tapanuli Utara.
Tanganku terus menggenggam surat Ibu.
Aku bahkan tidak sempat mengambil koper.
Sepanjang perjalanan, berbagai kemungkinan buruk memenuhi kepala.
Aku membayangkan tubuh Ibu terbaring sendirian.
Aku membayangkan beliau memanggil namaku ketika sakit.
Aku membayangkan bagaimana jika aku terlambat satu hari saja.
Ketika akhirnya tiba, aku berlari melewati lorong rumah sakit.
Bu Sari menyebut nomor kamar kepada perawat.
Langkahku melambat saat sudah berdiri di depan pintu.
Aku takut.
Bukan takut melihat Ibu sakit.
Aku takut melihat betapa banyak waktu yang telah kulewatkan.
Aku mendorong pintu perlahan.
Di dalam kamar itu, seorang perempuan tua terbaring di atas tempat tidur.
Tubuhnya jauh lebih kurus daripada yang kuingat.
Rambutnya hampir seluruhnya putih.
Ada selang infus di tangan kirinya.
Wajahnya pucat.
Namun aku tetap mengenalinya.
“Ibu…”
Suara itu keluar begitu saja.
Kelopak mata Ibu bergerak.
Perlahan beliau membuka mata.
Beberapa detik pertama, beliau seperti tidak percaya.
“Laras?”
Aku tidak sanggup menjawab.
Aku berlari ke sisi tempat tidur dan langsung memeluknya.
“Ibu…”
Tangisku pecah.
Tubuh Ibu terasa ringan sekali dalam pelukanku.
Terlalu ringan.
Aku menangis seperti anak kecil.
“Kenapa Ibu tidak bilang? Kenapa Ibu tidak telepon aku? Kenapa Ibu harus menyembunyikan semuanya?”
Tangan kurus Ibu mengusap rambutku.
“Jangan menangis.”
“Bagaimana aku tidak menangis?”
Aku mengangkat wajah.
“Tiga bulan, Bu. Tiga bulan aku menelepon.”
Ibu tersenyum lemah.
“Ponselnya rusak.”
“Aku akan belikan seratus ponsel kalau perlu. Tapi kenapa Ibu tidak minta orang menghubungiku?”
Ibu terdiam cukup lama.
Kemudian beliau berkata, “Karena kamu pasti pulang.”
“Memang seharusnya aku pulang!”
Suara suamiku tiba-tiba terdengar dari belakang.
“Benar.”
Aku menoleh.
Ardi berdiri di ambang pintu dengan tas ransel di punggungnya.
Aku benar-benar terkejut.
“Mas?”
Dia tersenyum kecil.
“Aku menyusul.”
Aku berlari memeluknya.
“Kok bisa?”
“Setelah kamu berangkat, aku tidak tenang. Aku pinjam uang perjalanan dari kakakku.”
Ibu menatap kami berdua.
Wajahnya terlihat bersalah.
“Maaf membuat kalian susah.”
Aku berbalik.
“Jangan pernah bilang begitu lagi.”
Beberapa saat kemudian dokter datang dan menjelaskan kondisi Ibu.
Beliau mengalami stroke ringan akibat tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol.
Kondisinya sudah lebih stabil, tetapi tubuh bagian kanan masih lemah.
Dengan fisioterapi dan obat teratur, kemungkinan pulih cukup besar.
Aku bernapas lega untuk pertama kalinya sejak tiba.
Namun malam itu aku menemukan kejutan lain.
Ketika Ibu tertidur, Bu Sari memberikan sisa surat yang tadi belum sempat kubaca.
Aku membukanya.
Di bagian terakhir, tulisan Ibu terlihat lebih gemetar.
Laras, di bawah tempat tidur ada kotak besi kecil.
Kuncinya ada di belakang foto Ayah.
Isinya bukan banyak, tapi semoga cukup untuk memulai lagi.
Aku langsung teringat kotak tua yang dulu dipakai Ayah menyimpan dokumen.
Keesokan paginya, Ardi kembali ke rumah bersama Bu Sari untuk mengambilnya.
Ketika kotak itu dibuka di rumah sakit, aku terdiam.
Di dalamnya ada buku tabungan atas namaku.
Saldo terakhirnya hampir delapan puluh juta rupiah.
Aku sampai mengira salah melihat.
“Ini dari mana?”
Ibu memandang ke arah jendela.
“Tabungan.”
“Tabungan apa?”
“Sejak kamu mulai kerja di Jakarta, setiap kali kamu kirim uang ke Ibu, Ibu simpan sebagian.”
Aku tidak percaya.
Selama bertahun-tahun, aku mengirim uang dua atau tiga juta jika sedang punya lebih.
Aku mengira uang itu dipakai untuk kehidupan sehari-hari.
Ternyata sebagian besar disimpan kembali untukku.
“Untuk apa?”
Ibu menoleh.
“Untuk hari ketika anak Ibu benar-benar membutuhkannya.”
Aku menahan napas.
“Bu, aku sudah dewasa.”
“Di mata ibu, anak tetap anak.”
Ardi yang berdiri di sampingku menundukkan kepala.
Kemudian dia berkata pelan, “Bu, uang ini tidak akan kami pakai.”
Ibu langsung menatapnya.
“Kenapa?”
“Kami akan mengembalikannya untuk biaya pengobatan Ibu.”
Ibu menggeleng.
“Biaya rumah sakit sudah dibantu BPJS.”
“Tetap.”
Ardi menggenggam tangan Ibu.
“Kali ini biarkan kami yang menjaga Ibu.”
Aku tahu keputusan kami sudah bulat.
Kami tidak kembali ke Jakarta sesuai tiket semula.
Ardi menjual beberapa perlengkapan bekas usahanya.
Aku meminta izin bekerja jarak jauh sementara dari kantor.
Selama dua bulan berikutnya, kami tinggal di kampung.
Setiap pagi aku menemani Ibu fisioterapi.
Setiap sore Ardi memperbaiki rumah.
Atap bocor diganti.
Dinding dicat ulang.
Pagar dibersihkan.
Dan tanaman bunga kertas yang hampir mati itu dipangkas, diberi pupuk, lalu disiram setiap hari.
Perlahan-lahan rumah itu hidup lagi.
Begitu pula Ibu.
Suatu sore, ketika beliau sudah mulai bisa berjalan dengan tongkat, aku duduk bersamanya di teras.
“Ibu masih marah aku menggunakan uang tabungan itu untuk pengobatan?”
Ibu mendengus.
“Tentu.”
Aku tertawa.
“Kalau begitu marah saja.”
Ibu menatap halaman.
Setelah beberapa detik beliau berkata, “Laras.”
“Hm?”
“Nanti kalau Ibu sudah tidak ada, jangan menyesal.”
Aku langsung menoleh.
“Jangan bicara begitu.”
“Semua orang akan pergi.”
“Tapi jangan sekarang.”
Ibu tersenyum.
“Laras, dengarkan. Selama hidup, Ibu tidak pernah menyesal membesarkanmu. Jadi jangan pernah merasa punya utang kepada Ibu.”
Aku menggenggam tangannya.
“Aku memang punya utang.”
“Apa?”
“Waktu.”
Ibu terdiam.
Aku menahan air mata.
“Aku terlalu sibuk mencari uang sampai lupa bahwa orang yang menungguku di rumah semakin tua.”
Mata Ibu berkaca-kaca.
Aku melanjutkan, “Mulai sekarang aku tidak mau mengulanginya.”
Enam bulan kemudian, aku dan Ardi mengambil keputusan besar.
Kami tidak kembali menetap di Jakarta.
Perusahaanku mengizinkanku bekerja sepenuhnya dari jarak jauh.
Sementara Ardi membuka usaha kecil menjual hasil pertanian dari kampung melalui internet.
Hasilnya justru jauh lebih baik daripada usaha lamanya.
Kami menyewa rumah kecil di kota kecamatan, hanya sekitar dua puluh menit dari rumah Ibu.
Namun kejutan terbesar datang pada suatu pagi.
Aku menemukan Ibu sudah kembali ke pasar.
Beliau duduk di bangku kecil sambil menjual sayuran.
Aku langsung marah.
“Ibu!”
Ibu tertawa melihatku.
“Kenapa?”
“Dokter bilang jangan terlalu capek!”
“Ibu cuma duduk.”
Aku menggeleng.
“Memang keras kepala.”
Seorang pedagang di sebelahnya tertawa.
“Dari dulu ibumu begitu.”
Ibu kemudian menyodorkan satu kantong jeruk kepadaku.
“Bawa pulang.”
Aku mengambilnya.
“Bayar berapa?”
Ibu langsung mencubit lenganku.
“Anak sendiri kok bayar.”
Aku tertawa.
Sudah lama aku tidak merasa sebahagia itu.
Beberapa minggu kemudian, tanaman bunga kertas di depan rumah akhirnya berbunga lagi.
Warnanya merah muda terang.
Persis seperti ketika aku masih kecil.
Pada hari bunga pertama muncul, Ibu berdiri cukup lama di depan teras.
“Lihat, Ras.”
Aku menghampirinya.
“Sudah hidup lagi.”
Aku memandang bunga itu.
Kemudian menatap rumah kami.
Lalu menatap Ibu.
Entah mengapa, aku tiba-tiba teringat mimpi yang membuatku pulang.
Dalam mimpi itu, Ibu berdiri di depan pagar sambil melambaikan tangan.
Semakin aku berlari, semakin beliau menjauh.
Sekarang aku memahami sesuatu.
Mungkin mimpi itu bukan pertanda bahwa Ibu akan pergi.
Mungkin itu peringatan bahwa selama ini akulah yang terus menjauh.
Mengejar pekerjaan.
Mengejar uang.
Mengejar kehidupan yang kupikir harus kumenangkan.
Padahal ada seseorang di kampung yang tidak pernah meminta apa pun selain mendengar suaraku dan melihatku pulang.
Aku merangkul bahu Ibu.
“Bu.”
“Ya?”
“Nanti sore kita makan apa?”
Ibu berpikir sebentar.
“Arsik ikan mas.”
Aku tersenyum.
“Masak banyak.”
“Kenapa?”
Aku melihat Ardi yang sedang memperbaiki pagar di halaman.
“Karena sekarang rumah ini tidak boleh sepi lagi.”
Ibu tidak menjawab.
Beliau hanya tersenyum sambil menggenggam tanganku.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku merasa benar-benar pulang.
Bukan karena aku kembali ke rumah tempat aku dibesarkan.
Melainkan karena akhirnya aku mengerti bahwa pulang bukan soal jarak.
Pulang adalah tentang masih adanya seseorang yang menunggumu membuka pintu.
Dan selama pintu itu masih bisa dibuka, selama suara orang yang kita cintai masih bisa kita dengar, jangan menunggu sampai sebuah surat di atas tempat tidur mengingatkan kita bahwa waktu tidak pernah berhenti berjalan.
