Putraku Memilih Putri dari Perempuan yang Pernah Menghancurkan Rumah Tanggaku, Maka Kali Ini Tak Akan Kusiapkan Satu Rupiah Pun untuk Warisannya

Tiga hari setelah Bima membawa Citra ke rumahku, aku mendatangi kantor notaris yang selama bertahun-tahun menangani urusan hukum perusahaan.

Pak Hendra menatapku cukup lama setelah membaca dokumen yang kubawa.

“Bu Prameswari yakin ingin mengubah semuanya sekarang?”

Aku mengangguk.

“Bukan mengubah semuanya. Saya hanya ingin memastikan tidak ada orang yang merasa berhak atas sesuatu yang belum pernah saya berikan.”

Di hadapannya terdapat beberapa berkas.

Perubahan struktur kepemilikan aset pribadiku.

Pembentukan yayasan pendidikan.

Pengalihan sebagian saham perusahaan ke sebuah trust keluarga yang pengelolaannya berada di bawah pengawasan profesional.

Dan yang paling penting, rancangan surat wasiat baru.

Dalam kehidupan sebelumnya, hampir seluruh aset pribadiku memang kusiapkan untuk Bima.

Rumah.

Tanah.

Deposito.

Saham.

Bahkan beberapa properti yang kubeli sebagai investasi sejak dia masih kuliah.

Aku selalu berpikir seorang ibu seharusnya meninggalkan sebanyak mungkin untuk anaknya.

Baru setelah mati, aku menyadari bahwa cinta tanpa batas kadang-kadang justru mengajarkan seseorang bahwa dia boleh menerima semuanya tanpa pernah bertanggung jawab atas pilihannya.

“Apakah nama Pak Bima benar-benar dihapus?” tanya Pak Hendra lagi.

“Bukan dihapus seluruhnya.”

Aku tersenyum.

“Biarkan dia mendapatkan apa yang memang menjadi haknya sebagai anak menurut ketentuan yang berlaku. Tidak lebih.”

Pak Hendra mengerti maksudku.

Aku tidak sedang mencari celah untuk menghukum Bima.

Aku hanya berhenti memberikan keistimewaan.

Dua hal itu sangat berbeda.

Sebelum meninggalkan kantor, aku meminta satu hal lagi.

“Mulai sekarang, semua permintaan pengeluaran pribadi dari Bima yang menggunakan rekening saya harus mendapat persetujuan langsung dari saya.”

Pak Hendra mengangkat alis.

“Termasuk kartu tambahan?”

“Blokir.”

“Mobil?”

“Masih atas nama perusahaan. Kalau dia menggunakannya untuk pekerjaan, silakan. Kalau untuk pribadi, dia bayar sendiri.”

Saat keluar dari gedung, untuk pertama kalinya aku merasa dadaku begitu ringan.

Aku tidak membenci Bima.

Justru karena aku masih menyayanginya, aku tidak ingin terus memelihara kelemahannya.

Seminggu kemudian, Bima menelepon.

“Ma, minggu depan Mama ada waktu?”

“Ada apa?”

“Aku dan Citra mau membicarakan pernikahan.”

Aku sudah menduga.

“Datang saja.”

Kali ini mereka tidak datang berdua.

Ratna ikut.

Arman juga.

Ketika pintu rumah terbuka dan aku melihat mereka berdiri di depan, ada bagian kecil dalam diriku yang masih merasa seperti perempuan berusia tiga puluh dua tahun yang dahulu menemukan suaminya berselingkuh.

Namun rasa itu berlalu cepat.

Aku sudah mati sekali karena terus membiarkan masa lalu menguasai hidupku.

Kali ini tidak.

Ratna masuk dengan langkah pelan.

Usianya sudah bertambah.

Ada kerutan di sudut matanya, tetapi cara dia menatapku masih sama.

Tenang.

Seolah tidak pernah melakukan apa pun.

“Sudah lama, Mira.”

Aku tersenyum tipis.

“Memang.”

Arman terlihat lebih canggung.

“Bagaimana kabarmu?”

“Baik.”

Tidak ada pelukan.

Tidak ada basa-basi panjang.

Kami duduk berhadapan.

Bima memulai pembicaraan.

“Ma, karena Mama bilang tidak akan menghalangi lagi, kami ingin membicarakan rencana pernikahan.”

“Silakan.”

Citra mengeluarkan sebuah folder.

Dia tampaknya sudah membuat banyak persiapan.

Gedung.

Dekorasi.

Katering.

Fotografer.

Bahkan rancangan bulan madu.

Aku membuka beberapa lembar dan hampir tersenyum melihat total anggarannya.

Hampir dua miliar rupiah.

“Bagus,” kataku.

Wajah Citra langsung cerah.

“Jadi Tante setuju?”

“Kalau kalian sanggup membayar, kenapa tidak?”

Ruangan mendadak hening.

Bima mengerutkan kening.

“Maksud Mama?”

Aku meletakkan folder di meja.

“Kalian yang menikah. Bukankah wajar kalian yang membayar?”

“Mama…”

Nada suaranya berubah.

“Selama ini Mama selalu bilang pernikahanku akan Mama siapkan.”

“Dulu iya.”

“Kenapa sekarang berubah?”

Aku menatapnya.

“Karena sekarang kamu sudah dewasa.”

Ratna akhirnya ikut bicara.

“Mira, menurutku tidak perlu membuat semuanya menjadi rumit. Anak-anak hanya ingin memulai hidup mereka dengan baik.”

“Aku setuju.”

Aku menoleh kepadanya.

“Karena itu biarkan mereka memulainya dengan kemampuan mereka sendiri.”

Arman berdeham.

“Kalau soal biaya, sebenarnya kita semua bisa duduk bersama.”

Aku tertawa kecil.

“Kita semua?”

Dia terlihat tidak nyaman.

Aku melanjutkan.

“Kalau kalian ingin membantu Citra, silakan. Kalau aku ingin membantu Bima, itu juga keputusan pribadiku. Tapi jangan datang ke rumahku sambil membawa anggaran lalu menganggap aku otomatis membayar.”

Bima mulai kesal.

“Mama sengaja melakukan ini karena Citra anak Mama Ratna, kan?”

“Tidak.”

Aku menggeleng.

“Kalau kamu menikahi perempuan lain pun, keputusan ini tetap sama.”

Itu bohong kecil.

Kalau bukan karena pengalaman kehidupanku sebelumnya, mungkin aku memang akan terus memanjakannya.

Namun aku tidak perlu menjelaskan semuanya.

Citra menahan napas sebelum berkata, “Kami hanya ingin pernikahan yang layak.”

“Pernikahan layak tidak ditentukan harga gedungnya.”

Wajahnya memerah.

Ratna buru-buru menyentuh tangan putrinya.

“Tidak apa-apa. Mama dan Papa bisa membantu.”

Bima langsung menoleh kepadaku.

Ada sesuatu dalam tatapannya yang membuatku teringat rumah sakit itu.

Kekecewaan.

Namun bukan karena dia kehilangan ibunya.

Melainkan karena dia kehilangan akses terhadap fasilitas yang selama ini dianggap pasti.

“Kalau begitu soal rumah?” tanyanya.

“Rumah apa?”

“Mama pernah bilang apartemen di Senopati akan diberikan kepadaku setelah menikah.”

“Sudah kujual.”

Dia membeku.

“Apa?”

“Sudah kujual bulan lalu.”

“Kenapa Mama tidak bilang?”

“Karena itu milikku.”

Wajah Bima menjadi merah.

Untuk sesaat, dia seperti ingin membantah, tetapi tidak menemukan alasan.

Aku memandangnya tenang.

“Kamu punya pekerjaan, kan?”

“Iya.”

“Kamu punya penghasilan?”

“Iya.”

“Citra bekerja?”

Citra menjawab pelan, “Iya.”

“Kalau begitu sewa rumah dulu. Menabung. Beli rumah sendiri. Seperti jutaan pasangan lainnya.”

Bima berdiri tiba-tiba.

“Mama keterlaluan.”

Ratna langsung menarik napas.

“Bima.”

Namun dia tidak berhenti.

“Aku cuma mau menikah. Kenapa Mama memperlakukanku seperti orang asing?”

Aku ikut berdiri.

“Karena orang asing tidak pernah menerima biaya kuliah dari saya sampai lulus S2, tidak pernah memakai mobil perusahaan, tidak pernah menggunakan kartu kredit tambahan saya, dan tidak pernah tinggal gratis di rumah saya sampai umur tiga puluh tahun.”

Wajahnya seketika pucat.

Aku tidak meninggikan suara.

Justru ketenanganku membuat semuanya terdengar lebih tajam.

“Kamu bukan orang asing. Kamu anakku. Karena itu sudah waktunya kamu belajar berdiri sendiri.”

Mereka pulang dengan suasana buruk.

Dua hari kemudian, kartu kredit tambahan Bima benar-benar berhenti berfungsi.

Dia menelepon malam-malam.

“Ma, kartuku ditolak.”

“Memang sudah ditutup.”

“Kenapa?”

“Aku sudah memberitahumu bahwa mulai sekarang biaya pribadimu ditanggung sendiri.”

“Tapi aku sedang makan dengan klien.”

“Kalau urusan kantor, klaim ke bagian keuangan.”

“Citra juga ikut.”

“Citra bukan pegawai perusahaan.”

Telepon terdiam.

Lalu dia berkata dingin, “Mama benar-benar berubah.”

Aku menatap lampu kota dari balkon.

“Iya.”

Dia menutup telepon lebih dulu.

Beberapa minggu berikutnya, hubungan kami semakin renggang.

Bima jarang pulang.

Namun dari laporan direktur keuangan, aku mengetahui sesuatu yang jauh lebih penting.

Selama ini, Bima ternyata memiliki kebiasaan menggunakan nama perusahaan untuk kepentingan pribadinya.

Tidak sampai masuk kategori penggelapan.

Namun dia sering meminta staf mengurus tiket liburan, restoran, bahkan hadiah untuk Citra lalu memasukkannya sebagai biaya relasi bisnis.

Dulu aku mungkin akan menutup mata.

Kali ini aku memanggilnya ke ruang kerja.

Semua bukti kutaruh di meja.

“Jelaskan.”

Wajah Bima berubah.

“Ma, ini cuma pengeluaran kecil.”

“Total delapan bulan, seratus delapan puluh tujuh juta.”

“Itu tidak seberapa dibanding omzet perusahaan.”

Aku terdiam beberapa detik.

Kalimat itu lebih menyakitkan daripada jumlah uangnya.

Karena di situlah aku sadar.

Bima bukan sekadar manja.

Dia benar-benar mulai merasa bahwa sesuatu boleh diambil selama jumlahnya tidak berarti baginya.

“Mulai bulan depan, kamu tidak lagi menjabat sebagai kepala pengembangan bisnis.”

Dia langsung berdiri.

“Apa?”

“Kamu dipindahkan ke divisi operasional cabang Bekasi sebagai manajer proyek.”

“Mama mau menyingkirkanku?”

“Aku sedang memberimu kesempatan.”

“Itu penurunan jabatan.”

“Betul.”

Bima tertawa tanpa humor.

“Semua ini karena Citra.”

“Tidak.”

Aku menatapnya tajam.

“Ini karena kamu.”

Untuk pertama kalinya, dia tidak bisa menyalahkan siapa pun.

Namun Bima tidak menerima keputusan itu.

Dia mengundurkan diri tiga hari kemudian.

Ratna meneleponku setelahnya.

“Mira, kita harus bicara.”

“Ada apa?”

“Bima sekarang tidak punya pekerjaan.”

“Dia yang mengundurkan diri.”

“Dia merasa dipermalukan.”

“Perasaan malu berbeda dengan dipermalukan.”

Ratna terdiam.

Kemudian suaranya berubah.

“Jangan jadikan anak-anak alat balas dendam.”

Aku tersenyum.

“Ratna, kalau aku ingin balas dendam, aku sudah melakukannya dua puluh tahun lalu.”

“Kamu masih membenciku.”

“Tidak.”

Itulah kebenaran yang baru kusadari.

Aku memang tidak lagi membencinya.

Kebencian membutuhkan energi.

Aku sudah berhenti memberikannya.

“Aku hanya tidak akan membiayai kehidupan putraku bersama putrimu.”

Ratna tertawa kecil.

“Kamu pikir kami membutuhkan uangmu?”

Aku menatap layar ponsel.

“Bagus kalau begitu.”

Dia menutup sambungan.

Sebulan kemudian, Bima dan Citra menikah.

Pernikahannya jauh lebih sederhana daripada rencana awal.

Mereka menggelarnya di sebuah hotel di Jakarta Selatan.

Aku datang.

Aku mengenakan kebaya modern sederhana berwarna gelap, duduk di barisan keluarga, dan tersenyum ketika diminta berfoto.

Aku tidak membuat keributan.

Tidak menangis.

Tidak mengancam.

Ketika Bima mencium tanganku setelah akad, aku hanya berkata, “Semoga kamu bahagia.”

Matanya berkaca-kaca.

Entah karena terharu atau kecewa, aku tidak tahu.

Setelah pernikahan, mereka tinggal di apartemen milik Arman.

Beberapa bulan pertama, dari media sosial aku melihat mereka tampak bahagia.

Makan malam mewah.

Liburan singkat ke Bali.

Hadiah.

Foto pasangan sempurna.

Namun satu tahun kemudian, masalah mulai muncul.

Bisnis Arman ternyata tidak sebaik yang selama ini terlihat.

Beberapa proyek propertinya bermasalah.

Utangnya menumpuk.

Aset mulai dijual.

Ratna dan Arman berusaha mempertahankan gaya hidup mereka, sementara Bima yang keluar dari perusahaanku belum mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan setara.

Bima datang ke rumahku suatu sore.

Wajahnya terlihat jauh lebih kurus.

“Ma, aku mau pinjam uang.”

Aku menuangkan teh.

“Berapa?”

“Dua miliar.”

Tanganku berhenti.

“Untuk apa?”

“Papa sedang punya masalah bisnis. Kalau proyeknya selesai, uangnya pasti kembali.”

Aku menatapnya.

Sekarang dia memanggil Arman “Papa” dengan begitu alami.

Anehnya, kali ini aku tidak sakit mendengarnya.

“Tidak.”

“Ma…”

“Tidak.”

“Ini cuma pinjaman.”

“Kalau bank saja tidak mau memberi pinjaman, kenapa aku harus?”

Rahangnya menegang.

“Karena aku anak Mama.”

Aku hampir tertawa.

Kalimat yang selama bertahun-tahun menjadi alasan bagiku untuk memberikan segalanya, kini akhirnya terdengar seperti apa adanya.

Sebuah tuntutan.

“Dan karena kamu anak Mama, Mama tidak akan membiarkanmu tenggelam bersama masalah orang lain.”

“Papa bukan orang lain.”

Aku terdiam.

Kalimat itu masuk jauh ke dadaku.

Bima langsung menyadari apa yang baru dia katakan.

“Ma, maksudku…”

“Tidak apa-apa.”

Aku tersenyum.

“Kamu benar. Dia memang ayahmu.”

Bima menatapku gelisah.

Aku melanjutkan.

“Dan kamu berhak memilih keluarga yang ingin kamu bela.”

Dia pulang tanpa uang.

Enam bulan kemudian, Arman bangkrut.

Beberapa aset disita.

Apartemen yang ditempati Bima dan Citra ikut dijual untuk menutup utang.

Mereka pindah ke rumah kontrakan.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Bima benar-benar hidup dari penghasilannya sendiri.

Dia bekerja di sebuah perusahaan logistik dengan gaji yang bahkan tidak sampai seperempat dari pendapatannya ketika bekerja denganku.

Aku tidak ikut campur.

Sampai suatu malam, seseorang mengetuk pintu rumahku.

Citra.

Dia datang sendirian.

Wajahnya pucat.

Matanya sembap.

“Saya boleh bicara?”

Aku mempersilahkannya masuk.

Untuk beberapa menit dia hanya duduk sambil memegang gelas air.

Kemudian berkata, “Bima tidak tahu saya datang.”

“Ada apa?”

Citra menelan ludah.

“Ibu saya menyuruh Bima meminta uang lagi kepada Tante.”

Aku tidak terkejut.

“Tapi Bima menolak.”

Kali ini aku mengangkat kepala.

Citra melanjutkan.

“Mereka bertengkar. Mama bilang Bima tidak berguna karena tidak bisa membujuk Tante.”

Aku tidak berkata apa-apa.

“Lalu Bima bilang sesuatu.”

Air mata Citra mulai jatuh.

“Dia bilang sepanjang hidupnya dia selalu menganggap semua yang Tante punya suatu hari akan menjadi miliknya. Karena itu dia tidak pernah takut kehilangan apa pun.”

Dadaku terasa sesak.

“Tapi setelah semua berubah, dia baru sadar… selama ini dia bahkan tidak tahu bagaimana rasanya membangun sesuatu sendiri.”

Citra menangis.

“Saya juga sama.”

Aku menatapnya.

Dia tersenyum pahit.

“Dulu saya pikir Tante membenci saya karena Mama. Saya pikir Tante hanya perempuan yang tidak bisa menerima masa lalu. Tapi sekarang saya tahu kenapa Tante tidak percaya kepada saya.”

“Aku tidak pernah mengatakan aku tidak percaya padamu.”

“Tante tidak perlu.”

Dia menunduk.

“Saya tumbuh dengan mendengar versi cerita Mama. Bahwa Tante terlalu sibuk. Bahwa Om Arman sudah tidak bahagia. Bahwa cinta mereka terjadi karena keadaan.”

Aku menggenggam cangkir.

“Dan kamu percaya?”

“Dulu.”

Citra menarik napas panjang.

“Sekarang tidak.”

Ternyata setelah kebangkrutan Arman, Ratna mulai menyalahkan semua orang.

Arman.

Bima.

Bahkan Citra.

Dalam sebuah pertengkaran, Ratna tanpa sengaja mengakui bahwa dulu dia memang sengaja mendekati Arman karena tahu Arman memiliki masa depan cerah.

Dia tidak sekadar jatuh cinta.

Dia melihat kesempatan.

Yang lebih mengejutkan, selama bertahun-tahun Ratna selalu menanamkan kepada Citra bahwa menikah dengan Bima akan mengembalikan keamanan finansial keluarga mereka.

Aku membeku mendengarnya.

“Jadi sejak awal…”

Citra menggeleng cepat.

“Saya benar-benar mencintai Bima. Saya baru tahu Mama berpikir sejauh itu setelah kami menikah.”

Dia menangis lebih keras.

“Saya malu.”

Aku menatap perempuan muda itu.

Untuk pertama kalinya, aku tidak melihat Ratna dalam wajahnya.

Aku melihat Citra.

Seseorang yang sedang berusaha keluar dari bayang-bayang ibunya.

“Saya datang bukan untuk minta uang,” katanya.

“Saya cuma ingin minta maaf.”

Aku diam cukup lama.

“Maaf karena kalimat yang kamu ucapkan dulu?”

Dia mengangguk.

“Dan karena saya pernah merasa Tante hanya menghalangi kebahagiaan kami.”

Aku tersenyum tipis.

“Sekarang?”

“Sekarang saya tahu seseorang bisa bahagia tanpa mengambil sesuatu yang bukan haknya.”

Dia pulang malam itu tanpa membawa apa pun.

Namun setelah malam itu, sesuatu berubah.

Bima tidak tiba-tiba kembali menjadi anak yang dekat denganku.

Hubungan kami pulih perlahan.

Sangat perlahan.

Suatu pagi, dia mengirim pesan sederhana.

Ma, aku dapat promosi kecil di kantor.

Tidak ada permintaan uang.

Tidak ada keluhan.

Aku membalas.

Selamat. Mama bangga kamu mendapatkannya dari kerja kerasmu sendiri.

Dia tidak membalas selama hampir satu jam.

Kemudian hanya mengirimkan satu kalimat.

Terima kasih, Ma.

Tiga tahun berlalu.

Perusahaanku semakin berkembang.

Yayasan pendidikan yang kubentuk mulai memberikan beasiswa kepada anak-anak dari keluarga orang tua tunggal.

Suatu sore, aku mengundang Bima dan Citra makan malam.

Mereka datang dengan motor karena mobil mereka sedang masuk bengkel.

Dulu mungkin Bima akan malu.

Sekarang dia justru tertawa sambil melepas helm.

“Macetnya gila, Ma.”

Citra membawa kue buatannya sendiri.

Kami makan sederhana.

Setelah makan malam, aku mengeluarkan sebuah map.

Bima langsung menatapku.

“Apa ini?”

“Dokumen.”

Dia tersenyum kecil.

“Jangan bilang Mama mau kasih rumah.”

“Tidak.”

Kami tertawa.

Aku menyerahkan map itu kepadanya.

Di dalamnya adalah surat pengangkatan Bima sebagai salah satu komisaris independen di yayasan.

Tidak ada saham.

Tidak ada warisan.

Tidak ada aset pribadi.

Hanya tanggung jawab.

Bima membacanya cukup lama.

“Kenapa aku?”

“Karena tiga tahun terakhir Mama melihat kamu berubah.”

Dia menatapku dengan mata merah.

“Mama masih tidak akan memberikan perusahaan kepadaku?”

Aku tersenyum.

“Tidak.”

Anehnya, dia ikut tersenyum.

“Bagus.”

Aku mengangkat alis.

Bima menunduk sebentar.

“Dulu aku selalu berpikir warisan terbesar yang bisa Mama kasih adalah perusahaan.”

Dia menggenggam dokumen itu.

“Ternyata bukan.”

Aku diam.

“Warisan terbesar Mama adalah membuatku sadar kalau hidupku bukan milik Mama untuk ditanggung selamanya.”

Air mataku hampir jatuh.

Lalu Citra berkata pelan, “Dan mungkin itu juga yang tidak pernah Mama saya ajarkan kepada saya.”

Beberapa bulan kemudian, Ratna meninggal karena serangan jantung.

Aku datang ke pemakamannya.

Tidak ada kebencian.

Tidak ada kemenangan.

Hanya kesadaran bahwa satu bab hidup akhirnya benar-benar selesai.

Setelah pemakaman, Arman mendekatiku.

Tubuhnya terlihat jauh lebih tua.

“Mira.”

Aku menoleh.

“Aku minta maaf.”

Dua puluh tahun lalu, aku menunggu kalimat itu setiap hari.

Aku membayangkan akan merasa lega jika suatu saat dia mengatakannya.

Namun sekarang, kalimat itu datang ketika aku sudah tidak membutuhkannya lagi.

“Aku sudah memaafkanmu sejak lama.”

Arman terdiam.

“Kenapa?”

Aku menatap Bima yang berdiri beberapa meter dari kami bersama Citra.

“Karena kalau aku terus membawa kesalahanmu, berarti selama ini kamu masih punya tempat dalam hidupku.”

Aku tersenyum.

“Aku tidak mau memberikan tempat itu lagi.”

Aku berjalan meninggalkannya.

Saat sampai di mobil, Bima mengejarku.

“Ma.”

Aku berhenti.

Dia memelukku.

Pelukan sederhana.

Namun dalam kehidupanku sebelumnya, bahkan ketika aku berada di ambang kematian, aku tidak pernah mendapatkannya.

“Pulang bareng aku,” katanya.

Aku tersenyum.

“Iya.”

Di perjalanan pulang, untuk sesaat aku melihat pantulan wajahku di kaca mobil.

Aku pernah berpikir kehidupan kedua diberikan kepadaku agar aku bisa mengubah nasib Bima.

Ternyata aku salah.

Aku kembali bukan untuk mengendalikan pilihan putraku.

Bukan pula untuk membalas Ratna atau Arman.

Aku kembali untuk memperbaiki satu kesalahan yang selama ini tidak pernah kusadari.

Aku terlalu menjadikan anakku sebagai seluruh hidupku, sampai lupa bahwa seorang ibu juga berhak memiliki hidupnya sendiri.

Pada akhirnya, Bima tetap menikahi putri perempuan yang pernah menghancurkan rumah tanggaku.

Aku tetap tidak mewariskan seluruh hartaku kepadanya.

Namun justru karena tidak memberikan semua yang dia inginkan, aku akhirnya mendapatkan kembali sesuatu yang jauh lebih berharga.

Seorang putra yang datang kepadaku bukan karena membutuhkan uang.

Bukan karena menginginkan rumah.

Bukan karena berharap mendapatkan perusahaan.

Melainkan hanya karena aku adalah ibunya.

Dan kali ini, itu sudah lebih dari cukup.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang