Suamiku Mengunci Pagar dan Mengusirku di Tengah Malam Demi Pesta Lamaran dengan Selingkuhannya—Saat Aku Menyeret Koper dengan Sandal Rumah, Delapan Mobil Hitam Berhenti, Seorang Pria Tua Membungkuk dan Berkata: “Nona Nadira, Mulai Malam Ini, Anda Tak Perlu Menyembunyikan Nama Keluarga Lagi”—dan pesta itu mendadak sunyi seketika

Pagar besi itu masih terkunci ketika Raka menatapku dengan wajah yang perlahan kehilangan warna.

“Anda?”

Satu kata dari Pak Hendra seolah mematikan seluruh suara di rumah itu.

Musik piano berhenti. Para tamu yang beberapa menit sebelumnya tertawa dan mengangkat gelas kini berdiri kaku di balik dinding kaca. Bahkan Keisya menurunkan tangannya perlahan, seakan cincin berlian di jarinya tiba-tiba menjadi terlalu berat.

Raka tertawa kecil.

Tapi aku mengenalnya cukup lama untuk tahu itu bukan tawa orang yang tenang.

“Itu tidak masuk akal.”

Pak Hendra tidak menjawab.

Raka menatapku.

“Nadira, apa sebenarnya yang kamu lakukan?”

Aku hampir tidak percaya mendengarnya.

Lima menit lalu aku hanyalah perempuan pengangguran yang pantas dibuang dengan dua puluh juta rupiah.

Sekarang dia bertanya seolah akulah yang menyembunyikan pengkhianatan.

“Aku?” tanyaku. “Bukankah kamu yang mengadakan pesta lamaran sementara istrimu berdiri di luar pagar?”

“Nadira, jangan campur dua masalah.”

Aku tersenyum.

“Justru selama ini aku terlalu sering memisahkan masalah yang seharusnya kulihat sebagai satu kesatuan.”

Pak Hendra membuka pintu mobil.

“Nona, sebaiknya kita pergi. Bapak Surya menunggu.”

Aku mengangguk.

Namun suara Yusuf Gunawan menghentikanku.

“Tunggu.”

Ayah Keisya keluar tergesa-gesa dari rumah. Wajahnya tegang.

“Nona Nadira, kalau benar Anda bagian dari keluarga Adinata, mungkin ada kesalahpahaman malam ini.”

Aku menatapnya.

Kesalahpahaman.

Betapa cepatnya bahasa manusia berubah ketika mengetahui siapa yang berdiri di hadapannya.

Tadi aku perempuan yang ditertawakan.

Sekarang aku menjadi “Nona Nadira”.

Keisya langsung menarik lengan ayahnya.

“Papa, kenapa?”

Yusuf berbisik kasar, tetapi cukup keras untuk kudengar.

“Diam dulu.”

Keisya membeku.

Aku memasukkan koper ke bagasi mobil dengan bantuan salah seorang staf.

Raka tiba-tiba membuka pagar kecil di samping.

“Nadira.”

Aku berhenti.

“Aku mau bicara berdua.”

“Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan malam ini.”

“Kamu sengaja melakukan ini?”

Aku berbalik.

“Melakukan apa?”

“Menyembunyikan identitasmu. Membiarkanku tidak tahu siapa keluargamu.”

Ada kemarahan di wajahnya.

Bukan rasa bersalah.

Itulah saat aku akhirnya memahami sesuatu yang selama lima tahun gagal kulihat.

Raka tidak marah karena telah menyakitiku.

Dia marah karena merasa telah salah menghitung nilai diriku.

“Aku pernah memberitahumu,” kataku.

Raka mengernyit.

“Kapan?”

“Malam sebelum kita menikah.”

Dia terdiam.

Aku masih mengingat malam itu.

Kami duduk di sebuah kedai kopi kecil di Senopati. Aku mengatakan bahwa keluargaku memiliki bisnis besar, tetapi hubunganku dengan mereka rumit dan aku ingin membangun hidup dengan namaku sendiri.

Raka tertawa saat itu.

Dia menggenggam tanganku dan berkata tidak peduli apakah ayahku pedagang atau konglomerat.

Ternyata dia bahkan tidak benar-benar mendengarkan.

“Adinata?” katanya akhirnya. “Kamu tidak pernah menyebut Adinata.”

“Karena aku ingin menikah dengan laki-laki yang memilih Nadira, bukan nama belakangku.”

Aku melihat Keisya.

“Sekarang aku tahu jawabannya.”

Aku masuk ke mobil.

Sebelum pintu tertutup, Ibu Ratih berlari mendekat.

“Nadira, tunggu.”

Untuk pertama kalinya malam itu suaranya tidak terdengar angkuh.

“Kamu jangan terbawa emosi. Apa pun yang terjadi, kita ini keluarga.”

Aku menatap perempuan yang sepuluh menit sebelumnya menyebutku orang luar.

“Keluarga?”

Dia kehilangan kata-kata.

Aku tersenyum tipis.

“Bu Ratih sendiri yang mengajari saya malam ini bahwa sebuah pagar cukup untuk menentukan siapa keluarga dan siapa orang luar.”

Pintu mobil tertutup.

Delapan mobil bergerak meninggalkan rumah itu.

Aku tidak menoleh lagi.

Kakek menungguku di sebuah rumah tua di Menteng.

Bukan rumah terbesar keluarga Adinata, tetapi tempat aku dibesarkan setelah kedua orang tuaku meninggal dalam kecelakaan ketika aku masih kuliah.

Surya Adinata sudah berusia delapan puluh satu tahun.

Namun ketika aku memasuki ruang kerjanya, dia masih duduk tegak di kursi kulit dengan tongkat kayu di sampingnya.

Aku berhenti di pintu.

Selama tiga tahun aku hanya menghubunginya sesekali.

Aku terlalu keras kepala untuk pulang.

Kakek menatap pakaian tipisku, sandal kamar, dan rambutku yang masih lembap.

“Jadi,” katanya, “ini kehidupan sederhana yang kamu perjuangkan sampai bertengkar dengan Kakek?”

Aku tertawa kecil.

Lalu entah mengapa aku menangis.

Kakek tidak mengatakan apa-apa.

Dia hanya membuka kedua lengannya.

Aku berjalan mendekat dan memeluknya seperti anak kecil.

“Maaf, Kek.”

Tangannya menepuk punggungku.

“Tidak ada yang perlu dimaafkan karena mencintai seseorang. Yang bodoh adalah kalau kamu tetap tinggal setelah tahu cintamu dipakai untuk menginjakmu.”

Pagi berikutnya, perang sebenarnya dimulai.

Pukul delapan, teleponku memiliki seratus tiga belas panggilan tak terjawab.

Sebagian besar dari Raka.

Sisanya dari Ibu Ratih.

Ada tujuh pesan dari Keisya.

Aku tidak membuka satu pun.

Pukul sembilan, pengacaraku mengajukan gugatan cerai sekaligus permohonan pembekuan sementara atas beberapa aset bersama.

Pukul sepuluh, surat resmi Arunika Investama dikirim ke direksi Wiratama Living.

Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa dijadwalkan tiga hari kemudian.

Pada pukul sebelas, Raka datang ke rumah Menteng.

Dia tidak diizinkan masuk.

Dia menunggu hampir dua jam di depan gerbang.

Ironis.

Aku melihatnya dari jendela lantai dua.

Kemarin aku yang berdiri di luar pagar rumahnya.

Hari ini dia yang menunggu di luar rumahku.

Namun aku tidak merasa puas.

Yang kurasakan hanya lelah.

Sore harinya, Raka mengirim pesan.

“Aku salah. Kita bicara sebagai suami istri, bukan sebagai pemegang saham.”

Aku membaca kalimat itu berkali-kali.

Lalu membalas.

“Kita seharusnya bicara sebagai suami istri sebelum kamu memasangkan cincin kepada perempuan lain.”

Dia tidak membalas lagi.

Tiga hari kemudian aku memasuki ruang rapat Wiratama Living untuk pertama kalinya bukan sebagai istri CEO.

Aku datang sebagai perwakilan resmi Arunika Investama.

Ruangan itu sangat kukenal.

Aku pernah membantu memilih meja rapatnya.

Pernah mengoreksi presentasi investor di sana sampai tengah malam.

Namun selama bertahun-tahun namaku tidak pernah tercatat dalam notulen.

Hari itu semuanya berbeda.

Raka duduk di ujung meja.

Ibu Ratih berada di belakangnya sebagai komisaris.

Wajah mereka tegang.

Pak Hendra duduk di sampingku bersama tim hukum Arunika.

Rapat dimulai.

Raka mencoba mempertahankan posisinya dengan laporan pertumbuhan perusahaan.

Pendapatan meningkat.

Ekspansi berjalan.

Kontrak distribusi baru hampir ditandatangani.

Lalu direktur keuangan berdiri.

“Ada satu masalah.”

Sebuah laporan dibagikan.

Aku membacanya perlahan.

Ternyata masalahnya jauh lebih besar daripada perselingkuhan.

Dalam delapan belas bulan terakhir, Raka telah mengalihkan beberapa kontrak pembelian bahan baku kepada perusahaan baru bernama PT Karya Prima Nusantara.

Harga yang dibayarkan Wiratama rata-rata dua puluh tiga persen lebih tinggi daripada harga pasar.

Pemilik perusahaan itu tercatat atas nama seorang pria bernama Anton Gunawan.

Adik Yusuf Gunawan.

Ruangan mendadak sunyi.

Aku menatap Raka.

“Jadi hubungan keluarga Gunawan dengan Wiratama bukan cuma Keisya?”

Raka langsung berdiri.

“Ini keputusan bisnis.”

Direktur keuangan menggeleng.

“Tanpa persetujuan komisaris independen.”

Ibu Ratih memucat.

“Aku tidak tahu soal ini.”

Raka menatap ibunya tajam.

Namun kejutan berikutnya datang dari Pak Hendra.

Dia mengeluarkan dokumen lain.

“Arunika juga menemukan rencana penerbitan saham baru.”

Aku membaca halaman pertama.

Jika penerbitan itu terjadi, kepemilikan Arunika akan terdilusi.

Sebagian besar saham baru akan dibeli Gunawan Distribusi.

Aku akhirnya memahami semuanya.

Pesta lamaran itu bukan sekadar perayaan cinta.

Itu bagian dari konsolidasi kekuasaan.

Raka berencana menikahi Keisya, membawa keluarga Gunawan masuk lebih dalam ke Wiratama, lalu mengurangi pengaruh investor terbesar yang selama ini tidak dia sadari berada di bawah kendaliku.

Aku menatap laki-laki di seberang meja.

“Kamu mau menyingkirkan Arunika?”

Raka tidak menjawab.

“Lucu,” lanjutku. “Perusahaan yang menyelamatkan Wiratama ketika hampir bangkrut justru perusahaan yang ingin kamu singkirkan setelah merasa cukup kuat.”

Raka menghantam meja.

“Karena investor tidak boleh mengendalikan hidup perusahaan selamanya!”

Aku mengangguk.

“Benar.”

Aku menutup dokumen.

“Dan seorang CEO juga tidak boleh menggunakan perusahaan sebagai alat untuk memperkaya keluarga calon istrinya.”

Pemungutan suara dilakukan.

Hasilnya hampir bulat.

Raka Wiratama diberhentikan sementara dari posisi Direktur Utama sambil menunggu audit independen.

Ketika keputusan dibacakan, dia tidak menatap siapa pun selain aku.

Setelah rapat, dia mengejarku ke lorong.

“Nadira!”

Aku berhenti.

“Kamu puas sekarang?”

Aku berbalik.

Matanya merah.

“Tidak.”

“Kamu menghancurkan hidupku.”

“Tidak, Raka.”

Aku mendekat satu langkah.

“Aku hanya berhenti melindungimu dari akibat keputusanmu sendiri.”

Dia terdiam.

Untuk sesaat aku melihat laki-laki yang dulu kucintai.

Laki-laki yang makan mi instan bersamaku sambil menyusun proposal bisnis.

Laki-laki yang pernah berjanji kami akan membangun semuanya bersama.

Aku hampir merasa kasihan.

Hampir.

Kemudian teleponnya berbunyi.

Nama Keisya muncul.

Dia mengabaikannya.

Ponselnya berbunyi lagi.

Lalu lagi.

Aku berjalan pergi.

Seminggu kemudian, pertunangan Raka dan Keisya dibatalkan.

Bukan karena Keisya mengetahui Raka masih mencintaiku.

Bukan pula karena keluarga Gunawan merasa bersalah.

Yusuf Gunawan menarik diri setelah audit menemukan cukup banyak transaksi untuk membuat kerja sama kedua perusahaan berpotensi diperiksa secara hukum.

Mereka menyelamatkan diri.

Keisya meninggalkan Raka tepat ketika nama Wiratama mulai menjadi masalah baginya.

Dua bulan kemudian, proses perceraianku hampir selesai.

Aku kembali ke rumah Kebayoran bersama petugas dan pengacara untuk mengambil barang-barang terakhir.

Rumah itu sepi.

Tidak ada anggrek putih.

Tidak ada piano.

Tidak ada sampanye.

Raka duduk sendirian di teras.

Dia terlihat lebih kurus.

Aku membawa kardus terakhir keluar ketika dia berkata,

“Nadira.”

Aku berhenti.

“Aku sering berpikir, kalau malam itu aku tidak mengusirmu, apakah semuanya akan berbeda?”

Aku menatap pagar hitam di depan kami.

“Mungkin.”

Dia mengangkat wajah dengan harapan kecil.

“Tapi bukan berarti kita akan tetap bersama.”

Harapan itu hilang.

Aku melanjutkan,

“Karena malam itu bukan penyebab semuanya berakhir, Raka. Malam itu hanya membuatku akhirnya melihat apa yang sudah lama rusak.”

Dia menunduk.

“Aku benar-benar pernah mencintaimu.”

“Aku tahu.”

“Dan kamu?”

Aku tersenyum sedih.

“Itulah sebabnya aku bertahan terlalu lama.”

Aku berjalan menuju mobil.

Pak Hendra menunggu di dekat pintu.

Namun sebelum masuk, aku melihat seseorang berdiri di seberang jalan.

Kakek.

Dia sengaja datang sendiri.

Aku menghampirinya.

“Kakek ngapain ke sini?”

Dia menyerahkan sebuah amplop.

“Apa ini?”

“Buka.”

Di dalamnya terdapat dokumen pengalihan saham.

Aku membaca angka di halaman pertama dan langsung menatapnya.

“Kek…”

Kakek tersenyum.

Ternyata tiga puluh enam persen saham Wiratama Living yang kukira dimiliki Arunika bukan seluruhnya milik Adinata Group.

Dua puluh persen di antaranya sudah menjadi milikku pribadi sejak lima tahun lalu.

Tanggal pengalihannya membuat tanganku gemetar.

Seminggu sebelum pernikahanku dengan Raka.

“Kakek sudah memberikan saham ini kepadaku sebelum aku menikah?”

“Ya.”

“Kenapa tidak pernah bilang?”

“Karena kamu bilang ingin tahu apakah laki-laki itu mencintaimu tanpa mengetahui apa yang kamu punya.”

Aku menatap rumah di belakangku.

“Berarti selama ini…”

Kakek mengangguk.

“Kamu bukan sekadar perempuan yang membantu Wiratama berkembang, Nadira. Secara tidak langsung, kamu sudah menjadi salah satu pemilik terbesarnya bahkan sebelum masuk ke rumah itu sebagai istri.”

Aku tertawa kecil karena ironi itu terlalu sempurna.

Selama tiga tahun mereka mengatakan aku menumpang hidup.

Padahal sebagian perusahaan yang membayar gaya hidup mereka secara hukum sudah menjadi milikku.

Aku memasukkan dokumen ke dalam amplop.

“Kakek mau aku mengambil alih Wiratama?”

“Tidak.”

Jawabannya mengejutkanku.

Kakek menatapku tajam.

“Kakek ingin kamu memutuskan sendiri.”

Aku terdiam.

“Kalau kamu mengambil alih perusahaan hanya untuk membalas dendam, berarti Raka masih mengendalikan hidupmu. Hanya caranya yang berubah.”

Aku memandang rumah itu untuk terakhir kalinya.

Lalu sesuatu dalam diriku terasa ringan.

Tiga bulan kemudian, aku menjual sebagian saham Wiratama kepada investor institusional dengan syarat tata kelola perusahaan diperbaiki dan seluruh transaksi bermasalah diaudit.

Aku mempertahankan sebagian kecil kepemilikan.

Bukan untuk mengendalikan Raka.

Melainkan untuk mengingatkan diriku sendiri bahwa aku pernah ikut membangun sesuatu dan tidak perlu menghapus sejarah hanya karena orang di dalamnya mengecewakanku.

Aku kembali bekerja di Adinata Group.

Bukan sebagai cucu pemilik.

Aku meminta ditempatkan di divisi investasi dan mengikuti proses evaluasi seperti eksekutif lain.

Pada hari pertamaku, Pak Hendra bertanya sambil tersenyum,

“Bagaimana rasanya memakai nama Adinata lagi?”

Aku melihat kartu identitas di meja.

Nadira Adinata.

Aku tersenyum.

“Dulu aku menyembunyikannya karena takut orang mencintaiku karena nama itu.”

“Sekarang?”

Aku memasang kartu itu di leher.

“Sekarang aku tahu masalahnya bukan pada nama yang kita punya.”

Aku berjalan menuju ruang rapat.

“Masalahnya adalah ketika kita mengecilkan diri sendiri supaya orang lain merasa lebih besar.”

Beberapa bulan kemudian aku melewati Kebayoran Baru dalam perjalanan pulang.

Mobil berhenti di lampu merah tidak jauh dari rumah lama kami.

Aku melihat pagar hitam itu.

Untuk sesaat aku teringat malam ketika berdiri di sana dengan sandal rumah, koper kecil, uang seratus delapan puluh ribu rupiah, dan hati yang terasa seperti sudah kehilangan segalanya.

Lampu berubah hijau.

Mobil mulai bergerak.

Aku tidak menoleh lagi.

Karena akhirnya aku memahami sesuatu.

Malam ketika Raka mengunciku di luar rumah bukanlah malam ketika aku kehilangan keluarga.

Itu adalah malam ketika sebuah pagar ditutup di belakangku agar aku berhenti mengetuk pintu yang salah dan akhirnya pulang kepada diriku sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang