SUAMIKU SENGAJA MENYEMBUNYIKANKU DARI PESTA MEWAH KARENA KELUARGANYA MENGANGGAPKU KAMPUNGAN.

“Jangan datang ke Puncak akhir pekan ini. Mama mendadak sakit dan harus dibawa ke Surabaya.”

Pesan dari Dimas masuk pukul enam lewat dua belas menit pagi, tepat ketika Laras Ayuningrum sedang menuangkan kopi ke cangkirnya.

Laras sempat mengernyit. Dua hari sebelumnya, Mama Ratna masih mengirim pesan di grup keluarga tentang katering dan dekorasi pernikahan Nadia, adik Dimas. Namun Laras tidak langsung curiga. Ia justru bertanya apakah perlu ikut ke Surabaya.

“Tidak usah. Aku yang urus. Kamu banyak kerjaan, kan?”

Laras akhirnya mengalah.

Ia bahkan mentransfer dua puluh juta rupiah ke rekening Dimas.

“Untuk biaya rumah sakit Mama. Kalau kurang, bilang.”

Dimas membalas dengan emoji hati.

Siangnya, Laras bekerja dari rumah. Menjelang sore, ketika membuka Instagram, sebuah siaran langsung dari salah satu sepupu Nadia muncul di berandanya.

Awalnya Laras hampir melewatinya.

Sampai ia melihat wajah yang seharusnya berada di rumah sakit Surabaya.

Mama Ratna.

Perempuan itu duduk di sebuah resor mewah di Puncak, mengenakan kebaya modern berwarna champagne, tersenyum lebar sambil berbicara dengan beberapa tamu.

Laras memperbesar layar.

Di belakangnya berdiri Dimas.

Sehat.

Rapi.

Mengenakan setelan jas abu-abu.

Tidak ada rumah sakit.

Tidak ada Surabaya.

Tidak ada keadaan darurat.

Yang ada hanyalah pesta pernikahan Nadia.

Laras merasakan sesuatu jatuh di dalam dadanya.

Kemudian suara Mama Ratna terdengar dari siaran langsung.

“Laras tidak datang?”

Seseorang bertanya.

Mama Ratna tertawa kecil.

“Memang sengaja tidak diajak.”

Beberapa orang di sekitarnya ikut tersenyum.

“Laras itu sebenarnya baik,” lanjutnya. “Tapi kalian tahu sendiri, latar belakangnya biasa saja. Nadia menikah dengan keluarga besar. Kami tidak mau keluarga Bagas salah menilai.”

Laras tidak bergerak.

Delapan tahun.

Selama delapan tahun menikah dengan Dimas, ia sudah mendengar terlalu banyak kalimat serupa.

Pakainya terlalu sederhana.

Orang tuanya bukan siapa-siapa.

Pekerjaannya dianggap sekadar membuat iklan.

Cara bicaranya dianggap tidak mencerminkan keluarga berada.

Setiap kali Laras terluka, Dimas selalu memberikan jawaban yang sama.

“Mama memang begitu.”

“Nadia cuma bercanda.”

“Kamu jangan terlalu sensitif.”

Laras bertahan karena percaya pernikahan bukan hanya soal diterima keluarga pasangan. Ia berpikir selama Dimas mencintainya, semua hinaan itu masih bisa dihadapi.

Namun hari itu ia sadar sesuatu yang jauh lebih menyakitkan.

Dimas ikut berbohong.

Bukan karena ingin melindunginya.

Melainkan karena malu membawanya ke pesta.

Laras mematikan siaran langsung.

Anehnya, ia tidak menangis.

Ia membuka laptop dan masuk ke sistem keuangan PT Arunika Kreasi Nusantara.

Delapan tahun lalu, ketika menikah dengan Dimas, Arunika hanyalah agensi kreatif kecil dengan sebelas pegawai.

Sekarang perusahaan itu menangani kampanye berbagai merek nasional, memiliki lebih dari seratus karyawan, dan baru saja membuka kantor kedua di Jakarta Selatan.

Keluarga Dimas tidak pernah memahami seberapa besar perusahaan itu.

Mereka tidak pernah tertarik bertanya.

Bagi Mama Ratna, Laras hanyalah perempuan dari keluarga sederhana yang kebetulan punya usaha kecil.

Dimas sendiri mengetahui istrinya memiliki agensi, tetapi bahkan ia tidak pernah benar-benar memahami struktur keuangannya.

Termasuk satu hal penting.

Kartu premium yang selama tiga tahun terakhir ia gunakan merupakan kartu tambahan dari rekening korporasi milik Laras.

Laras membuka riwayat transaksi.

Hotel.

Dekorasi.

Katering.

Sewa kendaraan.

Perhiasan Nadia.

Uang muka resor.

Satu per satu muncul di layar.

Totalnya hampir enam ratus juta rupiah.

Tangan Laras berhenti di atas touchpad.

Selama ini Dimas selalu mengatakan kartu tersebut digunakan untuk “keperluan keluarga”.

Laras jarang memeriksa karena percaya kepadanya.

Ponselnya berbunyi.

Pesan dari Dimas.

“Sayang, Mama masih lemah. Aku mungkin pulang lusa. Jangan telepon dulu, ya. Kami sedang fokus merawat Mama.”

Laras membaca pesan itu lama.

Kemudian membalas.

“Baik.”

Setelah itu ia menelepon Sinta, kepala keuangan Arunika.

“Mbak Sinta, blokir kartu tambahan atas nama Dimas Pratama.”

Sinta terdiam beberapa detik.

“Sekarang, Bu?”

“Sekarang.”

“Ada beberapa transaksi besar yang belum diselesaikan.”

“Saya tahu.”

“Kalau kartunya diblokir, pembayaran final bisa gagal.”

Laras menatap foto Dimas yang masih terpajang di meja kerjanya.

“Itu tujuan saya.”

Di Puncak, tidak seorang pun menyadari apa yang baru saja terjadi.

Pesta berlangsung megah.

Sekitar dua ratus tamu memenuhi taman resor. Lampu-lampu gantung menyala di antara pepohonan. Musik dimainkan secara langsung. Nadia berkali-kali berfoto dengan cincin pernikahannya.

Mama Ratna terlihat sangat puas.

Keluarga Bagas memang memiliki bisnis properti yang cukup dikenal di Bogor. Sejak awal, Mama Ratna sangat ingin menunjukkan bahwa keluarga mereka setara.

“Untung Kak Dimas yang urus semuanya,” kata Nadia kepada beberapa temannya.

Mama Ratna tersenyum bangga.

“Dimas dari dulu memang paling bisa diandalkan. Anak laki-laki harus mampu menjadi tulang punggung keluarga.”

Dimas hanya tersenyum.

Sampai seorang manajer resor menghampirinya menjelang acara utama.

“Pak Dimas, mohon waktunya sebentar. Kami perlu menyelesaikan pembayaran akhir.”

“Berapa?”

Manajer itu menunjukkan angka di tablet.

Dimas mengeluarkan kartu premium dari dompetnya.

“Silakan.”

Mesin EDC berbunyi.

Transaksi ditolak.

Dimas mengerutkan kening.

“Coba lagi.”

Petugas mencoba sekali lagi.

Ditolak.

“Mesinnya bermasalah?”

“Mesin kami normal, Pak.”

Dimas mengeluarkan kartu pribadinya.

Kali ini muncul keterangan limit tidak mencukupi.

Wajahnya berubah.

Belum sempat ia mencari solusi, vendor dekorasi datang meminta pelunasan. Penyedia musik menyusul. Katering juga menagih pembayaran akhir.

Totalnya lebih dari dua ratus juta rupiah.

Nadia mulai panik.

“Kak, kenapa belum dibayar?”

“Sebentar.”

Mama Ratna mendekat.

“Pakai rekeningmu saja.”

Dimas menatap ibunya.

“Mama pikir aku punya dua ratus juta tunai sekarang?”

“Bukannya kartumu limitnya besar?”

Dimas diam.

Bisik-bisik mulai terdengar di sekitar mereka.

Seorang sepupu mencoba membantu dengan kartunya, tetapi limitnya hanya cukup untuk sebagian kecil tagihan.

Nadia mulai menangis.

“Kak, lakukan sesuatu. Keluarga Bagas ada di sini.”

Dimas akhirnya menjauh dan menelepon Laras.

Panggilan pertama tidak dijawab.

Kedua.

Ketiga.

Pada panggilan ketujuh, Laras mengangkat.

“Ya?”

“Laras, kartuku kenapa?”

Tidak ada pertanyaan tentang kabarnya.

Tidak ada permintaan maaf.

Laras menjawab tenang.

“Kartu apa?”

“Kartu yang biasa aku pakai.”

“Oh. Kartu tambahan perusahaan?”

Dimas terdiam.

“Kenapa ditolak?”

“Karena sudah saya blokir.”

“Apa?”

Beberapa tamu menoleh ketika suara Dimas meninggi.

“Kenapa kamu blokir?”

“Karena saya pemegang rekening utama.”

“Laras, jangan main-main. Aktifkan sekarang.”

“Untuk apa?”

“Ada kebutuhan keluarga.”

Laras memandang tangkapan layar siaran langsung yang tadi disimpannya.

“Untuk pengobatan Mama di Surabaya?”

Dimas langsung membeku.

“Laras, dengarkan dulu.”

“Saya sudah mendengarkan selama delapan tahun.”

“Ini tidak seperti yang kamu pikirkan.”

“Benarkah? Jadi Mama sebenarnya dirawat di rumah sakit sambil menghadiri pernikahan Nadia di Puncak?”

Dimas tidak menjawab.

“Kamu berbohong supaya saya tidak datang karena keluargamu malu mempunyai menantu seperti saya,” lanjut Laras. “Tapi kalian tidak malu menggunakan uang saya.”

“Ini bukan waktunya membicarakan itu.”

“Justru sekarang waktunya.”

Laras memutus sambungan.

Dimas menelepon lagi.

Kemudian Mama Ratna.

Lalu Nadia.

Laras tidak mengangkat.

Setengah jam kemudian, nomor asing masuk.

“Selamat malam. Apakah benar dengan Ibu Laras Ayuningrum?”

“Benar.”

“Saya Rendra, manajer keuangan resor. Pak Dimas memberikan nomor Ibu untuk konfirmasi pembayaran.”

Laras menutup mata sejenak.

Bahkan setelah semuanya terbongkar, Dimas masih menyerahkan tanggung jawab kepadanya.

“Pak Rendra, saya tidak pernah memesan acara tersebut dan tidak pernah menyetujui pembayaran menggunakan dana perusahaan.”

“Baik, Bu.”

“Silakan tagihkan kepada pihak yang menandatangani kontrak.”

Keesokan paginya, sebuah video dari pesta tersebar di media sosial.

Dalam video itu terlihat Dimas berdebat dengan petugas pembayaran sementara Nadia menangis dan Mama Ratna mencoba menenangkan keluarga besan.

Namun bagian yang membuat video itu ramai adalah percakapan di belakang kamera.

“Bukannya tadi katanya keluarga kalian yang membayar semuanya?”

Kemudian suara Dimas terdengar.

“Kartunya milik perusahaan istri saya.”

Seseorang langsung bertanya, “Istri yang katanya kampungan itu?”

Video berhenti.

Menjelang siang, Dimas pulang.

Laras sudah menunggunya di ruang makan.

“Kamu puas?” tanyanya sambil meletakkan koper dengan kasar.

“Puas dengan apa?”

“Keluargaku dipermalukan di depan dua ratus orang.”

Laras menatapnya tak percaya.

“Saya bahkan tidak berada di sana.”

“Tapi kamu sengaja memblokir kartu.”

“Karena kamu menggunakan uang perusahaan tanpa izin.”

“Aku suamimu.”

“Dan saya istrimu. Apakah itu memberi keluargamu hak untuk menghina saya?”

Dimas terdiam.

Laras mendorong sebuah map ke arahnya.

“Buka.”

Di dalamnya terdapat laporan audit internal.

Beberapa minggu sebelumnya, tim keuangan Arunika sebenarnya sudah memperingatkan Laras tentang transaksi tidak wajar pada kartu tambahan Dimas. Laras meminta mereka melakukan pemeriksaan diam-diam.

Sekarang hasilnya lengkap.

Liburan Mama Ratna.

Cicilan mobil Nadia.

Restoran.

Tas bermerek.

Perhiasan.

Biaya pesta.

Jumlah keseluruhannya lebih dari satu miliar rupiah.

Wajah Dimas kehilangan warna.

“Aku bisa jelaskan.”

“Silakan.”

“Aku cuma membantu keluarga.”

“Dengan uang perusahaan saya?”

“Nanti aku ganti.”

“Kapan?”

Dimas tidak menjawab.

Laras mengeluarkan dokumen berikutnya.

Surat pencabutan seluruh akses finansial Dimas.

Kemudian satu dokumen terakhir.

Permohonan perceraian.

Dimas berdiri begitu cepat hingga kursinya bergeser.

“Kamu mau cerai gara-gara pesta?”

“Bukan.”

Laras menatapnya lurus.

“Saya bercerai karena selama delapan tahun kamu membiarkan keluargamu merendahkan saya selama itu membuat hidupmu lebih nyaman.”

“Aku bisa berubah.”

“Kamu bahkan tidak meminta maaf sebelum tahu kartumu diblokir.”

Kalimat itu menghentikan Dimas.

Untuk pertama kalinya sejak pulang, ia tidak punya jawaban.

Proses perceraian berlangsung tiga bulan.

Mama Ratna beberapa kali datang ke rumah Laras.

Awalnya ia menangis.

Kemudian memohon.

Terakhir, ia marah.

Namun Laras akhirnya memahami bahwa ketakutan terbesar mantan ibu mertuanya bukan kehilangan menantu.

Ia takut audit tersebut dibawa ke ranah hukum.

Nadia juga mengirim pesan panjang.

“Kak Laras, kami memang salah. Tapi jangan hancurkan hidup Kak Dimas.”

Laras hanya menjawab satu kalimat.

“Aku tidak menghancurkan hidup siapa pun. Aku hanya berhenti membiayainya.”

Enam bulan kemudian, perusahaan tempat Dimas bekerja kehilangan kontrak pemasaran terbesar mereka dengan salah satu klien Arunika.

Bukan karena Laras ingin membalas dendam.

Kontrak itu memang berakhir dan hasil evaluasi menunjukkan vendor lain menawarkan kinerja lebih baik.

Namun kehilangan kontrak tersebut membuat posisi Dimas ikut dievaluasi.

Ia akhirnya diturunkan dari jabatan direktur pemasaran.

Pada saat yang sama, Arunika mendapatkan dua klien internasional baru.

Suatu malam, Laras menghadiri penghargaan industri kreatif di sebuah hotel di Jakarta.

Ia mengenakan gaun hitam sederhana.

Tidak ada perhiasan mahal.

Tidak ada tas mencolok.

Ketika namanya diumumkan sebagai salah satu pendiri agensi perempuan paling berpengaruh tahun itu, tepuk tangan memenuhi ruangan.

Saat turun dari panggung, seseorang menghampirinya.

Bagas.

Suami Nadia.

“Mbak Laras.”

Laras tersenyum sopan.

Bagas terlihat canggung.

“Saya baru tahu beberapa bulan setelah pernikahan kalau Arunika milik Mbak.”

“Lalu?”

Bagas menghela napas.

“Keluarga Nadia bilang Mbak cuma pegawai di agensi kecil.”

Laras tersenyum tipis.

Bagas kemudian mengatakan sesuatu yang membuatnya benar-benar terdiam.

“Ayah saya sebenarnya sudah tiga tahun mencoba mendapatkan kesempatan bekerja sama dengan Arunika.”

Laras menoleh.

“Serius?”

Bagas mengangguk.

“Mama Ratna takut keluarga kami malu kalau tahu latar belakang Mbak. Padahal kalau ayah saya tahu pemilik Arunika adalah kakak ipar saya, mungkin beliau justru orang pertama yang meminta diperkenalkan.”

Untuk beberapa detik, Laras tidak tahu harus tertawa atau merasa sedih.

Akhirnya ia hanya berkata, “Lucu juga.”

Bagas mengangguk.

“Lucu, kalau bukan karena semuanya sudah terlambat.”

Laras meninggalkan hotel tidak lama kemudian.

Jakarta baru saja diguyur hujan. Aspal memantulkan cahaya gedung dan kendaraan yang melintas.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari Dimas.

“Aku masih berharap suatu hari kita bisa bicara lagi. Sekarang aku sadar apa yang sudah hilang.”

Laras membaca pesan itu.

Dulu, kalimat seperti itu mungkin akan membuatnya menangis.

Malam itu tidak.

Ia menghapus pesan tersebut, memasukkan ponsel ke dalam tas, lalu berjalan menuju mobil.

Bukan karena membenci Dimas.

Ia hanya sudah memahami sesuatu yang seharusnya ia pahami sejak lama.

Harga diri tidak seharusnya dibayar untuk mendapatkan tempat di meja orang lain.

Selama delapan tahun, Laras berpikir ia sedang mempertahankan pernikahan.

Padahal sedikit demi sedikit ia sedang mengorbankan dirinya sendiri agar diterima oleh orang-orang yang tidak pernah berniat menerimanya.

Malam ketika kartu Dimas ditolak di depan dua ratus tamu memang menjadi malam paling memalukan bagi keluarga itu.

Namun bagi Laras, malam tersebut memiliki arti yang sama sekali berbeda.

Itulah malam ketika untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, ia berhenti membayar orang lain untuk merendahkan dirinya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang