ISTRI MENGALAMI KECELAKAAN, SUAMI MEMBAWANYA PULANG KE KAMPUNG DAN MENITIPKANNYA KEPADA ORANG TUANYA UNTUK DIRAWAT.

Ardi berdiri di dekat gerbang seperti seseorang yang baru saja salah memasuki rumah.

Tatapannya tidak lepas dari Maya.

Lima bulan lalu, perempuan itu bahkan membutuhkan bantuan untuk sekadar berpindah dari ranjang ke kursi roda. Kini Maya berdiri beberapa meter di depannya dengan punggung tegak. Langkahnya memang belum sempurna, tetapi tidak ada lagi ketakutan di wajahnya.

Yang paling asing bagi Ardi justru bukan cara Maya berjalan.

Melainkan cara Maya memandangnya.

Tidak ada kerinduan.

Tidak ada kegembiraan.

Maya berhenti di teras sambil memegang map cokelat yang baru saja diberikan ayahnya.

“Kamu sudah datang,” katanya datar.

Ardi berusaha tersenyum.

“Iya. Aku berangkat pagi sekali. Macet di beberapa tempat.”

Maya hanya mengangguk.

Ardi melirik Dimas yang berdiri tidak jauh dari sana.

“Dia siapa?”

“Dimas,” jawab Maya. “Dia yang membantu terapiku selama beberapa bulan terakhir.”

Ardi mengerutkan kening.

“Setiap hari?”

Nada suaranya membuat Dimas menoleh, tetapi laki-laki itu tidak mengatakan apa pun.

Maya justru tersenyum tipis.

“Hampir setiap hari.”

Entah mengapa, jawaban itu membuat dada Ardi panas.

Selama lima bulan dia hampir tidak pernah memikirkan siapa yang membantu Maya mandi, berdiri, berjalan, atau pergi ke rumah sakit. Namun sekarang, ketika melihat ada laki-laki lain yang menemani istrinya, rasa tidak nyaman mendadak muncul.

“Aku datang untuk menjemputmu,” kata Ardi. “Barangmu sudah siap?”

Maya menatapnya beberapa detik.

“Masuk dulu.”

Di ruang tamu, suasana terasa jauh lebih dingin daripada yang dibayangkan Ardi.

Ayah Maya duduk di kursi dekat jendela. Ibunya keluar membawa teh, meletakkannya di meja, lalu kembali ke dapur tanpa banyak bicara.

Biasanya kedua mertuanya memperlakukan Ardi dengan sangat ramah.

Kali ini berbeda.

Ardi mencoba mencairkan suasana.

“Alhamdulillah Maya sudah jauh lebih baik. Saya memang sengaja membiarkan dia lama di sini supaya pemulihannya maksimal.”

Ayah Maya menatapnya.

“Membiarkan?”

Satu kata itu membuat Ardi salah tingkah.

“Maksud saya, saya pikir di sini lebih baik karena ada Bapak dan Ibu.”

“Begitu.”

Ardi segera mengalihkan pandangan.

Maya duduk perlahan di kursi seberangnya.

“Aku tidak akan kembali ke Jakarta hari ini.”

Ardi mengangkat kepala.

“Maksudmu?”

“Aku belum selesai.”

“Belum selesai apa? Kamu sudah bisa jalan. Dokter juga pasti bilang kondisimu membaik.”

“Bukan kakiku.”

Maya meletakkan map cokelat di atas meja.

“Pernikahan kita.”

Ruangan mendadak sunyi.

Ardi menatap map itu, lalu kembali menatap Maya.

“Apa maksudmu?”

Maya membuka map tersebut dan mengeluarkan beberapa lembar dokumen.

“Aku sudah mengajukan gugatan cerai.”

Wajah Ardi langsung berubah.

“Kamu gila?”

Suara itu begitu keras hingga ibu Maya keluar dari dapur.

Ardi berdiri.

“Lima bulan aku kerja di Jakarta, aku datang jauh-jauh ke sini untuk menjemputmu, lalu kamu bilang mau cerai?”

Maya tidak bergerak.

Justru ketenangannya membuat Ardi semakin marah.

“Karena laki-laki tadi?”

Dimas yang mendengar dari teras hendak masuk, tetapi ayah Maya mengangkat tangan, memintanya tetap di luar.

Maya menggeleng.

“Jangan libatkan Dimas. Keputusan ini tidak ada hubungannya dengan dia.”

“Lalu kenapa?”

Maya menatap suaminya tepat di mata.

“Karena malam di rumah sakit itu aku mendengar semuanya.”

Ardi terdiam.

Wajahnya menegang.

Maya melanjutkan.

“Aku dengar kamu menelepon temanmu. Kamu bilang merawatku hanya akan menghabiskan waktu dan uang. Kamu bilang lebih baik membawaku ke kampung supaya orang tuaku yang mengurus.”

Ardi membuka mulut, tetapi Maya tidak memberinya kesempatan.

“Dan aku dengar kalimat terakhir.”

Napas Maya sedikit bergetar.

“Kamu bilang kamu masih muda dan harus memikirkan masa depanmu.”

Ardi duduk kembali.

“Itu cuma karena aku panik.”

“Benarkah?”

“Iya. Aku stres. Dokter bilang delapan bulan. Aku harus kerja. Biaya rumah sakit juga besar.”

Maya tertawa kecil, tetapi matanya mulai basah.

“Aku juga panik ketika kamu kehilangan pekerjaan tiga tahun lalu.”

Ardi diam.

“Aku tidak mengirimmu pulang ke rumah orang tuamu.”

Maya menarik napas.

“Aku kerja lebih banyak.”

Ardi menunduk.

“Ketika kamu demam berdarah dan dirawat seminggu, aku juga capek. Aku bahkan tidur di kursi rumah sakit.”

“Maya…”

“Ketika ibumu membutuhkan uang untuk operasi mata, siapa yang mengambil uang dari tabungan?”

Ardi tidak menjawab.

“Aku.”

Maya menunjuk dirinya sendiri.

“Tapi ketika aku yang tidak bisa berjalan, baru satu malam saja kamu sudah memikirkan bagaimana caranya supaya aku tidak menjadi tanggung jawabmu.”

Suasana ruang tamu menjadi sangat sunyi.

Untuk pertama kalinya Ardi tidak memiliki jawaban.

Namun beberapa detik kemudian, pertahanan dirinya muncul kembali.

“Aku tetap mengirim uang.”

Maya mengangguk.

“Benar.”

Dia mengambil beberapa lembar kertas lain.

“Bulan pertama satu juta lima ratus ribu. Bulan kedua satu juta. Bulan ketiga tidak ada. Bulan keempat tujuh ratus lima puluh ribu. Bulan kelima tidak ada.”

Ardi terlihat kesal.

“Aku juga punya kebutuhan.”

“Aku tahu.”

Maya menatapnya.

“Itulah sebabnya aku berhenti berharap.”

Ardi mengusap wajah.

“Oke. Aku salah. Aku minta maaf. Sekarang kita pulang dan bicarakan semuanya di Jakarta.”

Maya menggeleng.

“Tidak ada yang perlu dibicarakan.”

Ardi menatapnya tidak percaya.

“Kamu mau membuang enam tahun pernikahan begitu saja?”

Kalimat itu membuat Maya tersenyum getir.

“Yang membuangnya bukan aku.”

Ardi terdiam.

Kemudian pandangannya jatuh pada map tersebut.

Ada sesuatu yang baru terlintas dalam pikirannya.

“Kalau kita cerai, bagaimana dengan tabungan rumah?”

Maya tidak langsung menjawab.

Pertanyaan itu justru membuat ayah Maya menghela napas panjang.

Maya membuka bagian lain dari map.

“Ini yang sebenarnya ingin kubicarakan.”

Ardi mendekat.

Selama beberapa tahun, mereka memang memiliki rekening tabungan bersama yang menurut Ardi digunakan untuk membeli rumah.

Namun sebagian besar uang di rekening tersebut berasal dari penghasilan Maya.

Ardi tidak pernah benar-benar memeriksa jumlahnya.

Dia hanya tahu Maya rajin menabung.

“Aku sudah menghitung semua pemasukan,” kata Maya. “Termasuk uang yang kamu masukkan dan uang yang aku masukkan.”

Ardi mulai gelisah.

“Terus?”

“Bagianmu sudah aku pisahkan.”

Maya menyerahkan selembar bukti transfer.

Ardi melihat angkanya.

Jumlahnya tidak sebesar yang dia bayangkan.

“Kok cuma segini?”

“Karena memang segitu kontribusimu.”

“Mana mungkin!”

“Aku punya seluruh catatannya.”

Maya mengeluarkan beberapa lembar mutasi rekening.

Ardi membolak-baliknya dengan cepat.

Hampir setiap bulan, setoran terbesar memang berasal dari Maya.

Bahkan dalam beberapa bulan terakhir sebelum kecelakaan, Ardi tidak memasukkan uang sama sekali.

Sebaliknya, dia beberapa kali meminta Maya menanggung biaya kontrakan karena mengaku sedang banyak kebutuhan.

“Tapi kita suami istri,” katanya. “Itu uang bersama.”

“Dan karena itu aku mengembalikan seluruh uang yang memang kamu masukkan. Aku bahkan tidak memperhitungkan biaya rumah tangga yang selama ini lebih banyak kutanggung.”

Ardi meletakkan kertas itu dengan kasar.

“Jadi sekarang kamu merasa hebat karena punya uang?”

Maya menatapnya.

“Tidak.”

Suara Maya sangat tenang.

“Aku hanya akhirnya tahu bahwa punya uang sendiri membuatku tidak harus bertahan bersama orang yang tidak menginginkanku ketika aku sedang tidak berguna baginya.”

Kalimat itu membuat Ardi terdiam.

Namun kejutan sebenarnya belum selesai.

Ayah Maya kemudian berdiri dan mengambil sebuah amplop putih dari lemari.

“Berikan sekalian,” katanya.

Maya menerima amplop itu.

Di dalamnya terdapat beberapa lembar dokumen dan sebuah foto rumah kecil bergaya modern.

Ardi mengenali kawasan itu.

Sebuah perumahan baru di Sleman yang pernah mereka lihat melalui internet.

“Kamu beli rumah?”

Maya mengangguk.

“Dua bulan lalu.”

Ardi membelalak.

“Dengan uang tabungan kita?”

“Tabunganku.”

Ardi tertawa tidak percaya.

“Kamu bahkan belum bekerja lagi!”

Maya menatap Dimas yang masih berada di teras, lalu kembali menatap Ardi.

“Selama pemulihan aku mulai menerima pekerjaan dari rumah.”

Sebelum kecelakaan, Maya bekerja sebagai desainer interior di sebuah perusahaan kecil di Jakarta. Selama tinggal di Yogyakarta, mantan atasannya beberapa kali meminta bantuan Maya mengerjakan desain secara daring.

Dari satu proyek menjadi tiga.

Dari tiga menjadi tujuh.

Salah satu desain Maya bahkan direkomendasikan kepada pengembang properti lokal.

Tanpa pernah diceritakannya kepada Ardi, Maya mendapatkan kontrak kerja jarak jauh selama satu tahun.

Penghasilannya sekarang bahkan lebih tinggi daripada sebelum kecelakaan.

“Aku membayar uang muka rumah dari tabunganku sendiri,” lanjut Maya. “Sisanya dicicil dari penghasilanku.”

Ardi tidak berkata apa-apa.

Ironinya terlalu besar.

Rumah yang selama enam tahun diimpikan Maya akhirnya benar-benar ada.

Hanya saja, Ardi tidak lagi menjadi bagian dari rumah itu.

“Jadi semua ini sudah kamu rencanakan?” tanyanya lirih.

Maya menggeleng.

“Tidak.”

Dia menatap kakinya.

“Awalnya aku cuma ingin sembuh.”

Kemudian dia menatap Ardi kembali.

“Tapi selama belajar berjalan, aku juga belajar sesuatu.”

“Apa?”

“Kadang kita terlalu takut kehilangan seseorang sampai tidak sadar bahwa sebenarnya dia sudah meninggalkan kita lebih dulu.”

Ardi menelan ludah.

Untuk pertama kalinya sejak datang, kemarahannya mulai berubah menjadi ketakutan.

Dia menatap Maya lebih lama.

Perempuan di depannya masih perempuan yang sama yang dahulu selalu menyiapkan kopi sebelum dia berangkat kerja. Perempuan yang menunggu hingga tengah malam ketika dia lembur. Perempuan yang hampir tidak pernah membantahnya.

Namun sesuatu di dalam diri Maya telah berubah.

Dan Ardi tahu perubahan itu tidak bisa dikembalikan.

“Aku bisa berubah,” katanya.

Maya terdiam.

“Aku serius. Kita mulai lagi. Aku pindah ke Yogya kalau perlu.”

Maya menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

Lima bulan lalu, mungkin dia akan melakukan apa saja untuk mendengar kalimat itu.

Sekarang justru terasa terlambat.

“Kalau hari ini aku masih duduk di kursi roda, apakah kamu akan mengatakan hal yang sama?”

Ardi membeku.

Pertanyaan sederhana itu menghancurkan seluruh alasan yang hendak diucapkannya.

Maya tersenyum tipis.

“Aku sudah tahu jawabannya.”

Ardi menunduk.

Beberapa menit kemudian dia berdiri.

Tidak ada lagi yang bisa diperdebatkan.

Sebelum pergi, Ardi berhenti di dekat pintu.

Dia melihat Dimas berdiri di halaman.

“Kamu senang sekarang?” tanyanya tajam.

Dimas mengerutkan kening.

“Kenapa saya harus senang?”

“Kamu mendapatkan Maya.”

Dimas menatap Ardi beberapa detik sebelum menjawab.

“Saya tidak mendapatkan siapa-siapa.”

Ardi terdiam.

“Saya cuma membantu dia berjalan lagi. Ke mana dia mau melangkah setelah ini, itu keputusan dia sendiri.”

Jawaban itu justru terasa lebih menyakitkan daripada hinaan.

Ardi berjalan menuju mobilnya tanpa menoleh lagi.

Namun sebelum membuka pintu mobil, dia mendengar suara Maya memanggil.

“Ardi.”

Harapan kecil muncul di dadanya.

Dia berbalik.

Maya berdiri di teras.

“Ada satu hal lagi.”

Ardi menunggu.

“Terima kasih sudah membawaku pulang ke sini lima bulan lalu.”

Ardi mengerutkan kening.

Maya tersenyum.

“Bukan karena itu keputusan yang benar sebagai suami.”

Dia berhenti sebentar.

“Tapi karena tanpa kamu sadari, kamu membawaku kembali ke tempat di mana aku belajar menghargai diriku sendiri.”

Ardi tidak mampu menjawab.

Dia masuk ke mobil dan pergi.

Tiga bulan kemudian, perceraian mereka resmi diputus.

Maya tidak langsung memulai hubungan dengan Dimas seperti yang sempat dituduhkan Ardi.

Dia memilih menyelesaikan pemulihannya terlebih dahulu.

Enam bulan setelah Ardi datang menjemputnya, Maya akhirnya bisa berjalan tanpa tongkat.

Pada hari pertama dia memasuki rumah barunya, ayah dan ibunya berdiri di depan pintu sambil menahan air mata.

Dimas datang membawa sebuah tanaman kecil sebagai hadiah.

“Biar rumahnya nggak sepi,” katanya.

Maya tertawa.

“Kalau mati bagaimana?”

“Berarti kamu nggak cocok merawat tanaman.”

Maya memukul lengannya pelan.

Mereka tertawa bersama.

Tidak ada janji cinta.

Tidak ada pengakuan dramatis.

Hanya dua orang yang berdiri di teras rumah kecil pada sore yang hangat.

Beberapa bulan kemudian, barulah Dimas meminta izin untuk mengenal Maya bukan sebagai pasien, melainkan sebagai seorang perempuan.

Maya tidak langsung menjawab.

Namun kali ini dia tidak takut membuka hati.

Sementara itu di Jakarta, kehidupan Ardi justru berubah dengan cara yang tidak pernah dia bayangkan.

Perusahaan tempatnya bekerja melakukan pengurangan karyawan.

Namanya termasuk dalam daftar pegawai yang diberhentikan.

Untuk beberapa waktu dia menganggur.

Suatu malam, sendirian di kamar kontrakan yang dulu ditempatinya bersama Maya, Ardi membuka ponselnya.

Tanpa sengaja dia menemukan foto lama.

Maya sedang tertidur di sofa sambil memegang laptop.

Foto itu diambil ketika Ardi kehilangan pekerjaan tiga tahun sebelumnya.

Saat itu Maya bekerja sampai larut malam mengambil proyek tambahan agar mereka tetap bisa membayar kontrakan.

Ardi menatap foto tersebut lama sekali.

Barulah saat itu dia memahami kenyataan yang selama ini tidak pernah ingin dilihatnya.

Ketika dirinya jatuh, Maya tidak pernah bertanya berapa lama dia akan menjadi beban.

Maya hanya bertanya apa yang bisa dia lakukan agar mereka melewatinya bersama.

Sedangkan ketika Maya jatuh, Ardi justru menghitung berapa banyak uang yang akan habis untuk membuatnya berdiri kembali.

Air mata yang selama ini tidak pernah keluar akhirnya jatuh.

Tetapi penyesalan selalu memiliki satu kelemahan.

Ia sering datang setelah sesuatu tidak lagi bisa diperbaiki.

Di Yogyakarta, pada pagi yang sama, Maya membuka pintu rumahnya dan melangkah keluar tanpa tongkat.

Langkah pertamanya masih sedikit kaku.

Langkah kedua lebih mantap.

Lalu langkah ketiga.

Dimas menunggunya di ujung halaman sambil tersenyum.

Maya berhenti dan menatap kedua kakinya.

Dulu dokter mengatakan dia membutuhkan delapan bulan untuk pulih.

Ternyata yang benar-benar membutuhkan waktu lebih lama bukanlah kakinya.

Melainkan hatinya.

Maya mengangkat wajah, menarik napas panjang, lalu melangkah lagi.

Kali ini tanpa seseorang menopangnya.

Karena akhirnya dia memahami bahwa sembuh bukan berarti kembali menjadi diri kita yang dulu.

Kadang sembuh berarti memiliki keberanian untuk menjadi seseorang yang sama sekali baru.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang