Malam pertama aku menyadari kebiasaan itu terjadi secara tidak sengaja.
Aku terbangun sekitar pukul dua dini hari karena ingin minum.
Saat tanganku meraba sisi tempat tidur, aku menemukan tempat Ardi kosong.
Awalnya aku tidak curiga.
Kupikir dia pergi ke kamar mandi.
Namun lampu kamar mandi tidak menyala.
Aku baru saja hendak kembali tidur ketika terdengar suara pintu dibuka perlahan dari arah lorong.
Aku bangkit dan mengintip dari celah pintu kamar.
Dalam cahaya redup lampu malam, aku melihat Ardi keluar dari kamar Alya.
Langkahnya sangat pelan.
Dia menutup pintu kamar putriku tanpa menimbulkan suara, lalu berjalan kembali ke kamar kami.
Ketika melihatku duduk di tepi ranjang, wajahnya sempat berubah.
“Kamu belum tidur?”
Aku menatapnya.
“Kamu dari kamar Alya?”
Ardi diam sepersekian detik sebelum mengangguk.
“Dia menangis lagi.”
“Kenapa aku tidak dengar?”
“Mungkin kamu terlalu capek.”
Jawabannya masuk akal.
Setidaknya saat itu aku mencoba meyakinkan diriku sendiri bahwa semuanya memang masuk akal.
Ardi berbaring dan beberapa menit kemudian terdengar napasnya yang teratur.
Tapi aku tidak bisa tidur.
Ada sesuatu pada ekspresi wajahnya tadi.
Bukan ekspresi seorang ayah yang baru selesai menenangkan anak yang ketakutan.
Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya.
Yang kutahu hanya satu.
Jantungku terus berdetak terlalu cepat.
Keesokan paginya aku bertanya kepada Alya.
“Semalam Ayah Ardi masuk kamar kamu?”
Sendok yang dipegang Alya berhenti di udara.
Wajahnya langsung pucat.
Hanya sepersekian detik.
Kemudian dia menundukkan kepala.
“Alya enggak ingat.”
Aku terpaku.
“Kamu mimpi buruk lagi?”
Alya mengangguk.
“Terus Ayah Ardi menenangkan kamu?”
Tidak ada jawaban.
Aku mengulurkan tangan ingin menyentuh rambutnya.
Alya mendadak berdiri.
“Alya mau sekolah.”
Dia bahkan meninggalkan sarapannya.
Hari itu aku tidak bisa berkonsentrasi bekerja.
Aku adalah staf administrasi di sebuah perusahaan logistik di Surabaya. Biasanya aku bisa menyelesaikan puluhan laporan tanpa kesalahan.
Namun hari itu, aku salah memasukkan angka tiga kali.
Pikiranku hanya tertuju pada wajah Alya.
Ketakutannya ketika aku menyebut nama Ardi.
Malam berikutnya aku sengaja berpura-pura tidur.
Sekitar pukul satu lewat empat puluh menit, Ardi bergerak.
Aku tetap menutup mata.
Dia duduk perlahan, mengambil ponselnya, lalu keluar dari kamar.
Aku menunggu sekitar satu menit sebelum mengikutinya.
Dari ujung lorong, aku melihatnya masuk ke kamar Alya.
Pintu ditutup.
Aku berdiri terpaku.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Lima belas menit.
Ardi belum keluar.
Tanganku mulai dingin.
Aku ingin langsung membuka pintu.
Tapi entah kenapa tubuhku tidak bergerak.
Setelah hampir dua puluh menit, pintu terbuka.
Aku buru-buru bersembunyi di balik dinding.
Ardi kembali ke kamar tanpa menyadari bahwa aku melihatnya.
Pagi harinya Alya kembali mengompol.
Saat aku mengganti seprai, aku menemukan sesuatu di bawah tempat tidurnya.
Sebuah bungkus obat kecil.
Tidak ada nama.
Hanya plastik transparan dengan sisa serbuk putih di bagian sudutnya.
Darahku seperti berhenti mengalir.
Aku memasukkan plastik itu ke dalam tas.
Sepanjang hari aku mencari informasi.
Sore harinya aku membawanya ke apotek milik teman lamaku, Dina.
Dia memeriksa sisa serbuk tersebut dengan hati-hati.
“Aku enggak bisa memastikan tanpa tes laboratorium,” katanya. “Tapi bentuknya mirip obat yang dihancurkan.”
“Obat apa?”
Dina menatapku serius.
“Bisa banyak kemungkinan. Obat tidur juga bisa.”
Aku hampir menjatuhkan kursi.
“Obat tidur?”
“Kenapa kamu punya ini?”
Aku tidak menjawab.
Malam itu, ketika pulang, Ardi terlihat biasa saja.
Dia membawakan martabak favoritku.
Dia bahkan membantu Alya mengerjakan PR matematika di meja makan.
Jika orang lain melihat kami, mereka pasti akan berpikir kami keluarga sempurna.
Itulah yang membuatku semakin takut.
Orang yang sedang kuamati ini adalah laki-laki yang setiap hari mencium keningku sebelum bekerja.
Laki-laki yang tiga tahun lalu berjanji akan menjaga putriku seperti anaknya sendiri.
Aku tidak ingin mempercayai kecurigaanku.
Namun sebagai seorang ibu, aku lebih takut mengabaikan sesuatu daripada menemukan kenyataan yang menyakitkan.
Dua hari kemudian, saat Ardi bekerja, aku membeli kamera kecil.
Aku memasangnya di rak buku Alya, tersembunyi di antara beberapa boneka.
Tanganku gemetar sepanjang waktu.
Aku merasa bersalah.
Seolah aku sedang mengkhianati suamiku sendiri.
Namun ketika melihat Alya tidur malam itu dengan tubuh meringkuk sambil memeluk bantal erat-erat, rasa bersalah itu menghilang.
Aku hanya ingin mengetahui kebenaran.
Sekitar pukul dua pagi, Ardi kembali bangun.
Aku mendengarnya pergi.
Kali ini aku tidak mengikuti.
Aku berbaring sambil menatap langit-langit kamar.
Dua puluh lima menit kemudian Ardi kembali.
Dia tidur seperti tidak terjadi apa-apa.
Aku menunggu sampai hampir pukul empat.
Ketika yakin Ardi benar-benar tertidur, aku mengambil ponsel dan membuka rekaman kamera.
Beberapa menit pertama hanya memperlihatkan Alya tidur.
Kemudian pintu terbuka.
Ardi masuk.
Aku langsung merasa mual.
Dia mendekati tempat tidur Alya.
Putriku terlihat bangun dan langsung menarik selimut sampai menutupi tubuhnya.
Aku menahan napas.
Ardi duduk di tepi tempat tidur.
Dia mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.
Sebuah botol kecil.
Aku memperbesar layar.
Tanganku mulai gemetar hebat.
Ardi menuangkan sesuatu ke dalam gelas air di meja Alya.
Kemudian dia mengaduknya.
Aku hampir muntah.
Di dalam video, Alya menggeleng berkali-kali.
Suara dari kamera cukup jelas.
“Alya enggak mau minum.”
Ardi berbicara pelan.
“Kalau kamu enggak minum, nanti kamu bakal mimpi buruk lagi.”

“Enggak mau.”
“Minum sedikit saja.”
“Alya mau Mama.”
Ardi langsung menoleh ke pintu.
Kemudian dia merendahkan suaranya.
“Jangan bangunkan Mama. Mama capek.”
Alya mulai menangis.
Dan kemudian sesuatu terjadi yang sama sekali tidak kuduga.
Ardi tidak menyentuhnya.
Tidak membentaknya.
Dia justru mengambil sebuah ponsel lama dari laci meja Alya dan menyalakan sebuah video.
Dalam video tersebut terdengar suara laki-laki.
Suara yang membuat seluruh tubuhku membeku.
Aku mengenal suara itu.
Itu suara Bima.
Mantan suamiku.
Ayah biologis Alya.
Aku menghentikan rekaman.
Dadaku sesak.
Bagaimana mungkin?
Aku memutar kembali.
Suara Bima terdengar dari ponsel.
“Alya, Ayah sayang kamu. Tapi jangan bilang Mama kalau Ayah sering telepon.”
Alya menangis semakin keras.
“Alya mau ketemu Ayah.”
Kemudian terdengar suara Bima lagi.
“Nanti. Kalau Mama sudah enggak marah sama Ayah.”
Aku hampir tidak bisa bernapas.
Bima tidak pernah menghubungi kami selama delapan tahun.
Setidaknya itulah yang kukira.
Aku melanjutkan video.
Ardi mematikan ponsel.
“Alya, sudah berapa kali Ayah bilang jangan buka video ini sendiri?”
“Ayah Bima bilang dia mau jemput Alya.”
Ardi memejamkan mata.
Wajahnya terlihat sangat lelah.
“Ayah Bima bohong.”
“Jangan bilang begitu!”
Alya berteriak.
Kemudian Ardi mengambil gelas tadi.
“Ini bukan obat jahat. Ini obat dari dokter supaya kamu bisa tidur.”
Aku menutup mulut.
Jadi benar.
Ardi memberi Alya obat.
Tetapi mengapa?
Keesokan paginya, aku membawa Alya ke rumah ibuku dan menitipkannya di sana.
Kemudian aku menunggu Ardi pulang.
Begitu dia masuk, aku meletakkan bungkus obat dan ponsel lama itu di meja.
Wajahnya langsung berubah.
“Kita bicara sekarang.”
Ardi menatapku lama.
“Kamu pasang kamera?”
“Jawab aku.”
Dia duduk perlahan.
“Apa yang kamu kasih ke Alya?”
“Obat dari dokter.”
“Dokter siapa?”
“Dokter anak.”
Aku hampir berteriak.
“Kapan kamu membawa anakku ke dokter tanpa bilang aku?”
“Karena kamu tidak mau mendengar!”
Aku terpaku.
Itulah pertama kalinya Ardi membentakku.
Dia mengusap wajahnya.
“Kamu tahu kenapa Alya mulai mengalami serangan panik?”
Aku tidak menjawab.
“Bima menghubunginya.”
Dunia terasa berhenti.
“Apa?”
“Sekitar empat bulan lalu.”
Ternyata Bima menemukan akun permainan daring yang digunakan Alya.
Dia mulai mengirim pesan.
Awalnya mengaku sebagai teman.
Kemudian perlahan-lahan memperkenalkan dirinya sebagai ayah kandungnya.
Dia mengatakan banyak hal kepada Alya.
Bahwa aku sengaja memisahkan mereka.
Bahwa aku membenci Bima.
Bahwa Ardi adalah alasan ayah kandungnya tidak pernah pulang.
“Kenapa kamu enggak bilang ke aku?” tanyaku dengan suara bergetar.
Ardi menatapku.
“Karena waktu pertama kali aku mau bilang, Alya memohon.”
“Alya anak kecil!”
“Aku tahu!”
“Kalau tahu, kenapa kamu menyembunyikannya?”
Ardi berdiri.
“Karena Bima mengancam.”
Aku membeku.
Ancaman itu bukan kepada Ardi.
Bima mengancam Alya.
Jika Alya memberitahuku tentang komunikasi mereka, Bima akan menghilang lagi dan menyalahkan Alya.
Sejak itu Alya hidup dalam rasa takut.
Dia ingin bertemu ayah kandungnya, tapi sekaligus takut kehilangan aku dan Ardi.
Tekanan itulah yang membuatnya sering terbangun, menangis, dan mengompol.
“Lalu obat itu?”
“Aku bawa dia ke dokter setelah serangan paniknya makin parah. Obatnya cuma digunakan kalau benar-benar perlu. Dosis kecil.”
“Tapi kenapa malam-malam? Kenapa diam-diam?”
Ardi menunduk.
“Karena aku bodoh.”
Aku terdiam.
“Aku pikir aku bisa menyelesaikannya sendiri. Aku ingin melindungi kamu dari Bima.”
Dia mengambil ponsel lama itu.
“Tiga malam lalu aku menemukan ini di bawah kasur Alya. Bima mengirimkannya lewat jasa kurir ke alamat sekolah.”
Aku merasa lututku lemas.
Ardi kemudian menunjukkan isi pesan di dalam ponsel tersebut.
Ada puluhan pesan dari Bima.
Dan pesan terakhir membuat darahku mendidih.
Besok malam, turun lewat pintu belakang. Ayah tunggu di ujung jalan. Kita pergi dari rumah itu.
Aku langsung menatap Ardi.
“Itu besok malam?”
Ardi menggeleng.
“Malam ini.”
Tanpa menunggu lagi, kami pergi menjemput Alya dari rumah ibuku.
Kemudian kami mendatangi kantor polisi.
Semua bukti diserahkan.
Pesan.
Rekaman.
Nomor telepon.
Alamat pengiriman.
Dan malam itu, polisi benar-benar menemukan Bima menunggu sekitar dua ratus meter dari rumah kami.
Di dalam mobilnya terdapat tas berisi pakaian anak, makanan, dan tiket perjalanan menuju luar kota.
Aku tidak tahu apa sebenarnya yang direncanakan Bima.
Dan aku tidak ingin membayangkannya.
Yang kutahu, sejak malam itu, semuanya berubah.
Aku meminta maaf kepada Alya.
Aku mengatakan kepadanya bahwa tidak ada orang dewasa yang boleh meminta seorang anak menyimpan rahasia yang membuatnya takut.
Aku juga meminta maaf kepada Ardi.
Namun Ardi justru berkata sesuatu yang tidak pernah kulupakan.
“Kamu enggak salah karena curiga sama aku.”
Aku menatapnya.
“Aku sendiri yang membuat semua gerak-gerikku terlihat mencurigakan.”
Dia tersenyum pahit.
“Melindungi keluarga bukan berarti menyimpan semuanya sendirian.”
Beberapa bulan kemudian, keadaan Alya perlahan membaik.
Kami membawanya ke psikolog anak.
Obat tidur tidak lagi digunakan.
Dia mulai berani tidur sendiri.
Dia juga tidak lagi mengompol.
Suatu malam, saat aku sedang mematikan lampu kamar Alya, dia memanggilku.
“Mama?”
“Iya?”
“Ayah Ardi benar-benar sayang Alya?”
Aku terdiam sejenak.
Kemudian aku duduk di sampingnya.
“Kenapa tanya begitu?”
Alya menatap pintu.
“Karena dulu Ayah Bima bilang Ayah Ardi cuma pura-pura baik.”
Aku merasakan dadaku sakit.
Sebelum aku sempat menjawab, terdengar suara dari luar kamar.
“Kalau mau tahu, tanyakan langsung.”
Ardi berdiri di pintu sambil membawa segelas susu.
Alya tersenyum malu.
Ardi meletakkan gelas di meja.
Kemudian dia berjongkok di samping tempat tidur.
“Ayah enggak bisa janji bakal selalu sempurna,” katanya. “Ayah juga bisa salah. Bisa marah. Bisa bikin keputusan bodoh.”
Alya menatapnya serius.
“Tapi Ayah bisa janji satu hal.”
“Apa?”
“Kalau kamu takut, jangan simpan sendiri. Cerita ke Mama. Cerita ke Ayah. Jangan pernah percaya kalau ada orang yang bilang kamu harus merahasiakan sesuatu dari kami karena takut ditinggalkan.”
Alya mengangguk.
Lalu tiba-tiba dia memeluk Ardi.
Aku berdiri beberapa langkah dari mereka sambil menahan air mata.
Malam ketika aku memasang kamera tersembunyi, aku benar-benar yakin bahwa aku sedang bersiap menemukan sisi paling mengerikan dari laki-laki yang kunikahi.
Dan memang ada sesuatu yang mengerikan di dalam rekaman itu.
Hanya saja bukan Ardi.
Melainkan kenyataan bahwa ketakutan seorang anak bisa tumbuh begitu besar hanya karena orang dewasa memilih menggunakan cinta sebagai alat untuk mengendalikan.
Sejak saat itu aku memahami satu hal.
Seorang ibu tidak harus malu karena curiga ketika nalurinya mengatakan ada sesuatu yang salah.
Tetapi cinta juga tidak boleh membuat kita terlalu cepat menghukum seseorang sebelum mengetahui seluruh kebenaran.
Karena terkadang, orang yang tampak menyimpan rahasia sebenarnya sedang berusaha melindungi kita.
Dan orang yang mengaku paling menyayangi kita justru bisa menjadi orang yang paling lihai menggunakan rasa sayang itu untuk menyakiti.
