SELAMA 11 TAHUN AKU MEMBANTING TULANG DI SINGAPURA DEMI MEMBANGUNKAN RUMAH MEWAH UNTUK ORANG TUAKU.

Aku tidak tahu berapa lama aku berdiri di depan kandang itu.

Mungkin hanya beberapa detik.

Namun rasanya seperti seluruh hidupku berhenti di sana.

Sebelas tahun bekerja tanpa mengenal lelah, ribuan malam menahan rindu, jutaan rupiah yang kukirim setiap bulan, semuanya seperti runtuh dalam satu pandangan.

Aku berlutut di depan pintu kandang.

Tanganku gemetar hebat ketika mencoba membuka pengait besinya.

“Ibu… Bapak…”

Ibu Sari berusaha tersenyum, tetapi bibirnya begitu kering hingga pecah di beberapa bagian.

“Nadia benar-benar pulang?”

Aku tidak sanggup menjawab.

Aku hanya memeluk tubuhnya.

Tubuh yang dulu terasa hangat dan lembut itu kini begitu ringan hingga aku hampir tidak percaya sedang memeluk manusia hidup.

Tulang bahunya terasa jelas di telapak tanganku.

Bapak Hendra duduk di sampingnya. Wajahnya pucat, napasnya pendek, dan kedua kakinya tampak bengkak.

Sebagai perawat ICU, aku langsung tahu kondisi mereka tidak baik.

Sangat tidak baik.

“Sejak kapan kalian tinggal di sini?”

Ibu menunduk.

Belum sempat menjawab, suara langkah kaki terdengar dari belakang.

“Nadia, dengarkan Mas dulu.”

Aku menoleh.

Mas Arman berdiri beberapa meter dariku bersama Rina.

Aku bangkit perlahan.

“Apa yang harus kudengarkan?”

“Nggak seperti yang kamu pikirkan.”

Aku hampir tertawa mendengarnya.

Aku menunjuk kandang di belakangku.

“Ibu dan Bapak tinggal di kandang anjing, Mas. Apa lagi yang perlu kupikirkan?”

Rina maju satu langkah.

“Mereka sendiri yang memilih tinggal di belakang.”

Aku menatapnya tak percaya.

“Memilih?”

“Iya. Bapak sering ngompol. Ibu juga sudah pikun. Rumah jadi bau. Mereka lebih nyaman di tempat yang terbuka.”

Aku merasa darahku mendidih.

“Lebih nyaman?”

Aku membuka pintu kandang lebar-lebar.

Di dalam hanya ada dua kasur tipis yang sudah kotor, sebuah ember plastik, beberapa botol air, dan mangkuk berisi nasi basi.

“Ini yang kalian sebut nyaman?”

Mas Arman mencoba memegang lenganku.

Aku menepis tangannya.

“Jangan sentuh aku.”

“Nadia, kita keluarga. Jangan langsung menuduh.”

“Keluarga?”

Suaraku bergetar.

“Sebelas tahun aku mengirim uang supaya mereka hidup layak. Setiap bulan hampir seratus lima puluh juta. Kamu bilang mereka punya kamar besar, perawat, makanan bagus, mobil untuk kontrol rumah sakit. Sekarang jelaskan kepadaku kenapa mereka ada di sini.”

Mas Arman terdiam.

Rina justru menyilangkan tangan.

“Uang sebanyak itu bukan cuma untuk orang tuamu. Rumah sebesar ini juga perlu biaya.”

Aku menatapnya.

“Orang tuaku?”

Dua kata itu membuat Rina sadar telah mengatakan sesuatu yang salah.

“Maksudku orang tua kita.”

Aku tidak mau berdebat lagi.

Aku mengambil ponsel dan menghubungi ambulans.

Mas Arman langsung panik.

“Untuk apa ambulans?”

“Bapak sesak. Kakinya edema. Ibu mengalami dehidrasi dan kemungkinan malnutrisi berat.”

“Nggak perlu dibesar-besarkan.”

Aku menatap kakakku lurus-lurus.

“Kalau salah satu dari mereka meninggal karena kalian menelantarkan mereka, masalah ini akan jauh lebih besar daripada ambulans.”

Wajahnya langsung berubah.

Sekitar dua puluh menit kemudian, ambulans datang.

Aku ikut membawa Ibu dan Bapak ke rumah sakit.

Sebelum masuk kendaraan, aku sempat melihat Rina berbisik sesuatu kepada Mas Arman.

Keduanya tampak ketakutan.

Saat itu aku belum tahu apa yang sebenarnya mereka takutkan.

Di rumah sakit, dokter mengatakan kondisi Ibu dan Bapak jauh lebih buruk daripada perkiraanku.

Ibu mengalami malnutrisi, anemia, dan dehidrasi kronis.

Bapak menderita gagal jantung yang tidak terkontrol karena obat-obatannya sudah lama tidak dikonsumsi secara teratur.

Aku menatap dokter dengan dada sesak.

“Berapa lama kira-kira kondisi ini berlangsung?”

Dokter menarik napas.

“Bukan beberapa hari. Kemungkinan berbulan-bulan.”

Berbulan-bulan.

Aku keluar dari ruang pemeriksaan dan menangis di lorong rumah sakit.

Selama ini, ketika aku makan mi instan supaya bisa mengirim uang lebih banyak, orang tuaku kelaparan.

Ketika aku mengambil shift tambahan karena Mas Arman mengatakan biaya obat Bapak meningkat, Bapak justru tidak mendapatkan obat.

Ketika aku menangis bahagia mendengar Ibu makan makanan kesukaannya, mungkin Ibu sedang menatap nasi basi di kandang itu.

Malam itu aku duduk di samping ranjang Ibu.

Setelah kondisinya sedikit membaik, akhirnya dia mau bercerita.

Awalnya semuanya memang berjalan baik.

Ketika rumah selesai dibangun empat tahun lalu, Ibu dan Bapak mendapatkan kamar utama di lantai dua.

Mas Arman bersama Rina tinggal di lantai satu untuk menemani mereka.

Namun perlahan semuanya berubah.

Rina mulai membawa keluarganya tinggal di rumah.

Kamar demi kamar diberikan kepada saudara-saudaranya.

Kemudian bisnis Mas Arman mengalami kerugian.

Dia mulai menggunakan uang kirimanku untuk menutup utang.

“Kenapa Ibu tidak bilang kepadaku?”

Air mataku jatuh.

Ibu menggenggam tanganku.

“Kami mencoba.”

Aku terdiam.

“Bagaimana?”

“Nomor telepon kami diganti.”

Menurut Ibu, dua tahun lalu Mas Arman membelikan mereka ponsel baru. Setelah itu, setiap kali aku melakukan panggilan video, Mas Arman selalu berada di dekat mereka.

Aku baru menyadari sesuatu.

Memang benar.

Dalam dua tahun terakhir, panggilan video semakin jarang.

Mas Arman selalu mempunyai alasan.

Ibu sedang tidur.

Bapak sedang kontrol.

Internet bermasalah.

Ponsel rusak.

Ketika akhirnya bisa berbicara, percakapan selalu singkat.

Dan latar belakang kamera hampir selalu berupa dinding polos.

Aku mengira mereka berada di kamar.

Ternyata Mas Arman sengaja membawa mereka ke salah satu ruangan rumah sebelum panggilan video dimulai.

“Kalau kami mengatakan sesuatu,” bisik Bapak dari ranjang sebelah, “Arman bilang dia akan membuatmu berhenti mengirim uang.”

Aku mengepalkan tangan.

“Tapi kenapa sampai kandang?”

Bapak memejamkan mata.

“Tiga bulan lalu Bapak jatuh di kamar mandi.”

Setelah kejadian itu, Bapak kesulitan berjalan dan beberapa kali mengompol.

Rina marah karena lantai kamar kotor.

Mereka kemudian memindahkan Bapak ke gudang belakang.

Ibu menolak meninggalkan suaminya.

Akhirnya keduanya ditempatkan di kandang bekas anjing.

“Arman bilang cuma sementara,” kata Ibu.

Ternyata sementara itu berlangsung hampir tiga bulan.

Aku tidak tidur malam itu.

Pagi harinya, aku mulai melakukan sesuatu yang seharusnya kulakukan sejak bertahun-tahun lalu.

Memeriksa semuanya.

Aku membuka rekening bank dan mencetak seluruh riwayat transfer.

Jumlah uang yang kukirim kepada Mas Arman selama sebelas tahun membuatku sendiri terdiam.

Bukan hanya cukup untuk membangun rumah.

Jumlahnya lebih dari cukup untuk membuat Ibu dan Bapak hidup nyaman sampai akhir hayat.

Aku kemudian menghubungi kontraktor yang dulu membangun rumah.

Dari sanalah kebohongan berikutnya terbongkar.

Rumah itu memang dibangun menggunakan uangku.

Namun beberapa tahun setelah selesai, Mas Arman mengajukan pinjaman dengan menggunakan rumah tersebut sebagai jaminan.

Aku langsung menemui notaris yang namanya tercantum pada beberapa dokumen.

Dan di sanalah aku menemukan sesuatu yang lebih buruk.

Ada tanda tanganku pada surat kuasa.

Masalahnya, aku tidak pernah menandatangani surat itu.

“Ini bukan tanda tangan saya.”

Notaris itu terlihat gugup.

Dokumen tersebut menyatakan bahwa aku memberikan kuasa kepada Mas Arman untuk mengelola aset tertentu.

Aku meminta salinan semuanya.

Hari itu juga aku berkonsultasi dengan pengacara.

Semakin banyak dokumen diperiksa, semakin jelas bahwa masalah ini bukan sekadar penyalahgunaan uang keluarga.

Ada dugaan pemalsuan dokumen.

Ada transaksi mencurigakan.

Ada pinjaman.

Ada aset yang dibeli menggunakan uang kirimanku tetapi dicatat atas nama orang lain.

SUV hitam ternyata atas nama Rina.

Mobil sport atas nama Mas Arman.

Bahkan sebuah ruko di Bandung dibeli menggunakan sebagian uang yang kukirim untuk biaya pengobatan Bapak.

Aku merasa bodoh.

Namun pengacaraku mengatakan sesuatu yang membuatku berhenti menyalahkan diri sendiri.

“Kepercayaan bukan kebodohan, Bu Nadia. Yang salah adalah orang yang menyalahgunakan kepercayaan itu.”

Dua hari kemudian aku kembali ke rumah bersama pengacara.

Mas Arman sudah menungguku.

Rina berdiri di sampingnya.

“Kamu bawa pengacara?” tanyanya.

Aku meletakkan map tebal di atas meja.

“Aku cuma ingin bertanya sekali.”

Mas Arman menatapku.

“Ke mana semua uangku?”

Dia mengusap wajah.

“Nadia, Mas bisa jelaskan.”

“Jelaskan.”

“Aku punya usaha. Awalnya untung. Aku pikir kalau uangmu diputar, hasilnya bisa digunakan untuk keluarga.”

“Tanpa izinku?”

“Aku kakakmu.”

“Dan karena kamu kakakku, kamu merasa boleh memalsukan tanda tanganku?”

Wajahnya pucat.

Rina langsung menyela.

“Jangan sembarangan menuduh.”

Pengacaraku mengeluarkan salinan dokumen.

“Kami sudah meminta pemeriksaan awal terhadap tanda tangan tersebut.”

Rina terdiam.

Mas Arman duduk lemas.

Untuk pertama kalinya, aku melihat kakakku menangis.

“Nadia, aku salah.”

Aku tidak mengatakan apa-apa.

“Usahaku gagal. Aku malu mengaku kepadamu. Aku pinjam uang. Utang semakin besar. Setelah itu semuanya berantakan.”

“Kenapa Ibu dan Bapak harus tinggal di kandang?”

Dia menunduk.

“Itu ide Rina.”

Rina langsung menoleh tajam.

“Jangan lempar kesalahan ke aku!”

“Kamu yang bilang mereka bikin rumah bau!”

“Dan kamu yang setuju!”

Keduanya mulai saling menyalahkan di depanku.

Aku hanya memandang mereka.

Aneh sekali.

Sebelas tahun aku menganggap Mas Arman sebagai pelindung keluarga.

Kini di depanku hanya ada dua orang dewasa yang saling melempar kesalahan setelah menyiksa dua orang tua yang tidak mampu membela diri.

“Aku tidak datang untuk mendengar kalian bertengkar.”

Aku berdiri.

“Aku sudah menyerahkan bukti-bukti kepada pihak berwenang.”

Rina langsung pucat.

“Kamu melaporkan kami?”

“Aku melaporkan pemalsuan dokumen, penyalahgunaan aset, dan penelantaran orang tua.”

Mas Arman berdiri.

“Nadia, kita saudara kandung.”

Aku menatapnya lama.

“Karena kita saudara kandung, aku mempercayaimu sebelas tahun.”

Aku menunjuk ke arah halaman belakang.

“Dan karena kita saudara kandung, seharusnya kamu menjaga dua orang yang membesarkan kita, bukan memasukkan mereka ke kandang.”

Proses hukum berjalan panjang.

Beberapa aset akhirnya dibekukan.

Mobil dijual.

Ruko disita untuk menyelesaikan sebagian kewajiban.

Mas Arman dan Rina harus menghadapi konsekuensi atas tindakan mereka.

Namun ada satu hal yang tidak pernah kubayangkan.

Rumah tiga lantai itu ternyata masih bisa diselamatkan.

Pengacaraku menyarankan agar aku mempertahankannya.

Aku menolak.

Aku tidak ingin Ibu dan Bapak kembali ke tempat itu.

Setiap sudut rumah tersebut menyimpan terlalu banyak luka.

Enam bulan kemudian, rumah mewah yang kubangun dari sebelas tahun kerja keras itu akhirnya dijual.

Aku menggunakan sebagian uangnya untuk membeli rumah satu lantai yang jauh lebih sederhana di Bandung.

Tidak ada lampu kristal.

Tidak ada kolam renang.

Tidak ada mobil sport di halaman.

Namun ada taman kecil yang disukai Ibu.

Ada teras tempat Bapak minum teh setiap sore.

Ada kamar yang sengaja dibuat dekat kamar mandi agar Bapak tidak kesulitan berjalan.

Dan yang paling penting, tidak ada pintu yang dikunci dari luar.

Kondisi mereka perlahan membaik.

Berat badan Ibu naik.

Bapak mulai mampu berjalan menggunakan tongkat.

Suatu sore, ketika kami duduk bertiga di teras, Ibu tiba-tiba bertanya sesuatu.

“Nadia, kamu menyesal?”

“Menyesal apa?”

“Sebelas tahun bekerja keras untuk kami.”

Aku terdiam cukup lama.

Kemudian aku menggeleng.

“Aku menyesal karena terlalu percaya kepada orang lain untuk melakukan sesuatu yang seharusnya kupastikan sendiri. Tapi aku tidak pernah menyesal bekerja untuk Ibu dan Bapak.”

Bapak tersenyum.

Lalu dia masuk ke kamar dan kembali membawa sebuah kotak kayu tua.

Aku mengenal kotak itu.

Dulu Ibu menyimpan dokumen keluarga di dalamnya.

Bapak menyerahkannya kepadaku.

“Buka.”

Di dalamnya terdapat sebuah buku tabungan lama.

Aku membukanya.

Namaku tercetak sebagai pemilik rekening.

Saldo di dalamnya membuatku terdiam.

Lebih dari satu miliar rupiah.

Aku menatap mereka.

“Ini apa?”

Ibu tersenyum.

“Tahun-tahun pertama kamu bekerja di Singapura, sebelum semua uang dipegang Arman, kamu selalu mengirim langsung kepada Ibu.”

Aku mengingatnya.

Itu terjadi sebelum pembangunan rumah dimulai.

“Ibu tidak pernah menggunakan semuanya,” lanjutnya. “Sebagian selalu Ibu simpan.”

“Kenapa?”

Ibu menggenggam tanganku.

“Karena Ibu tahu kamu selalu bilang semua uangmu untuk kami. Tapi seorang ibu tidak mungkin tega membiarkan anaknya pulang setelah belasan tahun bekerja tanpa memiliki apa-apa.”

Air mataku langsung jatuh.

Selama ini aku mengira akulah yang sedang menyelamatkan orang tuaku.

Ternyata bahkan ketika mereka sendiri hidup sederhana, mereka diam-diam memikirkan masa depanku.

“Ada satu lagi,” kata Bapak.

Dari bawah buku tabungan, dia mengambil amplop kecil.

Di dalamnya terdapat secarik kertas dengan tulisan tangan Ibu yang sudah mulai bergetar.

Untuk Nadia.

Kalau suatu hari kamu pulang dalam keadaan lelah, uang ini bukan untuk membayar pengorbananmu. Tidak ada uang yang bisa membayar kasih seorang anak. Gunakanlah untuk memulai hidupmu sendiri. Kami tidak pernah membutuhkan rumah besar. Kami hanya ingin anak-anak kami tetap menjadi manusia baik.

Aku memeluk mereka berdua.

Saat itulah aku akhirnya memahami sesuatu yang sebelas tahun tidak pernah kupahami.

Aku terlalu sibuk membangun rumah untuk orang tuaku sampai lupa bahwa rumah bukanlah dinding tinggi, lantai marmer, kendaraan mahal, atau lampu kristal.

Rumah adalah tempat seseorang merasa aman.

Tempat orang yang kita cintai tidak perlu takut kelaparan.

Tempat mereka tidak perlu memohon untuk diperlakukan sebagai manusia.

Rumah tiga lantai yang kubangun dengan miliaran rupiah ternyata tidak pernah benar-benar menjadi rumah.

Sedangkan rumah kecil dengan taman sederhana itu terasa lebih mewah daripada apa pun yang pernah kumiliki.

Karena setiap pagi aku bisa mendengar suara Ibu dari dapur.

Setiap sore aku bisa duduk bersama Bapak di teras.

Dan setiap malam sebelum tidur, aku tidak lagi bertanya apakah pengorbananku selama sebelas tahun sia-sia.

Tidak.

Aku memang kehilangan banyak uang.

Aku kehilangan kepercayaan kepada kakakku sendiri.

Aku kehilangan sebelas tahun yang tidak mungkin kembali.

Namun aku mendapatkan satu kesempatan yang jauh lebih berharga.

Kesempatan untuk merawat sendiri dua orang yang selama hidup mereka tidak pernah berhenti mencintaiku.

Dan kali ini, aku tidak akan menyerahkan kepercayaan itu kepada siapa pun lagi.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang