SUAMI MEMBAWA PULANG SELINGKUHANNYA YANG SEDANG HAMIL DAN MEMAKSA ISTRINYA MELAYANI.

Raka membaca lembar A4 itu untuk ketiga kalinya, tetapi susunan kalimat di sana tidak berubah.

SURAT PERNYATAAN HASIL PEMERIKSAAN ANALISIS SPERMA.

Namanya tercetak jelas di bagian atas.

Raka Pratama.

Di bawahnya terdapat tanggal pemeriksaan dari sebuah rumah sakit swasta di Singapura, tujuh tahun lalu.

Dan pada bagian kesimpulan, hanya ada satu istilah medis yang cukup untuk meruntuhkan seluruh kesombongannya.

Azoospermia.

Tidak ditemukan sel sperma dalam sampel yang diperiksa.

Tangan Raka bergetar hebat.

“Ini bohong.”

Suaranya terdengar serak.

Ia menatap Alya, lalu kembali menatap kertas itu.

“Ini pasti palsu.”

Alya tidak menjawab.

“Mas, itu apa?”

Celine bangkit dari sofa. Wajahnya mulai menunjukkan kegelisahan.

Raka buru-buru melipat kertas tersebut, tetapi Celine langsung merebutnya.

“Jangan!”

Terlambat.

Celine membaca bagian kesimpulan.

Wajah perempuan itu berubah pucat.

Alya memperhatikan keduanya tanpa ekspresi.

Tujuh tahun lalu, Raka pernah menjalani pemeriksaan kesuburan setelah tiga tahun pernikahan mereka belum menghasilkan anak. Saat itu, Raka mengatakan kepada keluarganya bahwa seluruh hasil pemeriksaan normal.

Namun kepada Alya, dokter menyampaikan kenyataan berbeda.

Masalahnya bukan pada Alya.

Masalahnya ada pada Raka.

Dokter bahkan menyarankan pemeriksaan lanjutan dan beberapa pilihan terapi. Tetapi malam setelah hasil itu keluar, Raka meminta Alya merahasiakannya.

“Aku cuma butuh waktu,” katanya saat itu.

Alya percaya.

Ia bahkan bersedia menanggung stigma sebagai perempuan yang dianggap tidak mampu memberikan keturunan demi menjaga harga diri suaminya.

Ternyata waktu tidak membuat Raka berubah.

Waktu hanya membuat kebohongannya semakin besar.

“Jadi selama ini…” suara Celine bergetar. “Mas tidak bisa punya anak?”

“Diam!”

Raka berdiri begitu cepat.

“Itu hasil tujuh tahun lalu! Kondisiku bisa berubah!”

“Bisa,” jawab Alya tenang. “Karena itu aku membawa sesuatu yang lebih baru.”

Raka membeku.

Alya mengambil ponselnya, membuka sebuah dokumen, lalu meletakkannya di meja.

“Tiga bulan lalu kamu menjalani medical check-up perusahaan, kan?”

Raka menatap layar ponsel itu.

Alya melanjutkan, “Dokter yang menangani pemeriksaanmu adalah dokter yang sama yang dulu menyarankanmu melakukan pemeriksaan lanjutan. Kamu meminta tes kesuburan lagi tanpa memberitahuku.”

Napas Raka mulai berat.

“Hasilnya tetap sama.”

Celine perlahan menjauh darinya.

Raka menoleh cepat.

“Celine, dengarkan aku.”

Namun perempuan itu justru memegang perutnya sendiri.

Untuk pertama kalinya sejak memasuki rumah itu, wajahnya tidak lagi menunjukkan kemenangan.

Yang terlihat hanyalah ketakutan.

Raka memandang perut Celine.

Kemudian tatapannya berubah.

“Kalau aku tidak bisa…”

Ia berhenti.

Ruangan mendadak sunyi.

Pertanyaan yang sama muncul di kepala mereka bertiga.

Kalau Raka tidak mungkin menjadi ayah biologisnya, lalu anak siapa yang sedang dikandung Celine?

“Celine.”

Nada suara Raka berubah rendah.

“Anak itu anak siapa?”

Celine mundur selangkah.

“Mas, jangan percaya begitu saja. Alya pasti sengaja membuat semua ini untuk menghancurkan hubungan kita.”

“AKU TANYA ANAK ITU ANAK SIAPA?”

Suara Raka mengguncang ruangan.

Celine tersentak.

Alya tetap diam.

Ia tahu sesuatu yang Raka belum ketahui.

Dan kali ini, ia tidak berniat menyelamatkannya.

“Mas, kamu sendiri yang lihat hasil USG. Dokter bilang usia kandunganku sesuai dengan waktu kita bersama.”

“Itu bukan jawaban!”

Raka merebut ponsel Alya dan membaca hasil pemeriksaan itu.

Matanya memerah.

Kemudian ia menatap Celine seolah perempuan yang beberapa menit lalu diperlakukannya seperti ratu kini berubah menjadi orang asing.

“Aku mau tes DNA.”

Celine membeku.

“Kita lakukan sekarang.”

“Tidak bisa sekarang.”

“Bisa!”

Raka meraih lengannya.

Celine langsung menepis.

“Jangan sentuh aku!”

Perubahan sikap itu membuat Raka semakin curiga.

“Kenapa takut?”

“Aku tidak takut!”

“Kalau begitu lakukan tes.”

Celine menatap Alya.

Ada kebencian di matanya.

“Ini semua gara-gara kamu.”

Alya tersenyum tipis.

“Bukan.”

Ia mengambil kembali ponselnya.

“Ini semua gara-gara kebohongan kalian sendiri.”

Raka mendekati Alya.

“Kamu tahu sejak kapan?”

“Kalau soal kondisi kesehatanmu, tujuh tahun.”

“Kalau soal Celine?”

“Empat bulan.”

Raka tercengang.

“Empat bulan?”

Alya mengangguk.

“Aku tahu hubungan kalian bahkan sebelum Celine tahu dirinya hamil.”

Raka mengepalkan tangan.

“Kenapa kamu diam?”

Pertanyaan itu hampir membuat Alya tertawa.

“Karena selama sepuluh tahun aku terlalu banyak bicara kepada orang yang tidak pernah mau mendengar.”

Tatapan Alya mengeras.

“Ketika keluargamu menyalahkanku karena tidak punya anak, aku memintamu mengatakan yang sebenarnya. Kamu bilang harga dirimu akan hancur.”

Ia menarik napas.

“Aku melindungimu.”

Raka menunduk.

“Ketika ibumu membawaku dari dokter ke dokter, memaksaku minum berbagai obat, bahkan menuduhku membawa sial ke keluarga kalian, aku tetap diam.”

Mata Alya mulai berkaca-kaca.

Namun suaranya tidak goyah.

“Aku masih melindungimu.”

Raka tidak mampu menatapnya.

“Tapi ternyata orang yang kulindungi justru menggunakan kebohongan itu untuk menghancurkanku.”

Celine tiba-tiba mengambil tasnya.

“Aku pergi.”

Raka langsung menghadangnya.

“Kamu tidak pergi ke mana-mana sebelum menjawab pertanyaanku.”

“Mas, aku sedang hamil. Jangan bikin aku stres.”

“ANAK SIAPA ITU?”

Celine terdiam.

Beberapa detik kemudian, ponselnya yang tergeletak di sofa bergetar.

Sebuah pesan masuk.

Layar menyala.

Raka tanpa sengaja melihat nama pengirimnya.

Dimas.

Hanya satu baris pesan yang terlihat.

Kamu sudah bilang ke Raka soal bayi kita?

Wajah Celine kehilangan seluruh warnanya.

Raka mengambil ponsel tersebut.

“Jangan!”

Celine mencoba merebutnya, tetapi Raka lebih cepat.

Ia membaca pesan itu berkali-kali.

Kemudian menatap Celine.

“Dimas siapa?”

Tak ada jawaban.

“Dimas siapa?”

Raka membuka percakapan mereka.

Semakin banyak pesan yang dibaca, semakin lemas tubuhnya.

Foto USG.

Percakapan tentang kehamilan.

Rencana meminta uang kepada Raka.

Bahkan ada pesan Celine yang mengatakan bahwa setelah anak itu lahir, ia akan memastikan Alya disingkirkan dari rumah.

Raka melempar ponsel tersebut ke sofa.

“Kalian mempermainkanku?”

Celine akhirnya kehilangan kesabaran.

“Jangan bertingkah seolah kamu korban!”

Raka terdiam.

Celine menunjuk wajahnya.

“Kamu yang datang kepadaku dan bilang istrimu mandul. Kamu yang bilang akan menceraikannya. Kamu yang menjanjikan rumah, mobil, dan saham perusahaan kalau aku memberikanmu anak.”

“Aku percaya anak itu anakku!”

“Karena kamu ingin percaya!”

Celine tertawa pahit.

“Kamu bahkan tidak pernah menunjukkan hasil pemeriksaan kesuburanmu.”

Raka mengangkat tangan seolah hendak menamparnya.

Namun Alya langsung berkata, “Jangan.”

Hanya satu kata.

Raka berhenti.

Alya menatapnya dingin.

“Jangan membuat keadaanmu lebih buruk.”

Raka menoleh.

“Apa maksudmu?”

Alya berjalan menuju sebuah lemari kecil di sudut ruangan dan mengambil map hitam.

Ia meletakkannya di meja.

“Kertas tadi hanya pembuka.”

Jantung Raka seakan berhenti sesaat.

“Apa lagi ini?”

“Surat gugatan cerai.”

Raka menatapnya.

“Dan laporan keuangan perusahaan.”

Ekspresinya langsung berubah.

Alya membuka map tersebut.

Selama sepuluh tahun, Raka selalu mengatakan bahwa rumah, mobil, perusahaan, dan kehidupan mewah mereka berasal dari kerja kerasnya.

Itu tidak sepenuhnya benar.

Saat mereka menikah, perusahaan Raka hampir bangkrut.

Alya menggunakan warisan dari mendiang ayahnya untuk membeli empat puluh lima persen saham perusahaan dan memberikan pinjaman modal melalui perusahaan investasi milik keluarganya.

Nama Alya memang jarang muncul di depan publik.

Tetapi secara hukum, sebagian besar aset yang digunakan Raka selama bertahun-tahun berdiri di atas dana dan kepemilikan yang berkaitan dengannya.

“Aku sudah menarik fasilitas pinjaman perusahaan sejak dua minggu lalu,” kata Alya.

Raka menatapnya tidak percaya.

“Kamu gila?”

“Tidak.”

Alya tersenyum.

“Aku baru saja berhenti menjadi bodoh.”

“Kamu tahu apa akibatnya kalau pinjaman itu ditarik?”

“Tahu.”

“Perusahaan bisa kolaps!”

“Bukan bisa.”

Alya menatap jam tangannya.

“Seharusnya proses pembekuan fasilitas kredit sudah dimulai satu jam lalu.”

Raka langsung mengambil ponselnya.

Belasan panggilan tak terjawab terlihat di layar.

Direktur keuangan.

Komisaris.

Manajer bank.

Ibunya.

Ia membuka salah satu pesan.

Wajahnya semakin pucat.

Bank meminta perusahaan memberikan jaminan tambahan dalam waktu tujuh hari karena investor utama menarik fasilitas pendanaan.

Raka terduduk.

“Kenapa kamu melakukan ini?”

Alya menatapnya lama.

Pertanyaan itu terasa ironis.

Setelah semua yang terjadi, pria itu masih bertanya kenapa.

“Karena rumah yang tadi kamu ancam akan digunakan untuk mengusirku…”

Alya berhenti.

“…bukan milikmu.”

Raka mengangkat kepala.

Alya menunjuk lantai marmer di bawah kaki mereka.

“Vila ini dibeli perusahaan investasi ayahku dua belas tahun lalu. Setelah beliau meninggal, kepemilikannya diwariskan kepadaku.”

Celine menatap Raka dengan mata membesar.

“Mas bilang rumah ini milikmu.”

Raka tidak menjawab.

Alya melanjutkan, “Mobil yang kamu berikan kepada Celine juga dibeli menggunakan rekening perusahaan.”

Celine langsung menggenggam tasnya.

“Dan karena aku masih menjadi komisaris perusahaan, transaksi itu sedang diaudit.”

Raka berdiri.

“Alya, kita bisa bicara.”

Untuk pertama kalinya hari itu, tidak ada kesombongan dalam suaranya.

“Aku salah.”

Alya menatapnya.

“Aku mengaku salah.”

Raka mendekat.

“Kita sudah sepuluh tahun menikah. Jangan hancurkan semuanya hanya karena satu kesalahan.”

“Satu?”

Alya tersenyum pahit.

“Tujuh tahun membiarkanku dianggap mandul adalah satu kesalahan?”

Raka terdiam.

“Berselingkuh berbulan-bulan satu kesalahan?”

Tidak ada jawaban.

“Membawa perempuan lain yang sedang hamil ke rumahku dan menyuruhku melayaninya satu kesalahan?”

Raka menunduk.

Alya menggeleng.

“Tidak, Raka. Ini bukan satu kesalahan. Ini karakter.”

Kalimat itu membuat Raka tak mampu berkata apa-apa.

Alya mengambil koper kecil yang sejak tadi berada di balik tangga.

“Aku sudah memindahkan barang-barang pribadiku.”

Raka langsung panik.

“Kamu mau ke mana?”

Alya berhenti di depan pintu.

“Ke tempat yang tidak membuatku harus meminta izin untuk memiliki harga diri.”

Celine tiba-tiba berkata, “Kalau begitu aku juga pergi.”

Raka menoleh.

“Kamu tetap di sini!”

“Untuk apa?”

Celine tertawa sinis.

“Kamu bahkan tidak punya rumah ini.”

Ia mengambil ponselnya.

Raka terlihat seperti baru saja ditampar.

Celine berjalan menuju pintu.

Namun sebelum melewati Alya, ia berhenti.

Untuk sesaat, kedua perempuan itu saling menatap.

“Aku minta maaf,” kata Celine lirih.

Alya tidak langsung menjawab.

“Aku tidak meminta maaf karena mengambil Raka,” lanjut Celine. “Sekarang aku sadar tidak ada yang layak diambil darinya.”

Raka mengepalkan tangan.

“Tapi aku minta maaf karena menghina Mbak.”

Alya menatapnya tenang.

“Jaga anakmu.”

Celine mengangguk.

Lalu pergi.

Raka kini berdiri sendirian di tengah ruang tamu yang beberapa menit sebelumnya terasa seperti singgasananya.

“Alya.”

Perempuan itu berhenti.

“Aku akan berubah.”

Alya tidak menoleh.

“Kamu dulu bilang aku tidak bisa memberimu keturunan.”

Raka menutup mata.

“Maaf.”

“Ada satu hal yang belum kamu tahu.”

Raka perlahan membuka mata.

Alya akhirnya menoleh.

“Tiga tahun lalu aku menjalani program fertilitas tanpa sepengetahuanmu.”

Dahi Raka berkerut.

“Apa?”

“Aku menggunakan sel telurku sendiri dan donor sperma anonim yang sah melalui klinik.”

Raka menatapnya tidak percaya.

“Tapi aku membatalkannya sebelum proses implantasi.”

“Kenapa?”

Alya tersenyum sedih.

“Karena saat itu aku sadar masalah terbesar dalam pernikahan kita bukan soal siapa yang bisa atau tidak bisa punya anak.”

Ia menatap Raka tepat di mata.

“Aku takut membawa seorang anak ke dalam rumah di mana ayahnya menganggap cinta sebagai kekuasaan dan istrinya sebagai milik.”

Raka kehilangan kata-kata.

Alya membuka pintu.

Cahaya sore masuk ke ruang tamu.

Namun sebelum keluar, ia berkata pelan, “Kamu selalu mengira hukuman terbesarmu adalah tidak memiliki keturunan.”

Ia menggeleng.

“Bukan.”

Alya menatap rumah besar itu untuk terakhir kalinya.

“Hukuman terbesarmu adalah kehilangan orang yang selama sepuluh tahun mengetahui semua kelemahanmu, tetapi tetap memilih melindungimu.”

Enam bulan kemudian, perceraian mereka resmi diputus.

Perusahaan Pratama tidak bangkrut, tetapi Raka kehilangan posisi direktur utama setelah para pemegang saham menunjuk manajemen baru. Ia juga diwajibkan mengembalikan sejumlah dana perusahaan yang digunakan untuk kepentingan pribadi.

Celine menjalani tes DNA setelah bayinya lahir.

Dimas memang ayah biologis anak tersebut.

Namun kejutan terakhir justru datang dari sesuatu yang tidak pernah diketahui Raka.

Dua tahun setelah perceraian, sebuah undangan tiba di kantor lamanya.

Bukan undangan pernikahan.

Melainkan undangan pembukaan sebuah yayasan pendidikan untuk perempuan yang mengalami tekanan dalam rumah tangga karena persoalan infertilitas.

Pendiri yayasan itu adalah Alya Prameswari.

Di halaman terakhir undangan terdapat sebuah foto.

Alya berdiri tersenyum sambil menggandeng tangan seorang anak perempuan berusia sekitar empat tahun yang wajahnya tidak terlihat jelas dari kamera.

Di bawah foto tertulis satu kalimat sederhana.

“Keluarga tidak selalu lahir dari darah. Kadang keluarga lahir ketika seseorang akhirnya berani memilih kehidupan yang sehat untuk dirinya sendiri.”

Raka menatap foto itu lama.

Belakangan ia mengetahui Alya telah mengadopsi anak tersebut secara resmi.

Perempuan yang selama bertahun-tahun ia hina karena dianggap tidak mampu menjadi ibu kini memiliki seorang putri.

Sementara dirinya, yang pernah begitu terobsesi memiliki penerus darah keluarga Pratama, tinggal sendirian di sebuah apartemen sewaan.

Saat itulah Raka akhirnya memahami sesuatu yang tidak pernah bisa diajarkan oleh hasil laboratorium mana pun.

Selama sepuluh tahun, Alya sebenarnya tidak pernah gagal memberinya keluarga.

Dialah yang gagal menjadi seseorang yang pantas memilikinya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang