Sehari Setelah Menguburkan Ayah, Aku Meminta Cerai; Suamiku Menertawakan Biaya Rumah Sakit yang Tak Lagi Kubutuhkan, Sementara Foto Liburannya Bersama Cinta Pertama Masih Terpampang—Lalu Notaris Menyerahkan Satu Map Merah yang Membuat Wajah Keluarganya Pucat, karena Rahasia Terakhir Ayah Ternyata Tersimpan Tepat di Bawah Tanda Tangannya Sendiri Malam Itu

Arga pulang ke Surabaya keesokan malamnya seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Aku mendengar suara mobilnya memasuki halaman sekitar pukul sembilan. Dari balik jendela ruang kerja Ayah, kulihat Arga turun dengan kemeja putih, celana hitam, dan sebuah koper kecil. Wajahnya tampak segar. Terlalu segar untuk seorang menantu yang mertuanya baru saja dimakamkan.

Kiara turun dari sisi penumpang.

Aku menatap mereka beberapa detik sebelum menutup tirai.

Jadi bahkan untuk menghadapi istrinya yang meminta cerai, Arga masih membawanya pulang.

Beberapa menit kemudian pintu depan terbuka.

“Nadira!”

Aku tetap duduk.

Langkah kaki Arga terdengar mendekat.

Ketika ia masuk ke ruang kerja, ekspresinya langsung berubah.

Di meja di depanku sudah ada surat gugatan cerai, salinan akta kematian Ayah, dan secangkir kopi yang hampir dingin.

“Apa-apaan ini?”

Aku menunjuk akta kematian.

Arga mengambilnya.

Wajahnya membeku.

“Ayah meninggal?”

“Dua hari lalu.”

“Kamu tidak memberitahuku?”

Aku hampir tertawa.

“Aku meneleponmu dua belas kali.”

“Aku sedang ada urusan.”

“Di vila?”

Arga diam.

“Bersama Kiara?”

Rahangnya mengeras.

“Kamu sekarang menguntit media sosial orang?”

“Tidak perlu. Kiara mengunggahnya sendiri tiga menit setelah Ayah meninggal.”

Wajah Arga berubah.

Untuk sesaat, ia benar-benar terlihat kehilangan kata-kata.

Kemudian Kiara muncul di ambang pintu.

“Aku ikut berduka, Dira.”

Aku menatapnya.

Perempuan itu mengenakan blus krem dan celana panjang hitam. Rambutnya tergerai rapi, wajahnya dipoles tipis. Kalau bukan karena aku sudah melihat dokumen di kantor Pak Daniel, mungkin aku masih akan percaya ekspresi sedihnya.

“Terima kasih.”

Kiara tampak sedikit terkejut karena aku begitu tenang.

Arga meletakkan akta kematian di meja.

“Kenapa kamu tidak mengirim pesan bahwa beliau meninggal?”

“Aku sudah mengirim pesan bahwa kondisinya memburuk.”

“Itu berbeda.”

“Benar.”

Aku menatap matanya.

“Orang yang peduli biasanya menelepon balik.”

Ruangan mendadak sunyi.

Arga menarik kursi dengan kasar.

“Baik. Kita tidak perlu memperpanjang ini. Kamu mau cerai, aku setuju.”

Kiara menunduk, tetapi aku melihat sudut bibirnya bergerak tipis.

Arga melanjutkan, “Apartemen Pakuwon tetap milikku. Mobil yang kamu pakai dikembalikan. Rekening bersama kita bagi sesuai kontribusi.”

“Baik.”

Jawabanku terlalu cepat.

Arga mengerutkan kening.

“Dan biaya rumah sakit ayahmu selama ini tidak akan kutagih.”

Aku memandangnya lama.

“Berapa?”

“Apa?”

“Berapa total yang sudah kamu bayar?”

Arga tampak tidak nyaman.

“Bukan masalah jumlah.”

“Bukankah selama dua tahun kamu selalu membicarakan jumlah?”

Kiara menyela.

“Dira, mungkin sekarang bukan waktu yang tepat.”

Aku menoleh kepadanya.

“Justru sekarang waktu yang paling tepat.”

Kiara langsung diam.

Aku kembali menatap Arga.

“Berapa?”

“Sekitar empat ratus juta.”

Aku mengangguk.

“Besok kirim semua bukti transfernya ke pengacaraku. Akan kukembalikan.”

Arga tertawa.

“Kamu?”

“Iya.”

“Dengan uang dari mana?”

Pertanyaan itu keluar bersama senyum meremehkan yang sudah terlalu sering kulihat.

Dulu senyum seperti itu membuatku merasa kecil.

Malam itu tidak lagi.

Aku hanya menjawab, “Kirim bukti transfernya.”

Kiara kemudian meletakkan sebuah map hitam di meja.

“Kami sebenarnya datang karena ada urusan lain.”

Akhirnya.

Aku hampir ingin tersenyum.

“Urusan apa?”

“Mama sedang kurang sehat, jadi besok beliau mungkin datang agak siang. Tapi sebelum itu ada beberapa dokumen peninggalan Papa yang perlu dibereskan.”

Papa.

Kiara selalu memanggil Ayah seperti itu di depan orang lain.

Namun selama Ayah sakit, mungkin jumlah kunjungannya tidak sampai sepuluh kali.

Ia membuka map.

Ada surat persetujuan perpanjangan sewa gudang Waru.

Ada surat pengakuan penyelesaian utang.

Dan ada satu surat pernyataan bahwa aku, sebagai ahli waris, mengakui addendum yang dibuat enam bulan lalu.

Aku membacanya perlahan.

Arga bersandar.

“Ini cuma formalitas.”

“Formalitas?”

“Iya. Ayahmu sudah menyetujui semuanya sebelum kondisinya memburuk.”

Aku menatapnya.

“Kapan?”

“Sekitar enam bulan lalu.”

Aku hampir kagum melihat betapa mudahnya kebohongan keluar dari mulut seseorang yang pernah tidur di sebelahku setiap malam.

“Siapa yang hadir?”

“Bu Ratih dan Kiara.”

“Notaris?”

Arga terdiam sepersekian detik.

“Dokumen itu dibuat secara internal.”

Aku mengangguk.

“Besok kita bicarakan.”

Arga terlihat lega.

Ia mungkin mengira ketenanganku berarti aku menyerah.

Sebelum pergi, ia berhenti di pintu.

“Dira.”

Aku menoleh.

“Kamu masih bisa membatalkan perceraian ini.”

Aku tidak menjawab.

Arga melanjutkan dengan suara lebih lembut.

“Kamu sedang berduka. Jangan mengambil keputusan karena emosi.”

Kalimat itu hampir lucu.

Selama bertahun-tahun aku bertahan karena emosi.

Justru kali ini aku pergi karena akhirnya bisa berpikir jernih.

“Selamat malam, Arga.”

Keesokan siangnya, ruang keluarga rumah Ayah penuh.

Ratih datang bersama Kiara.

Arga membawa ayah dan kakaknya, Pak Hendra dan Bima.

Pengacara keluarga Pradana juga hadir.

Mereka duduk mengelilingi meja panjang seperti sedang menghadiri rapat perusahaan.

Aku datang terakhir.

Ratih langsung menangis ketika melihatku.

“Dira…”

Ia memelukku.

Aku membiarkannya.

“Maaf Mama tidak sempat datang ke pemakaman. Mama benar-benar syok.”

Aku tahu dari unggahan teman Kiara bahwa pada hari pemakaman Ayah, Ratih masih berada di Bali.

Namun aku hanya berkata, “Tidak apa-apa.”

Kami duduk.

Pengacara keluarga Pradana membuka pembicaraan.

Ia menjelaskan bahwa demi menjaga kelangsungan usaha, beberapa kesepakatan yang pernah dibuat almarhum perlu segera dikukuhkan ahli waris.

Kemudian dokumen yang sama diletakkan di depanku.

“Silakan dibaca dulu, Bu Nadira.”

Aku membaca setiap halaman.

Lalu bertanya, “Kalau saya tanda tangan, utang PT Pradana Logistik Nusantara dianggap tinggal delapan ratus juta?”

Pak Hendra berdeham.

“Kurang lebih.”

“Dari awalnya enam koma delapan miliar?”

“Itu kesepakatan ayahmu.”

“Dan sewa gudang diperpanjang dua puluh tahun dengan tarif yang sama?”

Bima mulai terlihat tidak sabar.

“Nadira, perusahaan ini juga perusahaan keluarga suamimu.”

“Calon mantan suami.”

Wajah Bima mengeras.

Arga memotong.

“Jangan membuat semuanya rumit.”

Aku menatapnya.

“Baik.”

Aku mengambil pena.

Semua orang mendadak diam.

Kiara menatap tanganku.

Ratih bahkan menggeser dokumen lebih dekat.

Namun sebelum ujung pena menyentuh kertas, terdengar suara bel rumah.

Aku meletakkan pena.

“Sepertinya tamu saya datang.”

Arga mengernyit.

“Tamu siapa?”

Beberapa detik kemudian asisten rumah tangga mengantar Pak Daniel masuk.

Wajah Ratih langsung pucat.

Kiara berdiri refleks.

“Om Daniel?”

Pak Daniel tersenyum tipis.

“Selamat siang.”

Ia membawa map merah.

Map yang sama.

Aku melihat tangan Kiara perlahan mengepal.

Pak Daniel duduk di sebelahku.

Pengacara keluarga Pradana tampak mengenalinya.

“Pak Daniel Hartono?”

“Benar.”

Pak Daniel meletakkan map di meja.

“Saya notaris yang menangani sejumlah urusan hukum almarhum Pak Santoso selama hampir dua puluh tahun.”

Ratih buru-buru berkata, “Daniel, ini sebenarnya urusan keluarga.”

“Justru karena itu saya datang.”

Pak Daniel membuka map.

Ia mengeluarkan salinan perjanjian pinjaman asli.

Lalu dokumen sewa gudang.

Terakhir, addendum enam bulan lalu.

“Dokumen ini pernah dibawa kepada saya untuk dilegalisasi.”

Tak seorang pun berbicara.

“Saya menolak.”

Pak Hendra mengerutkan kening.

“Kenapa?”

“Karena pada tanggal yang tercantum di dokumen, berdasarkan catatan medis yang diberikan Pak Santoso sendiri kepada kantor saya melalui kuasa hukumnya, kapasitas kognitif beliau sudah sangat terganggu.”

Kiara langsung berkata, “Tapi Papa menandatanganinya sendiri.”

Pak Daniel menatapnya.

“Benarkah?”

“Iya.”

“Saudari hadir?”

Kiara terdiam.

Ratih memegang lengannya.

“Saya juga hadir,” katanya.

Pak Daniel mengangguk.

“Bagus.”

Ia mengeluarkan satu lembar lagi.

“Karena berarti kita memiliki dua saksi yang bisa menjelaskan proses penandatanganannya kepada penyidik.”

Wajah Ratih kehilangan warna.

Arga berdiri.

“Penyidik?”

Pak Daniel tetap tenang.

“Pemalsuan atau penyalahgunaan tanda tangan seseorang yang kapasitas hukumnya dipertanyakan bukan perkara administrasi sederhana.”

“Tidak ada pemalsuan!” Kiara membentak.

Aku menatapnya.

“Kalau begitu kenapa takut?”

Kiara menoleh tajam kepadaku.

Saat itulah Arga seperti baru memahami sesuatu.

“Kamu sudah tahu sejak kemarin?”

“Iya.”

“Jadi kamu menjebak kami?”

Aku menggeleng.

“Aku hanya membiarkan kalian berbicara.”

Pak Daniel kemudian mengeluarkan dokumen terakhir.

“Inilah alasan sebenarnya Pak Santoso meminta map ini hanya dibuka setelah beliau meninggal atau setelah pernikahan Nadira berakhir.”

Ia mendorong dokumen itu ke tengah meja.

Surat pengalihan saham.

Dua tahun lalu, ketika kondisi Ayah masih cukup baik, ia telah mengalihkan sembilan puluh lima persen saham PT Santoso Graha Mandiri kepadaku.

Namun hak pengelolaan sementara tetap berada di tangannya selama hidup.

Artinya sejak Ayah meninggal, aku bukan sekadar ahli waris.

Aku adalah pemegang kendali perusahaan yang memiliki gudang pusat distribusi keluarga Pradana.

Pak Hendra tampak kesulitan bernapas.

“Tapi kontrak sewanya masih berlaku.”

“Benar,” jawab Pak Daniel.

“Berapa lama?”

Pak Hendra tidak menjawab.

Aku yang menjawab.

“Tiga bulan lagi.”

Bima berdiri.

“Kalian tidak mungkin mengusir kami dalam tiga bulan.”

“Aku tidak mengusir siapa pun.”

Aku menatap mereka.

“Perusahaan kalian boleh tetap menyewa dengan harga pasar.”

Pak Hendra membeku.

Tarif pasar gudang sebesar itu hampir empat kali lipat dari yang selama ini mereka bayar.

“Dan utangnya?” tanyanya pelan.

“Dibayar sesuai perjanjian asli.”

Arga memandangku seolah baru pertama kali melihatku.

“Dira, dengarkan aku.”

Aku berdiri.

“Selama dua tahun kamu membuatku percaya bahwa keluargaku hidup dari belas kasihanmu.”

“Bukan begitu.”

“Kamu bilang tanpa uangmu Ayah tidak akan mendapat perawatan.”

“Aku memang membayar.”

“Empat ratus juta.”

Aku mengangguk.

“Dan keluargamu menerima pinjaman enam koma delapan miliar dari Ayah. Belum termasuk subsidi sewa gudang selama bertahun-tahun.”

Arga diam.

“Aku akan mengembalikan setiap rupiah biaya rumah sakit yang benar-benar kamu bayar. Setelah itu, kita tidak punya utang pribadi satu sama lain.”

Ratih tiba-tiba menangis.

“Nadira, Papa melakukan semua itu karena menganggap Arga keluarga.”

Aku menatapnya.

“Benar.”

Aku berhenti sebentar.

“Dan kalian membalasnya dengan membawa surat untuk ditandatangani ketika beliau bahkan sudah kesulitan mengenali tanggal.”

Kiara berdiri.

“Kamu pikir kamu menang?”

Aku menatapnya.

“Aku tidak sedang berlomba denganmu.”

“Kamu selalu iri karena Arga mencintaiku lebih dulu.”

Kalimat itu membuat seluruh ruangan hening.

Arga langsung berkata, “Kiara, cukup.”

Namun sudah terlambat.

Aku justru tersenyum.

“Terima kasih.”

Kiara mengernyit.

“Untuk apa?”

“Karena akhirnya ada seseorang yang mengatakannya dengan jujur.”

Aku menoleh kepada Arga.

“Selama ini aku selalu berpikir aku gagal membuatmu mencintaiku. Ternyata masalahnya jauh lebih sederhana.”

Aku melepas cincin pernikahan.

Kutaruh di atas dokumen perceraian.

“Aku menikahi seseorang yang tidak pernah benar-benar memilihku.”

Arga bergerak mendekat.

“Dira…”

“Jangan.”

Ia berhenti.

Untuk pertama kalinya aku melihat ketakutan di wajahnya.

Bukan karena kehilangan pernikahan.

Melainkan karena baru menyadari semua hal yang ikut hilang bersamanya.

Tiga bulan berikutnya berlangsung cepat.

Gugatan cerai diproses.

Tim hukum Pak Daniel menyerahkan dokumen addendum kepada pihak berwenang untuk diperiksa. Ratih dan Kiara akhirnya mengakui bahwa mereka membawa dokumen tersebut ketika kondisi Ayah sudah memburuk, meskipun mereka terus bersikeras bahwa Ayah memahami apa yang ditandatanganinya.

Keluarga Pradana membayar sebagian tunggakan dan merestrukturisasi kewajibannya.

Mereka juga terpaksa pindah dari gudang Waru setelah menolak tarif sewa baru.

Arga beberapa kali menghubungiku.

Aku tidak menjawab.

Sampai suatu sore, sebuah pesan masuk.

“Aku baru tahu Ayahmu ternyata pernah menyelamatkan perusahaan Papa. Kenapa kamu tidak pernah memberitahuku?”

Aku membaca pesan itu lama.

Kemudian mengetik.

“Karena aku juga tidak tahu. Ayah tidak pernah menggunakan kebaikannya untuk membuat orang merasa berutang.”

Setelah itu aku memblokir nomornya.

Enam bulan kemudian, perceraian kami resmi.

Pada hari yang sama, aku pergi sendirian ke makam Ayah.

Aku membawa bunga putih dan sebuah benda kecil di dalam tas.

Aku duduk di samping makam cukup lama.

“Ayah benar,” kataku pelan.

Angin sore bergerak di antara pepohonan.

“Aku terlalu lama menganggap rasa sakit sebagai harga untuk dicintai.”

Aku tersenyum sambil menahan air mata.

Kemudian kukeluarkan sebuah amplop yang kutemukan beberapa minggu sebelumnya di laci meja kerja Ayah.

Pak Daniel tidak pernah melihatnya.

Di depannya tertulis namaku.

Tulisan tangan Ayah sudah sedikit gemetar.

Di dalamnya hanya ada selembar kertas.

Dira,

kalau kamu membaca ini, mungkin Ayah sudah tidak bisa menjelaskan banyak hal.

Ayah tidak meninggalkan perusahaan supaya kamu menjadi kaya.

Ayah meninggalkannya supaya suatu hari, kalau ada orang membuatmu merasa tidak punya pilihan, kamu tahu bahwa kamu selalu punya pintu untuk pulang.

Jangan gunakan apa yang Ayah tinggalkan untuk membalas siapa pun.

Gunakan untuk memastikan tidak ada orang yang bisa membeli harga dirimu.

Aku membaca kalimat terakhir berkali-kali.

Lalu untuk pertama kalinya sejak malam di rumah sakit itu, aku menangis tanpa menahannya.

Bukan karena Arga.

Bukan karena Kiara.

Bukan karena harta.

Aku menangis karena akhirnya memahami mengapa Ayah diam-diam menyiapkan semuanya ketika ingatannya masih utuh.

Mungkin jauh sebelum aku berani mengakui bahwa pernikahanku sedang menghancurkanku, Ayah sudah melihatnya.

Ia hanya tahu satu hal tentang putrinya.

Aku terlalu keras kepala untuk diselamatkan dengan nasihat.

Jadi ia tidak mencoba menarikku keluar.

Ia hanya memastikan pintunya tetap terbuka.

Aku melipat surat itu dan memasukkannya kembali ke amplop.

Sebelum pulang, kusentuh batu nisan Ayah.

“Aku tidak sendirian, Yah.”

Kalimat itu terasa berbeda dari ketika kuucapkan di kantor Disdukcapil berbulan-bulan sebelumnya.

Dulu, sendirian berarti tidak punya siapa-siapa.

Sekarang aku mengerti bahwa kadang-kadang sendirian hanya berarti kita akhirnya berhenti berdiri di samping orang yang salah.

Aku bangkit dan berjalan meninggalkan makam.

Ponselku bergetar.

Sebuah email dari pengacara masuk.

Pembayaran pertama restrukturisasi utang keluarga Pradana sudah diterima.

Aku menutup notifikasi itu tanpa membukanya lebih lanjut.

Uang itu tidak lagi terasa seperti kemenangan.

Kemenangan sebenarnya terjadi malam ketika aku menutup telepon lebih dulu.

Saat aku akhirnya berhenti memohon kepada seseorang untuk memilihku.

Karena ternyata rahasia terakhir yang Ayah tinggalkan bukanlah perusahaan, gudang, saham, atau utang miliaran rupiah.

Semua itu hanya alat.

Warisan sebenarnya adalah satu keyakinan yang baru kupahami setelah kehilangan hampir semuanya.

Bahwa cinta tidak seharusnya membuat seseorang hidup sambil terus membuktikan bahwa dirinya layak dipertahankan.

Dan orang yang benar-benar mencintai kita tidak akan menjadikan pertolongannya sebagai rantai.

Ia akan menjadikannya pintu.

Lalu membiarkan kita memilih sendiri kapan saatnya keluar.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang