BARU EMPAT HARI MENIKAH, NADIRA SUDAH DIPERMALUKAN SUAMI DAN KELUARGA MERTUANYA DI….

Nadira tidak langsung berkata apa-apa setelah tamparan itu mendarat di wajahnya.

Ia hanya berdiri di tengah ruang makan dengan pipi kiri memerah, dikelilingi delapan belas pasang mata yang sebagian terkejut, sebagian ingin tahu, dan sebagian lagi terlalu pengecut untuk bereaksi.

Arga masih berdiri di depannya dengan dada naik turun.

Bu Ratih tidak tampak menyesal.

Bahkan Karin perlahan kembali memasang wajah sedihnya.

“Kak Arga cuma emosi,” katanya lirih, seolah berusaha menjadi orang paling bijaksana di ruangan itu. “Aku sebenarnya tidak mau masalah ini jadi besar.”

Kalimat itu membuat Nadira hampir tertawa.

Namun bukan karena lucu.

Melainkan karena malam itu ia akhirnya benar-benar memahami keluarga seperti apa yang baru saja dimasukinya.

Arga menunjuk ke arah pintu depan.

“Kalau kamu masih tidak mau minta maaf, keluar.”

Nadira menatap tangannya sendiri beberapa detik.

Cincin pernikahan masih melingkar di jari manisnya.

Empat hari.

Hanya empat hari sejak laki-laki di hadapannya mengucapkan janji akan menjaga dan menghormatinya di depan ratusan orang.

Kini laki-laki yang sama baru saja menamparnya karena ia menolak mengakui kesalahan yang tidak pernah dilakukannya.

“Baik,” jawab Nadira akhirnya.

Arga tampak sedikit terkejut.

Mungkin ia menyangka Nadira akan menangis.

Memohon.

Atau meminta kesempatan.

Namun Nadira justru melepaskan celemek yang masih dikenakannya sejak sore, melipatnya dengan tenang, lalu meletakkannya di atas kursi.

“Aku akan pergi.”

Bu Ratih mendengus.

“Bagus kalau begitu. Biar kamu belajar bahwa masuk ke keluarga ini bukan berarti kamu bisa bertindak sesuka hati.”

Nadira menoleh kepadanya.

Tatapannya tenang.

“Justru malam ini saya belajar banyak, Bu.”

Bu Ratih mengernyit.

Nadira tidak menjelaskan.

Ia berjalan menuju tangga, masuk ke kamar yang baru empat hari ditempatinya bersama Arga, lalu mengambil sebuah koper kecil.

Tidak banyak yang dimasukkannya.

Beberapa pakaian.

Dokumen pribadi.

Laptop.

Kotak perhiasan.

Dan satu bingkai foto kecil berisi gambar dirinya bersama kedua orang tuanya.

Saat hendak menutup koper, ia teringat gelang peninggalan neneknya.

Nadira membuka kotak perhiasan.

Kosong.

Gelang itu masih belum dikembalikan Karin.

Ia berdiri beberapa detik.

Kemudian mengeluarkan ponselnya dan memotret bagian dalam kotak tersebut.

Bukan karena takut kehilangan emas.

Benda itu memang berharga, tetapi nilai sebenarnya terletak pada kenangan.

Neneknya memberikan gelang itu tiga hari sebelum meninggal.

Namun malam itu, Nadira tidak berniat berdebat lagi.

Ia tahu ada waktu yang lebih tepat.

Ketika turun kembali, Arga masih berada di ruang makan.

Beberapa tamu sudah mulai pamit dengan alasan yang dibuat-buat.

Suasana pesta keluarga yang tadi penuh tawa berubah menjadi canggung.

Arga menatap koper di tangan Nadira.

“Kamu benar-benar mau pergi?”

“Bukankah kamu yang menyuruhku?”

“Aku cuma ingin kamu belajar menghormati keluargaku.”

Nadira menatapnya cukup lama.

“Dan kapan kamu belajar menghormati istrimu?”

Arga terdiam.

Nadira berjalan melewatinya.

Namun ketika tangannya menyentuh gagang pintu depan, Bu Ratih bersuara dari belakang.

“Jangan berharap bisa membawa apa pun dari keluarga kami setelah ini.”

Nadira berhenti.

Ia menoleh.

“Tenang saja, Bu. Saya tidak pernah datang ke keluarga ini untuk mengambil apa pun.”

Kemudian ia menatap Karin.

“Termasuk barang yang bukan milik saya.”

Wajah Karin berubah sedikit.

Hanya sepersekian detik.

Namun Nadira melihatnya.

Ia keluar tanpa berkata apa-apa lagi.

Malam Jakarta terasa lembap ketika Nadira berdiri di depan pagar rumah besar itu.

Untuk pertama kalinya sejak tamparan tadi, tangannya mulai bergetar.

Ia memesan taksi daring.

Begitu kendaraan datang dan pintu tertutup, Nadira akhirnya membiarkan air matanya jatuh.

Tidak banyak.

Hanya beberapa tetes.

Bukan karena ia masih mencintai Arga.

Yang membuat dadanya sesak adalah rasa malu kepada dirinya sendiri.

Betapa banyak tanda yang selama ini ia abaikan.

Sebelum menikah, Arga memang beberapa kali memperlihatkan sikap keras.

Namun setiap kali itu terjadi, ia selalu meminta maaf.

Ia berkata sedang stres.

Sedang banyak pekerjaan.

Sedang ditekan ibunya.

Dan Nadira, yang mengenalnya selama hampir dua tahun, selalu memilih percaya.

Sekarang semua alasan itu terdengar bodoh.

Taksi membawa Nadira ke rumah orang tuanya di Bekasi.

Ketika ibunya membuka pintu dan melihat koper di tangan putrinya serta bekas merah di pipinya, wajah perempuan itu seketika pucat.

“Nadira?”

Nadira langsung memeluk ibunya.

Untuk pertama kalinya malam itu, tangisnya pecah.

Ayahnya keluar dari kamar dan berdiri kaku ketika mengetahui apa yang terjadi.

“Besok Ayah ke rumah mereka.”

“Jangan,” kata Nadira cepat.

Ayahnya menatap tajam.

“Dia menampar kamu.”

“Aku tahu.”

“Dan kamu masih melarang Ayah datang?”

Nadira mengusap wajahnya.

“Aku tidak mau kita datang dalam keadaan marah. Aku mau semuanya jelas dulu.”

Ayahnya masih tampak ingin membantah, tetapi ibu Nadira memegang lengannya.

“Nadira benar.”

Malam itu Nadira hampir tidak tidur.

Sekitar pukul tiga pagi, sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenalnya.

Awalnya Nadira tidak berniat membuka.

Namun ketika membaca kalimat pertama, ia langsung duduk.

Mbak Nadira, saya Dimas, teknisi sistem keamanan rumah Bu Ratih.

Nadira mengerutkan kening.

Ia memang pernah bertemu Dimas sehari setelah pernikahan mereka.

Saat itu laki-laki tersebut datang untuk memperbaiki beberapa kamera CCTV di rumah.

Pesan berikutnya masuk.

Saya minta maaf menghubungi selarut ini. Tapi saya lihat kejadian tadi malam dari sistem pemantauan karena ada notifikasi perangkat bermasalah. Saya rasa Mbak perlu tahu bahwa rekamannya tersimpan.

Jantung Nadira berdegup cepat.

Ia segera menelepon.

Dimas mengangkat pada dering kedua.

“Mas Dimas?”

“Iya, Mbak. Maaf.”

“CCTV ruang makan merekam semuanya?”

“Iya.”

Nadira terdiam.

“Termasuk sebelum sup tumpah?”

“Termasuk.”

Napas Nadira tertahan.

“Berapa lama rekamannya tersimpan?”

“Kurang lebih tiga puluh hari. Sistemnya otomatis menyimpan ke server lokal dan cadangan awan.”

Nadira menutup mata.

Tiba-tiba sebuah kemungkinan muncul.

“Mas Dimas, kamera di lorong lantai dua juga aktif?”

“Iya.”

“Yang menghadap pintu kamar saya?”

“Iya.”

Tubuh Nadira langsung menegang.

“Bisa dilihat rekaman empat hari terakhir?”

“Bisa.”

Pagi itu, dengan persetujuan Nadira, Dimas mengekspor beberapa rekaman yang relevan.

Apa yang mereka temukan jauh lebih buruk daripada yang Nadira bayangkan.

Pada rekaman hari kedua setelah pernikahan, terlihat Karin berjalan menuju kamar Nadira ketika ia sedang mandi.

Karin membuka pintu tanpa mengetuk.

Beberapa menit kemudian ia keluar sambil menggenggam gelang emas peninggalan nenek Nadira.

Namun bukan hanya itu.

Rekaman lain memperlihatkan Karin masuk kembali ke kamar pada sore hari.

Kali ini ia membawa amplop putih.

Ia membuka laci meja Nadira dan memasukkan sesuatu ke dalamnya.

Ketika Nadira melihat rekaman itu, tengkuknya terasa dingin.

“Apa itu?” tanya Dimas.

Nadira menggeleng.

Ia tidak tahu.

Namun ia segera teringat satu kejadian.

Malam sebelum makan keluarga, Bu Ratih sempat bertanya apakah Nadira pernah mengambil uang tunai milik Arga.

Jumlahnya lima puluh juta rupiah.

Saat itu Nadira menganggap pertanyaan tersebut sebagai sindiran biasa.

Sekarang semuanya terasa berbeda.

Nadira meminta Dimas memeriksa rekaman ruang kerja Arga.

Dan di sanalah potongan terakhir mulai tersusun.

Dua malam sebelumnya, kamera di lorong merekam Karin masuk ke ruang kerja kakaknya.

Sekitar lima menit kemudian ia keluar membawa amplop putih tebal.

Amplop yang bentuknya sama persis dengan yang kemudian dimasukkan ke laci Nadira.

Nadira menatap layar tanpa berkedip.

“Mereka mau menjebak saya.”

Dimas tidak menjawab.

Namun wajahnya sudah mengatakan semuanya.

Siang itu, Arga menelepon.

Nadira membiarkannya berdering tiga kali sebelum mengangkat.

“Kapan kamu pulang?”

Nada suaranya terdengar seolah tidak terjadi apa-apa.

“Aku tidak akan pulang.”

Arga menghela napas kasar.

“Jangan kekanak-kanakan.”

Nadira nyaris tidak percaya.

“Yang menampar istrimu di depan delapan belas orang itu kamu, Arga.”

“Aku sudah bilang aku emosi.”

“Itu bukan alasan.”

“Karin juga sudah memaafkan kamu.”

Nadira terdiam beberapa detik.

Kemudian tertawa kecil.

“Karin memaafkan aku?”

“Iya. Jadi kita anggap masalah selesai.”

“Tidak.”

Nada suara Arga berubah.

“Terus kamu maunya apa?”

“Aku mau bicara besok. Di rumah ibumu.”

“Untuk apa?”

“Bawa Karin. Bawa Ibu. Dan jangan hapus rekaman CCTV.”

Telepon langsung hening.

Nadira tahu Arga memahami maksudnya.

“Nadira…”

“Besok jam sepuluh.”

Ia menutup telepon.

Keesokan paginya, Nadira datang bersama ayah dan seorang pengacara bernama Pak Reza, kenalan lama keluarganya.

Begitu melihat mereka, wajah Bu Ratih langsung berubah.

“Kenapa bawa pengacara?”

“Supaya tidak ada yang salah ingat lagi tentang apa yang terjadi.”

Karin duduk di sofa dengan wajah pucat.

Arga berdiri di dekat jendela.

Nadira meletakkan laptop di atas meja.

Tanpa banyak bicara, ia memutar rekaman makan malam.

Ruangan mendadak sunyi.

Di layar terlihat jelas Karin bangkit dari kursinya, melihat Nadira mendekat, lalu sengaja mendorong bahunya.

Sup tumpah.

Karin menjerit.

Kemudian tampak Arga menampar Nadira.

Tak ada yang bisa dibantah.

Bu Ratih langsung berkata, “Itu mungkin hanya salah gerakan.”

Nadira tidak menjawab.

Ia memutar video berikutnya.

Karin masuk ke kamar Nadira.

Mengambil gelang.

Wajah Karin langsung kehilangan warna.

“Itu…”

Video berlanjut.

Karin memasukkan amplop ke laci Nadira.

Kemudian rekaman dari ruang kerja memperlihatkan dari mana amplop tersebut berasal.

Kali ini Arga yang pucat.

Ia menatap adiknya.

“Karin?”

Karin mulai menangis.

“Aku cuma…”

“Cuma apa?”

Nada Arga meninggi.

Karin menggigit bibir.

Bu Ratih buru-buru menyela.

“Sudah, jangan membesar-besarkan. Karin masih muda.”

Nadira memandang ibu mertuanya.

“Usianya dua puluh tujuh tahun, Bu.”

Bu Ratih terdiam.

“Dan uang lima puluh juta itu ternyata tidak pernah saya ambil.”

Karin semakin panik.

“Aku cuma mau bikin Kak Arga sadar kalau dia salah pilih istri.”

Arga menatap adiknya tak percaya.

“Kamu gila?”

Karin tiba-tiba berdiri.

“Karena sejak menikah, Kakak selalu membela dia!”

Nadira menatap Arga.

Kalimat itu hampir ironis.

Arga bahkan tidak pernah benar-benar membelanya.

Namun sebelum ada yang sempat berkata lagi, Karin melanjutkan dengan suara bergetar.

“Ibu juga bilang Nadira tidak cocok masuk keluarga kita!”

Arga perlahan menoleh ke arah Bu Ratih.

“Ibu?”

Wajah Bu Ratih membeku.

“Karin, cukup.”

Namun Karin sudah terlanjur kehilangan kendali.

“Ibu sendiri yang bilang kalau setelah menikah kita harus bikin Nadira tidak betah. Biar dia pergi sendiri tanpa menuntut apa-apa.”

Ruangan itu seketika terasa lebih dingin.

Arga memandang ibunya seperti baru pertama kali melihat perempuan itu.

Bu Ratih langsung berdiri.

“Dia sedang emosional. Jangan dengarkan.”

Namun Pak Reza membuka sebuah map.

“Kami juga menemukan percakapan yang dikirim Karin kepada temannya.”

Karin menoleh cepat.

Nadira tidak tersenyum.

Dimas ternyata menemukan bahwa satu kamera di ruang keluarga memiliki fungsi perekaman suara dengan kualitas cukup jelas.

Dua hari sebelumnya, Karin duduk di ruangan tersebut sambil menelepon seseorang.

Dalam percakapan itu, ia menceritakan rencana membuat Nadira terlihat sebagai pencuri.

Lebih mengejutkan lagi, ia menyebut bahwa Bu Ratih tahu.

Wajah Bu Ratih akhirnya benar-benar berubah.

“Rekaman itu tidak boleh kalian sebarkan.”

Pak Reza menatapnya tenang.

“Kami tidak datang untuk menyebarkan. Kami datang untuk memastikan bukti tidak dimusnahkan.”

Arga mendekati Nadira.

“Nadira, aku benar-benar tidak tahu.”

Nadira menatapnya.

“Aku percaya kamu tidak tahu soal uang itu.”

Arga menghela napas lega.

“Tapi kamu tahu kamu menamparku.”

Wajah Arga langsung jatuh.

“Kamu tahu kamu menyuruhku keluar.”

“Nadira…”

“Kamu tahu adikmu mengambil gelangku, tapi waktu aku mengadu, kamu bilang itu masalah kecil.”

Arga tidak bisa menjawab.

Nadira melepas cincin pernikahannya.

Ia meletakkannya di atas meja.

Bunyi kecil logam menyentuh kaca terasa lebih keras daripada seharusnya.

“Aku tidak butuh bukti CCTV untuk tahu pernikahan ini salah.”

Mata Arga memerah.

“Kita baru empat hari menikah.”

“Justru itu.”

Nadira menatapnya lurus.

“Kalau dalam empat hari kamu sudah berani melakukan ini, aku tidak mau menunggu empat tahun untuk melihat apa yang terjadi selanjutnya.”

Arga memegang kepalanya.

“Kasih aku kesempatan.”

“Kesempatan untuk apa?”

“Aku bisa berubah.”

Nadira menggeleng perlahan.

“Berubah karena kamu sadar sudah menyakiti aku, atau karena sekarang ada rekaman yang membuktikan semuanya?”

Pertanyaan itu membuat Arga diam.

Nadira mengambil gelang neneknya yang akhirnya dikembalikan Karin.

Kemudian ia berdiri.

Pak Reza menyampaikan bahwa Nadira memilih mengambil langkah hukum terkait kekerasan yang dialaminya dan menyerahkan proses berikutnya kepada kuasa hukum.

Namun ternyata kejutan terbesar datang beberapa minggu kemudian.

Salah satu dari delapan belas tamu yang hadir malam itu ternyata adalah paman Arga, Pak Hendra, pemegang saham terbesar kedua di perusahaan keluarga Pratama.

Ia sudah lama curiga Bu Ratih menggunakan bisnis keluarga untuk menutup berbagai masalah pribadi.

Setelah melihat sendiri bagaimana Bu Ratih dan Karin memanipulasi kejadian di ruang makan, Pak Hendra meminta audit internal.

Hasilnya membuat keluarga itu gempar.

Selama hampir tiga tahun, Karin ternyata menggunakan kartu perusahaan untuk membiayai berbagai pengeluaran pribadi.

Liburan.

Barang mewah.

Sewa apartemen.

Bahkan sebagian uang yang selama ini dianggap sebagai biaya pemasaran hotel ternyata mengalir ke rekening miliknya.

Jumlahnya bukan lima puluh juta.

Melainkan hampir empat miliar rupiah.

Bu Ratih mengetahui sebagian transaksi itu.

Dan selama ini ia menutupinya.

Arga yang menjadi direktur operasional akhirnya ikut diperiksa karena dianggap lalai mengawasi keuangan perusahaan.

Tidak ada yang langsung jatuh miskin.

Tidak ada rumah besar yang tiba-tiba disita.

Namun untuk pertama kalinya, citra keluarga Pratama sebagai keluarga sempurna mulai runtuh dari dalam.

Semua berawal dari satu makan malam.

Satu dorongan.

Satu tamparan.

Dan satu kamera kecil yang tidak mereka sadari masih menyala.

Enam bulan kemudian, Nadira resmi mengakhiri pernikahannya.

Ia kembali bekerja di perusahaan desain interior tempatnya bekerja sebelum menikah.

Orang tuanya sempat meminta Nadira pulang dan membantu toko keluarga, tetapi ia menolak dengan lembut.

“Aku mau membangun hidupku lagi dengan tanganku sendiri.”

Suatu sore, ketika Nadira sedang duduk di sebuah kafe di Jakarta Selatan, sebuah pesan masuk dari Arga.

Aku tidak minta kamu kembali. Aku cuma mau bilang aku benar-benar menyesal.

Nadira membaca pesan itu dua kali.

Kemudian mengunci layar ponselnya.

Ia tidak membalas.

Bukan karena marah.

Bukan pula karena ingin menghukum.

Ia hanya sudah tidak membutuhkan penjelasan apa pun.

Di hadapannya, matahari sore memantul di kaca gedung-gedung tinggi Jakarta.

Nadira menyentuh gelang peninggalan neneknya yang kini kembali melingkar di pergelangan tangan.

Dulu ia mengira keberanian berarti mampu bertahan selama mungkin.

Ia salah.

Kadang-kadang keberanian justru berarti tahu kapan harus berhenti.

Tahu kapan harus pergi.

Dan tahu bahwa mempertahankan sebuah pernikahan tidak pernah lebih penting daripada mempertahankan harga diri dan keselamatan diri sendiri.

Nadira tersenyum kecil.

Empat hari pernikahan itu memang menjadi salah satu bagian terburuk dalam hidupnya.

Namun tanpa disadari siapa pun malam itu, tamparan Arga bukanlah akhir hidup Nadira.

Justru itulah suara keras yang membangunkannya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang