Untuk pertama kalinya dalam enam tahun, Pak Hendra membuka matanya dengan kesadaran penuh.
Maya membeku di samping tempat tidur. Uap dari diffuser baru masih menggantung di udara, membuat kamar terasa sesak dan berbau tajam. Tangannya gemetar ketika melihat mata ayah mertuanya benar-benar mengikuti gerakannya.
“Bapak bisa mendengar saya?” bisiknya.
Pak Hendra berkedip sekali.
Dada Maya terasa seperti dihantam sesuatu.

Ia segera mematikan diffuser, mencabut kabelnya, lalu membuka kedua jendela selebar mungkin. Udara pagi Surabaya yang lembap masuk bersama suara kendaraan dari jalan raya.
Ketika Maya kembali ke samping tempat tidur, bibir Pak Hendra bergerak.
Awalnya hanya seperti desahan.
“Maya…”
Maya hampir menjatuhkan alat pengukur tekanan darah di tangannya.
Selama enam tahun, Pak Hendra nyaris tidak pernah mengucapkan satu kata pun dengan jelas.
“Bapak jangan memaksa bicara.”
Pak Hendra menggeleng sangat pelan.
“Kasur.”
“Apa?”
“Di… kasur.”
Maya menatapnya bingung.
Pria tua itu menggerakkan mata ke arah bagian bawah tempat tidur.
“Ambil.”
Maya berlutut. Ia memeriksa kolong tempat tidur, tetapi tidak menemukan apa pun selain sandal dan sebuah kotak plastik berisi perlengkapan medis.
“Di dalam,” bisik Pak Hendra.
Maya menatap kasur tebal yang selama ini tidak pernah ia pikirkan.
Dengan susah payah ia menarik seprai dan pelindung kasur. Di sisi dekat kepala tempat tidur, jahitannya terlihat sedikit berbeda.
Ada bekas sobekan yang dijahit kembali secara kasar.
Maya mengambil gunting kecil dari laci.
Begitu jahitan itu terbuka, jari-jarinya menyentuh benda keras.
Sebuah ponsel lama.
Model Android keluaran bertahun-tahun lalu, dengan layar retak dan casing hitam kusam.
“Ini punya Bapak?”
Pak Hendra berkedip sekali.
Maya menekan tombol daya.
Tidak menyala.
Ia mencari kabel pengisi daya di gudang dan menemukan kabel yang sesuai. Dua puluh menit kemudian layar ponsel menyala.
Tidak ada kartu SIM.
Namun ada beberapa rekaman suara dan video tersimpan di dalamnya.
Tanggal terakhirnya dua hari lalu.
Jantung Maya mulai berdetak lebih cepat.
Ia menekan salah satu rekaman suara.
Suara Ardi langsung terdengar.
“Kalau dosisnya segini aman, kan?”
Suara laki-laki lain menjawab melalui telepon.
“Jangan terlalu lama. Orang tua dengan kondisi seperti itu bisa sesak.”
“Lalu kelihatannya seperti komplikasi stroke?”
“Bisa saja.”
Maya merasa seluruh tubuhnya menjadi dingin.
Dalam rekaman berikutnya, suara Ardi terdengar lagi.
“Aku butuh sekitar dua minggu. Kalau semuanya selesai sebelum aku pulang dari Bali, lebih bagus.”
Maya menutup mulut dengan tangan.
Pak Hendra memejamkan mata. Air mata mengalir dari sudut matanya.
Maya berbalik kepadanya.
“Bapak tahu semua ini?”
Bibir pria tua itu bergetar.
“Ardi… mau rumah.”
Maya menahan napas.
Rumah mereka bukan rumah biasa.
Tanah seluas hampir seribu meter persegi di Surabaya Barat itu dibeli Pak Hendra puluhan tahun lalu ketika harga tanah masih murah. Kini nilainya mencapai miliaran rupiah.
Selama ini Ardi selalu mengatakan bahwa rumah tersebut sudah diwariskan kepadanya.
Namun Pak Hendra perlahan menggeleng.
“Belum.”
Maya langsung memahami.
Kalau Pak Hendra meninggal, Ardi berharap bisa menguasai seluruh aset dengan mudah.
Tetapi mengapa ponsel itu ada di kasur?
“Siapa yang merekam ini, Pak?”
Pak Hendra berusaha mengangkat tangan, lalu menunjuk dirinya sendiri.
Ternyata beberapa bulan terakhir kesadarannya jauh lebih baik daripada yang diketahui semua orang.
Ia bisa mendengar.
Ia bisa memahami.
Hanya tubuhnya yang tidak mampu merespons.
Suatu malam, ketika Ardi mengira ayahnya tertidur, ia menelepon seseorang di kamar itu dan membicarakan rencananya.
Pak Hendra kemudian menggunakan ponsel lama yang disembunyikan bertahun-tahun sebelumnya untuk merekam pembicaraan-percakapan berikutnya.
Dengan tenaga yang terbatas, ia menyembunyikan ponsel itu ke dalam sobekan kecil di kasur menggunakan satu tangan yang masih bisa bergerak sedikit.
Maya merasa bersalah.
Enam tahun ia merawat pria itu, tetapi tidak pernah menyadari betapa banyak hal yang ingin disampaikannya.
“Kenapa Bapak tidak memberi tanda lebih awal?”
Pak Hendra menatapnya lama.
“Takut… kamu… kena.”
Kalimat itu menghancurkan pertahanan Maya.
Ternyata selama ini pria yang ia rawat diam-diam justru berusaha melindunginya.
Maya segera menelepon ambulans dan mengatakan Pak Hendra mengalami gangguan pernapasan. Ia tidak menyebutkan kecurigaannya tentang diffuser.
Di rumah sakit, dokter menemukan adanya iritasi saluran pernapasan yang tidak biasa. Maya menyerahkan botol cairan tanpa label dan meminta pemeriksaan lebih lanjut.
Setelah memastikan Pak Hendra dalam kondisi stabil, Maya menelepon Ardi.
Telepon baru diangkat setelah panggilan ketiga.
Suara musik terdengar dari belakang.
“Halo?”
“Kamu di mana?”
“Baru sampai hotel. Kenapa?”
“Ayah sesak napas.”
Beberapa detik hening.
Anehnya, Ardi tidak terdengar terkejut.
“Lalu?”
Maya menggenggam ponsel erat.
“Aku bawa ke rumah sakit.”
“Aku sudah bilang jangan mematikan alat itu.”
Ucapan itu keluar terlalu cepat.
Maya langsung tahu.
“Kenapa?”
Ardi terdiam.
“Maksudku, alat itu bagus untuk pernapasannya.”
Maya menahan emosinya.
“Ayah sekarang sudah sadar.”
Musik di latar belakang seketika terasa sangat jauh.
“Apa?”
“Dia membuka mata. Bahkan bisa bicara.”
Tidak ada jawaban.
“Ardi?”
Sambungan terputus.
Maya menatap layar ponsel.
Kurang dari lima menit kemudian, Alya menelepon.
“Ibu, apa benar Kakek sadar?”
Suara anak itu terdengar panik.
“Iya.”
“Ayah tiba-tiba marah dan bilang kami harus pulang.”
Maya terdiam.
“Alya, kalian benar-benar sedang ikut program pelatihan?”
Alya tidak langsung menjawab.
“Ibu…”
“Jawab jujur.”
“Kami tidak ada pelatihan.”
Jantung Maya tenggelam.
“Terus kalian ke Bali untuk apa?”
“Ayah bilang kami liburan. Tapi aku tidak boleh bilang ke Ibu karena katanya Ibu akan membuat masalah.”
Air mata Maya memenuhi matanya.
Berbulan-bulan Ardi bukan hanya membuat keluarga meragukannya. Ia bahkan perlahan memisahkan putrinya dari dirinya.
“Alya, dengarkan Ibu baik-baik. Jangan bertengkar dengan Ayah. Jangan katakan apa pun tentang percakapan kita. Kamu cukup tetap dekat dengan orang-orang dan jangan sendirian dengannya kalau dia sedang marah.”
“Kenapa, Bu?”
Maya menarik napas.
“Nanti Ibu jelaskan.”
Malam itu Maya tidak pulang ke rumah.
Ia tinggal di rumah sakit dan menghubungi seorang teman lamanya yang kini bekerja sebagai pengacara.
Setelah mendengar rekaman di ponsel, temannya berkata tegas, “Jangan hadapi Ardi sendirian.”
Mereka kemudian menyerahkan salinan rekaman dan cairan dari diffuser kepada pihak berwenang.
Namun kejutan terbesar datang keesokan harinya.
Dokter meminta Maya masuk ke ruang konsultasi.
“Hasil pemeriksaan awal terhadap cairan itu menunjukkan adanya zat yang seharusnya tidak digunakan dalam diffuser.”
“Berbahaya?”
“Pada paparan terus-menerus, terutama bagi pasien lansia dengan masalah neurologis dan pernapasan, risikonya cukup serius.”
Kaki Maya terasa lemas.
Ia membayangkan malam-malam ketika dirinya tidur hanya beberapa meter dari kamar Pak Hendra tanpa pernah menyadari apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Siang itu Ardi tiba di Surabaya.
Ia datang ke rumah sakit bersama Alya.
Begitu melihat Maya di lorong, wajahnya merah padam.
“Kamu bikin apa sekarang?”
Maya tidak menjawab.
“Aku tanya kamu!”
Alya berdiri beberapa langkah di belakang ayahnya, pucat.
Ardi mendekati Maya.
“Ayah sudah tua. Kondisinya memang naik turun. Jangan karena kamu panik lalu menuduh macam-macam.”
Kalimat itu persis seperti narasi yang selama berbulan-bulan ia tanamkan kepada semua orang.
Maya memandangnya.
“Siapa bilang aku menuduh?”
Wajah Ardi berubah.
Saat itulah dua petugas mendekati mereka.
“Pak Ardi?”
Ardi menoleh.
“Kami perlu meminta keterangan terkait kondisi Pak Hendra dan sebuah alat yang ditemukan di rumah.”
Ardi membeku.
Matanya langsung menatap Maya.
“Kamu melaporkan aku?”
Maya tetap diam.
Namun Ardi tertawa kecil.
“Ini gila. Dia memang sudah tidak stabil. Tanya anak saya kalau tidak percaya.”
Semua mata beralih kepada Alya.
Maya merasakan rasa sakit menusuk dadanya.
Enam belas tahun.
Anaknya masih terlalu muda untuk berada di tengah kehancuran keluarga seperti ini.
Ardi menatap Alya.
“Bilangkan pada mereka. Ibumu akhir-akhir ini suka mengarang.”
Alya menunduk.
Beberapa detik kemudian ia mengangkat wajah.
“Tidak.”
Ardi mengernyit.
“Apa?”
Alya mengeluarkan ponselnya.
“Aku memang sempat percaya sama Ayah.”
Tangannya gemetar.
“Tapi semalam, waktu kita di hotel, aku merekam Ayah menelepon seseorang.”
Wajah Ardi seketika kehilangan warna.
Alya menekan layar.
Suara Ardi terdengar jelas.
“Kenapa dia bisa sadar? Bukannya kamu bilang cairan itu akan membuat kondisinya makin buruk?”
Lorong rumah sakit mendadak sunyi.
Ardi menyambar ponsel Alya.
Namun salah seorang petugas langsung menahan tangannya.
“Kamu jebak Ayah?” teriak Ardi.
Alya menangis.
“Ayah yang bohong sama kami!”
Maya memeluk putrinya.
Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, Alya tidak menjauh.
Beberapa minggu berikutnya mengubah seluruh hidup mereka.
Penyelidikan menemukan bahwa Ardi memiliki utang besar dari investasi yang gagal. Ia sudah menggunakan sebagian aset keluarga sebagai jaminan tanpa sepengetahuan Maya.
Ia membutuhkan uang dalam jumlah besar.
Dan rumah milik Pak Hendra adalah jalan keluar tercepat.
Tetapi ternyata rencananya lebih jauh daripada yang dibayangkan Maya.
Di dalam ponsel lama itu terdapat foto sebuah dokumen.
Sebuah surat wasiat baru yang belum pernah diperlihatkan Ardi kepada siapa pun.
Pak Hendra telah membuatnya setahun sebelumnya dengan bantuan notaris yang datang diam-diam ke rumah ketika Ardi sedang pergi.
Dalam surat itu, Pak Hendra tidak memberikan rumah tersebut kepada Ardi.
Ia memberikan hak tinggal kepada Maya selama hidupnya dan sebagian besar asetnya kepada sebuah yayasan rehabilitasi pasien stroke.
Alasannya tertulis singkat.
Orang yang merawat saya ketika saya tidak mampu memberi apa pun kembali adalah orang yang paling layak saya percaya.
Ketika Maya membaca kalimat itu di samping tempat tidur rumah sakit, ia tidak mampu menahan air mata.
“Bapak tidak perlu melakukan ini.”
Pak Hendra kini sudah bisa berbicara beberapa kata, meskipun sangat pelan.
“Bukan… hadiah.”
Ia menarik napas.
“Balas… hidup.”
Maya menggenggam tangannya.
Beberapa bulan kemudian, kondisi Pak Hendra membaik cukup signifikan setelah menjalani terapi intensif.
Ia tidak pernah kembali seperti sebelum stroke.
Namun kini ia bisa duduk dengan bantuan, berbicara pendek, dan tersenyum ketika Alya datang membacakan berita untuknya.
Ardi menjalani proses hukum.
Maya mengajukan perceraian.
Alya tinggal bersamanya dan mulai menjalani konseling untuk memahami semua kebohongan yang selama ini ditanamkan ayahnya.
Suatu sore, Maya sedang mengganti seprai Pak Hendra ketika pria tua itu menunjuk kasur baru.
“Jangan… disobek.”
Maya terdiam sesaat sebelum tertawa.
Pak Hendra ikut tersenyum.
Itulah pertama kalinya Maya mendengar dirinya tertawa tanpa rasa bersalah setelah bertahun-tahun.
Ia memandang jendela yang terbuka lebar.
Diffuser itu sudah lama dibuang sebagai barang bukti.
Tidak ada lagi uap tebal.
Tidak ada lagi bau menyengat.
Udara masuk dengan bebas.
Maya akhirnya memahami sesuatu yang selama ini tidak pernah diajarkan kepadanya oleh siapa pun.
Kejahatan tidak selalu datang dengan teriakan atau wajah penuh kebencian.
Kadang-kadang ia datang sebagai seorang suami yang berbicara lembut di meja makan.
Sebagai anak yang mengaku paling berbakti.
Sebagai ayah yang perlahan membuat putrinya meragukan ibunya sendiri.
Dan terkadang, kebenaran tidak membutuhkan orang yang paling kuat untuk membongkarnya.
Ia hanya membutuhkan seseorang yang masih mau mendengarkan.
Bahkan ketika suara yang meminta pertolongan itu selama enam tahun nyaris tidak terdengar.
