EMPAT TOPLES SAYUR ASIN DARI DESA MEMBUATKU MALU, JADI KUBERIKAN KEPADA DIREKTUR—DELAPAN HARI KEMUDIAN IA MENGUNCI PINTU RUANGANNYA, MENARUH FOTO TUA DI DEPANKU, LALU BERKATA DENGAN SUARA GEMETAR, “BAWA AKU MENEMUI IBU MERTUAMU. PEREMPUAN INI SUDAH KUCARI HAMPIR TIGA PULUH TAHUN.”

Tulisan di belakang foto itu hanya terdiri dari dua baris, tetapi cukup membuat tanganku gemetar.

Lastri, kalau suatu hari aku tidak sempat mengembalikan semuanya, carilah Jatmiko Santoso. Dia tahu apa yang sebenarnya terjadi malam itu.

Jatmiko Santoso.

Nama ayah Arga.

Aku membaca kalimat itu dua kali, lalu tiga kali, seolah huruf-hurufnya mungkin berubah kalau kutatap cukup lama.

“Pak,” suaraku hampir tidak terdengar, “Jatmiko Santoso itu ayah suami saya.”

Pak Rendra tidak langsung menjawab.

Dia hanya memandangku dengan wajah kosong.

Beberapa detik kemudian dia duduk kembali.

“Berarti hubungan keluarga kalian dengan keluarga saya lebih panjang daripada yang saya kira.”

Aku menatap foto itu.

“Apa yang sebenarnya terjadi tahun 1997?”

Pak Rendra menggeleng perlahan.

“Saya juga tidak tahu seluruhnya.”

Dia menarik napas.

“Waktu itu saya dua puluh lima tahun. Saya baru bekerja di Semarang. Suatu malam saya mengalami kecelakaan ketika pulang naik motor. Kepala saya terbentur, kehilangan banyak darah, dan harus dioperasi. Ibu saya tidak punya cukup uang.”

“Tapi kenapa Bu Sulastri yang membayar?”

“Itulah yang ingin saya tahu.”

Pak Rendra membuka surat tua tersebut.

Tulisan di sana sudah kabur, tetapi masih bisa dibaca.

Surat itu berasal dari ibu Pak Rendra.

Isinya bukan surat resmi, melainkan catatan terima kasih.

Ada satu kalimat yang membuat dadaku kembali sesak.

Lastri, aku tidak tahu bagaimana harus membalasmu. Kalau bukan karena gelang itu dan bantuan Jatmiko membawa Rendra ke rumah sakit malam itu, mungkin anakku sudah tidak ada.

Aku menatap Pak Rendra.

“Jadi ayah Arga juga ada di sana?”

“Sepertinya begitu.”

“Bapak tidak ingat?”

“Saya koma hampir tiga hari.”

Pak Rendra kemudian berkata bahwa setelah pulih, ibunya hanya menceritakan sebagian kejadian. Katanya ada pasangan suami istri dari Temanggung yang menolongnya. Mereka membawa Rendra ke rumah sakit dengan mobil proyek, mengurus administrasi, bahkan menalangi biaya awal.

Pak Rendra ingin mencari mereka setelah kondisi ekonominya membaik.

Namun ketika kembali ke alamat lama, keluarga itu sudah pindah.

Beberapa tahun kemudian ibunya meninggal.

Sejak saat itu, yang tersisa hanya nama Bu Lastri dan sebuah ingatan samar mengenai Temanggung.

“Kenapa dokumen ini bisa ada di dalam toples?” tanyaku.

“Itu juga yang harus kita tanyakan pada beliau.”

Aku menelepon Arga.

Dia sedang bekerja dari rumah hari itu.

“Ga, kamu bisa bicara?”

“Bisa. Kenapa?”

“Aku mau tanya sesuatu. Ayahmu pernah kenal orang bernama Rendra Adiprana?”

Hening.

“Aku nggak tahu. Kenapa?”

Aku menceritakan semuanya.

Semakin lama aku bicara, Arga semakin diam.

Ketika selesai, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya justru bukan pertanyaan tentang Pak Rendra.

“Kamu tadi bilang dokumen itu ditemukan di dalam tutup toples?”

“Iya.”

Arga menghela napas.

“Berarti Ibu sengaja mengirimnya.”

Aku tercekat.

“Apa?”

“Ibu nggak pernah memasukkan apa pun ke tutup toples. Aku tahu cara Ibu bikin sayur asin sejak kecil.”

Aku memandang Pak Rendra.

Dia mendengar suara Arga karena ponselku menggunakan speaker.

“Mas Arga,” katanya, “saya boleh bicara langsung?”

Arga langsung menjawab sopan.

“Tentu, Pak.”

“Saya ingin menemui ibu Anda.”

Arga terdiam sebentar.

“Kalau memang ini tentang masa lalu Ayah, saya juga ingin tahu.”

Kami memutuskan berangkat ke Temanggung Sabtu pagi.

Aku tidak tahu mana yang lebih menggangguku sepanjang dua hari berikutnya.

Rasa penasaran tentang apa yang terjadi pada 1997.

Atau rasa malu karena baru sekarang aku sadar bahwa selama hampir enam tahun, aku tidak pernah benar-benar mencoba mengenal perempuan yang kupanggil Ibu.

Sabtu pagi, kami berangkat menggunakan mobil Pak Rendra.

Arga duduk di depan.

Aku di belakang bersama Pak Rendra.

Sepanjang perjalanan, Pak Rendra hampir tidak berbicara.

Dia membawa amplop tua itu di dalam tas kecil.

Sesekali tangannya menyentuh tas tersebut seolah memastikan benda itu masih ada.

Ketika memasuki Temanggung dan jalan mulai mengecil, aku memandang sawah serta kebun di kanan kiri.

Dulu pemandangan seperti itu membuatku berpikir tentang lumpur, nyamuk, dan sinyal internet yang buruk.

Hari itu rasanya berbeda.

Aku justru membayangkan Bu Sulastri muda berjalan di jalan-jalan ini.

Dengan gelang emas delapan belas gram di tangannya.

Gelang yang kemudian dia lepas untuk seorang laki-laki asing yang sedang sekarat.

Kami tiba menjelang pukul dua siang.

Bu Sulastri sedang menyapu halaman.

Begitu melihat mobil berhenti, wajahnya langsung berseri.

“Arga!”

Dia meletakkan sapu.

Kemudian matanya melihatku.

“Nadira juga ikut?”

Nada suaranya begitu senang sehingga sesuatu mencubit dadaku.

“Iya, Bu.”

Aku turun.

Untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun, aku mendekatinya dan mencium tangannya tanpa merasa sedang menjalankan kewajiban.

Bu Sulastri tersenyum, lalu matanya beralih kepada Pak Rendra.

Senyum itu perlahan hilang.

Pak Rendra turun dari mobil.

Dia belum mengatakan apa pun.

Tetapi Bu Sulastri sudah tampak pucat.

Tas kain yang tadi dipegangnya jatuh ke kursi bambu.

“Rendra?”

Pak Rendra membeku.

Arga dan aku saling pandang.

Pak Rendra melangkah maju.

“Ibu… masih ingat saya?”

Bu Sulastri menutup mulut dengan kedua tangan.

Air matanya langsung jatuh.

“Ya Allah…”

Pak Rendra ikut menangis.

Dia menunduk dan mencium tangan Bu Sulastri.

Perempuan itu menyentuh kepalanya.

“Sudah besar.”

Suaranya pecah.

“Sudah jadi orang rupanya.”

Aku tidak tahu kenapa kalimat sederhana itu membuat suasana terasa semakin berat.

Kami masuk ke ruang tamu.

Bu Sulastri membuat teh.

Tangannya masih gemetar.

Setelah semuanya duduk, Pak Rendra mengeluarkan amplop.

“Ibu sengaja menaruh ini di toples?”

Bu Sulastri menatapku.

Lalu menatap Arga.

Kemudian dia mengangguk.

“Iya.”

Aku langsung bertanya, “Kenapa tidak langsung diberikan kepada Arga, Bu?”

Dia tersenyum tipis.

“Karena yang harus menemukan bukan Arga.”

Aku mengernyit.

“Lalu siapa?”

Bu Sulastri menatapku.

“Kamu.”

Jantungku seperti jatuh.

“Aku?”

“Iya.”

Aku benar-benar tidak mengerti.

Bu Sulastri lalu bertanya pelan, “Waktu Pak Rendra bilang suka sayur asin, kamu yang memutuskan membawa toples itu, kan?”

Aku mengangguk.

“Bagaimana Ibu tahu?”

“Tidak tahu.”

Dia tersenyum.

“Ibu hanya berharap.”

Pak Rendra terlihat semakin bingung.

Bu Sulastri akhirnya mulai bercerita.

Tahun 1997, Jatmiko, suaminya, bekerja sebagai teknisi proyek konstruksi di Semarang.

Bu Sulastri sering ikut tinggal sementara di rumah kontrakan dekat proyek karena Arga saat itu masih kecil.

Malam tanggal 14 Februari, Jatmiko pulang dengan pakaian berlumuran darah.

Bukan darahnya.

Dia baru saja menemukan seorang pemuda kecelakaan di jalan.

Pemuda itu Pak Rendra.

Jatmiko membawa Rendra menggunakan mobil proyek bersama dua pekerja lain.

Di rumah sakit, petugas meminta uang muka.

Ibu Rendra belum datang.

Jatmiko hanya memiliki sedikit uang.

Bu Sulastri yang dipanggil ke rumah sakit langsung melepas gelang emasnya.

“Itu gelang dari ibu saya,” katanya.

“Kenapa Ibu lakukan itu?” tanya Pak Rendra dengan suara serak.

Bu Sulastri mengangkat bahu.

“Kalau waktu itu saya pulang mengambil uang atau menunggu keluargamu datang, dokter bilang operasinya bisa terlambat.”

“Tapi itu satu-satunya perhiasan Ibu.”

“Perhiasan bisa dicari lagi.”

Bu Sulastri menatapnya.

“Nyawa tidak.”

Pak Rendra menunduk.

Bahu lelaki yang selama ini kulihat begitu tegas di kantor itu mulai bergetar.

Namun cerita belum selesai.

Setelah Pak Rendra sadar, ibunya ingin mengembalikan uang.

Jatmiko menolak.

Beberapa bulan kemudian, terjadi masalah besar di proyek.

Ada kecelakaan kerja yang menewaskan dua orang.

Jatmiko mengetahui bahwa perusahaan kontraktor menggunakan material yang tidak sesuai standar.

Dia diminta menandatangani laporan palsu.

Dia menolak.

“Jatmiko punya salinan dokumen,” kata Bu Sulastri.

“Dia bilang suatu hari dokumen itu mungkin diperlukan.”

Arga duduk lebih tegak.

“Ayah meninggal beberapa tahun setelah itu karena kecelakaan proyek juga.”

Bu Sulastri menatap anaknya lama.

Kemudian mengangguk.

“Bukan kecelakaan biasa.”

Ruangan langsung sunyi.

Arga tampak kehilangan warna.

“Apa maksud Ibu?”

Bu Sulastri menarik napas panjang.

“Ayahmu pernah diancam.”

Arga berdiri.

“Ibu tidak pernah cerita.”

“Karena kamu masih kecil.”

“Setelah aku besar?”

“Karena Ibu tidak punya bukti.”

Suara Arga meninggi.

“Dua puluh tahun lebih Ibu simpan ini sendiri?”

Bu Sulastri menunduk.

“Ibu hanya ingin kamu hidup.”

Arga berjalan ke pintu, lalu kembali.

Aku tahu dia marah bukan kepada ibunya.

Dia marah karena tiba-tiba seluruh hidupnya memiliki pintu rahasia yang tidak pernah ia tahu.

Pak Rendra bertanya pelan, “Apa hubungannya dengan keluarga saya?”

Bu Sulastri memandangnya.

“Ibumu tahu.”

Ternyata ibu Pak Rendra bekerja sebagai staf administrasi pada perusahaan pemasok material proyek tersebut.

Dia diam-diam membantu Jatmiko menyalin beberapa bukti.

Setelah Jatmiko meninggal, dia datang ke Temanggung membawa sebuah amplop.

Di dalamnya terdapat foto, kuitansi, surat, dan satu kunci kecil.

“Kunci?” tanyaku.

Bu Sulastri berdiri dan masuk ke kamar.

Dia kembali membawa kotak besi tua.

Dari dalamnya, dia mengambil kunci kuningan kecil.

“Ibu Rendra bilang, kalau suatu hari Rendra menemukan saya, berikan ini.”

Pak Rendra mengambil kunci tersebut.

Tangannya gemetar.

“Untuk apa?”

“Safe deposit box.”

Pak Rendra terdiam.

Bu Sulastri menyebut nama sebuah bank lama di Semarang yang kemudian merger dengan bank nasional.

Menurut ibu Rendra, salinan dokumen proyek disimpan di sana.

Selama bertahun-tahun Bu Sulastri tidak pernah mencoba membukanya.

“Kenapa?”

Pak Rendra nyaris berbisik.

Bu Sulastri tersenyum lelah.

“Karena nama penyewanya bukan saya.”

“Siapa?”

“Rendra Adiprana.”

Kami semua terdiam.

Pak Rendra menutup mata.

Ibunya ternyata telah menyiapkan semuanya.

Bukan untuk dirinya sendiri.

Untuk anaknya.

Senin berikutnya, Pak Rendra mengambil cuti.

Arga ikut ke Semarang.

Dua hari kemudian, mereka kembali membawa salinan dokumen lama, surat-surat kontrak, laporan laboratorium material, dan sebuah kaset rekaman.

Kaset itu berisi suara Jatmiko.

Suara ayah Arga.

Di dalam rekaman, Jatmiko menjelaskan siapa saja yang memerintahkannya memalsukan laporan.

Tetapi ada satu bagian yang sama sekali tidak kami duga.

Salah satu perusahaan pemasok dalam dokumen itu adalah perusahaan milik ayah Pak Rendra.

Pak Rendra terpukul.

Lelaki yang selama ini ia kenang sebagai ayah pekerja keras ternyata ikut mengetahui pemalsuan tersebut.

Namun dalam rekaman terakhir, suara Jatmiko berkata bahwa ayah Rendra akhirnya mencoba membongkar semuanya dan membantu menyelamatkan dokumen.

Itulah sebabnya dua keluarga itu kemudian tercerai-berai oleh rasa takut.

Kasus lama tersebut akhirnya dibawa kepada pengacara.

Sebagian pelakunya sudah meninggal.

Sebagian perusahaan sudah tidak ada.

Namun bagi Arga, tujuan utamanya bukan lagi mencari siapa yang harus dipenjara.

Dia hanya ingin tahu kebenaran tentang ayahnya.

Bahwa Jatmiko Santoso bukan korban kecelakaan biasa.

Dan bahwa selama ini ibunya hidup sendirian bukan karena lemah.

Dia hidup sambil menjaga rahasia yang bisa membahayakan anaknya.

Sebulan kemudian, Pak Rendra kembali ke rumah Bu Sulastri.

Kali ini dia membawa sebuah kotak kecil.

Di dalamnya ada gelang emas.

Beratnya delapan belas gram.

Modelnya dibuat semirip mungkin dengan gelang yang dulu digadaikan.

Dia meletakkannya di tangan Bu Sulastri.

“Saya tahu ini bukan gelang yang sama.”

Bu Sulastri mengusap gelang tersebut.

“Tapi saya ingin mengembalikannya.”

Bu Sulastri tersenyum.

Kemudian dia menyerahkan gelang itu kepadaku.

Aku terkejut.

“Bu?”

“Untuk kamu.”

Aku langsung menggeleng.

“Nggak, Bu. Ini punya Ibu.”

Bu Sulastri menutup telapak tanganku.

“Dulu gelang ini menyelamatkan satu nyawa.”

Dia menatapku lembut.

“Sekarang biar gelang yang baru ini mengingatkan kamu supaya jangan terlalu cepat menilai sesuatu dari luarnya.”

Wajahku panas.

Aku tahu apa yang dia maksud.

Empat toples berlumpur.

Dapur berasap.

Kandang ayam.

Kamar mandi sederhana.

Semua hal yang selama ini membuatku merasa lebih tinggi darinya.

Aku mulai menangis.

“Maaf, Bu.”

Hanya dua kata itu yang bisa keluar.

Bu Sulastri tidak bertanya aku minta maaf untuk apa.

Mungkin dia sudah tahu.

Dia memelukku.

Pelukannya berbau kayu bakar, sabun batang, dan minyak telon.

Dulu mungkin aku akan merasa tidak nyaman.

Hari itu aku justru tidak ingin melepaskannya.

Tiga minggu kemudian, kami merayakan ulang tahunnya yang keenam puluh delapan.

Aku mengambil cuti dua hari.

Aku bahkan datang sehari lebih awal.

Tetangga membantu memasak.

Arga memasang tenda.

Pak Rendra datang bersama istrinya.

Dan untuk pertama kalinya, aku duduk di dapur Bu Sulastri sejak pagi, memotong cabai sambil menangis karena asap tungku.

Ketika makan siang dimulai, Bu Sulastri mengeluarkan satu mangkuk besar sayur asin.

Aku mengambilnya lebih dulu.

Arga langsung menatapku.

“Kamu mau makan itu?”

Aku mencicipinya.

Asam.

Sedikit pedas.

Ada aroma rebung.

Tidak cantik.

Tidak mewah.

Tidak seperti makanan yang biasa kupotret sebelum makan.

Tetapi rasanya membuatku tiba-tiba mengerti kenapa Arga bisa menghabiskan dua piring nasi hanya dengan lauk itu ketika kecil.

“Enak,” kataku.

Arga tertawa.

“Ibu, dengar nggak? Nadira bilang enak.”

Bu Sulastri tersenyum dari seberang meja.

Namun sebelum menjawab, dia mengatakan sesuatu yang baru kemudian kusadari sebagai bagian paling penting dari seluruh kejadian itu.

“Sebenarnya Ibu mengirim empat toples bukan karena sayur asinnya banyak.”

Aku menatapnya.

“Terus?”

Dia menunjuk tiga toples lain di pojok dapur.

“Masing-masing tutupnya punya sesuatu.”

Aku membeku.

Arga juga.

Pak Rendra perlahan meletakkan sendoknya.

“Tiga lainnya?”

Bu Sulastri mengangguk.

“Satu untuk Rendra.”

Dia menunjuk toples pertama.

“Satu untuk Arga.”

Toples kedua.

“Satu untuk Nadira.”

Toples ketiga.

“Dan yang terakhir…”

Dia berhenti.

Wajahnya tiba-tiba serius.

“Untuk orang yang selama tiga puluh tahun terakhir mengira semua bukti tentang malam itu sudah hilang.”

Tidak ada seorang pun bergerak.

Bu Sulastri menatap kami satu per satu.

Kemudian berkata sangat tenang,

“Orang itu masih hidup.”

Arga berdiri.

“Siapa, Bu?”

Bu Sulastri tidak menjawab.

Dia hanya mengambil toples keempat.

Membuka kain penutupnya.

Lalu menarik sebuah amplop plastik tipis dari bagian dalam tutup.

Di permukaannya tertulis satu nama.

Ketika Pak Rendra membacanya, wajahnya langsung berubah.

Karena nama itu adalah nama komisaris utama perusahaan tempat aku bekerja.

Dan saat itulah aku akhirnya mengerti.

Empat toples yang dulu membuatku malu ternyata tidak pernah dikirim hanya untuk membawa sayur asin.

Bu Sulastri telah menunggu hampir tiga puluh tahun untuk mengirimkan empat keping masa lalu kepada orang-orang yang tepat.

Dan entah bagaimana, perempuan desa yang selama ini kuanggap terlalu sederhana itu berhasil melakukan sesuatu yang bahkan tak mampu dilakukan para pengacara, direktur, dan orang-orang berpendidikan di kota.

Dia membuat kebenaran menemukan jalannya sendiri.

Melalui sebuah toples berlumpur yang hampir saja kubuang.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang