TAWA YANG BERUBAH MENJADI KEHENINGAN: GADIS YANG NAIK KE PANGGUNG WISUDA SAMBIL MENGGENDONG SEORANG BAYI

Profesor Ratna menarik napas pelan.

Tatapannya menyapu seluruh auditorium sebelum akhirnya berhenti pada deretan kursi tamu tempat perempuan berkebaya mahal tadi duduk.

“Ada sesuatu tentang Larasati dan bayi yang sedang digendongnya yang sepertinya perlu kalian ketahui sebelum siapa pun merasa berhak menghakiminya.”

Aku menunduk.

Raka masih tertidur, seolah dunia di sekelilingnya tidak sedang berubah dalam hitungan detik.

Profesor Ratna melanjutkan.

“Bayi itu bukan anak Larasati.”

Suara kecil terdengar dari berbagai sudut auditorium.

Beberapa orang spontan menoleh kepada orang di sebelahnya.

Perempuan berkebaya tadi yang sebelumnya tersenyum sinis kini terlihat mengerutkan kening.

Profesor Ratna tidak berhenti.

“Namanya Raka Adinata. Usianya tiga bulan. Dan ibunya adalah seseorang yang seharusnya berdiri di ruangan ini hari ini bersama Larasati.”

Dadaku langsung terasa sesak.

Bayangan wajah seseorang muncul begitu jelas dalam pikiranku.

Sinta.

Kakakku.

Perempuan yang selama dua puluh dua tahun terakhir selalu berdiri paling depan setiap kali aku membutuhkan seseorang.

Sinta enam tahun lebih tua dariku.

Ketika ayah meninggalkan kami saat aku masih duduk di bangku SMP, ibu bekerja siang malam menjahit pakaian tetangga demi membayar kebutuhan rumah.

Sinta-lah yang banyak menggantikan peran orang tua bagiku.

Dia yang mengantarkanku sekolah ketika hujan.

Dia yang menjual ponsel satu-satunya agar aku bisa membayar uang daftar ulang SMA.

Dia juga orang pertama yang memelukku ketika aku diterima kuliah melalui jalur beasiswa.

“Laras,” katanya waktu itu sambil menangis, “kamu harus kuliah setinggi mungkin. Jangan pikirkan kami. Tugasmu cuma satu. Jangan menyerah.”

Saat aku diterima di Yogyakarta, Sinta bahkan ikut mengantarkanku ke terminal.

Aku masih ingat dia memasukkan amplop kecil ke tas ranselku.

Isinya hanya empat ratus ribu rupiah.

Belakangan aku tahu uang itu adalah tabungannya selama hampir enam bulan.

Namun kehidupan tidak pernah memberi keluarga kami jalan yang benar-benar mudah.

Dua tahun setelah aku mulai kuliah, ibu meninggal karena serangan jantung.

Dunia kami seperti runtuh.

Sejak hari itu, aku dan Sinta hanya memiliki satu sama lain.

Sinta bekerja sebagai staf administrasi di sebuah perusahaan logistik di Solo. Penghasilannya tidak besar, tetapi setiap bulan dia selalu mengirimkan sedikit uang kepadaku.

Aku berkali-kali menolak.

Namun jawabannya selalu sama.

“Kalau kamu berhenti kuliah hanya karena uang, Ibu pasti marah sama aku di sana.”

Setahun kemudian, Sinta menikah dengan seorang pria bernama Bagas.

Pada awalnya aku menyukainya.

Bagas terlihat sopan, pekerja keras, dan selalu berbicara seolah sangat mencintai kakakku.

Ketika Sinta memberi tahu bahwa dirinya hamil, kami berdua menangis melalui panggilan video.

“Aku akan jadi tante,” kataku sambil tertawa.

Sinta mengusap perutnya yang masih rata.

“Bukan sekadar tante. Kalau nanti aku terlalu galak, kamu yang harus jadi tempat Raka mengadu.”

Saat itu kami tertawa.

Tidak seorang pun tahu bahwa percakapan itu akan menjadi salah satu kenangan terakhir kami yang benar-benar bahagia.

Profesor Ratna kembali berbicara dan membawaku kembali ke auditorium.

“Tiga bulan lalu, tepat enam hari sebelum Larasati menjalani sidang skripsi, kakak kandungnya melahirkan bayi ini.”

Aku memejamkan mata.

Hari itu kembali terputar dalam pikiranku.

Aku sedang berada di perpustakaan kampus ketika Bagas menelepon.

Suaranya panik.

“Laras, kakakmu di rumah sakit.”

Aku langsung berdiri.

“Kenapa? Bukannya perkiraan lahir masih dua minggu lagi?”

“Pendarahan. Dokter bilang harus operasi sekarang.”

Aku pulang ke Solo malam itu juga.

Namun ketika sampai di rumah sakit, Sinta sudah berada di ruang operasi.

Aku duduk di lorong hampir tiga jam.

Bagas berjalan mondar-mandir tanpa henti.

Tangannya gemetar.

Tidak lama kemudian, seorang dokter keluar.

Aku berdiri begitu cepat sampai kursiku terjatuh.

“Bayinya selamat,” kata dokter.

Aku langsung menangis lega.

Namun dokter itu tidak tersenyum.

“Untuk ibunya, kami masih berusaha menghentikan pendarahan.”

Dunia di sekelilingku seketika terasa sunyi.

Empat jam kemudian, aku diperbolehkan masuk.

Sinta terbaring sangat pucat.

Ada banyak selang di tubuhnya.

Matanya setengah terbuka.

Aku menggenggam tangannya.

“Kak.”

Sinta menoleh perlahan.

Bibirnya bergerak.

Aku mendekatkan telinga.

“Raka?”

“Selamat. Raka selamat, Kak. Dia sehat.”

Untuk pertama kalinya, Sinta tersenyum.

Senyum yang sangat lemah.

Kemudian tangannya bergerak pelan, mencoba menggenggam jariku.

“Laras.”

“Iya.”

“Kalau aku kenapa-kenapa…”

“Jangan ngomong begitu.”

“Dengar dulu.”

Air mataku langsung jatuh.

Sinta menarik napas pendek.

“Jangan biarkan Raka merasa sendirian.”

Aku menggeleng keras.

“Kakak sendiri yang nanti besarkan dia.”

Sinta tidak menjawab.

Hanya menatapku lama.

Beberapa jam setelah itu kondisinya memburuk.

Sinta meninggal sebelum matahari terbit.

Aku tidak pernah melupakan suara tangis Raka dari ruang bayi pagi itu.

Tangisan pertama yang kudengar setelah kehilangan kakakku.

Aku berdiri di depan kaca sambil menggendongnya untuk pertama kali.

Tubuhnya sangat kecil.

Wajahnya kemerahan.

Tangannya menggenggam ujung jariku.

Saat itulah aku membuat janji.

“Aku di sini.”

Hanya tiga kata.

Namun sejak hari itu, tiga kata itulah yang menentukan seluruh hidupku.

Profesor Ratna melanjutkan.

“Setelah kakaknya meninggal, Larasati berniat mengambil cuti kuliah.”

Aku memandang beliau.

Memang benar.

Aku bahkan telah mengisi formulir.

Bagas awalnya membawa Raka pulang.

Tetapi setelah dua minggu, semuanya berubah.

Suatu malam ia meneleponku.

“Aku nggak sanggup, Ras.”

Aku terdiam.

“Raka terus nangis. Aku harus kerja. Ibuku juga nggak bisa terus mengurus bayi.”

“Dia anak Mas Bagas.”

“Aku tahu.”

“Lalu?”

Di ujung telepon terdengar napas berat.

“Aku butuh waktu.”

Dua hari kemudian, Bagas datang ke Yogyakarta membawa Raka.

Ia membawa satu tas berisi pakaian bayi, susu, popok dan dokumen kelahiran.

Aku terkejut.

“Mas mau ke mana?”

“Aku dapat kerja di Kalimantan.”

“Terus Raka?”

Bagas tidak berani menatapku.

“Untuk sementara sama kamu.”

“Untuk sementara itu berapa lama?”

Dia diam.

Saat itulah aku memahami jawabannya.

Aku marah.

Aku bahkan sempat berteriak.

Namun ketika Raka menangis dari dalam gendongan, kemarahanku berubah menjadi ketakutan.

Aku masih mahasiswa.

Aku bahkan belum memiliki pekerjaan tetap.

Bagaimana aku membesarkan seorang bayi?

Aku menghubungi beberapa saudara.

Tidak ada yang benar-benar bersedia membantu.

Ada yang mengatakan rumahnya terlalu sempit.

Ada yang mengatakan sudah terlalu tua.

Ada pula yang justru menyarankan agar Raka diserahkan kepada keluarga Bagas.

Namun keluarga Bagas juga menolak dengan alasan yang sama.

Malam itu aku duduk di kamar kos sambil menangis.

Raka terbaring di atas kasur.

Aku memandang formulir cuti kuliah di meja.

Keesokan paginya aku membawa Raka ke kampus.

Bukan untuk kuliah.

Aku berniat menemui dosen pembimbing dan mengucapkan selamat tinggal.

Namun Profesor Ratna kebetulan melihatku duduk di depan ruang administrasi sambil menggendong bayi.

Beliau bertanya apa yang terjadi.

Aku menceritakan semuanya.

Setelah mendengarkan, beliau hanya bertanya satu hal.

“Kamu mau berhenti karena tidak ingin kuliah lagi, atau karena merasa tidak punya pilihan?”

Aku menangis.

“Karena saya nggak punya pilihan, Bu.”

Profesor Ratna menatapku beberapa saat.

“Kalau begitu, jangan berhenti hari ini.”

Itulah awal dari sesuatu yang tidak pernah kubayangkan.

Beberapa dosen membantu menyusun jadwal konsultasi yang lebih fleksibel.

Ibu kantin yang sudah mengenalku sejak semester pertama terkadang menggendong Raka saat aku bertemu dosen.

Temanku, Nisa, sering datang ke kos hanya untuk menjaga Raka selama satu jam agar aku bisa mengerjakan revisi.

Aku menulis skripsi hampir selalu selepas tengah malam.

Sering kali Raka tidur di samping laptopku.

Kadang dia menangis tepat ketika aku sedang menyelesaikan satu halaman.

Ada malam ketika aku begitu lelah sampai tertidur di lantai.

Namun setiap kali ingin menyerah, aku teringat Sinta.

Jangan biarkan Raka merasa sendirian.

Profesor Ratna menatap seluruh auditorium.

“Enam hari setelah kakaknya meninggal, Larasati tetap datang menjalani sidang skripsi.”

Ruangan kembali benar-benar sunyi.

“Dia mendapat nilai A.”

Aku bisa mendengar seseorang bertepuk tangan.

Satu orang.

Lalu beberapa orang lain ikut bertepuk tangan.

Namun Profesor Ratna mengangkat tangan.

“Belum selesai.”

Tepuk tangan berhenti.

Beliau menatapku.

“Larasati lulus dengan IPK 3,87. Selama empat tahun, dia mempertahankan beasiswanya. Dan selama tiga bulan terakhir, dia menyelesaikan seluruh proses akademik sambil merawat seorang bayi yang ditinggalkan ayah kandungnya.”

Kini suara gumaman terdengar lebih keras.

Aku melihat perempuan berkebaya tadi menundukkan wajah.

Namun tiba-tiba dari sisi kanan auditorium terdengar suara seorang laki-laki.

“Bukan ditinggalkan.”

Aku membeku.

Suara itu sangat kukenal.

Aku menoleh.

Seorang pria berdiri dari barisan tamu belakang.

Bagas.

Aku tidak pernah memberitahunya soal wisuda.

Tanganku otomatis memeluk Raka lebih erat.

Bagas berjalan mendekati lorong tengah.

Wajahnya terlihat kurus.

“Bukan ditinggalkan,” ulangnya.

Suasana kembali tegang.

“Lalu apa?” tanyaku dari atas panggung.

Suara Bagas bergetar.

“Aku pengecut.”

Beberapa orang menoleh kepadanya.

Bagas menunduk.

“Aku lari karena setiap lihat Raka, aku ingat Sinta. Aku pikir pergi jauh akan bikin semuanya lebih mudah.”

Dadaku terasa panas.

“Kamu bahkan nggak pernah tanya apakah Raka sehat.”

“Aku tahu.”

“Kamu nggak pernah kirim uang.”

“Aku tahu.”

“Waktu Raka demam bulan lalu, aku bawa dia ke IGD sendirian.”

Bagas menutup wajah dengan kedua tangannya.

“Aku tahu, Ras.”

“Tidak. Kamu nggak tahu.”

Suaraku pecah.

“Karena kamu tidak ada.”

Auditorium begitu diam sampai suara tangisku sendiri terdengar memalukan.

Namun aku sudah tidak peduli.

Bagas mengeluarkan sebuah amplop.

“Aku pulang bukan untuk mengambil Raka.”

Aku menatapnya curiga.

“Aku datang untuk menyerahkan ini.”

Seorang petugas menerima amplop itu lalu memberikannya kepadaku.

Tanganku gemetar ketika membukanya.

Di dalamnya terdapat surat pernyataan resmi dan dokumen dari pengacara.

Bagas telah memberikan persetujuan agar aku menjadi wali sah sementara bagi Raka sampai proses perwalian diputuskan pengadilan.

Ada pula bukti transfer ke sebuah rekening atas nama Raka.

Aku memandangnya.

“Apa ini?”

“Aku menjual motorku. Uang tabunganku juga sudah kumasukkan ke sana.”

Aku masih diam.

“Aku nggak minta kamu maafin aku hari ini.”

Bagas menatap Raka.

“Aku juga nggak akan pura-pura bisa tiba-tiba jadi ayah yang baik. Tapi aku akan pulang ke Solo. Aku akan cari kerja di sana. Aku akan ikut konseling. Kalau suatu hari nanti kamu percaya aku cukup layak berada di hidup Raka, aku akan menunggu.”

Air mataku kembali jatuh.

Aku tidak tahu apakah aku bisa memaafkannya.

Mungkin bukan hari itu.

Mungkin bukan dalam waktu dekat.

Namun setidaknya untuk pertama kali, ia berhenti melarikan diri.

Profesor Ratna kemudian mengambil ijazah dari petugas.

Beliau menyerahkannya kepadaku dengan kedua tangan.

“Larasati,” katanya pelan, “ijazah ini bukan hanya bukti bahwa kamu menyelesaikan pendidikan.”

Aku menerimanya.

“Ini bukti bahwa keadaan boleh memaksamu berjalan lebih berat daripada orang lain, tetapi keadaan tidak berhak menentukan bagaimana perjalananmu berakhir.”

Tepuk tangan pecah.

Kali ini bukan tepuk tangan formal.

Orang-orang berdiri.

Satu per satu.

Aku melihat Nisa menangis sambil bertepuk tangan.

Beberapa dosen ikut berdiri.

Bahkan perempuan berkebaya yang tadi mengejekku kini menundukkan kepala dengan wajah pucat.

Namun beberapa detik kemudian, sesuatu yang tidak kuduga terjadi.

Perempuan itu bangkit dari kursinya.

Ia berjalan ke depan panggung.

Petugas sempat mencoba menghentikannya, tetapi Profesor Ratna memberi isyarat agar dibiarkan.

Perempuan itu berhenti di bawah panggung.

Matanya berkaca-kaca.

“Saya minta maaf.”

Aku hanya menatapnya.

“Saya kenal ibumu.”

Aku terdiam.

“Saya teman SMA ibumu.”

Jantungku seperti berhenti sesaat.

Perempuan itu menelan ludah.

“Dan perkataan saya tadi jauh lebih kejam daripada yang kamu tahu.”

Profesor Ratna memandangnya tajam.

Perempuan itu melanjutkan dengan suara gemetar.

“Dulu ibumu memang hamil muda. Tapi bukan karena dia ceroboh seperti yang selama ini saya ceritakan.”

Tanganku mulai dingin.

“Dia hamil setelah menikah secara sah dengan ayahmu. Mereka menikah muda karena ayahmu harus pindah kerja ke luar kota.”

Aku menatapnya tidak percaya.

Perempuan itu menangis.

“Dulu saya iri padanya. Ibumu pintar. Cantik. Banyak yang menyukainya. Setelah rumah tangganya bermasalah, saya ikut menyebarkan cerita seolah hidupnya hancur karena kesalahannya sendiri.”

Selama bertahun-tahun, aku dan Sinta memang sering mendengar bisik-bisik buruk mengenai ibu.

Ibu tidak pernah membalasnya.

Ketika kutanya, jawabannya selalu sederhana.

“Orang boleh bicara apa saja, Laras. Yang penting kita jangan hidup seperti yang mereka katakan.”

Kini akhirnya aku memahami mengapa.

Perempuan itu menundukkan kepala.

“Saya baru saja melakukan hal yang sama kepadamu.”

Aku tidak menjawab.

Aku belum mampu.

Profesor Ratna kemudian berkata sesuatu yang membuat seluruh ruangan kembali diam.

“Ini alasan mengapa prasangka berbahaya.”

Beliau memandang para tamu.

“Kita sering merasa mengenal seluruh kehidupan seseorang hanya dari satu pemandangan yang berlangsung beberapa detik.”

Tatapan beliau beralih ke Raka.

“Kita melihat seorang gadis menggendong bayi, lalu membangun cerita sendiri.”

Beliau menunjuk ke arah ijazah di tanganku.

“Padahal yang berdiri di depan kita bukan seseorang yang gagal menjaga hidupnya.”

Suaranya terdengar lebih berat.

“Yang berdiri di depan kita adalah seorang adik yang kehilangan kakaknya, seorang mahasiswa yang menolak menyerah, dan seorang perempuan muda yang memilih bertanggung jawab atas seorang anak ketika orang dewasa lain justru memilih pergi.”

Air mataku kembali mengalir.

Raka tiba-tiba terbangun.

Ia menggeliat kecil dalam pelukanku.

Lalu, seperti memahami bahwa semua orang sedang memperhatikannya, ia membuka mata dan menatap wajahku.

Aku tertawa di sela tangis.

“Kamu bangun juga.”

Raka menggerakkan tangan kecilnya lalu menyentuh daguku.

Suara tawa lembut terdengar di auditorium.

Namun kali ini tidak ada ejekan di dalamnya.

Profesor Ratna menyerahkan mikrofon kepadaku.

Awalnya aku menggeleng.

Aku tidak menyiapkan pidato apa pun.

Namun kemudian aku memandang ribuan wajah di hadapanku.

Aku teringat ibu.

Aku teringat Sinta.

Aku teringat setiap malam ketika aku hampir menyerah.

Akhirnya aku mengambil mikrofon.

“Saya tidak tahu harus bilang apa.”

Suara sedikit tawa terdengar.

Aku mengusap air mata.

“Sejujurnya, sejak tadi saya cuma berharap bisa naik panggung, menerima ijazah, lalu cepat-cepat turun sebelum Raka menangis.”

Beberapa orang tersenyum.

Aku menarik napas.

“Tapi mungkin hari ini saya belajar satu hal.”

Aku memandang perempuan berkebaya tadi.

Kemudian Bagas.

Lalu seluruh auditorium.

“Kita semua punya cerita yang tidak terlihat dari luar.”

Aku menunduk memandang Raka.

“Kalau tiga bulan lalu seseorang bilang saya akan mengurus bayi sambil menyelesaikan skripsi, mungkin saya akan tertawa dan bilang itu mustahil.”

Aku tersenyum.

“Ternyata manusia bisa melakukan banyak hal ketika seseorang yang dia sayangi membutuhkan dirinya.”

Aku berhenti sejenak.

“Dan untuk Raka, suatu hari nanti kalau kamu sudah besar dan bertanya kenapa kamu ada di foto wisudaku…”

Aku mengusap pipinya.

“…aku akan bilang karena hari itu kita lulus bersama.”

Auditorium meledak dalam tepuk tangan.

Aku tidak mampu menahan tangis lagi.

Di atas panggung itu, dengan toga yang mulai kusut, ijazah di satu tangan, dan seorang bayi di tangan lainnya, aku akhirnya menyadari sesuatu.

Selama ini aku takut orang akan melihat Raka sebagai beban.

Padahal dialah alasan aku tidak pernah benar-benar menyerah.

Beberapa bulan kemudian, pengadilan menetapkanku sebagai wali sah sementara Raka.

Bagas menepati janjinya.

Dia pindah kembali ke Solo dan mulai rutin menemui Raka dengan pendampingan keluarga serta konselor.

Aku tidak langsung memaafkannya.

Namun perlahan, aku belajar bahwa memaafkan bukan berarti melupakan apa yang pernah terjadi.

Terkadang memaafkan hanyalah memilih agar luka tidak terus mengendalikan masa depan.

Aku sendiri diterima menjadi guru Bahasa Indonesia di sebuah sekolah swasta di Yogyakarta.

Di ruang kerjaku, ada satu foto yang selalu kupajang.

Foto hari wisuda.

Aku berdiri di atas panggung, menangis sambil tersenyum.

Raka berada dalam pelukanku.

Profesor Ratna berdiri di samping kami.

Di belakang foto itu, aku menulis satu kalimat.

Hari ketika orang-orang mengira aku membawa bukti kegagalanku ke atas panggung, padahal sebenarnya aku sedang menggendong alasan terbesar mengapa aku berhasil sampai ke sana.

Dan setiap kali hidup terasa terlalu berat, aku membaca kalimat itu kembali.

Karena pada akhirnya, manusia memang terlalu mudah menilai apa yang terlihat.

Seorang ibu muda dianggap gagal.

Seorang bayi dianggap aib.

Tangisan dianggap kelemahan.

Kesendirian dianggap kekalahan.

Padahal terkadang, di balik pemandangan yang paling mudah dihakimi, terdapat perjuangan yang bahkan tidak akan sanggup dijalani oleh orang-orang yang paling keras menertawakannya.

Hari wisudaku dimulai dengan tawa.

Lalu berubah menjadi keheningan.

Dan berakhir dengan ribuan orang berdiri memberikan penghormatan.

Bukan karena aku luar biasa.

Tetapi karena akhirnya mereka mengetahui kebenaran.

Bahwa sebelum menertawakan perjalanan seseorang, kita seharusnya memastikan terlebih dahulu bahwa kita cukup kuat untuk berjalan dengan sepatu yang sama.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang