“Dan kamu pikir siapa yang akan percaya padamu?”
Kalimat Adrian terasa lebih dingin daripada udara ruangan itu.
Aku tidak langsung menjawab.
Bukan karena takut.
Melainkan karena saat itu aku menyadari bahwa semua orang di ruangan kecil tersebut sudah berada di pihak yang sama.
Direktur rumah sakit.
Adrian.
Petugas keamanan di luar pintu.
Mungkin juga orang yang mengubah data pasien di sistem.
Aku sendirian.
Setidaknya, itu yang mereka pikirkan.
Aku menatap Adrian tepat di matanya.
“Kalau memang tidak ada yang akan percaya kepada saya, kenapa kalian repot-repot menyuap saya?”
Wajah direktur berubah.
Adrian terdiam sepersekian detik.
Aku tahu ucapanku tepat mengenai sesuatu yang mereka coba sembunyikan.
Aku melanjutkan.
“Kalau saya cuma pegawai kecil yang tidak punya pengaruh, kenapa data pasien harus diubah? Kenapa identitas saya yang dipakai? Kenapa saya harus dibawa ke ruangan ini?”
“Nadia,” kata direktur dengan suara berat, “jaga ucapanmu.”
Aku menoleh kepadanya.
“Saya sedang menjaga pekerjaan saya, Pak. Dan mungkin juga nyawa seseorang.”
Adrian tertawa pendek.
“Masih sempat bermain pahlawan?”
Aku merasakan telapak tanganku berkeringat, tetapi aku berusaha tidak menunjukkannya.
“Siapa sebenarnya perempuan itu?”
Untuk pertama kalinya sejak malam itu dimulai, ekspresi Adrian berubah.
Sangat kecil.
Hampir tidak terlihat.
Namun aku melihatnya.
Ketika nama Livia disebut, ada sesuatu di wajahnya yang lebih mirip kepanikan daripada kemarahan.
“Itu bukan urusanmu.”
“Sekarang dia memakai nama saya. Berarti itu urusan saya.”
Adrian melangkah semakin dekat.
“Pulanglah sebelum kamu kehilangan lebih dari pekerjaan.”
Ancaman itu begitu jelas hingga direktur bahkan tidak berusaha menghentikannya.
Aku akhirnya mengangguk.
“Baik.”
Mereka tampak terkejut.
Aku mengambil tas dari sandaran kursi.
“Saya pulang.”
Adrian memandangku curiga.
Aku pura-pura tidak melihatnya.
Direktur berdiri.
“Keputusan yang bijak.”
Aku tidak menjawab.
Aku berjalan keluar ruangan dengan langkah tenang, meskipun lututku terasa lemas.
Dua petugas keamanan mengikutiku sampai pintu khusus karyawan.
Saat melewati meja administrasi, aku melirik monitor.
Data pasien masih terbuka.
Namaku masih tercantum di sana.
Namun ada sesuatu yang baru.
Status tindakan medis.
Operasi darurat.
Aku berhenti.
Salah seorang satpam langsung menegur.
“Bu Nadia.”
Aku kembali berjalan.
Tetapi sebelum meninggalkan gedung, aku menyelipkan tangan ke saku seragam.
Ponselku masih ada.
Dan selama percakapan di ruangan direktur tadi, fitur perekam suara di ponsel itu tidak pernah berhenti bekerja.
Aku sudah menyalakannya sejak Adrian pertama kali menawarkan amplop.
Di luar rumah sakit, udara malam terasa lembap.
Langit Jakarta mulai berubah keabu-abuan.
Aku berjalan menjauh dari pintu masuk tanpa menoleh.
Baru setelah sampai di minimarket dua blok dari rumah sakit, aku masuk ke toilet dan mengunci pintu.
Tanganku gemetar saat membuka ponsel.
Rekaman suara masih tersimpan.
Empat belas menit dua puluh tujuh detik.
Aku menekan tombol putar.
Suara Adrian terdengar jelas.
Pulang. Lupakan apa yang kamu lihat malam ini.
Kemudian suaraku.
Saya bukan barang murah yang bisa dibeli dengan amplop.
Lalu ancamannya.
Kalau kamu membuat masalah malam ini, besok pagi tidak akan ada seorang pun yang percaya bahwa kamu pernah bekerja di rumah sakit ini.
Aku menutup mata.
Setidaknya aku punya sesuatu.
Aku langsung mengirim file itu ke alamat email pribadiku.
Lalu ke penyimpanan cloud.
Kemudian ke nomor seseorang yang sudah hampir dua tahun tidak pernah kuhubungi.
Kakakku.
Namanya Arga.
Ia bekerja sebagai jurnalis investigasi di sebuah media nasional.
Hubungan kami tidak buruk, hanya renggang.
Sejak ibu meninggal, kami memilih cara berbeda untuk menjalani hidup.
Arga selalu mengejar masalah.
Aku selalu menghindarinya.
Malam itu, untuk pertama kalinya, aku berharap ia belum tidur.
Aku mengetik satu kalimat.
“Kalau aku tidak bisa dihubungi setelah pagi ini, dengarkan rekaman ini.”
Belum sampai satu menit, ponselku berdering.
Arga.
Aku mengangkatnya.
“Kamu di mana?”
Suaranya langsung tegang.
“Dekat rumah sakit.”
“Jangan pulang.”
“Kenapa?”
“Karena kalau isi rekaman itu benar, mereka sudah tahu alamatmu.”
Aku terdiam.
Arga melanjutkan.
“Pergi ke tempat ramai. Jangan matikan ponsel. Aku menuju ke sana.”
Aku keluar dari toilet dan duduk di sudut minimarket.
Setiap orang yang masuk membuat jantungku berdegup lebih cepat.
Dua puluh menit kemudian, sebuah sepeda motor berhenti di depan.
Arga masuk sambil masih mengenakan jaket tipis dan celana rumah.
Wajahnya kusut karena baru bangun.
Begitu melihatku, ia langsung menarik kursi.
“Ceritakan dari awal.”
Aku menceritakan semuanya.
Tentang Livia.
Tentang kartu identitasnya.
Tentang listrik padam.
Tentang data yang tiba-tiba berubah menjadi namaku.
Tentang gelang pasien.
Tentang amplop.
Tentang ancaman.
Arga tidak memotong sekalipun.
Setelah aku selesai, ia bertanya,
“Kamu yakin nama perempuan itu Livia?”
“Yakin.”
“Nama lengkap?”
Aku mencoba mengingat.
Pada kartu identitas yang diberikan Adrian, aku sempat melihatnya.
“Livia Anindita.”
Arga membuka ponselnya.
Ia mengetik nama itu.
Beberapa detik kemudian wajahnya berubah.
“Apa?”
Ia memutar layar ke arahku.
Ada sebuah artikel berita dari delapan bulan lalu.
Judulnya membuat tubuhku dingin.
Mantan Direktur Keuangan Mahendra Group Diduga Membocorkan Manipulasi Dana Yayasan.
Di bawah judul itu ada foto seorang perempuan.
Livia.
Wajah yang sama.
“Aku ingat kasus ini,” kata Arga pelan. “Dia mantan staf keuangan perusahaan keluarga Adrian. Setelah membocorkan beberapa transaksi mencurigakan, dia menghilang dari publik.”
Aku membaca artikel itu cepat.
Livia disebut sebagai saksi penting dalam penyelidikan dugaan penggelapan dana donasi sebuah yayasan kesehatan.
Yayasan tersebut ternyata salah satu penyumbang utama untuk Rumah Sakit Graha Medika.
Aku menatap Arga.
“Jadi dia bukan pacarnya?”
“Sepertinya bukan.”
“Kenapa Adrian membawanya sendiri ke rumah sakit?”
“Itu yang harus kita cari tahu.”
Ponselku bergetar.
Pesan dari nomor tidak dikenal.

Hanya satu kalimat.
Kamu seharusnya menerima amplop itu.
Aku merasa darah turun dari wajahku.
Arga langsung mengambil foto layar.
“Mulai sekarang jangan balas apa pun.”
Ia berdiri.
“Kita harus ke kantor.”
Namun baru saja kami hendak keluar, layar televisi kecil di atas kasir menampilkan berita lokal.
Aku nyaris tidak memperhatikannya sampai mendengar nama rumah sakit.
“Pihak Rumah Sakit Graha Medika mengonfirmasi seorang staf administrasi bernama Nadia Prameswari diduga melakukan manipulasi data pasien sebelum meninggalkan tempat kerja secara mendadak.”
Aku membeku.
Foto pegawaiku muncul di layar.
Pembawa berita melanjutkan.
“Manajemen rumah sakit menyatakan sedang melakukan investigasi internal dan telah menonaktifkan akses staf yang bersangkutan.”
Arga mengumpat pelan.
“Mereka bergerak cepat.”
Aku menatap layar tanpa bisa berkedip.
Tidak sampai dua jam sejak aku meninggalkan rumah sakit, aku sudah berubah dari saksi menjadi pelaku.
“Sekarang bagaimana?”
“Kita jangan datang ke kantor media dulu.”
“Kenapa?”
“Kalau Adrian punya pengaruh sebesar ini, kita tidak tahu siapa yang sudah dia hubungi.”
Kami berpindah ke apartemen seorang teman Arga di daerah Kuningan.
Di sana, Arga mulai menghubungi dua orang yang ia percaya.
Seorang editor senior.
Dan seorang ahli keamanan digital bernama Rio.
Rio datang menjelang pukul enam pagi dengan laptop dan wajah mengantuk.
Setelah mendengar cerita kami, ia hanya berkata,
“Kalau sistem rumah sakit memakai server internal dengan audit log yang benar, perubahan data seharusnya meninggalkan jejak.”
“Kalau mereka menghapusnya?” tanyaku.
Rio mengangkat bahu.
“Penghapusan juga meninggalkan jejak.”
Untuk pertama kalinya sejak malam itu, aku merasa ada sedikit harapan.
Namun harapan itu hanya bertahan setengah jam.
Rio berhasil masuk ke portal staf menggunakan salinan data lama yang tersimpan di browser ponselku.
Semua riwayat akun kerjaku sudah hilang.
Jadwal shift.
Riwayat login.
Bahkan profil karyawan.
Tidak ada.
Seolah aku tidak pernah menjadi pegawai Rumah Sakit Graha Medika.
Aku teringat ucapan Adrian.
Besok pagi tidak akan ada seorang pun yang percaya bahwa kamu pernah bekerja di rumah sakit ini.
Ia tidak sedang mengancam.
Ia sedang memberitahuku apa yang akan terjadi.
Arga menelepon seorang mantan pegawai IT rumah sakit.
Satu jam kemudian kami mendapatkan kabar yang lebih buruk.
Server administrasi mengalami “kerusakan sistem” setelah listrik padam.
Seluruh rekaman perubahan data dari pukul sebelas malam sampai empat pagi dinyatakan hilang.
Termasuk rekaman CCTV di area IGD.
Aku merasa sesak.
“Jadi selesai?”
“Belum,” kata Arga.
Rio tiba-tiba menoleh.
“Rumah sakit mungkin menghapus server mereka. Tapi belum tentu semua perangkat terhubung ke server yang sama.”
Aku tidak langsung memahami maksudnya.
Rio bertanya,
“Printer gelang pasien itu model apa?”
Aku menyebut mereknya.
Rio tersenyum tipis.
“Kalau model itu masih memakai local spool, ada kemungkinan riwayat cetaknya tersimpan sementara di komputer workstation.”
“Tapi komputer administrasi juga mungkin sudah dibersihkan.”
“Benar.”
Harapanku turun lagi.
Kemudian aku teringat sesuatu.
“Komputer meja kedua.”
“Apa?”
“Malam itu meja kedua dipakai anak magang. Setelah listrik menyala, dia sempat mencetak ulang label karena printer utama macet. Workstation itu biasanya tidak pernah tersambung ke akun supervisor.”
Rio langsung berdiri.
“Kita butuh akses ke komputer itu.”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Bagaimana?”
Jawabannya datang bukan dari Rio.
Ponselku berdering.
Nomor rumah sakit.
Kami semua saling menatap.
Aku mengangkat panggilan dan menyalakan speaker.
Suara perempuan terdengar sangat pelan.
“Mbak Nadia?”
Aku mengenalinya.
Siska.
Perawat IGD yang memasang gelang ke tangan Livia.
“Siska?”
Ia menangis.
“Mbak, saya cuma punya waktu sebentar.”
“Ada apa?”
“Pasien itu meninggal.”
Ruangan seketika hening.
Aku tidak mampu berkata apa-apa.
Siska melanjutkan dengan suara bergetar.
“Sekitar jam tiga pagi. Tapi ada yang aneh.”
“Aneh bagaimana?”
“Setelah pasien meninggal, dua orang datang dari kantor direktur. Mereka meminta kami tidak mencatat kematian seperti biasa.”
Arga mendekat ke ponsel.
“Lalu?”
“Mereka membawa jenazah lewat pintu belakang.”
Aku merasa mual.
“Identitasnya?”
“Masih atas nama Mbak Nadia.”
Tanganku mulai gemetar.
Artinya, kalau kematian itu tercatat resmi, secara administratif aku bisa dinyatakan meninggal.
Siska menangis semakin keras.
“Saya takut, Mbak. Karena sebelum pasien dibawa pergi, dia sempat sadar beberapa menit.”
Aku menahan napas.
“Dia bicara apa?”
“Dia terus menyebut satu kalimat.”
“Apa?”
Siska terdiam cukup lama.
“Dia bilang Adrian bukan orang yang mencoba membunuhnya.”
Aku dan Arga saling menatap.
“Lalu siapa?”
“Dia bilang… direktur rumah sakit.”
Aku merasa seluruh ruangan bergerak.
Siska belum selesai.
“Dan dia menitipkan sesuatu.”
“Apa?”
“Flashdisk.”
Aku berdiri.
“Di mana?”
“Saya simpan.”
Arga langsung bertanya, “Kamu bisa keluar dari rumah sakit?”
“Tidak. Mereka memeriksa semua pegawai.”
Rio berkata pelan,
“Kalau ada satu benda fisik yang tidak mereka ketahui, itu bukti paling penting.”
Aku kembali bicara kepada Siska.
“Sembunyikan. Jangan beri tahu siapa pun.”
“Tapi mereka mulai memanggil perawat satu per satu.”
Kami tahu waktunya sempit.
Arga menghubungi polisi yang pernah bekerja dengannya dalam kasus korupsi.
Namun tanpa bukti kuat, polisi tidak bisa langsung melakukan penggeledahan.
Kami akhirnya membuat keputusan berisiko.
Aku kembali ke rumah sakit.
Bukan lewat pintu depan.
Siska memberi tahu bahwa pintu loading dock di belakang dapur dibuka setiap pukul tujuh untuk pengiriman bahan makanan.
Aku memakai masker, jaket besar, dan topi milik Arga.
Kami masuk bersamaan dengan pekerja katering.
Setiap langkah terasa seperti berjalan menuju perangkap.
Aku mengenal setiap koridor rumah sakit itu.
Namun pagi itu semuanya terasa asing.
Foto pegawaiku sudah tertempel di ruang keamanan dengan tulisan AKSES DIBLOKIR.
Aku hampir tertawa melihatnya.
Mereka benar-benar sedang menghapusku.
Siska menunggu di ruang penyimpanan linen.
Begitu melihatku, ia langsung menyerahkan sebuah flashdisk hitam kecil.
“Dia menggenggam ini erat sekali.”
“Livia bicara apa lagi?”
Siska menggeleng.
“Cuma satu kalimat sebelum tidak sadar.”
“Apa?”
“Kalau sesuatu terjadi pada saya, cari Nadia.”
Aku terdiam.
“Dia tahu namaku?”
Siska mengangguk.
Aku tidak mengerti.
Aku belum pernah bertemu Livia sebelumnya.
Tiba-tiba terdengar suara langkah dari luar.
Siska pucat.
“Mereka datang.”
Aku menyelipkan flashdisk ke dalam kaus kaki.
Pintu terbuka.
Direktur berdiri di sana.
Di belakangnya ada dua petugas keamanan.
Wajahnya tidak menunjukkan keterkejutan sedikit pun ketika melihatku.
“Nadia.”
Jantungku seakan berhenti.
“Bapak sudah menunggu?”
“Sejak kamu masuk lewat loading dock.”
Aku menatap kamera kecil di sudut ruangan.
Bodoh.
Aku lupa kamera dapur menggunakan sistem keamanan terpisah.
Direktur melangkah masuk.
“Serahkan benda yang diberikan Siska.”
Aku tidak bergerak.
Ia menatap Siska.
“Kamu baru saja menghancurkan kariermu.”
Siska menangis tetapi tetap berdiri di sampingku.
Direktur menghela napas.
“Kalian tidak mengerti. Semua ini jauh lebih besar daripada kalian.”
“Livia bilang Bapak yang mencoba membunuhnya.”
Wajahnya langsung berubah.
Hanya sesaat.
Tapi cukup.
Aku tahu Siska tidak berbohong.
Direktur mendekat.
“Livia adalah perempuan sakit yang panik.”
“Kalau begitu kenapa identitas saya dipakai?”
“Karena kami perlu waktu.”
“Untuk apa?”
Ia menatapku lama.
Kemudian ia berkata sesuatu yang sama sekali tidak kuduga.
“Untuk melindungi Adrian.”
Aku terdiam.
Direktur tertawa hambar.
“Kamu pikir Adrian dalangnya?”
“Dia mengancam saya.”
“Karena ia bodoh dan panik.”
Direktur menunduk.
“Livia mencuri data keuangan rumah sakit. Bukan data perusahaan Adrian.”
Aku merasakan tengkukku meremang.
“Apa maksud Bapak?”
“Donasi yang masuk ke rumah sakit selama bertahun-tahun tidak semuanya dipakai untuk fasilitas medis.”
Arga ternyata benar soal dana yayasan.
Namun bukan Adrian pelakunya.
Direktur melanjutkan.
“Livia menemukan transaksi palsu. Dia menghubungi Adrian karena dana itu berasal dari yayasan keluarganya. Adrian datang menemuinya malam tadi.”
“Lalu?”
“Seseorang lebih dulu mencoba membungkam Livia.”
“Seseorang siapa?”
Direktur tidak menjawab.
Dari belakangnya terdengar suara lain.
“Saya.”
Adrian muncul di koridor.
Aku menatapnya.
Ia berjalan masuk dengan wajah lelah.
Tidak seperti malam tadi.
Tidak ada kesombongan.
Tidak ada ancaman.
Hanya kelelahan.
“Saya yang membawa Livia ke rumah sakit,” katanya. “Tapi saya tidak mencoba membunuhnya.”
“Lalu kenapa memakai identitas saya?”
Adrian menatap direktur.
Direktur menjawab,
“Karena Livia sudah terdaftar sebagai saksi dalam penyelidikan. Kalau identitas aslinya masuk sistem, orang yang mengejarnya akan tahu dia masih hidup.”
Aku hampir tidak percaya.
“Kalian memilih identitas saya?”
“Awalnya sistem memilih data staf aktif secara acak untuk membuat identitas sementara.”
Aku menatap mereka dengan marah.
“Jadi hidup saya dihancurkan karena sistem kalian memilih nama saya?”
Direktur tidak menjawab.
Adrian berkata,
“Saya mencoba menghentikannya setelah melihat nama kamu. Tapi semuanya sudah terlambat.”
Aku tertawa pahit.
“Dan solusi Bapak adalah memberi saya uang?”
Ia menunduk.
“Itu kesalahan saya.”
Sebelum aku sempat menjawab, suara sirene terdengar dari luar.
Direktur langsung pucat.
Adrian melihat ke jendela.
Beberapa mobil polisi memasuki halaman rumah sakit.
Aku menatap mereka.
Adrian tampak bingung.
Direktur terlihat ketakutan.
Aku akhirnya tersenyum.
“Saya memang pegawai kecil.”
Aku mengeluarkan ponsel dari saku.
“Tapi kakak saya bukan.”
Arga sudah menerima lokasi kami sejak aku masuk ke rumah sakit.
Dan sebelum aku pergi, Rio telah membuat salinan otomatis setiap file yang masuk ke ponselku.
Polisi masuk beberapa menit kemudian.
Flashdisk milik Livia menjadi kunci semuanya.
Di dalamnya terdapat salinan laporan keuangan, rekaman transfer, dan percakapan internal yang membuktikan bahwa direktur rumah sakit telah mengalihkan sebagian dana yayasan selama hampir enam tahun.
Namun kejutan terbesar datang tiga hari kemudian.
Saat penyidik memeriksa rekaman suara terakhir Livia di flashdisk, ada satu file yang hanya diberi nama NADIA.
Aku mendengarkannya bersama Arga.
Suara Livia terdengar lemah.
“Kalau Nadia Prameswari mendengar ini, berarti rencana daruratku berhasil.”
Aku merinding.
Livia ternyata mengenalku.
Bukan secara pribadi.
Dua tahun sebelumnya, ketika aku baru bekerja di rumah sakit, aku pernah melaporkan kesalahan kecil dalam pencatatan donasi.
Laporan itu dianggap sepele dan ditutup oleh manajemen.
Namun tanpa kusadari, salinan laporanku pernah sampai ke tangan auditor eksternal.
Livia.
Kesalahan kecil itulah yang membuatnya mulai menyelidiki aliran dana rumah sakit.
Namaku bukan dipilih secara acak.
Ketika Livia sadar bahwa hidupnya terancam, ia sengaja memasukkan namaku ke dalam protokol darurat yang dibuatnya sendiri.
Karena menurut catatannya, hanya ada satu pegawai administrasi yang pernah berani mempertanyakan data yang tidak sesuai.
Aku.
Aku duduk diam setelah rekaman selesai.
Selama ini aku berpikir malam itu hidupku hancur karena namaku dicuri.
Ternyata namaku dipilih karena seseorang percaya aku tidak akan diam.
Direktur rumah sakit akhirnya ditahan bersama tiga pejabat keuangan lainnya.
Adrian tidak dibebaskan begitu saja. Ia tetap diperiksa karena ancaman, suap, dan keterlibatannya dalam manipulasi identitas pasien.
Rumah Sakit Graha Medika menjalani audit besar-besaran.
Aku mendapatkan kembali status pekerjaanku.
Namun aku tidak pernah kembali ke meja administrasi.
Enam bulan kemudian, aku bergabung dengan sebuah organisasi independen yang membantu rumah sakit membangun sistem perlindungan data pasien dan pelaporan pelanggaran internal.
Di meja kerjaku sekarang, masih ada satu benda yang kusimpan.
Gelang pasien dari malam itu.
Nama yang tercetak di atasnya masih sama.
Nadia Prameswari.
Dulu aku membencinya.
Sekarang aku menyimpannya sebagai pengingat.
Kadang-kadang, nama seseorang memang bisa dihapus dari sistem.
Rekamannya bisa dimusnahkan.
Riwayatnya bisa dibuat seolah tidak pernah ada.
Namun kebenaran memiliki kebiasaan aneh.
Ia selalu meninggalkan jejak pada seseorang yang masih berani mengingatnya.
