Aku pernah mengira suamiku menjadi dingin hanya karena tekanan pekerjaan.Sampai suatu malam, aku melihatnya berlutut dan melamar perempuan lain di restoran yang sama tempat kami dulu menggelar resepsi pernikahan.

Aku pernah mengira suamiku menjadi dingin hanya karena tekanan pekerjaan.

Sampai suatu malam, aku melihatnya berlutut dan melamar perempuan lain di restoran yang sama tempat kami dulu menggelar resepsi pernikahan.

Yang tidak ia tahu, cincin yang sedang ia pasangkan ke jari perempuan itu ternyata masih dicicil menggunakan kartu tambahan yang terdaftar atas namaku.

Namaku Marisa.

Dan malam itu, di bawah cahaya lembut lampu gantung yang menerangi meja-meja berlapis kain putih, suamiku berlutut tepat di tempat yang sama ketika delapan tahun lalu ia berjanji akan mencintaiku seumur hidup.

Aku masih mengingat malam pernikahan kami dengan sangat jelas.

Di restoran itu, di hadapan keluarga dan sahabat, Arman menggenggam tanganku erat.

“Marisa,” katanya sambil menatap mataku, “aku janji, aku tidak akan pernah membuatmu merasa sendirian.”

Semua orang bertepuk tangan.

Ibuku menangis haru.

Aku sendiri tertawa di sela air mata, terlalu bahagia untuk menyadari bahwa janji paling indah terkadang justru paling mudah diucapkan oleh seseorang yang belum pernah diuji kesetiaannya.

Delapan tahun kemudian, di ruangan yang sama, pria yang sama kembali berlutut.

Hanya saja, kali ini perempuan yang berdiri di hadapannya bukan aku.

Namanya Keisha.

Ia mengenakan gaun putih pendek yang elegan. Rambutnya ditata setengah terikat, sementara kedua matanya berkaca-kaca seperti seseorang yang baru saja mendapatkan akhir bahagia yang selama ini ia tunggu.

Teman-temannya mengelilingi mereka sambil bersorak gembira.

Beberapa orang sibuk merekam dengan ponsel.

Di dekat meja mereka terdapat balon-balon kecil, rangkaian mawar merah, dan lilin yang menyala temaram.

Semuanya terlihat begitu romantis.

Begitu sempurna.

Seolah malam itu memang telah dipersiapkan untuk sebuah kisah cinta yang indah.

Di tangan Arman, ada sebuah kotak cincin berlapis beludru biru tua.

Sementara aku hanya bisa berdiri membeku di dekat pintu masuk restoran.

Aku masih mengenakan blazer kerja. Tas laptop tergantung di bahuku. Napasku terasa berat, seolah ada sesuatu yang menekan dadaku dari dalam.

Seorang pelayan yang berdiri di sampingku bertanya dengan sopan,

“Maaf, Bu. Apakah Ibu sudah melakukan reservasi?”

Aku tidak menjawab.

Aku bahkan hampir tidak mendengarnya.

Tatapanku hanya tertuju pada Arman.

Pada lututnya yang menyentuh lantai.

Pada senyum hangat yang sudah berbulan-bulan tidak pernah lagi ia berikan kepadaku.

Dan terutama, pada cara ia memandang Keisha.

Seolah perempuan itu adalah rumah yang selama ini ia cari.

Padahal selama bertahun-tahun, akulah yang selalu menunggunya pulang.

Keisha menutup mulut dengan kedua tangan. Air mata mulai menggenang di sudut matanya.

“Mas Arman…”

Arman tersenyum semakin lebar.

Senyum yang dulu membuatku jatuh cinta kepadanya.

“Keisha,” katanya lembut, “sejak kamu hadir dalam hidupku, semuanya terasa punya warna lagi.”

Teman-teman Keisha langsung bersorak.

Beberapa bahkan bertepuk tangan sambil tertawa bahagia.

Lalu aku mendengar salah seorang perempuan di antara mereka berkata,

“Akhirnya! Mas Arman romantis banget!”

Aku hampir tertawa mendengarnya.

Bukan karena ada sesuatu yang lucu.

Tapi karena baru malam itu aku sadar, ternyata suamiku masih bisa menjadi laki-laki romantis.

Hanya saja, bukan untuk istrinya sendiri.

Arman membuka kotak cincin.

Berlian kecil di tengahnya menangkap cahaya lampu gantung.

Aku mengenali cincin itu.

Tiga hari sebelumnya, notifikasi transaksi kartu kredit masuk ke ponselku. Pembelian di sebuah toko perhiasan di Plaza Indonesia senilai hampir empat puluh juta rupiah, dicicil dua belas bulan.

Kartu yang digunakan adalah kartu tambahan milik Arman.

Aku sempat meneleponnya.

“Mas, kamu beli apa hampir empat puluh juta?”

Ia terdiam beberapa detik sebelum menjawab santai.

“Jam tangan untuk klien. Nanti kantor reimburse.”

Aku percaya.

Atau mungkin aku sebenarnya sudah terlalu lelah untuk mempertanyakan kebohongan yang terasa begitu jelas.

Malam itu akhirnya aku tahu benda apa yang sedang kubayar.

Cincin pertunangan untuk kekasih suamiku.

Keisha mengulurkan tangan.

Arman memasangkan cincin itu ke jari manisnya.

“Will you marry me?”

Keisha menangis sambil mengangguk cepat.

“Iya. Aku mau.”

Tepuk tangan meledak.

Seseorang memutar lagu romantis dari speaker kecil.

Aku berdiri di belakang mereka bersama orang-orang asing, menjadi saksi atas pertunangan suamiku sendiri.

Lalu Arman berdiri dan mencium kening Keisha.

Saat itulah sesuatu di dalam diriku yang selama berbulan-bulan terasa rapuh mendadak menjadi sangat tenang.

Aku tidak berteriak.

Tidak menangis.

Aku justru membuka ponsel dan menghubungi bank.

“Selamat malam, saya ingin memblokir kartu tambahan atas nama Arman Pradipta.”

Petugas meminta verifikasi.

Aku menjawab semuanya.

“Apakah kartu utama tetap aktif, Bu?”

“Ya.”

“Alasan pemblokiran?”

Aku memandang suamiku dari kejauhan.

“Pemegang kartu tambahan melakukan transaksi tanpa persetujuan saya.”

Setelah telepon ditutup, aku memotret Arman dan Keisha.

Satu foto saja.

Cukup jelas untuk memperlihatkan wajah mereka, cincin, dan dekorasi pertunangan.

Kemudian aku berjalan mendekat.

Keisha adalah orang pertama yang melihatku.

Wajahnya langsung berubah.

Senyum yang tadi begitu lebar menghilang.

“Mas…”

Arman menoleh.

Untuk sesaat, ia tampak seperti seseorang yang baru saja melihat hantu.

“Marisa?”

Semua orang mendadak diam.

Aku berhenti tepat di depan mereka.

“Selamat,” kataku.

Suaraku begitu tenang sampai aku sendiri terkejut mendengarnya.

Arman berdiri kaku.

“Kamu ngapain di sini?”

Pertanyaan itu hampir membuatku tertawa lagi.

“Aku sebenarnya mau makan malam dengan klien. Tapi sepertinya aku datang ke acara yang lebih menarik.”

Keisha menatap Arman.

“Mas, siapa dia?”

Aku tidak memberinya kesempatan menjawab.

“Aku Marisa.”

Aku mengulurkan tangan kepada Keisha.

“Istrinya.”

Suasana langsung berubah.

Salah satu teman Keisha menurunkan ponselnya.

Perempuan yang tadi bersorak paling keras menutup mulut.

Keisha tidak menyambut tanganku.

Ia menatap Arman dengan wajah pucat.

“Kamu bilang kalian sudah cerai.”

Arman buru-buru berkata, “Keisha, dengar dulu.”

“Aku dengar apa?”

“Prosesnya sedang berjalan.”

Aku mengangkat alis.

“Menarik. Pengacaraku belum pernah menerima surat apa pun.”

Arman menatapku tajam.

“Jangan bikin keributan di sini.”

Aku menatapnya beberapa detik.

“Yang melamar pacarnya ketika masih menikah itu kamu, tapi yang bikin keributan aku?”

Beberapa orang mulai berbisik.

Keisha memandang cincin di tangannya, lalu kepadaku.

“Aku benar-benar tidak tahu.”

Aku percaya padanya.

Bukan karena aku naif.

Tapi karena ekspresi perempuan yang sengaja merebut suami orang berbeda dengan ekspresi perempuan yang baru menyadari bahwa seluruh hubungan yang ia banggakan ternyata berdiri di atas kebohongan.

Aku menunjuk cincin itu.

“Tenang saja. Aku juga baru tahu malam ini.”

Keisha terlihat bingung.

Aku tersenyum tipis.

“Kalau boleh jujur, aku malah lebih mengenal cincin itu daripada kamu.”

Arman memotong cepat.

“Marisa, cukup.”

“Empat puluh juta, cicilan dua belas bulan.”

Wajah Arman seketika berubah.

Aku melanjutkan.

“Dibeli tiga hari lalu pakai kartu kredit tambahan atas namaku.”

Salah satu teman Keisha spontan berkata, “Serius?”

Aku mengangguk.

“Jadi secara teknis, sebelas bulan ke depan aku masih ikut membayar simbol cinta kalian.”

Keisha langsung melepas cincin itu.

Ia menaruhnya di atas meja seolah benda itu tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang menjijikkan.

“Keisha…”

“Jangan sentuh aku.”

Arman mencoba mendekat.

Keisha mundur.

“Kamu bilang istrimu meninggalkan kamu setahun lalu.”

Aku menatap Arman.

Ternyata kebohongannya lebih panjang daripada yang kubayangkan.

Keisha mulai menangis.

“Kamu bilang dia cuma mempertahankan pernikahan karena uang.”

Kali ini aku benar-benar tertawa kecil.

“Dia bilang begitu?”

Arman memejamkan mata.

“Marisa, kita bicara di rumah.”

“Tidak.”

Untuk pertama kalinya selama delapan tahun, aku tidak merasa perlu mengikuti instruksinya.

“Aku sudah terlalu banyak bicara di rumah sendirian.”

Aku mengambil cincin itu dari meja dan memasukkannya kembali ke kotak.

“Dan ini akan kukembalikan besok.”

Aku berbalik meninggalkan restoran.

Arman mengejarku hingga area parkir.

“Marisa!”

Aku terus berjalan.

Ia menarik lenganku.

“Jangan kekanak-kanakan.”

Aku menepis tangannya.

“Kekanak-kanakan?”

“Aku bisa jelaskan.”

“Jelaskan kenapa kamu melamar perempuan lain?”

Arman mengusap wajahnya frustrasi.

“Hubungan kita sudah mati sejak lama. Kamu tahu itu.”

Kalimat itu menyakitkan.

Namun bukan karena aku tidak pernah memikirkannya.

Justru karena aku sadar, selama ini aku sendirian berusaha menghidupkan sesuatu yang telah ia kubur diam-diam.

“Aku kerja sampai malam karena perusahaan kita sedang susah,” lanjutnya. “Setiap pulang, yang kamu tanyakan cuma tagihan, laporan, cicilan.”

Aku menatapnya.

“Perusahaan kita?”

“Jangan mulai.”

Aku tersenyum hambar.

“Menarik kamu masih menyebutnya perusahaan kita.”

Arman terdiam.

Delapan tahun sebelumnya, ketika kami menikah, Arman hanyalah manajer pemasaran di sebuah perusahaan kecil.

Aku yang memiliki modal dari hasil menjual rumah peninggalan ayahku.

Aku yang mendirikan PT pertama.

Aku yang menggadaikan deposito untuk membayar gaji karyawan saat bisnis nyaris bangkrut.

Ketika usaha akhirnya berkembang, aku sengaja mengundurkan diri dari posisi direktur utama dan menyerahkan operasional kepada Arman.

Namanya yang tampil di media.

Namanya yang menghadiri konferensi.

Namanya yang dikenal para klien.

Sementara aku berpindah ke perusahaan konsultasi dan membangun karierku sendiri.

Banyak orang menganggap aku cuma istri dari pengusaha sukses.

Arman tampaknya mulai mempercayai versi itu juga.

“Aku capek,” katanya. “Keisha membuatku merasa dihargai.”

Aku mengangguk perlahan.

“Kalau begitu, semoga dia juga siap menghargai utangmu.”

Wajah Arman menegang.

“Apa maksudmu?”

Aku tidak menjawab.

Aku masuk ke mobil dan pergi.

Malam itu, aku tidak pulang ke rumah.

Aku menginap di apartemen milik adikku.

Pukul dua dini hari, Arman mengirim puluhan pesan.

Marah.

Memohon.

Mengancam.

Lalu memohon lagi.

Aku tidak membalas satu pun.

Pagi harinya, aku menemui pengacaraku.

Selama hampir tiga bulan sebenarnya aku sudah merasa ada yang tidak beres.

Bukan soal perselingkuhan.

Melainkan soal perusahaan.

Ada transfer besar ke vendor yang tidak kukenal.

Ada pinjaman jangka pendek yang tidak pernah masuk laporan pemegang saham.

Ada aset perusahaan yang ternyata dijadikan jaminan.

Aku baru mengetahui semuanya karena secara hukum aku masih memiliki enam puluh lima persen saham.

Arman hanya memiliki dua puluh persen.

Sisanya milik investor awal.

Selama ini aku tidak pernah menggunakan hak mayoritasku untuk mencampuri operasional karena aku mempercayainya.

Kepercayaan itu ternyata kesalahan yang jauh lebih mahal daripada perselingkuhan.

“Bu Marisa,” kata pengacaraku sambil menunjukkan dokumen, “kami menemukan tiga perusahaan vendor yang alamatnya terhubung ke satu orang.”

Aku membaca nama pemiliknya.

Keisha Larasati.

Jantungku serasa berhenti.

“Keisha?”

“Tiga vendor menerima hampir dua miliar rupiah dalam empat belas bulan.”

Aku segera teringat wajah Keisha malam sebelumnya.

Wajah terkejutnya.

Tangisnya.

Aku ingin percaya ia juga korban.

Namun dokumen di depanku menceritakan hal lain.

Siang itu aku mengirim pesan kepadanya.

Keisha setuju bertemu di sebuah kafe di Kuningan.

Ia datang tanpa riasan, mengenakan kemeja sederhana.

Begitu duduk, ia langsung berkata, “Saya minta maaf.”

Aku meletakkan salinan dokumen di depannya.

“Kenal perusahaan-perusahaan ini?”

Wajahnya kehilangan warna.

Tangannya gemetar.

“Dari mana Mbak dapat ini?”

“Jadi kamu kenal.”

Keisha menunduk.

Lalu ia mengatakan sesuatu yang tidak kuduga.

“Saya mendirikan perusahaan itu atas permintaan Mas Arman.”

“Untuk apa?”

“Dia bilang perusahaan utama butuh vendor sementara supaya beberapa proyek bisa jalan lebih cepat. Saya cuma tanda tangan. Semua rekening dikendalikan dia.”

Aku tidak langsung percaya.

Keisha membuka ponselnya.

Ia menunjukkan percakapan mereka.

Instruksi transfer.

Foto dokumen.

Pesan suara.

Semakin lama kubaca, semakin jelas pola yang terbentuk.

Arman bukan sekadar berselingkuh.

Ia sedang memindahkan uang perusahaan melalui perusahaan milik kekasihnya.

Yang lebih buruk, sebagian uang itu digunakan untuk membayar apartemen, mobil, liburan, dan gaya hidup yang selama ini ia sembunyikan dariku.

Keisha menangis.

“Saya bodoh.”

“Kenapa kamu mau tanda tangan?”

“Karena saya percaya dia akan menikahi saya.”

Aku memandangnya lama.

Ternyata kami memiliki satu kesamaan yang menyakitkan.

Kami sama-sama pernah percaya pada janji laki-laki yang sama.

Dua minggu kemudian, rapat umum pemegang saham luar biasa digelar.

Arman datang dengan setelan abu-abu dan wajah percaya diri.

Ia masih mengira rapat itu hanya membahas restrukturisasi utang.

Ketika aku masuk bersama pengacara dan auditor independen, wajahnya mulai berubah.

“Marisa?”

Aku duduk di kursi paling depan.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, papan nama di depanku tertulis jelas.

Marisa Wijaya.

Pemegang Saham Mayoritas.

Satu demi satu temuan dibacakan.

Penyalahgunaan dana.

Konflik kepentingan.

Transaksi vendor tanpa persetujuan.

Jaminan aset tanpa kewenangan pemegang saham.

Arman berkali-kali menyela.

“Itu semua keputusan bisnis!”

Lalu pintu ruang rapat terbuka.

Keisha masuk bersama pengacaranya.

Wajah Arman langsung pucat.

“Keisha?”

Perempuan itu tidak menatapnya.

Ia menyerahkan ponsel dan dokumen kepada auditor.

Bukti transaksi.

Rekaman percakapan.

Pesan yang menunjukkan bahwa Arman secara sadar menggunakan perusahaan-perusahaan tersebut untuk mengalihkan dana.

Rapat berlangsung hampir empat jam.

Pada akhirnya, keputusan pemegang saham disahkan.

Arman diberhentikan sebagai direktur.

Aksesnya ke rekening perusahaan dicabut.

Kasus penyalahgunaan dana diserahkan untuk proses hukum.

Ketika semua orang mulai meninggalkan ruangan, Arman tetap duduk.

Wajahnya kosong.

Aku menghampirinya.

“Kamu menghancurkan hidupku,” katanya lirih.

Aku menatap pria yang pernah menjadi pusat duniaku.

Anehnya, aku tidak lagi membencinya.

Yang kurasakan hanya lelah.

“Tidak, Mas.”

Aku meletakkan kotak cincin beludru biru di depannya.

“Aku hanya berhenti membiayainya.”

Ia membuka kotak itu.

Kosong.

Aku sudah mengembalikan cincin tersebut dan melunasi transaksi kartu agar tidak ada lagi urusan finansial yang mengikatku pada benda itu.

“Surat gugatan cerai akan dikirim minggu ini,” kataku.

Arman mendongak.

“Jadi setelah delapan tahun, kamu buang aku begitu saja?”

Aku teringat janji yang ia ucapkan di restoran dulu.

Aku tidak akan pernah membuatmu merasa sendirian.

Delapan tahun aku takut kehilangan lelaki yang ternyata sudah lama meninggalkanku secara emosional.

Baru sekarang aku mengerti bahwa sendirian bukanlah ketika seseorang pergi.

Sendirian adalah ketika seseorang tetap tinggal di sampingmu, tetapi membuatmu merasa tidak pernah cukup berarti untuk dilihat.

Aku mengambil tas dan berjalan menuju pintu.

Sebelum keluar, aku berhenti.

“Oh ya, satu hal lagi.”

Arman menatapku.

“Apa?”

“Restoran tempat kamu melamar Keisha menghubungiku kemarin.”

Keningnya berkerut.

Aku tersenyum kecil.

“Mereka meminta pembayaran paket pertunangan yang gagal ditagihkan ke kartu tambahanmu karena sudah kublokir.”

Untuk pertama kalinya, ekspresi di wajahnya membuatku hampir merasa kasihan.

Hampir.

“Aku kasih nomor teleponmu,” kataku.

Lalu aku pergi.

Enam bulan kemudian, perceraian kami resmi selesai.

Perusahaan berhasil diselamatkan setelah restrukturisasi besar. Aku kembali menjadi komisaris aktif, bukan karena ingin membuktikan sesuatu kepada Arman, tetapi karena akhirnya aku berhenti mengecilkan diriku sendiri agar orang lain terlihat lebih besar.

Keisha menjadi saksi dalam penyelidikan dan menyerahkan seluruh dana yang masih tersisa di rekening perusahaan-perusahaannya.

Kami tidak pernah menjadi teman dekat.

Tapi beberapa bulan setelah semuanya selesai, ia mengirim satu pesan kepadaku.

Terima kasih karena malam itu Mbak Marisa memilih mengatakan yang sebenarnya, bukan menghancurkan saya.

Aku membaca pesan itu lama sebelum membalas.

Kita berdua sama-sama dibohongi. Bedanya, sekarang kita sama-sama tahu.

Setahun setelah malam pertunangan itu, aku kembali ke restoran tersebut.

Sendirian.

Bukan untuk mengenang Arman.

Aku duduk di meja dekat jendela, memesan makan malam, lalu memandang lampu gantung yang masih sama seperti delapan tahun lalu.

Seorang pelayan muda mendekat membawa segelas minuman.

“Dari gentleman di meja seberang, Bu.”

Aku menoleh.

Seorang pria tersenyum kepadaku.

Dulu mungkin aku akan merasa gugup.

Mungkin akan bertanya apakah ini awal kisah cinta baru.

Namun malam itu aku hanya tersenyum, mengangkat gelas sebagai ucapan terima kasih, lalu kembali menikmati makananku.

Aku akhirnya mengerti sesuatu.

Akhir bahagia tidak selalu dimulai ketika seseorang datang mencintai kita.

Kadang-kadang, akhir bahagia dimulai pada malam ketika kita berhenti membayar harga dari kebohongan orang lain.

Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, aku duduk sendirian tanpa sedikit pun merasa kesepian.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang