SEORANG PRIA BERDIRI DI DEPAN RUMAHKU DAN MENGAKU SEBAGAI SUAMIKU. MASALAHNYA, SUAMIKU SEDANG TERTIDUR DI LANTAI DUA.

Bel rumah berbunyi lagi.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Arvin yang berbaring di atas tempat tidur langsung membuka mata lebih lebar.

“Ada siapa malam-malam begini?” tanyanya.

Aku berdiri kaku di samping ranjang.

Entah kenapa, pertanyaan sederhana itu terdengar menakutkan.

“Tidak tahu,” jawabku.

Arvin mengusap wajah, lalu duduk.

“Satpam?”

“Mungkin.”

Dia hendak turun dari ranjang.

Refleks, aku memegang lengannya.

“Biar aku saja.”

Arvin menatap tanganku, kemudian wajahku.

“Kamu kenapa?”

“Tidak apa-apa.”

Tatapannya berubah.

Selama dua belas tahun menikah, aku tahu kapan suamiku sedang curiga.

Dia menyipitkan mata sedikit seperti itu setiap kali merasa ada sesuatu yang kusembunyikan.

“Rania.”

“Aku cuma kaget dibangunkan bel.”

Aku memaksakan senyum.

Lalu aku keluar sebelum dia sempat bertanya lagi.

Saat menuruni tangga, ponselku bergetar.

Pesan masuk dari nomor tadi.

Jangan buka pintu.

Aku berhenti.

Pesan kedua muncul.

Matikan lampu ruang tamu. Pergi ke ruang kerja. Laci paling bawah meja. Cari foto bulan madu kita di Lombok.

Aku menatap layar cukup lama.

Tidak ada seorang pun yang tahu soal foto itu.

Bahkan aku hampir lupa.

Dua belas tahun lalu, saat bulan madu di Lombok, Arvin mengambil foto kami dengan kamera digital tua. Aku membenci foto itu karena rambutku berantakan akibat angin dan wajahku terbakar matahari.

Namun Arvin menyukainya.

Dia mencetak satu lembar lalu menyimpannya di antara dokumen pribadinya.

Katanya suatu hari, jika kami sudah tua dan mulai saling kesal, foto itu akan mengingatkan kami bahwa kami pernah sangat bahagia.

Aku berjalan ke ruang kerja.

Tanganku membuka laci paling bawah.

Ada map asuransi, sertifikat rumah, dokumen pajak, dan sebuah amplop cokelat.

Di dalam amplop itu terdapat foto tersebut.

Aku hampir menangis saat melihatnya.

Aku dan Arvin berdiri di pantai Senggigi.

Aku tertawa sambil menutupi wajah.

Arvin memelukku dari belakang.

Di bagian belakang foto ada tulisan tangan.

Kalau suatu hari aku berubah menjadi orang asing, tanyakan nama kucing pertama yang ingin kita pelihara.

Aku membeku.

Tulisan itu tulisan tangan Arvin.

Aku ingat persis kapan dia menulisnya.

Malam bulan madu kami.

Aku sempat mengejeknya karena terdengar seperti pesan dari film mata-mata.

Jawaban pertanyaan itu hanya diketahui kami berdua.

Kami pernah berjanji akan memelihara kucing bernama Moka.

Namun rencana itu tidak pernah terjadi karena setelah menikah aku mengalami alergi bulu cukup parah.

Terdengar langkah kaki dari tangga.

“Rania?”

Suara Arvin.

Aku cepat-cepat menyelipkan foto ke saku celana.

Dia muncul di pintu ruang kerja.

“Kamu bilang mau lihat siapa di luar.”

“Aku mencari kunci pagar.”

“Kunci ada di dekat pintu.”

Aku menelan ludah.

Arvin memperhatikanku lama.

Lalu tersenyum.

Aneh.

Senyum itu sama persis dengan senyum yang kulihat setiap hari.

Namun malam itu, untuk pertama kalinya, senyum tersebut terasa seperti sesuatu yang sedang dipelajari seseorang.

“Ada sesuatu yang kamu sembunyikan?”

Aku menggeleng.

“Tidak.”

Dia mendekat.

“Ponselmu berbunyi terus.”

Tanganku refleks menggenggam saku.

Arvin melihat gerakanku.

Saat itulah lampu rumah mendadak padam.

Seluruh ruangan gelap.

Aku terkejut.

Arvin mengumpat pelan.

Dari luar terdengar suara gerbang besi diguncang.

“Rania!”

Pria di luar berteriak.

Suara yang sama dari telepon.

“Jangan percaya dia!”

Tubuh Arvin di depanku menegang.

Bukan terkejut.

Lebih seperti seseorang yang baru saja mendengar masalah lama akhirnya menemukan jalannya pulang.

“Siapa itu?” tanyaku.

Arvin tidak menjawab.

Dia justru berjalan ke arah jendela.

Aku mundur satu langkah.

“Vin?”

Dia menoleh.

Dalam cahaya samar dari jalan, wajah suamiku tampak berbeda.

Tenang.

Terlalu tenang.

“Masuk kamar,” katanya.

“Aku tanya siapa dia?”

“Rania, masuk kamar.”

Suara itu bukan permintaan.

Aku tidak bergerak.

Arvin menghela napas.

Kemudian berkata sesuatu yang membuat darahku dingin.

“Kamu seharusnya tidak mengangkat teleponnya.”

Aku menatapnya.

“Jadi kamu tahu dia?”

Dia diam.

“Siapa dia?”

Sebelum Arvin menjawab, terdengar suara kaca pecah dari belakang rumah.

Arvin langsung berlari keluar ruang kerja.

Aku mengikutinya sampai dapur.

Sebuah jendela kecil dekat area cuci sudah pecah.

Beberapa detik kemudian, sesosok tubuh memanjat masuk.

Pria dari depan rumah.

Dia jatuh ke lantai dapur dengan napas terengah.

Darah mengalir dari telapak tangannya akibat terkena pecahan kaca.

Ketika dia berdiri, aku dapat melihat wajahnya secara langsung.

Dan dunia seakan terbelah menjadi dua.

Wajahnya memang mirip Arvin.

Bukan sekadar mirip.

Garis rahang.

Bentuk hidung.

Bekas luka kecil di dagu yang didapat Arvin setelah jatuh dari sepeda saat kuliah.

Semuanya sama.

Namun pria ini jauh lebih kurus.

Tatapannya liar seperti seseorang yang terlalu lama hidup dalam ketakutan.

Arvin berdiri beberapa meter darinya.

Kedua pria itu saling menatap.

Aku berada di antara mereka.

“Apa yang sedang terjadi?” teriakku.

Pria yang baru masuk mengangkat kedua tangannya.

“Rania, jangan mendekat kepadanya.”

Arvin tertawa kecil.

“Kamu benar-benar datang.”

“Diam.”

“Aku kira mereka sudah menyelesaikan masalahmu.”

Pria kurus itu mengepalkan tangan.

Aku menatap Arvin.

“Mereka siapa?”

Tidak ada jawaban.

Aku teringat foto di saku.

Dengan suara gemetar, aku bertanya kepada pria kurus itu.

“Nama kucing pertama yang ingin kita pelihara?”

Dia menatapku.

Tidak perlu berpikir.

“Moka.”

Dadaku seperti dihantam.

Aku menoleh kepada Arvin yang tinggal bersamaku selama ini.

Wajahnya berubah.

Untuk pertama kalinya aku melihat kepanikan.

“Pertanyaan itu tidak membuktikan apa pun,” katanya.

Aku menatapnya.

“Kalau begitu jawab satu hal.”

Aku mendekatinya.

“Di Lombok, malam setelah foto itu diambil, aku marah kepadamu karena apa?”

Arvin terdiam.

Pria kurus di belakangku menjawab pelan.

“Karena aku meninggalkan sandalmu di pantai dan ombak membawanya pergi.”

Mataku langsung panas.

Tidak ada yang tahu cerita itu.

Tidak pernah kami ceritakan kepada keluarga.

Bahkan tidak ada fotonya.

Aku berbalik.

“Arvin?”

Pria kurus itu mengangguk.

Air mata mengalir di pipinya.

“Maaf.”

Aku hampir tidak mampu berdiri.

“Lalu siapa dia?”

Pria yang selama ini kupanggil suami mendadak meraih pisau dari meja dapur.

Aku menjerit.

Namun bukan aku yang dia serang.

Dia menerjang pria kurus itu.

Keduanya bergulat.

Pisau jatuh.

Aku berlari mengambilnya lalu berteriak sekeras mungkin.

“Berhenti!”

Mereka membeku.

Tanganku gemetar memegang pisau.

“Aku akan telepon polisi.”

Pria yang selama ini tinggal bersamaku tertawa pendek.

“Telepon saja.”

“Kalian akan masuk penjara.”

“Bukan kalau semuanya sudah diatur.”

Kalimat itu membuatku sadar bahwa masalah ini jauh lebih besar daripada dua lelaki dengan wajah sama.

Arvin yang asli berkata cepat, “Telepon Pak Damar.”

Pak Damar adalah pengacara keluarga kami.

“Ada flashdisk di kantor.”

“Flashdisk apa?”

“Bukti.”

Pria satunya langsung menerjangku.

Namun Arvin menahannya.

Aku berlari menuju ruang kerja, mengunci pintu, lalu menelepon Pak Damar dan polisi.

Di balik pintu terdengar suara pukulan, benda jatuh, dan teriakan.

Aku mencari di meja.

Tidak ada flashdisk.

“Ada di belakang bingkai foto ayahmu!” teriak Arvin dari luar.

Aku menarik bingkai foto ayah dari rak.

Di belakangnya terpasang sebuah flashdisk kecil dengan selotip hitam.

Aku mengambilnya.

Beberapa menit kemudian, suara sirene terdengar dari kejauhan.

Pertarungan berhenti.

Ketika polisi masuk, pria yang selama ini tinggal bersamaku mencoba melarikan diri melalui halaman belakang.

Dia tertangkap di gang kecil sebelah rumah.

Malam itu juga, satu per satu bagian cerita yang tidak masuk akal mulai terbuka.

Arvin sebenarnya menghilang tujuh bulan sebelumnya.

Aku tidak pernah menyadarinya.

Pria yang kembali ke rumah setelah perjalanan bisnis ke Surabaya tujuh bulan lalu bukan suamiku.

Namanya Adrian.

Saudara kembar identik Arvin.

Seseorang yang bahkan tidak pernah kukenal keberadaannya.

Orang tua mereka sengaja memisahkan keduanya sejak bayi karena konflik keluarga yang sangat buruk.

Arvin dibesarkan ayahnya.

Adrian dibawa ibunya ke luar kota dan kemudian menggunakan nama keluarga berbeda.

Selama bertahun-tahun, hubungan keduanya hampir tidak ada.

Sampai ayah Arvin meninggal dan meninggalkan saham perusahaan keluarga dalam jumlah besar.

Adrian merasa dirinya juga berhak.

Namun dokumen warisan menyebut Arvin sebagai satu-satunya penerima.

Pertikaian dimulai diam-diam.

Adrian akhirnya bekerja sama dengan dua mantan eksekutif perusahaan untuk menculik Arvin dalam perjalanan bisnis.

Rencana awalnya hanya memaksa Arvin menandatangani pengalihan saham.

Namun setelah melihat betapa miripnya mereka, rencana berubah.

Adrian mulai mengambil identitasnya.

Cara bicara.

Gaya berpakaian.

Kebiasaan kecil.

Dia mempelajari rekaman keluarga, foto, percakapan, bahkan pesan-pesan lama.

Dan aku tidak menyadarinya.

Bagian itu adalah sesuatu yang paling sulit kumaafkan dari diriku sendiri.

Namun Pak Damar berkata sesuatu yang tidak pernah kulupakan.

“Kita mengenali orang dari pola yang berulang. Jika seseorang memiliki wajah yang sama, suara serupa, dan mengetahui cukup banyak tentang kehidupan seseorang, otak akan menerima apa yang ingin dipercayainya.”

Tetap saja, rasa bersalah menghantuiku.

Aku teringat beberapa perubahan kecil selama tujuh bulan itu.

Arvin yang tiba-tiba tidak lagi menyukai kopi pahit.

Arvin yang lupa letak album pernikahan.

Arvin yang mulai menggunakan tangan kiri saat memegang sendok.

Aku mengira semua itu hanya perubahan seiring usia.

Ternyata tubuhku sebenarnya terus mengirimkan peringatan.

Aku saja yang memilih mengabaikannya.

Arvin ditemukan terluka di sebuah gudang kosong di luar kota setelah berhasil melarikan diri dari tempat penyekapan beberapa hari sebelumnya.

Flashdisk yang dia sembunyikan berisi rekaman percakapan Adrian dengan orang-orang yang terlibat dalam penculikannya.

Namun ada satu pertanyaan yang terus menghantuiku.

Bagaimana Arvin bisa menyembunyikan flashdisk di rumah jika dia baru kembali malam itu?

Jawabannya muncul seminggu kemudian.

Saat aku dan Arvin akhirnya duduk berdua di ruang keluarga.

Wajahnya masih penuh lebam.

Tangannya dibalut perban.

“Aku masuk rumah dua malam sebelum datang ke gerbang,” katanya.

Aku menatapnya.

“Apa?”

“Aku tahu kode pintu belakang.”

“Kenapa kamu tidak langsung menemui aku?”

Arvin menunduk.

“Karena aku melihat kalian.”

Aku tercekat.

“Maksudmu?”

“Aku melihat kamu membuat teh untuk dia.”

Aku tidak tahu harus berkata apa.

“Kamu tertawa ketika dia mengatakan sesuatu.”

Air mata muncul di mata Arvin.

“Aku berdiri di luar jendela dan sadar, selama tujuh bulan, hidupku terus berjalan tanpa aku.”

Aku menggenggam tangannya.

“Vin…”

“Aku takut.”

“Takut apa?”

“Takut kamu sudah tidak bisa membedakan kami.”

Kalimat itu menghancurkan sesuatu dalam diriku.

Aku menangis.

“Aku memang tidak bisa.”

Arvin menatapku.

Aku memaksa diri melanjutkan.

“Aku gagal mengenalimu.”

Dia menggeleng.

“Tidak.”

“Aku tidur di samping orang lain selama tujuh bulan.”

“Tapi kamu mengenaliku malam itu.”

“Karena sebuah pertanyaan tentang kucing.”

“Bukan.”

Arvin menatapku lama.

“Karena kamu memilih mencari kebenaran saat sesuatu terasa salah.”

Kami diam cukup lama.

Beberapa bulan kemudian, Adrian dan dua orang yang membantunya dijatuhi hukuman penjara.

Perusahaan keluarga dijual.

Arvin tidak ingin memiliki sesuatu yang mengingatkannya pada semua itu.

Kami juga pindah dari rumah tersebut.

Bukan karena takut.

Hanya karena setiap sudutnya menyimpan terlalu banyak bayangan.

Di rumah baru, kami akhirnya melakukan sesuatu yang seharusnya sudah kami lakukan dua belas tahun lalu.

Kami mengadopsi seekor kucing.

Seekor kucing betina berwarna cokelat muda dari penampungan hewan.

Ketika petugas menanyakan namanya, aku menatap Arvin.

Dia tersenyum.

“Moka.”

Aku tertawa sambil menangis.

Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, semuanya terasa normal.

Sampai malam itu.

Tiga minggu setelah Moka tinggal bersama kami, aku sedang membersihkan kotak dokumen lama yang dibawa dari rumah sebelumnya.

Di bagian paling bawah, aku menemukan sebuah amplop yang belum pernah kulihat.

Di dalamnya ada dua akta kelahiran.

Nama pertama tertulis Arvin Mahendra.

Nama kedua Adrian Mahendra.

Aku hampir memasukkannya kembali ketika melihat sesuatu yang membuat tanganku berhenti.

Tanggal lahirnya sama.

Tempat lahirnya sama.

Namun di bawah kedua nama itu ada catatan rumah sakit.

Bayi kembar pertama lahir pukul 02.17.

Bayi kembar kedua lahir pukul 02.24.

Aku membaca lagi.

Lalu lagi.

Ada satu lembar tambahan.

Dokumen lama dari rumah sakit.

Tiga bayi laki-laki lahir malam itu dari ibu yang sama.

Bayi ketiga dinyatakan meninggal beberapa menit setelah dilahirkan.

Aku berdiri membeku.

Pada saat yang sama, pintu rumah terbuka.

Arvin pulang dari kantor.

“Rania?”

Aku tidak menjawab.

Dia masuk ke ruang keluarga.

Mataku masih tertuju pada dokumen.

“Ada apa?”

Aku perlahan mengangkat kepala.

Di belakang Arvin, melalui kaca pintu, terlihat seorang pria berdiri di seberang jalan.

Tubuhnya kurus.

Rambutnya panjang.

Ada bekas luka kecil di wajahnya.

Dan sebelum aku sempat berkata apa pun, ponselku bergetar.

Sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenal.

Jangan panik.

Aku bukan Adrian.

Aku menatap layar dengan napas tertahan.

Pesan kedua muncul.

Dan pria di depanku juga bukan Arvin.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang