Hari ketika aku datang untuk memergoki perselingkuhan suamiku, perempuan simpanannya justru menangis dan menuduhku sebagai orang yang ingin menghancurkan kebahagiaan mereka.

“Aku tidak pernah bilang anak itu salah,” ulangku pelan. “Aku hanya sedang memastikan satu hal.”

Raka mengerutkan kening.

“Memastikan apa?”

Aku tidak langsung menjawab. Aku berjalan menuju meja makan, menarik sebuah kursi, lalu duduk dengan tenang. Map cokelat yang sejak tadi kubawa kuletakkan di atas meja.

Gerakanku membuat Raka semakin gelisah.

Ia mengenalku selama sebelas tahun.

Ia tahu aku bukan tipe orang yang bisa tetap setenang ini ketika hatiku sedang hancur.

Atau setidaknya, itulah Nadira yang ia kenal dulu.

“Nadira, aku tidak tahu bagaimana kamu menemukan apartemen ini,” katanya, “tapi kalau kamu datang untuk membuat keributan, lebih baik pulang.”

“Kalau aku mau membuat keributan, aku sudah melakukannya sejak enam bulan lalu.”

Wajah Silvi membeku.

Raka menatapku tajam.

“Enam bulan?”

Aku mengangguk.

“Sejak perjalanan dinasmu ke Surabaya yang ternyata tidak pernah ada.”

Untuk pertama kalinya, wajah Raka kehilangan sedikit warna.

Aku membuka map.

Di dalamnya ada beberapa lembar dokumen yang sudah kususun rapi.

“Hotel di Bandung.”

Satu lembar kutaruh di atas meja.

“Tagihan restoran di Bali.”

Lembar kedua.

“Pembelian tiket pesawat atas nama Silvi Anggraini.”

Lembar ketiga.

“Dan pembayaran apartemen ini menggunakan rekening PT Arunika Cipta Mandiri.”

Raka langsung maju.

“Dari mana kamu dapat semua itu?”

Aku tersenyum tipis.

“Pertanyaan yang menarik dari seorang direktur yang selama ini mengira istrinya tidak pernah membaca laporan keuangan perusahaan.”

Raka terdiam.

Itulah kesalahan terbesarnya.

Bertahun-tahun aku membiarkannya tampil sebagai wajah perusahaan.

Orang-orang mengenal Raka sebagai pendiri Arunika Cipta Mandiri, perusahaan desain interior yang berkembang pesat sejak lima tahun terakhir.

Ia muncul di majalah bisnis.

Ia menjadi pembicara di seminar.

Ia dipanggil CEO.

Sementara namaku hampir tidak pernah disebut.

Padahal modal pertama perusahaan itu berasal dari uang warisan ayahku.

Tanah kantor pertama milik keluargaku.

Dan empat puluh persen klien awal adalah relasi almarhum ayah.

Aku tidak pernah mempermasalahkan siapa yang mendapatkan tepuk tangan.

Karena saat itu aku menganggap Raka adalah suamiku.

Keberhasilannya adalah keberhasilanku.

Kesalahan terbesar dalam pernikahan bukan selalu terlalu sedikit percaya.

Kadang justru terlalu banyak.

Silvi mengusap air matanya.

“Jadi selama ini Kak Nadira mengikuti kami?”

“Tidak.”

Aku menatapnya.

“Aku mengikuti uangku.”

Kalimat itu membuat ruangan kembali sunyi.

Raka mengembuskan napas kasar.

“Baik. Kamu sudah tahu semuanya. Jadi apa maumu?”

Akhirnya.

Pertanyaan yang kutunggu.

Aku mengeluarkan dua dokumen terakhir dari map.

“Perceraian.”

Aku meletakkannya di meja.

Silvi menatap Raka.

Raka justru terlihat bingung.

“Apa?”

“Kamu dengar dengan jelas.”

Aku mendorong dokumen itu ke arahnya.

“Aku tidak datang untuk meminta kamu pulang. Aku datang untuk mengakhiri pernikahan kita.”

Seharusnya ia lega.

Bukankah itu yang ia inginkan?

Namun anehnya, wajah Raka malah terlihat curiga.

“Mudah sekali?”

“Harusnya memang mudah.”

“Kamu tidak akan menuntut Silvi?”

“Untuk apa?”

“Tidak akan bikin masalah di kantor?”

“Tidak.”

“Tidak akan menghubungi keluargaku?”

“Tidak.”

Aku menjawab semuanya dengan nada yang sama.

Tenang.

Datar.

Dan justru itu yang membuatnya semakin tidak nyaman.

Silvi mendekati meja.

Matanya jatuh pada dokumen perceraian.

Lalu ekspresi takut di wajahnya perlahan berubah menjadi sesuatu yang hampir menyerupai kemenangan.

Aku mengenali tatapan itu.

Tatapan seorang perempuan yang merasa akhirnya mendapatkan apa yang selama ini ia perjuangkan.

“Kak,” katanya lebih lembut. “Kalau memang Kakak sudah bisa menerima keadaan, saya berterima kasih.”

Aku menatapnya.

“Jangan berterima kasih dulu.”

Senyumnya sedikit pudar.

Aku menunjuk lembar lain.

“Ada surat pernyataan yang perlu kalian tanda tangani.”

Raka mengambilnya.

Aku bisa melihat matanya bergerak cepat membaca.

Isinya sederhana.

Pernyataan bahwa Raka Pradana dan Silvi Anggraini mengakui telah menjalin hubungan pribadi sejak empat belas bulan sebelumnya.

Bahwa apartemen tersebut digunakan sebagai tempat tinggal bersama.

Bahwa sejumlah biaya kebutuhan pribadi mereka dibayarkan melalui fasilitas perusahaan.

Dan bahwa Silvi bukan karyawan, konsultan, vendor, ataupun pihak yang memiliki hubungan pekerjaan dengan Arunika Cipta Mandiri.

Raka melempar kertas itu ke meja.

“Aku tidak akan tanda tangan.”

Aku sudah menduga.

“Kenapa?”

“Karena ini jebakan.”

Aku tertawa kecil.

Untuk pertama kalinya sore itu.

“Raka, kamu sudah berselingkuh lebih dari setahun, memakai uang perusahaan untuk membiayai apartemen kekasihmu, lalu sekarang takut pada selembar pengakuan?”

“Kamu mau pakai ini di pengadilan.”

“Tentu.”

Silvi langsung memeluk perutnya lagi.

“Mas…”

Raka menoleh kepadanya.

Ketakutan Silvi kali ini terlihat nyata.

Aku membuka tas dan mengeluarkan ponsel.

“Aku sebenarnya bisa menyerahkan seluruh bukti transfer, rekaman CCTV hotel, tiket perjalanan, dan laporan audit kepada pengacara. Tapi itu akan panjang. Akan melelahkan. Dan mungkin akan menarik perhatian pihak lain.”

“Pihak lain siapa?” tanya Raka.

Aku tidak menjawab.

Sebaliknya, aku berdiri.

“Kalau kalian tidak mau tanda tangan, tidak masalah.”

Aku memasukkan kembali dokumen perceraian ke map.

“Aku pulang.”

Baru tiga langkah aku berjalan menuju pintu ketika suara Silvi terdengar.

“Tunggu.”

Aku berhenti.

Raka menoleh tajam.

“Silvi.”

“Tanda tangan saja, Mas.”

“Jangan ikut campur.”

“Tapi kalau kita tanda tangan, semuanya selesai, kan?”

Ia menatapku.

Ada harapan besar di matanya.

“Kak Nadira benar-benar akan menceraikan Mas Raka?”

“Ya.”

“Dan setelah itu Kakak tidak akan mengganggu kami?”

“Selama kalian tidak lagi menggunakan sesuatu yang menjadi milikku.”

Silvi menarik napas.

Kemudian menatap Raka.

“Mas, kita sudah menunggu ini.”

Aku hampir merasa kasihan.

Hampir.

Karena Silvi tidak tahu bahwa selama berbulan-bulan Raka selalu mengatakan kepadanya bahwa aku menolak bercerai.

Sementara kepadaku, Raka mengatakan ia sedang stres karena tekanan bisnis.

Dua perempuan.

Dua kebohongan berbeda.

Satu laki-laki yang terlalu yakin keduanya tidak akan pernah duduk di ruangan yang sama.

“Kalau kamu memang serius sama aku,” kata Silvi, “tanda tangan.”

Raka terlihat terpojok.

“Silvi, kamu tidak mengerti.”

“Apa yang tidak aku mengerti?”

“Nadira sedang merencanakan sesuatu.”

Aku mengangkat bahu.

“Kamu boleh menelepon pengacaramu.”

Ucapan itu justru membuat Silvi semakin yakin.

Ia mengambil pulpen di meja.

“Saya tanda tangan.”

“Silvi!”

Namun perempuan itu sudah membubuhkan namanya.

Silvi Anggraini.

Jelas.

Lengkap.

Lalu pulpen diletakkannya di depan Raka.

“Sekarang Mas.”

Raka menatapku lama.

Mungkin sedang mencari celah.

Mungkin mencoba melihat perempuan yang dulu mudah ia manipulasi.

Sayangnya perempuan itu sudah tidak ada.

Akhirnya ia duduk.

Tangannya mengambil pulpen.

Satu goresan.

Dua goresan.

Raka Pradana.

Selesai.

Aku mengambil dokumen itu.

Memeriksa tanda tangan keduanya.

Kemudian memasukkannya ke map.

Silvi tersenyum lega.

“Jadi sekarang selesai?”

“Untuk urusan pernikahan, hampir.”

Aku mengambil ponsel dan mengirim satu pesan singkat.

Sudah ditandatangani.

Balasannya datang beberapa detik kemudian.

Baik. Kami naik.

Raka melihat layar ponselku.

“Siapa yang naik?”

Aku tidak sempat menjawab.

Bel apartemen berbunyi.

Sekali.

Kemudian dua kali.

Raka berdiri cepat.

“Nadira, siapa?”

Aku berjalan ke pintu dan membukanya.

Tiga orang berdiri di luar.

Pak Surya, komisaris utama Arunika Cipta Mandiri.

Bu Maya, kepala bagian keuangan.

Dan seorang pria berkacamata yang kukenal sebagai auditor eksternal perusahaan.

Wajah Raka seketika pucat.

“Pak Surya?”

Pak Surya masuk tanpa tersenyum.

“Nadira bilang pertemuannya sudah selesai.”

Raka menatapku.

“Apa-apaan ini?”

Aku menutup pintu.

“Ini alasan sebenarnya aku datang.”

Pak Surya mengeluarkan sebuah map hitam.

“Raka, selama dua bulan terakhir kami melakukan audit khusus terhadap penggunaan dana perusahaan.”

Raka menggeleng.

“Tidak mungkin. Audit harus atas persetujuan direktur.”

“Tidak kalau diperintahkan pemegang saham mayoritas.”

Matanya langsung berpindah kepadaku.

Aku akhirnya mengeluarkan satu dokumen lain dari tas.

Akta kepemilikan saham.

Nama Nadira Adiningrum tercetak jelas.

Lima puluh satu persen.

Raka terlihat seperti baru saja kehilangan kemampuan bicara.

Selama bertahun-tahun ia tahu aku memiliki saham.

Tapi ia mengira kepemilikanku hanya dua puluh lima persen.

Ia tidak tahu bahwa enam bulan sebelum ayahku meninggal, sebagian saham yayasan keluarga sudah dialihkan kepadaku.

Ayah menyimpannya melalui perusahaan induk keluarga.

Aku sendiri baru mengetahuinya setelah pengacara keluarga menghubungiku delapan bulan lalu untuk restrukturisasi aset.

Hampir bersamaan dengan saat aku mulai menemukan pengkhianatan Raka.

Ironis.

Dalam waktu yang sama aku mengetahui dua hal.

Suamiku bukan orang yang kukira.

Dan aku jauh lebih berkuasa atas hidupku daripada yang selama ini kukira.

Pak Surya membuka hasil audit.

“Pembayaran apartemen, perjalanan pribadi, hadiah, restoran, kendaraan sewaan, dan beberapa transaksi lain berjumlah lebih dari satu koma delapan miliar rupiah.”

Silvi mundur.

“Apa?”

Raka langsung menunjukku.

“Kamu menjebakku!”

“Tidak.”

Aku mengangkat surat pengakuan yang baru saja ia tanda tangani.

“Kamu sendiri yang mengakui apartemen ini dan pengeluaran di dalamnya adalah untuk hubungan pribadi. Sebelumnya kamu selalu menyatakan semua transaksi itu sebagai biaya relasi klien.”

Bu Maya menambahkan dengan suara tegas, “Sekarang kami punya pengakuan tertulis bahwa Silvi bukan klien, bukan vendor, dan tidak memiliki hubungan bisnis dengan perusahaan.”

Silvi menatap Raka.

“Mas bilang apartemen ini milikmu.”

Raka tidak menjawab.

“Mas bilang perusahaan itu milikmu.”

Tetap diam.

Wajah Silvi perlahan berubah.

Air mata yang sebelumnya dipakai untuk melawanku kini benar-benar jatuh.

“Mas?”

Raka justru berteriak kepadaku.

“Kamu mau menghancurkan aku cuma karena aku mencintai perempuan lain?”

Aku menatapnya lama.

“Tidak, Raka.”

Suaraku bahkan lebih tenang daripada sebelumnya.

“Aku tidak menghukummu karena kamu berhenti mencintaiku.”

Aku menunjuk dokumen audit.

“Aku menghentikanmu karena kamu mencuri dari perusahaan yang dibangun dengan uang keluargaku.”

“Kita suami istri!”

“Benar.”

“Berarti semuanya juga milikku!”

Aku menggeleng.

“Tidak seperti itu hukum bekerja.”

Pak Surya menutup map.

“Mulai hari ini, akses saudara Raka terhadap rekening perusahaan dibekukan. Rapat pemegang saham luar biasa akan dilakukan besok untuk pemberhentian sementara dari jabatan direktur.”

Raka mematung.

Silvi tiba-tiba duduk di sofa.

Tangannya masih berada di perut.

Aku melihatnya dan untuk pertama kalinya sore itu, amarahku terhadap perempuan itu terasa berkurang.

Ia bersalah karena memilih menjalin hubungan dengan laki-laki beristri.

Tapi aku mulai memahami sesuatu.

Ia juga hidup di dalam kebohongan Raka.

“Kak Nadira…”

Suaranya gemetar.

Aku menoleh.

“Mas Raka bilang dia pemilik perusahaan. Dia bilang setelah bercerai, apartemen ini akan diberikan kepada saya.”

Aku tidak menjawab.

Silvi menatap Raka.

“Benar, kan?”

Raka memalingkan wajah.

Dan di situlah kejutan terakhir muncul.

Silvi berdiri perlahan.

“Kalau begitu jelaskan satu hal.”

Raka menghela napas kesal.

“Apa lagi?”

Silvi mengambil ponselnya, membuka sebuah foto, lalu menunjukkannya kepada Raka.

“Aku tadi pagi menerima ini.”

Raka melihat layar.

Wajahnya berubah jauh lebih pucat daripada sebelumnya.

Aku ikut melihat.

Foto hasil pemeriksaan laboratorium.

Di bagian bawah tercetak satu kesimpulan yang sangat jelas.

Silvi menatap Raka sambil menangis.

“Dokter bilang berdasarkan hasil pemeriksaanmu yang kamu berikan kepadaku untuk program kehamilan enam bulan lalu, kemungkinan kamu menjadi ayah biologis hampir tidak ada tanpa prosedur medis khusus.”

Ruangan itu seperti kehilangan udara.

Raka membuka mulut.

Tidak ada suara.

Silvi melanjutkan.

“Jadi kemarin aku melakukan tes lain.”

Tangannya perlahan terlepas dari perut.

“Aku memang hamil.”

Raka menelan ludah.

“Tapi…”

Silvi menatapnya lurus.

“Anak ini bukan anakmu.”

Aku bahkan tidak tahu harus merasa terkejut atau tertawa pada ironi yang begitu sempurna.

Laki-laki yang selama setahun lebih mengkhianatiku ternyata sedang berdiri di tengah pengkhianatannya sendiri.

Raka menatap Silvi seolah baru pertama kali melihatnya.

“Kamu selingkuh?”

Silvi tersenyum getir di balik air mata.

“Lucu sekali mendengar pertanyaan itu dari kamu.”

Aku mengambil mapku.

Untuk pertama kalinya, aku benar-benar merasa pekerjaanku selesai.

Aku berjalan menuju pintu.

Raka memanggil namaku.

“Nadira.”

Aku berhenti, tapi tidak berbalik.

“Jadi kamu benar-benar akan pergi?”

Pertanyaan itu hampir membuatku sedih.

Bukan karena aku masih ingin bertahan.

Tapi karena setelah sebelas tahun pernikahan, ia masih mengira keputusan terbesarku selalu tentang dirinya.

Aku menoleh.

“Raka, aku sudah pergi sejak malam aku tahu kamu berbohong.”

Aku mengangkat map cokelat di tanganku.

“Hari ini aku hanya datang untuk mengambil tanda tanganmu.”

Aku meninggalkan apartemen itu bersama Pak Surya dan Bu Maya.

Di belakangku, aku mendengar Raka dan Silvi mulai bertengkar.

Suara mereka semakin keras sebelum pintu lift tertutup.

Aku tidak tahu apakah mereka akhirnya tetap bersama.

Aku juga tidak pernah mencari tahu.

Tiga bulan kemudian, perceraianku selesai.

Raka diberhentikan dari jabatan direktur setelah audit menemukan beberapa pelanggaran lain yang bahkan tidak kuketahui sebelumnya. Sebagian dana dikembalikan melalui penjualan aset pribadinya, dan sisanya diproses sesuai kesepakatan hukum perusahaan.

Aku mengambil posisi sebagai komisaris aktif, bukan direktur.

Aku tidak ingin hidupku berubah menjadi perjuangan untuk membuktikan bahwa aku lebih hebat darinya.

Aku hanya ingin memastikan tidak ada lagi seseorang yang bisa menggunakan kepercayaanku sebagai izin untuk mengkhianatiku.

Suatu sore, hampir setahun setelah kejadian itu, aku duduk sendirian di sebuah kedai kopi di Jakarta Selatan ketika sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak kusimpan.

Dari Silvi.

Pesannya hanya satu kalimat.

Terima kasih karena hari itu Kak Nadira tidak menghancurkan saya.

Aku membaca kalimat itu dua kali.

Kemudian membalas.

Aku tidak menyelamatkanmu. Aku hanya berhenti membiarkan diriku sendiri dihancurkan.

Setelah itu aku memblokir nomornya.

Di luar jendela, hujan mulai turun.

Aku memperhatikan orang-orang berlari mencari tempat berteduh.

Dulu aku selalu percaya kehilangan seorang suami berarti kehilangan rumah.

Ternyata aku salah.

Rumah bukan seseorang yang membuatmu terus bertanya apakah dirimu cukup berharga untuk dicintai.

Rumah adalah tempat di mana kau tidak perlu mengecilkan diri agar orang lain merasa besar.

Dan sore itu, sambil melihat bayanganku sendiri di kaca jendela, aku akhirnya mengerti sesuatu.

Aku tidak memenangkan pertarungan melawan perempuan lain.

Aku bahkan tidak memenangkan pertarungan melawan Raka.

Aku memenangkan sesuatu yang jauh lebih penting.

Aku mendapatkan kembali perempuan yang bertahun-tahun sebelumnya kutinggalkan demi menjadi istri yang “baik”.

Diriku sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang