Ibu mertuaku sengaja menuduhku mencuri uang lima puluh juta rupiah di depan seluruh keluarga besar.

Aku menatap perempuan yang selama lima tahun terakhir kupanggil Ibu itu.

Tangisnya terdengar begitu meyakinkan.

Bahu yang bergetar.

Mata yang memerah.

Suara yang pecah.

Kalau aku tidak mengenalnya, mungkin aku pun akan percaya bahwa ia benar-benar seorang ibu yang baru saja dikhianati menantunya.

Namun aku mengenal Bu Ratih.

Aku mengenal cara ia mendesah setiap kali Danu membelikan sesuatu untukku.

Aku mengenal tatapan tidak sukanya saat suamiku memujiku di depan orang lain.

Aku juga masih ingat kalimat yang pernah ia ucapkan dua bulan lalu, ketika ia mengira aku sudah tidur.

“Kalau Danu tidak menikah dengan Laras, hidupnya pasti jauh lebih maju.”

Waktu itu aku memilih diam.

Hari ini, rupanya Bu Ratih memutuskan bahwa diamku bisa ia gunakan untuk menghancurkanku.

“Kalau memang Ibu yakin saya yang mengambil,” kataku pelan, “sebaiknya kita cari bukti.”

Salah satu bibi Danu mendecakkan lidah.

“Bukti apa lagi? Kamu satu-satunya orang luar yang masuk ke ruangan itu.”

Orang luar.

Setelah lima tahun menikah, ternyata itulah posisiku.

Aku bahkan tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang mengatakannya.

Bu Mira, kakak perempuan Bu Ratih, tidak pernah menyukaiku sejak awal.

“Geledah saja tasnya,” sahut seseorang.

Aku menoleh.

Raka, adik laki-laki Danu, berdiri sambil menyilangkan tangan di dada.

Tatapannya kepadaku terlihat tidak nyaman, tetapi ia tidak membantah ide itu.

Danu akhirnya bersuara.

“Laras, buka tasmu.”

Aku menatap suamiku.

Selama beberapa detik, aku berharap ia menyadari betapa menyakitkan kalimat itu.

Namun wajahnya tetap kaku.

“Danu,” kataku, “kamu sungguh meminta istrimu sendiri membuktikan bahwa dia bukan pencuri?”

“Aku cuma mau masalah ini cepat selesai.”

“Dengan menggeledah barang-barangku?”

“Kalau memang kamu tidak mengambil, seharusnya kamu tidak perlu takut.”

Kalimat itu menghantamku lebih keras daripada tuduhan ibunya.

Bukan karena kasar.

Justru karena terdengar begitu sederhana.

Seolah rasa malu yang harus kutanggung tidak berarti apa-apa.

Aku melepaskan tas dari bahu.

Lalu menyerahkannya kepada Danu.

“Silakan.”

Danu membukanya di depan semua orang.

Dompet.

Ponsel.

Kunci mobil.

Lipstik.

Tisu.

Sebuah buku catatan kecil.

Tidak ada uang lima puluh juta.

Bu Ratih tampak kehilangan ekspresi selama sepersekian detik.

Hanya sepersekian detik.

Kemudian wajah sedih itu kembali.

“Dia pasti sudah menyembunyikannya.”

Aku hampir tersenyum.

Ternyata bahkan ketika bukti pertama tidak sesuai rencananya, ia sudah menyiapkan alasan berikutnya.

“Kamar kami juga mau diperiksa?” tanyaku.

Bu Ratih langsung menjawab, “Kalau memang tidak bersalah, kenapa tidak?”

Aku menatap Danu lagi.

Ia tidak membela.

Itu sudah cukup menjadi jawaban.

Kami semua bergerak menuju lantai dua.

Aku berjalan paling belakang.

Aneh sekali.

Rumah yang selama lima tahun kutinggali tiba-tiba terasa seperti tempat asing.

Di dinding tangga masih ada foto pernikahanku dengan Danu.

Aku mengenakan kebaya putih.

Danu tersenyum lebar.

Bu Ratih berdiri di samping kami dengan senyum yang saat itu kukira tulus.

Kini setiap langkah melewati foto itu terasa seperti mengejek kebodohanku sendiri.

Begitu sampai di kamar, Bu Mira mulai membuka laci meja.

Raka memeriksa lemari.

Danu membuka rak tempat kami menyimpan dokumen.

Aku berdiri di dekat pintu.

Aku membiarkan mereka.

Sampai Bu Ratih tiba-tiba menuju lemari pakaianku.

Tangannya bergerak terlalu cepat ke rak paling bawah.

Dan saat itulah aku semakin yakin.

Ia tahu persis apa yang ingin ia temukan.

Bu Ratih menarik sebuah kotak sepatu.

Membukanya.

Lalu terdiam.

“Astaga.”

Semua orang mendekat.

Di dalam kotak itu ada beberapa lembar uang pecahan seratus ribu yang diikat karet gelang.

Bu Mira menutup mulut.

“Laras!”

Danu menatapku tajam.

Wajahnya berubah.

“Kamu bilang tidak ambil uang?”

Aku menatap uang di dalam kotak itu.

Jumlahnya mungkin hanya tiga atau empat juta.

Namun diletakkan di kamar pribadiku, tepat di tempat yang mudah ditemukan.

Aku tidak terkejut.

Yang membuatku terkejut justru betapa cerobohnya rencana Bu Ratih.

“Bukan uang saya,” kataku.

Bu Ratih tertawa getir.

“Masih mau bohong?”

“Itu bukan uang lima puluh juta.”

“Berarti sisanya kamu simpan di tempat lain.”

Aku memandangnya.

“Menarik.”

Bu Ratih mengernyit.

“Apa?”

“Ibu bahkan tidak menghitung uang itu, tapi langsung tahu bahwa itu hanya sebagian.”

Ruangan mendadak sunyi.

Wajah Bu Ratih berubah sedikit.

Danu menoleh kepadanya.

Namun perempuan itu cepat-cepat berkata, “Ya jelas! Lima puluh juta itu banyak. Yang di situ kelihatan cuma beberapa juta.”

Aku mengangguk.

“Benar.”

Lalu aku mengambil ponsel dari tas.

“Ada satu hal lagi yang lebih menarik.”

Bu Ratih menatap tanganku.

Untuk pertama kalinya hari itu, aku melihat ketakutan yang sesungguhnya di wajahnya.

Bukan kesedihan.

Bukan kemarahan.

Ketakutan.

Danu mengerutkan kening.

“Kamu mau apa?”

Aku membuka aplikasi kamera rumah.

“Dua minggu lalu, aku memasang kamera mini di ruang sembahyang.”

Semua orang langsung ribut.

Bu Ratih berdiri.

“Untuk apa kamu pasang kamera di sana?”

Aku menatapnya.

“Karena kalung peninggalan ibu saya hilang setelah saya menyimpannya di ruang itu.”

Bu Ratih terdiam.

Aku melanjutkan.

“Saya tidak pernah menuduh siapa pun. Saya cuma ingin tahu apakah ada orang yang masuk ke sana tanpa sepengetahuan saya.”

Sebenarnya kamera itu kupasang karena aku mulai curiga ada seseorang yang masuk ke ruang sembahyang malam-malam.

Beberapa minggu terakhir, barang-barang kecil di sana sering berpindah.

Lilin diletakkan berbeda.

Laci terbuka.

Bahkan dupa yang belum kupakai berkurang.

Aku tidak pernah menyangka kamera kecil yang kubeli untuk mencari pencuri kalung justru akan menyelamatkanku hari ini.

Aku membuka rekaman pagi tadi.

Pukul delapan lewat tujuh belas menit.

Terlihat aku masuk ke ruangan membawa kain lap.

Aku membersihkan meja.

Mengganti bunga.

Menyalakan dupa.

Lalu keluar.

Tidak menyentuh brankas.

Tidak membuka laci bawah.

Tidak mengambil apa pun.

Pukul delapan lewat tiga puluh dua.

Bu Ratih masuk.

Sendirian.

Suasana ruangan langsung berubah.

Semua orang diam.

Dalam video, Bu Ratih menutup pintu.

Lalu berjongkok di depan lemari.

Tangannya menarik brankas kecil.

Ia memasukkan kode.

Membuka pintunya.

Mengambil amplop cokelat tebal.

Mengeluarkan tumpukan uang.

Kemudian memasukkannya ke dalam kantong kain hitam yang tersembunyi di balik bajunya.

Setelah itu, ia sengaja membuka beberapa laci.

Menjatuhkan amplop kosong ke lantai.

Lalu pergi.

Tidak ada yang berkata apa-apa.

Aku menghentikan video.

Suara napas Bu Ratih terdengar jelas.

Danu memandang ibunya seperti tidak mengenal perempuan itu.

“Mama?”

Bu Ratih membuka mulut.

Tidak ada suara keluar.

Bu Mira yang sejak tadi paling keras menuduhku perlahan mundur.

“Ratih… itu apa?”

Bu Ratih akhirnya bersuara.

“Bukan seperti yang kalian pikirkan.”

Aku hampir tertawa.

Kalimat klasik.

“Lalu seperti apa?” tanyaku.

Bu Ratih menatapku penuh kebencian.

“Kamu sengaja memasang kamera untuk menjebak Ibu!”

“Bagaimana saya bisa menjebak Ibu untuk mengambil uang Ibu sendiri?”

Pertanyaan itu membuat beberapa orang menunduk.

Bu Ratih menatap Danu.

“Mama cuma mau menguji dia!”

“Menguji apa?” suara Danu meninggi.

“Menguji apakah dia akan jujur!”

“Jujur tentang sesuatu yang tidak dia lakukan?”

Bu Ratih mulai panik.

“Kamu tidak mengerti! Perempuan ini sudah menguasai kamu! Sejak menikah, kamu selalu membelanya. Kamu lebih percaya istri daripada ibu sendiri!”

Danu memejamkan mata sesaat.

Lalu bertanya, “Uangnya di mana?”

Bu Ratih terdiam.

“Mama tanya uangnya di mana?”

Dengan tangan gemetar, Bu Ratih menunjuk lemari di kamarnya.

Raka langsung turun.

Beberapa menit kemudian ia kembali membawa kantong kain hitam.

Di dalamnya terdapat uang yang masih terikat rapi.

Setelah dihitung, jumlahnya tepat lima puluh juta rupiah.

Ruangan dipenuhi keheningan yang menyakitkan.

Aku menatap satu per satu orang yang tadi berani menyebutku pencuri.

Tidak ada yang sanggup menatap balik.

Namun aku belum selesai.

“Uang yang ada di kotak sepatu kamar saya juga dari Ibu, kan?”

Bu Ratih tidak menjawab.

Aku membuka rekaman lain.

Bukan dari ruang sembahyang.

Dari kamera kecil di sudut lorong lantai dua.

Bu Ratih terlihat masuk ke kamarku sekitar setengah jam sebelum keluarga besar datang.

Ia membawa sesuatu di tangannya.

Keluar dua menit kemudian tanpa membawa apa pun.

Danu membanting kotak sepatu ke atas tempat tidur.

“Mama!”

Bu Ratih akhirnya menangis sungguhan.

Tangis kali ini berbeda.

Tidak teratur.

Tidak cantik.

Tidak terkontrol.

“Kalian tidak tahu bagaimana rasanya!” teriaknya. “Sejak perempuan ini datang, Danu berubah! Rumah ini berubah! Dia mau pindah! Dia mau beli rumah sendiri! Semua karena Laras!”

Aku menatap Danu.

Jadi inilah penyebabnya.

Dua minggu sebelumnya, Danu memang mengajakku melihat sebuah rumah kecil di kawasan lain.

Ia bilang sudah waktunya kami hidup mandiri.

Aku tidak tahu ia pernah membicarakannya kepada ibunya.

“Mama pikir kalau semua orang tahu Laras pencuri, aku akan menceraikannya?” tanya Danu.

Bu Ratih menangis.

“Mama cuma tidak mau kehilangan kamu.”

Danu tertawa pendek.

Namun matanya merah.

“Dengan cara menghancurkan istri aku?”

Tidak ada jawaban.

Aku menarik napas.

Anehnya, setelah kebenaran terbuka, aku justru tidak merasa puas.

Yang kurasakan hanya lelah.

Sangat lelah.

Aku mengambil tas dari tangan Danu.

“Laras.”

Ia memanggilku.

Aku tidak menjawab.

“Laras, aku minta maaf.”

Aku menatapnya.

“Untuk apa?”

Danu terdiam.

“Karena tidak percaya sama kamu.”

“Bukan cuma itu.”

Ia mengernyit.

“Selama lima tahun, kamu membiarkan keluargamu memperlakukan aku seperti tamu yang numpang tinggal. Setiap kali ibumu merendahkan aku, kamu bilang aku harus mengerti karena dia sudah tua. Setiap kali aku mengeluh, kamu bilang jangan memperbesar masalah.”

Aku menatap foto pernikahan kami yang tergantung di dinding.

“Hari ini akhirnya aku paham. Yang membuat ibumu berani melakukan semua ini bukan karena dia terlalu kuat.”

Aku menatap Danu lagi.

“Tapi karena selama ini kamu selalu membuatnya yakin bahwa aku tidak akan pernah pergi.”

Wajah Danu memucat.

“Laras, jangan ngomong begitu.”

Aku membuka lemari.

Mengambil koper kecil.

Danu langsung mendekat.

“Kamu mau ke mana?”

“Keluar dari rumah ini.”

“Ini juga rumah kamu.”

Aku tersenyum tipis.

“Lima menit lalu, keluarga kamu menyebut aku orang luar.”

Tidak ada satu pun yang membantah.

Aku memasukkan beberapa pakaian.

Dokumen.

Laptop.

Barang-barang penting.

Danu berdiri tidak jauh dariku seperti seseorang yang baru menyadari bahwa sebuah rumah bisa runtuh tanpa suara.

Bu Ratih duduk di tepi tempat tidur.

Wajahnya kosong.

Mungkin ia baru sadar rencananya berhasil mengusirku.

Hanya saja tidak dengan cara yang ia bayangkan.

Sebelum pergi, aku berhenti di depan Bu Ratih.

“Ada satu hal yang ingin saya tanyakan.”

Ia mengangkat wajah.

“Kalung ibu saya yang hilang dua minggu lalu, Ibu tahu di mana?”

Bu Ratih langsung membeku.

Aku tidak perlu jawaban.

Aku membuka video lama.

Rekaman malam tiga belas hari sebelumnya.

Bu Ratih masuk ke ruang sembahyang.

Membuka kotak kecil milikku.

Mengambil kalung emas dengan liontin bunga melati, satu-satunya barang peninggalan almarhum ibuku.

Ia memasukkannya ke saku.

Bu Ratih menutup wajah dengan kedua tangan.

Aku tidak berkata apa-apa lagi.

Raka berlari ke kamar ibunya.

Beberapa menit kemudian ia kembali membawa kalung itu dari sebuah kotak perhiasan.

Tanganku bergetar saat menerimanya.

Bukan karena harganya.

Kalung itu mungkin tidak sampai dua juta rupiah.

Namun ibuku memakainya hampir setiap hari sebelum meninggal.

Aku menggenggamnya erat.

Lalu berjalan keluar.

Danu mengejarku sampai teras.

“Laras, kasih aku kesempatan.”

Aku memasukkan koper ke bagasi mobil.

“Kamu sudah dapat banyak kesempatan, Danu.”

“Aku akan ikut kamu. Kita pindah. Aku janji.”

Aku menatapnya lama.

Lalu berkata pelan, “Aku tidak butuh suami yang baru percaya setelah ada rekaman kamera.”

Danu terdiam.

Aku masuk ke mobil.

Namun sebelum pintu kututup, ia tiba-tiba berkata, “Kalau aku datang menemuimu besok?”

Aku menatapnya.

“Kamu boleh datang.”

Wajahnya sedikit berubah, seolah masih ada harapan.

“Tapi bukan sebagai suamiku yang ingin membawa aku pulang.”

Aku menahan napas sesaat.

“Datang sebagai orang yang siap menjelaskan kenapa selama lima tahun kamu membiarkan aku sendirian di dalam pernikahan kita.”

Aku pergi malam itu.

Tiga minggu kemudian, Danu pindah dari rumah keluarganya.

Ia menyewa apartemen kecil dekat kantornya.

Bu Ratih meminta maaf kepadaku melalui pesan berkali-kali.

Aku tidak langsung menjawab.

Beberapa luka membutuhkan waktu sebelum kata maaf terdengar seperti sesuatu yang bermakna.

Keluarga besar Wiratama juga berubah.

Bu Mira datang menemuiku dan meminta maaf sambil menangis.

Raka mengakui bahwa sejak awal ia merasa ada yang aneh, tetapi terlalu takut melawan ibunya sendiri.

Aku tidak marah kepada mereka.

Namun aku juga tidak lagi merasa berkewajiban membuat mereka nyaman.

Aku menyewa sebuah rumah kecil dengan halaman depan yang cukup untuk dua pot tanaman.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku bisa bangun pagi tanpa takut mendengar seseorang memanggil namaku untuk mengerjakan sesuatu.

Danu datang beberapa kali.

Kami berbicara.

Bukan sebagai pasangan yang pura-pura semuanya baik-baik saja.

Melainkan sebagai dua orang yang akhirnya berani mengakui bahwa cinta saja tidak cukup jika tidak disertai keberanian untuk berdiri di sisi orang yang dicintai.

Enam bulan kemudian, aku belum kembali kepadanya.

Kami belum bercerai.

Kami juga belum benar-benar berdamai.

Danu mulai mengikuti konseling keluarga.

Bu Ratih tinggal sendiri di rumah besar itu bersama seorang asisten rumah tangga.

Dan kamera mini di ruang sembahyang sudah lama kulepas.

Namun ada satu benda yang masih kusimpan.

Bukan rekamannya.

Bukan uangnya.

Bukan pula amplop cokelat yang menjadi awal seluruh kekacauan.

Aku menyimpan saputangan Bu Ratih yang tertinggal di kamar kami hari itu.

Di sudutnya terdapat bordiran kecil berbentuk bunga melati.

Motif yang sama dengan liontin kalung peninggalan ibuku.

Beberapa minggu setelah kejadian, aku baru mengetahui sesuatu dari penjahit langganan keluarga.

Saputangan itu dibuat khusus oleh Bu Ratih tiga tahun sebelumnya.

Terinspirasi dari kalung milikku yang sejak lama ia kagumi.

Saat mengetahui itu, aku akhirnya memahami satu hal yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.

Bu Ratih mungkin tidak membenciku karena aku perempuan buruk.

Ia membenciku karena setiap kali melihatku, ia melihat sesuatu yang tidak bisa ia miliki.

Kedekatan dengan anaknya.

Keberanian untuk memulai hidup baru.

Dan kasih sayang yang tidak lahir dari rasa takut.

Hari itu aku belajar bahwa tidak semua orang yang mencoba menjatuhkan kita melakukannya karena kita lemah.

Kadang mereka melakukannya justru karena takut melihat kita cukup kuat untuk pergi.

Dan pada akhirnya, lima puluh juta rupiah itu memang kembali ke tempat semula.

Tetapi kepercayaanku tidak.

Karena uang yang hilang bisa ditemukan.

Sementara harga diri yang sudah diinjak di depan seluruh keluarga hanya bisa diselamatkan oleh satu orang.

Diri kita sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang