DI TENGAH PESTA PERTUNANGANNYA, SANG PUTRI TERSENYUM DI SAMPING CALON SUAMINYA…

Polisi memasuki halaman Vila Asri Wijaya tanpa menyalakan sirene lagi. Musik telah berhenti. Puluhan tamu berdiri membeku di bawah cahaya lampu taman, sementara Nadia tetap berada beberapa langkah dari Reno, pria yang sampai satu jam lalu masih dia yakini akan menjadi suaminya dua bulan lagi.

Seorang perwira berpakaian sipil menghampiri Bambang dan memperkenalkan diri sebagai Komisaris Arif Pranata dari kepolisian Bandung.

Reno langsung menyela.

“Pak, ini salah paham. Saya tamu di rumah ini. Saya tidak tahu laporan apa yang dibuat keluarga calon istri saya, tapi saya ingin pengacara saya hadir sebelum ada pemeriksaan.”

Nada suaranya kembali tenang.

Terlalu tenang.

Arif menatapnya beberapa detik.

“Tidak ada yang melarang Anda menghubungi pengacara.”

Reno merogoh sakunya.

Ponselnya tidak ada.

Wajahnya berubah.

Dia menoleh ke meja tempat beberapa menit sebelumnya meletakkan telepon.

Kosong.

Nadia juga melihatnya.

“Cari ponsel saya,” kata Reno tajam kepada salah satu pria yang tadi berdiri di dekat gerbang.

Pria itu baru bergerak satu langkah ketika dua petugas menghentikannya.

Arif kemudian menoleh kepada kepala keamanan vila.

“Pak Dedi?”

Dedi mengangguk lalu menyerahkan sebuah kantong transparan.

Di dalamnya terdapat ponsel hitam milik Reno.

“Kami menemukannya di kolam belakang,” ujar Dedi. “Seseorang melemparkannya dari balkon lantai dua sekitar tiga menit sebelum polisi masuk. CCTV merekam semuanya.”

Reno terdiam.

Bambang menatap calon menantunya tanpa ekspresi.

“Kamu tadi ada di panggung,” katanya.

“Saya tidak pernah ke balkon.”

“Benar,” jawab Dedi. “Yang melempar bukan Bapak.”

Semua mata beralih kepada dua pria asing di dekat gerbang.

Salah satu dari mereka mulai berkeringat.

Reno menatapnya tajam.

Hanya sesaat.

Namun Arif menangkap tatapan itu.

“Periksa keduanya.”

Di saku jaket pria pertama ditemukan kartu akses elektronik, sarung tangan tipis, dan sebuah flashdisk. Pada pria kedua, polisi menemukan dua ponsel serta kunci kecil yang kemudian diketahui cocok dengan salah satu lemari arsip di ruang kerja Bambang.

Suasana pesta berubah sepenuhnya.

Beberapa tamu meminta izin pulang, tetapi polisi meminta mereka menunggu sampai pemeriksaan awal selesai.

Nadia berdiri diam.

Tangannya dingin.

Dia seharusnya merasa lega.

Namun justru ada perasaan lain yang muncul.

Takut.

Karena semakin banyak bukti ditemukan, semakin jelas bahwa pria yang selama hampir dua tahun tidur di sampingnya, makan bersama keluarganya, dan berbicara tentang anak serta masa depan dengannya adalah seseorang yang sama sekali tidak dia kenal.

Arif meminta Nadia menjelaskan tentang folder NWStrategi30.

Nadia menceritakan semuanya.

Laptop.

Daftar aset.

Rekening luar negeri.

Rencana tiga puluh hari setelah pernikahan.

Ketika Nadia selesai, Reno tertawa pendek.

“Folder itu tidak membuktikan apa pun.”

Nadia menatapnya.

“Jadi kamu mengakui folder itu ada?”

Kesunyian kembali menyelimuti taman.

Reno menyadari kesalahannya.

Bambang memejamkan mata sesaat.

Tiga puluh dua tahun sebagai hakim membuatnya mengenal momen ketika seseorang mengatakan satu kalimat terlalu banyak.

Arif meminta dua petugas mengamankan laptop dan seluruh perangkat elektronik Reno yang berada di vila.

Namun Reno mendadak tersenyum.

“Kalian tidak akan menemukan apa pun.”

Nadia merasakan tengkuknya merinding.

Itu bukan ucapan orang yang yakin dirinya tidak bersalah.

Itu ucapan orang yang yakin bukti telah dihilangkan.

Pemeriksaan awal berlangsung sampai hampir pukul dua dini hari.

Sebagian besar tamu akhirnya dipersilakan pulang setelah memberikan identitas dan keterangan singkat.

Reno serta kedua pria yang bersamanya dibawa untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Sebelum masuk ke mobil polisi, Reno berhenti di depan Nadia.

Untuk pertama kalinya malam itu, tidak ada lagi senyum sopan di wajahnya.

“Seharusnya kamu tidak membuka laptop itu.”

Nadia menatapnya tanpa berkedip.

“Seharusnya kamu tidak merencanakan hidupku seperti sebuah transaksi.”

Reno mendekat sedikit sebelum petugas menarik lengannya.

“Kamu pikir ini tentang uang?”

Nadia terdiam.

Reno tersenyum tipis.

“Kalau cuma uang, semuanya jauh lebih sederhana.”

Pintu mobil ditutup.

Kalimat itu menghantui Nadia sepanjang malam.

Keesokan paginya, tim digital forensik mulai memeriksa perangkat yang disita.

Sebagian besar data di laptop Reno memang telah dihapus dari jarak jauh sekitar tujuh menit sebelum polisi memasuki vila.

Namun Reno membuat satu kesalahan.

Dia tidak mengetahui bahwa sistem keamanan Vila Asri Wijaya melakukan pencadangan otomatis terhadap perangkat yang terhubung ke jaringan internal.

Dedi menemukan salinan lalu lintas data laptop tersebut.

Dua hari kemudian, Arif datang menemui Bambang dan Nadia.

Dia membawa sebuah laptop.

“Ada sesuatu yang perlu kalian lihat.”

Di layar terdapat daftar folder.

NWStrategi30.

Kemudian folder lain.

ASRencana45.

DMProyek60.

KLFinal.

RSExit.

Nadia menghitungnya.

Ada sebelas folder.

Semua menggunakan inisial perempuan.

“Siapa mereka?” tanyanya.

Arif membuka folder pertama selain milik Nadia.

Muncul foto seorang perempuan berusia sekitar lima puluh tahun.

Namanya Amelia Santoso.

Pengusaha tekstil asal Surabaya.

Meninggal empat tahun lalu akibat kecelakaan mobil.

Folder berikutnya milik Diana Mahendra, pemilik jaringan klinik kecantikan di Jakarta.

Meninggal tiga tahun lalu.

Serangan jantung.

Folder ketiga milik Kartika Lim.

Hilang saat melakukan perjalanan ke Singapura dua tahun lalu.

Belum ditemukan.

Nadia menutup mulutnya.

Bambang menatap layar tanpa bergerak.

“Semua perempuan ini memiliki hubungan dengan Reno?”

“Tidak selalu menggunakan nama Reno Kusuma,” jawab Arif.

Dia membuka beberapa dokumen identitas.

Reno Kusuma.

Rendra Kurniawan.

Adrian Wijaya.

Reza Mahardika.

Foto wajahnya sama.

Nama dan riwayat hidupnya berbeda.

“Setidaknya selama dua belas tahun,” lanjut Arif, “dia diduga mendekati perempuan mapan yang memiliki akses terhadap aset keluarga besar. Polanya hampir sama. Hubungan romantis, keterlibatan dalam pengelolaan keuangan, surat kuasa, kemudian pemindahan aset.”

“Dan setelah itu?” suara Nadia bergetar.

Arif tidak langsung menjawab.

“Itu yang sedang kami selidiki.”

Nadia teringat kalimat Reno.

Kalau cuma uang, semuanya jauh lebih sederhana.

Untuk pertama kalinya dia memahami maksudnya.

Tiga hari kemudian, polisi menemukan sesuatu yang jauh lebih mengerikan.

Flashdisk dari salah satu kaki tangan Reno ternyata berisi rekaman suara.

Dalam salah satu rekaman, terdengar suara Reno berbicara dengan seseorang.

“Setelah surat kuasa aktif, buat kondisinya terlihat alami.”

Suara lain bertanya, “Seperti yang di Surabaya?”

Reno menjawab, “Jangan ulang cara yang sama.”

Nadia tidak sanggup mendengarkan sampai selesai.

Dia keluar dari ruangan pemeriksaan dan muntah di toilet.

Bambang menyusulnya.

Untuk beberapa saat mereka hanya berdiri dalam diam.

Kemudian Nadia berkata lirih, “Pa, kalau malam itu aku tidak melihat notifikasi di ponselnya…”

Bambang memegang bahu putrinya.

“Kamu melihatnya.”

“Tapi kalau tidak?”

“Kamu melihatnya, Nadia.”

Air mata yang sejak malam pertunangan ditahannya akhirnya jatuh.

“Aku dokter, Pa. Setiap hari aku melihat tanda-tanda kecil di tubuh pasien. Aku bisa tahu seseorang sedang mengalami komplikasi hanya dari perubahan tekanan darah atau warna kulit. Tapi aku tinggal hampir dua tahun dengan orang seperti dia dan aku tidak melihat apa-apa.”

Bambang menggeleng.

“Kamu melihatnya. Hanya saja kamu mencintainya, jadi kamu mencoba mencari penjelasan yang lebih baik.”

Nadia terisak.

“Apa itu berarti aku bodoh?”

“Tidak.”

Bambang teringat Endang.

Pria yang terlihat terlalu sempurna.

Cari tahu apa yang tidak ingin dia perlihatkan.

“Orang seperti Reno tidak mencari orang bodoh,” katanya. “Dia mencari orang baik yang terbiasa mempercayai niat baik orang lain.”

Penyelidikan kemudian meluas ke Jakarta, Surabaya, Bali, dan beberapa rekening luar negeri.

Dua mantan rekan Reno ditangkap.

Seorang akuntan memberikan kesaksian.

Seorang perempuan bernama Ratih Setiawan yang selama enam tahun dianggap meninggal di luar negeri ternyata ditemukan hidup di Yogyakarta dengan identitas berbeda.

Dia adalah pemilik folder RSExit.

Ketika diperiksa polisi, Ratih mengungkap alasan dirinya menghilang.

Enam tahun sebelumnya dia pernah bertunangan dengan Reno.

Saat menemukan rencana pengambilalihan perusahaan keluarganya, Ratih mencoba melapor.

Namun Reno mengetahui lebih dulu.

Dia mengancam akan mencelakai adiknya jika Ratih berbicara.

Dengan bantuan seorang penyidik yang kini sudah pensiun, Ratih memalsukan jejak keberangkatannya dan menghilang.

Kesaksiannya menjadi kunci.

Kasus yang awalnya tampak seperti percobaan penipuan aset berubah menjadi penyelidikan jaringan kejahatan terorganisasi.

Namun kejutan terbesar datang dua minggu kemudian.

Arif kembali ke Vila Asri Wijaya membawa sebuah amplop tua.

“Ini ditemukan di safe deposit box atas nama salah satu identitas Reno.”

Bambang membuka amplop tersebut.

Di dalamnya terdapat foto lama.

Foto itu diambil hampir tiga puluh tahun sebelumnya.

Bambang masih menjadi hakim muda.

Di sebelahnya berdiri beberapa jaksa dan penyidik.

Salah satu pria dalam foto dilingkari dengan tinta merah.

Namanya Surya Kusuma.

Bambang langsung mengenalinya.

Surya adalah terdakwa dalam perkara penggelapan dana investasi besar yang pernah dia tangani.

Dia dijatuhi hukuman penjara.

Perusahaannya bangkrut.

Beberapa tahun kemudian Surya meninggal.

Di belakang foto terdapat tulisan tangan.

Keluarga Wijaya harus menjadi yang terakhir.

Nadia membaca kalimat itu dua kali.

“Reno…”

“Anak Surya Kusuma,” kata Arif.

Bambang duduk perlahan.

Semua potongan akhirnya menyatu.

Nadia bukan dipilih secara acak.

Reno memang memburu perempuan kaya selama bertahun-tahun, tetapi keluarga Wijaya memiliki arti berbeda.

Ini bukan hanya target finansial.

Ini target terakhir.

Balas dendam.

“Jadi sejak awal dia mendekatiku karena Papa?”

Arif mengangguk.

“Sepertinya begitu.”

Nadia merasa dadanya sesak.

Semua kenangan tiba-tiba berubah makna.

Pertemuan pertama di sebuah acara amal rumah sakit.

Kopi pertama.

Liburan pertama.

Saat Reno menemani Bambang berziarah ke makam Endang.

Bahkan ketika Reno berdiri di depan makam ibunya dan berjanji akan menjaga Nadia seumur hidup.

Semuanya dirancang.

Namun beberapa bulan kemudian, ketika persidangan dimulai, sesuatu terjadi yang tidak diperkirakan siapa pun.

Reno meminta berbicara langsung kepada Nadia.

Nadia hampir menolak.

Akhirnya dia datang dengan didampingi penyidik.

Reno tampak jauh lebih kurus.

“Aku memang mendekatimu karena ayahmu,” katanya.

Nadia tidak menjawab.

“Aku ingin mengambil semuanya. Hartanya. Nama keluarganya. Hal-hal yang dia banggakan.”

“Dan aku?”

Reno terdiam cukup lama.

“Kamu seharusnya cuma jalan masuk.”

Nadia menahan napas.

“Tapi?”

Reno tertawa getir.

“Itulah kesalahan terbesar dalam rencanaku.”

Untuk pertama kalinya Nadia melihat sesuatu yang tampak seperti penyesalan di wajahnya.

“Aku benar-benar jatuh cinta padamu.”

Nadia menatap pria itu lama.

Dulu, kalimat tersebut mungkin bisa menghancurkannya.

Sekarang tidak lagi.

“Tidak,” katanya.

Reno mengangkat kepala.

“Kamu jatuh cinta pada kenyataan bahwa aku mempercayaimu.”

Nadia berdiri.

“Cinta tidak membuat seseorang menyiapkan surat kuasa di belakang pasangannya. Cinta tidak membutuhkan kebohongan selama dua tahun. Dan cinta tidak menjadikan seseorang target.”

Reno tidak mampu menjawab.

Nadia berjalan menuju pintu.

“Nadia.”

Dia berhenti tetapi tidak menoleh.

“Aku tidak pernah berniat membunuhmu.”

Nadia memejamkan mata sesaat.

Lalu dia berkata pelan, “Mungkin. Tapi kamu sudah merencanakan untuk membunuh kehidupan yang kukenal.”

Dia keluar tanpa menoleh lagi.

Setahun kemudian, taman Vila Asri Wijaya kembali dipenuhi tamu.

Namun tidak ada pesta pertunangan.

Nadia mendirikan sebuah yayasan bersama keluarga korban yang berhasil ditemukan selama penyelidikan. Yayasan itu memberikan pendampingan hukum dan psikologis kepada korban penipuan relasi serta kekerasan finansial.

Di salah satu ruangan vila, Nadia memasang foto Endang.

Bambang berdiri di sampingnya.

“Kamu tahu apa yang paling aneh?” kata Nadia.

“Apa?”

“Malam pertunanganku dulu aku pikir hidupku berakhir.”

Bambang tersenyum kecil.

“Ternyata?”

Nadia memandang taman.

“Ternyata malam itu hidupku justru kembali menjadi milikku.”

Bambang mengangguk.

Ponsel Nadia tiba-tiba bergetar.

Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.

Dia membukanya.

Hanya ada satu foto.

Foto sebuah folder di layar komputer.

Namanya BWFinal.

Bambang Wijaya.

Di bawahnya tertulis tanggal pembuatan folder.

Dua puluh tujuh tahun lalu.

Nadia membeku.

Itu lima belas tahun sebelum Reno mulai menggunakan identitas-identitas palsunya.

Dia segera menunjukkan layar kepada ayahnya.

Wajah Bambang perlahan kehilangan warna.

Karena dia mengenali komputer dalam foto tersebut.

Komputer itu pernah berada di ruang kerja Surya Kusuma.

Dan untuk pertama kalinya Bambang memahami sesuatu yang tidak pernah ditemukan polisi selama penyelidikan.

Reno bukan orang yang memulai rencana itu.

Ayahnya telah menyusunnya puluhan tahun sebelumnya.

Reno hanya meneruskannya.

Nadia menatap ayahnya.

“Pa…”

Bambang mengambil ponsel dari tangannya.

Di bawah foto terdapat satu pesan lagi yang baru masuk.

Reno Kusuma bukan orang terakhir.

Kali ini Bambang tidak menunggu.

Dia langsung menekan nomor Arif.

Sebab akhirnya dia memahami pesan Endang dengan cara yang jauh lebih mengerikan daripada yang pernah dibayangkannya.

Bahaya terbesar tidak selalu datang dari orang yang terlihat seperti musuh.

Kadang ia datang sambil tersenyum, memanggil kita keluarga, duduk di meja makan kita selama bertahun-tahun, dan menunggu sampai kita cukup percaya untuk menyerahkan kunci kehidupan kita sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang