MANTAN SUAMIKU MENELEPON UNTUK MEMAMERKAN PERNIKAHAN MEWAHNYA, TAPI 30 MENIT KEMUDIAN DIA….

Lorong NICU RS Medika Cilandak terasa lebih dingin ketika dua orang itu mendekat.

Fitri berjalan paling depan dengan map tebal berwarna hitam di tangannya. Di belakangnya, seorang penyidik bernama AKP Damar Prasetyo memperlihatkan kartu identitas kepada petugas keamanan rumah sakit sebelum menghampiri mereka.

Tatapan Damar berhenti pada Gisel.

“Saudari Gisel Hartono?”

Gisel yang sejak tadi berdiri di samping Rian langsung mundur satu langkah.

“Ada apa?”

“Kami perlu meminta keterangan Anda terkait laporan dugaan penganiayaan terhadap Ibu Maya Pertiwi.”

Wajah Gisel memucat.

“Apa? Sekarang?”

Fitri menatapnya tenang.

“Laporan dibuat tiga hari lalu, setelah kondisi Maya cukup stabil untuk memberikan keterangan.”

Rian menoleh tajam kepada Maya.

“Kamu melaporkan Gisel?”

Maya tidak menjawab pertanyaan itu.

Dia hanya menatap tangan Rian yang kini mengepal di sisi tubuhnya.

Beberapa menit sebelumnya, pria itu masih berusaha memerintahnya agar masalah tersebut tidak keluar dari ruangan.

Kini justru polisi berdiri kurang dari dua meter darinya.

Gisel mendadak menunjuk Maya.

“Dia sengaja melakukan ini! Dia mau menghancurkan pernikahan kami!”

Damar tidak terpancing.

“Rekaman CCTV sudah kami amankan. Ada dua saksi yang juga sudah memberikan keterangan.”

“Aku tidak bermaksud mencelakainya!”

“Saudari bisa menjelaskan semuanya secara resmi.”

Gisel menatap Rian, berharap pria itu membelanya.

Namun Rian justru terlihat seperti sedang berusaha memahami apa yang baru saja terjadi.

“Kenapa kamu mengikuti Maya?” tanyanya pelan.

Gisel terdiam.

“Jawab aku.”

“Aku cuma mau bicara.”

“Dengan mendorong perempuan hamil?”

“Dia mengancam masa depan kita!”

Maya mengangkat alis.

“Aku bahkan tidak tahu kamu berada di parkiran hari itu.”

Gisel kehilangan kata-kata.

Fitri membuka map di tangannya.

“Dan insiden di parkiran bukan satu-satunya alasan kami berada di sini.”

Rian menatap map itu.

Untuk pertama kalinya, kegelisahan yang muncul di wajahnya tidak berkaitan dengan Gisel.

“Apa maksudmu?”

Fitri mengeluarkan beberapa lembar dokumen.

“Ada masalah terkait pengalihan aset, dugaan pemalsuan tanda tangan, dan transaksi perusahaan yang sedang kami koordinasikan dengan pihak berwenang.”

Rian tertawa kecil.

Namun tawa itu terdengar dipaksakan.

“Jangan bercanda, Fitri. Kamu pengacara perceraian, bukan auditor.”

“Benar.”

Fitri kemudian menoleh kepada Maya.

“Tapi klien saya auditor forensik.”

Wajah Rian berubah.

Maya dapat melihat saat tepat ketika kalimat itu menghantam pikirannya.

Selama bertahun-tahun, Rian selalu menganggap pengetahuan Maya tentang keuangan perusahaan hanyalah bagian dari masa lalu.

Dia lupa bahwa Maya pernah membangun sistem pencatatan internal perusahaan dari nol.

Dia lupa bahwa hampir semua celah yang kemudian disalahgunakan keluarga Baskoro justru dikenali Maya karena pernah ikut menutup celah tersebut.

“Apa yang kamu lakukan?” tanya Rian.

Maya menatapnya.

“Aku memeriksa apa yang seharusnya sudah kuperiksa sejak lama.”

Damar meminta Gisel mengikutinya menuju ruangan administrasi untuk pemeriksaan awal.

Gisel menolak.

Dia mencengkeram lengan Rian.

“Kamu harus ikut aku.”

Rian tidak bergerak.

“Rian!”

“Pergilah dulu.”

Gisel menatap pria itu seolah tidak percaya.

“Besok kita menikah.”

Rian menutup mata sesaat.

“Pergilah dulu, Gisel.”

Tangan Gisel terlepas perlahan.

Sebelum berjalan mengikuti Damar, dia berbalik kepada Maya.

Tatapannya penuh kebencian.

“Kamu pikir kamu menang?”

Maya menjawab tanpa meninggikan suara.

“Ini bukan tentang menang.”

Gisel tersenyum sinis.

“Tentu saja tentang menang.”

Maya menatap inkubator Arka.

“Kalau aku mau menang, aku tidak akan menghabiskan tiga malam terakhir berharap anakku bisa bernapas sendiri.”

Gisel tak mampu menjawab.

Beberapa menit kemudian, dia menghilang di ujung lorong bersama penyidik.

Rian berdiri membeku.

Fitri kemudian menyerahkan satu bundel dokumen kepadanya.

“Apa ini?”

“Salinan pemberitahuan resmi.”

Rian membaca halaman pertama.

Hanya beberapa detik kemudian, wajahnya kehilangan warna.

“Audit internal?”

“Bukan hanya audit.”

Fitri menyilangkan tangan.

“Dugaan tindak pidana korporasi.”

Rian mengangkat kepala.

“Kamu tidak punya bukti.”

Maya tersenyum kecil.

“Itu juga yang kamu katakan ketika aku menanyakan rekening Mandala Pacific Consulting.”

Mata Rian langsung bergerak.

Hanya sepersekian detik.

Namun cukup.

Maya tahu dia mengenal nama itu.

Mandala Pacific Consulting adalah perusahaan yang secara administratif terdaftar sebagai konsultan pemasaran.

Kantornya sebuah ruko kecil di Tangerang.

Tidak ada karyawan tetap.

Tidak ada proyek besar.

Namun selama dua tahun terakhir, perusahaan itu menerima transfer puluhan miliar rupiah dari beberapa anak usaha Baskoro Group.

Menurut laporan resmi, pembayaran tersebut adalah biaya konsultasi.

Menurut dokumen yang Maya temukan, sebagian dana itu kemudian dipindahkan ke rekening lain di Singapura dan Hong Kong.

Pemilik manfaat akhir perusahaan tersebut tidak pernah dicantumkan dengan jelas.

Sampai Maya menemukan pola pembayaran premi asuransi yang mengarah kepada satu nama.

Surya Baskoro.

Ayah Rian.

Fitri memperhatikan ekspresi Rian.

“Masih mau mengatakan Anda tidak tahu?”

Rian melempar dokumen itu ke kursi.

“Semua perusahaan besar punya struktur seperti itu.”

“Perusahaan besar juga tidak memakai tanda tangan mantan menantunya untuk menjaminkan rumah yang bukan milik mereka,” jawab Fitri.

Rian terdiam.

Maya berjalan perlahan menuju kursi di dekat jendela.

Tubuhnya masih terasa sakit setiap kali bergerak terlalu cepat.

Bekas operasi persalinan darurat belum pulih.

Namun rasa sakit itu hampir tidak berarti dibandingkan empat bulan sebelumnya ketika dia mengetahui bahwa rumah peninggalan kedua orang tuanya tiba-tiba tercatat sebagai jaminan fasilitas kredit perusahaan.

Tanda tangannya tercantum pada dokumen persetujuan.

Padahal Maya tidak pernah menandatanganinya.

Saat pertama kali mempertanyakan hal itu, Rian hanya berkata bahwa urusan tersebut pasti kesalahan administrasi.

Dua hari kemudian, akses Maya terhadap rekening bersama mereka hilang.

Seminggu setelahnya, Rian mengajukan perceraian.

Maya mulai memahami bahwa perpisahan mereka bukan sekadar karena hadirnya Gisel.

Ada sesuatu yang jauh lebih besar.

“Kapan kamu menemukan semuanya?” tanya Rian.

“Empat bulan lalu.”

“Kenapa kamu diam?”

Maya memandangnya lama.

“Karena untuk pertama kalinya aku belajar bahwa diam tidak selalu berarti lemah.”

Rian duduk.

Kedua tangannya menutupi wajah.

“Ayahku yang mengatur keuangan grup.”

“Aku tahu.”

“Kalau memang ada kesalahan, mungkin dia yang melakukannya.”

Maya tertawa pelan.

“Menarik.”

Rian menurunkan tangan.

“Apa?”

“Selama bertahun-tahun kamu selalu bilang Baskoro Group berdiri karena keputusanmu.”

Maya menatap matanya.

“Tapi sekarang ketika ada masalah, semuanya tiba-tiba keputusan ayahmu.”

Rian tidak menjawab.

Pintu NICU terbuka.

dr. Indah memberi isyarat kepada Maya.

“Bu Maya, Arka sudah bisa dipindahkan kembali ke inkubator utama. Kondisinya stabil.”

Maya mengangguk.

Ada kelegaan singkat di wajahnya.

Rian berdiri.

“Boleh aku melihatnya?”

Maya menatapnya cukup lama.

“Dari luar.”

Rian tidak membantah.

Mereka berdiri di balik kaca.

Arka terlihat sangat kecil di antara selang dan alat pemantau.

Rian menempelkan telapak tangannya ke kaca.

Maya memperhatikannya dari belakang.

“Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu hamil?”

Maya hampir tertawa.

“Aku bilang.”

Rian menoleh.

“Tiga kali.”

“Aku tidak pernah menerima pesan.”

“Karena kamu memblokir nomorku.”

Rian terdiam.

Maya melanjutkan.

“Aku mengirim hasil pemeriksaan lewat email.”

“Aku tidak melihat.”

“Aku juga mengirimkannya ke kantor.”

Rian mengernyit.

“Aku tidak pernah mendapatkannya.”

Kalimat itu membuat Maya berhenti.

Fitri yang berdiri beberapa meter dari mereka ikut menoleh.

“Kantor?”

Maya mengangguk.

“Aku kirim lewat kurir delapan bulan lalu. Ada tanda terima.”

Rian menggeleng.

“Aku benar-benar tidak menerima apa pun.”

Untuk pertama kalinya malam itu, Maya merasa ada sesuatu yang janggal.

Dia mengenal Rian.

Pria itu arogan, manipulatif, dan sering egois.

Namun dalam urusan bisnis, dia sangat obsesif terhadap dokumen.

Surat yang ditujukan langsung kepadanya hampir mustahil tidak pernah sampai tanpa alasan.

Fitri membuka ponsel.

“Siapa yang menandatangani tanda terima?”

Maya mengingat.

“Sekretaris direktur.”

Rian langsung menatapnya.

“Lina?”

Maya mengangguk.

Wajah Rian berubah lagi.

Lina bukan sekadar sekretaris.

Dia adalah sepupu Gisel.

Keheningan menekan lorong itu.

Fitri bergerak cepat.

“Aku akan minta tim mengecek ulang semua bukti pengiriman.”

Rian tampak semakin gelisah.

“Gisel yang mengenalkan Lina ke perusahaan enam bulan lalu.”

Maya menatapnya tajam.

“Delapan bulan.”

“Apa?”

“Surat itu dikirim delapan bulan lalu.”

Rian berpikir.

Kemudian wajahnya perlahan memucat.

“Lina sudah bekerja untuk ayahku sebelum dipindahkan ke ruanganku.”

Fitri dan Maya saling pandang.

Potongan-potongan yang selama ini terasa terpisah mulai tersambung.

Beberapa jam kemudian, jawabannya muncul.

Penyidik menemukan ponsel kedua milik Gisel di dalam mobilnya.

Di dalamnya terdapat percakapan dengan Lina.

Sebagian pesan sudah dihapus, tetapi salinannya berhasil ditemukan dari perangkat cadangan yang disita di apartemen Lina.

Salah satu percakapan terjadi delapan bulan sebelumnya.

Foto hasil pemeriksaan kehamilan Maya dikirim Lina kepada Gisel.

Gisel membalas singkat.

Jangan biarkan Rian melihatnya.

Pesan berikutnya jauh lebih buruk.

Kalau bayi itu benar anak Rian, semua rencana bisa kacau.

Rian membaca salinan percakapan tersebut di ruang tunggu rumah sakit menjelang subuh.

Tangannya gemetar.

Namun ada satu nama lagi yang muncul berulang kali dalam percakapan.

Om Surya.

Ayahnya sendiri.

Surya mengetahui kehamilan Maya.

Surya juga yang memerintahkan agar Rian tidak menerima dokumen apa pun dari Maya.

Alasannya ternyata bukan sekadar karena dia menyukai Gisel sebagai calon menantu.

Ada persoalan saham.

Dalam perjanjian keluarga yang dibuat oleh mendiang kakek Rian, sebagian kepemilikan Baskoro Group akan dialihkan kepada keturunan pertama Rian setelah anak tersebut lahir dan tercatat secara hukum.

Selama bertahun-tahun, aturan itu dianggap tidak penting.

Namun ketika perusahaan mulai kekurangan likuiditas akibat penggelapan dana, kelahiran Arka menciptakan masalah besar.

Secara hukum, sebagian saham yang selama ini ingin dijadikan jaminan untuk menutup utang perusahaan tidak bisa lagi bebas dikendalikan Surya.

Arka, bayi yang bahkan belum bisa bernapas tanpa bantuan beberapa hari sebelumnya, ternyata secara tidak langsung menjadi penghalang terbesar bagi skema keluarga Baskoro.

Rian membaca dokumen itu berkali-kali.

“Ayahku tahu?”

Maya tidak menjawab.

“Dia tahu kamu hamil?”

“Iya.”

“Dan dia tidak pernah bilang kepadaku?”

“Kelihatannya begitu.”

Rian duduk dengan tubuh membungkuk.

Seluruh dunia yang selama ini dia percaya runtuh dalam semalam.

Namun Maya tidak merasa puas melihatnya.

Anehnya, yang dia rasakan justru kelelahan.

“Aku tetap salah,” kata Rian pelan.

Maya menatapnya.

“Aku memblokirmu. Aku mempercayai mereka. Aku bahkan membiarkan keluargaku mengatakan kamu hanya mengejar uang.”

Dia tertawa getir.

“Padahal mungkin kamulah satu-satunya orang yang mencoba menyelamatkan perusahaan itu.”

Maya menggeleng.

“Jangan salah paham.”

“Apa?”

“Aku tidak melakukan ini untuk menyelamatkan perusahaanmu.”

Maya menatap Arka dari balik kaca.

“Aku melakukannya supaya anakku tidak tumbuh dengan mewarisi kebohongan orang dewasa.”

Pukul delapan pagi, kabar penangkapan sementara Gisel menyebar.

Pernikahan yang seharusnya berlangsung pukul sepuluh dibatalkan.

Para tamu yang sudah tiba di hotel mewah di kawasan Senayan dipulangkan.

Bunga impor, dekorasi bernilai ratusan juta, dan ruangan resepsi yang dirancang untuk seribu orang mendadak tidak berarti apa-apa.

Namun kejutan terbesar terjadi siang harinya.

Surya Baskoro datang ke rumah sakit.

Dia tidak datang untuk menjenguk Arka.

Dia datang membawa dua pengacara.

“Semua ini bisa diselesaikan secara keluarga,” katanya kepada Maya.

Maya duduk di kursi roda.

Fitri berdiri di sampingnya.

“Berapa?”

Surya mengernyit.

“Apa?”

“Biasanya orang yang mengatakan ‘diselesaikan secara keluarga’ datang membawa angka.”

Surya menatapnya dingin.

“Lima belas miliar.”

Rian yang berdiri di belakang ayahnya tampak terkejut.

Surya melanjutkan.

“Kamu cabut laporan terhadap Gisel. Serahkan semua dokumen perusahaan. Rumah orang tuamu akan dikembalikan. Kamu juga akan menerima lima belas miliar rupiah.”

Maya tersenyum tipis.

“Murah sekali.”

Surya kehilangan kesabaran.

“Jangan bermain-main denganku.”

“Aku tidak sedang bermain.”

Maya mengeluarkan sebuah flash drive kecil dari tasnya.

“Semua data sudah ada pada penyidik, auditor independen, dan pengacaraku.”

Wajah Surya menegang.

“Kalau aku hilang hari ini, datanya tetap keluar.”

Rian menatap ayahnya.

“Ayah benar-benar tahu soal Arka?”

Surya tidak menjawab.

“Ayah tahu Maya hamil?”

“Rian, sekarang bukan waktunya membahas—”

“Jawab!”

Suara Rian menggema di lorong.

Surya menatap putranya.

Kemudian dia berkata sesuatu yang akhirnya menghancurkan sisa hubungan mereka.

“Anak itu membuat semuanya menjadi rumit.”

Rian membeku.

Maya sendiri tidak berkata apa-apa.

Dia sudah menduga jawabannya.

Yang tidak pernah dia duga adalah reaksi Rian.

Pria itu melepaskan jam tangan mahalnya, meletakkannya di kursi, lalu berjalan ke sisi Maya.

“Kalau begitu aku akan memberikan keterangan.”

Surya menatapnya.

“Keterangan apa?”

“Semua yang aku tahu tentang perusahaan.”

Wajah Surya berubah.

“Kamu tidak akan berani.”

Rian menatap ayahnya.

“Semalam aku mengetahui bahwa aku hampir kehilangan anakku karena orang-orang yang selama ini kupercaya.”

Dia menarik napas.

“Aku sudah cukup pengecut.”

Tiga bulan kemudian, penyidikan terhadap Baskoro Group masih berlangsung.

Beberapa rekening dibekukan.

Surya ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan penggelapan dan pemalsuan dokumen.

Lina ikut diperiksa karena menghilangkan sejumlah surat penting.

Gisel menjalani proses hukum terpisah atas kasus penganiayaan terhadap Maya.

Sementara Rian memilih bekerja sama dengan penyidik.

Tidak ada rekonsiliasi romantis antara dirinya dan Maya.

Tidak ada pelukan dramatis.

Tidak ada permintaan maaf yang langsung menghapus bertahun-tahun luka.

Rian hanya mulai datang ke rumah sakit setiap pagi setelah Maya mengizinkannya.

Dia belajar mencuci tangan dengan benar sebelum masuk ruang perawatan.

Belajar mengganti popok bayi prematur.

Belajar duduk diam di samping Arka tanpa membicarakan dirinya sendiri.

Suatu sore, ketika Arka akhirnya diperbolehkan pulang, Rian berdiri di parkiran rumah sakit membawa tas kecil berisi perlengkapan bayi.

Maya menghampirinya.

“Aku belum memaafkanmu,” katanya.

Rian mengangguk.

“Aku tahu.”

“Mungkin aku tidak akan pernah melupakan semuanya.”

“Aku juga tahu.”

Maya menatapnya beberapa detik.

“Tapi kalau kamu benar-benar ingin menjadi ayahnya, buktikan dengan waktu.”

Rian menunduk memandang Arka yang tertidur di dalam gendongan.

“Berapa lama?”

Maya membuka pintu mobil.

“Seumur hidup.”

Rian tersenyum kecil.

Namun sebelum Maya masuk ke mobil, Fitri menelepon.

Suara pengacaranya terdengar tergesa-gesa.

“Maya, kami baru menemukan sesuatu dari arsip lama perusahaan.”

“Apa?”

“Dokumen pendirian awal Baskoro Group.”

Maya mengernyit.

“Kenapa?”

Fitri terdiam sejenak.

“Nama pemilik modal pertamanya bukan Surya Baskoro.”

Maya berhenti.

“Lalu siapa?”

Suara Fitri terdengar lebih pelan.

“Almarhum ayahmu.”

Maya membeku.

Fitri melanjutkan.

“Tiga puluh tahun lalu, ayahmu menanamkan modal mayoritas ketika bisnis keluarga Baskoro hampir bangkrut. Ada perjanjian bahwa saham itu akan dikembalikan kepada ahli warisnya jika syarat tertentu dilanggar.”

Maya menggenggam telepon lebih erat.

“Syarat apa?”

“Pemalsuan dokumen kepemilikan.”

Maya perlahan menoleh ke arah gedung rumah sakit.

Di sana, Rian masih berdiri sambil menggendong Arka.

Selama ini semua orang mengira bayi itu adalah ahli waris yang akan mengguncang keluarga Baskoro.

Ternyata mereka salah.

Arka bukan awal dari masalah.

Dia hanya membuka pintu menuju rahasia yang jauh lebih tua.

Karena jika dokumen itu terbukti sah, bukan hanya rumah Maya yang harus dikembalikan.

Sebagian besar perusahaan yang selama puluhan tahun dibanggakan keluarga Baskoro secara hukum mungkin tidak pernah benar-benar menjadi milik mereka.

Maya menatap putranya yang tertidur tenang.

Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, dia tersenyum tanpa rasa takut.

Rian pernah meneleponnya hanya untuk memastikan Maya melihat kehidupan baru yang katanya jauh lebih megah tanpa dirinya.

Namun hidup punya cara sendiri untuk membalikkan keadaan.

Pernikahan mewah itu tidak pernah terjadi.

Keluarga yang merasa paling berkuasa mulai kehilangan segalanya.

Dan perempuan yang mereka anggap akan hancur justru berdiri paling tenang ketika seluruh kebohongan mereka runtuh satu per satu.

Maya tidak membutuhkan kemenangan.

Dia hanya membutuhkan kebenaran.

Dan ternyata, kebenaran jauh lebih mahal daripada pesta pernikahan mana pun.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang