SUAMI DENGAN TEGA MENGANIAYA DAN MENGUSIR ISTRINYA KE JALANAN DI TENGAH BADAI DEMI SELINGKUHAN.

Pukul 09.07 pagi, ruang rapat utama PT Prasetya Konstruksi berubah menjadi tempat yang terasa lebih dingin daripada ruang pemeriksaan.

Dimas duduk di ujung meja panjang dengan wajah pucat. Kemeja putihnya masih kusut karena ia bahkan tidak sempat berganti pakaian dengan benar. Di hadapannya, layar besar menampilkan daftar transaksi yang sejak beberapa menit lalu membuat seluruh direksi berhenti berbicara.

Nama Nindy muncul berulang kali.

Bukan sebagai karyawan.

Bukan sebagai vendor resmi.

Melainkan sebagai penerima manfaat dari beberapa perusahaan kecil yang selama dua tahun terakhir menerima pembayaran dengan total hampir Rp38 miliar.

“Ini tidak mungkin,” kata Dimas akhirnya.

Manajer keuangan, Arief, menatapnya dengan hati-hati.

“Pak, perusahaan-perusahaan ini semuanya terhubung pada satu alamat korespondensi.”

“Lalu?”

“Alamat sebuah apartemen di Jakarta Selatan.”

Arief mengklik dokumen berikutnya.

Nama pemilik unit muncul di layar.

Nindy Larasati.

Dimas langsung berdiri.

“Fitnah.”

Tak seorang pun menjawab.

Ia menunjuk layar dengan tangan gemetar.

“Saya bilang ini fitnah. Nindy tidak mengerti urusan perusahaan. Dia bahkan tidak pernah masuk ke kantor ini.”

Direktur operasional menghela napas.

“Itulah masalahnya, Pak Dimas. Kalau dia tidak pernah terlibat, mengapa tanda tangan persetujuan Bapak ada di hampir semua transaksi?”

Dimas membeku.

Beberapa ingatan melintas di kepalanya.

Nindy pernah membawa dokumen ke restoran dan meminta tanda tangannya.

Pernah pula menyerahkan map ketika mereka sedang berada di hotel di Bali.

Katanya hanya administrasi investasi.

Dimas tidak pernah membaca dengan teliti.

Ia terlalu sibuk menikmati perasaan bahwa seorang perempuan seperti Nindy memujanya sebagai pria paling berkuasa yang pernah ia kenal.

Pukul 09.23, ponselnya bergetar.

Pesan dari Nindy.

Mas, pulang cepat. Ada orang asing di depan rumah.

Dimas baru hendak membalas ketika pintu ruang rapat terbuka.

Dua petugas kepolisian masuk bersama seorang penyidik perempuan dan dua orang dari tim hukum eksternal perusahaan.

“Pak Dimas Prasetya?”

Dimas berdiri kaku.

“Kami membutuhkan kerja sama Bapak terkait dugaan penggelapan, pencucian uang, dan pemalsuan dokumen perusahaan.”

Suasana ruang rapat langsung berubah.

Salah seorang pemegang saham memejamkan mata.

Yang lain menjauhkan kursinya dari Dimas seperti pria itu tiba-tiba membawa penyakit menular.

Dimas merasakan tengkuknya dingin.

“Saya tidak mencuri uang perusahaan.”

Penyidik itu meletakkan sebuah map di hadapannya.

“Kalau begitu, Bapak tentu tidak keberatan menjelaskan bagaimana beberapa proyek fiktif menerima pembayaran menggunakan persetujuan digital milik Bapak.”

Dimas membuka halaman pertama.

Jantungnya seolah berhenti.

Proyek pergudangan Gresik Timur.

Proyek renovasi fasilitas logistik Sidoarjo.

Pengadaan material Surabaya Barat.

Nama-nama proyek itu terdengar familier.

Namun sebagian besar tidak pernah benar-benar dikerjakan.

Dokumen berikutnya lebih buruk.

Ada salinan percakapan antara Nindy dan seorang pria bernama Reza.

Isinya membahas pembagian uang, pembuatan perusahaan cangkang, dan cara menggunakan akses Dimas untuk melewati kontrol internal.

Kalimat terakhir membuat dada Dimas sesak.

Dimas terlalu sombong untuk mengecek. Biarkan dia merasa pintar sampai semua selesai.

Dimas membaca kalimat itu tiga kali.

“Tidak.”

Suara yang keluar dari mulutnya hampir tidak terdengar.

Sementara itu, di sebuah rumah sakit swasta di Surabaya, Maya baru selesai menjalani pemeriksaan.

Dokter menemukan memar di beberapa bagian tubuhnya, luka pada bibir, dan cedera pada tulang rusuk yang meskipun tidak patah, tetap membutuhkan pemantauan.

Pak Surya berdiri di dekat jendela.

Sejak datang menjemput Maya, pria berusia 64 tahun itu nyaris tidak mengatakan apa pun mengenai Dimas.

Ia hanya memastikan putrinya dirawat.

Namun ketika dokter pergi, Maya akhirnya bertanya.

“Ayah membatalkan semua kontrak pagi ini?”

Pak Surya menoleh.

“Kontrak yang berada di bawah kewenangan perusahaan Ayah, iya.”

“Ayah tahu perusahaan Dimas bisa jatuh karena itu.”

“Perusahaan yang sehat tidak akan jatuh hanya karena kehilangan satu mitra.”

Maya terdiam.

Pak Surya berjalan mendekat.

“Kalau hanya karena tiga kontrak dihentikan lalu semua masalah keluar bersamaan, berarti fondasinya memang sudah rapuh.”

“Ayah sudah tahu ada masalah?”

Pak Surya menarik kursi.

“Sudah curiga selama hampir delapan bulan.”

Maya menatap ayahnya.

“Kok Ayah tidak pernah bilang?”

“Karena setiap kali Ayah bicara soal Dimas, kamu selalu membelanya.”

Kalimat itu membuat Maya menunduk.

Pak Surya tidak mengucapkannya dengan nada menyalahkan.

Justru karena itulah Maya merasa lebih sakit.

“Ayah melihat biaya proyek mereka terus naik, tetapi volume pekerjaannya tidak sebanding. Beberapa vendor juga muncul tanpa rekam jejak jelas. Ayah sudah meminta tim audit internal memeriksa transaksi yang bersinggungan dengan Express Cargo.”

“Dan menemukan Nindy?”

“Belum.”

Pak Surya menggeleng.

“Nama itu baru muncul pagi ini setelah akses pemeriksaan diperluas.”

Maya memejamkan mata.

Ia teringat Nindy yang duduk di ruang makan sambil mengenakan selendang milik ibunya.

Perempuan itu terlihat begitu yakin bahwa ia telah memenangkan semuanya.

Rumah.

Dimas.

Uang.

Kehidupan Maya.

Ternyata sejak awal, mungkin Dimas pun hanya alat baginya.

Menjelang siang, polisi mendatangi rumah yang semalam menjadi tempat Maya diusir.

Nindy sudah tidak ada.

Koper kecil menghilang.

Beberapa dokumen pribadi Dimas ikut lenyap.

Perhiasan senilai hampir Rp2 miliar yang disimpan di brankas juga raib.

Hal yang paling mengejutkan, kamera keamanan menunjukkan Nindy meninggalkan rumah pada pukul 05.12 pagi.

Tidak sampai tiga jam setelah ia menyaksikan Dimas memukuli Maya.

Artinya, ketika Dimas tertidur di kamar setelah merasa berhasil mengusir istrinya, Nindy diam-diam sudah melarikan diri.

Dimas mengetahui hal itu di kantor polisi.

Untuk pertama kalinya sejak pagi, ia berhenti berteriak.

“Dia pergi?”

Penyidik mengangguk.

“Dengan sebuah mobil sewaan. Kami sedang menelusuri keberadaannya.”

“Tidak mungkin. Dia bilang mencintai saya.”

Penyidik perempuan di hadapannya menutup map perlahan.

“Pak Dimas, orang yang mencintai Bapak biasanya tidak membuat tiga perusahaan atas nama orang lain untuk memindahkan uang perusahaan Bapak.”

Dimas menunduk.

Untuk sesaat, semua kesombongan yang bertahun-tahun melekat padanya runtuh.

Namun masalahnya belum selesai.

Pukul 14.30, sebuah dokumen lain ditemukan.

Kali ini bukan transaksi.

Melainkan surat kuasa.

Tanda tangan Dimas ada di bagian bawah.

Surat tersebut memberikan kewenangan pengelolaan sementara atas beberapa rekening investasi pribadinya kepada sebuah perusahaan konsultasi.

Pemilik perusahaan itu ternyata masih terhubung dengan Reza.

Dimas mulai memahami rencana sebenarnya.

Nindy tidak pernah berniat menjadi istrinya.

Ia hanya ingin mendekati seseorang dengan akses pada perusahaan bernilai besar, kelemahan kontrol internal, dan ego yang mudah dimanipulasi.

Dimas adalah target sempurna.

Sayangnya, demi menyembunyikan hubungannya dengan Nindy, Dimas sendiri telah menghapus banyak jejak pertemuan, membayar apartemen secara tunai, menggunakan ponsel kedua, bahkan meminta bawahannya memproses dokumen tanpa pertanyaan.

Semua usaha untuk menyembunyikan perselingkuhan justru membantu Nindy menyembunyikan kejahatan.

Dua hari kemudian, berita mengenai penyelidikan PT Prasetya Konstruksi mulai tersebar.

Harga saham perusahaan mitra ikut terpengaruh.

Bank membekukan fasilitas kredit baru.

Dua proyek pemerintah menunda pencairan sampai audit selesai.

Pemegang saham mencopot Dimas dari jabatan Direktur Utama untuk sementara waktu.

Pria yang tiga hari sebelumnya berteriak bahwa Maya bukan siapa-siapa tanpa namanya kini bahkan tidak diperbolehkan memasuki kantor tanpa izin penasihat hukum.

Malam itu, dari sebuah nomor baru, Dimas menelepon Maya.

Maya hampir tidak menjawab.

Namun setelah beberapa detik, ia menekan tombol hijau.

“Aku cuma ingin bicara.”

Suara Dimas terdengar jauh berbeda.

Tidak ada bentakan.

Tidak ada nada memerintah.

“Aku tidak tahu Nindy melakukan semua itu.”

Maya menatap hujan yang turun tipis dari jendela rumah ayahnya.

“Aku tahu.”

“Aku juga sedang ditipu.”

Maya tersenyum hambar.

“Dan itu membuat apa yang kamu lakukan padaku menjadi benar?”

Dimas diam.

“Aku sedang emosi.”

“Kamu memukulku enam kali.”

“Aku menyesal.”

“Kamu mengusirku tanpa alas kaki di tengah badai.”

“Maya…”

“Kamu membiarkan perempuan lain memakai selendang terakhir dari ibuku.”

Suara Dimas tercekat.

“Aku kehilangan semuanya sekarang.”

Maya menutup mata.

Dulu kalimat seperti itu mungkin akan membuatnya merasa kasihan.

Namun sesuatu di dalam dirinya telah berubah.

“Tidak, Dimas.”

“Apa?”

“Kamu tidak kehilangan semuanya karena Nindy.”

Ia berhenti sejenak.

“Kamu kehilangan semuanya sejak kamu memutuskan bahwa cinta seseorang adalah sesuatu yang bisa kamu injak sesuka hati.”

Telepon ditutup.

Dimas tidak menelepon lagi.

Seminggu kemudian, polisi menemukan Nindy di sebuah vila sewaan di Batu.

Ia ditangkap bersama Reza.

Dari penyelidikan terungkap bahwa Nindy sudah melakukan pola serupa sebelumnya.

Ia mendekati pria-pria yang memiliki akses pada perusahaan keluarga, membangun hubungan emosional, lalu perlahan meminta bantuan administratif yang terlihat sepele.

Namun kasus Dimas adalah operasi terbesar mereka.

Ada satu kejutan terakhir.

Reza bukan kekasih Nindy.

Ia adalah kakak kandungnya.

Keduanya menjalankan jaringan penipuan keuangan yang telah berpindah-pindah kota selama hampir tujuh tahun.

Nindy memang menjalin hubungan pribadi dengan Dimas, tetapi seluruh hubungan itu sejak awal dirancang sebagai bagian dari operasi.

Bahkan pertemuan pertama mereka di sebuah acara bisnis di Jakarta bukan kebetulan.

Nindy sudah mempelajari kehidupan Dimas selama berbulan-bulan.

Ia tahu hubungannya dengan Maya sedang renggang.

Ia tahu Dimas suka dipuji.

Ia tahu pria itu memiliki kebiasaan menandatangani dokumen dengan cepat.

Dan yang paling penting, ia tahu Dimas sangat ingin membuktikan bahwa kesuksesannya tidak bergantung pada keluarga istrinya.

Kesombongan itulah yang menjadi pintu masuk.

Dalam pemeriksaan lanjutan, Dimas akhirnya mengakui kelalaiannya.

Ia memang tidak merancang skema pencucian uang tersebut, tetapi sejumlah persetujuan diberikan olehnya tanpa prosedur dan sebagian transaksi sengaja disembunyikan dari komisaris agar hubungannya dengan Nindy tidak terungkap.

Posisinya secara hukum menjadi rumit.

Sementara itu, Maya mengambil keputusan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Ia mengajukan perceraian.

Bukan karena ayahnya meminta.

Bukan karena skandal perusahaan.

Bukan pula karena Nindy.

Untuk pertama kalinya, Maya membuat keputusan hanya berdasarkan satu pertanyaan sederhana.

Apakah hidup seperti ini masih pantas diperjuangkan?

Jawabannya tidak.

Tiga bulan kemudian, Maya kembali berdiri di depan rumah mewah di Surabaya itu.

Badai sudah lama berlalu.

Langit sore cerah.

Rumah tersebut kini kosong karena secara hukum memang milik Maya sejak sebelum pernikahan.

Seorang pengacara menyerahkan kunci kepadanya.

“Bu Maya mau tinggal di sini lagi?”

Maya memandang pintu utama.

Ia teringat tubuhnya yang didorong keluar.

Ia teringat koper yang tergeletak di tengah genangan.

Ia teringat dirinya berdiri di jalanan dengan pakaian basah dan ponsel retak.

Namun anehnya, ia tidak lagi merasa takut.

“Tidak.”

Pengacara itu tampak bingung.

“Rumah ini akan saya jual.”

“Lalu dananya?”

Maya tersenyum kecil.

“Sebagian untuk membangun pusat pendampingan perempuan korban kekerasan.”

Pengacara terdiam.

“Dan sisanya?”

Maya melihat ke arah sebuah mobil tua yang baru saja berhenti di depan gerbang.

Pak Surya turun sambil membawa sesuatu di tangannya.

Selendang batik biru.

Barang itu ditemukan polisi di koper Nindy setelah penangkapan.

Pak Surya menyerahkannya kepada Maya.

“Ibumu pasti senang melihatmu hari ini.”

Maya memegang selendang itu erat.

Untuk beberapa detik, air matanya jatuh.

Namun kali ini bukan karena rasa sakit.

Ia mengenakan selendang tersebut di pundaknya, lalu menatap rumah yang pernah menjadi simbol pernikahan yang ingin ia pertahankan mati-matian.

“Ayah tahu apa yang paling aneh?”

“Apa?”

“Malam ketika Dimas mengusirku, aku pikir hidupku selesai.”

Pak Surya tersenyum tipis.

Maya berjalan menuju mobil.

“Ternyata justru malam itu hidupku dimulai lagi.”

Beberapa bulan kemudian, PT Prasetya Konstruksi tetap bertahan, tetapi dalam bentuk yang jauh berbeda.

Pemegang saham mengganti seluruh jajaran manajemen utama.

Aset-aset bermasalah dijual.

Beberapa proyek dilepas.

Nama Dimas dicopot dari gedung kantor yang dulu ia banggakan.

Kerajaan bisnisnya memang runtuh.

Namun bukan karena satu telepon Maya kepada ayahnya.

Telepon itu hanya menyalakan lampu di ruangan gelap.

Yang menghancurkan Dimas sebenarnya adalah semua keputusan yang sudah lama ia buat sendiri.

Kesombongan.

Pengkhianatan.

Kelalaian.

Dan keyakinan bahwa orang yang diam berarti tidak memiliki kekuatan.

Pada hari pusat pendampingan yang didirikan Maya resmi dibuka, sebuah papan kecil dipasang di dinding depan.

Tidak ada nama besar.

Tidak ada foto keluarga kaya.

Hanya satu kalimat sederhana.

Rumah seharusnya menjadi tempat seseorang merasa aman, bukan tempat seseorang belajar takut.

Maya berdiri cukup lama membaca kalimat itu.

Lalu seorang staf menghampirinya.

“Bu, ada telepon untuk Ibu.”

“Dari siapa?”

“Seorang perempuan. Katanya dia baru saja diusir suaminya dari rumah malam tadi.”

Maya terdiam.

Di luar jendela, hujan mulai turun.

Persis seperti malam ketika hidupnya sendiri berubah.

Ia menerima telepon itu.

“Halo?”

Dari seberang terdengar isakan pelan.

Maya menggenggam ponselnya erat.

Kemudian, dengan suara yang dulu sangat ia butuhkan pada malam paling gelap dalam hidupnya, ia berkata,

“Kirim lokasi kamu sekarang.”

“Kami akan menjemputmu.”

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang