IBU MERTUAKU MENYIRAMKU DENGAN SUP PANAS, DAN SUAMIKU MALAH MENGANIAYAKU!

Maya tidak langsung menangis ketika polisi membawa Aris dan Sundari keluar dari apartemennya.

Dia justru berdiri di ambang pintu dengan tubuh gemetar, memandangi punggung dua orang yang selama beberapa hari terakhir dia panggil keluarga.

Pipinya masih terasa panas akibat tamparan Aris. Kakinya memerah dan mulai melepuh. Namun rasa sakit itu terasa kecil dibandingkan satu kalimat yang terus berputar di kepalanya.

Paksa dia tanda tangan hari ini juga.

Maya menutup pintu perlahan setelah lorong apartemen kembali sepi.

Untuk pertama kalinya sejak menikah, rumah itu terasa benar-benar sunyi.

Bukan sunyi yang menenangkan.

Melainkan sunyi yang membuat pikirannya bekerja lebih cepat.

Petugas sebelumnya menyarankan Maya segera memeriksakan luka ke rumah sakit dan menyerahkan semua bukti yang dia miliki. Salah seorang petugas juga meminta agar Maya tidak menghapus pesan apa pun yang berkaitan dengan kemungkinan penipuan.

Maya memotret kondisi kakinya, pecahan mangkuk di lantai, noda kuah di ruang makan, dan bekas kemerahan di lengannya.

Kemudian pandangannya jatuh pada serpihan kertas aturan yang tadi dia robek.

Sesuatu membuat Maya berhenti.

Dia berjongkok perlahan meski kakinya sakit.

Lalu mulai mengumpulkan potongan kertas itu satu per satu.

Saat menyusunnya kembali di atas meja, Maya baru memperhatikan bagian paling bawah yang sebelumnya tidak terlalu dia baca.

Ada satu kalimat pendek.

“Seluruh keputusan aset keluarga setelah menikah akan dikelola oleh kepala keluarga.”

Maya menatap kalimat itu cukup lama.

Kepala keluarga.

Tentu saja yang dimaksud adalah Aris.

Ponselnya tiba-tiba bergetar.

Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.

“Bu Maya Restu?”

Maya tidak langsung membalas.

Beberapa detik kemudian muncul pesan kedua.

“Nama saya Rina. Tolong jangan percaya apa pun yang dikatakan Aris. Saya pernah hampir menikah dengannya.”

Jantung Maya berdetak lebih cepat.

Dia membaca pesan itu dua kali.

Lalu mengetik singkat.

“Siapa Anda?”

Balasan datang hampir seketika.

“Korban sebelum Anda.”

Maya membeku.

Malam itu, setelah mendapat perawatan di rumah sakit dan membuat laporan tambahan, Maya setuju bertemu Rina di sebuah kedai kopi kecil di kawasan Blok M.

Perempuan yang datang menemuinya berusia sekitar tiga puluh tahun. Rambutnya pendek sebahu, wajahnya lelah, tetapi tatapannya tegas.

Rina duduk di hadapan Maya tanpa banyak basa-basi.

“Dia juga bilang apartemenmu nanti akan menjadi milik bersama setelah menikah?”

Maya menatapnya tajam.

“Kamu tahu soal apartemen saya?”

Rina menggeleng.

“Tidak. Tapi pola Aris selalu sama.”

Dia mengeluarkan ponsel.

Di dalamnya ada tangkapan layar percakapan lama.

Nama pengirimnya jelas.

Aris.

Dalam pesan-pesan itu, Aris memanggil Rina dengan kata-kata manis, membicarakan masa depan, rumah bersama, investasi, bahkan rencana pernikahan.

Namun beberapa bulan setelah hubungan mereka serius, Aris mulai menanyakan sertifikat rumah milik Rina di Depok.

“Dia bilang ingin membantu mengurus refinancing,” kata Rina. “Katanya supaya kami punya modal setelah menikah.”

“Lalu?”

“Saya bodoh. Saya percaya.”

Rina menarik napas panjang.

“Saya hampir menandatangani surat kuasa.”

Maya merasakan tengkuknya dingin.

“Hampir?”

“Notaris saya curiga.”

Rina tersenyum pahit.

“Dia kenal keluarga saya. Dia menelepon ayah saya dan bilang surat itu terlalu luas. Kalau saya tanda tangan, Aris bisa mengurus pengalihan, menjaminkan, bahkan mengikatkan transaksi tertentu tanpa saya pahami.”

Maya memegang cangkirnya erat-erat.

“Kenapa polisi tidak menangkapnya waktu itu?”

“Karena belum ada transaksi.”

Rina menunduk.

“Dan saya malu. Saya cuma memutuskan hubungan, mengganti semua akses rekening, lalu pergi.”

“Bagaimana Anda tahu tentang saya?”

Rina mengangkat ponselnya.

“Dua minggu lalu Aris mengunggah foto pernikahan kalian. Salah satu teman saya mengirimkannya.”

Maya terdiam.

“Kenapa baru menghubungi sekarang?”

Rina menatap luka di pipi Maya.

“Karena tadi pagi seorang teman lama mengirim foto Aris dibawa polisi dari apartemenmu. Saya tahu sesuatu akhirnya terjadi.”

Maya merasakan kemarahan naik perlahan.

Bukan hanya kepada Aris.

Namun juga kepada dirinya sendiri.

Selama ini dia selalu menganggap pertanyaan Aris soal aset hanyalah rasa ingin tahu calon suami.

Ketika Aris menyarankan rekening bersama, Maya menganggapnya bentuk keterbukaan.

Ketika Aris menanyakan isi brankas, dia mengira pria itu hanya bercanda.

Sekarang semua percakapan itu terlihat berbeda.

“Apakah ibunya terlibat waktu dengan Anda?” tanya Maya.

Rina mengangguk.

“Ibu Sundari yang paling agresif.”

Maya menahan napas.

“Dia pernah bilang perempuan yang menikah dengan Aris harus tahu cara membawa aset ke keluarga.”

Maya menatap meja.

Ternyata dirinya bukan target pertama.

Keesokan paginya, Maya mendatangi kantor polisi bersama pengacaranya, Dimas Prabowo, teman kuliahnya yang sekarang menangani perkara perdata dan pidana.

Dimas membaca semua tangkapan layar dari Rina.

Wajahnya semakin serius.

“Kalau ada korban lain, ini bisa berkembang menjadi pola penipuan.”

“Korban lain?”

Dimas menunjuk beberapa pesan.

“Orang seperti ini biasanya tidak berhenti di satu percobaan.”

Maya menelan ludah.

Penyelidikan kemudian bergerak lebih cepat daripada yang dia bayangkan.

Polisi memperoleh izin memeriksa perangkat Aris.

Di dalam laptopnya ditemukan sebuah folder yang namanya terdengar biasa.

Dokumen Keluarga.

Namun isinya jauh dari biasa.

Ada salinan dokumen Maya.

Foto sertifikat apartemen.

Slip gaji Maya.

Nomor rekening.

Bahkan tangkapan layar percakapan Maya dengan agen properti tiga tahun sebelumnya.

Maya menatap layar komputer di ruang pemeriksaan.

“Bagaimana dia mendapatkan semua ini?”

Petugas menggeser beberapa file.

Sebagian besar dibuat sebelum pernikahan.

Bahkan sebelum Aris resmi melamar.

Maya merasakan perutnya seperti ditarik ke bawah.

Artinya Aris sudah meneliti keuangannya jauh sebelum berbicara tentang pernikahan.

Tetapi temuan paling mengejutkan muncul sore itu.

Dalam folder yang sama terdapat subfolder berisi nama-nama perempuan.

Rina Larasati.

Nadia Putri.

Melani Hartono.

Siska Wulandari.

Dan Maya Restu.

Lima nama.

Dimas yang berdiri di samping Maya tidak berkata apa-apa selama beberapa detik.

Maya menunjuk layar.

“Siapa mereka?”

Petugas menjawab hati-hati.

“Kami sedang menghubungi mereka.”

Dalam empat hari berikutnya, tiga perempuan datang memberikan keterangan.

Cerita mereka hampir sama.

Aris muncul sebagai pria sopan dan mapan.

Dia mengaku bekerja sebagai konsultan investasi independen.

Dia pandai mendengarkan.

Mengerti cara berbicara dengan keluarga.

Tidak pernah meminta uang di awal hubungan.

Justru itulah yang membuatnya dipercaya.

Setelah hubungan serius, barulah pertanyaan tentang aset dimulai.

Rumah.

Tanah warisan.

Tabungan.

Usaha keluarga.

Salah satu perempuan pernah menyerahkan dua ratus juta rupiah kepada Aris untuk investasi sebelum akhirnya pria itu menghilang selama tiga minggu.

Perempuan lain hampir menjaminkan rumah ibunya.

Dan semuanya pernah bertemu Sundari.

Maya duduk kaku ketika polisi menunjukkan satu rekaman percakapan suara yang ditemukan dari ponsel lama Aris.

Suara Sundari terdengar jelas.

“Yang ini punya apartemen sendiri. Orang tuanya juga bukan orang susah.”

Kemudian suara Aris menjawab.

“Tapi dia hati-hati.”

Sundari tertawa pelan.

“Makanya nikahi dulu.”

Maya menutup mulutnya.

Rekaman itu dibuat hampir dua bulan sebelum Aris melamarnya.

Matanya panas.

Bukan karena masih mencintai Aris.

Justru karena dia baru sadar betapa terencana semuanya.

Cincin.

Lamaran.

Makan malam bersama keluarga.

Ucapan tentang membangun masa depan.

Bahkan tangis Aris saat akad nikah.

Semuanya mungkin hanya bagian dari strategi.

Namun masih ada satu pertanyaan besar.

Mengapa mereka terburu-buru pada hari keempat pernikahan?

Jawabannya muncul ketika polisi memeriksa transaksi keuangan Sundari.

Perempuan itu ternyata memiliki utang besar.

Bukan puluhan juta.

Lebih dari tiga miliar rupiah.

Utang itu berasal dari bisnis katering yang gagal, pinjaman pribadi, dan beberapa transaksi investasi berisiko.

Sebagian bahkan sudah memasuki tahap penagihan.

Aris pun tidak jauh berbeda.

Gaya hidupnya ternyata dibangun di atas utang kartu kredit dan pinjaman daring.

Jam mahal yang sering dia pakai adalah barang cicilan.

Mobil yang dikatakannya milik sendiri ternyata sewaan jangka panjang.

Bahkan kantornya hanyalah ruang kerja bersama yang dia sewa beberapa kali setiap bulan untuk menemui klien.

Maya tertawa pelan ketika membaca laporan itu.

Tawa yang pahit.

Selama ini Sundari selalu berbicara seolah keluarganya berada di atas Maya.

“Keluarga terhormat,” gumam Maya.

Dimas menatapnya.

“Kamu tidak apa-apa?”

Maya menggeleng.

“Saya cuma baru sadar. Mereka hidup dari citra.”

Beberapa minggu setelah kejadian, proses hukum berjalan.

Aris terus menyangkal.

Dia menyebut seluruh file sebagai “perencanaan keluarga”.

Dia mengklaim informasi keuangan Maya diperoleh karena Maya sendiri pernah membagikannya.

Dia juga mengatakan pesan ibunya hanya salah paham.

Namun satu per satu bukti meruntuhkan cerita itu.

Yang paling menghancurkan justru datang dari orang yang tidak diduga.

Sundari.

Perempuan itu akhirnya berbalik melawan anaknya sendiri.

Bukan karena menyesal.

Melainkan karena takut menanggung semuanya sendirian.

Dalam pemeriksaan lanjutan, Sundari mengaku bahwa Aris sudah melakukan pola pendekatan serupa kepada beberapa perempuan selama hampir empat tahun.

Namun menurut Sundari, ide awalnya berasal dari Aris.

“Dia yang bilang perempuan beraset lebih aman daripada bisnis,” katanya.

Aris yang mendengar kesaksian itu langsung marah.

“Ibu juga ikut!”

Sundari menatapnya dingin.

“Kamu yang memulai!”

Maya menyaksikan perdebatan mereka dari balik kaca ruang pemeriksaan.

Aneh sekali.

Dua orang yang empat hari sebelumnya kompak merendahkannya kini saling melempar kesalahan.

Maya tidak merasa puas.

Dia justru merasa kosong.

Satu bulan kemudian, dia mengajukan pembatalan perkawinan melalui jalur hukum dengan pendampingan pengacara.

Prosesnya tidak sederhana.

Namun Maya sudah tidak ragu.

Aris beberapa kali mencoba menghubunginya dari nomor berbeda.

Pertama memohon.

Kemudian mengancam.

Lalu memohon lagi.

Pada satu pesan, Aris menulis panjang.

“Aku sebenarnya mencintaimu. Awalnya mungkin memang salah, tapi setelah menikah aku sungguh ingin berubah.”

Maya membaca pesan itu tanpa ekspresi.

Kemudian membalas satu kalimat.

“Orang yang mencintai tidak menyusun nilai aset pasangannya sebelum melamar.”

Setelah itu Maya memblokir nomor tersebut.

Enam bulan berlalu.

Luka bakar di kakinya meninggalkan bekas tipis.

Tidak terlalu terlihat.

Namun Maya tidak pernah berusaha menutupinya.

Suatu sore, dia kembali ke apartemen setelah pulang dari kantor.

Ruang makan sudah direnovasi.

Meja yang dulu menjadi tempat Sundari melemparkan daftar aturan telah diganti.

Kode pintu juga sudah berubah.

Maya berdiri di dekat jendela ketika ponselnya bergetar.

Pesan dari Rina.

“Ada kabar?”

Maya tersenyum kecil.

“Sidang putusan tadi.”

Beberapa detik kemudian Rina menelepon.

“Bagaimana?”

Maya menatap langit Jakarta yang mulai berwarna jingga.

“Aris dinyatakan bersalah untuk rangkaian penipuan dan kekerasan. Beberapa kasus korban lain juga ikut diproses.”

“Dan Sundari?”

“Juga dihukum.”

Rina terdiam.

Kemudian berkata pelan, “Akhirnya.”

Maya mengira cerita itu selesai sampai dua minggu kemudian sebuah amplop datang ke kantornya.

Tidak ada nama pengirim.

Di dalamnya hanya terdapat satu flashdisk dan selembar kertas.

Tulisan tangan.

“Saya minta maaf terlambat. Anda seharusnya mengetahui ini sejak sebelum menikah.”

Maya membawa flashdisk itu kepada Dimas sebelum membukanya.

Di dalamnya terdapat beberapa rekaman CCTV dari sebuah kafe.

Tanggalnya tujuh bulan sebelum pernikahan.

Dalam video itu Aris duduk berhadapan dengan seorang pria berjas.

Wajah pria tersebut tidak dikenal Maya.

Namun kalimat yang terdengar membuat ruangan seketika sunyi.

“Target berikutnya siapa?”

Aris membuka tablet.

Foto Maya muncul di layar.

Pria berjas itu bertanya lagi.

“Profesi?”

“Arsitek.”

“Aset?”

“Satu apartemen atas nama sendiri. Nilai pasar sekitar empat setengah miliar.”

“Orang tua?”

“Tidak terlalu ikut campur.”

Pria itu mengangguk puas.

“Bagus.”

Maya merasakan tangannya dingin.

Dia menoleh kepada Dimas.

“Siapa dia?”

Dimas memperbesar gambar.

“Saya akan cek.”

Penyelidikan baru dimulai lagi.

Dan kali ini, hasilnya jauh lebih besar.

Pria itu ternyata bukan teman Aris.

Namanya Bayu Prasetyo.

Dia menjalankan jaringan yang mempertemukan pelaku dengan calon korban berdasarkan informasi finansial yang diperoleh secara ilegal dari berbagai sumber.

Aris bukan otak utama.

Dia hanyalah salah satu eksekutor.

Ada puluhan profil perempuan dalam data jaringan tersebut.

Pengusaha.

Dokter.

Pegawai perusahaan.

Perempuan yang baru menerima warisan.

Janda beraset.

Dan perempuan lajang yang memiliki properti atas nama sendiri.

Maya menatap daftar itu dengan napas tertahan.

Semua perempuan tersebut diberi penilaian.

Mudah didekati.

Keluarga ketat.

Aset tinggi.

Risiko rendah.

Maya merasa mual.

Ternyata pernikahannya bukan hanya penipuan keluarga.

Dia hampir menjadi korban sebuah jaringan yang menjadikan hubungan romantis sebagai pintu masuk untuk mengambil aset.

Kasus itu kemudian berkembang menjadi penyelidikan besar.

Beberapa orang ditangkap.

Beberapa rekening dibekukan.

Dan sejumlah korban lain akhirnya berani melapor setelah mendengar kasus Maya.

Setahun setelah pagi ketika kuah panas disiramkan ke kakinya, Maya berdiri di ruang yang sama.

Namun kali ini tidak ada Aris.

Tidak ada Sundari.

Tidak ada daftar aturan.

Di atas meja hanya ada laptop, secangkir kopi, dan sebuah map.

Map itu berisi dokumen apartemen miliknya.

Nama di dalamnya tetap sama.

Maya Restu.

Dia menutup map tersebut sambil tersenyum tipis.

Dulu Aris mengira sertifikat itu hanyalah selembar kertas bernilai miliaran rupiah.

Bagi Maya, dokumen itu akhirnya menjadi sesuatu yang lain.

Bukti bahwa hidupnya pernah hampir dirampas oleh orang yang dia percaya.

Dan bukti bahwa dia berhasil merebutnya kembali.

Maya kemudian berdiri di depan cermin.

Bekas luka di pipinya sudah hilang.

Bekas di kaki masih ada sedikit.

Dia memandang dirinya sendiri cukup lama.

Lalu berkata pelan, seolah sedang berbicara kepada perempuan yang setahun lalu berdiri ketakutan di ruang makan yang sama.

“Untung hari itu aku tidak diam.”

Karena pada akhirnya, yang menyelamatkan Maya bukan sertifikat apartemen.

Bukan polisi.

Bukan pula keberuntungan.

Yang menyelamatkannya adalah satu keputusan sederhana ketika semua orang memaksanya tunduk.

Dia memilih percaya pada dirinya sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang