SETELAH 3 TAHUN MENGHILANG, SUAMIKU PULANG MEMBAWA SELINGKUHAN DAN ANAK!!!!

Bima Aryo kembali ke Surabaya pada suatu Selasa malam di bulan September, tepat pukul 19.20, setelah tiga tahun bekerja di luar kota dengan alasan menangani proyek industri besar.

Namun dia tidak pulang sendirian.

Di sampingnya berdiri seorang wanita muda bernama Rania yang menggandeng lengannya erat. Di antara mereka berjalan Reno, bocah laki-laki berusia sekitar dua tahun yang memeluk truk mainan plastik berwarna merah.

Nadia Larasati, istri yang telah dinikahinya selama lima belas tahun, berdiri di ambang pintu tanpa berkedip.

Bima bahkan tidak terlihat malu.

“Ini Rania,” katanya dingin. “Dan ini Reno, anakku.”

Nadia menatap wajah suaminya lama sekali.

“Keadaan sudah berubah, Nadia. Aku tidak mau ada drama. Mulai sekarang mereka tinggal di sini. Kamu harus menerima mereka.”

Rania tersenyum tipis. Senyum seseorang yang gugup, tetapi sudah membayangkan dirinya menjadi nyonya baru di rumah itu.

Nadia tidak berteriak.

Tidak menangis.

Tatapannya justru jatuh kepada Reno. Bocah itu memeluk truk merahnya semakin erat.

Apa pun dosa orang dewasa di sekelilingnya, anak itu tidak bersalah.

“Masuklah,” kata Nadia akhirnya.

Bima tampak lega. Dia menarik dua koper besar melewati pintu dengan sikap seolah rumah itu memang miliknya.

Padahal tidak.

Rumah besar di Surabaya itu adalah warisan pribadi Nadia dari almarhumah ibunya. Bahkan PT Larasati Suku Cadang, perusahaan yang selama bertahun-tahun dibanggakan Bima di depan teman-temannya, didirikan oleh ayah Nadia.

Bima hanyalah direktur operasional.

Selama bertahun-tahun Nadia membiarkannya menikmati jabatan, mobil perusahaan, fasilitas eksekutif, dan kehormatan yang datang bersama nama keluarga Larasati.

Namun tiga tahun terakhir telah mengubah semuanya.

Ketika Bima menghilang di balik alasan proyek, Nadia sendirilah yang mempertahankan perusahaan. Dia menghadapi pemasok, memeriksa pajak, menyelamatkan kontrak, memastikan gaji karyawan dibayar, bahkan merawat Ratna, ibu Bima, ketika wanita tua itu berulang kali masuk rumah sakit.

Sementara itu, telepon Bima semakin jarang.

Pesannya semakin pendek.

Dan enam bulan sebelumnya, Nadia menemukan alasannya.

Rp25 juta setiap bulan untuk apartemen mewah di Bandung.

Pembayaran tempat penitipan anak.

Susu.

Popok.

Restoran.

Furnitur.

Cicilan sedan putih.

Semuanya menggunakan uang perusahaan.

Nadia tidak menelepon suaminya.

Dia mengumpulkan bukti.

Rekening koran, invoice, kontrak apartemen, dokumen kendaraan, hingga catatan kartu perusahaan disimpan satu demi satu.

Tiga bulan kemudian, Nadia menunjuk Maya, seorang pengacara senior, sebagai kuasa hukumnya.

Kini semua bukti itu berada di sebuah map plastik berwarna biru.

Nadia mengambilnya dari laci dan meletakkannya di atas meja.

“Buka.”

Bima mengangkat alis.

“Apa ini?”

“Buka saja.”

Bima membuka halaman pertama.

“Itu gugatan cerai kita.”

Senyumnya langsung lenyap.

Nadia melanjutkan, “Ada juga keputusan pemberhentianmu sebagai direktur operasional.”

Bima tertawa pendek.

“Jangan bercanda.”

“Semua kuasa perbankanmu dicabut sore tadi. Kartu perusahaan, kendaraan operasional, rekening, semuanya sudah dibekukan.”

Bima membalik halaman berikutnya.

Wajahnya perlahan memucat.

“Apa yang sudah kamu lakukan?”

Nadia mengambil kartu akses kantor dari ikat pinggangnya dan meletakkannya di meja.

“Aku tidak mengambil milikmu, Bima. Aku hanya mengambil kembali sesuatu yang sejak awal memang bukan milikmu.”

Tiba-tiba terdengar suara dari ruang makan.

“Dan saya sarankan Anda tidak membuang waktu untuk berdebat.”

Maya muncul bersama seorang notaris dan dua petugas keamanan.

“Selamat malam, Pak Bima. Anda memiliki waktu satu jam untuk mengambil barang pribadi dan meninggalkan rumah ini.”

Bima berdiri.

“Anda tidak bisa mengusir saya dari rumah saya sendiri!”

Maya membuka dokumen.

“Rumah Anda?”

Ruangan mendadak sunyi.

“Tanah dan bangunan ini merupakan aset warisan pribadi Ibu Nadia. Tidak pernah tercatat sebagai harta bersama.”

Bima menoleh kepada Nadia.

Namun sebelum dia bicara, Rania menarik lengannya.

“Mas, kamu bilang rumah ini milikmu.”

Bima terdiam.

“Kamu juga bilang perusahaan itu milikmu.”

“Rania, nanti aku jelaskan.”

“Mobil kita?”

Bima tidak menjawab.

Maya meletakkan dokumen lain di meja.

“Audit juga menemukan pengeluaran perusahaan untuk apartemen, kendaraan, restoran, penitipan anak, kebutuhan bayi, dan berbagai pengeluaran pribadi lainnya.”

Bima menelan ludah.

“Itu biaya operasional proyek.”

Maya menatapnya datar.

“Apakah popok bayi termasuk biaya operasional proyek industri, Pak Bima?”

Rania langsung melepaskan tangannya.

Bima tidak mampu menjawab.

Nadia tidak merasa puas melihatnya. Lima belas tahun pernikahan tidak bisa dihapus begitu saja.

Namun dia akhirnya memahami bahwa mempertahankan rumah tangga berbeda dengan membiarkan seseorang menghancurkan hidupnya.

“Aku suamimu,” kata Bima dengan suara melemah.

“Benar.”

“Lima belas tahun kita menikah.”

“Benar.”

“Dan kamu menghancurkan semuanya karena satu kesalahan?”

Nadia menatapnya dengan kekecewaan yang lebih menyakitkan daripada kemarahan.

“Satu kesalahan?”

Dia menunjuk Rania.

“Lalu siapa dia?”

Bima diam.

“Reno berusia dua tahun. Itu berarti selama bertahun-tahun kamu bangun setiap pagi dan memilih berbohong lagi. Kepadaku. Kepada ibumu. Kepada perusahaan. Bahkan kepada Rania.”

Rania tersentak.

“Apa maksudnya?”

Nadia mengeluarkan dokumen lain.

“Apartemen kalian dibayar perusahaan. Sedan putih kalian juga. Kartu kredit yang Bima berikan kepadamu adalah fasilitas perusahaan.”

Rania mundur.

“Lalu jam tanganmu?” tanyanya.

Bima membeku.

Nadia menjawab pelan, “Dibeli sebelas bulan lalu menggunakan kartu perusahaan.”

Wajah Rania seketika kehilangan warna.

“Jadi sebenarnya apa yang benar dari semua cerita yang kamu katakan kepadaku?”

Bima hanya menunduk.

Nadia melihat jam dinding.

Pukul 19.47.

“Kamu masih punya tiga puluh tiga menit.”

Bima akhirnya bergerak menuju kopernya.

Namun ponsel Maya berbunyi.

Sebuah pesan masuk dari auditor.

Maya membacanya beberapa detik sebelum ekspresinya berubah.

“Nadia.”

“Ada apa?”

“Auditor menemukan rekening lain.”

Bima yang tadi hendak berjalan langsung berhenti.

Maya memperhatikan reaksinya.

“Rekening yang tidak pernah tercatat dalam pembukuan perusahaan.”

Dari wajah suaminya, Nadia langsung tahu.

Bima mengenal rekening itu.

Sangat mengenalnya.

Maya segera menelepon kepala auditor dan menyalakan pengeras suara.

“Berapa jumlahnya?”

Suara laki-laki terdengar dari telepon.

“Sejauh ini sekitar Rp4,8 miliar. Dana masuk bertahap selama hampir tiga tahun. Sebagian berasal dari pembayaran klien yang seharusnya masuk ke rekening resmi perusahaan.”

Ruangan seolah kehilangan udara.

Nadia menatap Bima.

“Empat koma delapan miliar?”

“Nadia, dengarkan aku.”

“Kamu mencuri dari perusahaan ayahku?”

“Bukan mencuri!”

Bima maju selangkah.

“Aku yang membangun relasi dengan klien-klien itu. Aku yang bekerja bertahun-tahun. Aku cuma mengambil bagian yang memang seharusnya menjadi hakku!”

Maya segera mengangkat tangan kepada petugas keamanan.

“Jangan bicara lebih jauh sebelum didampingi pengacara, Pak Bima. Apa yang Anda katakan bisa memiliki konsekuensi hukum.”

Tetapi Bima sudah kehilangan kendali.

“Lima belas tahun aku hidup di bawah nama Larasati! Semua orang melihatku seperti aku hanya menumpang pada keluarga istriku. Aku capek!”

Nadia memandangnya tak percaya.

“Jadi itu alasanmu?”

Bima tertawa getir.

“Kamu tidak akan mengerti.”

“Aku memberimu kepercayaan.”

“Aku butuh sesuatu yang benar-benar milikku!”

“Jadi kamu mengambil uang perusahaan?”

Bima terdiam.

Rania tiba-tiba berkata, “Rumah di Batu.”

Semua orang menoleh.

Bima langsung pucat.

Nadia mengernyit.

“Rumah apa?”

Rania menatap Bima dengan mata berkaca-kaca.

“Kamu bilang jangan.”

“Rania!”

“Kamu bilang rumah itu dibeli untuk masa depan Reno!”

Bima melangkah cepat ke arahnya, tetapi petugas keamanan langsung menghalangi.

Maya mendekati Rania.

“Rumah di mana?”

Rania tampak ragu. Kemudian dia memandang Reno yang ketakutan di sampingnya.

Mungkin saat itulah dia sadar bahwa dirinya pun telah hidup di dalam kebohongan.

“Batu,” jawabnya. “Rumah vila. Kami pernah ke sana beberapa kali. Bima bilang itu investasi pribadinya.”

“Atas nama siapa?”

Rania terdiam.

“Atas namaku.”

Bima menutup mata.

Maya langsung mencatat alamat yang diberikan Rania.

Belum sampai lima menit, auditor mengirimkan dokumen lain.

Uang muka vila itu ternyata dibayar melalui rekening tersembunyi yang sama.

Namun kejutan terbesar datang setelah Maya memeriksa mutasi transaksi.

Ada transfer Rp900 juta dari rekening tersebut ke rekening atas nama Rania.

Rania terperanjat.

“Aku tidak pernah menerima uang sebanyak itu!”

Bima langsung menatapnya.

“Jangan bohong!”

“Aku benar-benar tidak tahu!”

Maya meminta Rania membuka aplikasi perbankannya.

Setelah beberapa saat, Rania menunjukkan layar.

Tidak ada Rp900 juta.

Nama pemilik rekening memang Rania.

Tetapi nomor rekening berbeda.

Seseorang menggunakan salinan identitasnya untuk membuka rekening lain.

Rania menatap Bima dengan wajah hancur.

“Kamu menggunakan KTP-ku?”

Bima bungkam.

Saat itulah semuanya menjadi jelas.

Bima tidak hanya membohongi istrinya.

Dia juga menjadikan selingkuhannya sebagai tameng.

Jika penyalahgunaan dana terbongkar, sebagian uang akan terlihat mengalir ke rekening atas nama Rania.

Wanita yang selama ini percaya akan dinikahi Bima ternyata sedang dipersiapkan menjadi kambing hitam.

Rania menampar Bima.

Suara tamparan itu terdengar keras di ruang tamu.

“Aku meninggalkan pekerjaanku karena kamu! Aku percaya ketika kamu bilang akan mengurus hidup kami!”

Reno mulai menangis.

Rania segera berjongkok dan memeluknya.

Nadia memalingkan wajah.

Amarahnya terhadap Rania tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit.

Wanita itu memang telah menjadi bagian dari perselingkuhan suaminya. Namun malam itu Nadia menyadari Rania juga tidak mengetahui seluruh kebenaran.

“Bu Maya,” kata Nadia, “tolong pastikan semua bukti terkait identitas Rania dicatat.”

Rania menatapnya terkejut.

“Kenapa kamu membantuku?”

Nadia menjawab tanpa senyum.

“Aku tidak membantumu melupakan apa yang kamu lakukan. Aku hanya tidak akan membiarkan Bima menghancurkan orang lain untuk menyelamatkan dirinya sendiri.”

Untuk pertama kalinya malam itu, Rania menundukkan kepala.

“Maaf.”

Hanya satu kata.

Nadia tidak menjawab.

Belum waktunya memaafkan.

Tetapi setidaknya malam itu kebenaran sudah mulai memiliki tempat.

Pukul 20.18, Bima keluar dari rumah membawa dua koper.

Tidak ada mobil perusahaan yang menunggunya karena kuncinya sudah disita.

Tidak ada kartu perusahaan.

Tidak ada rumah mewah.

Tidak ada jabatan.

Rania juga menolak pergi bersamanya.

Dua hari kemudian, audit diperluas.

Jumlah penyalahgunaan dana ternyata jauh lebih besar daripada dugaan pertama. Beberapa pembayaran klien telah dialihkan melalui perusahaan pemasok fiktif sebelum masuk ke rekening tersembunyi.

Nadia menyerahkan seluruh temuan kepada pihak berwenang.

Proses hukum berjalan berbulan-bulan.

Perceraian pun tidak berlangsung mudah. Bima sempat menuntut bagian dari rumah dan perusahaan, tetapi dokumen kepemilikan serta bukti warisan membuat tuntutannya tidak memiliki dasar kuat.

Rania bersedia memberikan kesaksian dan menyerahkan pesan, email, serta dokumen yang pernah diberikan Bima kepadanya.

Ratna adalah orang yang paling terpukul.

Ketika mengetahui semuanya, ibu Bima menangis di hadapan Nadia.

“Maafkan anak saya.”

Nadia menggenggam tangan wanita tua itu.

“Ibu tidak melakukan kesalahan.”

“Kamu masih mau datang menjenguk saya setelah semua ini?”

Nadia tersenyum tipis.

“Hubungan saya dengan Bima sudah selesai. Tapi selama lima belas tahun, Ibu tetap keluarga bagi saya.”

Setahun kemudian, Nadia resmi bercerai.

PT Larasati Suku Cadang perlahan pulih. Nadia membentuk sistem pengawasan keuangan baru agar tidak ada seorang pun, termasuk dirinya sendiri, memiliki kekuasaan tanpa kontrol.

Suatu sore, setelah rapat tahunan perusahaan, resepsionis memberitahunya bahwa seseorang ingin bertemu.

Rania.

Wanita itu datang sendirian membawa sebuah kotak kecil.

“Aku tidak akan lama.”

Dia meletakkan kotak itu di meja Nadia.

Di dalamnya terdapat sebuah truk mainan plastik merah.

Nadia mengenalinya.

“Reno?”

“Dia baik-baik saja.”

Rania tersenyum kecil.

“Aku sudah bekerja lagi. Kami tinggal sederhana sekarang.”

Nadia mengangguk.

“Lalu kenapa membawa ini?”

“Reno punya mainan baru. Aku ingin membuang yang ini, tapi setiap melihatnya aku teringat malam itu.”

Rania menarik napas.

“Malam ketika hidupku hancur.”

Nadia menatap truk tersebut.

Rania tersenyum getir.

“Tapi mungkin sebenarnya malam ketika hidupku diselamatkan.”

Sebelum pergi, Rania berhenti di depan pintu.

“Ada satu hal yang belum pernah kukatakan.”

Nadia mengangkat wajah.

“Malam ketika kami datang ke rumahmu, Bima sudah menyiapkan dokumen.”

“Dokumen apa?”

“Dia berencana meminta kamu menandatangani surat pengalihan sebagian saham. Katanya kamu pasti menurut karena takut diceraikan.”

Nadia terdiam.

Rania membuka tasnya dan mengeluarkan beberapa lembar kertas yang sudah kusut.

“Aku menemukannya di koper Bima malam itu.”

Nadia membaca halaman pertama.

Namanya sudah tercetak di sana.

Di bawahnya tersedia ruang kosong untuk tanda tangan.

Dia tiba-tiba tertawa kecil.

Bukan karena lucu.

Melainkan karena akhirnya memahami betapa dekatnya dirinya dengan kehancuran jika enam bulan sebelumnya dia memilih mengabaikan angka-angka aneh di laporan keuangan.

Rania pergi.

Nadia berdiri di depan jendela kantornya sambil memegang dokumen itu.

Di kejauhan, ratusan karyawan mulai meninggalkan pabrik setelah pergantian sif.

Dulu Nadia berpikir map biru itulah yang menghancurkan hidup Bima.

Ternyata bukan.

Map itu hanya berisi kertas.

Yang menghancurkan Bima adalah keyakinannya sendiri bahwa orang yang diam pasti lemah, orang yang mencintainya pasti akan selalu memaafkan, dan sesuatu yang dipinjamkan kepadanya lambat laun akan menjadi miliknya.

Nadia memasukkan dokumen terakhir itu ke dalam map biru.

Kemudian dia menutupnya.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, dia tidak merasa sedang kehilangan seorang suami.

Dia merasa baru saja mendapatkan kembali dirinya sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang