SUSAH PAYAH MENABUNG, ANAKNYA TEGA MEMBATALKAN ULANG TAHUN KE-70 SANG IBU DEMI MENGINCAR HARTA! TAPI SAAT MENGETAHUI ISI SURAT WASIAT, MEREKA MENANGIS DAN BERLUTUT MEMOHON AMPUN!
“Kita tidak perlu buang-buang uang untuk acara yang tidak penting seperti ini,” kata Maya tanpa sedikit pun menurunkan nada suaranya.
Ibu Suryani berdiri di depan meja dapur rumah sederhananya di Bandung.
Di tangannya ada sebuah buku catatan yang masih terbuka.
Di halaman itu tertulis beberapa hal yang sudah lama ia rencanakan. Nasi tumpeng, sewa organ tunggal selama satu jam, kue ulang tahun tiga tingkat, dan tiga puluh lima orang tamu.
Suryani sama sekali tidak menginginkan pesta mewah.
Ia hanya ingin merayakan ulang tahunnya yang ke-70 di sebuah pendopo kecil di kawasan Lembang.
Tidak perlu dekorasi mahal.
Tidak perlu makanan mewah.
Ia hanya ingin duduk bersama orang-orang yang masih menghargainya dan menikmati satu hari istimewa di sisa usianya.
Namun Aris, anak laki-laki satu-satunya, bahkan tidak mengalihkan pandangan dari layar ponselnya.
“Bu, umur Ibu sudah tujuh puluh tahun. Buat apa bikin acara seperti itu lagi?”
Aris menghela napas seolah rencana ibunya adalah sesuatu yang merepotkan.
“Lebih baik makan sederhana saja di apartemen kami. Tidak perlu menghabiskan uang untuk hal-hal seperti ini.”
Suryani menatap putranya dalam diam.
Anak yang berdiri di hadapannya itu adalah anak yang dulu ia perjuangkan mati-matian.
Selama dua puluh delapan tahun, Suryani bekerja sebagai staf administrasi. Karena penghasilannya tidak cukup, ia pernah berjualan pakaian dari rumah ke rumah dan menerima pesanan katering pada malam hari.
Semua itu dilakukan agar Aris bisa kuliah tanpa memikirkan biaya.
Setelah suaminya meninggal sepuluh tahun lalu, pengorbanan Suryani juga tidak berhenti.
Ketika Aris kesulitan membayar cicilan rumah, Suryani membantu.
Ketika biaya sekolah kedua cucunya meningkat, Suryani kembali mengeluarkan uang.
Ia tidak pernah menghitung berapa banyak yang sudah diberikan kepada anaknya.
Namun hari itu, Aris berbicara seolah memberikan satu hari kebahagiaan kepada ibunya sendiri adalah sebuah pemborosan besar.
“Ya sudah,” kata Suryani akhirnya.
Suaranya sangat pelan.
“Kalau kalian merasa acara itu tidak perlu, tidak apa-apa.”
Maya mengerutkan kening.
Perempuan itu tampaknya mengira ibu mertuanya akan menangis atau membuat keributan.
Namun Suryani hanya menutup buku catatan itu perlahan.
Setelah Aris dan Maya pulang, Suryani berdiri di depan pagar sampai mobil mereka hilang di ujung jalan.
Barulah air matanya jatuh.
Bukan karena nasi tumpeng yang batal.
Bukan karena kue tiga tingkat.
Suryani menangis karena anak yang telah ia perjuangkan hampir sepanjang hidupnya kini memperlakukan ulang tahunnya yang ke-70 seolah itu sebuah beban.
Keesokan pagi, tepat pukul enam, Suryani membuka lemari kayu tua di kamar belakang.
Dari bagian paling bawah, ia mengeluarkan sebuah kotak besi.
Klik.
Kotak itu terbuka.
Di dalamnya tersimpan sertifikat tanah, dokumen investasi, surat kepemilikan dua unit ruko, dokumen sebuah apartemen, dan berkas kepemilikan saham sebuah perusahaan transportasi.
Perusahaan itu dirintis Suryani bersama mendiang suaminya puluhan tahun lalu.
Usaha tersebut pernah nyaris bangkrut.
Mereka pernah menjual perhiasan untuk membayar gaji karyawan dan menggadaikan kendaraan agar operasional tetap berjalan.
Namun perlahan bisnis itu berkembang.
Setelah suaminya meninggal, Suryani menyerahkan pengelolaan perusahaan kepada orang-orang kepercayaannya dan memilih hidup sederhana.
Aris selama ini mengira ibunya hanya mempunyai rumah tua di Bandung dan uang pensiun.
Pagi itu Suryani mengambil satu keputusan.
Selama dua minggu berikutnya, ia mendatangi notaris, mengecek seluruh aset, meminta laporan investasi, menilai kembali dua ruko di Sukajadi, sebuah apartemen di Bali, serta saham perusahaan transportasi.
Dan ada satu hal yang tidak ia batalkan.
Pendopo di Lembang.
Suryani tetap memesannya.
Ia membayar seluruh biaya acara dengan uangnya sendiri.
Beberapa hari kemudian Maya mulai sering menelepon.
Awalnya hanya menanyakan kesehatan.
Lalu pertanyaannya berubah.
“Bu, rumah Bandung nanti mau diapakan?”
Kemudian lebih spesifik.
“Notaris keluarga masih Pak Bambang, ya?”
Suryani mulai mengerti.
Ada sesuatu yang sedang dicari oleh menantunya.
Hingga suatu sore Aris datang tanpa kabar.
Wajahnya pucat.
Dasinya miring.
“Ibu, kenapa Ibu meminta salinan baru surat wasiat ke Pak Bambang?”
Suryani menatapnya tenang.
“Ibu hanya ingin merapikan semua urusan Ibu.”
“Tapi hal seperti itu seharusnya dibicarakan dengan keluarga.”
“Keluarga?”
Aris terdiam.
Suryani menatap anaknya lama.
“Dengan keluarga yang menyebut ulang tahun ke-70 Ibu tidak penting?”
Wajah Aris berubah.
“Bu, soal waktu itu aku cuma sedang banyak pikiran.”
Beberapa detik kemudian ia bertanya dengan suara lebih pelan.
“Bu, apa Ibu mau mencoret namaku dari surat warisan?”
Suryani membuka sebuah dokumen.
“Tidak.”
Wajah Aris sedikit mengendur.
“Ibu tidak mencoret namamu dari warisan.”
Namun Suryani belum selesai.
“Ibu hanya memastikan kamu tidak bisa mengambil sesuatu yang tidak pernah kamu perjuangkan.”
Aris membaca halaman di hadapannya.
Semakin lama membaca, semakin pucat wajahnya.
Dalam surat wasiat lama, hampir seluruh aset Suryani memang diwariskan kepada Aris sebagai anak tunggal.
Namun terdapat syarat yang tidak pernah Aris ketahui.
Sebagian besar aset hanya dapat dialihkan kepadanya apabila ia memenuhi beberapa ketentuan mengenai pengelolaan perusahaan, tanggung jawab keluarga, dan larangan menjual aset produktif secara sembarangan.
Yang lebih mengejutkan, surat tersebut memberi Suryani hak penuh untuk mengubah penerima manfaat kapan pun selama ia masih hidup dan sehat secara hukum.
“Nilainya sebanyak ini?” gumam Aris.
Suryani tidak menjawab.
Di halaman lampiran tercantum estimasi total aset.
Lebih dari enam puluh miliar rupiah.
Tangan Aris gemetar.
Selama bertahun-tahun ia mengira rumah tua itu mungkin hanya bernilai dua atau tiga miliar.
Ia tidak pernah membayangkan ibunya menyimpan aset sebesar itu.
“Kenapa Ibu tidak pernah bilang?”
“Kalau Ibu bilang, apa kamu akan memperlakukan Ibu lebih baik?”
Pertanyaan itu menghantam tepat ke dada Aris.
Ia membuka mulut tetapi tak mampu menjawab.
Suryani mengambil kembali dokumen tersebut.
“Pulanglah. Ibu ada urusan.”
Malam itu Aris tidak bisa tidur.
Maya justru lebih gelisah.
“Enam puluh miliar?”
Ia duduk tegak di tempat tidur.
“Kamu yakin?”
“Aku baca sendiri.”
“Terus surat wasiat barunya bagaimana?”
“Aku tidak tahu.”
Maya mondar-mandir di kamar.
“Kamu harus bicara lagi dengan Ibu.”

“Aku sudah bicara.”
“Kamu itu anak satu-satunya, Ris. Masa harta keluarga diberikan ke orang lain?”
Aris menatap istrinya.
Untuk pertama kalinya ada sesuatu dalam nada Maya yang membuatnya tidak nyaman.
“Harta keluarga?”
“Iya.”
“Itu harta Ibu.”
Maya langsung terdiam.
Namun kekhawatiran mereka belum selesai.
Dua hari kemudian Aris menerima telepon dari Pak Dedi, sahabat lama ayahnya yang sekarang menjabat komisaris di perusahaan transportasi.
“Ris, saya kira kamu harus mulai lebih sering menemui ibumu.”
Jantung Aris berdegup keras.
“Kenapa, Om?”
“Beliau baru saja meminta restrukturisasi saham.”
“Apa maksudnya?”
Pak Dedi diam beberapa detik.
“Sebagian kepemilikan akan dialihkan ke yayasan.”
Telepon terputus beberapa menit kemudian, tetapi Aris tetap berdiri membeku.
Ketika Maya mendengar kabar itu, wajahnya langsung memerah.
“Yayasan?”
“Iya.”
“Berarti Ibu benar-benar mau membuang warisan kita!”
“Jangan bilang begitu.”
“Tapi faktanya begitu!”
Maya segera mengambil tas.
“Ayo ke rumah Ibu.”
Namun ketika mereka sampai di rumah Suryani, pagar terkunci.
Tetangga mengatakan Suryani sedang pergi ke Lembang.
Maya mencoba menelepon berkali-kali.
Tidak dijawab.
Malamnya, barulah sebuah pesan masuk ke ponsel Aris.
Besok datanglah ke pendopo pukul sebelas. Ibu ingin bicara.
Aris dan Maya datang ke Lembang pagi berikutnya.
Ketika memasuki pendopo, mereka terdiam.
Tempat itu sudah dihias sederhana namun indah.
Ada bunga putih dan kuning.
Meja panjang dipenuhi makanan.
Sebuah kue tiga tingkat berdiri di sisi panggung kecil.
Beberapa orang tua yang mereka kenal sejak dulu mulai berdatangan.
Tetangga lama Suryani.
Mantan rekan kerja.
Pegawai perusahaan yang telah bekerja puluhan tahun.
Seorang tukang kebun.
Seorang sopir tua.
Bahkan Bu Ratna, perempuan yang dulu sering menjaga Aris ketika Suryani bekerja lembur.
Tiga puluh lima kursi.
Persis seperti yang tertulis di buku catatan.
Aris membeku.
“Ibu tetap bikin acara ini?”
Suryani tersenyum.
“Ternyata Ibu masih punya tiga puluh lima orang yang merasa ulang tahun Ibu penting.”
Kalimat itu membuat Aris menunduk.
Maya tidak berkata apa-apa.
Acara berlangsung hangat.
Tidak mewah.
Namun setiap orang yang hadir membawa cerita.
Pak Hendra, mantan sopir perusahaan, berdiri dan berkata bahwa Suryani pernah menjual gelang emas demi membayar biaya operasi istrinya saat perusahaan sedang kesulitan.
Bu Ratna bercerita bahwa Suryani pernah pulang berjalan kaki hampir lima kilometer karena uang transportasinya digunakan untuk membeli buku sekolah Aris.
Satu demi satu cerita memenuhi pendopo.
Aris duduk kaku.
Banyak hal tentang ibunya yang bahkan tidak pernah ia ketahui.
Ketika tiba waktunya meniup lilin, Suryani tidak langsung berdiri.
Ia memanggil Pak Bambang maju ke depan.
Notaris itu membawa sebuah map cokelat.
Suasana berubah.
“Sebelum makan siang,” ujar Suryani, “Ibu ingin menyelesaikan satu hal.”
Aris merasakan tengkuknya dingin.
Pak Bambang membuka dokumen.
“Dengan persetujuan Ibu Suryani dan berdasarkan akta yang telah disahkan, struktur warisan beliau telah diperbarui.”
Maya langsung menggenggam tangan Aris.
Pak Bambang melanjutkan.
Dua unit ruko dialihkan ke sebuah yayasan pendidikan yang akan memberikan beasiswa kepada anak-anak karyawan perusahaan.
Apartemen di Bali akan dijual, dan hasilnya menjadi dana kesehatan bagi pekerja pensiunan.
Sebagian saham perusahaan dimasukkan ke dalam dana amanah sehingga dividennya digunakan untuk membantu keluarga karyawan yang mengalami kesulitan.
Rumah di Bandung akan tetap menjadi milik Suryani selama hidupnya.
Setelah itu rumah tersebut tidak akan dijual.
Rumah itu akan dijadikan tempat singgah gratis bagi keluarga pasien dari luar kota yang sedang berobat di Bandung.
Wajah Maya sudah kehilangan warna.
Lalu Pak Bambang sampai pada bagian terakhir.
“Saudara Aris tetap tercatat sebagai ahli waris.”
Aris mengangkat kepala.
“Ibu tetap memberikan kepada Saudara Aris satu kepemilikan investasi serta sejumlah dana.”
Maya mengembuskan napas lega.
Namun Pak Bambang belum selesai.
“Nilai totalnya kurang lebih satu miliar lima ratus juta rupiah.”
Maya langsung berdiri.
“Hanya segitu?”
Semua orang menoleh.
Pendopo mendadak sunyi.
Maya sadar ucapannya terlalu keras.
Namun sudah terlambat.
Suryani memandangnya lama.
“Hanya?”
Maya menggigit bibir.
“Saya bukan bermaksud begitu, Bu.”
“Tadi kamu bilang hanya.”
Maya tidak menjawab.
Suryani mengangguk kecil.
“Inilah alasan Ibu mengubah semuanya.”
Aris terlihat terpukul.
“Bu, aku memang salah. Tapi apa semua ini karena ulang tahun?”
“Bukan.”
Suryani menatap anaknya.
“Ini bukan tentang pesta.”
Ia menarik napas perlahan.
“Ini tentang sikapmu ketika kamu mengira Ibu tidak punya apa-apa lagi yang berguna untukmu.”
Aris terdiam.
“Kalau sejak awal kamu tahu Ibu punya enam puluh miliar, mungkin kamu sendiri yang akan menyewa gedung paling mahal.”
Mata Aris mulai merah.
Suryani melanjutkan.
“Tapi karena kamu mengira Ibu hanya punya sedikit uang pensiun dan sebuah rumah tua, satu hari kebahagiaan Ibu terasa seperti pemborosan.”
Aris menunduk.
Air matanya jatuh.
Maya masih berdiri, wajahnya tegang.
Namun kemudian Suryani mengeluarkan satu lembar kertas lain.
“Ada satu hal lagi.”
Pak Bambang tampak ragu, tetapi menyerahkannya.
“Itu apa?” tanya Aris.
Suryani meletakkan dokumen tersebut di meja.
Itu adalah salinan laporan rekening.
Di sana tercatat beberapa transfer selama bertahun-tahun.
Aris membaca satu demi satu.
Dana pelunasan cicilan rumah.
Biaya pendidikan anak-anak.
Modal usaha Maya.
Biaya renovasi apartemen.
Bantuan ketika Aris kehilangan pekerjaan.
Totalnya hampir empat miliar rupiah.
Aris menutup mulut dengan tangan.
Ia tidak pernah menghitung.
Suryani ternyata menyimpan semuanya.
“Kenapa Ibu mencatat ini?”
“Bukan untuk menagih.”
Suryani menatapnya.
“Ibu mencatat supaya suatu hari Ibu sendiri tidak lupa bahwa Ibu sudah melakukan cukup banyak.”
Suara Suryani bergetar untuk pertama kalinya.
“Ibu tidak mau meninggal sambil merasa masih berutang sesuatu kepada anak Ibu.”
Aris tidak sanggup menahan diri.
Ia berdiri, berjalan ke depan, lalu berlutut di hadapan ibunya.
“Maafkan aku, Bu.”
Tangisnya pecah.
Bukan tangis seseorang yang baru kehilangan puluhan miliar.
Melainkan tangis anak yang akhirnya memahami betapa jauh ia telah berubah.
“Aku malu.”
Suryani diam.
“Aku terlalu sibuk dengan hidupku sendiri. Aku pikir karena Ibu selalu kuat, Ibu tidak membutuhkan siapa-siapa.”
Maya berdiri beberapa langkah di belakangnya.
Wajahnya juga basah.
Perlahan ia ikut berlutut.
“Maafkan saya, Bu.”
Suryani tidak langsung menyuruh mereka berdiri.
Ia membiarkan keheningan berlangsung.
Lalu berkata pelan,
“Ibu bisa memaafkan kalian.”
Aris mendongak dengan mata penuh harap.
“Tapi surat wasiatnya tidak akan Ibu ubah lagi.”
Wajah Maya kembali menegang.
Namun Aris justru mengangguk.
“Tidak apa-apa.”
Maya menatap suaminya.
Aris mengusap wajahnya.
“Kalau Ibu mengubahnya lagi hanya karena kami minta maaf, berarti kami tidak belajar apa-apa.”
Suryani menatap putranya.
Untuk pertama kalinya hari itu, matanya menghangat.
Acara kemudian dilanjutkan.
Mereka makan nasi tumpeng.
Bernyanyi bersama.
Tidak ada pesta mewah.
Namun Suryani tersenyum lebih banyak daripada beberapa tahun terakhir.
Beberapa bulan berlalu.
Hubungan mereka tidak langsung sempurna.
Aris tidak mendadak menjadi anak paling berbakti.
Maya juga masih membutuhkan waktu untuk mengubah kebiasaannya.
Namun ada sesuatu yang perlahan berbeda.
Aris mulai datang setiap Minggu tanpa membawa pembicaraan tentang aset.
Kadang ia hanya mengganti lampu rusak.
Kadang membawa buah.
Kadang duduk bersama ibunya selama dua jam tanpa melihat ponsel.
Maya mulai menemani Suryani ke pasar.
Ia bahkan pernah membantu memasak tanpa sekalipun membicarakan rumah atau surat wasiat.
Suatu sore, hampir setahun setelah ulang tahun itu, Aris menemukan ibunya duduk di teras sambil membaca buku catatan lama.
Buku yang sama.
Halaman rencana ulang tahun ke-70 masih ada.
Namun di bagian bawah terdapat tulisan baru dengan tinta biru.
Aris membacanya.
Tiga puluh lima tamu datang.
Nasi tumpeng habis.
Organ tunggal terlalu keras.
Kue terlalu manis.
Anakku akhirnya hadir sebagai anak, bukan sebagai ahli waris.
Aris berhenti membaca.
Dadanya terasa sesak.
“Ibu…”
Suryani menoleh.
“Kenapa?”
Aris duduk di sampingnya.
“Tidak apa-apa.”
Ia menggenggam tangan ibunya.
Beberapa saat kemudian Suryani tersenyum.
“Ada satu hal yang belum pernah Ibu ceritakan.”
“Apa?”
“Waktu kamu datang dan membaca surat wasiat itu, sebenarnya akta barunya belum ditandatangani.”
Aris menatap ibunya terkejut.
“Maksud Ibu?”
“Ibu masih memberi kamu kesempatan.”
Aris terdiam.
“Kalau hari itu kamu datang dan berkata, ‘Bu, aku minta maaf karena sudah menyakiti Ibu’, mungkin ceritanya berbeda.”
Suryani tertawa kecil.
“Tapi pertanyaan pertama kamu adalah apakah Ibu mau mencoret namamu dari warisan.”
Aris menutup wajahnya, antara malu dan ingin tertawa.
“Ya Allah, Bu…”
“Itu jawaban yang Ibu butuhkan.”
Aris mengangguk.
Kemudian ia bertanya,
“Sekarang Ibu menyesal?”
Suryani memandang halaman rumah yang diterpa cahaya sore.
“Tidak.”
Ia menggenggam tangan putranya lebih erat.
“Kalau harta itu membuat seseorang datang karena takut kehilangan uang, lebih baik harta itu pergi kepada orang-orang yang benar-benar membutuhkannya.”
Aris tersenyum kecil.
“Dan kalau anak Ibu tetap datang setelah tahu dia tidak akan mendapatkan semuanya?”
Suryani menatapnya.
“Kemungkinan besar, akhirnya Ibu mendapatkan kembali anak Ibu.”
Aris menunduk.
Matanya kembali basah.
Hari itu ia baru benar-benar mengerti.
Warisan terbesar yang hampir hilang bukanlah saham, ruko, apartemen, atau puluhan miliar rupiah.
Warisan terbesar adalah kesempatan untuk masih bisa duduk di samping ibunya, menggenggam tangannya, dan mengatakan sesuatu yang terlalu lama ia tunda.
“Selamat ulang tahun yang ke-71, Bu.”
Suryani tertawa kecil.
“Kamu terlambat tiga hari.”
Aris ikut tertawa.
“Iya. Tapi kali ini aku datang bukan karena surat wasiat.”
Dan untuk Suryani, kalimat sederhana itu jauh lebih berharga daripada seluruh kekayaan yang pernah ia kumpulkan sepanjang hidupnya.
