Mereka memujinya karena menangkap pembunuh dalam semalam, sementara aku dihina sebagai polisi tak berguna—tapi apa yang kulihat pukul 3 pagi membuat seluruh kantor polisi membuka kembali kasus itu.

Pukul tiga lewat tujuh belas menit dini hari, ketika hampir semua orang di Apartemen Cakrawala Residence yakin kasus itu sudah selesai, aku menemukan sesuatu yang seharusnya tidak ada di sana.

Seutas benang hitam.

Tersangkut di bawah engsel pintu unit 903.

Aku menyorotinya dengan senter kecil, lalu berjongkok lebih rendah. Bekas luka di sisi tubuhku langsung berdenyut karena posisi itu, tetapi aku tidak bergerak.

Dari belakang terdengar suara langkah.

“Kamu ngapain?”

Aku mengenali suara Aluna.

“Jangan injak lantai dekat pintu.”

Dia langsung berhenti.

Kamera acara Patroli Malam ternyata masih mengikuti kami dari ujung koridor. Kru seharusnya sudah turun setelah polisi membawa tersangka, tetapi rupanya mereka mencium sesuatu yang lebih menarik daripada penangkapan.

Aluna mendekat perlahan.

“Apa itu?”

“Benang.”

Dia menatapku seperti ingin memastikan aku tidak sedang bercanda.

“Naura, kita sudah menangkap tersangkanya.”

“Aku tahu.”

“Raka menemukan rekaman CCTV. Saksi juga mendengar korban bertengkar dengan tersangka.”

“Aku juga tahu.”

“Lalu?”

Aku mengarahkan cahaya senter ke bagian bawah pintu.

“Pintu ini membuka ke dalam.”

Aluna mengangguk.

“Terus?”

“Korban ditemukan di bawah balkon. Menurut rekonstruksi awal, setelah bertengkar, tersangka mendorong korban, panik, lalu keluar lewat pintu ini.”

“Iya.”

“Kalau begitu, kenapa ada serat kain terjepit di sisi dalam engsel?”

Aluna terdiam.

Aku berdiri perlahan sambil menahan nyeri.

“Artinya seseorang menahan pintu dari dalam setelah orang yang kita lihat di CCTV pergi.”

Wajah Aluna berubah.

Aku meminta petugas forensik kembali.

Lima belas menit kemudian, koridor yang semula mulai kosong kembali dipenuhi polisi.

Raka datang paling cepat.

Wajahnya tidak senang.

“Naura, apa yang kamu lakukan?”

“Memastikan kita tidak menangkap orang yang salah.”

Rahangnya mengeras.

“Kita punya motif, saksi, rekaman CCTV, dan pengakuan sebagian.”

“Pengakuan sebagian bukan pengakuan pembunuhan.”

“Dia mengaku bertengkar dengan korban.”

“Bertengkar bukan berarti mendorong orang dari lantai sembilan.”

Raka mendekat.

“Jangan mengacaukan penyelidikan hanya karena ingin membuktikan sesuatu di depan kamera.”

Kalimat itu membuatku diam.

Bukan karena takut.

Karena aku pernah mendengar kalimat yang hampir sama tiga tahun lalu.

Jangan mengganggu kesimpulan besar hanya karena satu dugaanmu.

Aku menatap Raka.

“Aku tidak peduli kamera.”

Aku menunjuk pintu.

“Aku peduli kenapa ada orang lain di dalam unit setelah tersangka pergi.”

Pak Armand tiba beberapa menit kemudian.

Setelah mendengar penjelasanku, dia hanya mengatakan satu kalimat.

“Buka kembali tempat kejadian perkara.”

Raka menoleh tajam.

“Pak.”

“Itu perintah.”

Pukul empat pagi, tersangka yang sebelumnya dianggap pembunuh diperiksa ulang.

Namanya Bagas Pranoto, rekan bisnis korban.

Dia memang datang malam itu.

Dia memang bertengkar.

Dia bahkan mengancam korban karena utang ratusan juta rupiah.

Namun dia bersikeras satu hal.

“Waktu saya pergi, dia masih hidup.”

Rekaman CCTV memperlihatkan Bagas keluar dari apartemen pukul 00.41.

Perkiraan waktu kematian awal berada antara pukul 00.30 sampai 01.30.

Terlalu luas.

Aku meminta semua rekaman kamera gedung dari pukul sebelas malam sampai dua pagi.

Raka menyilangkan tangan.

“Sudah diperiksa.”

“Oleh siapa?”

“Timku.”

“Periksa lagi.”

“Apa yang kamu cari?”

Aku menatap layar.

“Orang yang tidak terlihat.”

Raka mendengus.

“Kalau tidak terlihat, bagaimana mencarinya?”

“Dari sesuatu yang bergerak karena dia.”

Aku mempercepat rekaman.

Pukul 00.18 Bagas masuk.

Pukul 00.41 Bagas keluar.

Tidak ada orang lain memasuki lantai sembilan.

Namun pukul 00.56, pintu tangga darurat bergerak sedikit.

Tidak terbuka.

Hanya bergeser beberapa sentimeter, lalu kembali menutup.

Aku memundurkan rekaman.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

“Kenapa?”

Aluna mendekat.

Aku menunjuk bayangan tipis di lantai.

“Lampunya.”

Lampu koridor menggunakan sensor gerak.

Pukul 00.55, bagian koridor dekat tangga darurat menyala.

Tidak ada siapa pun di kamera.

Raka akhirnya berhenti menyilangkan tangan.

Kami memeriksa tangga darurat.

Di lantai antara delapan dan sembilan terdapat ruang sempit berisi panel listrik dan peralatan kebersihan.

Di belakang sebuah lemari besi, petugas menemukan bungkus sepatu plastik sekali pakai.

Ada noda debu semen pada permukaannya.

Debu yang sama ditemukan di balkon unit korban.

Masalahnya, lantai sembilan tidak sedang direnovasi.

Lantai sebelas yang sedang direnovasi.

Seseorang turun dari sana.

Pukul lima pagi, kami memeriksa CCTV lantai sebelas.

Seorang teknisi terlihat masuk pukul 23.47 membawa kotak peralatan besar.

Dia tidak pernah terlihat keluar.

Nama di buku tamu adalah Dimas Santoso.

Ketika alamatnya diperiksa, identitas itu ternyata palsu.

Pak Armand menatapku.

“Bagaimana dia keluar?”

“Ganti pakaian.”

Aku meminta rekaman lobi.

Pukul 01.23 seorang petugas kebersihan keluar sambil mendorong troli sampah.

Wajahnya tertutup masker dan topi.

“Petugas kebersihan malam ini ada berapa?”

Aluna segera menelepon pengelola gedung.

Jawabannya membuat ruangan sunyi.

Tidak ada jadwal petugas kebersihan setelah pukul sebelas malam.

Raka mengambil jaketnya.

“Aku kejar.”

“Jangan.”

Dia berhenti.

Aku memperbesar gambar troli.

Ada stiker kecil perusahaan penyedia jasa kebersihan.

Aku mengenali logonya.

Bukan karena pernah melihat perusahaan itu.

Karena tiga tahun lalu aku pernah melihat stiker yang sama.

Di sebuah gudang yang terbakar.

Tanganku tiba-tiba dingin.

Pak Armand melihat perubahan wajahku.

“Naura?”

Aku tidak menjawab.

Aku membuka ponsel dan menelepon Pak Yudha.

Dia mengangkat pada dering pertama.

“Aku menemukan sesuatu.”

“Apa?”

Aku mengirim foto.

Beberapa detik tidak terdengar suara.

Kemudian Pak Yudha berkata pelan.

“Dari mana kamu dapat ini?”

“Kasus jatuh dari apartemen.”

“Naura, jangan sentuh apa pun.”

Nada suaranya berubah drastis.

“Timku menuju ke sana.”

Aku menatap layar.

“Kenapa?”

“Perusahaan di stiker itu tidak pernah terdaftar.”

Dadaku terasa semakin sesak.

Pak Yudha melanjutkan.

“Tapi logo yang sama ditemukan pada tiga dari delapan lokasi pembunuhan yang sedang kami selidiki.”

Semua orang di ruangan mendengarnya.

Raka perlahan duduk.

Kasus yang satu jam sebelumnya dianggap pembunuhan karena utang mendadak berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih besar.

Tim khusus tiba menjelang matahari terbit.

Pak Yudha masuk tanpa menyapa siapa pun.

Dia langsung meletakkan delapan foto korban di meja.

Tujuh perempuan.

Satu laki-laki.

Korban apartemen menjadi korban kesembilan.

“Delapan kasus sebelumnya tidak pernah memiliki hubungan yang jelas,” katanya.

Aku memandangi foto-foto itu.

Umur berbeda.

Profesi berbeda.

Kota berbeda.

Cara kematian juga dibuat berbeda.

Ada yang dianggap perampokan.

Ada yang tampak seperti kecelakaan.

Ada yang dinyatakan bunuh diri.

Namun seseorang selalu masuk tanpa merusak pintu.

Aku mengambil foto korban kesembilan.

“Korban ini bukan target utama.”

Pak Yudha menatapku.

“Kenapa?”

“Pelakunya membuat terlalu banyak kesalahan.”

Aku menunjuk serat kain, bungkus sepatu, dan rekaman sensor.

“Dia terburu-buru.”

“Artinya?”

“Korban melihat sesuatu yang tidak seharusnya dia lihat.”

Kami menggeledah unit sekali lagi.

Kali ini aku tidak mencari bukti pembunuhan.

Aku mencari alasan korban harus dibungkam.

Tidak ada di laptop.

Tidak ada di ponsel.

Tidak ada di brankas.

Sampai aku melihat sebuah kamera mobil kecil di meja.

Korban bekerja sebagai konsultan logistik.

Malam sebelumnya dia pulang dari pelabuhan.

Aku mengambil kartu memorinya.

Rekaman terakhir memperlihatkan mobil korban berhenti di dekat gudang kontainer.

Pukul 22.12, sebuah van hitam lewat.

Logo kecil perusahaan kebersihan terlihat di pintunya.

Aku menghentikan gambar.

Nomor pelat terlihat sebagian.

Aluna langsung mencocokkannya dengan database.

Van itu terdaftar atas nama perusahaan yang sudah tutup empat tahun lalu.

Alamat terakhirnya berada di kawasan industri dekat pelabuhan.

Pak Yudha menatapku.

“Aku kirim tim.”

“Aku ikut.”

Semua orang memandangku.

Raka yang pertama bereaksi.

“Kondisimu tidak memungkinkan.”

“Makanya kamu yang lari kalau perlu.”

Untuk pertama kalinya sejak acara dimulai, Aluna tertawa.

Kami tiba di gudang pukul tujuh lewat.

Bangunannya tampak kosong.

Namun debu di pintu menunjukkan kendaraan baru saja masuk.

Tim mengepung lokasi.

Aku masuk bersama Pak Yudha, Raka, dan Aluna.

Bau di dalam membuat langkahku berhenti.

Asap lama.

Besi.

Oli.

Tiga tahun lalu.

Tanganku gemetar.

Pak Yudha menyadarinya.

“Kamu bisa tunggu di luar.”

“Tidak.”

Di bagian belakang gudang kami menemukan ruang tersembunyi.

Di dalamnya terdapat dokumen, kartu identitas palsu, beberapa ponsel, dan foto para korban.

Sembilan foto.

Di bawah foto korban apartemen terdapat tulisan tangan.

Saksi tidak direncanakan.

Raka mengumpat pelan.

Lalu Aluna menemukan foto kesepuluh.

Dia menariknya dari bawah tumpukan.

Wajahnya berubah.

“Naura.”

Aku mengambil foto itu.

Orang di dalamnya adalah aku.

Foto lama.

Tiga tahun lalu.

Diambil saat aku masih menjadi anggota tim khusus.

Di bawahnya tertulis satu kalimat.

Seharusnya mati di gudang pertama.

Suara logam jatuh terdengar dari lantai atas.

Raka langsung berlari.

Aku ingin mengikuti, tetapi rasa sakit menusuk sisi tubuhku.

Aluna menahanku.

Beberapa detik kemudian terdengar teriakan.

Kami naik.

Seorang pria terpojok di dekat jendela gudang.

Raka menodongkan senjata.

“Jangan bergerak!”

Pria itu mengangkat tangan.

Ketika dia berbalik, aku mengenali wajahnya.

Bukan pelaku yang menembakku tiga tahun lalu.

Lebih buruk.

Dia adalah petugas administrasi tim khusus yang dulu menerima laporanku.

Orang yang mengatakan bukti yang kutemukan tidak cukup penting untuk dibawa ke pimpinan.

Namanya Adrian Kusuma.

Pak Yudha terlihat seperti kehilangan suara.

“Kamu?”

Adrian tersenyum.

“Kalian selalu mencari pembunuh.”

Dia memandangku.

“Naura satu-satunya yang dulu mencari siapa yang membersihkan jejak setelah pembunuhan.”

Tiba-tiba semuanya masuk akal.

Perusahaan kebersihan palsu.

Akses tanpa pembobolan.

Barang bukti yang hilang.

Laporan yang berubah.

Adrian bukan sekadar pembunuh.

Dia menjual jasa menghilangkan masalah.

Kadang membersihkan bukti.

Kadang menciptakan kecelakaan.

Dan jika ada saksi, dia membersihkan saksi juga.

Korban apartemen tanpa sengaja merekam van miliknya.

Karena itulah dia dibunuh.

Bagas hanya kebetulan menjadi tersangka sempurna.

Adrian diborgol pagi itu.

Bagas dibebaskan setelah pemeriksaan lanjutan membuktikan dia meninggalkan korban dalam keadaan hidup.

Sembilan kasus dibuka kembali.

Termasuk kasus tiga tahun lalu yang hampir membunuhku.

Ketika kami kembali ke Polsek, siaran langsung masih berjalan.

Komentar yang dulu menghinaku berubah total.

Orang-orang bertanya siapa sebenarnya Naura Pradipta.

Mengapa seorang pegawai ruang arsip bisa membaca TKP lebih baik daripada tim penyidik.

Mengapa tim khusus Polda meminta bantuannya.

Damar bahkan mencoba mewawancaraiku.

“Mbak Naura, apa yang ingin disampaikan kepada orang-orang yang sebelumnya menyebut Mbak polisi tidak berguna?”

Aku menatap kamera.

“Tidak ada.”

“Tidak marah?”

“Capek.”

“Sekarang semua orang tahu kemampuan Mbak.”

Aku mengangkat bahu.

“Besok mereka juga menemukan topik lain.”

Di belakang kamera, Pak Armand tersenyum tipis.

Raka mendatangiku beberapa saat kemudian.

Dia berdiri cukup lama sebelum akhirnya berkata, “Aku terlalu cepat menyimpulkan.”

Aku menatapnya.

“Memang.”

Dia terlihat sedikit tersinggung.

Aku menambahkan, “Tapi kamu juga yang pertama masuk gudang. Jadi impas.”

Raka tertawa kecil.

“Aku kira kamu akan memaafkanku dengan lebih dramatis.”

“Aku lapar.”

Aluna datang membawa tiga bungkus nasi.

Kami makan di tangga depan Polsek saat matahari mulai naik.

Untuk pertama kalinya selama beberapa tahun, rasa sesak di dadaku terasa sedikit lebih ringan.

Pak Yudha kemudian datang membawa surat.

Surat permintaan resmi agar aku kembali ke tim khusus.

Aku membaca sampai selesai.

“Jawabanmu?”

Aku menatap ruang arsip melalui jendela.

Tempat itu sudah menjadi persembunyianku selama dua tahun.

Aku memilih debu, dokumen lama, dan makan siang dingin karena kertas tidak pernah berteriak ketika aku terlambat memahami sesuatu.

Orang mati tidak pernah menyalahkanku.

Tapi malam ini aku menyadari sesuatu.

Aku tidak meninggalkan penyelidikan karena tubuhku rusak.

Aku meninggalkannya karena pernah membiarkan orang lain membuatku percaya bahwa keraguanku tidak berharga.

Aku mengambil pena.

Pak Yudha tersenyum.

“Kembali?”

Aku menulis sesuatu di bagian bawah surat lalu menyerahkannya.

Dia membaca.

Ekspresinya langsung berubah.

“Apa ini?”

Pak Armand mengambil surat itu.

Aku menulis satu syarat.

Aku tetap berkantor di Polsek Pelabuhan Cakrawala dan hanya membantu tim khusus sebagai analis jika diperlukan.

Pak Armand tertawa keras.

Pak Yudha memijat pelipis.

“Kenapa?”

Aku membuka bungkus lemper yang sejak tadi kusimpan.

“Di Polda kantinnya jauh.”

Aluna tertawa sampai hampir tersedak.

Raka menggeleng.

Aku menggigit lemper sambil memandang matahari pagi.

Besok mungkin internet kembali menertawakanku.

Mungkin seseorang masih akan menyebutku anak titipan.

Mungkin aku tetap menjadi polisi paling belakang saat lari pagi.

Tidak masalah.

Karena malam itu aku akhirnya mengerti satu hal yang dulu hampir kulupakan.

Penyidik terbaik bukan selalu orang yang paling cepat menemukan jawaban.

Kadang dia hanyalah orang yang cukup keras kepala untuk bertanya sekali lagi ketika semua orang sudah berhenti bertanya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang