Aku Pulang Tiga Minggu Lebih Cepat dari Penugasan, Membuka Pintu Rumah dan Menemukan Putriku Kurus Kering Sendirian—Sementara Suamiku, Ibu Mertuaku, dan Kakaknya Sedang Menikmati Liburan Mewah di Bali dengan Uang yang Kukirim untuk Anak Kami

Aku sudah pulang, Faris.

Dua centang biru muncul di layar.

Selama hampir satu menit, tidak ada balasan.

Lalu ponselku bergetar tanpa henti.

Faris menelepon.

Aku menolak panggilannya.

Dia menelepon lagi.

Kutolak lagi.

Panggilan ketiga datang bersamaan dengan pesan dari Siska.

Nadira, kamu serius sudah pulang?

Aku tidak menjawab siapa pun.

Di hadapanku, Alya masih tertidur di ranjang rumah sakit. Wajahnya pucat, tangan kecilnya dipasangi infus. Sesekali alisnya mengernyit seperti sedang bermimpi buruk.

Aku menggenggam jemarinya.

Enam bulan aku bekerja di tempat yang jauh, merawat orang-orang yang bahkan tidak kukenal, sementara anakku sendiri kelaparan di rumah yang kubeli dengan uangku sendiri.

Ironis sekali.

Ponselku kembali bergetar.

Kali ini Faris mengirim pesan suara.

Aku memasang earphone.

“Nadira, dengar dulu. Jangan langsung bikin kesimpulan. Alya itu nggak ditinggal begitu saja. Bu Yani tahu dia di rumah. Rumi juga seharusnya balik lebih cepat. Ini cuma salah komunikasi.”

Aku menutup mata.

Salah komunikasi.

Enam hari.

Anak lima tahun.

Sendirian.

Dan menurut suamiku, itu salah komunikasi.

Aku meneruskan pesan suara tersebut kepada Lestari.

Beberapa detik kemudian dia menelepon.

“Jangan balas apa pun lagi,” katanya.

“Kenapa?”

“Biarkan dia bicara sebanyak mungkin. Orang panik biasanya menghasilkan bukti lebih banyak daripada yang bisa kita cari sendiri.”

Aku menatap layar.

Benar saja.

Pesan Faris berikutnya muncul.

Aku cuma butuh liburan sebentar. Mama sudah lama pengin ke Bali. Lagian Alya aman di rumah sendiri. Dia bukan bayi.

Aku mengambil tangkapan layar.

Lestari tertawa pendek ketika kukirim.

“Dia baru saja membantu kita.”

Malam itu aku tidak pulang.

Aku tidur di kursi samping ranjang Alya.

Sekitar pukul tiga pagi, aku terbangun karena dia memanggilku.

“Mama?”

“Iya, Sayang.”

“Mama besok pergi lagi?”

Pertanyaan itu membuat dadaku sesak.

Aku naik sedikit ke ranjang dan memeluknya hati-hati.

“Nggak. Mama di sini.”

“Bener?”

“Bener.”

Dia terdiam cukup lama.

Lalu berbisik, “Ayah bilang Mama lebih sayang kerjaan daripada Alya.”

Aku tidak langsung menjawab.

“Terus Ayah bilang apa lagi?”

“Ayah bilang kalau Alya cerita ke Mama, Mama bisa marah.”

“Cerita apa?”

Tubuhnya menegang.

Aku merasakan perubahan itu.

“Alya?”

Dia menatap selimut.

“Kalau Nenek suka ambil uang dari lemari Mama.”

Aku membeku.

“Uang apa?”

“Nenek bilang itu uang keluarga.”

Aku tidak ingin menginterogasi anakku. Kondisinya belum memungkinkan.

Aku mencium keningnya.

“Tidur dulu. Nanti kalau Alya sudah sehat, kita cerita pelan-pelan.”

Namun aku sendiri tidak tidur lagi.

Pagi-pagi sekali aku meminta Pak Hendra mendampingiku pulang bersama dua petugas keamanan. Pak Darto sudah menunggu untuk mengganti seluruh kunci.

Aku memeriksa rumah dengan lebih teliti.

Di kamar kerja, laci dokumen terbuka.

Beberapa map berpindah tempat.

Aku membuka brankas kecil.

Uang tunai sekitar tiga puluh juta yang kusimpan untuk keadaan darurat hilang.

Perhiasan peninggalan ibuku juga tidak ada.

Aku langsung menghubungi Lestari.

“Ini bukan cuma penelantaran.”

“Apa yang hilang?”

Aku menyebutkan semuanya.

“Jangan sentuh terlalu banyak barang,” katanya. “Dokumentasikan.”

Aku mengambil foto setiap sudut.

Kemudian aku menemukan sesuatu di tempat sampah ruang kerja.

Sobekan amplop dari sebuah perusahaan pembiayaan.

Nama peminjamnya Faris.

Nilainya Rp450 juta.

Jaminan yang tertulis membuat darahku mendidih.

Rumah Cibubur.

Rumahku.

Aku memotret dokumen itu.

“Dia mencoba menjaminkan rumah yang bukan miliknya,” kata Lestari setelah melihat foto.

“Bisa?”

“Tidak tanpa pemalsuan.”

Aku menatap tanda tangan di fotokopi formulir.

Tanda tanganku.

Hanya saja aku tidak pernah menandatanganinya.

Siang itu, Faris akhirnya menyadari situasinya jauh lebih serius daripada kartu kredit yang ditolak.

Dia menelepon dari nomor Bu Ratna.

Kali ini aku menjawab.

“Nadira.”

Suaranya terdengar terburu-buru.

“Kamu di mana?”

“Jakarta.”

“Alya?”

“Rumah sakit.”

Hening.

Hanya beberapa detik.

Namun beberapa detik itu cukup untuk menunjukkan bahwa kekhawatiran pertamanya bukan kondisi anaknya.

“Kamu bawa dia ke rumah sakit kenapa?”

Aku hampir tertawa.

“Menurutmu?”

“Nadira, jangan lebay. Alya memang susah makan.”

“Berat badannya turun hampir lima kilogram.”

“Itu karena dia pilih-pilih makanan.”

“Dia dehidrasi.”

Faris mulai meninggikan suara.

“Aku sudah bilang Rumi untuk kembali.”

“Rumi bahkan tidak dibayar.”

“Itu urusan rumah tangga.”

“Dan meninggalkan anak lima tahun sendirian?”

“Bu Yani ada di sebelah.”

Aku mencengkeram meja.

“Bu Yani tujuh puluh tahun dan bahkan tidak punya kunci rumah kita.”

Faris terdiam.

Kemudian suara Bu Ratna terdengar dari belakang.

“Kasih Mama ngomong!”

Telepon berpindah tangan.

“Nadira, kamu jangan memperbesar masalah keluarga.”

Aku mengenali nada itu.

Nada seorang perempuan yang selama bertahun-tahun selalu berhasil membuat Faris merasa dirinya korban.

“Pulanglah dulu, Bu.”

“Kami memang akan pulang.”

“Bagus.”

“Kamu jangan kurang ajar sama suami. Uang suami istri itu uang bersama.”

“Uang untuk makanan Alya dipakai membayar vila kalian.”

“Faris juga punya hak menikmati hidup.”

Aku memandang kamar Alya yang berantakan.

“Dan Alya punya hak untuk makan.”

Telepon langsung sunyi.

Aku melanjutkan.

“Sampai ketemu di Jakarta.”

Aku menutup sambungan.

Mereka memesan penerbangan pulang sore itu.

Aku tahu karena kartu tambahan Faris mencoba melakukan pembayaran tiket tiga kali dan semuanya ditolak.

Akhirnya Siska yang membayar.

Sementara mereka berada di pesawat, aku melakukan sesuatu yang mungkin tidak mereka perkirakan.

Aku melapor secara resmi.

Bukan hanya soal penelantaran Alya, tetapi juga dugaan pengambilan barang milikku dan pemalsuan dokumen.

Lestari mendampingiku.

Rekaman CCTV disalin.

Catatan medis diamankan.

Transaksi bank dicetak.

Pesan WhatsApp disimpan.

Bahkan Bu Yani bersedia memberikan keterangan.

Saat aku menemuinya, perempuan tua itu langsung menangis.

“Maafkan saya, Bu Nadira. Saya pikir bapaknya akan pulang malam itu.”

“Bukan salah Ibu.”

“Tiap pagi Alya berdiri di pagar.”

Aku menunduk.

“Dia minta makan?”

Bu Yani mengusap air matanya.

“Hari pertama tidak. Dia cuma tanya bapaknya sudah pulang belum. Hari kedua dia minta roti. Hari ketiga saya mulai curiga.”

“Kenapa Ibu tidak masuk?”

“Pintunya terkunci dari dalam. Saya bilang mau panggil satpam, tapi Alya menangis. Katanya ayahnya bilang kalau dia keluar atau bikin orang datang, Mama akan kecewa.”

Aku menutup wajah.

Itulah bagian yang paling menyakitkan.

Faris tidak hanya meninggalkan Alya.

Dia menggunakan namaku untuk membuat anak kami takut mencari pertolongan.

Malam itu sekitar pukul sebelas, sebuah mobil berhenti di depan rumah.

Aku melihatnya melalui kamera CCTV baru yang dipasang Pak Hendra.

Faris turun pertama.

Wajahnya kusut.

Bu Ratna turun sambil mengomel.

Siska dan Denny mengikuti.

Mereka membawa koper.

Faris memasukkan kunci ke pintu.

Tidak bisa.

Mencoba lagi.

Tetap tidak bisa.

Dia mulai mengetuk.

“Nadira!”

Aku berada di ruang tamu.

Lestari duduk di sampingku.

Dua petugas keamanan berdiri di teras.

Aku membuka pintu.

Wajah Faris langsung berubah.

“Kamu ganti kunci?”

“Iya.”

“Ini rumahku!”

“Tidak.”

Bu Ratna maju.

“Kamu jangan kurang ajar!”

Aku memandangnya.

“Perhiasan ibu saya di mana?”

Wajahnya berubah sepersekian detik.

Cukup.

“Apa maksudmu?”

“Uang tunai di brankas juga hilang.”

“Apa kamu nuduh Mama mencuri?”

“Belum. Saya bertanya.”

Faris mencoba masuk.

Petugas keamanan menghalanginya.

“Pak, mohon jangan memaksa.”

Faris menunjuk wajahku.

“Nadira, suruh mereka minggir!”

“Tidak.”

“Aku suamimu!”

“Untuk sementara, status itu sedang diurus pengacaraku.”

Dia menatap Lestari.

Barulah wajahnya benar-benar pucat.

“Kamu mau cerai?”

Aku berdiri.

“Aku menemukan anak kita hampir tidak bisa berdiri.”

“Kamu nggak tahu situasinya!”

“Kalau begitu jelaskan.”

Dia membuka mulut.

Tidak ada yang keluar.

Siska tiba-tiba menyela.

“Nadira, sebenarnya Faris bilang ada babysitter yang datang tiap hari.”

Semua orang menoleh kepadanya.

Faris langsung membentak.

“Siska!”

“Apa?” balasnya. “Aku nggak tahu Alya ditinggal sendirian! Kamu bilang ada orang yang jagain!”

Bu Ratna menarik lengan putrinya.

“Sudah!”

Namun semuanya mulai retak.

Denny ikut bicara.

“Gue juga tahunya begitu, Ris.”

Faris menatap keluarganya satu per satu.

Beberapa jam sebelumnya mereka masih tersenyum bersama di vila.

Sekarang semua orang mulai menyelamatkan dirinya sendiri.

“Jadi siapa yang tahu?” tanyaku.

Tak ada jawaban.

Aku menatap Bu Ratna.

“Neneknya?”

Dia mendengus.

“Jangan lihat Mama begitu. Faris bilang semuanya sudah diatur.”

Faris tertawa tidak percaya.

“Mama yang bilang jangan bawa Alya karena tiket tambahannya mahal!”

Sunyi.

Aku menatap mereka.

Bu Ratna langsung memucat.

“Kamu jangan fitnah Mama.”

“Bukannya Mama bilang anak kecil cuma bikin repot? Mama juga yang bilang uang tiketnya lebih baik dipakai upgrade vila.”

Aku merasa mual.

Jadi itulah alasannya.

Bukan lupa.

Bukan salah komunikasi.

Mereka menghitung biaya membawa anakku, lalu memutuskan kemewahan mereka lebih penting.

Bu Ratna tiba-tiba menunjukku.

“Kalau kamu ibu yang benar, kamu nggak akan pergi enam bulan!”

Aku tidak menjawab.

Lestari berdiri.

“Bu Ratna, saya sarankan percakapan ini dihentikan.”

“Siapa kamu?”

“Kuasa hukum Nadira.”

Bu Ratna tertawa sinis.

“Masalah keluarga pakai pengacara segala.”

Lestari menatapnya datar.

“Ketika seorang anak lima tahun ditinggalkan hampir seminggu tanpa pengawasan memadai, itu bukan lagi sekadar masalah keluarga.”

Wajah mereka berubah.

Faris menatapku.

“Kamu lapor polisi?”

Aku tidak perlu menjawab.

Dua kendaraan berhenti di depan rumah.

Faris berbalik.

Wajahnya kehilangan warna.

Proses hukum malam itu berlangsung panjang.

Aku tidak menikmati satu detik pun.

Tidak ada kepuasan melihat Faris panik.

Tidak ada kemenangan saat Bu Ratna mulai menangis.

Yang kurasakan hanya lelah.

Karena apa pun yang terjadi kepada mereka tidak akan menghapus enam hari Alya berdiri di pagar menunggu makanan.

Beberapa minggu berikutnya mengubah hidup kami.

Alya mulai menjalani pendampingan psikologis.

Berat badannya perlahan naik.

Pada malam-malam tertentu dia masih terbangun dan memastikan aku ada di kamar sebelah.

Aku mengambil cuti panjang.

Bukan karena merasa bersalah atas pekerjaanku.

Aku akhirnya memahami bahwa kesalahan bukan terletak pada seorang ibu yang bekerja.

Kesalahan terletak pada orang yang diberi kepercayaan, lalu sengaja menghancurkannya.

Proses perceraianku dengan Faris dimulai.

Penyelidikan terhadap dokumen pembiayaan juga berjalan.

Kemudian muncul kejutan terakhir.

Lestari datang ke rumah membawa sebuah map.

“Ada sesuatu yang harus kamu lihat.”

Dia meletakkan beberapa lembar rekening koran.

Selama hampir dua tahun, Faris rutin mentransfer uang ke rekening Bu Ratna.

Jumlahnya kecil pada awalnya.

Dua juta.

Lima juta.

Delapan juta.

Kemudian semakin besar.

Totalnya lebih dari tiga ratus juta rupiah.

“Dari rekening bersama?”

“Sebagian.”

“Sebagian lagi?”

Lestari menunjuk satu transaksi.

“Dari rekening pendidikan Alya.”

Aku menatap angka itu lama.

Rekening yang kubuat ketika Alya lahir.

Tabungan masa depannya.

Hampir kosong.

Aku merasa seharusnya marah.

Anehnya, aku justru tidak merasakan apa-apa.

Mungkin ada titik ketika pengkhianatan terlalu besar hingga kemarahan tidak lagi cukup.

Tiga bulan kemudian, aku sedang membuat sarapan ketika Alya berlari ke dapur.

Tubuhnya sudah jauh lebih sehat.

Rambutnya kembali berkilau.

Dia memeluk pinggangku dari belakang.

“Mama.”

“Hmm?”

“Alya boleh minta sesuatu?”

“Boleh.”

“Jangan jual rumah ini.”

Aku berbalik.

“Kenapa?”

Dia melihat ke arah halaman.

“Karena Bu Yani ada di sebelah.”

Aku tersenyum dan berjongkok.

“Rumah ini nggak akan dijual.”

“Janji?”

“Janji.”

Dia memelukku.

Saat itulah aku melihat boneka kelinci putih di meja makan.

Boneka yang kubeli di bandara pada hari kepulanganku.

Aku hampir lupa memberikannya.

Aku mengambilnya.

“Ini sebenarnya buat Alya.”

Matanya langsung membesar.

“Dari Mama?”

“Iya.”

Dia memeluk boneka itu erat.

Kemudian mengatakan sesuatu yang tidak pernah kulupakan.

“Waktu Mama belum pulang, Alya pikir Mama lupa jalan pulang.”

Dadaku seperti ditusuk.

Aku memeluknya.

“Mama nggak pernah lupa.”

“Terus kenapa Mama bisa pulang lebih cepat?”

Aku terdiam.

Selama ini aku menganggap kepulanganku tiga minggu lebih awal sebagai kebetulan.

Perubahan jadwal.

Keputusan administratif.

Sesuatu yang sederhana.

Aku mencium rambutnya.

“Mungkin karena Mama memang harus pulang hari itu.”

Di luar, Bu Yani sedang menyiram tanaman.

Matahari pagi masuk melalui jendela.

Rumah yang beberapa bulan sebelumnya penuh bau sampah kini terasa hidup lagi.

Faris pernah mengancam akan mengatakan kepada semua orang bahwa aku meninggalkan anak demi karier.

Dulu kalimat itu sempat membuatku mempertanyakan diriku sendiri.

Sekarang tidak lagi.

Karena aku akhirnya mengerti satu hal.

Meninggalkan rumah untuk bekerja bukan berarti meninggalkan keluarga.

Yang disebut meninggalkan adalah ketika seseorang melihat seorang anak membutuhkan perlindungan, memiliki kesempatan untuk menjaganya, tetapi memilih pergi karena vila, restoran mahal, dan foto liburan terasa lebih penting.

Aku memang pergi selama enam bulan.

Tetapi aku menghabiskan setiap hari dengan menghitung waktu untuk kembali kepada Alya.

Sedangkan Faris hanya pergi enam hari.

Dan dalam enam hari itu, dia menunjukkan kepadaku siapa dirinya sebenarnya.

Alya menarik tanganku menuju halaman.

“Ayo, Ma. Bu Yani bilang bunga kita bisa hidup lagi.”

Aku mengikuti langkahnya.

Di dekat pagar, beberapa tanaman yang kukira sudah mati ternyata mulai menumbuhkan daun-daun kecil.

Alya menunjuknya dengan bangga.

“Lihat. Tumbuh lagi.”

Aku memandang putriku.

Lalu memandang rumah kami.

Untuk pertama kalinya sejak kepulanganku, aku tersenyum tanpa rasa marah.

“Iya,” kataku sambil menggenggam tangannya.

“Ternyata yang hampir mati pun bisa tumbuh lagi kalau akhirnya dirawat oleh orang yang tepat.”

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang