Anakku Berjalan Tujuh Blok Menuju Rumah Neneknya, tetapi Tak Pernah Sampai—Lima Minggu Kemudian Aku Menemukan Jaket Birunya di Bak Sampah Belakang Rumah Ibu, dan Saat Kutanya, Wajahnya Memucat Sebelum Mengaku Bahwa Malam Itu Anakku Sebenarnya Sudah Masuk ke Rumahnya

Sirene polisi terdengar semakin dekat ketika Ibu masih menggenggam pergelangan tanganku.

“Nabila, dengarkan Ibu dulu.”

Aku menepis tangannya.

“Kalau ada satu kebohongan lagi, Bu, aku bersumpah aku tidak akan pernah memaafkan Ibu.”

Wajahnya hancur. Namun saat itu aku sudah tidak peduli.

Lima minggu aku hidup seperti orang mati. Lima minggu aku menyalahkan diriku sendiri karena membiarkan Faris berjalan tujuh blok sendirian. Sementara perempuan yang setiap hari menelepon dan menangis bersamaku ternyata tahu anakku sampai dengan selamat.

“Reza mau apa dariku?”

Ibu menelan ludah.

“Dokumen perusahaan.”

Aku terdiam.

Tiga tahun lalu, sebelum perceraian kami selesai, Reza pernah memintaku menandatangani pelepasan hak atas sebagian saham sebuah perusahaan logistik yang didirikan menggunakan modal dari ayahku. Secara hukum, sebagian kepemilikan itu masih atas namaku.

Aku menolak.

Bukan karena aku menginginkan uangnya.

Aku tahu Reza sedang dikejar utang.

Kalau saham itu berpindah kepadanya, dia bisa menjadikannya jaminan.

“Dia menculik Faris karena saham?”

“Ibu tidak tahu rencananya sejauh itu.”

“Jangan bilang tidak tahu!”

Tepat saat itu pintu pagar terbuka.

Dua polisi masuk bersama Pak Dimas, penyidik yang sejak awal menangani hilangnya Faris.

Aku mengangkat jaket biru itu.

“Pak, anak saya pernah sampai di rumah ini.”

Wajah Pak Dimas berubah.

“Apa?”

“Ibu saya berbohong.”

Bu Marni langsung terduduk.

Dalam waktu kurang dari satu jam, rumah yang selama lima minggu dianggap tidak relevan berubah menjadi lokasi pemeriksaan.

Polisi mengambil pakaian Faris sebagai barang bukti. Kamera CCTV rumah tetangga kembali diperiksa. Kali ini bukan mencari Faris berjalan menuju rumah Ibu, melainkan kendaraan yang meninggalkan gang belakang.

Dan kami menemukan sesuatu.

Sebuah mobil hitam keluar pukul 18.17.

Platnya tidak terlihat jelas.

Namun bentuk kendaraan itu kukenal.

Toyota Fortuner milik perusahaan Reza.

Alibinya mulai runtuh malam itu juga.

Tiket pesawat ke Surabaya memang atas namanya. Hotel memang dipesan. Tetapi polisi menemukan bahwa orang yang menggunakan kamar tersebut adalah asistennya.

Reza tidak pernah naik pesawat.

Saat polisi mendatangi apartemennya di Jakarta, dia sudah pergi.

Aku duduk di kantor polisi sampai hampir subuh ketika Pak Dimas meletakkan sebuah laptop di hadapanku.

“Kami menemukan ini dari akun cloud Bu Marni.”

Aku menoleh kepada Ibu.

Dia menangis sejak dibawa ke kantor.

“Apa?”

“Sebuah rekaman suara.”

Ternyata seminggu setelah Faris hilang, Reza menelepon Ibu. Tanpa sepengetahuan Reza, telepon itu terekam otomatis oleh aplikasi lama yang pernah dipasang ke ponselnya.

Suara mantan suamiku memenuhi ruangan.

“Kalau Nabila mau anaknya kembali, suruh dia tanda tangan.”

Lalu suara Ibu.

“Aku tidak sanggup bohong terus, Za.”

“Kamu sudah menerima uangku.”

“Itu untuk utang rumah.”

“Alasanmu bukan urusanku.”

Kemudian ada kalimat yang membuat seluruh ruangan diam.

“Faris baik-baik saja. Selama ibunya tidak melakukan hal bodoh.”

Aku menutup mulut.

Dia hidup.

Setidaknya seminggu setelah menghilang, anakku masih hidup.

Harapan itu menyakitkan lebih dari putus asa.

Polisi segera memperluas pencarian.

Rekening Reza dibekukan. Transaksi perusahaan diperiksa. Nomor teleponnya dilacak.

Tiga hari kemudian ditemukan transaksi pembelian bahan bakar di daerah Lembang.

Sebuah vila atas nama salah satu rekan bisnisnya digeledah.

Kosong.

Tetapi di kamar lantai dua, polisi menemukan bungkus biskuit, sebuah buku matematika kelas empat, dan selembar kertas.

Tulisan di atasnya membuat lututku lemas.

Ibu, aku di sini.

Itu tulisan Faris.

Huruf “a”-nya selalu terlalu besar.

Aku memeluk kertas itu di dada.

“Dia sengaja meninggalkan ini.”

Pak Dimas mengangguk.

“Anak Ibu mungkin mencoba memberi jejak.”

Di halaman belakang vila ditemukan bekas ban kendaraan lain.

Reza sudah memindahkannya.

Hari keempat puluh tiga.

Aku menerima panggilan pertama.

Nomor tidak dikenal.

Aku mengangkatnya tanpa bernapas.

“Nabila.”

Suara Reza.

Seluruh tubuhku menegang.

“Di mana Faris?”

“Dia aman.”

“Biar aku dengar suaranya.”

“Tidak.”

“REZA!”

“Jangan teriak.”

Aku langsung memberi isyarat kepada Pak Dimas yang berada di sampingku. Polisi mulai melacak panggilan.

“Aku cuma mau apa yang seharusnya menjadi milikku.”

“Faris bukan milikmu?”

“Jangan mulai bicara moral kepadaku.”

“Biarkan aku bicara dengannya.”

Hening beberapa detik.

Kemudian terdengar suara kecil.

“Ibu?”

Aku hampir jatuh.

“Faris!”

“Bu…”

Suara anakku serak.

“Ibu di sini. Kamu tidak apa-apa?”

“Aku mau pulang.”

Tangisku pecah.

“Ibu akan jemput kamu. Dengar Ibu, jangan takut.”

Telepon direbut.

Reza kembali berbicara.

“Besok. Dokumennya harus selesai.”

“Aku akan tanda tangan.”

Pak Dimas menatapku tajam.

Aku mengangguk kepadanya.

Apa pun.

Saat itu aku akan menandatangani apa pun.

Rumah.

Saham.

Seluruh hidupku.

“Di mana?”

“Besok aku hubungi lagi.”

Sambungan terputus.

Pelacakan gagal mendapatkan titik pasti, tetapi sinyal terakhir berasal dari wilayah Subang.

Polisi menyusun rencana.

Aku diminta mengikuti perintah Reza seolah-olah menyerah.

Keesokan harinya dia mengirim lokasi sebuah rest area kecil di jalur menuju Bandung.

Aku membawa map berisi dokumen.

Polisi mengikuti dari jauh.

Pukul empat sore sebuah pesan masuk.

Jangan masuk rest area. Terus jalan.

Aku mengikuti.

Lima kilometer kemudian pesan kedua datang.

Belok kiri setelah SPBU.

Lalu pesan ketiga.

Tinggalkan mobil di dekat kebun teh. Jalan sendiri.

Pak Dimas melarang.

Aku tetap turun.

Aku tidak sedang menjadi pemberani.

Aku hanya seorang ibu yang tahu anaknya berada di ujung jalan.

Kabut turun tipis di antara kebun.

Aku berjalan hampir sepuluh menit sebelum melihat sebuah bangunan kecil yang tampak seperti gudang.

Pintunya terbuka.

“Faris?”

Tidak ada jawaban.

Aku masuk.

Kosong.

Di lantai hanya ada sebuah ponsel.

Ponsel itu berdering.

Reza.

“Kamu membawa polisi.”

“Aku sendirian.”

“Jangan bohong.”

“Reza, cukup. Kamu mau dokumen ini, ambil. Kembalikan Faris.”

Dia tertawa kecil.

“Taruh map di meja.”

“Faris dulu.”

“Taruh.”

Aku meletakkan map.

Kemudian terdengar suara kendaraan dari kejauhan.

Aku berlari keluar.

Sebuah mobil hitam melintas di jalan tanah sekitar dua ratus meter di depan.

Aku melihat wajah di jendela belakang.

Faris.

“FARIS!”

Aku berlari.

Mobil mempercepat.

Aku mengejarnya sampai terjatuh di tanah.

Beberapa detik kemudian dua kendaraan polisi muncul dari belakang.

Pengejaran berlangsung hampir dua puluh menit.

Mobil Reza akhirnya berhenti setelah terjebak di jalan sempit karena sebuah truk pengangkut sayur melintang.

Ketika polisi membuka pintu belakang, Faris meringkuk di sudut.

Aku bahkan tidak ingat bagaimana aku sampai ke sana.

Yang kuingat hanya tubuh kecil itu berlari kepadaku.

“Ibu!”

Aku jatuh berlutut.

Dia menabrak tubuhku dan memeluk leherku.

Aku mencium rambutnya berkali-kali.

“Ibu datang. Ibu datang.”

Faris menangis begitu keras sampai tubuhnya gemetar.

“Aku tahu Ibu cari aku.”

“Ibu tidak pernah berhenti.”

Di seberang jalan, Reza diborgol.

Tatapan kami bertemu.

Tidak ada penyesalan di wajahnya.

Hanya kemarahan.

Seolah semua ini terjadi karena aku tidak memberikan apa yang dia inginkan.

Faris dibawa ke rumah sakit.

Dia mengalami dehidrasi ringan, kehilangan beberapa kilogram berat badan, tetapi secara fisik tidak mengalami cedera serius.

Yang paling berat justru tidak terlihat.

Selama beberapa minggu pertama setelah pulang, Faris takut tidur sendirian.

Dia terbangun ketika mendengar suara mobil berhenti di depan rumah.

Dia tidak mau memakai pakaian biru.

Dan dia tidak mau bertemu neneknya.

Bu Marni ditetapkan sebagai tersangka karena memberikan keterangan palsu dan membantu Reza menemui Faris secara diam-diam. Namun penyelidikan menunjukkan bahwa dia tidak mengetahui rencana penculikan sebelum Reza membawa Faris pergi.

Itu tidak menghapus apa yang dilakukannya.

Suatu sore sebelum sidang, Ibu meminta bertemu denganku.

Aku datang sendiri.

Dia terlihat jauh lebih tua.

“Nabila.”

Aku duduk tanpa menjawab.

“Ibu tidak meminta kamu memaafkan Ibu.”

“Bagus.”

Air matanya jatuh.

“Ibu cuma mau kamu tahu, setiap hari Ibu ingin bicara.”

“Tapi Ibu tidak bicara.”

“Reza mengancam Faris.”

“Aku tahu.”

“Ibu takut.”

Aku menatapnya.

“Aku juga takut, Bu.”

Dia diam.

“Bedanya, selama lima minggu aku menghadapi ketakutanku sambil mencari anakku. Ibu menghadapi ketakutan dengan melindungi kebohongan.”

Tidak ada yang bisa dia jawab.

Aku berdiri.

Sebelum pergi, dia berkata pelan.

“Jaket itu sengaja Ibu taruh di kantong sampah yang robek.”

Aku berhenti.

Aku menoleh.

“Apa?”

“Ibu tahu polisi akan memeriksa lingkungan lagi. Ibu tidak berani mengaku. Tapi Ibu juga tidak sanggup terus diam.”

Dadaku terasa sesak.

“Jadi Ibu ingin aku menemukannya?”

Dia mengangguk sambil menangis.

“Aku pengecut, Bila. Itu satu-satunya cara yang terpikir olehku.”

Aku tidak memeluknya.

Aku juga tidak mengatakan aku memaafkannya.

Karena terkadang memahami alasan seseorang tidak berarti luka yang dibuatnya otomatis hilang.

Beberapa bulan kemudian Reza dijatuhi hukuman atas penculikan, pemerasan, pemalsuan dokumen, dan beberapa tindak pidana keuangan yang terungkap selama penyelidikan.

Perusahaannya runtuh.

Saham yang begitu ingin dia rebut dariku akhirnya kujual.

Bukan karena aku kalah.

Aku tidak ingin ada lagi bagian hidupku yang terikat padanya.

Sebagian uangnya kugunakan membeli rumah baru.

Lebih kecil.

Lebih jauh dari Antapani.

Pada malam pertama di sana, aku memasang lampu tidur di kamar Faris.

Dia berdiri di ambang pintu sambil membawa sesuatu.

Jaket birunya.

Aku terkejut.

Selama berbulan-bulan jaket itu disimpan polisi sebagai barang bukti. Setelah dikembalikan, aku mencucinya dan memasukkannya ke lemari.

“Kamu mau pakai itu lagi?”

Faris mengangguk.

Aku membantunya mengenakannya.

Jaket itu sudah sedikit sempit.

Tambalan roket merah buatanku masih berada di siku kanan.

Faris mengusapnya.

“Bu.”

“Hmm?”

“Malam itu aku sebenarnya tahu Ayah bohong.”

Aku menatapnya.

“Kenapa?”

“Katanya Ibu menyuruh dia jemput aku.”

Faris menunduk.

“Tapi Ibu selalu bilang kalau ada perubahan rencana, Ibu sendiri yang akan telepon.”

Aku menahan napas.

“Terus?”

“Aku tanya Nenek. Nenek cuma nangis.”

Dia memegang ujung jaketnya.

“Sebelum Ayah suruh aku ganti baju, aku sengaja masukin kertas kecil ke kantong jaket.”

Aku langsung teringat polisi memeriksa jaket itu.

Tidak pernah ada kertas.

“Apa yang kamu tulis?”

Faris menatapku.

“Ayah bohong. Tolong Ibu.”

Jantungku terasa berhenti.

“Kertasnya tidak pernah ditemukan.”

“Aku tahu.”

“Bagaimana kamu tahu?”

Faris diam cukup lama.

Kemudian menjawab,

“Karena waktu aku pulang, Nenek minta maaf.”

Aku membeku.

“Apa maksudmu?”

“Nenek bilang dia menemukan kertas itu malam setelah aku dibawa Ayah.”

Dunia seolah kembali sunyi.

Jadi Ibu bukan sekadar tahu Faris telah dibawa Reza.

Dia menemukan permintaan tolong cucunya sendiri.

Dan tetap diam.

Keesokan harinya aku menelepon pengacaraku.

Bukan untuk menuntut hukuman lebih berat.

Bukan untuk membalas dendam.

Aku hanya meminta satu hal.

Tidak ada lagi pertemuan antara Faris dan Bu Marni sampai anakku sendiri merasa siap.

Malam itu, setelah Faris tertidur, aku duduk di ruang tamu rumah baru kami.

Lampunya menyala.

Kebiasaan lama.

Aku hampir membiarkannya begitu saja.

Kemudian terdengar langkah kaki kecil.

Faris muncul sambil mengucek mata.

“Ibu belum tidur?”

“Sebentar lagi.”

Dia melihat lampu ruang tamu.

Lalu tersenyum kecil.

“Matikan saja, Bu.”

Aku menatapnya.

“Kenapa?”

“Aku sudah pulang.”

Empat kata.

Hanya itu.

Aku berdiri dan mematikan lampu.

Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, rumah kami menjadi gelap.

Dan untuk pertama kalinya, gelap tidak terasa seperti kehilangan.

Aku berjalan menuju kamar, lalu melihat tambalan roket merah di jaket Faris yang tergantung dekat pintu.

Dulu aku menjahitnya untuk menutupi sebuah lubang.

Sekarang aku mengerti bahwa tidak semua yang robek harus dibuat seperti baru.

Ada luka yang meninggalkan bekas selamanya.

Ada pengkhianatan yang tidak wajib dimaafkan hanya karena dilakukan oleh keluarga.

Dan ada rumah yang tidak ditentukan oleh siapa yang memiliki hubungan darah dengan kita.

Rumah adalah tempat kita tidak perlu takut untuk pulang.

Malam itu aku menutup pintu kamar Faris setelah memastikan dia tertidur.

Lampu ruang tamu tetap padam.

Anakku sudah pulang.

Dan akhirnya, aku juga merasa pulang.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang