Aku berdiri di balik pintu kamar vila sambil menatap gagangnya yang bergerak pelan.
“Nadira, buka pintunya. Sekarang.”
Nada Arga membuat bulu kudukku berdiri. Selama sembilan tahun menikah, aku mengenal semua jenis suaranya. Suara ketika sedang membujuk, marah, berbohong, bahkan ketika pura-pura peduli.
Yang kudengar sekarang berbeda.

Dia panik.
Aku cepat-cepat meneruskan foto surat kuasa dari Ratih ke email pribadiku, lalu menyimpan salinannya di penyimpanan daring yang hanya bisa kuakses sendiri.
Setelah itu aku menghapus notifikasi dari layar dan membuka pintu.
Arga hampir kehilangan keseimbangan karena berdiri terlalu dekat.
“Kamu kenapa mengunci pintu?”
“Aku ingin sendirian.”
Dia menatap ponsel di tanganku.
“Ngobrol sama siapa?”
Aku sengaja tersenyum lelah.
“Ratih. Dia menanyakan oleh-oleh.”
Wajah Arga mengendur sedikit.
Aku memperhatikannya baik-baik.
Lelaki di hadapanku masih memiliki wajah yang sama dengan lelaki yang kunikahi sembilan tahun lalu. Masih ada bekas luka kecil di dagunya. Masih memakai parfum yang kubelikan saat ulang tahunnya.
Namun untuk pertama kalinya aku merasa sedang melihat orang asing.
“Soal Selvi tadi…” katanya.
“Aku tidak mau membahasnya.”
“Dia memang keterlaluan. Tapi kamu tahu sifatnya.”
Aku hampir tertawa.
Beberapa menit sebelumnya dia tertawa bersama perempuan itu.
Sekarang dia berdiri di depanku dan berpura-pura menjadi suami yang memahami perasaanku.
“Selendangnya bagaimana?” tanyaku.
“Nanti aku suruh petugas mengambil.”
Aku menatap matanya.
“Kalau hilang?”
“Aku belikan yang baru.”
Kalimat itu mematikan sesuatu dalam diriku.
Bukan karena harga selendang itu mahal. Bahkan mungkin tidak sampai dua juta rupiah.
Tetapi benda peninggalan tidak memiliki pengganti.
Sama seperti kepercayaan.
Sekali rusak, kita bisa membeli sesuatu yang bentuknya mirip, tetapi tidak pernah mendapatkan benda yang sama.
“Baik,” jawabku.
Arga tampak bingung karena aku tidak marah.
“Kamu tidak apa-apa?”
“Cuma capek.”
Dia mengusap lenganku.
Dulu sentuhan itu menenangkanku.
Sekarang aku harus menahan diri agar tidak mundur.
“Malam ini kita makan bersama, ya. Jangan bikin suasana liburan rusak hanya karena Selvi.”
Aku mengangguk.
Justru aku ingin mereka semua menikmati malam itu.
Karena mungkin itu adalah malam terakhir mereka bisa duduk di satu meja dan merasa rencana mereka berjalan sempurna.
Begitu Arga pergi, aku menelepon Ratih.
“Apa maksudmu ini lebih besar daripada rumah?”
Ratih menarik napas.
“Surat kuasa itu diajukan sebagai bagian dari dokumen pendukung fasilitas pembiayaan perusahaan.”
“Perusahaan Arga?”
“Bukan.”
Aku terdiam.
“PT Sagara Prima Konsultan.”
Nama itu lagi.
Ratih melanjutkan, “Aku minta orangku memeriksa dokumen publik dan beberapa berkas yang bisa diakses secara legal. Ada transaksi yang polanya aneh. Rumahmu tampaknya mau dijadikan jaminan untuk fasilitas kredit yang nilainya jauh lebih besar daripada yang pernah Arga ceritakan.”
“Berapa?”
“Sekitar enam miliar.”
Aku duduk di tepi tempat tidur.
“Kenapa mereka membutuhkan rumahku?”
“Karena perusahaan itu hampir tidak punya aset.”
Aku menekan pelipis.
“Siapa pemilik sebenarnya?”
“Di dokumen, Rendra. Tapi ada hal lain. Beberapa pembayaran dari perusahaan itu mengalir ke CV Mahitala Persada.”
“Yang alamatnya sama.”
“Iya.”
“Pemiliknya?”
Ratih terdiam sesaat.
“Selvi.”
Aku menutup mata.
Tiba-tiba semua potongan yang sebelumnya tampak terpisah menyatu.
Perjalanan bisnis Arga.
Transfer yang katanya untuk investasi.
Selvi yang mendadak mampu membeli mobil baru tahun lalu meskipun bisnis onlinenya hampir tidak pernah aktif.
Dan liburan Bali ini.
Arga yang membayar vila.
Setidaknya begitu yang dia katakan.
“Ratih, kalau mereka memalsukan tanda tanganku, kenapa berani sejauh ini?”
“Karena mereka menganggap kamu tidak akan memeriksa.”
Kalimat itu menyakitkan karena benar.
Bukan karena aku bodoh.
Karena aku percaya.
Sore itu aku kembali ke kolam.
Selendang ibuku sudah diambil dan dijemur di atas kursi.
Warnanya sedikit pudar karena klorin.
Aku mengambilnya tanpa berkata apa-apa.
Selvi sedang berbaring di sebelah Arga.
Ketika melihatku, dia tersenyum.
“Sudah ketemu tuh barang berharganya.”
Aku melipat selendang itu perlahan.
“Terima kasih sudah mengingatkanku betapa berharganya benda ini.”
Selvi tertawa kecil.
Dia tidak memahami maksudku.
Malamnya kami makan di restoran vila.
Tante Mira terus berbicara tentang betapa dekatnya keluarga kami.
“Kalau keluarga kompak begini, bisnis juga gampang berkembang,” katanya.
Aku melihat Arga.
Tangannya berhenti sesaat di atas gelas.
“Bisnis apa, Tante?” tanyaku santai.
Selvi langsung menjawab, “Ya bisnis keluarga secara umum.”
Aku tersenyum.
“Kirain ada bisnis baru.”
Arga menatapku.
Hanya sepersekian detik.
Tetapi cukup.
Dia takut.
Aku sengaja mengganti topik.
Malam itu Arga tidur lebih cepat. Aku menunggu napasnya teratur, lalu bangun perlahan.
Laptopnya tidak lagi ditinggalkan terbuka.
Sekarang ada kata sandi.
Aku tidak mencoba membukanya.
Aku tidak membutuhkannya.
Sebelum pergi ke Bali, Arga memberiku sebuah map berisi dokumen perusahaan karena dia ingin aku “sekadar mengecek angka.”
Map itu masih berada di tas kerjaku.
Aku membukanya.
Pada halaman terakhir salah satu proposal pembiayaan, aku menemukan sesuatu yang sebelumnya kulewatkan.
Daftar penggunaan dana.
Pembelian peralatan.
Ekspansi kantor.
Modal kerja.
Kemudian sebuah item senilai hampir dua miliar rupiah untuk “jasa konsultasi pengembangan usaha”.
Penerima pembayaran adalah CV Mahitala Persada.
Perusahaan Selvi.
Aku memotretnya.
Kemudian mataku berhenti pada sebuah halaman lampiran.
Ada tanda tangan persetujuan pasangan.
Namaku.
Palsu lagi.
Kali ini aku tidak merasa sedih.
Aku merasa marah.
Dan kemarahan yang dingin jauh lebih berguna daripada tangisan.
Keesokan paginya aku berpura-pura sakit dan mengatakan ingin pulang lebih cepat ke Jakarta.
Arga langsung menolak.
“Kenapa buru-buru? Tiket kita lusa.”
“Ada pekerjaan.”
“Kerjaan lagi.”
“Aku harus menghadiri rapat audit.”
Kata audit membuat ekspresinya berubah sedikit.
Selvi yang sedang sarapan ikut menyela.
“Kerja bisa nanti, Nad. Sekali-sekali santai.”
Aku menatapnya.
“Ada orang yang justru kehilangan banyak hal karena terlalu santai.”
Senyumnya hilang.
Aku pulang siang itu sendirian.
Dari bandara aku tidak menuju apartemen tempatku tinggal bersama Arga.
Aku langsung menemui Ratih.
Di ruang kantornya sudah ada dua orang.
Seorang notaris yang pernah menangani dokumen warisan keluargaku dan seorang spesialis pemeriksaan dokumen.
Tiga jam kemudian, dugaan kami semakin kuat.
Tanda tangan pada surat kuasa bukan milikku.
Lebih buruk lagi, terdapat salinan dokumen identitasku yang seharusnya tidak pernah dimiliki Selvi.
“Aku tahu dari mana mereka mendapatkannya,” kataku.
Dua tahun lalu Tante Mira pernah meminta salinan KTP seluruh anggota keluarga untuk pengurusan administrasi tanah milik kakek.
Aku mengirimkannya.
Ratih bersandar.
“Sekarang kita punya pemalsuan dokumen, dugaan penipuan, dan percobaan menggunakan aset tanpa persetujuan pemilik.”
“Aku ingin menghentikan rumahnya dulu.”
“Itu sudah dilakukan. Aku sudah mengirim pemberitahuan resmi bahwa kamu tidak pernah memberikan kuasa menjual atau menjaminkan properti tersebut.”
Aku mengangguk.
“Jangan lakukan yang lain dulu.”
Ratih menatapku.
“Kamu punya rencana?”
“Aku ingin tahu seberapa jauh mereka berani pergi kalau mengira aku belum tahu.”
Dua hari kemudian Arga pulang.
Dia masuk apartemen sambil membawa cokelat dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
“Sudah baikan?”
“Sudah.”
“Selvi juga merasa bersalah.”
Aku hampir tersedak mendengarnya.
Malam itu Arga kembali membicarakan rumah Dago.
Katanya ada peluang investasi yang harus segera diambil.
“Kita cuma butuh rumah itu sebagai jaminan sementara.”
Aku meletakkan sendok.
“Kamu pernah bilang rumah itu tidak produktif.”
“Ya memang.”
“Kalau begitu jual saja apartemenmu.”
Wajahnya menegang.
“Itu beda.”
“Bedanya?”
“Apartemen itu aset kita.”
Aku menatapnya lama.
“Rumah Dago juga asetku.”
Kata terakhir sengaja kutekankan.
Arga tertawa kaku.
“Kita suami istri, Nad. Jangan bicara kayak orang asing.”
Ironis.
Lelaki yang memalsukan tanda tanganku sedang mengajariku arti pernikahan.
“Aku pikir-pikir dulu,” kataku.
Tiga hari kemudian Arga mengatakan ada pertemuan keluarga di rumah Tante Mira.
Aku datang.
Selvi sudah berada di sana bersama ibunya dan seorang lelaki yang langsung kukenal dari foto profil perusahaan.
Rendra Pratama.
Mereka menyebut pertemuan itu diskusi investasi.
Di atas meja sudah tersedia dokumen.
Arga duduk di sampingku.
“Nad, ini kesempatan bagus. Tinggal tanda tangan.”
Aku membolak-balik halaman.
Dokumen baru.
Kali ini lengkap.
Mereka ingin aku menandatangani persetujuan menjaminkan rumah Dago.
Mungkin surat palsu sebelumnya gagal diproses sehingga mereka membutuhkan tanda tanganku yang asli.
“Aku mau baca.”
Selvi mendengus.
“Ya ampun, Nadira. Suami sendiri kok dicurigai.”
Aku menatapnya.
“Memangnya kenapa kamu yang tersinggung?”
Ruangan langsung sunyi.
Arga memegang lenganku.
“Sudahlah.”
Aku menarik tanganku.
Kemudian mengeluarkan sebuah map dari tas.
Aku meletakkannya di meja.
“Baik. Sebelum aku tanda tangan, mungkin kita bahas beberapa dokumen lain.”
Wajah Arga kehilangan warna.
Aku mengeluarkan foto surat kuasa palsu.
Lalu proposal pembiayaan.
Kemudian invoice CV Mahitala.
Satu demi satu.
Selvi berdiri.
“Kamu ngubek-ngubek barang Arga?”
“Tidak perlu.”
Aku menunjuk surat kuasa.
“Aku cuma perlu melihat tanda tanganku sendiri dipalsukan.”
Tante Mira langsung berseru, “Jangan menuduh sembarangan!”
Aku mengeluarkan laporan pemeriksaan tanda tangan.
“Sudah diperiksa.”
Rendra mulai mengemasi barangnya.
Aku menoleh kepadanya.
“Duduk, Pak Rendra.”
“Aku tidak ada urusan keluarga.”
“Benar. Urusan Anda bisnis.”
Pintu rumah terbuka.
Ratih masuk bersama dua rekannya.
Ekspresi Arga berubah total.
“Nadira, kamu bawa pengacara?”
“Aku membawa orang yang memastikan tidak ada lagi yang menyebut kejahatan sebagai urusan keluarga.”
Selvi mulai menangis.
Untuk pertama kalinya aku melihat kesombongannya runtuh.
Arga menarikku ke samping.
“Nad, dengarkan aku. Ini bisa dijelaskan.”
“Silakan.”
“Bisnisku sedang bermasalah. Aku cuma butuh dana sementara.”
“Lalu Selvi?”
Dia diam.
Aku mengeluarkan ponsel.
Foto notifikasi percakapan mereka muncul di layar.
Setelah dananya cair, kamu tidak perlu pura-pura jadi suami baik lagi.
Arga menunduk.
Tante Mira memandang putrinya dengan wajah pucat.
“Selvi?”
Selvi justru berteriak.
“Dia yang mulai! Arga bilang pernikahan mereka sudah selesai sejak lama!”
Aku memandang suamiku.
Sembilan tahun pernikahan berakhir bukan dengan tangisan, melainkan keheningan yang sangat panjang.
Kemudian Ratih mengatakan sesuatu yang membuat semua orang membeku.
“Ada satu masalah lagi.”
Dia mengeluarkan dokumen lain.
PT Sagara Prima ternyata memiliki utang yang jauh lebih besar daripada yang kami perkirakan. Sejumlah invoice yang digunakan untuk mendapatkan pembiayaan diduga tidak merepresentasikan transaksi yang sebenarnya.
Rendra langsung berdiri.
“Saya tidak tahu apa-apa!”
Arga menatapnya.
“Kamu bilang semuanya aman!”
Mereka mulai saling menyalahkan.
Aku hanya duduk.
Untuk pertama kalinya, aku memahami sesuatu.
Kebohongan jarang runtuh karena seseorang menyerangnya.
Kebohongan runtuh ketika orang-orang yang membangunnya mulai menyelamatkan diri sendiri.
Beberapa minggu berikutnya menjadi periode paling melelahkan dalam hidupku.
Aku mengajukan gugatan cerai.
Proses terkait dugaan pemalsuan dokumen berjalan melalui jalur hukum.
Rumah Dago berhasil diamankan dari transaksi apa pun yang tidak kusetujui.
Aku juga pindah dari apartemen.
Namun kejutan terakhir datang dua bulan kemudian.
Ratih meneleponku.
“Nad, ada sesuatu tentang rumah Dago.”
Jantungku langsung berdegup cepat.
“Apa lagi?”
“Bukan masalah. Justru sebaliknya.”
Ketika kami memeriksa arsip lama keluarga untuk memastikan riwayat kepemilikan, Ratih menemukan sebuah amplop yang tersimpan bersama dokumen warisan.
Di bagian depan tertulis namaku dengan tulisan tangan ibu.
Aku membukanya di ruang tamu rumah Dago.
Di dalamnya hanya ada selembar surat.
Ibu menulis surat itu beberapa bulan sebelum meninggal.
Beliau mengatakan bahwa rumah tersebut bukan sekadar bangunan.
Ayahku pernah mengalami kegagalan bisnis besar ketika aku masih kecil. Beberapa kerabat mendorong ibu menjual rumah untuk menyelamatkan usaha ayah.
Ibu menolak.
Usaha itu akhirnya tetap bangkrut.
Tetapi rumah kami selamat.
Ibu menulis bahwa beberapa tahun kemudian ayah mengaku keputusan itu menyelamatkan keluarga kami.
Karena uang bisa dicari kembali.
Tempat untuk pulang tidak selalu bisa.
Pada kalimat terakhir, pandanganku kabur.
Jangan pertahankan rumah ini demi Ibu. Pertahankanlah selama rumah ini masih menjadi tempat di mana kamu tidak perlu mengecilkan dirimu agar orang lain merasa besar. Kalau suatu hari rumah ini tidak lagi menjadi tempat seperti itu, kamu bebas melepaskannya.
Aku menangis untuk pertama kalinya sejak Bali.
Bukan untuk Arga.
Bukan untuk pernikahanku.
Aku menangisi perempuan yang sudah meninggal enam tahun lalu tetapi entah bagaimana masih berhasil memberiku nasihat tepat ketika aku paling membutuhkannya.
Beberapa bulan kemudian aku pindah kembali ke rumah Dago.
Aku merenovasi kamar ibu, memperbaiki taman, dan mengecat ulang ruang makan.
Selendang biru yang dilempar Selvi ke kolam kubawa ke tempat restorasi tekstil.
Noda klorinnya tidak bisa hilang seluruhnya.
Ada bagian kecil yang warnanya tetap lebih pucat.
Awalnya aku kecewa.
Kemudian aku memutuskan membiarkannya.
Aku membingkai selendang itu dan menggantungnya di dekat tangga.
Suatu sore Ratih datang dan memandangnya cukup lama.
“Kenapa tidak disimpan di lemari saja?”
Aku tersenyum.
“Karena aku tidak mau lagi menyembunyikan sesuatu hanya karena pernah dirusak orang.”
Arga beberapa kali mencoba menghubungiku setelah perceraian berjalan.
Aku tidak membalas.
Selvi mengirim satu pesan panjang berisi permintaan maaf.
Aku membacanya sekali lalu menghapusnya.
Memaafkan, akhirnya kusadari, tidak selalu berarti membuka pintu agar seseorang bisa kembali masuk.
Kadang memaafkan berarti menutup pintu tanpa lagi berdiri di baliknya sambil marah.
Setahun setelah kejadian di Bali, aku duduk sendirian di teras rumah Dago ketika hujan turun.
Rumah itu tidak lagi terasa seperti makam kenangan.
Ia hidup lagi.
Aku memandang melalui jendela dan melihat selendang ibu tergantung di dinding.
Bekas kerusakannya masih terlihat ketika terkena cahaya.
Dan anehnya, justru bagian itulah yang paling kusukai.
Karena setiap kali melihatnya, aku teringat hari ketika Selvi mengira dia sedang mempermalukanku dengan melempar peninggalan ibuku ke kolam.
Padahal tanpa dia sadari, tindakannya memberiku sesuatu yang jauh lebih berharga.
Alasan untuk berhenti berpura-pura bahwa aku masih memiliki keluarga yang utuh.
Keberanian untuk melihat suamiku sebagaimana adanya.
Dan kesempatan untuk menyelamatkan satu-satunya rumah yang sejak awal tidak pernah dimaksudkan sebagai warisan berupa tanah dan tembok.
Rumah itu adalah pesan terakhir ibuku.
Bahwa cinta tidak pernah meminta kita menyerahkan harga diri sebagai bukti kesetiaan.
Dan keluarga yang sesungguhnya bukanlah orang-orang yang terus menyakiti kita lalu berkata, “Namanya juga keluarga.”
Keluarga adalah tempat di mana sesuatu yang kita cintai tidak perlu dilempar ke kolam terlebih dahulu agar orang lain memahami betapa berharganya itu.
