“Siapa yang mengirim pesan selarut ini?”
Suara Arman terdengar biasa, tetapi ada sesuatu dalam tatapannya yang membuat jantungku berdetak terlalu keras.
Aku mematikan layar ponsel sebelum dia sempat melihat nama Siska.
“Grup kantor.”
Arman bersandar di kusen pintu.

“Jam hampir tengah malam.”
“Ada masalah dengan laporan investor.”
Dia tidak menjawab. Matanya turun ke tanganku, lalu kembali ke wajahku. Selama delapan tahun menikah, aku hafal cara suamiku tersenyum ketika santai, ketika kesal, bahkan ketika berbohong kecil. Namun malam itu aku melihat ekspresi yang belum pernah kukenal.
Seperti seseorang yang sedang menghitung risiko.
“Aku pikir kamu harus istirahat,” katanya akhirnya.
“Aku juga.”
Aku melewatinya menuju kamar tidur.
Saat berbaring di sebelahnya, aku tidak tidur sedikit pun.
Pukul tiga pagi, aku mendengar napas Arman berubah teratur. Aku membuka mata perlahan, mengambil ponsel, lalu menghapus percakapanku dengan Siska. Setelah itu aku turun dari tempat tidur dan menuju ruang kerja.
Syal biru yang tadi diam-diam kubawa pulang masih berada di dalam tas belanja. Pak Hadi sudah menjahit kembali kelimannya agar dari luar tidak terlihat pernah dibuka. Sampel yang ditemukan di dalamnya sudah bersama Siska.
Aku seharusnya membuang syal itu.
Namun tiba-tiba aku mendapat ide.
Aku menyimpannya di tempat yang tidak pernah disentuh Arman.
Brankas pribadi ayahku.
Brankas itu tersembunyi di balik panel kayu ruang kerja. Arman tahu brankas tersebut ada, tetapi dia tidak mengetahui kombinasi angkanya. Sejak ayah meninggal, aku menggunakannya untuk menyimpan dokumen keluarga dan beberapa surat penting.
Aku memasukkan syal ke dalamnya, mengunci panel, lalu kembali ke kamar.
Pagi berikutnya, aku terbangun karena suara benda jatuh.
Jam menunjukkan pukul enam lewat dua belas.
Arman tidak ada di sampingku.
Aku keluar kamar dan menemukan pintu lemari pakaian terbuka. Beberapa kotak tergeletak di lantai.
Arman sedang membongkar laci.
“Apa yang kamu cari?”
Tubuhnya tersentak.
Dia menoleh.
“Dasi.”
“Dasi ada di sebelah kanan.”
“Oh.”
Aku berdiri diam.
Dia menutup laci terlalu cepat.
Saat sarapan, Arman terus memegang ponselnya. Dia hanya makan dua suap roti.
Kemudian dia bertanya tanpa menatapku.
“Kamu benar-benar yakin syalnya hilang?”
“Iya.”
“Mungkin kamu memasukkannya ke tas tanpa sadar.”
“Sudah aku periksa.”
“Mobil kantor?”
“Kemarin aku tidak naik mobil kantor.”
Dia mengangguk.
Lima menit kemudian dia bertanya lagi.
“Kalau orang menemukannya, kira-kira dikembalikan nggak?”
Aku menaruh cangkir.
“Kenapa kamu peduli sekali?”
Arman tersenyum.
“Aku sudah bilang. Itu punya nilai sentimental.”
“Kalau begitu kita beli lagi.”
Dia menatapku.
Untuk sesaat wajahnya benar-benar kosong.
Kemudian sesuatu terjadi yang tidak pernah kulupakan.
Ponselnya berdering.
Nama penelepon tidak terlihat dari tempatku duduk, tetapi Arman langsung berdiri dan berjalan ke balkon.
Aku tidak mengikuti.
Aku hanya duduk diam dan mendengarkan dari pintu kaca yang sedikit terbuka.
“Belum ketemu.”
Suara orang di seberang tidak terdengar.
Arman merendahkan suaranya.
“Aku sudah cari di tasnya.”
Darahku membeku.
Beberapa detik kemudian dia berkata,
“Kalau lapisannya masih ada, berarti masalahnya bukan cuma aku.”
Aku menggenggam ujung meja.
“Jangan datang ke sini. Aku akan urus.”
Lalu satu kalimat berikutnya membuat seluruh potongan teka-teki mulai menyatu.
“Kita cuma butuh dua minggu lagi sampai rapat pemegang saham.”
Arman menutup telepon.
Aku menunduk ketika dia kembali ke ruang makan.
Saat itu aku tahu satu hal.
Apa pun yang dilakukan Arman kepadaku, tujuannya berhubungan dengan perusahaan.
Aku berpura-pura berangkat kerja seperti biasa.
Begitu mobil kantor keluar dari area apartemen, aku meminta sopir mengubah tujuan.
Laboratorium tempat Siska bekerja berada di kawasan industri kecil di Jakarta Selatan.
Siska sudah menungguku di ruang konsultasi.
Begitu aku masuk, dia menutup pintu.
“Nad, sebelum aku jelaskan, aku perlu tahu. Kamu pakai syal itu berapa lama?”
“Hampir setiap hari selama delapan bulan.”
Wajahnya berubah.
“Dan benda di dalamnya?”
“Aku baru tahu kemarin.”
Siska mendorong sebuah laporan ke arahku.
“Ada residu obat pada lapisan itu.”
Aku membaca nama kimia yang tidak kukenal.
“Apa ini?”
“Bahan aktif yang bekerja melalui kulit. Dalam dosis medis tertentu, senyawa sejenis digunakan dalam terapi khusus. Masalahnya, konsentrasi pada sampelmu tidak normal untuk benda tekstil.”
“Apa efeknya?”
“Pusing. Mual. Tremor ringan. Gangguan konsentrasi. Kebingungan. Pada paparan berulang, bisa memengaruhi fungsi kognitif.”
Aku merasa ruangan bergeser.
Semua kejadian selama beberapa bulan terakhir muncul satu per satu.
Angka yang kulupakan.
Presentasi yang kacau.
Pertemuan investor ketika pikiranku kosong.
Dan Arman yang selalu berada di sana untuk mengambil alih.
“Bisa membunuh?”
Siska menatapku lama.
“Dengan konsentrasi yang kami temukan, aku nggak bisa menyimpulkan begitu. Tapi seseorang jelas ingin kamu terus terpapar.”
Aku menelan ludah.
“Ada hal lain?”
“Ada.”
Siska mengeluarkan foto hasil mikroskopis.
“Lapisan ini bukan satu lembar yang sama sejak awal. Ada bekas perekat lama dan baru. Artinya benar, bahan itu kemungkinan sudah diganti beberapa kali.”
Laundry khusus.
Setiap tiga atau empat minggu Arman selalu membawa syal itu pergi.
Aku menutup mata.
Siska menyentuh tanganku.
“Kamu harus lapor polisi.”
“Belum.”
“Nadira.”
“Kalau aku lapor sekarang, Arman akan tahu aku sudah mengerti.”
“Justru itu.”
“Aku perlu tahu siapa orang di belakangnya.”
Siska menggeleng.
“Jangan bermain detektif.”
“Aku nggak akan.”
Aku menatap laporan di meja.
“Aku akan membuat dia menunjukkan semuanya sendiri.”
Hari itu aku pergi ke kantor dan meminta sekretaris menjadwalkan rapat direksi darurat tiga hari lagi.
Aku juga menghubungi pengacara keluarga, Pak Reza, tanpa menjelaskan detail melalui telepon.
Kami bertemu sore itu di kantor lamanya di Menteng.
Setelah melihat hasil laboratorium, wajahnya mengeras.
“Kamu bilang rapat pemegang saham dua minggu lagi?”
“Iya.”
“Ada agenda apa?”
“Restrukturisasi kewenangan operasional kalau kondisi kesehatanku dianggap mengganggu kemampuan memimpin.”
Pak Reza terdiam.
“Itu agenda baru?”
“Diangkat bulan lalu oleh dua komisaris independen.”
“Siapa yang mengusulkan?”
Aku sudah tahu jawabannya.
“Arman.”
Pak Reza bersandar.
“Kalau rapat menyatakan kamu tidak mampu menjalankan fungsi direktur utama, kepemilikan saham kamu tetap ada. Tapi kewenangan harian bisa dialihkan.”
“Kepada siapa?”
“Direktur pelaksana sementara.”
Aku memikirkan siapa yang selama berbulan-bulan duduk dalam rapat tanpa jabatan resmi tetapi perlahan menjadi pusat keputusan.
Arman.
Namun ada masalah.
“Dia bukan direktur.”
“Belum.”
Pak Reza membuka dokumen lama peninggalan ayahku.
“Kalau kamu dianggap tidak kompeten secara medis, perwakilan atas saham keluarga bisa dijalankan sesuai ketentuan wali yang tercantum dalam perjanjian.”
Aku membaca nama yang tertulis.
Napas langsung berhenti.
Arman Pradipta.
“Ayah memasukkan dia?”
“Setelah kalian menikah lima tahun. Ayahmu percaya kepadanya.”
Aku tertawa getir.
“Ternyata aku bukan satu-satunya.”
Malam itu aku pulang membawa keputusan.
Aku akan membuat Arman percaya rencananya berhasil.
Besok paginya aku berpura-pura pusing hebat di dapur.
Gelas kulepaskan dari tangan.
Pecahannya berhamburan.
Arman berlari menghampiri.
“Nad!”
Aku memegang meja.
“Aku nggak tahu kenapa kepala aku…”
Wajahnya panik.
Tetapi hanya sesaat.
Setelah itu, aku melihat sesuatu yang lebih mengerikan.
Kelegaan.
Dia memelukku.
“Kamu harus istirahat.”
“Aku mungkin nggak sanggup menghadiri rapat Jumat.”
“Jangan pikirkan kantor.”
Dia mengusap rambutku.
“Aku bisa bantu.”
Malamnya, ketika berpura-pura tidur, aku melihat Arman mengambil laptopku.
Dia mencoba membuka akun perusahaan.
Tidak berhasil.
Keesokan harinya aku sengaja meninggalkan tablet kerja di ruang keluarga dengan aplikasi perekam suara aktif.
Aku pergi selama dua jam.
Saat kembali, rekaman itu berisi percakapan yang mengubah semuanya.
Suara Arman terdengar jelas.
“Dia makin parah.”
Lalu suara perempuan.
Aku mengenalinya.
Maya Santoso.
Direktur keuangan Arunika Data Nusantara.
Perempuan yang sudah bekerja bersamaku selama enam tahun.
“Dokumennya siap,” kata Maya.
“Dokter?”
“Belum. Kita nggak bisa paksa hasil pemeriksaan.”
Arman terdengar kesal.
“Kita nggak perlu hasil sempurna. Cukup buat direksi percaya dia perlu cuti.”
Maya menjawab,
“Aku nggak suka bagian syal itu.”
Sunyi.
Kemudian Arman berkata,
“Kamu menikmati uangnya.”
“Aku setuju mengambil perusahaan, bukan meracuni dia.”
Aku menutup mulut agar tidak berteriak.
Maya tahu.
Semua makan siang bersama.
Semua laporan yang dia bawakan ketika aku mulai sulit fokus.
Semua kali dia berkata aku harus lebih percaya pada Arman.
Ternyata itu bukan perhatian.
Itu persiapan.
Namun bagian paling mengejutkan muncul beberapa detik kemudian.
“Aku mau berhenti,” kata Maya.
“Kamu sudah terlalu jauh.”
“Arman, konsentrasinya semakin tinggi.”
“Karena yang pertama terlalu lambat.”
“Kalau Nadira kenapa-kenapa?”
“Aku nggak butuh dia mati!”
Arman membentak.
Aku memejamkan mata.
“Aku cuma butuh semua orang percaya dia nggak sanggup memimpin.”
Rekaman berakhir beberapa menit kemudian.
Jumat pagi, ruang rapat utama lantai dua puluh tiga dipenuhi anggota direksi dan komisaris.
Aku datang terlambat sepuluh menit.
Tanpa syal.
Arman langsung berdiri.
“Kamu seharusnya di rumah.”
“Aku merasa lebih baik.”
Maya yang duduk di sisi kanan meja mendadak pucat.
Aku duduk di kursi utama.
Rapat dimulai.
Arman berbicara tentang kesehatanku, tentang serangkaian kesalahan kecil dalam beberapa bulan terakhir, tentang pentingnya “kesinambungan kepemimpinan”.
Semua disampaikan dengan suara lembut.
Seolah seorang suami sedang melindungi istrinya.
Kemudian salah satu komisaris bertanya,
“Menurut Anda, siapa yang paling tepat menjalankan fungsi sementara?”
Arman menunduk rendah.
“Kalau direksi meminta, saya bersedia membantu.”
Aku hampir kagum.
Dia benar-benar sudah menyiapkan panggungnya.
Aku menekan tombol di laptop.
Suara Arman memenuhi ruang rapat.
“Dia makin parah.”
Wajahnya berubah.
Kemudian suara Maya terdengar.
“Dokumennya siap.”
Tidak ada satu pun orang bergerak.
Ketika bagian tentang syal diputar, Maya mulai menangis.
Arman berdiri.
“Matikan itu.”
Aku menatapnya.
“Kenapa?”
“Nadira, kamu nggak mengerti konteksnya.”
Aku mengeluarkan kantong bukti dari tas.
Di dalamnya terdapat syal biru.
Arman membeku.
“Kamu bilang hilang.”
“Aku berbohong.”
Untuk pertama kalinya selama delapan tahun, aku melihat suamiku kehilangan kendali sepenuhnya.
Dia mundur selangkah.
“Dari mana kamu…”
“Pak Hadi menemukannya.”
Maya menutup wajah.
Aku melanjutkan,
“Laboratorium menemukan residu zat yang menyebabkan gangguan kognitif. Polisi juga sudah menerima salinan hasilnya.”
Wajah Arman putih.
Dia melihat ke pintu.
Dua penyidik yang menunggu di luar masuk bersama Pak Reza.
Arman menatapku seolah aku baru saja mengkhianatinya.
Padahal seluruh pernikahan kami ternyata dibangun di atas pengkhianatannya.
“Nadira, dengarkan aku.”
“Aku sudah mendengar cukup banyak.”
“Aku nggak pernah mau membunuhmu.”
Kalimat itu membuat ruangan semakin sunyi.
Aku tertawa pelan.
“Apakah itu pembelaanmu?”
Arman menelan ludah.
“Aku cuma ingin kamu mundur.”
“Dengan merusak pikiranku?”
“Perusahaan itu seharusnya jadi milik kita.”
“Tidak. Itu milik orang-orang yang membangunnya.”
Wajahnya mengeras.
“Delapan tahun aku hidup di belakang namamu. Semua orang bilang aku suami Nadira. Aku membantu kamu, aku kenalkan investor, aku masuk ke lingkaran bisnis kamu. Tapi saat ayahmu meninggal, aku tetap bukan siapa-siapa.”
Saat itulah aku akhirnya mengerti.
Bukan uang yang paling dia inginkan.
Dia ingin menjadi aku.
Nama.
Kekuasaan.
Pengakuan.
Namun ketika polisi hendak membawanya keluar, Maya tiba-tiba berdiri.
“Tunggu.”
Semua mata beralih kepadanya.
Dengan tangan gemetar, dia mengambil flashdisk dari tas.
“Ada sesuatu yang Nadira belum tahu.”
Dia menaruhnya di meja.
“Rencana ini tidak dimulai dari Arman.”
Aku menatapnya.
“Apa?”
Maya menangis.
“Dua tahun lalu, Arman menerima tawaran dari seseorang yang ingin membeli saham perusahaan secara diam-diam setelah kendali operasional berpindah.”
“Siapa?”
Maya menatap salah satu kursi komisaris.
Seorang pria berusia enam puluhan yang sejak tadi tidak bicara.
Bambang Prasetyo.
Sahabat lama ayahku.
Orang yang bahkan memegang tanganku saat pemakaman ayah.
Wajah Pak Bambang kehilangan warna.
Maya berbisik,
“Dia yang mengatur semuanya.”
Ruangan meledak oleh suara.
Pak Bambang mencoba berdiri, tetapi salah satu penyidik menahannya.
Beberapa minggu kemudian penyelidikan menemukan transaksi, pesan terenkripsi, pembayaran kepada pemasok bahan kimia, serta rencana pengambilalihan perusahaan melalui perusahaan cangkang.
Arman memang memasukkan lapisan itu ke syalku.
Tetapi Bambang yang memberinya akses, uang, dan janji kepemilikan saham setelah aku tersingkir.
Maya akhirnya bekerja sama dengan penyidik dan menyerahkan seluruh dokumen.
Aku tidak memaafkannya.
Namun kesaksiannya membuat jaringan itu terbongkar sepenuhnya.
Arman dan aku bercerai.
Berbulan-bulan setelah semuanya selesai, aku kembali ke toko jahit Pak Hadi.
Dia masih duduk di meja kecilnya, menjahit celana pelanggan di bawah lampu putih yang sama.
Ketika melihatku, dia tersenyum.
“Sudah sehat, Mbak?”
Aku mengangguk.
“Jauh lebih baik.”
Aku membawa sebuah kotak.
Di dalamnya ada syal biru yang sudah dinyatakan tidak lagi diperlukan sebagai barang bukti.
Pak Hadi melihatnya lama.
“Mau diperbaiki?”
“Tidak.”
Aku menggeleng.
“Saya ingin Bapak potong.”
Dia menatapku heran.
“Jadi apa?”
Aku tersenyum.
“Jadi kain kecil saja. Untuk membungkus sesuatu.”
Beberapa hari kemudian, aku meletakkan potongan kain biru itu di dalam brankas ayahku.
Bukan sebagai kenangan tentang Arman.
Bukan pula sebagai simbol pengkhianatan.
Aku menyimpannya bersama satu surat yang dulu ditulis ayah sebelum meninggal.
Ada satu kalimat yang baru benar-benar kupahami setelah semuanya terjadi.
Orang yang paling berbahaya bukan selalu orang yang berdiri di depanmu sambil membawa senjata.
Kadang dia berdiri di belakangmu setiap pagi, mengangkat rambutmu dengan lembut, memasangkan sesuatu di lehermu, lalu mencium keningmu sambil berkata bahwa semua itu dilakukan karena cinta.
