Pagi berikutnya, Nabila mengambil keputusan yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan akan ia buat selama tujuh tahun mencintai Dion.
Ia tidak akan pulang sebagai istri.
Ia akan pulang sebagai seseorang yang sedang mencari bukti.
Siska datang ke rumah sakit pukul sembilan pagi dengan wajah pucat dan dua gelas kopi yang bahkan tidak disentuh siapa pun.
Begitu melihat Nabila, perempuan itu langsung memeluknya hati-hati.
“Aku sudah lihat foto pesan yang kamu kirim semalam,” katanya pelan. “Kita harus lapor polisi soal ini juga.”
Nabila mengangguk.
“Aku sudah kirim salinannya ke emailku, ke kamu, dan ke penyimpanan cloud.”
Siska menatapnya beberapa detik.
“Kamu sudah berpikir sejauh itu?”
“Aku baru kehilangan dua anakku, Sis.”
Suara Nabila terdengar tenang, tetapi justru ketenangan itulah yang membuat Siska merinding.
“Aku nggak mau kehilangan kesempatan untuk tahu siapa yang melakukan ini kepada mereka.”
Dokter sebenarnya menyarankan Nabila menjalani observasi satu hari lagi.
Namun setelah kondisinya dinilai cukup stabil, ia diizinkan keluar dengan syarat tidak melakukan aktivitas berat dan segera kembali jika mengalami perdarahan atau nyeri hebat.
Dion mengirim pesan tiga kali.
Tak satu pun menanyakan bagaimana kondisi Nabila.
Pesan pertama berbunyi, “Kamu jangan memperpanjang masalah ini.”
Pesan kedua, “Ibu syok karena kamu laporkan polisi.”
Pesan ketiga bahkan membuat Siska menahan napas.
“Pulang saja. Kita bicarakan sebagai keluarga.”
Nabila membaca pesan itu tanpa ekspresi.
Lalu mematikan layar.
“Kita pulang,” katanya.
Siska langsung menoleh.
“Ke rumah Dion?”
“Iya.”
“Nabila, aku bilang jangan ke sana.”
“Aku nggak akan sendirian.”
Selain Siska, dua petugas kepolisian yang menangani laporannya ikut mendampingi. Nabila menjelaskan bahwa di rumah tersebut mungkin terdapat barang pribadi, dokumen, serta perangkat elektronik yang berkaitan dengan kasusnya.
Salah satu petugas, Inspektur Arman, sudah melihat foto pesan dari Ibu Mirna.
Ia tidak banyak bicara.
Namun satu kalimatnya membuat Nabila semakin yakin.
“Kalau pesan itu asli dan ada komunikasi lain yang mendukungnya, perkara ini sudah bukan sekadar dugaan kecelakaan.”
Rumah Nabila dan Dion berdiri di kawasan perumahan modern di Bandung Utara.
Rumah dua lantai itu dibeli tiga tahun lalu.
Nama Nabila dan Dion tercantum bersama dalam dokumen kepemilikan.
Sebagian besar uang muka bahkan berasal dari hasil penjualan apartemen kecil milik Nabila sebelum menikah.
Ironisnya, ketika mobil Siska berhenti di depan rumah, barang pertama yang dilihat Nabila adalah koper merah besar di dekat pintu.
Di sampingnya terdapat dua kardus.
Pakaian perempuan menyembul dari salah satunya.
Nabila belum sempat mengetuk ketika pintu terbuka.
Dion berdiri di sana.
Wajahnya langsung berubah ketika melihat dua petugas polisi.
“Apa-apaan ini?”
Nabila tidak menjawab.
Pandangan matanya tertuju ke ruang tamu.
Di sana berdiri seorang perempuan berambut panjang dengan blus krem dan celana putih.
Usianya sekitar tiga puluh tahun.
Wajahnya cantik.
Dan anehnya, sangat familiar.
Perempuan itu membeku begitu melihat Nabila.
Dion cepat-cepat bergeser menutupi pandangan istrinya.
“Nabila, kamu salah paham.”
Nabila tertawa kecil.
Bukan karena lucu.
Namun karena kalimat itu terdengar sangat klise.
“Clarissa?”
Perempuan tersebut langsung pucat.
Dion menatap Nabila.
“Dari mana kamu tahu namanya?”
Pertanyaan itu justru menjadi jawaban.
Nabila melangkah masuk.
Rumah yang dulu terasa hangat kini terasa seperti tempat asing.
Ia baru berjalan beberapa meter ketika matanya menangkap sebuah bingkai foto di atas meja.
Foto pernikahannya dengan Dion sudah tidak ada.
Sebagai gantinya, terdapat vas bunga segar.
Nabila menoleh kepada Clarissa.
“Kamu siapa?”
Clarissa menatap Dion terlebih dahulu sebelum menjawab.
“Aku…”
“Jangan jawab kalau mau bohong.”
Suara Nabila dingin.
Clarissa menelan ludah.
“Aku teman lama Dion.”
“Teman lama bawa koper ke rumah orang yang istrinya baru kehilangan dua bayi?”
Dion langsung menyela.
“Dia cuma bantu Ibu beberapa hari.”
“Bantu apa?”
Tidak ada jawaban.
Inspektur Arman kemudian meminta Dion menyerahkan ponselnya untuk diperiksa sesuai prosedur penyelidikan.
Dion menolak.
“Ini rumah saya. Kalian nggak bisa masuk sembarangan.”
Petugas menunjukkan dokumen yang sudah disiapkan berdasarkan laporan dan bukti awal.
Wajah Dion berubah.
Saat itulah Ibu Mirna turun dari lantai dua.
Perempuan itu memakai pakaian santai dan terlihat jauh lebih sehat daripada seseorang yang katanya “syok berat”.
Begitu melihat Nabila, ia langsung memasang wajah marah.
“Kamu masih berani datang?”
Nabila menatapnya.
“Ini rumah saya.”
Ibu Mirna mencibir.
“Nggak lama lagi.”
Ruangan mendadak sunyi.
Dion langsung menoleh kepada ibunya.
“Ibu!”
Namun semuanya sudah terlambat.
Inspektur Arman memperhatikan reaksi mereka.
Nabila justru melangkah semakin dekat.
“Apa maksud Ibu?”
Mirna sadar ia baru saja keceplosan.
Ia memalingkan wajah.
“Aku cuma bilang, kalau kalian bercerai ya rumah ini akan dibagi.”
Nabila tersenyum tipis.
“Aneh.”
“Apa?”
“Saya belum pernah bilang mau cerai.”
Mirna tidak menjawab.
Petugas kemudian mulai mencatat beberapa hal.
Nabila naik ke kamar utama ditemani Siska.
Baru membuka lemari, ia terdiam.
Setengah pakaian Dion hilang.
Beberapa gaun Nabila juga sudah dimasukkan ke dalam kardus.
Di atas meja rias tergeletak map cokelat.
Nabila membukanya.
Di dalamnya terdapat salinan dokumen pengajuan perubahan kepemilikan sebuah perusahaan keluarga.
Nama Nabila tercantum pada salah satu halaman.
Ada tanda tangan yang menyerupai tanda tangannya.
Namun bukan miliknya.
Nabila membaca dokumen itu dengan napas memburu.
Perusahaan tersebut bernama Arunika Living, sebuah bisnis furnitur dan dekorasi rumah yang awalnya dirintis Nabila bersama Dion lima tahun sebelumnya.
Nabila yang membuat konsep bisnis.
Nabila pula yang menggunakan jaringan supplier dari keluarganya.
Ketika perusahaan berkembang, Dion menjadi direktur operasional.
Namun empat puluh persen saham tetap atas nama Nabila.

Dokumen di tangannya menyatakan bahwa Nabila secara sukarela menyerahkan seluruh sahamnya kepada Dion.
Tanggalnya tiga hari setelah ia jatuh dari tangga.
Padahal tiga hari setelah kejadian, Nabila masih terbaring di rumah sakit.
“Sis.”
Siska mendekat.
Begitu melihat isi dokumen, matanya membesar.
“Mereka bahkan sudah menyiapkan ini.”
Nabila memotret seluruh halaman.
Saat itulah terdengar suara gaduh dari lantai bawah.
Mereka segera turun.
Dion sedang berdebat dengan petugas.
Ponselnya telah diamankan.
Clarissa menangis di sofa.
Ibu Mirna mondar-mandir sambil menyebut semua ini sebagai penghinaan.
Inspektur Arman menghampiri Nabila.
“Bu, kami menemukan percakapan yang sudah dihapus dari perangkat Pak Dion. Sebagian masih bisa dipulihkan.”
Nabila merasa tengkuknya dingin.
“Ada apa?”
Petugas tidak langsung menjawab.
Ia menunjukkan salah satu tangkapan layar.
Percakapan antara Dion dan Ibu Mirna.
Dua minggu sebelum kejadian.
Ibu Mirna menulis, “Selama anak itu masih ada, Dion nggak mungkin bisa menceraikan dia tanpa dicurigai keluarga besar.”
Dion menjawab, “Jangan lakukan hal bodoh. Aku cuma mau dia keluar dari perusahaan dan rumah.”
Mirna membalas, “Kalau dia kehilangan bayi, kondisinya pasti lemah. Kita bisa bilang dia depresi.”
Nabila tidak bisa bernapas selama beberapa detik.
Ia membaca bagian selanjutnya.
Dion tidak membalas pesan itu.
Namun beberapa hari kemudian, ia mengirimkan file surat kuasa kepada ibunya.
“Ini dokumen yang harus dia tanda tangani nanti.”
Nabila mengangkat pandangan.
“Jadi kamu tahu.”
Dion menggeleng cepat.
“Nggak. Aku nggak tahu Ibu akan mendorongmu.”
“Tapi kamu tahu Ibumu merencanakan sesuatu.”
“Aku pikir Ibu cuma ngomong karena emosi.”
“Kamu diam.”
“Nabila…”
“Kamu diam ketika ibumu bilang kehilangan bayi bisa membuatku lemah.”
Suara Nabila mulai bergetar.
“Kamu diam ketika dia membicarakan anak-anak kita seperti hambatan.”
Dion mendekat.
“Aku salah.”
Nabila mundur.
“Jangan sentuh aku.”
Clarissa tiba-tiba berdiri.
“Aku nggak tahu soal bayi.”
Semua orang menoleh kepadanya.
Wajah perempuan itu penuh air mata.
“Aku benar-benar nggak tahu.”
Dion membentak.
“Clarissa, diam!”
Namun Clarissa justru semakin panik.
“Dia bilang kalian sudah sepakat bercerai!”
Nabila menatapnya.
Clarissa melanjutkan.
“Dion bilang kamu nggak mau punya anak lagi dan kalian cuma tinggal serumah karena urusan bisnis. Dia bilang setelah saham perusahaan selesai dialihkan, kalian akan pisah.”
Nabila tertawa pahit.
“Jadi sejak kapan kalian bersama?”
Clarissa menutup wajah.
“Delapan bulan.”
Delapan bulan.
Kehamilan Nabila baru lima bulan.
Artinya ketika Dion menangis bahagia melihat hasil tes kehamilan pertama mereka, ia sudah berselingkuh.
Ketika ia mengecat kamar bayi, ia sudah berselingkuh.
Ketika ia membelai perut Nabila sebelum tidur, ia sudah berselingkuh.
“Kenapa harus sahamku?” tanya Nabila.
Dion tidak menjawab.
Clarissa justru berkata pelan, “Karena perusahaan sedang mau dijual.”
Dion langsung membentak.
“Cukup!”
Namun semuanya sudah terbuka.
Nabila menatap Clarissa.
“Dijual ke siapa?”
Clarissa menyebut nama sebuah perusahaan investasi dari Jakarta.
Nabila mengenalnya.
Enam bulan sebelumnya, perusahaan itu pernah menawarkan akuisisi Arunika Living dengan nilai yang sangat besar.
Nabila menolak.
Ia ingin mempertahankan bisnis yang dibangunnya sendiri.
Dion ternyata tidak.
Dengan empat puluh persen saham Nabila, penjualan perusahaan tidak bisa dilakukan tanpa persetujuannya.
Kini motif itu menjadi sangat jelas.
Perselingkuhan.
Uang.
Rumah.
Perusahaan.
Dan seorang istri hamil yang dianggap menghalangi semuanya.
Polisi membawa Dion dan Ibu Mirna untuk pemeriksaan lanjutan hari itu.
Clarissa juga diminta memberikan keterangan sebagai saksi.
Namun kejutan terbesar belum datang.
Dua hari kemudian, rekaman kamera keamanan dari rumah tetangga berhasil diperoleh.
Kamera itu menghadap sebagian ke jendela besar di area tangga rumah Ibu Mirna.
Gambarnya tidak sempurna.
Namun cukup jelas.
Terlihat Nabila berdiri di tangga.
Terlihat Ibu Mirna berada dua anak tangga di atasnya.
Lalu tangan perempuan itu bergerak cepat ke arah punggung Nabila.
Tubuh Nabila jatuh.
Dan yang paling mengerikan, setelah Nabila terhempas di bordes, Ibu Mirna tidak langsung menolong.
Ia berdiri diam hampir tiga puluh detik.
Baru kemudian mengambil ponselnya.
Polisi juga berhasil menemukan rekaman panggilan.
Orang pertama yang dihubungi Ibu Mirna bukan ambulans.
Melainkan Dion.
Percakapan itu hanya berlangsung tujuh belas detik.
Namun kalimat terakhir Ibu Mirna terdengar jelas.
“Sudah terjadi.”
Dion menjawab, “Apa?”
Lalu sambungan terputus.
Dion bersikeras tidak memahami maksud ibunya saat itu.
Tetapi pesan-pesan sebelumnya membuat pembelaan tersebut terlihat rapuh.
Kasus itu kemudian berkembang menjadi penyelidikan atas dugaan kekerasan yang menyebabkan kematian janin, pemalsuan dokumen, serta upaya pengambilalihan aset.
Nabila tidak mengikuti setiap detail proses hukum.
Ia menyerahkan semuanya kepada pengacaranya.
Untuk beberapa minggu, ia tinggal bersama Siska.
Ia hampir tidak pernah keluar kamar.
Ada hari-hari ketika ia bisa mandi, makan, bahkan berbicara dengan orang lain.
Namun ada juga hari ketika ia hanya duduk di lantai sambil memegang dua pakaian bayi yang sempat dibawanya dari rumah.
Satu berwarna biru muda.
Satu berwarna putih.
Ia tidak pernah memberi nama resmi kepada kedua bayinya.
Namun akhirnya, ia memilih dua nama.
Arka.
Dan Aruna.
Bukan untuk dicatat di dokumen.
Hanya untuk dirinya sendiri.
Agar mereka tidak menjadi sekadar “dua bayi yang tidak selamat”.
Mereka pernah ada.
Mereka pernah bergerak di dalam tubuhnya.
Mereka pernah dicintai.
Tiga bulan setelah kejadian, Dion meminta bertemu.
Pengacaranya menyarankan Nabila menolak.
Namun Nabila setuju.
Bukan karena ingin berdamai.
Ia hanya ingin menutup satu bagian hidupnya dengan matanya sendiri.
Mereka bertemu di sebuah ruang mediasi.
Dion tampak jauh lebih kurus.
Ia duduk di seberang Nabila dengan kedua tangan saling menggenggam.
“Aku nggak pernah mau anak-anak kita mati,” katanya.
Nabila diam.
“Aku cuma… aku takut kehilangan semuanya.”
“Makanya kamu memilih mengambil semuanya dariku?”
Dion menunduk.
“Aku salah.”
“Kamu bukan cuma salah.”
Nabila menatapnya lurus.
“Kamu pengecut.”
Dion mengangkat wajah.
“Aku masih mencintaimu.”
Untuk pertama kalinya, Nabila benar-benar tertawa.
Bukan karena bahagia.
“Orang yang mencintai seseorang tidak menyiapkan dokumen palsu saat istrinya sedang dirawat setelah kehilangan anak.”
Dion mulai menangis.
“Aku bisa berubah.”
Nabila berdiri.
“Aku juga sudah berubah.”
Ia mengambil tasnya.
“Bedanya, aku berubah karena terpaksa melihat siapa dirimu sebenarnya.”
Beberapa minggu kemudian, perceraian resmi diproses.
Nabila mempertahankan kepemilikannya atas rumah dan saham perusahaan sesuai putusan sementara serta bukti investasi awal.
Rencana akuisisi dibatalkan.
Ia bahkan membeli sebagian saham Dion setelah aset pria itu dibekukan dalam perkara lain terkait pemalsuan dokumen perusahaan.
Arunika Living tetap berdiri.
Namun Nabila mengganti seluruh jajaran manajemen.
Ia tidak mengubah nama perusahaan.
Arunika berasal dari kata yang berarti cahaya pagi.
Dulu ia memilih nama itu karena menganggap bisnis tersebut sebagai awal baru bersama Dion.
Sekarang maknanya berbeda.
Awal baru untuk dirinya sendiri.
Enam bulan setelah kehilangan Arka dan Aruna, Nabila datang ke rumah lama bersama seorang agen properti.
Ia memutuskan menjualnya.
Rumah itu terlalu penuh kenangan.
Ketika agen memeriksa lantai dua, Nabila masuk ke kamar bayi untuk terakhir kalinya.
Dua ranjang kecil masih berada di sana.
Cat dinding warna krem belum berubah.
Di salah satu sudut, masih ada gambar dua awan kecil yang dilukis Dion.
Nabila berdiri cukup lama.
Kemudian ia membuka jendela.
Udara Bandung masuk perlahan.
Untuk pertama kalinya, ia tidak menangis.
Siska yang berdiri di pintu bertanya, “Kamu yakin mau jual semuanya?”
Nabila menggeleng.
“Nggak semuanya.”
Ia mengambil dua boneka kecil dari ranjang.
Satu beruang.
Satu kelinci.
Lalu memeluk keduanya.
Sebelum meninggalkan rumah, ponselnya bergetar.
Sebuah pesan dari Inspektur Arman.
Ada perkembangan baru dalam kasus.
Nabila membukanya.
Pihak kepolisian menemukan satu perangkat lama milik Ibu Mirna yang sebelumnya dianggap rusak.
Di dalamnya terdapat rekaman suara yang dibuat beberapa hari sebelum kejadian.
Suara Dion terdengar jelas.
“Aku nggak peduli bagaimana caranya, Bu. Setelah semua selesai, aku cuma mau Nabila pergi dari rumah dan perusahaan.”
Kemudian suara Ibu Mirna menjawab.
“Kalau bayinya ikut hilang?”
Ada jeda cukup panjang.
Lalu Dion berkata pelan.
“Asal jangan sampai dia mati.”
Nabila menatap layar tanpa bergerak.
Siska mendekat.
“Ada apa?”
Nabila menyerahkan ponselnya.
Wajah Siska langsung memucat.
Selama ini Dion selalu bersikeras bahwa ia hanya mengetahui rencana pengambilalihan aset.
Bahwa ia sama sekali tidak pernah membayangkan ibunya akan menyakiti Nabila atau bayi mereka.
Namun satu kalimat itu menghancurkan pembelaannya.
Asal jangan sampai dia mati.
Berarti ia tahu.
Mungkin bukan setiap detailnya.
Mungkin bukan kapan atau bagaimana.
Namun ia tahu bahwa sesuatu bisa terjadi pada bayi mereka.
Dan ia memilih diam.
Nabila menutup matanya.
Anehnya, ia tidak lagi merasa hancur.
Tidak ada lagi bagian dirinya yang berharap semua ini hanyalah salah paham.
Tidak ada lagi Dion yang harus ia bela di dalam ingatannya.
Laki-laki yang pernah dicintainya memang pernah ada.
Namun mungkin ia hanya hidup dalam bayangan yang diciptakan Nabila sendiri.
Ia membuka mata.
“Arman bilang rekaman ini cukup untuk memperluas dakwaan,” ujar Siska.
Nabila mengangguk.
Lalu memasukkan kedua boneka bayi ke dalam tasnya.
Mereka berjalan keluar.
Di depan rumah, Nabila berhenti sebentar.
Ia menoleh ke bangunan yang selama tiga tahun disebutnya rumah.
Dulu ia berpikir rumah adalah tempat seseorang kembali kepada keluarga.
Sekarang ia memahami sesuatu yang jauh lebih penting.
Rumah bukan soal siapa yang tinggal bersama kita.
Rumah adalah tempat di mana kita tidak perlu takut kepada orang yang mengatakan mereka mencintai kita.
Nabila menutup pagar.
Kemudian berjalan menuju mobil tanpa menoleh lagi.
Beberapa bulan setelah itu, perkara Dion dan Ibu Mirna mulai disidangkan.
Nabila datang hanya pada hari ketika keterangannya dibutuhkan.
Ia tidak mencari kemenangan.
Tidak mencari balas dendam.
Ia hanya ingin kebenaran memiliki tempat untuk berdiri.
Dan ketika jaksa memutar rekaman suara terakhir itu di ruang sidang, Dion menundukkan kepala.
Ibu Mirna menangis.
Nabila tidak.
Tangannya hanya menggenggam sebuah liontin kecil di lehernya.
Di dalamnya terdapat dua huruf.
A dan A.
Arka dan Aruna.
Dua kehidupan kecil yang tidak pernah sempat melihat dunia.
Namun karena mereka, Nabila akhirnya melihat dunia sebagaimana adanya.
Ia kehilangan anak-anaknya.
Ia kehilangan suaminya.
Ia kehilangan rumah yang pernah dianggapnya tempat paling aman.
Tetapi dari semua kehilangan itu, ada satu hal yang berhasil ia selamatkan.
Dirinya sendiri.
