Maya tidak langsung bereaksi.
Kalimat Tirta terasa seperti sesuatu yang terlalu mustahil untuk dipercaya, tetapi terlalu spesifik untuk dianggap sebagai kebohongan.
“Ayah saya?”
Suaranya hampir tidak terdengar.
Tirta mengangguk perlahan.
“Surya Pradipta.”
Maya menatap dokumen di pangkuannya. Nama ayahnya tercetak di berbagai halaman, berdampingan dengan tanggal, nominal transaksi, dan nama perusahaan yang bahkan belum pernah dia dengar sebelumnya.
“Kenapa?”
Tirta berdiri dan berjalan menuju jendela. Kabut semakin tebal di luar vila.
“Delapan tahun lalu, ayahmu mencoba masuk ke proyek properti keluarga kami di Surabaya. Dia membutuhkan modal besar. Ayah saya menolak karena hasil audit menunjukkan perusahaan Surya sudah bermasalah.”
Tirta berhenti sejenak.
“Dia menganggap penolakan itu sebagai penghinaan.”
Maya menggenggam tepi map.
“Jadi dia menyebarkan gosip tentang Anda hanya karena bisnis?”
“Awalnya, iya.”
Tirta berbalik.
“Dia membayar dua orang wartawan hiburan dan seorang pengelola akun gosip. Dia sengaja menggunakan kedekatan saya dengan Dion sebagai bahan cerita. Rumornya dibuat cukup samar agar sulit digugat, tetapi cukup menjijikkan bagi keluarga konservatif yang sedang mempertimbangkan kerja sama dengan kami.”
Maya merasa mual.
Selama bertahun-tahun, dia menganggap gosip itu sekadar permainan kejam masyarakat elite Jakarta.
Ternyata ayahnya sendiri berada di belakangnya.
“Kenapa Anda mau menikahi anak orang yang melakukan itu?”
Pertanyaan itu membuat Tirta terdiam.
Kemudian dia mengambil satu lembar dokumen dari map.
“Karena enam bulan lalu ayahmu datang kepada saya.”
Maya mengangkat kepala.
“Dia meminta uang?”
“Bukan hanya uang.”
Tirta menyerahkan dokumen tersebut.
Itu salinan proposal investasi dengan tanda tangan Surya.
“Dia menawarkan akses ke lahan milik keluarga Pradipta di Bogor sebagai jaminan. Masalahnya, setelah tim hukum saya memeriksa sertifikatnya, kami menemukan lahan itu bukan miliknya.”
Maya mengernyit.
“Milik siapa?”
“Ibumu.”
Darah seolah berhenti mengalir di tubuh Maya.
Tirta melanjutkan.
“Lahan itu diwariskan kakekmu kepada ibumu sebelum menikah. Ayahmu memalsukan surat kuasa untuk menjadikannya jaminan utang.”
Maya berdiri begitu cepat hingga map terjatuh.
Kertas-kertas berserakan di lantai.
“Tidak mungkin.”
“Saya berharap begitu.”
“Ibu pasti tahu.”
“Tidak.”
Jawaban Tirta tegas.
“Dan kalau transaksi itu selesai, ibumu akan kehilangan hampir seluruh aset pribadinya.”
Maya menutup mulut.
Selama ini dia mengira dirinya dikorbankan demi menyelamatkan keluarga.
Sekarang dia mulai memahami bahwa mungkin tidak ada keluarga yang sedang diselamatkan.
Hanya Surya.
“Kenapa ayah saya menginginkan pernikahan ini?”
“Karena dia tahu saya sudah menemukan pemalsuan itu.”
Tirta berjongkok, mengambil dokumen yang berserakan.
“Dia menawarkan kesepakatan. Saya melunasi utang tertentu, dia menyerahkan saham perusahaan yang masih memiliki nilai, dan kamu menikah dengan saya.”
Maya tertawa pendek.
Bukan karena lucu.
Karena kenyataan itu terlalu kejam.
“Jadi saya memang dijual.”
Tirta berhenti.
“Tidak.”
“Jangan memperhalusnya.”
“Saya tidak sedang memperhalus apa pun.”
Tirta berdiri tepat di hadapannya.
“Saya menerima kesepakatan itu karena saya membutuhkan waktu.”
“Waktu untuk apa?”
“Memindahkan aset ibumu ke tempat yang tidak bisa disentuh ayahmu. Mengamankan biaya kuliah adikmu. Dan mengumpulkan bukti tentang jaringan utangnya.”
Maya menatapnya.
“Kenapa Anda peduli?”
Untuk pertama kalinya, Tirta kehilangan ketenangannya.
Ada sesuatu yang hampir menyerupai rasa takut di wajahnya.
“Karena saya mengenal ibumu.”
Maya membeku.
Tirta berjalan menuju lemari kecil, membuka bagian paling bawah, lalu mengambil sebuah foto lama.
Dia menyerahkannya kepada Maya.
Foto itu diambil sekitar dua puluh tahun lalu.
Seorang perempuan muda berdiri bersama beberapa orang di depan rumah sakit di Surabaya.
Maya langsung mengenalinya.
Ibunya.
Di sebelahnya berdiri seorang anak laki-laki kurus berusia sekitar sebelas tahun.
Maya menatap anak itu.
Lalu menatap Tirta.
“Itu Anda?”
Tirta mengangguk.
“Ibu saya meninggal ketika saya berusia sebelas tahun. Ayah saya sedang di luar negeri. Saya mengalami kecelakaan dan harus menjalani operasi. Orang pertama yang datang menemani saya bukan kerabat saya.”

Dia menunjuk perempuan dalam foto.
“Ibumu.”
Mata Maya mulai panas.
“Tapi bagaimana?”
“Ibumu dulu bekerja bersama yayasan kesehatan keluarga kami sebelum menikah. Saya tidak pernah melupakan orang yang duduk di depan ruang operasi selama tujuh jam hanya supaya seorang anak tidak merasa sendirian ketika bangun.”
Maya tidak mampu berkata apa-apa.
“Ketika saya mengetahui Surya memalsukan tanda tangannya, saya tidak bisa berpura-pura tidak tahu.”
“Jadi Anda menikahi saya karena berutang budi kepada ibu?”
Tirta menatapnya lama.
“Awalnya saya hanya berniat melindungi keluargamu.”
“Awalnya?”
Tirta menarik napas.
“Kemudian saya bertemu kamu.”
Maya merasakan jantungnya berdegup aneh.
“Saya tidak meminta Anda mengatakan sesuatu yang tidak Anda rasakan.”
“Saya tahu.”
Tirta tersenyum tipis.
“Itulah masalahnya. Kamu selalu menganggap semua kebaikan memiliki harga.”
Maya terdiam.
Tirta mengambil map itu kembali.
“Kamu boleh tidur di kamar ini. Saya akan tidur di ruang kerja. Tidak ada kewajiban apa pun malam ini, besok, atau kapan pun hanya karena kita menikah.”
Dia berjalan menuju pintu.
Namun sebelum keluar, Tirta berhenti.
“Satu hal lagi.”
Maya menoleh.
“Besok pagi, ayahmu akan datang.”
Maya menegang.
“Untuk apa?”
“Karena malam ini rekening yang selama ini dia gunakan untuk menyembunyikan uang sudah dibekukan.”
Pukul delapan pagi, suara mobil terdengar di halaman vila.
Surya datang dengan wajah merah padam.
Dia bahkan tidak memberi salam ketika memasuki ruang keluarga.
“Apa yang sudah kau lakukan?”
Tirta duduk tenang sambil membaca dokumen.
Maya berdiri beberapa meter darinya.
Surya menunjuk Tirta.
“Kau berjanji melunasi semuanya!”
“Saya melunasi utang yang sah,” jawab Tirta. “Bukan menutup kejahatan.”
Wajah Surya berubah.
Kemudian dia melihat Maya.
“Kamu sudah tahu?”
Maya menatap ayahnya.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia tidak melihat sosok besar yang selama ini ditakutinya.
Dia melihat seorang pria tua yang ketakutan karena kebohongannya mulai runtuh.
“Ayah memalsukan tanda tangan Ibu?”
Surya diam.
“Ayah memakai tanah Ibu sebagai jaminan?”
“Maya, kamu tidak mengerti bisnis.”
“Jawab.”
Nada suara Maya membuat Surya terkejut.
“Semua yang Ayah lakukan demi keluarga.”
Maya tertawa getir.
“Kalimat itu lagi.”
Surya mendekatinya.
“Kamu pikir rumah di Menteng, sekolah mahal, perjalanan ke luar negeri, semua itu datang dari mana?”
“Dari uang yang kemudian Ayah habiskan di meja judi.”
Tamparan Surya hampir mengenai wajah Maya.
Namun sebuah tangan menangkap pergelangan tangannya.
Tirta.
Tatapan Tirta berubah dingin.
“Jangan pernah menyentuh istri saya.”
Surya menarik tangannya.
“Dia anak saya.”
“Dia bukan barang milik Anda.”
Ruangan mendadak sunyi.
Surya menatap keduanya dengan kebencian.
“Kau pikir dia mencintaimu? Maya menikahimu karena uang.”
Maya hendak menjawab, tetapi Tirta lebih dahulu berkata,
“Saya tahu.”
Surya terdiam.
Tirta berdiri.
“Dan itu tidak membuat saya berhak merendahkannya.”
Kalimat itu menghantam Maya lebih keras daripada apa pun.
Sepanjang hidupnya, Surya selalu menggunakan uang untuk menentukan nilai manusia.
Sedangkan Tirta, pria yang dianggap aneh oleh semua orang, justru menjadi orang pertama yang memahami perbedaan antara membantu dan memiliki.
Surya akhirnya pergi setelah Tirta memberitahunya bahwa seluruh bukti pemalsuan telah diserahkan kepada pengacara keluarga.
Dua hari kemudian, polisi mulai memeriksa sejumlah transaksi Surya.
Maya membawa ibunya dan adiknya keluar dari rumah Menteng sebelum penyitaan aset perusahaan dilakukan.
Ibunya menangis ketika mengetahui tanah warisan orang tuanya hampir hilang.
Namun tangis paling panjang terjadi ketika Maya menunjukkan foto lama dari Tirta.
“Anak kecil itu masih mengingat Ibu,” bisik Maya.
Ibunya memandangi foto tersebut lama sekali.
“Tirta?”
Maya mengangguk.
Ibunya tersenyum di antara air mata.
“Dia dulu takut sekali pada jarum suntik.”
Untuk pertama kalinya setelah berhari-hari, Maya tertawa.
Kasus Surya berkembang cepat.
Ternyata utangnya bukan sekadar berasal dari perjudian.
Dia juga menggunakan perusahaan cangkang untuk mengalihkan dana investor dan memalsukan sejumlah dokumen aset.
Rumor tentang Tirta hanyalah salah satu dari banyak cara Surya menghancurkan orang yang menolak bekerja sama dengannya.
Dion bahkan datang ke Batu membawa sekotak dokumen lama.
Ketika bertemu Maya, pria itu langsung tertawa.
“Jadi akhirnya saya bertemu perempuan yang membuat Tirta membatalkan tiga rapat hanya karena ingin mencari buku langka.”
Tirta yang berdiri di belakangnya terlihat kesal.
“Dion.”
“Apa? Saya cuma menyampaikan fakta.”
Maya menahan senyum.
Saat itulah dia akhirnya memahami sesuatu.
Rumor yang selama bertahun-tahun membuat orang menertawakan Tirta ternyata bertahan bukan karena kebenaran, melainkan karena Tirta memilih tidak membela diri.
Malam itu Maya bertanya alasannya.
Mereka duduk di teras vila sambil memandang lampu-lampu Kota Batu dari kejauhan.
“Kenapa Anda tidak pernah menyangkal rumor itu?”
Tirta meminum kopinya.
“Awalnya saya marah.”
“Lalu?”
“Saya melihat siapa yang menjauh setelah rumor itu muncul.”
Maya menoleh.
Tirta tersenyum tipis.
“Orang-orang yang hanya mendekati saya demi status pergi sendiri. Investor yang menilai manusia berdasarkan gosip juga mundur. Lama-lama saya merasa rumor itu justru bekerja seperti penyaring.”
Maya tertawa kecil.
“Metode seleksi sosial yang mahal.”
“Sangat efektif.”
Mereka terdiam.
Kemudian Maya berkata,
“Saya ingin mengubah perjanjian pernikahan kita.”
Tirta langsung menoleh.
“Kalau kamu ingin bercerai setelah semuanya selesai, saya akan menandatangani apa pun.”
Maya menggeleng.
“Bukan itu.”
“Jadi?”
“Saya ingin bekerja.”
Tirta mengernyit.
“Di yayasan?”
“Ya. Tapi bukan sebagai istri pemilik.”
Maya menatapnya serius.
“Saya ingin membangun program bantuan hukum untuk perempuan yang asetnya disalahgunakan pasangan atau keluarganya. Saya tidak ingin kejadian seperti yang dialami Ibu dianggap sekadar masalah rumah tangga.”
Tirta menatapnya cukup lama.
Kemudian tersenyum.
“Kapan kamu mau mulai?”
“Senin.”
“Hari ini Sabtu.”
“Saya tahu.”
“Kita baru menikah.”
Maya mengangkat bahu.
“Katanya Anda ingin istri yang bisa membantu mengelola yayasan.”
Tirta tertawa.
Suara yang jarang sekali Maya dengar.
Dan entah kenapa, suara itu membuat vila yang besar tersebut terasa seperti rumah.
Enam bulan kemudian, Surya resmi menjadi terdakwa dalam perkara pemalsuan dokumen dan penggelapan dana.
Maya datang ke persidangan pertama.
Ayahnya tampak jauh lebih tua.
Ketika mata mereka bertemu, Surya berbisik,
“Kamu puas sekarang?”
Maya menggeleng.
“Tidak.”
“Lalu kenapa kamu melakukan ini?”
Maya menatapnya tanpa kebencian.
“Karena menyelamatkan keluarga tidak berarti menyelamatkan seseorang dari konsekuensi perbuatannya.”
Surya tidak menjawab.
Maya meninggalkan ruang sidang tanpa menoleh lagi.
Malamnya dia kembali ke Batu.
Tirta sedang berada di perpustakaan ketika Maya masuk.
Di meja terdapat sebuah buku.
Edisi pertama novel yang selama bertahun-tahun dicari Maya.
Dia mengambilnya.
Di halaman pertama terdapat tulisan tangan Tirta.
Kali ini bukan satu kalimat.
Maya membacanya perlahan.
“Rumah tanpa buku terlalu mirip penjara. Rumah tanpa kebebasan bahkan lebih buruk. Jadi kalau suatu hari kamu memilih tinggal di sini, pastikan karena kamu memang ingin pulang.”
Maya menutup buku.
Tirta berdiri beberapa langkah darinya.
“Anda masih berpikir saya akan pergi?”
“Saya tidak mau kamu tinggal karena merasa berutang.”
Maya mendekatinya.
Jarak mereka tinggal beberapa sentimeter.
“Dulu saya pikir semua pria kaya memberikan sesuatu karena ingin membeli sesuatu sebagai balasannya.”
Tirta tidak berkata apa-apa.
Maya tersenyum.
“Ternyata ada juga pria kaya yang menghabiskan miliaran rupiah hanya untuk mendapatkan istri yang enam bulan kemudian masih memanggilnya dengan kata Anda.”
Tirta tertawa pelan.
“Lalu sekarang saya harus dipanggil apa?”
Maya berpura-pura berpikir.
“Mas Tirta?”
“Lebih baik.”
Maya mengangguk.
Kemudian untuk pertama kalinya sejak pernikahan mereka, Maya yang lebih dahulu menggenggam tangannya.
Tidak ada kewajiban.
Tidak ada transaksi.
Tidak ada keluarga yang harus diselamatkan.
Hanya dua orang yang sama-sama pernah dijadikan korban kebohongan orang lain dan akhirnya memilih untuk tidak meneruskan luka itu.
Beberapa minggu kemudian, ketika program bantuan hukum yayasan resmi diluncurkan, seorang wartawan bertanya kepada Maya bagaimana rasanya menikah dengan pria yang selama bertahun-tahun diterpa rumor aneh.
Maya hanya tersenyum.
“Rumor selalu terdengar paling meyakinkan ketika orang yang mengetahui kebenaran memilih diam.”
Wartawan itu bertanya lagi.
“Jadi semua rumor tentang suami Anda tidak benar?”
Maya memandang Tirta yang sedang berdiri di seberang ruangan.
Pria itu sedang berbicara dengan ibunya.
Ketika menyadari Maya menatapnya, Tirta mengangkat alis dan tersenyum.
Maya membalas senyum itu.
“Yang paling mengejutkan bukan mengetahui bahwa rumor itu bohong.”
Dia berhenti sebentar.
“Yang paling mengejutkan adalah mengetahui bahwa orang yang menciptakannya adalah ayah saya sendiri.”
Ruangan mendadak sunyi.
Namun kali ini Maya tidak takut pada bisik-bisik yang akan muncul.
Karena akhirnya dia memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan keluarganya.
Nama besar bisa hilang.
Kekayaan bisa habis.
Rumah bisa disita.
Bahkan hubungan darah tidak selalu berarti tempat yang aman.
Tetapi manusia selalu memiliki satu pilihan yang tidak bisa dibeli, diwariskan, atau dirampas siapa pun.
Memilih siapa yang layak disebut keluarga.
Dan pada malam pernikahannya, Maya memang kehilangan keluarga yang selama ini dia kenal.
Namun justru pada malam yang sama, tanpa disadarinya, dia menemukan rumah untuk pertama kalinya.
