Maya tidak langsung menerima cincin itu.
Ia berdiri di depan meja Adrian, menatap berlian yang nilainya mungkin lebih mahal daripada kontrakannya selama puluhan tahun, lalu menarik napas panjang.
“Kalau saya setuju, ada aturan dari saya.”
Adrian mengangkat alis. “Katakan.”
“Tidak ada sentuhan tanpa persetujuan saya. Tidak ada kebohongan di luar hal yang memang diperlukan untuk sandiwara ini. Dan kalau keluarga Anda menghina saya, saya berhak membela diri.”
“Setuju.”
“Satu lagi. Semua pembayaran dibuat dalam kontrak tertulis.”
Kali ini Adrian benar-benar tersenyum tipis.
“Sekarang saya mulai mengerti kenapa saya memilihmu.”
Maya menatapnya datar.
“Jangan terlalu percaya diri. Saya belum bilang iya.”
Namun malam itu, setelah melihat pesan pemilik kontrakan dan menghitung biaya obat Tante Dewi, Maya akhirnya menandatangani kontrak tiga bulan tersebut.
Keesokan malam, sebuah mobil hitam membawa Maya menuju rumah keluarga Pratama di kawasan Pondok Indah.
Ia mengenakan gaun biru gelap sederhana yang dipilihnya sendiri. Tidak ada kalung berlian, tidak ada tas bermerek, dan ia menolak ketika Adrian menawarkan stylist.
“Saya berpura-pura menjadi tunangan Anda,” katanya. “Bukan berpura-pura menjadi orang lain.”
Kalimat itu membuat Adrian terdiam sepanjang perjalanan.
Rumah keluarga Pratama jauh lebih besar daripada yang dibayangkan Maya.
Begitu memasuki ruang makan, ia langsung merasakan tatapan orang-orang yang menilainya.
Di ujung meja duduk Hendra Pratama, lelaki berusia tujuh puluh delapan tahun dengan rambut memutih dan tubuh yang mulai kurus.
Di sebelahnya ada Surya Pratama, ayah Adrian, bersama istrinya, Helena.
Kemudian ada Rendra, adik Surya, serta putranya, Kevin.
Kevin adalah sepupu Adrian sekaligus orang yang selama bertahun-tahun disebut sebagai kandidat kedua penerus Pratama Group.
Helena memandang Maya dari kepala hingga kaki.
“Adrian bilang kalian bertemu belum lama ini.”
“Benar, Bu.”
“Berapa lama?”
Maya melirik Adrian.
Pria itu hendak menjawab, tetapi Maya lebih cepat.
“Tidak cukup lama untuk membuat hubungan kami terdengar masuk akal.”
Sendok di tangan Kevin berhenti.
Rendra mengerutkan kening.
Adrian menatap Maya tajam.
Namun Hendra justru tertawa.
Tawa pertama yang terdengar di meja itu sejak mereka datang.
“Setidaknya gadis ini tidak bodoh,” katanya.
Maya menatap lelaki tua tersebut.
Anehnya, sejak pertama kali melihat Hendra, ia merasa ada sesuatu yang familiar.
Bukan wajahnya.
Melainkan cara lelaki itu memandangnya.
Seolah mereka pernah bertemu.
Setelah makan malam, Hendra meminta Maya menemaninya ke ruang perpustakaan.
Adrian hendak ikut.
“Kamu tunggu di luar,” perintah Hendra.
“Kek.”
“Saya ingin bicara dengan calon istrimu, bukan dengan pengacaranya.”
Pintu ditutup.
Hendra berjalan perlahan menuju sebuah lemari tua.
“Maya Indriani.”
Maya membeku.
Sepanjang malam, semua orang hanya memanggilnya Maya.
“Bagaimana Kakek tahu nama lengkap saya?”
Hendra tidak menjawab.
Ia membuka sebuah laci dan mengeluarkan foto lama.
Foto itu memperlihatkan seorang perempuan muda berdiri di depan sebuah proyek konstruksi.
Maya merasakan tengkuknya dingin.
Perempuan dalam foto itu adalah ibunya.
“Ibu saya?”
Hendra mengangguk.
“Namanya Ratih Indriani.”
Maya mengambil foto itu dengan tangan gemetar.
Ibunya meninggal ketika Maya berusia tujuh tahun. Selama ini ia hanya tahu Ratih pernah bekerja sebagai staf administrasi sebelum jatuh sakit.
“Kenapa Kakek punya foto Ibu?”
Hendra duduk perlahan.
“Karena ibumu pernah menyelamatkan perusahaan ini.”
Dua puluh tujuh tahun lalu, Pratama Group belum sebesar sekarang.
Mereka sedang mengerjakan proyek perumahan pertama yang hampir membuat perusahaan bangkrut.
Ratih bekerja sebagai staf keuangan junior.
Suatu malam, ia menemukan sejumlah pembayaran kepada perusahaan pemasok fiktif.
Nilainya sangat besar.
Ratih melaporkannya.
Namun orang yang terlibat bukan pegawai biasa.
Dia adalah anggota keluarga Pratama sendiri.
“Siapa?”
Hendra menatap Maya lama.
“Adik saya.”
Ratih memberikan bukti kepada Hendra dan menolak uang tutup mulut. Berkat bukti itu, kebocoran dana dihentikan dan perusahaan selamat.
Sebagai penghargaan, Hendra menawarkan saham.
Ratih menolak.
“Ibumu bilang dia tidak ingin menjadi kaya karena menemukan kejahatan orang lain.”
Air mata mulai memenuhi mata Maya.
“Itu memang seperti Ibu.”
“Tapi saya tetap membuat satu dokumen.”
Hendra mengambil sebuah map dari brankas.
“Saya menetapkan bahwa kalau suatu hari keluarga saya berebut perusahaan dan kehilangan kemampuan membedakan benar dan salah, hak suara penentu atas pengalihan saham saya akan diberikan kepada Ratih Indriani atau ahli waris sahnya.”
Maya tidak bergerak.
Dunia seperti berhenti beberapa detik.
“Jadi…”
“Empat puluh persen saham yang mereka perebutkan tidak bisa saya serahkan kepada siapa pun tanpa persetujuanmu.”
Maya berdiri begitu cepat hingga kursinya bergeser.
“Adrian tahu?”
“Tidak.”
“Jadi pertemuan kami…”
“Kebetulan.”
Hendra tersenyum pahit.
“Saya sendiri terkejut ketika Adrian menelepon kemarin dan mengatakan nama perempuan yang akan dibawanya.”
Maya menatap foto ibunya.
Tiba-tiba kontrak tiga bulan itu terasa jauh lebih berbahaya daripada sebelumnya.
Hari-hari berikutnya mengubah segalanya.
Maya tetap menjalankan perannya sebagai tunangan Adrian, tetapi kini ia mulai memperhatikan keluarga Pratama dengan cara berbeda.
Adrian ternyata tidak sedingin yang terlihat.
Ia keras kepada bawahannya, tetapi selalu menjadi orang terakhir yang meninggalkan kantor ketika terjadi masalah.
Ia diam-diam membayar biaya pengobatan sopir keluarga yang terkena stroke.
Ia juga menolak proyek yang berpotensi menggusur puluhan keluarga tanpa kompensasi layak, meskipun proyek itu menjanjikan keuntungan besar.

Sebaliknya, Kevin sangat pandai membuat dirinya terlihat ramah.
Ia membawa bunga untuk Hendra, memuji Maya, dan selalu berbicara tentang “keluarga”.
Namun Maya menemukan sesuatu yang mengganggunya.
Dalam rapat direksi yang ia hadiri sebagai bagian dari sandiwara Adrian, Kevin mendorong akuisisi sebuah perusahaan konstruksi kecil bernama Arunika Karya.
Nilai akuisisinya terlalu tinggi.
Maya meminta laporan keuangan.
Kevin tertawa.
“Kamu tunangan Adrian, bukan auditor.”
“Saya sarjana Manajemen Bisnis.”
“Dan sekarang?”
Ruangan mendadak sunyi.
Kevin tersenyum meremehkan.
“Katanya sebelum bertemu Adrian kamu pengangguran.”
Maya menatapnya.
“Benar.”
“Jadi sebaiknya jangan sok memahami transaksi miliaran.”
Maya tidak menjawab.
Malam itu ia memeriksa laporan Arunika Karya sampai pukul dua pagi.
Ia menemukan pola pembayaran aneh kepada tiga perusahaan konsultan.
Nama perusahaannya berbeda.
Alamatnya berbeda.
Tetapi rekening tujuan akhirnya mengarah ke kelompok yang sama.
Keesokan paginya Maya meletakkan dokumen itu di meja Adrian.
“Perusahaan yang ingin dibeli sepupumu mungkin digunakan untuk mengalirkan uang.”
Adrian membaca halaman pertama.
Wajahnya langsung berubah.
“Dari mana kamu menemukan ini?”
“Laporan yang katanya terlalu rumit untuk pengangguran.”
Untuk pertama kalinya Maya melihat Adrian tertawa.
Namun tawa itu tidak bertahan lama.
Mereka menyelidiki diam-diam.
Semakin dalam mereka menggali, semakin buruk hasilnya.
Selama hampir empat tahun, Kevin dan Rendra diduga mengalihkan uang proyek melalui perusahaan cangkang.
Nilainya mencapai ratusan miliar rupiah.
Tetapi kejutan terbesar datang tiga minggu sebelum ulang tahun Adrian.
Maya menerima pesan anonim.
Kalau ingin tahu kenapa ibumu meninggal, datang sendiri.
Pesan itu mencantumkan sebuah kafe tua di Cikini.
Adrian melarangnya pergi.
Maya tetap datang.
Orang yang menunggunya adalah Budi, mantan manajer SDM yang kini sudah diberhentikan.
Wajahnya pucat.
“Saya bekerja untuk Pak Rendra,” katanya.
Maya langsung berdiri.
“Tunggu.”
Budi mengeluarkan flashdisk.
“Dua puluh tahun lalu, saya masih staf administrasi. Saya pernah diminta mengambil arsip lama milik Ratih Indriani.”
Jantung Maya berdegup keras.
“Untuk apa?”
“Karena Pak Rendra takut ibumu masih menyimpan salinan dokumen yang bisa membuktikan keluarga mereka pernah terlibat penggelapan.”
Maya mencengkeram meja.
“Ibu saya meninggal karena kanker.”
“Benar. Tidak ada yang membunuh ibumu.”
Maya mengembuskan napas.
“Tapi ketika beliau sakit, Pak Rendra tahu kondisi keluargamu. Dia sengaja memastikan bantuan dari Pak Hendra tidak pernah sampai.”
Maya merasa seperti ditampar.
Selama bertahun-tahun ia mengingat ibunya menjual perhiasan, menunda pengobatan, dan mengatakan mereka harus berhemat.
Ternyata ada bantuan.
Hanya saja seseorang menahannya.
Malam itu Maya pulang ke rumah Adrian dengan mata sembap.
Adrian tidak bertanya banyak.
Ia hanya duduk di samping Maya.
Untuk pertama kalinya, keheningan pria itu terasa menenangkan.
“Aku ingin menghancurkan mereka,” bisik Maya.
“Kita bisa.”
Maya menggeleng.
“Bukan begitu.”
Ia menatap Adrian.
“Kalau kita menjadi seperti mereka untuk mengalahkan mereka, tidak ada yang benar-benar menang.”
Tiga bulan berlalu.
Hari ulang tahun Adrian akhirnya tiba.
Seluruh keluarga berkumpul di ballroom sebuah hotel milik Pratama Group.
Notaris keluarga hadir.
Dewan komisaris hadir.
Semua orang mengira malam itu Hendra akan menyerahkan empat puluh persen sahamnya kepada Adrian setelah syarat dalam surat wasiat terpenuhi.
Namun sebelum dokumen ditandatangani, Maya berdiri.
“Saya harus mengatakan sesuatu.”
Helena terlihat bingung.
Adrian menatapnya.
Maya melepas cincin berlian dari jarinya.
Suara bisik-bisik langsung memenuhi ruangan.
“Pertunangan kami palsu.”
Wajah Surya memucat.
Kevin tersenyum lebar.
“Akhirnya.”
Maya meletakkan cincin di meja.
“Adrian membayar saya untuk berpura-pura menjadi tunangannya selama tiga bulan.”
Kevin tertawa.
“Jadi jelas dia gagal memenuhi syarat.”
Hendra tetap diam.
Adrian berdiri.
“Kakek, saya bisa menjelaskan.”
“Tidak perlu.”
Maya menatap Adrian.
“Ada satu hal lagi.”
Ia mengeluarkan dokumen yang diberikan Hendra.
Ruangan menjadi sunyi.
“Dua puluh tujuh tahun lalu, ibu saya, Ratih Indriani, membantu menyelamatkan Pratama Group dari penggelapan internal.”
Rendra langsung berdiri.
“Itu urusan masa lalu.”
“Benar.”
Maya menatapnya.
“Tapi rupanya kebiasaan lama tidak benar-benar hilang.”
Layar besar di belakang panggung menyala.
Data transaksi Arunika Karya muncul.
Kemudian rekening perusahaan cangkang.
Kemudian nama-nama penerima manfaat.
Rendra.
Kevin.
Wajah keduanya berubah pucat.
“Ini fitnah!” teriak Kevin.
Adrian mengangkat sebuah map.
“Semua data sudah diserahkan kepada auditor independen dan pihak berwenang.”
Kevin menoleh kepada Hendra.
“Kakek tidak mungkin percaya perempuan ini!”
Hendra akhirnya berdiri.
“Saya percaya bukti.”
Notaris kemudian membuka dokumen terakhir.
Barulah seluruh keluarga mengetahui bahwa keputusan pengalihan saham Hendra membutuhkan persetujuan ahli waris Ratih Indriani.
Maya.
Kevin menatapnya dengan wajah kehilangan warna.
Adrian pun tampak terkejut.
“Kamu sudah tahu?”
“Sejak malam pertama di rumah Kakek.”
“Kenapa kamu tidak bilang?”
“Karena saya ingin melihat siapa kalian ketika kalian tidak tahu saya punya kekuasaan.”
Kalimat itu membuat ruangan benar-benar hening.
Maya berjalan menuju meja notaris.
“Pak Hendra meminta saya menentukan siapa yang pantas menerima sahamnya.”
Ia memandang Adrian.
Tiga bulan lalu, pria itu menyuruhnya mengganti pakaian.
Tiga bulan lalu, ia mengira Adrian hanyalah miliarder arogan yang terbiasa membeli solusi untuk semua masalah.
Ternyata Maya juga menemukan sisi lain pria itu.
Namun ia tidak menandatangani nama Adrian.
Ia mendorong dokumen itu kembali.
“Saya tidak memilih siapa pun.”
Semua orang terkejut.
Hendra justru tersenyum.
Maya melanjutkan.
“Empat puluh persen saham ini terlalu besar untuk dijadikan hadiah kepada satu anggota keluarga. Kalau perusahaan sebesar ini bergantung pada siapa yang menikah, siapa anak siapa, atau siapa yang paling disukai Kakek, maka cepat atau lambat ribuan karyawan akan membayar harga dari konflik keluarga kalian.”
Ia mengusulkan sebagian saham ditempatkan dalam yayasan kepemilikan karyawan dan sebagian lagi dikelola melalui trust profesional dengan syarat tata kelola independen.
Adrian tetap dapat menjadi direktur utama.
Namun bukan karena nama belakangnya.
Ia harus dipilih berdasarkan kinerja.
Hendra tertawa pelan.
Lalu mengangguk.
“Itulah jawaban yang saya tunggu.”
Maya tertegun.
Hendra menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Ibumu pernah mengatakan hal yang hampir sama.”
Beberapa bulan kemudian, Rendra dan Kevin resmi menghadapi proses hukum.
Pratama Group melakukan restrukturisasi besar.
Adrian tetap menjadi direktur utama setelah mendapat dukungan dewan independen.
Sedangkan Maya?
Ia menolak uang enam puluh juta untuk bulan terakhir.
Sebagai gantinya, ia melamar pekerjaan secara resmi di divisi strategi perusahaan.
Tanpa bantuan Adrian.
Tanpa rekomendasi Hendra.
Ia mengikuti tiga tahap seleksi.
Dan mendapat nilai tertinggi.
Suatu sore, setelah rapat panjang, Maya menemukan Adrian menunggunya di lobi yang sama tempat mereka pertama kali bertemu.
Hujan turun di luar.
Adrian memegang sebuah kotak beludru hitam.
Maya langsung menggeleng.
“Jangan bilang cincin itu lagi.”
“Bukan.”
Adrian membuka kotaknya.
Di dalamnya bukan berlian.
Melainkan kartu bank yang dulu ia pinjamkan kepada Maya.
Maya tertawa.
“Saya sudah mengembalikan uangnya.”
“Saya tahu.”
“Lalu kenapa disimpan?”
“Karena saya ingin mengingat hari ketika saya membuat keputusan bisnis paling bodoh dalam hidup saya.”
Maya mengangkat alis.
“Mempekerjakan tunangan palsu?”
“Bukan.”
Adrian menatapnya.
“Mengira semua hal bisa dibuat menjadi kontrak.”
Maya terdiam.
Adrian kemudian mengeluarkan sebuah cincin sederhana dari sakunya.
Tidak sebesar cincin sebelumnya.
Tidak pula semahal yang dulu.
“Yang ini tidak ada hubungannya dengan saham, wasiat, perusahaan, atau kontrak.”
Maya menatap cincin itu.
“Dan kalau saya bilang tidak?”
“Saya akan pulang dengan malu.”
“Kalau saya bilang saya butuh waktu?”
“Saya tunggu.”
“Kalau saya tidak pernah berubah pikiran?”
Adrian tersenyum.
“Saya tetap menghormatinya.”
Maya memandang pria di hadapannya cukup lama.
Kemudian ia mengulurkan tangan.
Namun bukan untuk mengambil cincin.
Ia menggenggam tangan Adrian dan menariknya menuju pintu keluar.
“Kita mulai dari makan malam dulu.”
Adrian tertawa.
“Tanpa kontrak?”
“Tanpa kontrak.”
Mereka berjalan keluar bersama.
Hujan Jakarta masih turun deras seperti hari pertama mereka bertemu.
Bedanya, kali ini Maya tidak perlu berlari menerobosnya sendirian.
Dan bertahun-tahun kemudian, ketika orang-orang bertanya kepada Hendra Pratama mengapa ia mempercayakan keputusan terbesar dalam sejarah keluarganya kepada seorang perempuan yang datang ke perusahaan dengan pakaian basah dan sepatu kotor, lelaki tua itu selalu memberikan jawaban yang sama.
“Karena orang yang paling pantas memegang kekuasaan sering kali adalah orang yang tidak tergoda untuk memilikinya.”
Pada akhirnya, kerajaan bisnis Pratama memang mendapatkan pewaris.
Namun bukan pewaris yang memiliki perusahaan itu sendirian.
Melainkan generasi baru yang akhirnya memahami bahwa warisan terbesar bukanlah saham, gedung pencakar langit, atau miliaran rupiah.
Warisan terbesar adalah keberanian untuk menghentikan kesalahan keluarga sebelum kesalahan itu diwariskan kepada generasi berikutnya.
