Raditya Baskoro berdiri beberapa meter di belakang Maya dengan rahang mengeras.
Tatapannya berpindah dari layar ponsel Maya ke wajah Ibu Ratna.
Perempuan itu baru menyadari kehadirannya ketika suara dingin Raditya terdengar dari arah pintu lobi.
“Menarik sekali.”
Ibu Ratna langsung menoleh.
Wajahnya berubah.
“Pak Raditya.”
Raditya berjalan mendekat tanpa tergesa-gesa. Beberapa staf keamanan yang berdiri di dalam lobi ikut memperhatikan, tetapi tidak berani bergerak sebelum mendapatkan perintah.
Raditya berhenti di samping Maya.
Ia tidak melihat foto yang masih berada di tangan perempuan itu.
Ia justru menatap langsung ke mata Ibu Ratna.
“Jadi begini cara keluarga Anda menyelesaikan masalah?”
Ibu Ratna tersenyum kaku.
“Saya rasa Bapak salah paham. Ini persoalan keluarga.”
“Tidak lagi.”
Suara Raditya tetap tenang.
Justru ketenangan itu membuat Maya merasa lebih tegang.
Raditya menunjuk ponsel Maya.
“Nama perusahaan saya sudah digunakan dalam berita palsu. Karyawan saya difitnah. Fasilitas resmi perusahaan disebut sebagai imbalan hubungan pribadi. Itu bukan lagi persoalan keluarga.”
Ibu Ratna kehilangan senyumnya.
“Saya tidak pernah mengatakan saya yang menyebarkan berita itu.”
Raditya mengangguk pelan.
“Bagus.”
Ia mengeluarkan ponselnya.
“Berarti Anda tidak keberatan kalau tim legal saya menelusuri sumber penyebaran foto dan pembayaran kepada media yang menerbitkannya.”
Mata Ibu Ratna bergetar.
Untuk sesaat ia tidak menjawab.
Raditya menoleh kepada petugas keamanan.
“Simpan rekaman CCTV area depan lobi sejak dua jam terakhir. Jangan sampai ada yang terhapus.”
“Baik, Pak.”
Ibu Ratna langsung membalas, “Anda tidak punya hak menahan saya.”
“Saya juga tidak berniat menahan Anda.”
Raditya memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
“Tapi saya akan memastikan semua jejak digital hari ini terdokumentasi.”
Maya berdiri membeku.
Beberapa menit sebelumnya ia merasa seluruh dunia sedang runtuh.
Sekarang situasinya berubah begitu cepat sampai ia sulit memahami apa yang terjadi.
Ibu Ratna mendekati Maya.
“Kamu pikir pria ini akan terus melindungimu?”
Maya menatapnya.
“Tidak.”
Jawabannya membuat Ibu Ratna sedikit terkejut.
Maya menggenggam ponselnya lebih erat.
“Saya juga tidak meminta Pak Raditya melindungi saya selamanya.”
Ia menarik napas.
“Yang saya butuhkan cuma kesempatan untuk berdiri lagi.”
Wajah Ibu Ratna mengeras.
“Kamu tetap perempuan yang hidup dari belas kasihan orang lain.”
Sebelum Maya sempat menjawab, Raditya berkata datar, “Kalau Anda benar-benar mengenal Maya, Anda tidak akan mengatakan itu.”
Ibu Ratna menatapnya tajam.
Raditya melanjutkan.
“Selama tiga tahun bekerja di perusahaan saya, dia hampir tidak pernah mengambil cuti mendadak. Evaluasi kerjanya konsisten. Dia pernah menemukan celah pada sistem layanan klien yang menghemat kerugian operasional perusahaan lebih dari satu miliar rupiah.”
Maya menoleh cepat.
Ia bahkan tidak tahu Raditya mengetahui hal tersebut.
“Dia mendapatkan gajinya,” kata Raditya. “Dia mendapatkan fasilitas karyawan karena memang memenuhi haknya. Jadi sebelum Anda menyebutnya perempuan yang menumpang hidup, pastikan Anda punya sesuatu yang lebih kuat daripada prasangka.”
Ibu Ratna menahan amarah.
“Kita lihat berapa lama Bapak masih membelanya setelah reputasi perusahaan ikut rusak.”
Ia berbalik lalu masuk ke SUV.
Mobil itu pergi meninggalkan area gedung.
Maya tetap berdiri diam.
Raditya menatapnya.
“Kamu baik-baik saja?”
Pertanyaan sederhana itu justru membuat pertahanan Maya runtuh.
Ia menunduk.
Air mata jatuh.
“Saya malu, Pak.”
“Kenapa?”
“Semua orang di kantor pasti sudah lihat berita itu.”
“Berita bisa dihapus.”
“Tapi orang akan tetap bicara.”
“Orang memang selalu bicara.”
Maya mengangkat wajah.
Raditya menatapnya tenang.
“Yang penting adalah apakah mereka bicara berdasarkan fakta atau kebohongan.”
Satu jam kemudian, tim hukum Baskoro Tech bekerja.
Situs pertama yang menerbitkan berita tersebut menerima somasi.
Unggahan anonim yang menyebarkan foto mulai dilacak.
Namun hasil penyelidikan internal justru menemukan sesuatu yang jauh lebih serius.
Foto Maya memasuki lift pribadi ternyata diambil bukan dari luar gedung.
Foto itu berasal dari potongan rekaman kamera keamanan internal.
Seseorang dari dalam Baskoro Tech telah mengakses CCTV.
Raditya langsung memanggil kepala keamanan siber.
Dalam waktu dua jam, ditemukan bahwa rekaman itu diunduh menggunakan akun milik seorang staf kontrak bagian fasilitas.
Masalahnya, staf tersebut mengaku akunnya dipinjam seseorang.
Ketika riwayat akses komputer diperiksa, nama yang muncul membuat Maya tercekat.
Dimas Prasetya.
Ternyata Dimas pernah bekerja sebagai konsultan vendor IT yang menangani sistem gedung Baskoro Tech selama enam bulan.
Aksesnya seharusnya sudah dicabut.
Tetapi sebuah kredensial lama masih aktif karena kelalaian vendor.
Raditya menatap layar laptop dengan ekspresi dingin.
“Jadi dia masuk ke sistem perusahaan saya untuk mencuri rekaman mantan pasangannya sendiri.”

Maya duduk di kursi ruang rapat dengan wajah pucat.
“Dimas tahu saya bekerja di sini.”
“Dia juga tahu ibunya sedang memantau kamu.”
Maya menutup mata sebentar.
Potongan-potongan kejadian mulai tersambung.
Dimas pergi.
Ibu Ratna ingin memastikan Maya menghilang dari hidup mereka.
Lalu ketika mengetahui Maya menerima bantuan perusahaan, mereka menemukan cara menghancurkan reputasinya.
“Kenapa dia melakukan semua ini?” bisik Maya.
Raditya tidak menjawab.
Tetapi jawabannya muncul sore itu.
Tim legal menemukan bukti transfer uang dari perusahaan milik keluarga calon istri Dimas kepada vendor teknologi tempat Dimas bekerja.
Nilainya hampir tiga miliar rupiah.
Pembayaran itu dicatat sebagai biaya konsultasi.
Padahal tidak ada proyek nyata.
Lebih mengejutkan lagi, beberapa file internal menunjukkan bahwa Dimas menggunakan akses lama ke jaringan Baskoro Tech bukan hanya untuk mengambil foto Maya.
Ia juga pernah mencoba membuka dokumen tender perusahaan.
Raditya langsung berdiri.
Wajahnya benar-benar berubah.
“Ini bukan cuma tentang kamu.”
Maya menatapnya.
“Dimas sedang menjual akses perusahaan saya.”
Malam itu juga, Baskoro Tech melaporkan dugaan pencurian data dan akses ilegal.
Dimas dipanggil untuk pemeriksaan.
Keluarga calon istrinya mulai panik.
Dua hari kemudian, berita yang semula menghina Maya berbalik menjadi skandal besar mengenai dugaan penyalahgunaan data korporasi.
Nama Maya dibersihkan secara resmi melalui pernyataan perusahaan.
Baskoro Tech menjelaskan bahwa apartemen, pemeriksaan kesehatan, dan penitipan anak yang diterima Maya merupakan fasilitas darurat perusahaan bagi karyawan dalam kondisi rentan, bukan pemberian pribadi Raditya.
Namun kehidupan Maya belum menjadi tenang.
Malam ketiga setelah skandal itu pecah, seseorang mengetuk pintu apartemen barunya.
Maya melihat melalui kamera.
Dimas.
Ia berdiri sendirian dengan wajah kusut.
Maya tidak langsung membuka pintu.
“Apa yang kamu mau?”
Suara Dimas terdengar dari interkom.
“May, aku cuma mau bicara.”
“Nggak ada yang perlu dibicarakan.”
“Aku tahu aku salah.”
Maya hampir tertawa.
Empat tahun hidup bersama, dua koper, utang sewa, blokir nomor, dan kini fitnah.
Lalu hanya satu kalimat.
Aku salah.
Dimas menempelkan tangannya ke pintu.
“Aku takut.”
“Takut apa?”
“Ibu memaksa aku menikah dengan Clarissa. Keluarganya menjanjikan saham hotel kalau aku menikah dengannya.”
Maya menggigit bibir.
“Jadi kamu menukar keluarga kita dengan saham?”
“Aku pikir setelah semuanya aman, aku bisa bantu kamu dan Alya.”
Maya merasa dadanya terbakar.
“Membantu kami?”
Suaranya bergetar.
“Kamu meninggalkan anak yang sudah memanggilmu Ayah selama bertahun-tahun. Kamu tahu kami hampir diusir. Kamu tahu aku sedang hamil. Lalu kamu mencuri rekaman kantor untuk menghancurkan reputasiku.”
“Aku nggak tahu kamu hamil.”
“Karena kamu memblokir nomorku.”
Dimas terdiam.
Maya menatap wajahnya melalui layar kecil.
Untuk pertama kalinya, ia tidak lagi melihat laki-laki yang dulu ia cintai.
Ia melihat seorang pengecut.
“Pergi, Mas.”
“May…”
“Besok pengacara saya akan menghubungi kamu tentang tanggung jawab terhadap anak yang saya kandung.”
Dimas terpaku.
“Pengacara?”
“Ya.”
Maya menarik napas panjang.
“Saya sudah terlalu lama menyelesaikan semuanya dengan menangis. Sekarang saya akan menyelesaikannya dengan dokumen.”
Lalu ia mematikan interkom.
Maya bersandar pada pintu.
Tangannya gemetar.
Tetapi kali ini bukan karena ketakutan.
Ada sesuatu yang baru tumbuh di dalam dirinya.
Keberanian.
Hari-hari berikutnya bergerak cepat.
Dimas akhirnya mengakui keterlibatannya dalam pengambilan rekaman CCTV.
Ia mengatakan ibunya yang meminta foto itu sebagai cara menekan Maya.
Namun ketika penyidik menunjukkan bukti akses dokumen tender, Dimas tidak bisa lagi beralasan.
Vendor tempatnya bekerja memecatnya.
Keluarga calon istrinya membatalkan pertunangan setelah kasus tersebut menjadi konsumsi publik.
Ibu Ratna masih mencoba menghubungi Maya beberapa kali.
Maya tidak pernah menjawab.
Dua bulan berlalu.
Kehamilan Maya memasuki trimester kedua.
Pagi itu, setelah pemeriksaan rutin di rumah sakit, dokter mengatakan janinnya berkembang baik.
Ketika Maya keluar dari ruang konsultasi, ia terkejut melihat Raditya duduk di kursi tunggu.
“Pak?”
Raditya berdiri.
“Saya kebetulan ada rapat dengan direksi rumah sakit.”
Maya menatapnya curiga.
“Rapat pukul sebelas?”
Raditya melihat jam tangannya.
“Dibatalkan.”
Maya hampir tersenyum.
Selama dua bulan terakhir, hubungan mereka memang berubah.
Raditya tidak pernah bertindak berlebihan.
Ia tidak mengirimi Maya hadiah.
Tidak mengajaknya makan malam mewah.
Tidak berusaha masuk ke kehidupan pribadinya.
Namun ia selalu muncul di saat-saat yang aneh.
Ketika Alya demam, Raditya memastikan kendaraan perusahaan tersedia.
Ketika Maya harus menghadiri pemeriksaan hukum, ia menggeser jadwal kerja timnya.
Ketika beberapa rekan kantor mulai bergosip, ia mengeluarkan aturan tegas mengenai pelecehan dan penyebaran informasi pribadi di lingkungan kerja.
Maya mulai melihat sisi yang berbeda dari pria yang selama ini dikenal dingin.
“Pak Raditya,” katanya ketika mereka berjalan menuju lift.
“Ya?”
“Kenapa Bapak membantu saya sejauh ini?”
Raditya berhenti.
Ia membutuhkan beberapa detik sebelum menjawab.
“Ibu saya membesarkan saya sendirian.”
Maya menatapnya.
Itu pertama kalinya Raditya berbicara tentang keluarganya.
“Ayah saya pergi ketika ibu sedang hamil delapan bulan,” lanjutnya. “Kami pernah hampir kehilangan rumah.”
Maya terdiam.
“Ibu bekerja siang malam. Dia meninggal sebelum saya punya cukup uang untuk memberikan hidup yang lebih baik kepadanya.”
Tatapan Raditya melembut.
“Malam kamu salah kirim pesan itu, saya sedang berada di ruang kerja rumah. Ketika membaca kalimat ‘aku nggak sanggup menghadapi semua ini sendirian’, saya teringat kalimat yang pernah ibu saya tulis di buku hariannya.”
Maya merasa tenggorokannya tercekat.
“Jadi selama ini…”
“Saya tidak menolong kamu karena saya menyukai kamu.”
Raditya berhenti sebentar.
Maya merasakan sesuatu aneh di dada.
“Setidaknya, tidak pada awalnya.”
Maya langsung menoleh.
Raditya mengalihkan pandangan ke pintu lift yang baru terbuka.
Untuk pertama kalinya, Maya melihat bos miliardernya tampak tidak nyaman.
Ia hampir tertawa.
Raditya Baskoro yang membuat ribuan karyawan gugup ternyata bisa gugup juga.
Enam bulan kemudian, Maya melahirkan seorang bayi laki-laki sehat.
Ia menamainya Raka.
Dimas datang ke rumah sakit.
Bukan sebagai pasangan.
Bukan sebagai seseorang yang ingin kembali.
Ia datang sebagai ayah biologis yang sudah menandatangani kesepakatan tanggung jawab hukum dan finansial terhadap anaknya.
Ketika pertama kali melihat Raka, Dimas menangis.
Maya tidak membencinya.
Namun ia juga tidak memaafkan semuanya begitu saja.
Beberapa luka memang tidak harus menjadi dendam.
Tetapi bukan berarti luka itu harus dilupakan.
Satu tahun kemudian, Maya kembali bekerja penuh.
Ia dipromosikan menjadi manajer tim layanan sistem.
Promosi itu melewati proses penilaian independen karena Raditya sendiri mengundurkan diri dari seluruh keputusan yang berkaitan dengan posisi Maya.
Raditya tahu apa pun yang dilakukan terlalu cepat hanya akan menciptakan rumor baru.
Ia menunggu.
Sampai suatu malam, tepat pukul 03.17 dini hari, ponsel Maya berbunyi.
Ia baru selesai menenangkan Raka yang terbangun.
Sebuah pesan masuk.
Dari Raditya Baskoro.
Maya membukanya.
“Aku sudah menunggu lebih dari setahun supaya tidak ada seorang pun bisa bilang kamu berdiri di sampingku karena butuh diselamatkan. Sekarang kamu punya pekerjaan yang baik, rumah sendiri, tabungan, dan hidup yang kamu bangun dengan tanganmu sendiri. Jadi kali ini, kalau aku bilang aku membutuhkanmu, kamu tidak akan mengira itu belas kasihan.”
Maya menatap layar cukup lama.
Lalu tersenyum.
Ia mengetik balasan.
“Pak Raditya, Anda salah kirim?”
Tiga titik muncul.
Kemudian balasannya datang.
“Tidak.”
Maya menahan tawa agar tidak membangunkan anak-anak.
“Yakin?”
“Sudah saya cek nama penerimanya tiga kali.”
Maya tertawa pelan.
Untuk pertama kalinya, kenangan tentang pukul 03.17 tidak lagi terasa seperti malam terburuk dalam hidupnya.
Satu pesan salah kirim memang tidak menyelamatkannya.
Raditya juga tidak menyelamatkannya.
Yang menyelamatkan Maya adalah kesempatan untuk menyadari bahwa ia masih mampu berdiri setelah dikhianati, dipermalukan, dan ditinggalkan.
Raditya hanya menjadi orang pertama yang mengingatkannya bahwa menerima bantuan bukan berarti lemah.
Dan hampir dua tahun setelah malam itu, Maya berdiri di balkon sebuah rumah kecil di Jakarta Selatan.
Bukan apartemen perusahaan.
Bukan rumah milik Raditya.
Rumah yang ia beli sendiri melalui cicilan dari tabungan dan hasil kerjanya.
Alya berlari di halaman.
Raka tertawa di dalam pelukan Raditya.
Di meja teras terletak sebuah cincin sederhana.
Belum dipakai.
Raditya tidak pernah memaksanya.
Ia hanya berkata, “Kalau suatu hari kamu siap, cincin itu tetap di sana.”
Maya mengambil cincin tersebut.
Raditya menatapnya.
“May?”
Maya memasukkannya ke jari manis.
Lalu tersenyum.
“Sekarang saya sudah cek nama penerimanya tiga kali.”
Raditya terdiam sesaat.
Kemudian tertawa.
Dan bagi Maya, suara itu jauh lebih berharga daripada seluruh kekayaan yang dimiliki pria tersebut.
Karena pada akhirnya, hidupnya tidak berubah hanya karena ia salah mengirim pesan kepada seorang miliarder.
Hidupnya berubah karena untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Maya berhenti memohon kepada orang yang memilih meninggalkannya dan mulai menerima bahwa ia pantas berjalan bersama orang yang memilih tinggal.
