Bima masih menatap foto lama di layar ponsel Nadia ketika satu pertanyaan mulai berputar di kepalanya.
Jika Ayu benar-benar mencuri uang perusahaan enam tahun lalu, mengapa Nadia terlihat begitu takut membicarakannya?
Perempuan yang baru ditemuinya di taman itu memang pernah bekerja di pabrik tekstil keluarga mereka dan dipecat setelah dituduh mencuri uang perusahaan. Namun Nadia sendiri mengakui ada sesuatu yang disembunyikan Ayu sebelum menghilang.
“Apa yang dia sembunyikan?” tanya Bima.
Nadia memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas.
“Sudahlah. Itu urusan lama.”
“Kamu baru saja bilang kasusnya tidak sesederhana yang kupikirkan.”
“Aku cuma ingin kamu berhati-hati.”
Bima menatap adiknya tajam.
“Aku tanya sekali lagi. Apa yang terjadi enam tahun lalu?”
Nadia terdiam beberapa detik sebelum menghela napas.
“Ada uang perusahaan yang hilang. Hampir tiga ratus juta rupiah. Ayu bekerja di bagian administrasi gudang dan akses terakhir tercatat menggunakan akun miliknya. Setelah diperiksa, dia dipecat.”
“Dilaporkan ke polisi?”
“Tidak.”
Bima mengernyit.
Jumlah sebesar itu cukup besar untuk dibawa ke ranah hukum.
“Kenapa?”
Nadia mengalihkan pandangan.
“Ayah yang memutuskan menyelesaikannya secara internal.”
Jawaban itu justru membuat kecurigaan Bima semakin besar.
Ayah mereka, Arya Wijaya, terkenal keras dalam urusan perusahaan. Seorang sopir pernah langsung dilaporkan ke polisi karena menggelapkan bahan bakar senilai beberapa juta rupiah.
Tidak masuk akal jika pencurian ratusan juta dibiarkan begitu saja.
Sepanjang perjalanan pulang, wajah Ayu dan Nisa terus muncul di pikirannya.
Terutama satu kalimat Nisa.
Aku pikir mungkin Om juga butuh keluarga.
Malam itu Bima tidak bisa tidur.
Sekitar pukul sebelas, ia membuka laptop dan mengakses arsip digital perusahaan lama.
Pabrik tekstil keluarga memang sudah dijual empat tahun sebelumnya, tetapi sebagian besar data administrasinya masih tersimpan.
Ia mengetik nama Ayu.
Ayu Lestari.
Beberapa dokumen muncul.
Surat kontrak.
Data gaji.
Penilaian kerja.
Selama hampir empat tahun bekerja, Ayu tidak pernah mendapat teguran.
Bahkan dua kali menerima penghargaan karyawan teladan.
Kemudian Bima menemukan dokumen terakhir.
Surat pemutusan hubungan kerja.
Alasan pemberhentian tertulis singkat.
Pelanggaran berat terkait penyalahgunaan dana operasional.
Tidak ada bukti terlampir.
Tidak ada laporan audit.
Tidak ada berita acara pemeriksaan.
Bima mulai merasa ada sesuatu yang sangat salah.
Keesokan paginya ia mendatangi mantan kepala keuangan pabrik, seorang pria bernama Pak Surya yang kini sudah pensiun dan tinggal di Depok.
Begitu mendengar nama Ayu, wajah pria berusia enam puluhan itu langsung berubah.
“Kenapa Bapak mencari dia sekarang?”
“Karena saya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
Pak Surya diam cukup lama.
Kemudian ia berkata pelan, “Saya kira keluarga Anda tidak akan pernah membicarakan itu lagi.”
Bima merasakan jantungnya berdetak lebih cepat.
“Jadi Ayu tidak mencuri?”
Pak Surya tersenyum pahit.
“Justru dia yang menemukan pencurian itu.”
Bima membeku.
Menurut Pak Surya, Ayu menemukan transaksi mencurigakan ketika memeriksa pembayaran pemasok. Selama berbulan-bulan, sejumlah uang dipindahkan melalui tagihan fiktif.
Jumlahnya bukan tiga ratus juta.
Melainkan hampir dua miliar rupiah.
Ayu mengumpulkan bukti diam-diam.
Ia kemudian melaporkannya kepada direktur operasional.
“Siapa direktur operasional waktu itu?”
Pak Surya menatap Bima lama sebelum menjawab.
“Nadia.”
Dunia seperti berhenti sesaat.
“Adik saya?”
Pak Surya mengangguk.
Enam tahun lalu Nadia baru berusia dua puluh enam tahun dan sedang berusaha membuktikan dirinya kepada keluarga. Ia dipercaya mengelola pabrik tersebut.
Namun proyek ekspansi yang ia jalankan gagal.
Untuk menutupi kerugian dan mempertahankan posisinya, Nadia bersama seorang manajer keuangan memanipulasi beberapa transaksi.
Ayu menemukan semuanya.
“Kenapa Ayu yang akhirnya dipecat?”
“Karena bukti dibuat seolah-olah mengarah kepadanya.”
“Dan ayah saya?”
Pak Surya menunduk.
“Pak Arya tahu.”
Kalimat itu terasa seperti pukulan kedua.
“Ayah tahu Nadia yang melakukannya?”
“Tahu.”
“Lalu dia membiarkan Ayu menanggung kesalahan?”
Pak Surya menghela napas berat.
“Pak Arya takut skandal menghancurkan nama keluarga. Dia meminta Ayu diam.”
“Tapi Ayu menolak?”
“Dia meminta nama baiknya dibersihkan.”
“Lalu?”
“Dia dipecat.”
Bima berdiri begitu cepat hingga kursinya bergeser.
Selama ini ia mengagumi ayahnya sebagai pengusaha yang membangun kerajaan bisnis dari nol.
Sekarang untuk pertama kalinya ia melihat sisi lain lelaki itu.
Sisi yang rela mengorbankan orang tidak bersalah demi melindungi nama keluarga.
“Ada satu hal lagi,” ujar Pak Surya.
Bima berhenti.
“Ayu sebenarnya bisa menghancurkan keluarga Anda saat itu.”
Pak Surya membuka lemari tua dan mengambil sebuah map.
“Dia punya salinan beberapa dokumen.”
“Kenapa dia tidak membongkarnya?”

Pak Surya tersenyum sedih.
“Karena beberapa hari setelah dipecat, dia datang menemui saya. Dia bilang dia sedang hamil.”
Bima terdiam.
“Dia takut kalau kasus itu menjadi besar, stresnya akan membahayakan kandungannya. Jadi dia memilih pergi.”
Nisa.
Usianya enam tahun.
Bima tiba-tiba teringat semua perkataan anak itu.
Ayah kandungnya pergi sebelum ia lahir.
Sebuah kemungkinan mengerikan muncul dalam pikirannya.
“Siapa ayah Nisa?”
Pak Surya menggeleng.
“Saya tidak tahu.”
Siang itu Bima langsung menuju Kampung Melayu.
Setelah bertanya kepada beberapa warga, ia menemukan kios kecil dengan papan bertuliskan Permak Jahit Ayu.
Ayu sedang membungkuk di depan mesin jahit ketika Bima datang.
Begitu melihatnya, perempuan itu langsung berdiri.
“Pak Bima?”
“Saya perlu bicara.”
Wajah Ayu berubah tegang.
“Kalau soal kemarin, saya minta maaf lagi atas Nisa.”
“Bukan soal Nisa.”
Bima menatapnya.
“Ini tentang pabrik enam tahun lalu.”
Tangan Ayu yang memegang kain mendadak berhenti.
Beberapa detik mereka hanya saling menatap.
“Saya tidak tahu apa yang Anda maksud.”
“Saya sudah menemui Pak Surya.”
Wajah Ayu memucat.
Bima melanjutkan.
“Saya tahu kamu tidak mencuri.”
Ayu menunduk.
“Saya juga tahu siapa yang melakukannya.”
“Pak Bima, pulanglah.”
“Kenapa kamu tidak pernah melawan?”
Ayu mengangkat wajah.
“Untuk apa?”
“Membersihkan nama kamu.”
“Dengan menghancurkan hidup orang lain?”
“Mereka menghancurkan hidupmu lebih dulu.”
Ayu tertawa kecil, tetapi matanya mulai berkaca-kaca.
“Waktu itu saya hamil, tidak punya keluarga di Jakarta, tidak punya uang untuk pengacara. Ayah Anda menawarkan kompensasi kalau saya mau diam.”
“Kamu menerimanya?”
“Tidak.”
Bima terkejut.
“Saya tidak mau uang mereka.”
“Lalu bagaimana kamu bertahan?”
Ayu menunjuk mesin jahit tua di depannya.
“Mulai dari sini.”
Ada rasa malu yang sulit dijelaskan tumbuh dalam dada Bima.
Perempuan ini kehilangan pekerjaan dan nama baik karena keluarganya, tetapi bahkan ketika kesulitan, ia menolak uang tutup mulut.
“Kenapa kamu tidak pernah memberi tahu Nisa?”
“Memberi tahu apa?”
“Bahwa keluarganya pernah diperlakukan seperti itu.”
Ayu menatapnya tajam.
“Anak saya tidak perlu tumbuh dengan kebencian yang bukan miliknya.”
Saat itulah tirai kecil di belakang kios terbuka.
Nisa muncul mengenakan seragam sekolah.
“Om Bima!”
Wajahnya langsung cerah.
Namun senyumnya hilang ketika melihat mata ibunya yang merah.
“Ibu kenapa?”
“Nggak apa-apa.”
Nisa memandang Bima curiga.
“Om bikin Ibu nangis?”
Pertanyaan itu begitu polos hingga Bima tidak tahu harus menjawab apa.
Ayu mengusap kepala putrinya.
“Om Bima cuma datang ngobrol.”
Nisa lalu mengeluarkan sesuatu dari tas sekolahnya.
Gelang manik-manik.
Gelang yang sama seperti yang dikenakannya di taman.
“Aku bikin satu lagi.”
Ia menyerahkannya kepada Bima.
“Buat Om.”
Bima menerima gelang kecil itu.
Untuk seseorang yang terbiasa menerima hadiah mahal dari mitra bisnis, benda seharga beberapa ribu rupiah itu justru membuat tenggorokannya tercekat.
“Terima kasih.”
Nisa tersenyum.
“Sekarang Om nggak boleh sedih lagi.”
Bima pulang membawa gelang itu.
Malamnya ia mendatangi rumah Nadia.
Ia meletakkan salinan dokumen lama di atas meja.
Wajah Nadia langsung pucat.
“Kamu menemui siapa?”
“Pak Surya.”
Nadia berdiri.
“Kamu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
“Kalau begitu jelaskan.”
“Aku masih muda waktu itu. Proyek itu gagal. Kalau Ayah tahu aku kehilangan uang sebanyak itu, karierku selesai.”
“Jadi kamu mengorbankan Ayu?”
“Aku tidak bermaksud membuat semuanya sejauh itu!”
“Tapi kamu diam selama enam tahun.”
Nadia mulai menangis.
“Ayah yang menyuruhku.”
“Dan kemarin kamu masih menghina dia.”
Nadia tidak mampu menjawab.
Bima merasa marah, tetapi di balik kemarahannya ada sesuatu yang lebih menyakitkan.
Kekecewaan.
“Besok kamu ikut aku.”
“Ke mana?”
“Menemui Ayu.”
Nadia menggeleng.
“Aku tidak bisa.”
“Kamu bisa.”
“Bima…”
“Selama enam tahun dia hidup membawa tuduhan yang seharusnya menjadi milikmu. Kamu setidaknya bisa membawa satu hal yang tidak pernah dia dapatkan.”
“Apa?”
“Permintaan maaf.”
Keesokan harinya Nadia berdiri di depan kios jahit Ayu.
Tidak ada pakaian mahal mencolok.
Tidak ada sopir.
Tidak ada kesombongan seperti di taman.
Hanya seorang perempuan yang akhirnya harus berhadapan dengan masa lalunya sendiri.
Ketika Ayu melihat Nadia, wajahnya langsung menegang.
Namun Nadia menundukkan kepala.
“Maaf.”
Satu kata itu membuat ruangan terasa sunyi.
Nadia menangis.
Ia mengakui semuanya.
Tentang transaksi fiktif.
Tentang manipulasi data.
Tentang bagaimana ayah mereka memilih melindunginya.
Ayu hanya mendengarkan.
Setelah Nadia selesai, ia berkata pelan, “Saya sudah memaafkan Anda sejak lama.”
Nadia mengangkat wajah tidak percaya.
“Tapi saya tidak melupakannya.”
Ayu menatapnya.
“Memaafkan bukan berarti mengatakan bahwa yang Anda lakukan benar. Saya memaafkan karena saya tidak mau hidup saya terus dikendalikan oleh kesalahan Anda.”
Bima tidak pernah melupakan kalimat itu.
Beberapa minggu kemudian ia membuka kembali kasus tersebut secara resmi melalui audit independen.
Nama Ayu dibersihkan.
Perusahaan juga memberikan kompensasi atas pemecatan tidak sah.
Awalnya Ayu menolak.
Namun Bima berkata, “Ini bukan hadiah. Ini hak kamu.”
Akhirnya Ayu menerima sebagian dan menggunakan uang tersebut untuk memperbesar usaha jahitnya.
Hubungan Bima dengan Ayu perlahan berubah.
Ia sering datang ke kios.
Kadang membawa kopi.
Kadang membantu Nisa mengerjakan tugas sekolah.
Kadang hanya duduk sambil mendengarkan suara mesin jahit.
Nisa, tentu saja, menjadi orang paling bahagia.
Suatu sore, ketika Bima mengajari Nisa naik sepeda di taman, bocah itu tiba-tiba bertanya, “Om sekarang masih belum punya istri?”
Bima hampir jatuh karena tertawa.
Ayu yang duduk tidak jauh dari sana langsung menutup wajah.
“Nisa!”
“Aku cuma tanya.”
Bima memandang Ayu.
Untuk pertama kalinya, perempuan itu tidak menghindari tatapannya.
Mereka tersenyum.
Namun ada satu pertanyaan yang masih mengganggu Bima.
Identitas ayah Nisa.
Ia tidak pernah berani bertanya karena merasa itu bukan haknya.
Sampai suatu malam Ayu sendiri yang membicarakannya.
“Nisa bukan anak dari seseorang yang Anda kenal,” katanya.
Bima terdiam.
“Ayahnya bernama Reza. Kami pernah berencana menikah.”
“Apa yang terjadi?”
“Dia meninggal.”
Bima membeku.
Ayu menjelaskan bahwa Reza meninggal dalam kecelakaan kerja beberapa minggu sebelum pernikahan mereka.
Saat itu Ayu baru mengetahui dirinya hamil.
“Kenapa Nisa bilang ayahnya pergi?”
“Karena waktu kecil dia belum mengerti kematian. Saya bilang ayahnya pergi ke tempat yang sangat jauh. Lama-lama dia membuat ceritanya sendiri.”
Bima menunduk.
Selama ini ia sempat takut ada rahasia lain yang menghubungkan Nisa dengan keluarganya.
Ternyata tidak.
Setahun kemudian, Bima kembali ke Hutan Kota GBK.
Bangku tempat ia pertama kali bertemu Nisa masih ada.
Kali ini ia tidak sendirian.
Ayu duduk di sebelahnya.
Nisa berlari mengejar gelembung sabun beberapa meter di depan mereka.
Bima memandang gelang manik-manik yang masih melingkar di pergelangan tangannya.
Warnanya sudah sedikit pudar.
Namun ia tidak pernah melepasnya.
“Nisa benar,” katanya tiba-tiba.
Ayu menoleh.
“Soal apa?”
“Waktu pertama kali bertemu.”
Bima tersenyum.
“Dia bilang aku butuh keluarga.”
Ayu menatap Nisa yang sedang tertawa.
“Anak itu terlalu banyak bicara.”
“Untungnya.”
Bima meraih tangan Ayu.
Kemudian ia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku.
Ayu membeku.
“Bima…”
“Aku punya rumah besar, perusahaan, mobil, dan semua hal yang dulu kupikir penting.”
Ia membuka kotak itu.
“Tapi ternyata Nisa yang pertama kali melihat apa yang sebenarnya tidak aku punya.”
Mata Ayu mulai basah.
Bima tersenyum.
“Jadi sekarang aku ingin menjawab pertanyaan Nisa dengan jawaban yang berbeda.”
Dari kejauhan Nisa menyadari sesuatu sedang terjadi.
Ia berlari mendekat.
“Ada apa?”
Bima berlutut di depan Ayu.
Nisa langsung menutup mulutnya sendiri karena terkejut.
“Ayu Lestari, maukah kamu menikah denganku?”
Ayu menangis sambil tertawa.
Namun sebelum sempat menjawab, Nisa berteriak lebih dulu.
“Mau!”
Ayu menoleh.
“Nisa!”
“Aku bantu jawab.”
Bima tertawa.
Ayu akhirnya mengangguk.
“Iya.”
Nisa langsung memeluk mereka berdua.
Setahun kemudian, setelah akad sederhana yang hanya dihadiri keluarga dan sahabat dekat, Nisa kembali mengajukan pertanyaan yang sama seperti pada hari pertama mereka bertemu.
“Om Bima.”
Bima menoleh.
“Iya?”
“Sekarang Om punya istri?”
Bima memandang Ayu yang berdiri beberapa langkah darinya.
Lalu ia berjongkok di depan Nisa.
Matanya berkaca-kaca.
“Kali ini punya.”
Nisa tersenyum lebar.
“Syukurlah.”
Bima tertawa sambil memeluknya.
Dulu ia mengira kekayaan membuat seseorang tidak membutuhkan siapa pun.
Namun seorang bocah enam tahun mengajarinya sesuatu yang tidak pernah ia temukan dalam rapat direksi, laporan keuangan, atau rekening bank.
Bahwa keluarga bukan tentang siapa yang datang ke hidup kita dalam keadaan sempurna.
Keluarga adalah orang-orang yang datang membawa luka masing-masing, lalu memilih untuk tidak saling meninggalkan.
Dan terkadang, perubahan terbesar dalam hidup tidak dimulai dari keputusan besar.
Ia dimulai dari sebuah bangku taman, seutas gelang murah, dan satu pertanyaan polos.
“Om, apakah Om punya istri?”
