Aku membiarkan sahabatku tinggal gratis di apartemen view sungai, tapi dia malah menjadikannya “kamar pengantin” untuk disewakan—saat nenekku demam tinggi dan aku terpaksa mencari homestay, barulah aku tahu rahasia yang disembunyikannya selama setahun.

Tanganku yang sedang memegang minuman berhenti di udara.

Ada sesuatu yang terasa ganjil ketika mendengar ibu Keira membanggakan apartemen milik Rivan. Namun malam itu aku memilih diam. Aku bahkan sempat berpikir mungkin Rivan memang membeli unit lain di kompleks yang sama.

Aku tidak pernah membayangkan apartemen yang mereka banggakan di depan seluruh keluarga adalah milikku.

Malam ketika semuanya terbongkar, aku berdiri di ruang tamu unit 1102 sambil menatap foto pernikahan Keira dan Rivan yang tergantung di dinding. Di belakangku, teknisi sedang memasang kunci baru.

Ponselku terus bergetar.

Keira.

Rivan.

Keira lagi.

Aku mematikan suara.

Setelah teknisi selesai, aku membayar jasanya dan memastikan kode lama sudah tidak bisa digunakan.

“Kalau ada yang datang dan bilang penghuni lama, jangan dibukakan,” kataku kepada petugas keamanan melalui telepon. “Saya pemilik sah unit 1102. Besok saya akan turun membawa dokumen.”

Aku baru saja menutup telepon ketika terdengar bunyi keras dari arah kamar.

Aku langsung berlari.

“Nenek!”

Nenek mencoba bangun dari tempat tidur, tetapi tubuhnya menggigil hebat. Dahinya terasa jauh lebih panas daripada sebelumnya.

Saat itu semua kemarahanku kepada Keira mendadak tidak penting.

Aku segera membawa Nenek ke rumah sakit terdekat.

Dokter mengatakan demamnya cukup tinggi dan Nenek mengalami dehidrasi. Untung aku tidak menunggu sampai pagi.

Menjelang pukul dua dini hari, setelah kondisi Nenek stabil dan tertidur karena obat, aku duduk di kursi lorong rumah sakit.

Ponselku menunjukkan seratus lebih notifikasi.

Ada satu pesan suara dari Keira.

Aku memutarnya.

“Nad, angkat telepon dulu. Ini salah paham. Aku bisa jelasin semuanya. Jangan bikin keputusan pas lagi emosi.”

Aku hampir tertawa.

Salah paham?

Aku membuka aplikasi penginapan lagi.

Namun halaman apartemen itu sudah hilang.

Rivan rupanya menyadari aku telah menemukannya.

Untung aku sudah mengambil tangkapan layar.

Aku mencari nama unit tersebut melalui mesin pencarian.

Hasilnya membuat perutku terasa mual.

Apartemenku ternyata tidak hanya disewakan melalui satu platform.

Ada di tiga platform berbeda.

Bahkan ada akun media sosial khusus bernama Musi Romantic Stay.

Foto balkonku digunakan sebagai gambar profil.

Kamar tidurku dipenuhi dekorasi bunga.

Ada paket ulang tahun.

Paket lamaran.

Paket anniversary.

Dan yang paling membuat darahku mendidih adalah sebuah unggahan delapan bulan lalu.

Foto Keira berdiri di balkon sambil memegang buket bunga.

Keterangan fotonya berbunyi, “Dari rumah pertama kami, lahirlah usaha kecil yang dibangun dengan cinta.”

Usaha kecil.

Dengan rumahku.

Aku terus menggulir sampai menemukan sebuah video lama.

Rivan sedang menunjukkan ruang tamu kepada kamera.

“Awalnya tempat ini memang rumah pribadi kami,” katanya santai. “Tapi karena lokasinya strategis dan view Sungai Musi bagus, kami pikir kenapa nggak dibagikan kepada orang lain?”

Di belakang kamera terdengar suara Keira tertawa.

Aku menghentikan video.

Selama satu tahun terakhir, aku membayar pajak properti.

Aku membayar biaya pemeliharaan besar ketika pengelola mengganti sistem pompa gedung.

Aku bahkan pernah mentransfer uang kepada Keira karena katanya AC kamar rusak dan mereka sedang kesulitan.

Ternyata saat itu apartemenku sudah menghasilkan uang.

Pagi harinya, aku menelepon pengelola gedung.

Seorang staf bernama Pak Dimas meminta aku datang membawa dokumen kepemilikan.

Ketika aku tiba, ekspresinya berubah setelah melihat namaku di sertifikat.

“Mbak Nadira pemilik unit 1102?”

“Iya.”

Pak Dimas menatap layar komputernya.

“Setahu kami pemiliknya Pak Rivan.”

“Berdasarkan apa?”

Ia terlihat tidak nyaman.

“Beliau beberapa kali memperkenalkan diri sebagai pemilik. Tagihan utilitas juga atas nama beliau.”

Aku mengeluarkan dokumen dari tas.

“Nama pelanggan listrik bukan bukti kepemilikan.”

Pak Dimas langsung mengangguk.

Kemudian ia membuka catatan akses gedung.

Apa yang kulihat jauh lebih buruk daripada dugaan.

Dalam satu tahun terakhir, ratusan identitas tamu telah didaftarkan untuk masuk ke unit 1102.

Keira dan Rivan rupanya menyebut mereka sebagai kerabat, teman kantor, dan tamu keluarga.

“Kenapa tidak pernah ada yang menghubungi saya?”

Pak Dimas menarik napas panjang.

“Karena nomor kontak utama unit ini sudah diganti.”

Aku membeku.

“Diganti?”

Ia memutar monitor.

Nomor teleponku sudah tidak ada.

Sebagai gantinya tercantum nomor Rivan.

Aku akhirnya memahami mengapa selama setahun tidak pernah menerima laporan apa pun.

Mereka bukan sekadar menumpang.

Mereka perlahan mengambil alih identitas apartemenku.

Siang itu aku menghubungi pengacara.

Aku menyerahkan semua bukti yang kumiliki.

Dokumen kepemilikan.

Riwayat percakapan dengan Keira.

Tangkapan layar platform penginapan.

Catatan tamu.

Unggahan media sosial.

Bukti bahwa mereka menyebut apartemen tersebut milik sendiri.

Pengacaraku membaca semuanya dalam diam.

Kemudian ia bertanya, “Mbak Nadira pernah memberikan izin tertulis untuk menyewakan unit?”

“Tidak.”

“Pernah memberikan kuasa untuk mengklaim kepemilikan?”

“Tidak.”

“Pernah menerima bagian dari pendapatan sewa?”

Aku menggeleng.

“Seribu rupiah pun tidak.”

Ia menutup map.

“Kalau begitu jangan bernegosiasi sendirian dengan mereka.”

Sore itu Keira akhirnya datang ke rumah sakit.

Aku sedang duduk di samping Nenek ketika suara ribut terdengar dari lorong.

“Nadira!”

Aku keluar.

Keira berdiri beberapa meter dariku. Rambutnya berantakan dan matanya sembap.

Rivan berada di belakangnya.

Begitu melihatku, Keira langsung mendekat.

“Kamu ganti kunci?”

“Iya.”

“Barang kami masih di dalam!”

“Itu apartemenku.”

Keira terdiam.

Hanya beberapa detik.

Lalu ekspresinya berubah.

“Nad, jangan begini. Kita sahabatan hampir dua belas tahun.”

Kalimat itu membuat dadaku terasa lebih sakit daripada semua kebohongannya.

“Justru karena dua belas tahun aku kasih kamu tinggal gratis.”

“Aku tahu. Aku berterima kasih.”

“Dengan menyewakannya?”

Keira melirik Rivan.

Rivan akhirnya maju.

“Bisnis itu ide saya.”

“Bagus. Berarti kamu bisa menjelaskan kenapa di internet kamu mengaku membeli apartemen itu tunai.”

Wajahnya menegang.

“Itu cuma marketing.”

“Dan bilang kamu melamar Keira di balkonku juga marketing?”

Ia tidak menjawab.

Aku menatap Keira.

“Berapa banyak uang yang kalian dapat?”

“Nad…”

“Berapa?”

Keira mulai menangis.

“Kami awalnya cuma menyewakan kalau lagi pulang ke rumah orang tua Rivan.”

“Berapa?”

“Lama-lama ternyata banyak yang pesan.”

“Berapa?”

Rivan menyela, “Kamu tidak berhak menginterogasi istri saya seperti ini.”

Aku menatapnya.

“Di rumah sakit tempat nenekku dirawat karena tadi malam aku tidak bisa masuk ke rumahku sendiri?”

Ia langsung diam.

Keira mengusap air matanya.

“Kami punya utang, Nad.”

Aku menunggu.

“Setelah menikah, utang Rivan banyak. Bisnis keluarganya juga bermasalah. Kami benar-benar kepepet.”

“Jadi kalian menggunakan apartemenku.”

“Kami rawat tempat itu!”

Aku hampir tidak percaya dengan kalimat yang baru kudengar.

“Kalian rawat?”

Keira mulai meninggikan suara.

“Kamu bahkan jarang datang! Setahun lebih apartemen itu kosong kalau bukan karena kami. Kami yang bayar listrik, air, internet. Kami beli sofa. Kami renovasi kamar. Kami bikin tempat itu lebih bagus.”

“Lalu keuntungannya?”

Keira terdiam.

Aku mengangguk pelan.

“Masuk rekening kalian.”

Rivan menghela napas kesal.

“Kita bisa hitung biaya renovasi, operasional, lalu bagi keuntungan.”

Aku menatapnya cukup lama.

Ia masih berpikir ini negosiasi bisnis.

“Aku tidak mau bagi keuntungan.”

“Terus maumu apa?”

“Aku mau seluruh catatan transaksi.”

Rivan tertawa pendek.

“Itu bisnis kami.”

“Yang menggunakan properti saya tanpa izin.”

Senyumnya hilang.

Aku melanjutkan, “Dan mulai sekarang, pengacara saya yang akan berbicara dengan kalian.”

Keira menatapku seolah aku baru saja menamparnya.

“Kamu mau bawa ini ke jalur hukum?”

“Aku memberimu rumah ketika kamu bilang tidak punya tempat tinggal. Kamu mengubahnya menjadi bisnis, mengaku sebagai pemilik, lalu tadi malam kamu berbohong soal pipa pecah ketika nenekku sedang demam tinggi.”

Air mata Keira kembali jatuh.

“Aku panik.”

“Kenapa?”

Ia tidak menjawab.

Aku sudah tahu jawabannya.

Karena malam itu ada tamu di apartemenku.

Dua hari kemudian aku menemukan fakta yang lebih buruk.

Platform pemesanan akhirnya memberikan riwayat transaksi setelah kasus kepemilikan dilaporkan secara resmi.

Jumlahnya jauh di atas perkiraanku.

Selama sekitar sebelas bulan, unit itu hampir selalu terisi setiap akhir pekan dan hari libur.

Pendapatan kotornya mencapai ratusan juta rupiah.

Tetapi bukan angka itu yang paling mengejutkanku.

Ada satu pola dalam rekening pembayaran.

Sebagian besar uang tidak masuk ke rekening Rivan.

Melainkan ke rekening Keira.

Aku meminta pengacaraku memeriksa lebih lanjut.

Seminggu kemudian, Keira menghubungiku melalui email.

Ia meminta bertemu tanpa Rivan.

Aku hampir menolak.

Namun satu kalimat membuatku berubah pikiran.

“Ada sesuatu yang harus kamu tahu. Rivan juga tidak tahu semuanya.”

Kami bertemu di sebuah kafe dekat rumah sakit.

Keira datang tanpa riasan.

Ia terlihat seperti orang yang tidak tidur berhari-hari.

Ia meletakkan sebuah map di meja.

“Aku nggak minta kamu maafin aku.”

Aku tidak menjawab.

“Aku cuma mau jujur sekali ini.”

Ia mendorong map itu ke arahku.

Di dalamnya ada laporan transaksi, kuitansi, dan beberapa dokumen.

“Aku yang pertama kali menyewakan apartemenmu,” katanya.

Aku sudah menduga.

“Tapi bukan karena utang Rivan.”

Aku mengangkat kepala.

Keira menelan ludah.

“Karena aku mau pergi dari dia.”

Aku terdiam.

Keira menunjukkan bekas memar lama di lengannya melalui foto yang tersimpan di ponsel.

Ia menjelaskan bahwa beberapa bulan setelah menikah, Rivan mulai mengendalikan keuangannya. Utang yang selama ini disebut sebagai utang bersama sebagian besar berasal dari bisnis Rivan.

Keira diam-diam menyimpan sebagian pendapatan apartemen sebagai dana untuk pergi.

“Kenapa kamu tidak bilang kepadaku?”

“Karena awalnya aku cuma menyewakan dua malam. Aku pikir nanti uangnya kukembalikan.”

“Tapi kamu terus melakukannya hampir setahun.”

Ia menunduk.

“Iya.”

“Dan kamu ikut mengaku apartemen itu milik kalian.”

Air matanya jatuh.

“Iya.”

“Jadi jangan gunakan Rivan untuk membuat dirimu terlihat tidak bersalah.”

Keira menutup mata.

“Aku tahu.”

Untuk pertama kalinya sejak semuanya terbongkar, aku melihat sesuatu yang berbeda.

Bukan pembenaran.

Rasa malu.

“Aku memang takut sama Rivan,” katanya pelan. “Tapi aku juga serakah. Waktu lihat uangnya masuk terus, aku mulai berpikir toh kamu nggak tinggal di sana. Aku mulai merasa aku berhak karena aku yang merawat tempat itu.”

Ia tertawa getir.

“Lama-lama aku sendiri percaya kebohonganku.”

Aku membuka dokumen terakhir.

Ada catatan transfer dalam jumlah besar.

Tujuannya membuatku mengernyit.

“Ini apa?”

Keira mengusap wajah.

“Uang yang kusimpan.”

“Untuk apa?”

“Sebagian untuk pergi dari Rivan.”

“Sebagian lagi?”

Ia menatapku.

“Untuk mengembalikan uangmu.”

Aku tertawa pendek.

“Kapan? Setelah tertangkap?”

“Tidak.”

Keira mengeluarkan ponsel lalu memperlihatkan sebuah email terjadwal yang dibuat hampir dua bulan sebelum malam itu.

Email tersebut ditujukan kepadaku.

Isinya pengakuan.

Tentang penyewaan apartemen.

Tentang uang.

Tentang kebohongannya.

Email itu dijadwalkan terkirim tiga minggu kemudian, pada hari yang menurutnya menjadi hari keberangkatannya meninggalkan Palembang.

Aku menatap layar lama sekali.

Jadi Keira memang berencana mengaku.

Tetapi fakta itu tidak menghapus apa pun.

“Kamu tahu apa yang paling menyakitkan?” tanyaku.

Keira menggeleng.

“Bukan uangnya.”

Aku teringat malam ketika Nenek menggigil di dalam mobil sementara aku berpindah dari satu aplikasi hotel ke aplikasi lainnya.

“Aku percaya ketika kamu bilang rumahku tidak bisa ditempati. Bahkan saat nenekku sakit, aku masih lebih percaya kata-katamu daripada firasatku sendiri.”

Keira menangis tanpa suara.

Aku berdiri.

“Nad…”

Aku berhenti.

“Aku akan menyerahkan semua uang yang tersisa.”

“Itu urusan pengacara.”

“Persahabatan kita?”

Aku memandang perempuan yang sudah kukenal sejak sekolah itu.

Ada masa ketika aku tahu makanan favoritnya, ukuran sepatunya, nama orang pertama yang membuatnya patah hati.

Tetapi rupanya mengetahui seseorang selama bertahun-tahun tidak selalu berarti kita benar-benar mengenalnya.

“Persahabatan kita selesai malam ketika kamu tahu nenekku sakit dan tetap membiarkanku mencari penginapan agar rahasiamu tidak terbongkar.”

Aku meninggalkannya di sana.

Beberapa bulan kemudian, kasus itu diselesaikan melalui jalur hukum dan kesepakatan ganti rugi. Sebagian besar dana yang masih tersimpan dikembalikan. Rivan dan Keira akhirnya berpisah.

Aku tidak pernah bertanya apa yang terjadi setelah itu.

Aku merenovasi apartemen 1102 sekali lagi.

Bukan renovasi besar.

Aku hanya membuang dekorasi penginapan, menurunkan foto pernikahan dari dinding, mengembalikan rak buku ke tempat semula, dan membeli sofa sederhana.

Ada satu benda yang tidak kuganti.

Tirai bambu buatan Nenek.

Suatu sore, setelah kesehatannya pulih, Nenek berdiri di balkon sambil memangkas bugenvil yang hampir mati.

“Jangan dibuang,” katanya ketika aku menyarankan membeli tanaman baru.

“Sudah rusak, Nek.”

Nenek menggeleng.

“Belum.”

Ia memotong satu cabang kering.

“Yang mati dibuang. Yang masih hidup dirawat.”

Beberapa bulan kemudian, bugenvil itu berbunga lagi.

Tidak selebat dulu.

Namun justru karena itulah aku menyukainya.

Aku akhirnya mengerti bahwa kebaikan bukan berarti memberikan akses tanpa batas kepada seseorang. Kepercayaan bukan berarti menutup mata terhadap hal-hal yang terasa salah. Dan memaafkan seseorang tidak selalu berarti membiarkannya kembali ke tempat yang sama dalam hidup kita.

Kadang kita memang perlu mengganti kunci.

Bukan karena membenci orang yang pernah berada di dalam.

Melainkan karena akhirnya memahami bahwa rumah, kepercayaan, dan ketenangan hati adalah hal-hal yang juga berhak kita lindungi.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang