ANAK 15 TAHUN MERINTIH KESAKITAN, TAPI SUAMINYA TERUS MENUDUH DIA CUMA PURA-PURA.

Dewi tidak langsung menangis.

Justru itulah yang membuat suasana ruang pemeriksaan terasa semakin menyesakkan.

Dia hanya duduk diam, menatap nama Hendra Pratama di layar komputer, sementara kalimat putrinya terus berputar di kepalanya.

Papa sudah tahu sejak lama.

Papa bilang Mama nggak boleh tahu.

Papa suruh Aurel bersumpah.

Selama sembilan tahun menikah dengan Hendra, Dewi sudah mengenal banyak sisi lelaki itu. Hendra memang keras soal uang. Dia sering menghitung pengeluaran sampai ke nominal terkecil, memeriksa struk belanja, mempertanyakan biaya les, bahkan pernah marah karena Dewi membawa Aurel ke dokter gigi swasta tanpa membandingkan harga terlebih dahulu.

Namun Dewi tidak pernah membayangkan Hendra sanggup menyembunyikan sesuatu yang menyangkut nyawa anak.

“Aurel,” suara Dewi akhirnya keluar, sangat pelan. “Kenapa kamu nurut?”

Pertanyaan itu baru saja terucap ketika Dewi langsung menyesalinya.

Wajah Aurel berubah.

Ada rasa takut yang begitu jelas di sana.

“Papa bilang kalau Mama tahu, Mama pasti panik,” jawabnya sambil terisak. “Papa bilang hasil pemeriksaannya belum tentu benar.”

Dewi mengusap air mata putrinya.

“Terus?”

Aurel menatap dokter Aris sebentar, kemudian kembali menunduk.

“Papa juga bilang biaya rumah sakit mahal. Katanya kalau Aurel bikin Mama terus bawa Aurel periksa, uang sekolah Aurel bisa habis.”

Dada Dewi terasa seperti dihantam benda berat.

“Dia bilang begitu?”

Aurel mengangguk.

“Papa bilang… kalau Aurel anak yang baik, Aurel harus tahan dulu.”

Dokter Aris menghela napas perlahan.

Wajahnya tetap profesional, tetapi sorot matanya berubah.

“Ibu Dewi,” katanya, “untuk sekarang yang terpenting adalah kondisi Aurel. Kami perlu melakukan CT scan dan pemeriksaan darah. Dari ukuran massanya dan keluhan nyeri yang semakin berat, saya sarankan Aurel dirawat.”

Dewi langsung mengangguk.

“Lakukan semua yang perlu dilakukan, Dok.”

Pukul 17.26, Aurel dibawa menuju ruang radiologi.

Sementara itu, Dewi berdiri sendirian di lorong rumah sakit dengan ponsel di tangan.

Nama Hendra muncul di layar.

Empat panggilan tak terjawab.

Lalu sebuah pesan masuk.

Kamu di mana? Guru Aurel bilang dia pulang sama kamu.

Dewi membaca pesan itu beberapa detik.

Jarinya gemetar.

Kemudian dia mengetik.

Aku di rumah sakit sama Aurel.

Balasan Hendra datang kurang dari satu menit.

Rumah sakit lagi? Dewi, kamu benar-benar keterlaluan. Aku sudah bilang dia cuma kecapekan.

Dewi menatap kalimat itu lama sekali.

Untuk pertama kalinya, kebohongan Hendra terlihat begitu jelas.

Bukan dugaan.

Bukan kesalahpahaman.

Kebohongan.

Dia tahu ada rujukan medis 83 hari lalu.

Dia sendiri yang membatalkannya.

Namun sampai detik itu, Hendra masih berpura-pura tidak tahu.

Dewi tidak membalas lagi.

Sekitar pukul 18.40, dokter Aris datang membawa hasil CT scan awal.

Ada sesuatu pada ekspresinya yang membuat lutut Dewi melemas sebelum dokter itu sempat berbicara.

“Massanya berasal dari area ovarium kanan.”

Dewi menahan napas.

Dokter menjelaskan bahwa massa tersebut diduga merupakan tumor ovarium berukuran besar. Belum bisa dipastikan apakah jinak atau ganas sebelum dilakukan operasi dan pemeriksaan jaringan.

Namun ada masalah lain.

Tumor itu mengalami torsi.

“Terpuntir?” tanya Dewi.

Dokter mengangguk.

“Ya. Itu yang kemungkinan menyebabkan nyeri hebat belakangan ini. Aliran darah ke jaringan bisa terganggu. Kalau dibiarkan, jaringan dapat mati, pecah, atau memicu komplikasi serius.”

Dewi langsung berdiri.

“Operasi sekarang, Dok.”

“Kami sedang menyiapkan tim bedah.”

Aurel dipindahkan ke kamar rawat sementara.

Sekitar pukul 20.10, Hendra akhirnya datang.

Langkahnya cepat.

Wajahnya terlihat kesal, bukan cemas.

Begitu masuk kamar, dia langsung menatap Dewi.

“Kamu kenapa nggak jawab telepon?”

Dewi berdiri di samping tempat tidur Aurel.

“Hendra, keluar.”

Hendra mengernyit.

“Apa?”

“Kita bicara di luar.”

Mereka berjalan ke lorong.

Begitu pintu kamar tertutup, Dewi mengeluarkan ponselnya.

Dia sudah memotret layar komputer yang menunjukkan detail pembatalan rujukan.

Dia memperlihatkannya kepada Hendra.

Wajah lelaki itu berubah hanya dalam sepersekian detik.

Cukup singkat.

Namun Dewi melihatnya.

“Kamu mau jelaskan ini?”

Hendra menatap layar.

Kemudian memalingkan wajah.

“Oh, itu.”

Dua kata itu membuat darah Dewi mendidih.

“Oh, itu?”

“Dewi, dengar dulu.”

“Kamu tahu Aurel harus diperiksa sejak 83 hari lalu.”

“Itu cuma pemeriksaan sekolah.”

“Kamu membatalkan jadwal konsultasinya.”

“Aku punya alasan.”

“Alasan apa?”

Suara Dewi mulai meninggi.

Beberapa orang di lorong menoleh, tetapi dia tidak peduli.

Hendra mendekat dan merendahkan suaranya.

“Waktu itu hasilnya belum jelas. Dokternya cuma bilang ada kemungkinan kelainan. Aku pikir kita tunggu dulu.”

“Menunggu apa? Sampai anakku nggak bisa berdiri?”

“Jangan dramatis.”

Dewi membeku.

Kata itu.

Kata yang selama berminggu-minggu dia gunakan terhadap Aurel.

Berlebihan.

Manja.

Dramatis.

“Hendra,” kata Dewi dengan suara sangat tenang, “tumornya hampir 17 sentimeter.”

Wajah Hendra akhirnya kehilangan warna.

“Apa?”

“Dia harus operasi malam ini.”

Untuk pertama kalinya, Hendra terlihat benar-benar terkejut.

Namun ekspresi itu justru memunculkan pertanyaan baru di kepala Dewi.

Kalau Hendra memang tahu ada kelainan, mengapa dia tampak tidak tahu kondisi Aurel sudah separah ini?

“Aku nggak tahu sampai sebesar itu,” gumamnya.

Dewi menatapnya.

“Jadi kamu mengaku tahu?”

Hendra terdiam.

Pada saat yang sama, suara dari dalam kamar terdengar.

“Ma…”

Dewi berbalik dan segera masuk.

Aurel sedang berusaha duduk.

Wajahnya pucat.

“Jangan bangun, Sayang.”

Namun pandangan Aurel tertuju kepada Hendra di ambang pintu.

“Papa…”

Hendra masuk perlahan.

“Aurel.”

Gadis itu terlihat takut.

“Papa jangan marah sama Mama.”

Kalimat itu membuat Dewi tersentak.

“Kenapa Papa harus marah sama Mama?”

Aurel tidak menjawab.

Hendra segera menyela.

“Udah. Jangan bikin dia stres.”

Namun kali ini Dewi tidak membiarkannya.

“Aurel, kenapa kamu bilang begitu?”

Aurel menatap Hendra.

Lalu air matanya jatuh.

“Karena waktu Aurel pernah mau kasih tahu Mama… Papa marah.”

Hendra langsung berkata, “Aurel, kamu lagi sakit. Jangan ngomong sembarangan.”

“Biar dia bicara!” bentak Dewi.

Suasana di kamar mendadak sunyi.

Aurel menarik selimut sampai ke pinggang.

“Satu bulan lalu Aurel pernah bilang mau cerita sama Mama,” katanya pelan. “Papa bilang kalau Aurel cerita, Papa akan pergi dari rumah.”

Dewi menatap suaminya.

“Apa?”

Hendra menggeleng cepat.

“Aku cuma menenangkan dia.”

“Dengan mengancam pergi?”

“Aku nggak mengancam.”

“Papa bilang Mama bakal nyalahin Papa,” lanjut Aurel sambil menangis. “Papa bilang keluarga kita bisa hancur gara-gara Aurel.”

Hendra menatap Aurel tajam.

Dewi langsung berdiri di antara mereka.

“Jangan lihat dia seperti itu.”

“Dewi, ini nggak seperti yang kamu pikir.”

“Lalu seperti apa?”

Hendra mengepalkan rahang.

Beberapa detik dia hanya diam.

Kemudian berkata, “Karena waktu itu aku sedang punya masalah.”

Dewi tertawa pendek tanpa humor.

“Masalah apa yang lebih penting dari kesehatan anak?”

Hendra tidak menjawab.

Namun sekitar lima belas menit kemudian, jawabannya datang dari arah yang tidak pernah Dewi duga.

Seorang perempuan berseragam administrasi rumah sakit masuk membawa dokumen persetujuan operasi dan rincian penjaminan.

“Ibu Dewi?”

“Ya.”

“Ada kendala sedikit terkait asuransi Aurel.”

Dewi menoleh.

“Kendala apa?”

Petugas itu mengecek berkas.

“Polis tambahan keluarga yang tercatat atas nama Bapak Hendra sudah tidak aktif sejak hampir tiga bulan lalu.”

Dewi mengernyit.

“Itu tidak mungkin. Premi otomatis dipotong setiap bulan.”

Hendra tiba-tiba berdiri.

“Nggak perlu bahas itu sekarang.”

Dewi menatapnya.

“Kenapa nggak perlu?”

Petugas administrasi terlihat canggung.

“Kami hanya perlu memastikan metode pembayarannya, Bu.”

Dewi mengambil dokumen tersebut.

Di sana tertulis bahwa polis dihentikan atas permintaan pemegang utama.

Tanggal penghentian polis hanya terpaut dua hari setelah rujukan Aurel diterbitkan.

Dewi merasa ujung jarinya dingin.

Dia mengangkat wajah.

“Kamu berhentikan asuransinya?”

Hendra tidak menjawab.

“Hendra!”

“Iya!”

Jawaban itu meledak begitu saja.

Aurel tersentak.

Hendra mengusap wajahnya kasar.

“Iya. Aku berhentikan.”

“Kenapa?”

Hendra menatap lantai.

“Karena aku butuh uang.”

Dewi tertawa kecil karena tidak percaya.

“Kamu hentikan asuransi kesehatan keluarga karena butuh uang?”

“Aku sedang kesulitan.”

“Kesulitan apa?”

“Aku kehilangan uang.”

“Berapa?”

Hendra diam.

“Berapa, Hendra?”

“Dua ratus delapan puluh juta.”

Dewi merasa dunia berhenti lagi.

Hendra akhirnya mengaku.

Selama hampir setahun terakhir, dia diam-diam menggunakan tabungan bersama mereka untuk investasi melalui sebuah platform perdagangan berisiko tinggi yang direkomendasikan temannya.

Awalnya dia mendapat keuntungan.

Lalu dia menambah modal.

Kemudian rugi.

Alih-alih berhenti, dia mengejar kerugian dengan uang lebih besar.

Dia mengambil sebagian dana pendidikan Aurel.

Mencairkan deposito.

Menghentikan polis kesehatan tambahan.

Ketika surat pemeriksaan Aurel sampai ke rumah dan merekomendasikan pemeriksaan lanjutan, Hendra panik.

Bukan karena takut Aurel sakit.

Dia takut Dewi akan mengetahui bahwa uang keluarga sudah nyaris habis.

“Aku pikir keluhannya biasa,” katanya dengan napas berat. “Aku pikir kalau beberapa minggu dia membaik, kita nggak perlu keluar biaya besar.”

Dewi menatap suaminya seolah sedang melihat orang asing.

“Jadi kamu berjudi dengan kesehatan anak.”

“Aku nggak berjudi.”

“Kamu menunda pemeriksaan karena takut rahasiamu ketahuan.”

“Aku sedang mencoba memperbaiki semuanya!”

“Dengan menyuruh anak 15 tahun menahan sakit?”

Hendra diam.

Air mata Dewi akhirnya jatuh.

Bukan karena uang.

Bukan karena kebohongan.

Tetapi karena satu kenyataan yang terlalu menyakitkan untuk diterima.

Aurel selama ini bukan hanya menahan rasa sakit di tubuhnya.

Dia juga memikul rasa bersalah yang ditanamkan orang dewasa.

Pukul 22.03, Aurel dibawa ke ruang operasi.

Sebelum pintu tertutup, dia menggenggam tangan Dewi.

“Ma.”

“Iya, Sayang.”

“Kalau Aurel sembuh… Mama sama Papa jangan cerai gara-gara Aurel.”

Dewi hampir kehilangan kemampuan untuk berdiri.

Dia membungkuk dan mencium kening putrinya.

“Dengar Mama.”

Aurel menatapnya.

“Apa pun yang terjadi antara Mama dan Papa, itu bukan karena kamu. Kamu tidak menyebabkan apa-apa.”

Aurel mulai menangis.

“Janji?”

“Janji.”

Operasi berlangsung hampir tiga jam.

Dewi menunggu di lorong sendirian.

Hendra duduk beberapa kursi jauhnya.

Tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara.

Pukul 01.17, dokter Aris keluar.

Dewi langsung berdiri.

“Dok?”

“Operasinya berjalan baik.”

Kedua lutut Dewi hampir lemas.

Tumor berhasil diangkat bersama jaringan ovarium kanan yang sudah mengalami kerusakan akibat torsi. Ovarium kiri dalam kondisi baik. Tidak ditemukan penyebaran kasatmata, tetapi jaringan tetap harus diperiksa di laboratorium patologi.

“Tapi secara keseluruhan, kondisinya stabil.”

Dewi menangis sambil menutup wajah.

Itu tangisan pertama yang benar-benar pecah malam itu.

Empat hari kemudian, kabar terbaik datang.

Hasil patologi menunjukkan tumor tersebut bukan kanker ganas.

Aurel masih membutuhkan pemulihan dan kontrol rutin, tetapi prognosisnya sangat baik.

Dewi mengira itu akan menjadi akhir dari semuanya.

Ternyata tidak.

Saat Aurel masih dirawat, seorang staf administrasi sekolah datang menjenguk membawa beberapa dokumen.

Di antara dokumen itu terdapat salinan pemeriksaan kesehatan sekolah 83 hari sebelumnya.

Dewi membacanya.

Kemudian matanya berhenti pada satu bagian.

Surat rujukan pertama ternyata tidak pernah dikirim langsung ke rumah.

Sekolah mengirimkannya melalui email kepada kedua wali yang terdaftar.

Dewi membuka ponselnya.

Tidak ada email.

Staf sekolah memeriksa data.

Alamat email Dewi sudah diubah dua minggu sebelum pemeriksaan kesehatan.

Di sistem, alamat yang terdaftar bukan lagi milik Dewi.

Melainkan alamat email kedua yang ternyata juga dikendalikan oleh Hendra.

Dewi menatap layar lama sekali.

Artinya Hendra bukan sekadar menemukan surat secara kebetulan.

Dia sudah lebih dulu mengubah kontak sekolah.

Dia memastikan semua informasi medis Aurel hanya masuk kepadanya.

Ketika Dewi mengonfrontasinya malam itu, Hendra tidak lagi punya alasan.

“Aku takut kamu lihat tagihan sekolah dan tahu aku pakai uang pendidikan Aurel,” katanya akhirnya.

Dewi tidak berteriak.

Tidak memukul.

Tidak menangis.

Dia hanya mengambil satu koper.

“Mulai malam ini, kamu tinggal di tempat lain.”

Hendra membeku.

“Dewi.”

“Bukan soal uangnya.”

“Aku akan ganti semuanya.”

“Bukan soal dua ratus delapan puluh juta itu.”

“Terus apa?”

Dewi menatapnya lurus.

“Yang nggak bisa kamu ganti adalah 83 hari ketika Aurel merasa harus memilih antara rasa sakitnya sendiri dan keutuhan keluarga.”

Hendra tidak mampu menjawab.

Enam bulan kemudian, Aurel kembali ke sekolah.

Rambutnya sudah lebih panjang. Wajahnya kembali berwarna. Dia bahkan mulai memutar musik keras-keras dari kamar sampai Dewi harus berkali-kali mengetuk pintu.

Suatu sore, Dewi menemukan putrinya sedang duduk di meja belajar sambil membuat sebuah kotak kecil dari karton.

Di bagian atas kotak tertulis dengan spidol hitam.

Kalau sakit, bilang.

Dewi tersenyum.

“Apa itu?”

Aurel mengangkat bahu.

“Buat tugas sekolah. Tema kesehatan mental sama komunikasi keluarga.”

Dewi duduk di sampingnya.

Aurel menatap kotak itu.

Kemudian berkata pelan, “Dulu Aurel pikir diam itu bikin rumah tetap utuh.”

Dewi menggenggam tangannya.

“Sekarang?”

Aurel tersenyum tipis.

“Sekarang Aurel tahu rumah yang utuh bukan rumah yang nggak punya masalah.”

Dia berhenti sebentar.

“Rumah yang utuh itu rumah yang bikin kita nggak takut ngomong kalau ada yang sakit.”

Dewi menahan air mata.

Dia memeluk putrinya erat-erat.

Di luar jendela, hujan mulai turun membasahi Surabaya.

Dan untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, rumah itu kembali dipenuhi suara musik, tawa kecil, dan langkah seorang remaja yang tidak lagi berjalan membungkuk sambil menahan sakit.

Dewi akhirnya memahami sesuatu yang tidak pernah dia pelajari selama sembilan tahun pernikahannya.

Keluarga tidak hancur karena sebuah kebenaran terungkap.

Kadang-kadang, keluarga justru hampir hancur karena terlalu lama dipaksa hidup di dalam kebohongan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang