“PERGI DARI RUMAHKU!” ISTRI KAYA ITU MENGUSIR PEMBANTUNYA DENGAN KEJAM…

“Bima… anak siapa?”

Pertanyaan Hendra jatuh di ruang tengah seperti benda berat yang menghantam lantai marmer.

Tak seorang pun bergerak.

Laras berdiri di ambang pintu dengan satu tangan masih menggenggam tali tasnya. Wajahnya pucat. Matanya tertuju pada foto kecil di tangan Hendra, seolah selembar kertas itu adalah sesuatu yang selama bertahun-tahun ia jaga agar tidak pernah jatuh ke tangan orang yang salah.

Veronica memandang suaminya dengan alis berkerut.

“Apa maksudmu?”

Hendra tidak menjawab.

Tatapannya tetap pada Laras.

“Namanya Bima Hendra Prasetyo.”

Suara Hendra lebih pelan sekarang.

“Kenapa ada nama saya di sana?”

Laras menutup mata sesaat.

Ia tahu saat ini akhirnya datang.

Hanya saja bukan seperti ini.

Bukan di depan Veronica.

Bukan di depan Aurel.

Dan bukan setelah dirinya baru saja diusir seperti pencuri.

“Saya datang ke rumah ini memang untuk menemui Bapak,” katanya akhirnya.

Veronica tertawa pendek.

Namun kali ini tawanya terdengar tidak stabil.

“Menemui Hendra?”

Ia menatap Laras, lalu suaminya.

“Kalian saling kenal?”

Hendra menurunkan foto itu perlahan.

“Delapan tahun lalu.”

Kalimat itu saja sudah cukup membuat wajah Veronica berubah.

Laras menarik napas panjang.

“Pak Hendra pernah mengenal saya sebelum saya menikah.”

Aurel yang sejak tadi diam mulai memandang ayahnya dengan bingung.

“Papa?”

Hendra seperti tidak mendengar.

Delapan tahun lalu, Laras bekerja sebagai staf administrasi di sebuah klinik kecil di Bandung yang ketika itu baru saja diakuisisi perusahaan keluarga Santoso.

Hendra datang berkali-kali untuk mengurus proses pengambilalihan.

Usianya masih 34 tahun.

Ambisius.

Karismatik.

Dan pada saat itu, pernikahannya dengan Veronica sedang berada di titik terburuk.

Mereka bertengkar hampir setiap hari.

Hendra lebih banyak tinggal di hotel daripada pulang ke rumah.

Di Bandung itulah ia mengenal Laras.

Awalnya sekadar percakapan sederhana.

Makan malam setelah lembur.

Obrolan di lobi klinik.

Kemudian perasaan tumbuh ketika keduanya sama-sama sedang merasa kesepian.

Hubungan itu hanya berlangsung beberapa bulan.

Namun bagi Laras, akibatnya berlangsung seumur hidup.

“Aku mencarimu.”

Hendra mengatakan itu dengan suara serak.

“Setelah semuanya berakhir, aku kembali ke Bandung. Klinik bilang kamu sudah mengundurkan diri.”

“Saya pergi karena saya tahu Bapak kembali ke keluarga Bapak.”

“Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu hamil?”

Laras tersenyum pahit.

“Bilang bagaimana?”

Ia menatap Hendra lurus-lurus.

“Waktu itu Bapak sendiri yang mengatakan kepada saya bahwa keluarga adalah satu-satunya hal yang tidak boleh Bapak korbankan.”

Hendra tidak mampu menjawab.

Veronica memandang keduanya bergantian.

“Jadi anak itu…”

Laras menunduk.

“Bima lahir delapan tahun lalu.”

Aurel perlahan mundur satu langkah.

Wajahnya seperti kehilangan warna.

Veronica mendadak tertawa.

Namun tidak ada humor di sana.

“Luar biasa.”

Ia menatap Hendra dengan mata berkaca-kaca.

“Selama bertahun-tahun kamu menyuruh saya percaya bahwa saya terlalu curiga. Bahwa saya terlalu posesif. Bahwa saya selalu membayangkan hal-hal yang tidak ada.”

Hendra mendekatinya.

“Veronica…”

“Jangan sentuh saya!”

Bentakannya membuat seluruh rumah kembali sunyi.

Veronica menunjuk Laras.

“Dan sekarang perempuan itu membawa anaknya masuk ke rumah saya dengan menyamar sebagai pembantu?”

“Saya tidak menyamar.”

Laras menatap Veronica tanpa gentar.

“Saya melamar pekerjaan seperti biasa.”

“Kenapa?”

Pertanyaan itu keluar dengan tajam.

“Untuk uang? Atau kamu berharap Hendra melihat anakmu lalu memberikan warisan?”

Laras mengepalkan tangan.

“Saya tidak pernah meminta uang Pak Hendra.”

“Lalu untuk apa?”

Laras diam beberapa detik.

Kemudian ia mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari tasnya.

“Saya datang karena ini.”

Ia berjalan kembali ke ruang tengah dan meletakkan amplop itu di atas meja.

Hendra mengambilnya.

Di dalamnya terdapat salinan hasil pemeriksaan rumah sakit.

Beberapa lembar rekam medis.

Dan formulir rekomendasi tindakan operasi.

Hendra membaca halaman pertama.

Wajahnya langsung menegang.

“Ini tentang Bima?”

Laras mengangguk.

“Dia punya kelainan jantung bawaan yang baru terdeteksi enam bulan lalu.”

Aurel menutup mulutnya.

Hendra membalik halaman berikutnya dengan tangan gemetar.

“Kenapa kamu tidak langsung menghubungi saya?”

“Saya mencoba.”

Hendra mengangkat kepala.

Laras menatap Veronica.

Tatapan itu membuat ruangan kembali berubah.

Veronica menyadarinya.

“Apa maksud tatapan itu?”

“Saya pernah datang ke kantor pusat Santoso Medika tiga bulan lalu.”

Laras berkata pelan.

“Saya membawa surat untuk Pak Hendra.”

Hendra mengernyit.

“Aku tidak pernah menerima surat.”

“Saya tahu.”

Laras menatap Veronica.

“Karena surat itu dikembalikan kepada saya dua minggu kemudian.”

Veronica berdiri semakin kaku.

Laras membuka bagian kecil lain dari tasnya dan mengeluarkan sebuah amplop putih yang sudah kusut.

Di bagian depan terdapat cap perusahaan.

Dan tulisan tangan dengan tinta merah.

Jangan pernah hubungi keluarga kami lagi.

Hendra langsung mengenali tulisan itu.

Ia menatap istrinya.

“Ini tulisanmu.”

Veronica tidak langsung menjawab.

Aurel menatap ibunya dengan ngeri.

“Mama?”

“Saya menerima surat itu.”

Veronica akhirnya berkata.

Suaranya dingin.

“Saya membacanya.”

Hendra membeku.

“Kamu tahu tentang Bima?”

“Saya tahu perempuan ini mengaku punya anak darimu.”

“Kamu menyembunyikannya dariku?”

Veronica menatap Hendra dengan air mata yang kini benar-benar jatuh.

“Kamu mau saya melakukan apa?”

“Memberikannya kepadaku!”

“Supaya kamu meninggalkan kami?”

“Aku punya hak untuk tahu kalau aku punya anak!”

“Dan saya punya hak untuk mempertahankan keluarga saya!”

Bentakan Veronica membuat Aurel tersentak.

Hendra menatap istrinya seolah baru pertama kali benar-benar melihat perempuan yang telah dinikahinya hampir dua puluh tahun.

“Seorang anak sakit, Veronica.”

Veronica mengusap air matanya dengan kasar.

“Saya tidak tahu dia sakit.”

“Tapi kamu tahu dia mungkin anakku.”

Veronica tidak menjawab.

Dan diamnya sudah cukup menjadi pengakuan.

Laras mengambil kembali amplop rekam medis.

“Saya sebenarnya tidak ingin semua ini terbuka seperti ini.”

Ia memandang Hendra.

“Saya cuma butuh akses ke dokter jantung terbaik di jaringan rumah sakit Bapak. Bukan uang tunai. Bukan rumah. Bukan warisan.”

Hendra menatapnya.

“Kenapa kamu bekerja sebagai pembantu?”

“Karena saya tidak bisa masuk ke rumah sakit pusat tanpa rujukan yang tepat. Berkali-kali saya mengajukan bantuan sosial, tetapi antreannya panjang.”

Laras menelan ludah.

“Saya tahu Pak Hendra tinggal di sini. Saya pikir kalau saya bisa bekerja beberapa minggu saja, mungkin suatu hari saya bisa bicara langsung.”

Veronica tertawa pahit.

“Dan kamu kira saya akan percaya?”

Laras menatapnya.

“Tidak penting Ibu percaya atau tidak.”

Ia menarik tasnya ke bahu.

“Yang penting saya sudah mencoba.”

Laras kemudian menatap Hendra.

“Kalau Bapak mau membantu Bima, saya berterima kasih. Kalau tidak, saya akan cari cara lain.”

Ia berbalik.

Namun kali ini Hendra langsung mengejarnya.

“Laras.”

Perempuan itu berhenti.

“Aku akan membantu.”

Laras tidak menoleh.

“Bukan sebagai pemilik rumah sakit.”

Suara Hendra terdengar berat.

“Sebagai ayahnya.”

Laras memejamkan mata.

“Itu belum pasti.”

Hendra terdiam.

“Saya tidak pernah melakukan tes DNA.”

Laras menoleh.

“Saya tidak datang ke sini untuk membuat Bapak mengakui sesuatu tanpa bukti.”

Hendra mengangguk pelan.

“Kita lakukan tes.”

Tiga hari kemudian, hasil pemeriksaan keluar.

Probabilitas hubungan biologis 99,99 persen.

Hendra adalah ayah Bima.

Saat menerima hasil itu di ruang kerjanya, Hendra tidak langsung berbicara.

Ia hanya duduk selama beberapa menit dengan kertas di tangannya.

Kemudian ia menangis.

Bukan tangisan keras.

Hanya air mata yang jatuh diam-diam dari seorang pria yang menyadari delapan tahun kehidupan anaknya telah berlalu tanpa dirinya.

Bima dirawat di Santoso Heart Center.

Hendra memindahkan penanganannya ke tim dokter spesialis terbaik yang dimilikinya.

Namun pertemuan pertama mereka jauh dari apa yang Hendra bayangkan.

Bima duduk di ranjang rumah sakit sambil menggambar robot.

Ketika Laras memperkenalkan Hendra, anak itu hanya menatap sebentar.

“Ini Om yang punya rumah sakit?”

Hendra tersenyum kaku.

“Bisa dibilang begitu.”

Bima mengangguk.

“Terima kasih sudah bantu Mama.”

Tidak ada panggilan Papa.

Tidak ada pelukan.

Tidak ada adegan haru seperti dalam film.

Dan justru karena itulah hati Hendra terasa semakin sakit.

Ia menyadari satu hal.

Hubungan darah tidak otomatis memberi seseorang tempat di hati seorang anak.

Tempat itu harus dibangun.

Hari-hari berikutnya, Hendra mulai datang secara rutin.

Ia membawakan buku.

Menemani Bima bermain catur.

Mendengarkan anak itu bercerita tentang sekolah.

Bima ternyata menyukai matematika dan ingin menjadi insinyur pesawat.

Suatu sore, Bima bertanya tiba-tiba,

“Om Hendra kenal ayah saya?”

Hendra hampir menjatuhkan bidak catur.

Laras yang berada di sudut ruangan langsung menegang.

“Kenapa kamu tanya begitu?”

“Karena Mama bilang ayah saya tinggal jauh.”

Hendra menatap Laras.

Perempuan itu menunduk.

Bima melanjutkan,

“Kalau Om ketemu dia, bilang jangan khawatir. Aku nggak marah kok.”

Hendra merasa dadanya ditusuk.

“Kenapa kamu tidak marah?”

Bima mengangkat bahu.

“Mungkin dia punya alasan.”

Hendra tidak mampu menjawab.

Malam itu, ia pulang ke Menteng dan mendapati Veronica menunggunya di ruang makan.

Sejak kebenaran terbongkar, mereka tidur di kamar terpisah.

Aurel juga semakin jarang berbicara dengan ibunya.

“Aku mau bicara.”

kata Veronica.

Hendra duduk berhadapan dengannya.

“Saya akan mengajukan cerai.”

Hendra mengangkat mata.

Veronica tersenyum hambar.

“Kamu terlihat kaget.”

“Aku pikir kamu akan mempertahankan pernikahan ini.”

“Saya sudah terlalu lama mempertahankannya.”

Jawaban itu membuat Hendra terdiam.

Veronica menatap meja.

“Saya memang salah menyembunyikan surat Laras.”

Kemudian ia mengangkat wajah.

“Tapi kamu juga jangan berpura-pura menjadi satu-satunya korban.”

Hendra mengernyit.

Veronica berdiri dan mengambil sebuah kotak dari lemari.

Ia meletakkannya di depan Hendra.

Di dalamnya ada puluhan lembar laporan lama.

Catatan transfer.

Tagihan hotel.

Foto.

Dan salinan percakapan.

“Saya tahu tentang Laras sejak delapan tahun lalu.”

Hendra menegang.

“Bukan sejak surat tiga bulan lalu.”

Hendra menatapnya.

Veronica tersenyum sedih.

“Saya tahu hubungan kalian bahkan sebelum Laras pergi dari Bandung.”

“Kenapa kamu tidak pernah bilang?”

“Karena waktu itu saya sedang hamil.”

Darah di wajah Hendra seakan menghilang.

“Hamil?”

Veronica menatapnya.

“Aurel seharusnya punya seorang adik.”

Hendra membeku.

Veronica melanjutkan dengan suara bergetar.

“Saya keguguran ketika usia kandungan sebelas minggu.”

Hendra tidak tahu harus berkata apa.

“Kamu tidak pernah memberitahuku.”

“Saya mau.”

Air mata Veronica jatuh.

“Tapi malam sebelum saya bicara, saya menemukan bukti kamu berada di Bandung bersama Laras.”

Hendra menutup mata.

“Saya pikir kalau saya mengatakan tentang bayi itu, kamu akan tinggal hanya karena rasa bersalah.”

Veronica tertawa getir.

“Jadi saya diam. Saya kehilangan bayi saya sendirian. Lalu saya melihat kamu kembali ke rumah dan bertingkah seolah semuanya normal.”

Untuk pertama kalinya, Hendra memahami dari mana sebagian kemarahan dan kekerasan Veronica selama bertahun-tahun berasal.

Bukan pembenaran.

Tetapi luka yang tidak pernah disembuhkan.

“Aku minta maaf.”

Kali ini Hendra benar-benar mengatakannya.

Veronica menggeleng.

“Sudah terlambat.”

Dua minggu kemudian, Bima menjalani operasi.

Operasinya berjalan hampir enam jam.

Laras menunggu di luar ruang operasi bersama Hendra.

Tak ada percakapan panjang.

Mereka hanya duduk.

Dua orang yang pernah memiliki masa lalu dan kini dipertemukan kembali bukan untuk menghidupkan cinta lama, tetapi untuk bertanggung jawab pada seorang anak.

Ketika dokter akhirnya keluar dan mengatakan operasi berhasil, Laras menangis.

Hendra memeluknya sebentar.

Tidak ada romantisme.

Hanya kelegaan.

Beberapa hari setelah itu, sesuatu yang tidak diduga terjadi.

Aurel datang ke rumah sakit.

Ia berdiri canggung di depan pintu kamar Bima sambil membawa sebuah kotak permainan.

“Ini buat kamu.”

Bima memandangnya.

“Kakak siapa?”

Aurel tersenyum kecil.

“Namaku Aurel.”

Ia melirik Laras dan Hendra.

Kemudian kembali menatap Bima.

“Sepertinya… aku kakakmu.”

Bima diam beberapa detik.

“Beneran?”

Aurel mengangguk.

Bima tersenyum.

“Berarti aku boleh panggil Kak Aurel?”

Mata Aurel langsung berkaca-kaca.

“Boleh.”

Di koridor rumah sakit, Veronica ternyata berdiri beberapa meter dari pintu.

Ia tidak masuk.

Ia hanya melihat dari kejauhan.

Laras menyadarinya.

Mereka saling bertatapan.

Beberapa detik kemudian, Laras keluar.

Veronica terlihat tidak nyaman.

“Saya cuma mengantar Aurel.”

Laras mengangguk.

“Saya tahu.”

Veronica menatap lantai.

Kemudian, dengan suara yang jauh lebih kecil daripada biasanya, ia berkata,

“Saya minta maaf.”

Laras menatapnya.

Veronica menelan ludah.

“Bukan hanya karena menuduh kamu mencuri.”

Air matanya muncul.

“Tapi karena surat itu.”

Laras diam cukup lama.

“Saya tidak bisa langsung memaafkan Ibu.”

Veronica mengangguk.

“Saya mengerti.”

“Tapi saya juga tidak mau hidup sambil terus membenci.”

Veronica menatapnya.

Laras melanjutkan,

“Bima sudah terlalu banyak kehilangan waktu karena keputusan orang dewasa. Saya tidak ingin dia kehilangan kakaknya juga.”

Veronica menutup mulut, menahan tangis.

Beberapa bulan kemudian, perceraian Hendra dan Veronica selesai tanpa keributan besar.

Veronica pindah ke rumah lain di kawasan Kebayoran.

Aurel membagi waktunya antara kedua orang tuanya.

Hendra mulai berusaha hadir dalam kehidupan Bima, tetapi Laras menetapkan batas yang jelas.

Tidak ada perubahan nama.

Tidak ada perebutan hak asuh.

Tidak ada memaksa Bima memanggilnya Papa sebelum anak itu siap.

Hendra menyetujuinya.

Setahun kemudian, pada sebuah acara keluarga sederhana untuk ulang tahun Bima yang ke-9, Hendra datang membawa hadiah.

Bima menerimanya sambil tersenyum.

“Terima kasih, Om.”

Hendra tertawa kecil.

“Masih Om?”

Bima berpikir beberapa detik.

Kemudian ia mendekat dan berbisik,

“Aku lagi latihan.”

“Latihan apa?”

Bima tersenyum lebar.

“Panggil Papa.”

Hendra membeku.

Anak itu kemudian berlari menghampiri Aurel sebelum Hendra sempat menyembunyikan air matanya.

Di sudut ruangan, Laras tersenyum.

Bukan karena semuanya kembali seperti seharusnya.

Tidak ada sesuatu pun yang benar-benar kembali.

Masa lalu tidak bisa dihapus.

Pernikahan Hendra dan Veronica tetap berakhir.

Luka Aurel tidak hilang begitu saja.

Delapan tahun kehidupan Bima tanpa ayahnya juga tidak dapat dikembalikan.

Namun sesuatu yang baru bisa dibangun dari puing-puing kejujuran.

Dan ironisnya, semua itu dimulai dari sebuah tuduhan pencurian yang ternyata salah.

Kalung zamrud ditemukan di leher pemiliknya sendiri.

Tetapi foto kecil yang tertinggal di atas sofa justru mengungkap pencurian yang jauh lebih besar.

Delapan tahun kebenaran.

Delapan tahun kesempatan.

Dan delapan tahun hubungan seorang ayah dengan anaknya.

Karena terkadang, benda paling berharga yang hilang dari sebuah keluarga bukanlah perhiasan.

Melainkan waktu yang tidak pernah bisa dibeli kembali, bahkan oleh orang sekaya Hendra Santoso.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang