INI ACARA DANSA AYAH DAN ANAK… TAPI TIDAK ADA YANG DATANG UNTUKKU,” ISAK GADIS 6 TAHUN ITU.

Nama Irwan Wijaya terasa seperti ledakan kedua di dalam aula itu.

Hendra berdiri membeku dengan dokumen di tangannya. Puluhan pasang mata menatap ke arahnya, tetapi suara yang paling jelas justru napas Nisa yang tersengal pelan beberapa meter di depan.

Gadis kecil itu memeluk liontin di lehernya.

“Paman kenal orang itu?” tanyanya polos.

Pertanyaan sederhana itu menghantam Hendra lebih keras daripada seluruh tuduhan Ibu Endang.

Ia menatap Nisa, lalu berjongkok di depannya.

“Paman kenal,” jawabnya lirih.

“Dia orang jahat?”

Hendra tidak langsung menjawab.

Di belakangnya, Ibu Endang mendengus.

“Dia adik kandungnya.”

Maya baru tiba di sekolah beberapa menit kemudian setelah menerima telepon dari wali kelas Nisa. Seragam perawatnya masih terpasang, rambutnya berantakan, dan wajahnya terlihat kelelahan karena baru menyelesaikan sif darurat.

Begitu masuk ke aula, Maya langsung melihat Ibu Endang, Doni, Hendra, dan Nisa.

Ia berlari memeluk putrinya.

“Nisa, kamu tidak apa-apa?”

Nisa mengangguk, tetapi matanya dipenuhi kebingungan.

“Ibu, mereka bicara tentang Ayah.”

Maya memejamkan mata.

Selama dua tahun ia berusaha menjaga Nisa dari detail kematian Budi. Ia ingin putrinya mengingat ayahnya sebagai lelaki yang suka membuat telur dadar terlalu asin dan selalu menggendongnya di pundak saat berjalan ke taman, bukan sebagai korban sebuah kebakaran mengerikan.

Namun hari itu, masa lalu datang sendiri menemui mereka.

Hendra menyerahkan dokumen tersebut kepada Maya.

“Saya akan menyelidiki ini.”

Ibu Endang tertawa sinis.

“Menyelidiki keluarga sendiri?”

“Sampai tuntas.”

“Kalian orang kaya selalu bilang begitu setelah rahasianya terbongkar.”

Hendra menatap perempuan tua itu tanpa membalas kemarahannya.

“Kalau Irwan bertanggung jawab, saya sendiri yang akan membawanya ke polisi.”

Suasana mendadak senyap.

Bahkan Doni yang sejak tadi berdiri di samping ibunya terlihat terkejut.

Maya memandang Hendra lama.

“Kalau Anda serius,” katanya, “jangan lakukan ini untuk membersihkan nama Anda.”

Hendra mengangguk.

“Saya melakukannya karena Budi berhak mendapatkan kebenaran.”

Ia menoleh kepada Nisa.

“Dan karena anaknya tidak seharusnya tumbuh bersama kebohongan.”

Sore itu juga, Hendra kembali ke kantor pusat Wijaya Sentosa Group di Surabaya Barat.

Ia memanggil kepala divisi hukum dan kepala audit internal.

Semua arsip mengenai kebakaran gudang dua tahun sebelumnya diminta dibuka kembali.

Masalahnya, sejumlah dokumen telah hilang.

Laporan inspeksi keselamatan tidak ditemukan di server perusahaan.

Rekaman kamera pengawas dari hari sebelum kebakaran juga dinyatakan rusak.

Nama Irwan nyaris tidak muncul dalam berkas resmi, meskipun saat itu ia menjabat direktur operasional anak perusahaan yang mengelola gudang tersebut.

“Siapa yang memerintahkan penghapusan arsip?” tanya Hendra.

Kepala teknologi informasi, seorang pria bernama Satrio, terlihat gugup.

“Pak Irwan mengatakan itu bagian dari kebijakan pembersihan data setelah restrukturisasi.”

“Kapan?”

“Enam bulan setelah kebakaran.”

Rahang Hendra mengeras.

Irwan datang ke ruangannya malam itu tanpa dipanggil.

Pria berusia 42 tahun tersebut melempar sebuah folder ke atas meja.

“Aku dengar kau membuka kasus lama.”

Hendra menatap adiknya.

“Kenapa kau menyembunyikan laporan kerusakan sistem keselamatan?”

Irwan tersenyum tipis.

“Kau percaya pada selembar kertas yang dibawa ibu petugas pemadam?”

“Aku percaya pada tanda tanganmu.”

Senyum Irwan menghilang.

Ia berjalan menuju jendela.

“Hendra, perusahaan waktu itu sedang dalam masalah. Kita punya kontrak besar. Kalau gudang berhenti beroperasi, kita rugi miliaran.”

“Jadi kau membiarkan gudang tetap berjalan meskipun sistem alarm rusak?”

“Kami sudah memesan suku cadang.”

“Dan sebelum suku cadang datang, gudang terbakar.”

Irwan berbalik.

“Kau pikir aku yang menyalakan api?”

“Tidak.”

Hendra berdiri.

“Tapi kalau kau tahu tempat itu berbahaya dan tetap memaksa operasional berjalan, kau punya tanggung jawab.”

Irwan memukul meja.

“Kau mudah bicara karena saat itu kau sedang di Singapura! Aku yang menjaga perusahaan tetap hidup!”

“Dengan mengorbankan orang?”

“Jangan munafik!”

Suara Irwan menggema di ruangan.

“Ayah selalu mengajarkan kita satu hal. Perusahaan harus bertahan apa pun yang terjadi.”

Hendra menatapnya tajam.

“Ayah tidak pernah mengajarkan kita menukar nyawa manusia dengan keuntungan.”

Irwan tertawa pendek.

“Kau benar-benar tidak tahu apa-apa.”

Kalimat itu membuat Hendra berhenti.

“Apa maksudmu?”

Namun Irwan hanya mengambil jasnya.

“Kalau kau terus menggali, jangan salahkan aku kalau semuanya hancur.”

Keesokan harinya, Hendra menemui Maya di sebuah kedai kopi kecil dekat rumah sakit.

Maya datang setelah menyelesaikan sif malam. Lingkaran gelap terlihat di bawah matanya.

“Saya ingin tahu semua yang Budi katakan sebelum meninggal,” ujar Hendra.

Maya terdiam.

“Kenapa?”

“Karena saya curiga kebakaran itu bukan satu-satunya hal yang disembunyikan.”

Maya menggenggam cangkirnya.

“Seminggu sebelum meninggal, Budi terlihat gelisah. Dia beberapa kali menerima telepon dari seseorang yang tidak saya kenal.”

“Dia mengatakan apa?”

“Hanya bilang ada sesuatu yang tidak beres di gudang.”

Hendra mencondongkan tubuh.

“Budi pernah bekerja di gudang itu sebelum kejadian?”

“Tidak. Tapi dia pernah melakukan inspeksi bersama tim pemadam.”

Maya memandang Hendra.

“Dia bilang ada jalur evakuasi yang ditutup dengan barang. Alarm kebakaran sering mati. Budi bahkan pernah bilang, kalau ada api besar, tempat itu bisa jadi perangkap.”

Jantung Hendra berdegup lebih cepat.

“Apakah Budi membuat laporan?”

“Ya.”

“Di mana?”

Maya menggeleng.

“Tidak tahu. Setelah Budi meninggal, tas kerjanya dikembalikan dalam keadaan hampir kosong.”

Malam berikutnya, sesuatu terjadi.

Apartemen sederhana Maya di kawasan Wonokromo dibobol.

Tidak ada televisi yang hilang.

Tidak ada uang yang diambil.

Namun lemari Budi dibongkar.

Berkas-berkas lama berserakan.

Liontin cadangan milik Nisa, album foto, dan kotak dokumen dibuka satu per satu.

Maya langsung menelepon polisi.

Hendra datang tidak lama kemudian.

Ketika melihat kondisi rumah, wajahnya berubah.

“Mereka mencari sesuatu.”

Maya menatapnya dengan takut.

“Siapa?”

Hendra tidak menjawab.

Namun dalam pikirannya hanya ada satu nama.

Irwan.

Malam itu, untuk alasan keamanan, Maya dan Nisa dipindahkan sementara ke sebuah apartemen milik perusahaan yang dijaga petugas.

Ibu Endang menolak.

“Aku tidak percaya pada keluarga Wijaya.”

Maya yang biasanya mengalah tiba-tiba berkata tegas, “Kalau Ibu benar-benar memikirkan Nisa, berhenti menjadikan kebencian Ibu sebagai alasan untuk menolak semua bantuan.”

Ibu Endang terdiam.

Maya menatap ibu mertuanya dengan mata berkaca-kaca.

“Dua tahun ini Ibu menyalahkan saya atas kematian Budi. Saya diam karena saya tahu Ibu kehilangan anak. Tapi saya juga kehilangan suami.”

Suara Maya pecah.

“Dan Nisa kehilangan ayahnya.”

Ibu Endang menunduk.

Maya melanjutkan.

“Budi mengambil jam kerja tambahan bukan karena saya memaksanya. Dia melakukannya karena Doni meminjam uang dari rentenir untuk bisnis.”

Semua mata langsung beralih kepada Doni.

Wajah pria itu berubah pucat.

“Ibu…”

“Apa maksudnya?” tanya Ibu Endang.

Doni mundur selangkah.

Maya mengambil ponselnya dan membuka percakapan lama.

“Budi tidak pernah mau Ibu tahu. Dia bilang Ibu punya tekanan darah tinggi.”

Pesan-pesan antara Budi dan Doni masih tersimpan.

Permintaan uang.

Janji membayar.

Ancaman dari penagih utang.

Budi mengambil sif tambahan berulang kali untuk membantu adiknya.

Tubuh Ibu Endang melemas.

Selama dua tahun ia membenci Maya karena mengira menantunya membuat Budi bekerja terlalu keras.

Ternyata orang yang berusaha dilindungi Budi adalah putranya sendiri.

Ibu Endang menampar Doni.

Tamparannya keras.

Namun yang lebih menyakitkan adalah tangis yang pecah setelahnya.

“Kenapa kamu diam?” teriaknya.

Doni menangis.

“Aku takut.”

Ibu Endang terduduk.

Maya perlahan mendekat.

Untuk pertama kalinya dalam dua tahun, kedua perempuan yang sama-sama kehilangan Budi menangis dalam pelukan yang sama.

Namun rahasia terbesar belum terbuka.

Tiga hari kemudian, Hendra mendapat telepon dari seseorang bernama Pak Surya, mantan petugas keamanan gudang.

Ia meminta bertemu di sebuah warung tua di Sidoarjo.

“Saya dulu diam karena takut,” ujar Surya.

“Apa yang Anda lihat?”

“Malam sebelum kebakaran, Pak Irwan datang.”

Hendra menahan napas.

“Lalu?”

“Dia bertemu seseorang di gudang belakang. Mereka bertengkar.”

“Siapa orang itu?”

“Pak Budi.”

Hendra terkejut.

Budi ternyata datang langsung ke gudang sehari sebelum kebakaran.

Surya kemudian mengeluarkan flashdisk kecil.

“Saya punya salinan rekaman CCTV. Saya simpan karena merasa ada yang aneh.”

Di rekaman itu terlihat Budi dan Irwan berdebat.

Suara mereka tidak terdengar jelas, tetapi beberapa menit kemudian Budi menyerahkan map merah kepada Irwan.

Irwan merobek sebagian isinya.

Budi kemudian menunjuk ke arah sistem alarm di dinding.

Setelah Budi pergi, Irwan terlihat menelepon seseorang.

Lalu muncul seorang pria lain.

Hendra mengenalinya.

Namanya Yusuf Rahman.

Direktur keuangan perusahaan saat itu.

Penyelidikan bergerak cepat.

Polisi menemukan fakta bahwa beberapa jam sebelum kebakaran, Yusuf memerintahkan pemindahan bahan kimia mudah terbakar ke area yang seharusnya tidak digunakan untuk penyimpanan.

Tujuannya bukan untuk membakar gudang.

Mereka ingin menyembunyikan barang-barang impor ilegal sebelum pemeriksaan pajak.

Namun ketika salah satu mesin mengalami korsleting, api menjalar jauh lebih cepat akibat bahan kimia tersebut.

Sistem alarm tidak berfungsi.

Sprinkler gagal aktif.

Jalur keluar tertutup barang.

Budi dan timnya masuk ketika laporan menyebut masih ada pekerja terjebak.

Budi berhasil menyelamatkan tiga orang.

Namun saat kembali masuk untuk menolong korban terakhir, atap gudang runtuh.

Ia tidak pernah keluar lagi.

Irwan akhirnya ditahan.

Namun sebelum dibawa polisi, ia meminta berbicara dengan Hendra.

“Aku tidak pernah bermaksud membunuh siapa pun,” katanya.

Hendra menatapnya dingin.

“Tapi kau tahu risikonya.”

Irwan menunduk.

“Aku pikir tidak akan terjadi apa-apa.”

Hendra menggeleng.

“Itu kalimat paling berbahaya yang bisa diucapkan seseorang yang memegang tanggung jawab.”

Irwan menatap kakaknya.

“Kau akan membiarkan perusahaan hancur?”

“Kalau perusahaan hanya bisa berdiri di atas kebohongan, mungkin memang seharusnya sebagian dihancurkan.”

Hendra kemudian mengambil keputusan yang mengejutkan para pemegang saham.

Ia mengumumkan hasil investigasi secara terbuka.

Perusahaan mengakui kelalaian.

Keluarga korban mendapatkan kompensasi tambahan.

Seluruh standar keselamatan di anak perusahaan diperiksa oleh auditor independen.

Hendra juga mengundurkan diri sementara dari jabatan direktur utama selama proses investigasi berlangsung.

Banyak orang menyebutnya bodoh.

Nilai saham turun.

Beberapa mitra membatalkan kontrak.

Namun Hendra tidak berubah pikiran.

Beberapa minggu kemudian, ia datang ke rumah Maya.

Nisa sedang menggambar di meja ruang tamu.

Begitu melihat Hendra, gadis itu berlari.

“Paman Hendra!”

Ia memeluknya.

Hendra tersenyum.

Di meja, Nisa menunjukkan sebuah gambar.

Ada tiga orang.

Seorang perempuan memakai seragam perawat.

Seorang gadis kecil dengan gaun biru.

Dan seorang pria tinggi memegang payung.

“Ini siapa?” tanya Hendra.

“Paman.”

“Kenapa Paman pegang payung?”

“Biar Ibu tidak kehujanan kalau pulang kerja.”

Maya yang mendengar dari dapur terdiam.

Hendra menatap gambar itu cukup lama.

Kemudian ia mengeluarkan sebuah amplop.

“Saya ingin memberikan sesuatu.”

Maya langsung menggeleng.

“Saya tidak mau uang.”

“Bukan untuk Anda.”

Hendra membuka amplop.

Di dalamnya ada dokumen pendirian sebuah yayasan.

Nama yayasan itu adalah Yayasan Budi Prasetyo.

Program pertamanya adalah bantuan pendidikan untuk anak-anak petugas pemadam kebakaran yang gugur saat bertugas serta bantuan keselamatan kerja bagi keluarga mereka.

Mata Maya berkaca-kaca.

“Kenapa memakai nama Budi?”

“Karena orang seperti dia seharusnya tidak hanya dikenang dari cara dia meninggal.”

Hendra menarik napas.

“Dia harus dikenang dari orang-orang yang berhasil dia selamatkan.”

Setahun berlalu.

Kasus Irwan dan Yusuf masuk pengadilan.

Ibu Endang perlahan kembali dekat dengan Maya dan Nisa.

Doni menjual usahanya untuk membayar sebagian utang lama dan mulai bekerja sebagai teknisi di sebuah bengkel.

Sementara Hendra kembali memimpin perusahaan setelah restrukturisasi besar.

Namun ada satu kebiasaan baru yang tidak pernah ia lewatkan.

Setiap Jumat sore, jika tidak ada perjalanan dinas, ia datang menemui Nisa.

Kadang mereka makan es krim.

Kadang membaca buku.

Kadang hanya duduk di taman.

Pada acara dansa ayah dan anak tahun berikutnya, pihak sekolah sempat ragu mengundang Nisa.

Maya justru tersenyum.

“Tidak apa-apa.”

Hari acara tiba.

Nisa mengenakan gaun biru yang sama.

Gaun itu sudah sedikit pendek karena tubuhnya bertambah tinggi.

Ketika musik mulai dimainkan, Nisa berdiri dekat pintu aula.

Beberapa temannya bertanya, “Nisa, siapa yang datang sama kamu?”

Nisa tersenyum.

Tak lama kemudian, Hendra muncul.

Ia mengenakan kemeja sederhana, tanpa jas, tanpa rombongan, tanpa kamera perusahaan.

Nisa langsung berlari.

“Paman terlambat tiga menit!”

Hendra melihat jam tangannya.

“Serius?”

Nisa mengangguk tegas.

“Dendanya apa?”

“Harus menari dua lagu.”

Hendra tertawa.

“Wah, berat.”

Ia mengulurkan tangan.

Namun sebelum mereka masuk ke lantai dansa, Hendra berhenti.

Di dekat panggung terdapat sebuah foto besar para petugas pemadam yang pernah gugur saat bertugas.

Salah satunya adalah Budi.

Hendra menatap foto itu.

Kemudian ia berkata pelan kepada Nisa, “Hari ini Paman tidak menggantikan ayahmu.”

Nisa menatapnya.

“Paman tahu.”

“Terus?”

Hendra tersenyum.

“Paman cuma menemani kamu menari.”

Nisa menggenggam tangannya erat.

“Itu sudah cukup.”

Mereka berjalan ke tengah aula.

Di antara musik, tawa, dan tepuk tangan, Maya berdiri bersama Ibu Endang di tepi ruangan.

Keduanya menangis sambil tersenyum.

Tidak ada yang mencoba menghapus Budi dari kehidupan Nisa.

Tidak ada yang mencoba menggantikan tempatnya.

Karena cinta tidak selalu datang untuk mengganti seseorang yang telah pergi.

Kadang cinta hanya datang untuk memastikan bahwa mereka yang ditinggalkan tidak harus berjalan sendirian.

Dan foto yang setahun sebelumnya hampir menghancurkan hidup mereka akhirnya dipasang di ruang utama Yayasan Budi Prasetyo.

Di bawah foto Hendra dan Nisa yang sedang berdansa, terdapat satu kalimat sederhana.

“Satu langkah kecil di lantai dansa membuka kebenaran yang selama dua tahun terkubur.”

Namun hanya Maya, Ibu Endang, dan Hendra yang tahu bahwa kalimat itu belum sepenuhnya benar.

Sebab bukan Hendra yang menyelamatkan Nisa pada hari itu.

Justru Nisa, dengan tangan kecilnya yang menggenggam tangan seorang pria kesepian, telah menyeret Hendra keluar dari kehidupan kosong yang selama bertahun-tahun ia anggap normal.

Dan tanpa sengaja, seorang gadis berusia enam tahun telah membuat dua keluarga yang sama-sama hancur akhirnya berani menatap kebenaran.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang