“Kerajaan yang kamu maksud,” suara Aris terdengar rendah di tengah kegelapan, “dibangun dengan racun?”
Beberapa detik tidak ada jawaban.
Hanya suara hujan yang menghantam kaca gedung dan napas Maya yang tersengal di belakangnya.
Lalu Yudi terkekeh pelan.
“Kamu selalu terlalu emosional kalau menyangkut perempuan.”
Aris mengepalkan tangan.
Kilatan petir kembali menerangi lantai 38. Kali ini dia melihat lebih jelas dua pria yang berdiri di belakang Yudi. Keduanya mengenakan jaket gelap dan sarung tangan.
Bukan staf keamanan Pratama Group.
Aris mengenali wajah salah satunya. Mantan petugas keamanan yang pernah dipecat enam bulan lalu karena memanipulasi rekaman CCTV gudang.
Jantung Aris langsung berdegup lebih cepat.
Yudi datang bukan untuk bicara.
“Kalau kau ingin bicara,” kata Aris, “suruh mereka pergi.”
“Sudah terlambat untuk negosiasi.”
Suara Yudi tetap tenang.
“Serahkan ponsel Maya. Hasil laboratorium. Botol itu. Semua.”
Aris tidak bergerak.
“Lalu?”
“Lalu kita akan menganggap malam ini tidak pernah terjadi.”
Maya tiba-tiba tertawa kecil di belakang Aris.
Bukan karena lucu.
Tapi karena putus asa.
“Seperti Pak Yudi menganggap anak saya tidak pernah ada?”
Suasana langsung membeku.
Yudi menarik napas panjang.
“Maya, seharusnya kamu menerima uang yang saya tawarkan dan pergi dari Jakarta.”
Aris menoleh cepat kepada Maya.
“Kau pernah ditawari uang?”
Maya menunduk.
“Tiga minggu lalu.”
“Berapa?”
“Dua miliar.”
Aris menatap Yudi.
“Kau mengancam dia?”
“Saya memberinya jalan keluar.”
“Dengan meracuni dia?”
“Kamu belum memahami gambaran besarnya.”
Yudi melangkah maju.
“Pratama Group sedang berdiri di tepi jurang. Aku yang tahu angka sebenarnya, Ris. Bukan kamu.”
Aris menyipitkan mata.
“Apa maksudmu?”
“Ekspansi pelabuhan. Akuisisi armada. Proyek kawasan industri. Semuanya dibiayai utang.”
“Laporan keuangan kita sehat.”
Yudi tersenyum hambar.
“Laporan yang kamu lihat.”
Kalimat itu menampar Aris lebih keras daripada ancaman apa pun.
Selama ini, laporan keuangan perusahaan melewati divisi yang dikelola langsung Yudi sebelum sampai ke meja direksi.
Yudi melanjutkan.
“Merger dengan Wijaya Corporation bukan sekadar perkawinan bisnis. Itu satu-satunya cara menutup lubang tiga koma delapan triliun sebelum auditor eksternal menemukan semuanya.”
Maya mencengkeram lengan Aris.
Aris merasakan tubuh wanita itu semakin lemah.
“Kau menggelapkan uang perusahaan?”
Wajah Yudi berubah.
“Jangan menyederhanakan sesuatu yang tidak kamu pahami.”
“Jawab.”
“Aku menjaga perusahaan ini tetap hidup!”
Suara Yudi akhirnya meninggi.
“Ketika ayahmu meninggal, kamu baru berusia tiga puluh tahun dan tidak tahu apa-apa tentang perang bisnis. Aku yang menghadapi bank. Aku yang menghadapi politikus. Aku yang menyelamatkan kontrak-kontrak perusahaan saat semua orang ingin memakan Pratama Group hidup-hidup.”
“Dengan memalsukan laporan?”
“Dengan melakukan apa yang perlu dilakukan.”
“Dan sekarang kau mencoba membunuh ibu dari anakku.”
Yudi terdiam.
Kalimat itu mengubah suasana ruangan.
Maya menunduk, air mata mengalir di pipinya.
Aris berdiri semakin tegak.
“Kalau sesuatu terjadi pada Maya atau anakku malam ini, aku akan memastikan namamu tidak hanya hilang dari perusahaan. Kau akan menghabiskan sisa hidupmu di penjara.”
Yudi memandangnya lama.
Kemudian mengangguk pelan.
“Karena itu saya datang.”
Dia mengangkat tangan.
Dua pria di belakangnya mulai bergerak.
Aris segera menarik Maya mundur.
Namun baru dua langkah, Maya kehilangan keseimbangan.
Tubuhnya jatuh.
“Maya!”
Aris menangkapnya sebelum kepalanya membentur lantai.
Maya memegangi perutnya sambil mengerang.
“Aku sakit…”
Wajahnya semakin pucat.
Yudi justru berdiri tanpa bergerak.
Aris menatapnya dengan kebencian.
“Panggil ambulans!”
“Serahkan bukti.”
“Dia bisa mati!”
“Serahkan bukti.”
Aris memandang Maya.
Lalu ponsel di tangannya.
Dia tidak punya pilihan.
Perlahan, Aris meletakkan ponsel Maya dan amplop laboratorium di atas lantai.
“Ambil.”
Salah satu pria mendekat.
Ketika pria itu membungkuk, Aris tiba-tiba menendang lututnya sekuat tenaga.
Pria itu berteriak dan jatuh.
Aris menghantam wajahnya dengan siku, lalu meraih kursi kantor dan mendorongnya ke arah pria kedua.
Kekacauan pecah.
Yudi berteriak.
“Pegang dia!”
Aris sempat memukul pria kedua, tetapi tubuhnya sendiri sudah kelelahan setelah seharian berada di pelabuhan.
Sebuah pukulan keras menghantam rusuknya.
Aris terjatuh.
Pria pertama kemudian menendang bahunya.
Maya menjerit.
“Berhenti!”
Yudi berjalan mendekat.
“Cukup.”
Dua pria itu mundur.
Yudi menatap Aris yang terengah di lantai.
“Kenapa kamu selalu membuat semuanya lebih sulit?”
Aris menyeka darah di sudut bibirnya.
“Karena aku bukan pengecut.”
Yudi jongkok di depannya.
“Tidak. Kamu hanya anak orang kaya yang terlalu yakin dunia akan selalu tunduk pada moralitas.”
Kemudian dia meraih ponsel Maya.
Layarnya terkunci.
“Kodenya.”
Maya tidak menjawab.
Yudi berdiri.
“Kodenya, Maya.”
Maya memeluk perutnya.
“Tidak.”
Senyum Yudi menghilang.
Salah satu pria mulai berjalan ke arahnya.
Aris segera bangkit, tetapi pria kedua menahannya.
“Jangan sentuh dia!”

Maya memejamkan mata.
Lalu tiba-tiba berkata,
“Sudah terlambat.”
Semua orang berhenti.
Yudi menoleh.
“Apa?”
Maya membuka mata.
Untuk pertama kalinya malam itu, ada ketenangan aneh dalam tatapannya.
“Semua bukti sudah terkirim.”
Wajah Yudi menegang.
“Kepada siapa?”
Maya tidak menjawab.
Yudi meraih rambutnya dengan kasar.
“Kepada siapa?”
“Komisaris independen.”
Yudi membeku.
Maya melanjutkan dengan suara lemah.
“Dan satu salinan ke seorang penyidik yang menangani dugaan manipulasi pajak perusahaan.”
Wajah Yudi langsung kehilangan warna.
“Kamu bohong.”
“Jam dua belas lewat lima puluh delapan.”
Yudi memeriksa ponsel Maya dengan panik.
Tidak ada sinyal.
Dia kemudian menoleh kepada salah satu pria.
“Internet mati?”
“Sudah kami putus sebelum naik.”
Maya tersenyum tipis.
“Pengiriman otomatis sudah dijadwalkan sejak sore.”
Yudi menampar Maya.
Aris mengamuk.
Dia menghantam pria yang menahannya dengan kepala, lalu menerjang Yudi.
Keduanya jatuh menghantam meja.
Aris mencekik kerah Yudi.
Namun Yudi menarik sesuatu dari pinggangnya.
Sebuah pistol kecil.
Aris berhenti.
Maya menahan napas.
Yudi berdiri sambil mengarahkan pistol ke dada Aris.
Tangannya gemetar.
“Lihat apa yang kamu lakukan.”
“Turunkan pistolnya.”
“Empat belas tahun!” teriak Yudi. “Empat belas tahun aku membangun perusahaan ini bersama keluargamu!”
“Dan dalam lima menit kau menghancurkan semuanya sendiri.”
Yudi menatapnya dengan mata merah.
“Kamu tidak mengerti. Kalau merger gagal, kreditur akan menyerbu. Saham jatuh. Ribuan karyawan kehilangan pekerjaan.”
“Jangan pakai karyawan sebagai alasan untuk kejahatanmu.”
“Moral tidak membayar utang!”
“Pembunuhan juga tidak.”
Yudi mengarahkan pistol lebih tinggi.
Maya mencoba berdiri.
“Pak Yudi…”
“Diam!”
Suara tembakan mendadak meledak.
Maya menjerit.
Namun Aris tidak jatuh.
Peluru menghantam kaca di belakangnya hingga retak.
Tangan Yudi terpental.
Seseorang menabraknya dari samping.
Lampu darurat tiba-tiba menyala.
Aris melihat tiga petugas keamanan internal menyerbu masuk dari tangga darurat.
Di belakang mereka muncul seorang pria berjas abu-abu.
Dimas Aditya.
Direktur hukum Pratama Group.
Yudi menatapnya tidak percaya.
“Kamu?”
Dimas mengangkat ponsel.
“Semua percakapan sejak Anda masuk lantai ini sudah direkam.”
Wajah Yudi pucat.
Aris pun terkejut.
“Bagaimana kau tahu?”
Dimas menatap Maya.
“Bu Maya menghubungi saya sore tadi.”
Maya bersandar pada meja.
“Aku curiga akses pantry bukan satu-satunya bukti. Jadi aku minta Pak Dimas mengawasi sistem.”
Dimas mengangguk.
“Ketika aliran listrik lantai 38 diputus secara manual dari ruang kontrol, saya tahu mereka bergerak malam ini.”
Yudi mundur satu langkah.
Kemudian dua.
Petugas keamanan mengepungnya.
Namun sebelum mereka sempat menangkapnya, Yudi berteriak dan berlari ke arah pintu darurat.
Dia mendorong salah satu petugas dan kabur ke tangga.
Dimas segera mengejar bersama dua petugas.
Aris tidak ikut.
Baginya, hanya ada satu hal yang lebih penting.
Maya.
Dia berlari mendekatinya.
Tubuh wanita itu menggigil semakin keras.
“Maya, lihat aku.”
Maya mengangkat wajah.
“Aku takut.”
Itu pertama kalinya Aris mendengar Maya mengatakannya.
Selama tiga tahun, wanita itu selalu terlihat kuat.
Sekarang, ketika keteguhan itu runtuh, Aris merasa dadanya ikut hancur.
“Aku di sini.”
“Kalau bayi ini…”
“Jangan.”
“Tapi dokter bilang kadar racunnya…”
“Kita ke rumah sakit sekarang.”
Aris menggendong Maya.
Di dalam lift layanan yang akhirnya kembali berfungsi, Maya menyandarkan kepalanya pada dada Aris.
“Pak Aris…”
“Jangan panggil aku Pak Aris.”
Dalam keadaan seperti itu, Maya tetap sempat tersenyum kecil.
“Aris.”
“Ya?”
“Kenapa dulu kamu tidak pernah bertanya tentang malam di Cirebon?”
Aris terdiam.
“Aku takut jawabannya.”
“Jawaban apa?”
“Bahwa bagimu malam itu adalah kesalahan.”
Maya menatapnya lama.
“Aku juga takut.”
“Takut apa?”
“Bahwa bagimu aku cuma seseorang yang kebetulan ada di sana.”
Pintu lift terbuka.
Aris menatapnya.
“Kita sama-sama bodoh.”
Untuk pertama kalinya malam itu, Maya tertawa pelan sebelum kembali meringis kesakitan.
Ambulans membawa Maya menuju rumah sakit di kawasan Kuningan.
Malam itu menjadi awal runtuhnya segala sesuatu yang selama ini dianggap Aris kokoh.
Pemeriksaan forensik selama beberapa minggu berikutnya membongkar kejahatan yang jauh lebih besar.
Yudi bukan hanya memalsukan laporan keuangan.
Dia telah mengalihkan dana perusahaan melalui puluhan perusahaan cangkang sejak enam tahun sebelumnya.
Total kerugiannya mencapai lebih dari dua triliun rupiah.
Merger dengan Wijaya Corporation dirancang untuk mendapatkan suntikan modal besar sehingga lubang tersebut bisa ditutup sebelum audit tahunan.
Yang lebih mengejutkan, keluarga Wijaya ternyata tidak tahu-menahu tentang skema itu.
Nama Rina hanya digunakan sebagai alat.
Yudi berencana memanfaatkan pernikahan tersebut agar bisa mengendalikan struktur perusahaan gabungan melalui sejumlah perjanjian tersembunyi.
Bukti racun ditemukan di apartemen seorang mantan staf pantry yang menerima pembayaran rutin dari rekening perusahaan cangkang milik Yudi.
Pria itu mengaku diberi instruksi mencampurkan thallium dalam dosis kecil ke air minum Maya.
Tujuannya bukan membunuh dengan cepat.
Melainkan membuat Maya jatuh sakit, kehilangan kandungan, kemudian mengundurkan diri.
Jika semuanya berjalan sesuai rencana, tidak seorang pun akan mencurigai apa pun.
Namun tubuh Maya bertahan.
Dan dokter yang memeriksanya curiga terhadap pola keracunan logam berat.
Yudi ditangkap dua hari kemudian di sebuah vila di Puncak saat mencoba melarikan diri.
Media nasional memberitakan kasus itu selama berminggu-minggu.
Harga saham Pratama Group sempat jatuh.
Beberapa bank membekukan fasilitas kredit.
Dewan direksi mendesak Aris menjual sebagian perusahaan.
Untuk pertama kalinya sejak mewarisi bisnis keluarga, Aris dihadapkan pada pilihan yang benar-benar menentukan siapa dirinya.
Menutupi sebagian skandal agar perusahaan terlihat lebih stabil.
Atau membuka semuanya.
Dia memilih membuka semuanya.
Seluruh laporan transaksi diserahkan kepada auditor independen dan aparat hukum.
Beberapa eksekutif lama ikut dicopot.
Aset nonstrategis dijual.
Bonus direksi dipotong.
Proses restrukturisasi berlangsung menyakitkan.
Namun enam bulan kemudian, perusahaan mulai berdiri kembali.
Lebih kecil.
Lebih transparan.
Dan untuk pertama kalinya, benar-benar sehat.
Sementara itu, Maya harus menjalani perawatan panjang.
Kehamilannya diawasi ketat oleh tim dokter.
Setiap minggu terasa seperti menunggu vonis.
Hingga suatu pagi pada usia kehamilan tiga puluh enam minggu, Maya mengalami kontraksi lebih cepat.
Aris bahkan belum sempat mengganti pakaian setelah rapat ketika menerima telepon.
Dia meninggalkan seluruh direksi dan melaju ke rumah sakit.
Tiga jam kemudian, dari balik pintu ruang bersalin terdengar tangisan bayi.
Aris berdiri kaku.
Seorang perawat keluar sambil tersenyum.
“Bapak Aris?”
Aris hampir tidak bisa menjawab.
“Iya.”
“Ibu dan bayinya selamat.”
Aris menutup wajah dengan kedua tangan.
Untuk pertama kalinya sejak kematian ayahnya, dia menangis tanpa berusaha menyembunyikannya.
Ketika masuk ke kamar, Maya terlihat sangat lemah.
Namun tersenyum.
Di sampingnya terbaring seorang bayi perempuan kecil yang dibungkus kain putih.
Aris duduk perlahan.
“Dia kecil sekali.”
Maya tersenyum.
“Dokter bilang sehat.”
Aris menyentuh jemari bayi itu.
Jari mungil tersebut langsung menggenggam telunjuknya.
Aris tertawa dalam tangis.
“Namanya?”
Maya memandangnya.
“Kamu yang pilih.”
Aris terdiam beberapa saat.
Kemudian menjawab,
“Kirani.”
Maya mengernyit.
“Kenapa?”
“Karena dia datang dari seseorang bernama Kirana, yang ternyata jauh lebih berani daripada bosnya.”
Maya tertawa.
Namun kemudian tatapannya berubah serius.
“Ada sesuatu yang belum pernah aku kasih tahu.”
Aris menoleh.
Maya membuka laci meja rumah sakit dan mengambil sebuah amplop.
Aris langsung menegang melihatnya.
“Jangan bilang ada hasil lab lagi.”
Maya tersenyum.
“Bukan.”
Aris membuka amplop tersebut.
Di dalamnya terdapat salinan surat tulisan tangan.
Tertanggal lima tahun sebelumnya.
Tulisan itu milik ayah Aris.
Aris mengenalinya seketika.
Isinya hanya beberapa paragraf.
Namun setelah membacanya, wajah Aris berubah.
Ayahnya ternyata sudah mencurigai Yudi jauh sebelum meninggal.
Dia pernah meminta seorang staf junior divisi keuangan menyimpan salinan transaksi mencurigakan jika suatu hari terjadi sesuatu padanya.
Nama staf itu tercantum di bagian bawah.
Kirana Wibowo.
Aris menatap Maya.
“Itu…”
“Ibuku.”
Maya mengangguk.
“Beliau meninggal tiga tahun lalu.”
Aris membaca surat itu lagi.
“Kenapa kau tidak pernah bilang?”
“Karena aku sendiri baru menemukan surat itu saat membereskan rumah Ibu beberapa bulan lalu.”
Aris membeku.
“Jadi itu alasanmu mulai menyelidiki Yudi?”
“Awalnya iya.”
“Dan alasanmu tetap bekerja denganku selama tiga tahun?”
Maya menatap bayi mereka.
“Awalnya aku cuma ingin tahu kenapa ibuku selalu takut menyebut nama perusahaan ini.”
Dia kemudian menatap Aris.
“Tapi kemudian alasanku berubah.”
Aris duduk diam.
Semua kepingan akhirnya tersambung.
Maya bukan sekadar sekretaris yang kebetulan menemukan kejahatan.
Tanpa disadarinya, dia datang ke Pratama Group membawa sebuah rahasia lama.
Rahasia yang ditinggalkan seorang ibu kepada putrinya.
Rahasia yang gagal dibongkar generasi sebelumnya.
Dan ironisnya, Yudi sendiri yang membuat semuanya akhirnya terbuka ketika berusaha menghancurkan Maya.
Aris menggenggam tangan Maya.
“Ayahku pernah bilang, perusahaan besar tidak runtuh karena kehilangan uang.”
Maya menatapnya.
“Lalu karena apa?”
“Karena terlalu lama membiarkan orang yang salah dipercaya.”
Bayi kecil di samping mereka bergerak pelan.
Maya tersenyum.
“Berarti sekarang kamu harus lebih hati-hati memilih orang yang kamu percaya.”
Aris mengangguk.
Kemudian menatapnya dengan ekspresi serius.
“Aku sudah memilih.”
Maya terdiam.
“Siapa?”
Aris mencium punggung tangannya.
“Kamu.”
Di luar jendela rumah sakit, Jakarta mulai disinari matahari pagi.
Enam bulan lalu, di lantai 38 sebuah gedung pencakar langit, Aris datang untuk memecat sekretaris yang dia kira tertidur saat bekerja.
Malam itu justru menghancurkan bisnis yang selama bertahun-tahun dia percaya sempurna.
Membongkar pengkhianatan orang yang dianggap keluarga.
Membuka kejahatan yang hampir merenggut dua nyawa.
Dan memberinya sesuatu yang tidak pernah bisa dibeli oleh kerajaan bisnis sebesar apa pun.
Sebuah keluarga.
Beberapa tahun kemudian, ketika seorang jurnalis bertanya kepada Aris apa keputusan terpenting yang pernah dia buat sebagai pemimpin Pratama Group, semua orang mengira dia akan menjawab restrukturisasi perusahaan atau keputusan membuka skandal kepada publik.
Aris hanya tersenyum.
“Keputusan terpenting saya?”
Dia menoleh kepada Maya yang berdiri di sudut ruangan sambil menggandeng Kirani.
“Malam itu, saya memutuskan untuk mengambil sebuah amplop yang jatuh ke lantai.”
Karena terkadang hidup tidak berubah oleh keputusan besar yang kita rencanakan.
Melainkan oleh satu hal kecil yang hampir kita abaikan.
