SELAMA 6 TAHUN, WANITA INI DIAM-DIAM MEMBAYAR TAGIHAN AIR SEORANG NENEK TUA!

Selama enam tahun, Siti tidak pernah menganggap apa yang dilakukannya untuk Mbah Sumi sebagai sesuatu yang istimewa.

Ia hanya membayar tagihan air seorang perempuan tua yang tinggal sendirian di rumah kecil berpagar biru di ujung gang.

Tidak lebih.

Setidaknya, begitulah yang selalu ia katakan kepada dirinya sendiri.

Karena itu, ketika sehari setelah pemakaman Mbah Sumi seorang pria datang ke rumahnya dan menuduhnya mengincar warisan, Siti sama sekali tidak menduga bahwa bantuan kecil yang selama ini ia sembunyikan akan menyeretnya ke dalam rahasia keluarga yang jauh lebih gelap.

“Berapa banyak uang yang mau Anda minta setelah enam tahun berpura-pura baik kepada ibu saya?”

Siti baru saja membuka pintu rumahnya di Tebet ketika Rian melontarkan pertanyaan itu.

Belum genap 24 jam sejak Mbah Sumi dimakamkan.

Rian berdiri di depan pintu dengan setelan jas biru tua yang terlalu rapi untuk suasana berkabung. Sebuah map hitam terselip di bawah lengannya.

Di sampingnya berdiri seorang pria paruh baya berkacamata.

“Perkenalkan, saya Hendra, S.H., kuasa hukum Pak Rian,” katanya sopan. “Kami perlu mengklarifikasi beberapa hal terkait surat wasiat almarhumah Ibu Sumi.”

Siti tidak membuka pintu sepenuhnya.

Rantai pengaman masih terpasang.

“Bicarakan saja dari situ.”

Rian membuka mapnya dan mengeluarkan selembar kuitansi lama.

Kertas itu sudah menguning.

Di bagian atasnya terdapat tulisan tangan yang langsung dikenali Siti.

“Siti sudah membayar ini sejak 2019. Dia pasti akan bilang ini bukan masalah besar. Jangan pernah membuatnya merasa bersalah karena sudah menolongku.”

Siti terdiam.

Enam tahun sebelumnya, ia pernah melihat surat peringatan berwarna oranye menempel di pagar rumah Mbah Sumi.

Tagihan air menunggak Rp540.000.

Jika tidak dilunasi, layanan akan diputus.

Siti mencabut surat itu sebelum Mbah Sumi melihatnya.

Hari itu juga, ia membayar seluruh tunggakan.

Bulan berikutnya, ia kembali membayar.

Begitu terus sampai enam tahun.

Siti sengaja merahasiakannya.

Mbah Sumi adalah perempuan yang keras kepala dalam urusan harga diri.

Ia lebih rela makan tempe selama seminggu daripada menerima uang dari orang lain.

Setiap Minggu pagi, ia masih membeli kue dari pedagang keliling. Ia masih berdebat dengan tukang bubur soal sambal yang katanya makin sedikit. Setiap sore, ia menyiram bugenvil yang tumbuh di sepanjang pagar.

Semua terlihat biasa.

Sampai Mbah Sumi meninggal pada usia 84 tahun.

“Ibu saya mengubah surat wasiatnya,” kata Rian.

“Sekarang nama Anda ada di dalamnya.”

Siti mengerutkan kening.

“Saya tidak tahu apa-apa soal itu.”

“Tentu saja.”

Nada Rian penuh ejekan.

Hendra segera menyela.

“Kami hanya harus memastikan tidak ada tekanan atau pengaruh yang tidak semestinya terhadap almarhumah.”

Siti memandang Rian cukup lama.

“Kapan terakhir kali Anda menelepon ibu Anda?”

Rian tidak menjawab.

“Sebelas September. Lima menit.”

Rian mengeraskan rahangnya.

“Februari lalu, ibu Anda jatuh di kamar mandi. Beliau terbaring di lantai selama 47 menit sebelum tetangga mendengar ketukan dari dalam rumah.”

“Kenapa Anda tidak menghubungi saya?”

“Karena ibu Anda melarang kami mengganggu Anda.”

“Dia ibu saya!”

“Kalau begitu seharusnya Anda tahu apa yang paling beliau takutkan.”

Gang sempit itu mendadak sunyi.

Siti kemudian masuk ke rumah dan kembali membawa sebuah amplop cokelat tebal.

Mbah Sumi menitipkannya tiga bulan sebelum meninggal.

Siti tidak pernah membukanya.

Pada bagian depan amplop tertulis:

“UNTUK PENGACARA YANG DISEWA RIAN JIKA DIA MENCOBA MEMBATALKAN KEPUTUSANKU.”

Wajah Rian berubah.

“Jadi kalian sudah merencanakan semuanya?”

“Mbah Sumi yang merencanakannya.”

Hendra membuka amplop itu.

Ia membaca halaman pertama.

Kemudian halaman kedua.

Wajahnya perlahan menjadi serius.

“Pak Rian.”

“Apa?”

“Kenapa Anda masih menarik uang dari rekening ibu Anda setelah beliau secara resmi mencabut surat kuasa perbankan atas nama Anda?”

Rian membeku.

Siti yang berdiri di balik pintu ikut terdiam.

Hendra mengeluarkan beberapa lembar mutasi rekening.

Ada transaksi berturut-turut selama hampir dua tahun.

Transfer Rp7 juta.

Rp12 juta.

Rp15 juta.

Kadang dua kali dalam satu bulan.

Penerimanya berbeda-beda, tetapi nomor rekening tujuan akhirnya terhubung pada perusahaan bernama PT Rian Pratama Konsultan.

Perusahaan milik Rian sendiri.

“Itu uang saya,” kata Rian akhirnya.

Hendra mengangkat kepala.

“Di rekening atas nama Ibu Sumi?”

“Saya yang mengurus keuangannya.”

“Surat kuasa Anda dicabut tanggal 17 Januari 2024.”

“Dia sudah pikun.”

“Dokumen ini menyertakan hasil pemeriksaan dokter spesialis geriatri yang menyatakan beliau masih kompeten mengambil keputusan finansial.”

Rian mulai panik.

“Saya anak kandungnya. Saya punya hak.”

Hendra menatapnya dingin.

“Hak waris berbeda dengan hak mengambil uang seseorang ketika orang itu masih hidup.”

Siti tidak berkata apa-apa.

Baru saat itu ia memahami mengapa beberapa tahun terakhir Mbah Sumi sering mengatakan tabungannya “seperti bocor”.

Siti dulu mengira perempuan tua itu hanya lupa mencatat pengeluaran.

Ternyata tidak.

Rian mendadak merebut dokumen dari tangan Hendra.

“Ini semua rekayasa!”

“Pak Rian.”

“Dia dimanfaatkan!” teriak Rian sambil menunjuk Siti. “Perempuan ini masuk ke kehidupan ibu saya ketika ibu saya sendirian, lalu sekarang rumah itu diberikan kepadanya!”

Siti terkejut.

“Rumah?”

Hendra memandangnya.

“Ibu Sumi memang mencantumkan rumahnya dalam surat wasiat.”

Siti menelan ludah.

“Untuk saya?”

“Bukan.”

Jawaban Hendra membuat Rian ikut terdiam.

Hendra membaca dokumen terakhir.

“Rumah tersebut diwariskan kepada Yayasan Lansia Mandiri Jakarta, dengan ketentuan bahwa rumah itu tidak boleh dijual selama minimal dua puluh tahun dan harus digunakan sebagai rumah singgah bagi lansia yang hidup sendirian.”

Siti spontan menutup mulut.

Mbah Sumi tidak pernah menceritakan itu.

“Lalu nama saya?”

Hendra menatap Siti.

“Anda ditunjuk sebagai pengawas amanat independen.”

Rian tertawa pendek.

“Jadi tetap saja dia dapat sesuatu.”

“Tidak ada honor.”

Rian berhenti tertawa.

“Dalam surat wasiat disebutkan Bu Siti tidak boleh menerima bagian finansial apa pun dari harta almarhumah.”

Hendra membaca satu kalimat.

“Karena dia telah memberi cukup banyak tanpa pernah meminta apa pun.”

Siti menundukkan kepala.

Dadanya sesak.

Ia bisa membayangkan Mbah Sumi menulis kalimat itu sambil duduk di kursi rotan dekat jendela, memakai kacamata baca dengan tali merah yang selalu melorot.

Namun rahasia di dalam amplop belum selesai.

Ada satu bundel dokumen lain.

Salinan surat tanah lama.

Akta jual beli.

Dan sebuah pernyataan notariil dari tahun 2008.

Hendra membaca beberapa lembar sambil mengerutkan kening.

Kemudian ia menatap Rian.

“Pak Rian, rumah ibu Anda ternyata bukan sepenuhnya harta warisan keluarga.”

Rian tampak bingung.

“Apa maksud Anda?”

“Setengah dana pembelian rumah ini berasal dari seseorang bernama Ratna Kusumawati.”

Siti mengenal nama itu.

Ratna adalah adik perempuan Mbah Sumi.

Ia meninggal sekitar lima belas tahun sebelumnya.

“Memangnya kenapa?” tanya Rian.

Hendra melanjutkan membaca.

“Ratna memberikan uang tersebut dengan syarat bagian kepemilikannya kelak diwariskan kepada putrinya.”

Rian langsung pucat.

Siti menatapnya.

“Putri?”

Selama bertahun-tahun, Mbah Sumi selalu berkata bahwa adiknya tidak pernah menikah.

Hendra mengeluarkan selembar akta kelahiran.

Nama ibu tercantum Ratna Kusumawati.

Nama ayah kosong.

Nama anaknya adalah Maya Ratnasari.

Tanggal lahir 12 Juni 1987.

Di bagian belakang terdapat salinan surat pernyataan yang dibuat Ratna beberapa bulan sebelum meninggal.

Hendra membaca perlahan.

“Anak saya selama ini dibesarkan sebagai anak dari kakak saya, Sumi, demi menghindari tekanan keluarga.”

Suasana berubah total.

Rian menatap dokumen itu seperti melihat sesuatu yang seharusnya tidak pernah muncul.

“Tidak mungkin.”

Siti mulai memahami.

“Rian punya saudara perempuan?”

Hendra menggeleng.

“Bukan saudara perempuan.”

Ia menatap Rian.

“Secara hukum dan biologis, Maya adalah sepupu Pak Rian.”

Rian tertawa gugup.

“Kalau begitu apa hubungannya dengan saya?”

Hendra membalik halaman.

“Karena ada bukti bahwa Anda menjual bagian tanah milik Maya sepuluh tahun lalu menggunakan surat kuasa palsu.”

Kali ini lutut Rian terlihat goyah.

Siti tercekat.

“Pak Hendra, apa Anda yakin?”

Hendra menunjukkan tanda tangan dalam dokumen.

“Surat kuasa atas nama Maya dibuat tahun 2016.”

Ia mengangkat akta kematian.

“Masalahnya, berdasarkan catatan ini, Maya dinyatakan meninggal pada tahun 2013.”

Rian mundur satu langkah.

Tidak ada lagi kemarahan di wajahnya.

Hanya ketakutan.

“Bukan saya yang membuatnya.”

“Tapi uang hasil penjualan masuk ke rekening perusahaan Anda.”

“Saya cuma mengikuti perintah ibu!”

Siti langsung menatap Rian.

Hendra ikut terdiam.

“Perintah Ibu Sumi?”

Rian seolah baru menyadari bahwa ia salah bicara.

“Bukan begitu maksud saya.”

Namun sudah terlambat.

Dari dalam amplop, Hendra menemukan sebuah USB kecil.

Di atasnya ditempel kertas bertuliskan:

“DENGARKAN JIKA RIAN MENYALAHKANKU.”

Hendra menarik napas.

“Saya rasa kita perlu mendengar ini.”

Mereka akhirnya masuk ke ruang tamu Siti.

Siti mengambil laptop.

USB dipasang.

Hanya ada satu file audio.

Tanggal rekamannya empat bulan sebelumnya.

Suara Mbah Sumi terdengar pelan tetapi sangat jelas.

“Kalau kamu mendengar rekaman ini, Rian pasti sudah ketakutan.”

Rian berdiri kaku.

Suara itu berlanjut.

“Aku terlalu lama melindungi anakku sendiri.”

Siti merasakan bulu kuduknya berdiri.

“Aku tahu dia mengambil uangku. Aku tahu tentang tanda tangan palsu itu. Dan aku tahu apa yang dia lakukan kepada Maya.”

Rian tiba-tiba bergerak menuju laptop.

Hendra langsung berdiri menghalangi.

“Jangan sentuh.”

Rekaman terus berjalan.

“Maya tidak meninggal pada tahun 2013.”

Rian memejamkan mata.

Siti memandang layar.

“Maya masih hidup.”

Ruangan mendadak terasa terlalu sempit.

Mbah Sumi melanjutkan.

“Tahun 2013, Rian datang kepadaku. Dia bilang Maya kecanduan narkoba, mencuri uang keluarga, dan pergi dari Jakarta. Dia menunjukkan surat kematian dan meminta aku merahasiakan semuanya supaya nama keluarga tidak tercemar.”

Suara Mbah Sumi bergetar.

“Aku percaya pada anakku sendiri.”

“Tiga tahun lalu aku menemukan Maya.”

Siti menahan napas.

“Dia tinggal di Bandung.”

“Selama bertahun-tahun Rian mengatakan kepadanya bahwa aku tidak mau lagi menganggapnya keluarga. Kepadaku, dia bilang Maya sudah mati.”

Rian tiba-tiba berteriak.

“Matikan!”

Tak seorang pun bergerak.

Suara Mbah Sumi terdengar lagi.

“Semua karena rumah dan tanah.”

Maya ternyata mengetahui bahwa sebagian tanah keluarga secara hukum adalah miliknya.

Ketika ia meminta dokumen kepemilikan pada 2012, terjadi pertengkaran besar dengan Rian.

Rian kemudian meyakinkan Mbah Sumi bahwa Maya memiliki masalah kejiwaan dan sebaiknya dijauhkan.

Pada waktu yang sama, kepada Maya, Rian mengatakan Mbah Sumi merasa malu memiliki keponakan yang lahir tanpa ayah.

Dua perempuan itu dipisahkan dengan kebohongan yang sama.

Masing-masing dibuat percaya bahwa yang lain telah membuangnya.

Mbah Sumi baru mengetahui kebenaran bertahun-tahun kemudian setelah menerima surat dari seorang notaris di Bandung.

“Aku sudah menemui Maya,” kata suara itu.

“Aku sudah meminta maaf.”

“Dan dia sudah memaafkanku, meski aku sendiri belum bisa memaafkan diriku.”

Rekaman berhenti sejenak.

Kemudian terdengar tarikan napas.

“Aku tidak ingin Rian dipenjara karena dendam.”

“Tapi aku juga tidak ingin dia mendapat keuntungan dari apa yang dia lakukan.”

“Karena itu semua dokumen sudah kuserahkan kepada notaris.”

“Kalau Rian membiarkan wasiatku berjalan, tidak akan ada laporan pidana dariku.”

“Tapi kalau dia menggugat, mengancam Siti, atau mencoba mengambil rumah itu, bukti harus diserahkan kepada polisi dan Maya.”

File berhenti.

Tak ada seorang pun berbicara.

Hanya suara kipas angin tua di sudut ruang tamu.

Wajah Rian kosong.

“Dia menjebak saya.”

Siti menggeleng perlahan.

“Bukan.”

Rian menatapnya tajam.

“Dia ibu saya!”

“Justru karena dia ibu Anda, mungkin dia masih memberi Anda satu kesempatan terakhir.”

Hendra menutup laptop.

“Pak Rian, saya sarankan kita tidak melanjutkan gugatan.”

“Kalau saya tidak menggugat, saya tidak dapat apa-apa.”

Hendra menatapnya beberapa detik.

“Setelah dokumen yang baru saya lihat, itu mungkin masalah terkecil Anda.”

Rian pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Dua minggu kemudian, surat keberatan terhadap wasiat dicabut.

Namun cerita belum berakhir.

Sore pada suatu hari di bulan berikutnya, seseorang berdiri di depan rumah Mbah Sumi.

Seorang perempuan berusia sekitar akhir tiga puluhan memakai kemeja putih sederhana dan celana hitam.

Ia memandangi bugenvil yang memenuhi pagar.

Siti sedang menyapu halaman ketika perempuan itu menyapanya.

“Bu Siti?”

“Iya.”

Perempuan itu tersenyum tipis.

“Saya Maya.”

Siti berhenti menyapu.

Maya menatap rumah Mbah Sumi.

“Bude sering cerita tentang Ibu.”

“Cerita apa?”

“Katanya ada satu orang di gang ini yang sangat buruk dalam berbohong.”

Siti tertawa kecil.

“Maksudnya?”

“Katanya setiap kali ditanya siapa yang membayar tagihan air, Ibu selalu pura-pura tidak tahu, padahal wajah Ibu kelihatan bersalah.”

Air mata Siti langsung memenuhi matanya.

Maya mengeluarkan sebuah amplop putih kecil.

“Ini pesan terakhir dari Bude untuk Ibu.”

Siti membuka amplop.

Di dalamnya hanya ada satu lembar kertas.

Tulisan tangan Mbah Sumi memenuhi separuh halaman.

“Siti, aku sebenarnya sudah tahu sejak bulan ketiga.”

Siti membeku.

“Aku tahu kamu yang membayar air.”

Ia tertawa sambil menangis.

Mbah Sumi ternyata mengetahuinya selama hampir enam tahun.

“Aku diam karena aku tahu kamu ingin menjaga harga diriku. Jadi aku berpura-pura tidak tahu supaya bisa menjaga harga dirimu juga.”

Siti menutup mulut.

Tulisan itu berlanjut.

“Orang sering mengira bantuan harus dibalas dengan uang.”

“Padahal ada kebaikan yang hanya bisa dibalas dengan memastikan kebaikan itu tidak berhenti pada kita.”

Siti menoleh ke rumah kecil berpagar biru itu.

Beberapa bulan kemudian, papan baru dipasang di depan rumah.

Rumah Singgah Sumi.

Tempat itu mulai menerima beberapa lansia yang hidup sendirian dan tidak memiliki keluarga dekat.

Maya rutin datang dari Bandung.

Siti membantu mengurus kebutuhan sehari-hari.

Sementara Rian tidak pernah muncul lagi.

Belakangan Siti mendengar bahwa ia menjual sebagian aset perusahaannya untuk mengembalikan uang yang pernah diambil dari rekening ibunya dan menyelesaikan persoalan hukum dengan Maya.

Tidak ada yang tahu apakah ia benar-benar menyesal atau hanya takut menghadapi konsekuensi.

Namun bagi Siti, hal itu sudah tidak penting.

Suatu sore, saat menyiram bugenvil yang dulu dirawat Mbah Sumi, salah satu penghuni rumah singgah memanggilnya.

“Bu Siti, tagihan air bulan ini sudah dibayar belum?”

Siti tertawa.

“Sudah, Mbah.”

“Siapa yang bayar?”

Siti menatap bunga bugenvil yang bergerak tertiup angin.

Kemudian ia teringat pada seorang nenek keras kepala yang selama enam tahun pura-pura tidak tahu siapa yang diam-diam membayar tagihan airnya.

Siti tersenyum.

“Ada orang baik.”

“Siapa?”

Siti menggeleng.

“Tidak penting siapa orangnya.”

Ia mematikan keran.

“Yang penting airnya tetap mengalir.”

Dan mungkin memang seperti itulah Mbah Sumi merencanakan semuanya sejak awal.

Bukan untuk meninggalkan rumah.

Bukan untuk meninggalkan uang.

Melainkan untuk memastikan bahwa setelah ia pergi, masih ada sesuatu yang terus mengalir dari hidupnya kepada orang lain.

Sesuatu yang tidak bisa diperebutkan dalam surat warisan.

Kebaikan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang